• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Limbah Sayuran Fermentasi Terhadap Persentase Non Karkas Pada Domba Lokal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pemanfaatan Limbah Sayuran Fermentasi Terhadap Persentase Non Karkas Pada Domba Lokal"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)

LAMPIRAN

1. Bahan penyusun dan nilai nutrisi konsentrat

2. Rataan persentase bobot kepala(%)

Perlakuan Ulangan Total Rataan±sd

I II III IV

3. Rataan persentase bobot kaki (%)

(2)

4. Rataan persentasi bobot kulit(%)

5. Rataan persentase bobot ekor (%)

Perlakuan Ulangan Total Rataan±sd

I II III IV

6. Rataan persentasi bobot trakea dan paru-paru(%)

Perlakuan Ulangan Total Rataan±sd

(3)

7. Rataan persentase bobot hati

Perlakuan Ulangan Total Rataan±sd

I II III IV

8. Rataan persentase bobot jantung(%)

9. Rataan persentase bobot darah (%)

Perlakuan Ulangan Total Rataan±sd

I II III IV

Perlakuan Ulangan Total Rataan±sd

(4)

10 . Rataan persentase bobot saluran pencernaan (%)

Perlakuan Ulangan Total Rataan±sd

I II III IV

11. Rekapitulasi hasil penelitian

Parameter Perlakuan

(5)

12. Pengolahan limbah sayuran

Limbah sayuran (kulit jagung, kol dan sawi)

Dicuci dengan air mengalir lalu ditiriskan

Di jemur hingga kadar air mencapai 40 %

Difermentasi dengan

menggunakan EM4 selam 7hari Dicacah sehingga lebih mudah dalam proses pengeringan

(6)

DAFTAR PUSTAKA

Anggorodi, R. 1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. P.T. Gramedia, Jakarta.

Apriadji, W.H. 1990. Memproses Sampah. Penebar Swadaya Masyarakat, Jakarta.Balai Riset dan Standarisasi Industri Manado. 2014.

Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia. 2015

Belitz H., D.W. Grosch, and P. Schieberle. 2009. Food Chemistry. Edisi 4 Revisi.

Berg and Butterfield, 1976. New Concept Of Cattle growth, Sydney University Press.

Blakely, J. dan D.H. Bade, 1991. Ilmu Peternakan edisi IV. Gadjah Mada.

Damron, and W.Stephen 2006. Introduction to Animal Science: Global, Biological,Social and Industry Perspectives 3rd Ed. Pearson Education, New Jersey.

Devendra, C. and G. B. Mc Leroy. 1982. Goat and Sheep Poduction in the Tropics. Longman Group Ltd, Singapore.

Eko, D., M. Junus end M. Nasich. 2012. Pengaruh penambahan urea terhadapkandungan protein kasar dan seratkasarpadatan lumpur organik unit gas bio.Fakultas Peternakan, UniversitasBrawijaya, Malang.

Ensminger, M. E., J . E. Oldfield, and W.W. Heinemann, 1990. Feed and Nutrition. The Ensminger Publishing Company, California.

Forrest, J.C., E.D Aberle, H.B Hedrick, M.O Judge and R.A. Merkel. 1975.

Freer and H. Dove. 2002. Sheep Nutrition. Cabi Publishing, New York.

Furqaanida, N. 2004. Pemanfaatan klobot jagung sebagai substitusi sumber serat ditinjau dari kualitas fisik dan palatabilitas wafer ransum komplit untuk domba. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Gerrard, F. 1997. Meat technology. 5th Ed. Northwood Publication Ltd.

Ginting.E.P., Hasnudi dan A.H. Daulay. 2011. Pemanfaatan Daging Buah Kopi pada Domba terhadap Persentase Non krkas Domba Lokal Lepas sapih. Fakultas Pertanian. USU. Medan

(7)

Hadiwiyoto. 1983. Penanganan dan Pemanfaatan Sampah. Yayasan Indayu, Jakarta.Hal.

Harfiah. 2007. Dried Palm Oil Sludge as nutrient Resource or The Ruminant. Buletin Nutrisi dan Makanan Ternak. 6(2): 27-30.

Hartadi, H, S. Reksohadiprodjo dan A.D. Tillman. 1997. Tabel Komposisi Pakan.

Haryanto, B. 1992. Pakan domba dan kambing. Proceeding Sarasehan Usaha Ternak Domba dan Kambing Menyongsong Era PJPT II : 26-32. Balai

Penelitian Ternak Ciawi, Bogor. Jendral Peternakan Departemen

Pertanian. Jakarta.

Hudallah, C.M.S. Lestari Dan E. Pubowati, 2007. Persentase karkas dan non karkas domba lokal jantan dengan metode pemberian pakan yang berbeda. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro. Semarang.

Julianty, L. 2013. Sifat karkas dan non karkas sapi silangan lokal friesia holstein serta kerbau rawa jantan. Fakultas Peternakan IPB. Bogor.

Kartadisastra, H.R. 1997. Penyediaan dan Pengelolaan Pakan Ternak Ruminansia. Kanisius. Yogyakarta.

Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak. 2015. Universitas Lampung. Lampung.

Linda, R. 2014. Pengaruh jenis kelamin terhadap persentase beberapa bagian non-karkas (offal) kambing kacang yang dipelihara secara intensif. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin. Makassar.

Lusiyana.S.,T.H.Wahyuni dan N.D.Hanafi.Pemanfaatan Eceng Gondong Fermentasi terhadapKarkas dan non Karkas Domba Lokal. Fakultas Pertanian USU. Medan.

Mansy. 2002. Komposisi Beberapa Jenis Limbah Sayuran. Fapet IPB. Bogor.

Muktiani, A., B. I. M. Tampubolon dan J. Achmadi. 2006. Potensi Sampah Organik Sebagai Pengganti Rumput Ditinjau dari Parameter Metabolisme Rumen Secra In Vitro dan Kandungan Logam Berat Timbal (Pb). Dalam : Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Teknologi Inovatif untuk Mendukung Pembangunan Peternakan Berkelanjutan. Fakultas Peternakan Universitas Jendral Soedirman, Purwokerto.

(8)

Musa. A.M, N.Z. Idam and K.M. Elamin.. 2011. Heart Girth Reflect Live Body

Weight in Sudanese Shogur Sheep under Field Conditions. Department of

Animal Breeding, Faculty of Animal Production, University of Gezira, Sudan

Parakkasi, A., 1955. Ilmu Nutrisi Makanan Ternak Rumiansia. UI Press. Jakarta.

Prawirokusumo, S. 1994. Ilmu Gizi Komparatif. UGM Press. Yogyakarta.

Purbowati, N. 2011. Usaha Penggemukan Domba. Penebar Swadaya, Jakarta.

Ridwan, A. S. 2010. Pengaruh penggunaan kulit kecambah kacang hijau dalam ransum terhadap produksi karkas kelinci keturunan vlaams reus jantan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Ridawan.,1991. Pertumbuhan karkas, komponen karkas dan non karkas kambing kacang dalam berbagai tingkat pemberian konsentrat. Fakultas Pasca Sarjana. IPB, Bogor.

Rusmana, D., Abun dan D. Saefulhadjar. 2007. Pengaruh Pengolahan Limbah Sayuran secara Mekanis terhadap Kecernaan dan Efisiensi Penggunaan Protein pada Ayam Kampung Super. Lembaga Penelitian Universitas Padjajaran, Bandung.

Saenab, A dan Y. Retnani. 2011. Beberapa Model Teknologi Pengolahan Limbah Sayuran Pasar Sebagai Pakan Alternatif pada Ternak (Kambing/Domba) di Perkotaan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta, Jakarta.

Sembiring, I. M., Jacob dan R. Simanjuntak. 2006. Pemanfaatan Hasil Sampingan Perkebunan Dalam Konsentrat Terhadap Persentase Bobot Non-Karkas Dan Income Feed Cost Kambing Kacang Selama Penggemukan. Jurnal Agribisnis Peternakan, Vol. 2, No. 2 Agustus.

Shehata.M.F. 2013. Prediction Of Live Body Weight And Carcass Traits By Some Live Body Measurements In Barki Lambs. Division of Animal Production and Poultry, Cairo.

Sodiq, A dan Z. Abidin. 2002. Penggemukan Domba. Angromedia Pustaka, Jakarta.

Soeparno. 2005. Ilmu dan Teknologi Daging. Cetakan Ke-4. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

(9)

Susangka, I., K. Haetami, dan Y. Andriani. 2006. Evaluasi nilai gizi limbah sayuran dengan cara pengolahan berbeda dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan ikan nila. Laporan Penelitian. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, Bandung.

Syananta, F. P. 2009. Uji fisik wafer limbah sayuran pasar dan palatabilitasnya pada ternak domba. Fakultas Peternakan, IPB. Bogor.

Tiesnamurti, B. 1992. Alternatif Pemilihan Jenis Ternak Ruminansia Kecil untuk Wilayah Indonesia Bagian Timur. Potensi Ruminansia Kecil Bagian Timur. Prosiding Lokakarya Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Tillman, A.D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan ke-5. Gadjah Mada University Press.

Tobing, M.M., C.M.S. Lestari dan S.Dartosukarno. 2004. Proporsi karkas dan non karkas domba lokal jantan menggunakan pakan rumput Gajah dengan berbagai level ampas tahu. Jurnal Pengembangan Peternakan Tropis. Buku 2. hlm. 90 – 97.Unggas. Fakultas Pasca Sarjana UGM. Yogyakarta.

Wilson, P. N., 1958. The Effect of plane of nutrition on the growth and development of the east Africant Dwarf goat; II. Age changes in the carcass composition of female kids. J. Agric. Sci., 51 : 4-21.

Wisnu Widiarto, R. Widiati dan I.G.S.Budi satria. 2009. Pengaruh berat potong dan harga pembelian domba dan kambing betina Terhadap gross margin jagal di rumah potong hewan mentik, kresen, Bantul. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Whytes, R. M and T. L. Ramsa. 1979. Nutrition Ecology Of The Ruminant Durham and Downey,Inc. Portland. Hal 23-38.

(10)

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ternak Program

Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini

dimulai dari bulan Juni sampai dengan September 2016.

Bahan dan Alat Bahan

Bahan yang digunakan yaitu domba lokal sebanyak 20 ekor dengan rataan

bobot awal 13,4±1,2kg. Bahan pakan terdiri atas rumput , limbah sayuran (kulit

jagung, kol dan sawi), EM4 sebagai fermentator limbah pasar organik, konsentrat

sebagai pakan penguat, obat-obatan seperti permentyhl 5% sebagai obat kembung

serta rodalon sebagai desinfektan.

Alat

Alat yang digunakan adalah kandang individu sebanyak 20 petak dengan

ukuran 1 x 0,5 m beserta perlengkapannya, tempat pakan dan minum sebanyak 20

unit, pisau dan talenan sebagai alat untuk mencacah limbah sayuran, plastik putih

ukuran 5 kg sebagai tempat fermentasi, termometer untuk mengetahui kondisi

suhu kandang, alat pembersih kandang, pisau pemotong untuk menyembelih

domba dan gunting bedah untuk membedah domba, timbangan kapasitas 50 kg

dengan kepekaan 2 kg untuk menimbang bobot hidup domba, timbangan dengan

kapasitas 2 kg dengan kepekaan 10 g untuk menimbang pakan, oven untuk

mengeringkan bahan pakan, grinder untuk menghaluskan bahan pakan, alat

(11)

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah secara experimental dengan

menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan.

Adapun perlakuan yang teliti adalah sebagai berikut

P0 : Rumput 100% tanpa limbah sayuran fermentasi + Konsentrat

P1 : Rumput 75% dan limbah sayuran fermentasi 25 %+ Konsentrat

P2 : Rumput 50% dan limbah sayuran fermentasi 50%+ Konsentrat

P3 : Rumput 25 % dan limbah sayuran fermentasi 75%+ Konsentrat

P4:Tanpa Rumput 0% dan limbah sayuran fermentas 100%+ Konsentrat

Dengan susunan sebagai berikut

P4U1 P0U1 P2U2 P2U4 P4U3

P1U2 P4U4 P1U3 P0U2 P3U1

P2U3 P4U2 P1U4 P1U1 P0U3

P3U4 P3U1 P3U3 P0U4 P2U1

Menurut Hanafiah (2003), model linear untuk rancangan acak lengkap (RAL)

adalah: Yij = µ + Ai + єij

i = 1, 2, 3,…………,a j = 1,2,3...,u

Yijk : Pengamatan Faktor Utama taraf ke-i , Ulangan ke-j dan Faktor Tambahan

taraf ke-k

µ : Rataan Umum

Ai : Pengaruh Utama pada taraf ke-i

єij : Pengaruh Galat I pada Faktor Utama ke-i dan Ulangan ke-j

єijk : Pengaruh galat II pada Faktor Utama taraf ke-i, Ulangan ke-j dan faktor

(12)

Peubah Penelitian

a. Persentasi bobot kepala (%)

Persentasi bobot kepala diperoleh dari bobot kepala dibagi dengan bobot

tubuh kosong dikali 100 %

b. Persentasi bobot kaki (%)

Persentasi bobot kaki diperoleh dari bobot kaki dibagi dengan bobot tubuh

kosong dikali 100%

c. Persentase bobot kulit (%)

Persentasi bobot kulit diperoleh dari bobot kulit dibagi bobot tubuh kosong

dikali 100%

d. Persentase bobot ekor (%)

Persentasi bobot kulit diperoleh dari bobot ekor dibagi bobot tubuh kosong

dikali 100%

d. Persentase bobot trakea dan paru-paru (%)

Persentasi bobot trakea dan paru diperoleh dari bobot trakea dan

paru-paru dibagi bobot tubuh kosong dikali 100%

f. Persentase bobot hati (%)

Persentasi bobot hati diperoleh dari bobot hati dibagi bobot tubuh kosong

dikali 100%

g. Persentase bobot jantung (%)

Persentasi bobot jantung diperoleh dari bobot jantung dibagi bobot tubuh

(13)

h. Persentase bobot darah (%)

Persentasi bobot darah diperoleh dari bobot darah dibagi bobot tubuh kosong

dikali 100%

i. Persentasi bobot saluran pecernaan (100 %)

Persentasi bobot bsaluran pencernaan diperoleh dari bobot saluran pencenaan

dibagi bobot tubuh kosong dikali 100 %.

Analisa Data

Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisa dengan analisis variansi

berdasarkan rancangan acak lengkap (RAL) pola searah untuk mengetahui adanya

pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diamati.

Pelaksanaan Penelitian

Persiapan Kandang dan Peralatan

Kandang yang digunakan adalah kandang individu yang berukuran 1x1,5

per petak sebanyak 20 petak. Kandang dipersiapkan seminggu sebelum domba

masuk kealam kandang agar kandang bebas dari hama penyakit. Kandang beserta

peralatan seperti tempat pakan dibersihkan dan didesinfektan dengan rodalon.

Pengolahan Limbah Sayuran

Limbah sayuran di layukan terlebih dahulu lalu dicacah dan dikeringkan

hingga mencapai kadar air sekitar 40%, kemudian difermentasi dengan

(14)

Pemeliharan Domba

Sebelum diberikan perlakuan , dilakukan penimbangan bobot badan awal

kemudian penimbangan domba dilakukan sekali dalam dua minggu. Pakan

diberikan setelah pemberian konsentrat yaitu 2 jam setelah diberikan konsentrat

yaitu pada pagi dan sore hari kemudia hijauan dan pakan fermentasi diberikan.

Preparasi Non Karkas a. Pemuasaan

Sebelum dilakukan pemotongan, domba terlebih dahulu dipuasakan

selama 12 jam. Perlakuan ini bertujuan mengosongkan bagian perut (usus)

sehingga kulit dan otot-ototnya menjadi lemas karena peningkatan kandungan

glikogen. Disamping itu, perlakuan ini akan meningkatkan proporsi daging

terhadap bobot hidupnya.

b. Penyembelihan

Penyembelihan dilakukan dengan memotong leher tepat pada bagian

trachea, vena jugularis, arteri carotis dan esophagus. Setelah penyembelihan

selesai, domba digantung dengan kaki belakang diatas agar pengeluaran darah

lancar dan untuk mempermudah pengulitan.

c. Pengulitan

Pengulitan dilakukan dengan cara kering atau tanpa air, dengan

memisahkan bagian kepala, kedua kaki depan dan sendi korpus dan ekor pada

bagian pangkal. Kemudian menyayat kulit pada kedua kaki belakang secara

melingkar dipergelangannya sampai melalui bagian paha dan anus. Kulit dikupas

(15)

d. Pengeluaran jeroan

Pengeluaran jeroan dengan cara menyayat terlebih dahulu bagian perut

secara membujur mulai dari titik pusar ke arah dada, kemudian ke ekor. Setelah

itu keluarkan seluruh jeroan dengan tangan dan memotong kaki belakang pada

sendi tarsus.

e. Penimbangan

Penimbangan dilakukan setelah komponen non karkas masing-masing

(16)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Persentase Kobot Kepala (%)

Persentase bobot kepala diperoleh dari bobot kepala dibagi dengan bobot

tubuh kosong dikali 100%. Rataan persentase bobot kepala dapat dilihat pada

Tabel 4.

Tabel 4. Rataan persentase bobot kepala (%)

Perlakuan Ulangan

Total Rataan±sd

I II III IV

P0 8,54 8,65 7,75 8,44 33,38 8,35±0,14

P1 8,58 7,74 8,14 8,1 32,56 8,14±0,34

P2 10,25 7,53 8,49 10 36,27 9,07±1,29

P3 8,61 7,6 9,09 9,52 34,82 8,71±0,83

P4 10,21 8,16 11,92 8,6 38,89 9,72±1,71

Total 46,19 39,68 45,39 44,66 175,92

Rataan 9,238 7,936 9,078 8,932 35,184 8,79

Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa persentase bobot kepala tertinggi domba

yang diberikan limbah sayuran fermentasi terdapat pada perlakuan P4

(100% limbah sayuran frementasi + konsentrat) yaitu sebesar 9,72% dan

persentase bobot kepala terendah adalah pada perlakuan P1 (limbah sayuran

fermentasi 25% + rumput 75% + konsentrat) yaitu sebesar 8,14%.

Untuk mengetahui pengaruh pemberian limbah sayuran fermentasi

(17)

Tabel 5. Analisis ragam persentase kepala

SK DB JK KT F. Hit F 0.05 F 0.01

Perlakuan 4 6,248 1,571 1,42tn 3,06 4,89

Galat 15 16,579 1,105

Total 19 22,864

Ket. tn = tidak berbeda nyata

Hasil analisis menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil dari F Tabel

sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian limbah sayuran fermentasi tidak

memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase bobot kepala domba lokal

hal ini karena kepala merupakan komponen yang mengalami pertumbuhan pada

awal kehidupan sehingga pada tahap pertumbuhannya pertambahan bobot kepala

tidak signifikan, hal ini sesuai dengan pernyataan Tobing et al. (2004),

menyatakan bahwa kepala merupakan komponen yang mengalami pertumbuhan

yang besar pada awal kehidupan, tetapi mengalami penurunan pertumbuhan pada

akhir kehidupan. Kandungan nutrisi pakan yang diberikan tidak mempengaruhi

bobot kepala hal ini sesuai dengan pernyataan Soeparno (2005), bahwa

konsumsi nutrisi tinggi meningkatkan berat hati, rumen, omasum, usus besar, usus

kecil dan total alat pencernaan, tetapi sebaliknya bagi berat kepala dan kaki

perlakuan dan nutrisi serta spesies pastura dan pangonan pada domba tidak

mempengaruhi berat kepala, kaki dan kulit pada berat tubuh yang sama.

Persentase Bobot Kaki (%)

Persentase bobot kaki diperoleh dari bobot kaki dibagi dengan bobot tubuh

kosong dikali 100%. Rataan persentase bobot kaki dapat dilihat pada pada

(18)

Tabel 6. Rataan persentase bobot kaki (%)

P2 4,42 3,27 3,45 3,85 14,99 3,75 ±0,51

P3 3,57 3,29 3,44 3,24 13,54 3,39 ± 0,15

P4 3,13 3,36 3,85 3,09 13,43 3,36 ± 0,35

Total 17,26 16,25 17,51 16,58 67,60 16,90

Rataan 3,45 3,25 3,50 3,32 13,52 3,38

Dari Tabel 6 dapat diketahui bahwa persentase bobot kaki tertinggi domba

yang diberikan limbah sayuran fermentasi terdapat pada perlakuan P3 (rumput

25% + limbah sayuran fermentasi 75% + konsentrat) yaitu 3,75% dan persentase

terendah adalah pada perlakuan P1 (rumput 75% + limbah sayuran fermentasi

25% + konsentrat) yaitu 3,08%.

Untuk mengetahui pengaruh pemberian limbah sayuran fermentasi

terhadap persentase bobot kaki domba dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Analisis ragam persentase bobot kaki

SK DB JK KT F.Hit F 0.05 F 0.01

Perlakuan 4 0,906 0,226 2,32tn 3,06 4,89

Galat 15 1,463 0,097

Total 19 2,370

(19)

Hasil analisis menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil dari F Tabel

sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian limbah sayuran fermentasi tidak

memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase bobot kaki pada domba

lokal hal ini dikarenakan kaki merupakan komponen yang mengalami

pertumbuhan pada awal kehidupan hal ini sesuai dengan pernyataan

Tobing et al. (2004), menyatakan bahwa kaki merupakan komponen yang

mengalami pertumbuhan yang besar pada awal kehidupan, tetapi mengalami

penurunan pertumbuhan pada akhir kehidupan. Dapat asumsikan bahwa nutrisi

yang diberikan pada seekor ternak tidak mempengaruhi bobot kaki pada ternak

tersebut sesuai dengan pernyataan Soeparno (2005), bahwa konsumsi nutrisi

tinggi meningkatkan berat hati, rumen, omasum, usus besar, usus kecil dan total

alat pencernaan, tetapi sebaliknya bagi berat kepala dan kaki perlakuan dan nutrisi

serta spesies pastura dan pangonan pada domba tidak mempengaruhi berat kepala,

kaki dan kulit pada berat tubuh yang sama.

Persentase Bobot Kulit (%)

Persentase bobot kulit diperoleh dari bobot kulit dibagi dengan bobot

tubuh kosong dikali 100 %. Rataan persentase bobot kulit dapat dilihat pada pada

(20)

Tabel 8. Rataan persentase bobot kulit (%)

Perlakuan Ulangan

Total Rataan ± sd

I II III IV

P0 10,54 11,2 12,63 12,54 46,91 11,73±1,03

P1 12,48 10,45 9,91 8,77 41,61 10,40±1,55

P2 13,01 14,26 11,06 12,36 50,69 12,67±1,33

P3 8,98 9,75 17,4 9,4 45,53 11,38±4,02

P4 10,06 10,06 14,48 10,58 45,18 11,30±2,14

Total 55,07 55,72 65,48 53,65 229,92 57,48

Rataan 11,014 11,144 13,096 10,73 45,984 11,50

Dari Tabel 8 dapat diketahui bahwa persentase bobot kulit tertinggi domba

yang diberikan limbah sayuran fermentasi terdapat pada perlakuan P2

(rumput 50% + limbah sayuran fermentai 50% + konsentrat) yaitu 12,67% dan

persentase terendah adalah pada perlakuan P1 (rumput 75% + limbah sayuran

fermentasi 25% + konsentrat) yaitu 10,40%.

Untuk mengetahui pengaruh pemberian limbah sayuran fermentasi

terhadap persentase bobot kulit domba dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Analisis ragam persentase bobot kulit

SK DB JK KT F. Hit F 0.05 F 0.01

Perlakuan 4 10,754 2,688 0,52tn 3,06 4,89

Galat 15 78,041 5,202

Total 19 88,796

(21)

Hasil analisis menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil dari F Tabel

sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian limbah sayuran fermentasi tidak

memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase bobot kulit domba lokal hal

ini dikarenakan bobot potong yang juga tidak berbeda nyata dimana semakin

besar bobot potong semakin besar pula persentase bobot kulit karena semakin

besar bobot potong maka luas dan volume kulit akan semakin besar. Hal ini

sesuai dengan pernyataan Tobing et al. (2004), menyatakan bahwa bobot kulit dan

volume darah pada domba berbanding lurus dengan bobot potongnya.

Persentase Bobot Ekor (%)

Persentase bobot ekor diperoleh dari bobot ekor dibagi dengan bobot

tubuh kosong dikali 100%. Rataan persentase bobot ekor dapat dilihat pada pada

Tabel 10.

Tabel 10. Rataan persentase bobot ekor (%)

Perlakuan Ulangan Total Rataan±sd

I II III IV

P0 0,13 0,13 0,14 0,14 0,54 0,14±0,006

P1 0,12 0,17 0,16 0,14 0,59 0,15±0,022

P2 0,18 0,14 0,17 0,19 0,68 0,17±0,022

P3 0,14 0,15 0,16 0,17 0,62 0,16±0,013

P4 0,17 0,11 0,17 0,13 0,58 0,15±0,030

Total 0,74 0,7 0,8 0,77 3,01 0,75

(22)

Dari Tabel 10 dapat diketahui bahwa persentase bobot ekor tertinggi

domba yang diberikan limbah sayuran fermentasi terdapat pada perlakuan P2

(rumput 50% + limbah sayuran fermentasi 50% + konsentrat) yaitu 0,17% dan

persentase terendah adalah pada perlakuan P0 (rumput 100% + konsentrat) yaitu

0,14%.

Untuk mengetahui pengaruh pemberian limbah sayuran fermentasi

terhadap persentase bobot ekor dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Analisis ragam persentase bobot ekor

SK DB JK KT F.Hit F 0.05 F 0.01

Perlakuan 4 0,0035 0,00089 2,73tn 3,06 4,89

Galat 15 0,0049 0,00032

Total 19 0,0085

Ket. tn = tidak berbeda nyata

Hasil analisis menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil dari F Tabel

sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian limbah sayuran fermentasi tidak

memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase bobot ekor pada domba

lokal, hal ini dikarenakan deposisi lemak pada domba lokal tidak terdapat pada

ekor. Hal ini sesuai dengan pernyataan Tobing et al. (2004), yang menyatakan

bahwa deposisi lemak pada domba lokal tidak berada pada bagian ekor, tapi pada

bagian lain seperti viscera dan bagian bawah kulit.

(23)

Persentase bobot trakea dan paru-paru diperoleh dari bobot trakea dan

paru-paru dibagi dengan bobot tubuh kosong dikali 100%. Rataan bobot trakea

dan paru-paru dapat dilihat pada pada Tabel 12.

Tabel 12. Rataan persentase bobot trakea dan paru-paru (%)

Perlakuan Ulangan

Total Rataan±sd

I II III IV

P0 1,51 1,79 1,36 1,64 6,3 1,575±0,183

P1 1,7 1,44 1,54 1,78 6,46 1,615±0,153

P2 2,12 1,49 1,48 2,33 7,42 1,855±0,435

P3 1,73 1,49 1,85 1,86 6,93 1,732±0,172

P4 1,81 1,65 2,82 1,47 7,75 1,937±0,604

Total 8,87 7,86 9,05 9,08 34,86 8,715

Rataan 1,774 1,572 1,81 1,816 6,972 1,743

Dari Tabel 12 dapat diketahui bahwa persentase bobot trakea dan

paru-paru tertinggi domba yang diberikan limbah sayuran fermentasi terdapat

pada perlakuan P4 (limbah sayuran fermentasi 100% + konsentrat) yaitu 1,937%

dan persentase terendah adalah pada perlakuan P0 (rumput 100% + konsentrat)

yaitu 1,575%.

Untuk mengetahui pengaruh pemberian limbah sayuran fermentasi

(24)

Tabel 13. Analisis ragam persentase bobot Trakea dan paru-paru

SK DB JK KT F.Hit F 0.05 F 0.01

Perlakuan 4 0,411 0,1029 0,80tn 3,06 4,89

Galat 15 1,926 0,1284

Total 19 2,337

Ket. tn = tidak berbeda nyata

Hasil analisis menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil dari F Tabel

sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian limbah sayuran fermentasi tidak

memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase bobot trakea dan paru-paru

hal ini mungkin disebabkan karena paru-paru merupakan alat vital bagi tubuh

sehingga perbedaan nutrisi pakan perlakuan tidak mempengaruhi persentase bobot

trakea dan paru-paru. Hal ini sesuai dengan pernyataan Suhendar (1984), yang

menyatakan bahwa pada saat lahir sampai tercapainya bobot dewasa oleh karena

jantung dan paru-paru merupakan bagian tubuh yang sangat vital proporsinya

menurun masing-masing dari 0,8% menjadi 0,6% dan dari 1,8% menjadi 1,6%.

Pola pertumbuhan tergantung pada sistem manajemen (pengelolaan) yang dipakai,

tingkat nutrisi pakan yang tersedia kesehatan iklim.

Persentase bobot trakea dan paru-paru tidak berbeda nyata disebabkan

pada penelitian ini perlakuan juga tidak memberikan pengaruh yang nyata

terhadap pertambahan bobot tubuh hai ini sesuai dengan penelitian

Shehata (2013), menyatakan bahwa organ pernapasan memiliki pertumbuhan

yang searah dengan pertumbuhan bobot badan pada domba sehingga jika bobot

(25)

sebaliknya jika bobot badan rendah maka bobot organ pernapasan juga akan

rendah.

Persentase Bobot Hati (%)

Persentase bobot hati diperoleh dari bobot hati dibagi dengan bobot tubuh

kosong dikali 100 %. Rataan bobot hati dapat dilihat pada pada Tabel 14.

Tabel 14. Rataan persentase bobot hati

Perlakuan Ulangan Total Rataan±sd

I II III IV

P0 1,67 2,26 2,32 1,7 7,95 1,99±0,35

P1 1,96 2,11 2,15 1,96 8,18 2,05±0,10

P2 2,32 1,81 1,76 1,91 7,8 1,95±0,25

P3 1,89 1,48 1,94 1,79 7,1 1,78±0,21

P4 1,89 1,76 2,64 1,64 7,93 1,98±0,45

Total 9,73 9,42 10,81 9 38,96 9,74

Rataan 1,946 1,884 2,162 1,8 7,792 1,95

Dari Tabel 14 dapat diketahui bahwa persentase bobot hati tertinggi

domba yang diberikan limbah sayuran fermentasi terdapat pada perlakuan

P2 (rumput 50% + limbah sayuran fermentasi 50% + konsentrat) yaitu 2,05% dan

persentase terendah adalah pada perlakuan P3 (rumput 25% + limbah sayuran

fermentasi 75% + konsentrat) yaitu 1,78%.

Untuk mengetahui pengaruh pemberian limbah sayuran fermentasi

(26)

Tabel 15. Analisis ragam persentase bobot hati

SK DB JK KT F. Hit F 0.05 F 0.01

Perlakuan 4 0,1655 0,0413 0,46tn 3,06 4,89

Galat 15 1,3356 0,089

Total 19 1,501

Ket. tn = tidak berbeda nyata

Hasil analisis menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil dari F Tabel

sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian limbah sayuran fermentasi tidak

memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase bobot hati hal ini

dikarenakan pertumbuhan organ dalam seperti hati, ginjal bervariasi artinya

setiap ternak memiliki pertumbuhan bobot organ dalam yang berbeda-beda ada

yang lambat dan ada yang mengalami pertumbuhan yang pesat hal ini sesuai

dengan pernyataan Soeparno (2005), yang menyatakan bahwa pola pertumbuhan

organ seperti hati, ginjal, dan saluran pencernaan menunjukkan adanya variasi,

sedangkan organ yang berhubungan digesti dan metabolisme menunjukan

perubahan berat yang besar sesuai dengan status nutrisionalnya.

Persentase Bobot Jantung (%)

Persentase bobot jantung diperoleh dari bobot jantung dibagi dengan bobot

tubuh kosong dikali 100%. Rataan bobot jantung dapat dilihat pada pada

(27)

Tabel 16.Rataan persentase bobot jantung(%)

Dari Tabel 16 dapat diketahui bahwa persentase jantung tertinggi domba

yang diberikan limbah sayuran fermentasi terdapat pada perlakuan P4 (limbah

sayuran fermentasi 100% + konsentrat) yaitu 1,42% dan persentase terendah

adalah pada perlakuan P0 (rumput100% + konsentrat) yaitu 0,81%.

Untuk mengetahui pengaruh pemberian limbah sayuran fermentasi

terhadap persentase bobot jantung dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Analisis ragam persentase bobot jantung

SK DB JK KT F. Hit F 0.05 F 0.01

Perlakuan 4 1,655 0,0413 4,26* 3,06 4,89

Galat 15 1,456 0,089

Total 19 3,1118

Ket * . Perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05)

Perlakuan Ulangan

Total Rataan±sd

I II III IV

P0 0,85 0,81 0,77 0,8 3,23 0,81±0,03

P1 0,73 0,77 0,72 0,67 2,89 0,72±0,041

P2 0,85 0,79 1,13 1,89 4,66 1,17±0,506

P3 1,41 1,44 0,95 1,72 5,52 1,38±0,319

P4 1,68 1,61 0,9 1,49 5,68 1,42±0,355

Total 5,52 5,42 4,47 6,57 21,98 5,50

(28)

Hasil analisis menunjukkan bahwa F hitung lebih besar dari F Tabel 0.05

sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian limbah sayuran fermentasi

memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase bobot jantung domba. Hal

yang menarik dari penelitian dari semua parameter yang di teliti hanya persentase

bobot jantung yang berbeda nyata, hal ini diduga bahwa pakan yang diberikan

mempengaruhi persentasi bobot jantung. Menurut Ridawan (1991) dalam

Ginting et al (2011), pakan dapat mempengaruhi pertambahan berat komponen

non karkas domba yang mengkonsumsi pakan dengan energi yang tinggi.

mempunyai jantung yang lebih berat dari pada domba yang mengkonsumsi energi

lebih rendah.

Bobot badan pada penelitian ini mulai dari P0 sampai P4 mengalami

peningkatan akan tetapi peningkatannya tidak signifikan namun peningkatan

tersebut memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot jantung diduga hal ini

disebabkan pertambahan bobot badan berbanding lurus dengan pertambahan

bobot jantung hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian Musa et al , (2011),

menyatakan bahwa bobot tubuh dan jantung memiliki hubungan yang berbanding

lurus dimana semakin tinggi bobot tubuh maka semakin tinggi pula bobot

jantung sehingga dapat dinyatakan bahwa untuk menduga bobot tubuh yang

akurat dapat dilakuakn dengan mengetahui ketebalan dan lingkar jantung.

Persentase Bobot Darah (%)

Persentase bobot darah diperoleh dari bobot darah dibagi dengan bobot

(29)

Tabel 18. Rataan persentase bobot darah (%)

Perlakuan Ulangan

Total Rataan±sd

I II III IV

P0 6,06 5,22 5,47 5,36 22,11 5,53±0,37

P1 5 4,16 5,61 4,19 18,96 4,74±0,70

P2 6,72 5,23 5,71 5,27 22,93 5,73±0,69

P3 4,29 4,97 4,52 3,64 17,42 4,36±0,55

P4 5,27 4,41 6,39 4,64 20,71 5,18±0,89

Total 27,34 23,99 27,7 23,1 102,13 25,53

Rata-rata 5,468 4,798 5,54 4,62 20,426 5,11

Dari Tabel 18 dapat diketahui bahwa persentase bobot darah tertinggi

terdapat pada perlakuan P2 (rumput 50% + limbah sayuran fermentasi

50% + konsentrat) yaitu 5,73% dan persentase terendah adalah pada perlakuan

P3 (rumput 25% + limbah sayuran fermentasi 75 % + konsentrat) yaitu 4,36%.

Untuk mengetahui pengaruh pemberian limbah sayuran fermentasi

terhadap persentase bobot darah dapat dilihat pada Tabel 19.

Tabel 19. Analisis ragam persentase bobot darah

SK DB JK KT F. Hit F 0.05 F 0.01

Perlakuan 4 5,098 1,274 2,90tn 3,06 4,89

Galat 15 6,585 0,439

Total 19 11,684

(30)

Hasil analisis menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil dari F Tabel

sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian limbah sayuran fermentasi tidak

memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase bobot darah domba lokal

hal ini dikarenakan bobot potong yang juga tidak berbeda nyata dimana semakin

besar bobot potong semakin besar pula persentase bobot darah karena semakin

besar bobot potong maka volume darah pada seluruh tubuh juga semakin besar.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Tobing et al. (2004), menyatakan, bahwa bobot

kulit dan volume darah pada domba sebanding dengan bobot potongnya.

Persentase Bobot Saluran Pencernaan (%)

Persentase bobot saluran pencernaan diperoleh dari bobot saluran

pencernaan dibagi dengan bobot tubuh kosong dikali 100%. Rataan bobot

saluran pencernaan dapat dilihat pada pada Tabel 20.

Tabel 20. Rataan persentase bobot saluran pencernaan (%)

Perlakuan Ulangan

Total Rataan±sd

I II III IV

P0 52,28 49,70 50,02 43,17 195,17 48,79±3,92

P1 48,63 48,15 48,69 46,95 192,42 48,11±0,81

P2 59,82 47,73 52,29 54,65 214,49 53,62±5,03

P3 53,52 50,77 56,43 52,11 212,83 53,21±2,42

P4 52,78 50,34 65,08 53,30 221,50 55,38±6,60

Total 267,03 246,69 272,51 250,18 1036,41 259,10

(31)

Dari Tabel 20 dapat diketahui bahwa persentase bobot saluran pencernaan

tertinggi domba yang diberikan limbah sayuran fermentasi terdapat pada

perlakuan P4 (limbah sayuran fermentasi 100% + konsentrat) yaitu 55,38% dan

persentase terendah adalah pada perlakuan P1 (rumput 75% + limbah sayuran

fermentasi 25% + konsentrat) yaitu 48,11%.

Untuk mengetahui pengaruh pemberian limbah sayuran fermentasi

terhadap persentase bobot saluran pencernaan dapat dilihat pada Tabel 21.

Tabel 21. Analisis ragam persentase bobot saluran pencernaan

SK DB JK KT F. Hit F 0,05 F 0,01

Perlakuan 4 163,13 40,78 2,25tn 3.06 4.89

Galat 15 272,08 18,13

Total 19 435,22

Ket. tn = tidak nyata

Hasil analisis menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil dari F Tabel 0.05

sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian limbah sayuran fermentasi tidak

memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase bobot saluran pencernaan

domba lokal hal ini disebabkan oleh perlakuan yang tidak berpengaruh nyata

terhadap bobot potong domba lokal yang diteliti karena laju pertumbuhan

berbanding lurus dengan bobot saluran pencernaan hal ini sesuai dengan

Berg dan Butterfield (1976), yang menyampaikan kadar laju pertumbuhan

beberapa komponen non karkas hamper sama dengan kadar laju pertumbuhan

tubuh, misalnya abomasum dan usus besar mencapai kedewasaan hampir

(32)

abomasum. Berat rumen retikulum dan omasum meningkat dengan cepat pada

awal kehidupan post natal. Meskipun demikian berat total saluran pencernaan

menurun pada saat mencapai kedewasaan. Hal ini juga didukung oleh hasil

penelitian Wisnu et al, (2009), menyatkan bahwa berat potong pada domba

memberikan pengaruh yang berbeda terhadap persentase saluran pencernaan.

Rekapitulasi Hasil Penelitian

Untuk melihat hasil penelitian terhadap persentase bobot kepala, kaki,

kulit, ekor, trakea dan paru-paru, hati, jantung, darah dan saluran pencernaan

domba lokal maka dapat dilakukan rekapitulasi yang dapat dilihat pada Tabel 22.

Tabel 22. Rekapitulasi hasil penelitian

Parameter Perlakuan

P0 P1 P2 P3 P4

Kepala 8,35tn 8,14tn 9,07tn 8,71tn 9,72tn

Kaki 1,99tn 2,05tn 1,95tn 1,78tn 1,98tn

Kulit 11,73tn 10,40tn 12,67tn 11,38tn 11,30tn

Ekor 0,14tn 0,15tn 0,17tn 0,16tn 0,15tn

Trakea dan paru-paru 1,575tn 1,615tn 1,855tn 1,732tn 1,973tn

Hati 1,99tn 2,05tn 1,95tn 1,78tn 1,98tn

Jantung 0,81b 0,72b 1,17a 1,38a 1,42a

Darah 5,53tn 4,74tn 5,73tn 4,36tn 5,18tn

Saluran pencernaan 48,79tn 48,11tn 53,6tn 54,21tn 55,38tn

(33)

Berdasarkan hasil rekapitulasi diatas diperoleh bahwa limbah sayuran

fermentasi yang dijadikan sebagai pakan tidak memberikan pengaruh yang

berbeda nyata terhadap persentase bobot kepala, kaki, kulit, ekor, trakea dan

paru-paru, hati dan darah akan tetapi berpengaruh nyata terhadap persentase bobot

(34)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pemanfaatan limbah sayuran fermentasi sebagai pakan pada domba lokal

tidak dapat meningkatkan persentase komponen non karkas yang layak dimakan

kecuali persentase bobot jantung.

Saran

Disarankan dalam pemberian limbah sayuran sebagai pakan untuk ternak

supaya terlebih dahulu difermentasi dan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut

(35)

TINJAUAN PUSTAKA

Limbah Sayuran

Menurut Hadiwiyoto (1983), sampah pasar yang banyak mengandung

bahan organik adalah sampah-sampah hasil pertanian seperti sayuran,

buah-buahan dan daun-daunan serta dari hasil perikanan dan peternakan. Limbah

sayuran adalah bagian dari sayuran atau sayuran yang sudah tidak dapat

digunakan atau dibuang. Limbah buah-buahan terdiri dari limbah buah semangka,

melon, pepaya, jeruk, nenas dan lain-lain sedangkan limbah sayuran terdiri dari

limbah daun bawang, seledri, sawi hijau, sawi putih, kol, limbah kecambah

kacang hijau, klobot jagung, daun kembang kol dan masih banyak lagi

limbah-limbah sayuran lainnya. Namun yang lebih berpeluang digunakan sebagai bahan

pengganti hijauan untuk pakan ternak adalah limbah sayuran karena selain

ketersediaannya yang melimpah, limbah sayuran juga memiliki kadar air yang

relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan limbah buah-buahan sehingga jika

limbah sayuran dipergunakan sebagai bahan baku untuk pakan ternak maka bahan

pakan tersebut akan relatif tahan lama atau tidak mudah busuk.

Limbah sayuran berpotensi sebagai bahan pakan ternak, akan tetapi limbah

tersebut sebagian besar mempunyai kecenderungan mudah mengalami

pembusukan dan kerusakan, sehingga perlu dilakukan pengolahan untuk

memperpanjang masa simpan serta untuk menekan efek anti nutrisi yang

umumnya berupa alkaloid. Dengan teknologi pakan, limbah sayuran dapat diolah

menjadi tepung dan silase dapat digunakan sebagai pakan ternak. Manfaat dari

teknologi pakan antara lain dapat meningkatkan kualitas nutrisi limbah sebagai

(36)

cadangan pakan ternak saat kondisi sulit mendapatkan pakan hijauan

(Syananta, 2009).

Limbah sayuran akan bernilai guna jika dimanfaatkan sebagai pakan

melalui pengolahan. Hal tersebut karena pemanfaatan limbah sayuran sebagai

bahan pakan dalam ransum harus bebas dari efek anti-nutrisi, terlebih toksik yang

dapat menghambat pertumbuhan ternak yang bersangkutan. Limbah sayuran

mengandung anti nutrisi berupa alkaloid dan rentan oleh pembusukan sehingga

perlu dilakukan pengolahan ke dalam bentuk lain agar dapat dimanfaatkan secara

optimal dalam susunan ransum ternak (Rusmana et al., 2007).

Tabel 1. Kandungan nutrisi beberapa limbah sayuran

Nama Bahan

Kandungan Nutrisi dalam 100% BK

Air Abu Protein Lemak Serat

Sumber : a Balai Riset dan Standarisasi Industri Manado (2014). b Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak UNILA (2015). c Syananta (2009).

Pengolahan limbah sayuran untuk pakan alternatif ternak berpotensi

untuk membantu menekan biaya pakan ternak yang umumnya dapat mencapai

70% dari seluruh biaya usaha tani ternak, serta untuk membantu dalam

penyediaan bahan pakan ternak dengan jumlah kebutuhan pakan ternak kambing

atau domba per hari per ekor mencapai 4% dari bobot badan, sehingga untuk satu

ekor kambing dan domba dengan bobot badan 20 – 30 kg membutuhkan

(37)

Fermentasi

Fermentasi merupakan proses pemecahan senyawa organik menjadi

sederhana yang melibatkan mikroorganisme. Proses fermentasi dapat

meningkatkan ketersediaan zat-zat makanan seperti protein dan energi metabolis

serta mampu memecah komponen kompleks menjadi komponen sederhana

(Zakariah, 2012). Fermentasi terbagi atas dua jenis, yakni homofermentatif dan

heterofermentatif. Homofermentatif adalah fermentasi yang produk akhirnya

hanya berupa asam laktat. Contoh homofermentatif adalah proses fermentasi yang

terjadi dalam pembuatan yoghurt. Heterofermentatif adalah fermentasi yang

produk akhirnya berupa asam laktat dan etanol sama banyak. Contoh

heterofermentatif adalah proses fermentasi yang terjadi dalam pembuatan tape

(Belitz et al., 2009).

Eko et al. (2012) menyatakan bahwa tujuan dari fermentasi yaitu untuk

mengubah selulosa menjadi senyawa yang lebih sederhana melalui dipolimerisasi

dan memperbanyak protein mikroorganisme.

Limbah sayuran memiliki beberapa kelemahan sebagai pakan, antara lain

mempunyai kadar air tinggi (91,56%) yang menyebabkan cepat busuk sehingga

kualitasnya sebagai pakan cepat menurun. Oleh karena itu, limbah sayuran tidak

bisa diberikan langsung kepada ternak perlu diolah terlebih dahulu untuk

mempertahankan kualitasnya. Pengolahan dengan cara fermentasi telah mampu

mengawetkan dan mempertahankan kualitas sampah organik sebagai bahan pakan

(Muktiani et al., 2006).

Selama proses fermentasi terjadi, bermacam-macam perubahan komposisi

(38)

perubahan nilai gizi yang mencakup terjadinya peningkatan protein dan

penurunan serat kasar. Semuanya mengalami perubahan akibat aktivitas dan

perkembangbiakan mikroorganisme selama fermentasi. Melalui fermentasi terjadi

pemecahan enzim-enzim tertentu terhadap bahan yang tidak dapat dicerna,

misalnya selulosa dan hemiselulosa menjadi gula sederhana. Selama proses

fermentasi terjadi pertumbuhan kapang, selain dihasilkannya enzim juga

dihasilkan protein ekstraseluler dan protein hasil metabolisme kapang sehingga

terjadi peningkatan kadar protein (Sembiring, 2006).

Pakan

Kandungan zat makanan yang penting untuk diperhatikan dalam ransum

kambing adalah energi dan protein. Protein banyak terdapat pada jaringan otot dan

dapat digunakan sebagai sumber energi. Anggorodi (1990), menambahkan bahwa

protein merupakan zat yang esensial bagi kehidupan karena zat tersebut

merupakan protoplasma aktif dalam semua sel hidup. Protein merupakan bagian

utama dari susunan saraf dan bagian penting dari tulang kerangka yang

memberikan kekuatan dan kekenyalan pada tulang tersebut. Jika diberi pakan

yang kandungan proteinnya melebihi kebutuhan hidup pokok ternak, produksi dan

reproduksi, maka dalam batas-batas tertentu protein akan di deaminasi dalam hati

untuk digunakan sebagai sumber energi.

Hijauan segar adalah semua bahan pakan yang diberikan kepada ternak

dalam bentuk segar, baik yang dipotong terlebih dahulu (oleh manusia) maupun

yang tidak (direnggut langsung oleh ternak). Hijauan segar umumnya terdiri atas

(39)

disukai ternak, mudah diperoleh karena memiliki kemampuan tumbuh tinggi,

terutama didaerah tropis meskipun sering dipotong/direnggut langsung oleh ternak

(Hartadi et al., 1997).

Rumput kolonjono memiliki komposisi kimia sebagai berikut; bahan

kering 91,60 %, bahan organik 88,57%, protein kasar 6,82%, serat kasar 31,24 %,

lemak kasar 1,63%, abu 16,63%, BETN 44,19%, kalsium 0,35% dan

phosphor 0,87% (Harfiah , 2007).

Konsentrat merupakan pakan penguat yang terdiri dari bahan pakan yang

kaya karbohidrat dan protein seperti dedak padi, jagung kuning dan

bungkil-bungkilan. Menurut Darmono (1993), bahwa pakan penguat atau

konsentrat adalah pakan yang berasal dari biji-bijian dan mengandung protein

yang cukup tinggi dan mengandung serat kasar kurang dari 18%.

Hartadi et al. (1997), menambahkan bahwa konsentrat adalah suatu bahan pakan

yang dipergunakan bersama bahan pakan lain untuk meningkatkan keserasian gizi

dari keseluruhan makanan dan dimaksudkan untuk disatukan dan dicampur

sebagai suplemen (pelengkap) atau makanan pelengkap. Pakan penguat atau

konsentrat diberikan dengan tujuan menambah nilai gizi pakan, menambah unsur

pakan yang defisiensi dan meningkatkan konsumsi pakan (Murtidjo, 1993).

Konsentrat dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu konsentrat sumber protein dan

konsentrat sumber energi. Konsentrat dikatakan sebagai sumber energi apabila

mempunyai kandungan protein kasar kurang dari 20% dan serat kasar 18%,

sedangkan konsentrat dikatakan sebagai sumber protein karena mempunyai

(40)

Tabel 2. Kebutuhan nilai nutrisi domba untuk pertumbuhan

Sumber: Haryanto dan Andi (1993)

Kebutuhan ternak akan zat-zat gizi bervariasi antar species ternak dan

umur fisologis yang berlainan. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan

zat gizi antar lain adalah jenis kelamin, tingkat produksi keadaan lingkungan serta

aktifitas fisik ternak. Zat makanan yang diperlukan ternak dapat dipisahkan

menjadi komponen utama antara lain energi, protein, mineral dan vitamin. Zat-zat

makanan tersebut berasal dari pakan yang dikonsumsi (Haryanto, 1992).

Parakkasi (1995), menyatakan bahwa pemberian konsentrat terlampau

banyak akan meningkatkan energi konsentrasi pakan yang dapat menurunkan

tingkat konsumsi sehingga tingkat konsumsi energi sendiri dapat berkurang.

Kebutuhan ternak ruminansia terhadap pakan dicerminkan oleh

kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat

tergantung pada jenis, umur, fase pertumbuhan (dewasa, bunting dan menyusui),

kondisi tubuh (normal atau sakit), dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur,

kelembaban dan nisbi udara) serta bobot badannya. Jadi setiap ekor ternak yang

(41)

Domba

Ternak domba termasuk dalam phylum Chordata, kelas Mammalia, ordo

Artiodactyla, subfamili Cuprinae, famili Bovidae, genus Ovis dan spesies Ovis

aries (Damron dan Stephen, 2006). Subfamili Cuprinae berasal dari dataran tinggi

di daerah pegunungan dan berkembang menjadi spesies, subspesies, varietas serta

ras-ras lokal tertentu. Ternak domba dari Asia tersebar kesebelah barat antara lain

Mediterania, termasuk Eropa dan Afrika serta kesebelah timur tersebar ke daerah

subkontinen India dan Asia Tenggara (Devendra dan Mc Leroy. 1982).

Menurut Freer dan Dove (2002) domba merupakan ternak yang pertama

kali didomestikasi, dimulai dari daerah Kaspia, Iran, India, Asia Barat, Asia

Tenggara dan Eropa sampai ke Afrika. Di Indonesia, domba dikelompokkan

menjadi 1. Domba ekor tipis (Javanese thin tailed); 2. Domba ekor gemuk

(Javanese fat tailed); 3. Domba Priangan atau dikenal juga sebagai domba garut.

Pada awalnya proses pembudidayaan domba lebih banyak menggunakan

sistem penggembalaan di padang pastura, namun sistem ini banyak terdapat

kelemahan seperti area pastura yang semakin berkurang, manajemen

pemeliharaan yang buruk, terlalu banyak parasit dan pendapatan yang diperoleh

sedikit dan seiring dengan berkembangnya industri peternakan domba, metode

pemeliharaan ternak mulai beralih ke sistem kandang (Ensminger et al., 1990).

Pendapat lain menyatakan bahwa bobot badan dewasa dapat mencapai

30-40 kg pada jantan dan betina 20-25 kg dengan persentase karkas 44-49%

(42)

Sistem Pencernaan Domba

Sistem pencernaan adalah sebuah sistem yang terdiri dari saluran

pencernaan yang dilengkapi dengan beberapa organ yang bertanggung jawab atas

pengambilan, penerimaan dan pencernaan bahan pakan dalam perjalanannya

menuju tubuh (saluran pencernaan) mulai dari rongga mulut sampai ke anus.

Disamping itu sistem pencernaan bertanggung jawab pula atas pengeluaran

(ekskresi) bahan-bahan pakan yang tidak terserap atau tidak dapat kembali

(Parakkasi, 1995).

Proses utama pencernaan adalah secara mekanik, enzimatik atau mikroba.

Proses mekanik terdiri dari mastikasi atau pengunyahan dalam mulut dan

gerakan-gerakan saluran pencernaan yang dihasilkan oleh kontraksi otot sepanjang usus.

Pencernaan enzimatik atau kimawi dilakukan oleh enzim yang dihasilkan oleh

sel-sel dalam tubuh berupa getah-getah pencernaan (Tillman et al.,1991).

Saluran pencernaan pada ternak ruminansia lebih panjang dan lebih

kompleks dibandingkan dengan saluran pencernaan ternak lainnya. Pada ternak

ruminansia modifikasi lambung dibedakan menjadi empat bagian yaitu, rumen

(perut besar), retikulum (perut jala), omasum (perut kitab) dan abomasum.

Dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan alamiahnya.

Kapasitas rumen 80%, retikulum 5%, omasum 7-8% dan abomasum 7-8%

(Prawirokusumo, 1994).

Ruminansia secara spesifik mampu mensintesis asam-asam amino dari

unsur-unsur yang dihasilkan oleh berbagai proses yang terjadi di dalam rumen.

(43)

non-NH3 dan merupakan bahan utama pembentukan asam-asam amino. Selain dari bahan pakan yang dikonsumsinya, kebutuhan tubuh ruminansia terhadap protein

juga dipenuhi dari mikroba rumen (Sodiq dan Abidin, 2002).

Komponen Non Karkas

Non karkas ternak adalah hasil pemotongan ternak yang terdiri dari,

kepala, kulit, organ-organ internal, kaki bagian bawah dari sendi karpal dan kaki,

sendi tarsal dan kaki belakang (Soeparno, 2005). Menurut Sembiring et al. (2006)

persentasi bobot non karkas dapat diperoleh dengan pembagian bobot non karkas

(kulit, kepala, kaki, hati, limpa paru-paru, trakea, jantung, testis, lemak omental,

ekor) dengan bobot tubuh kosong dikali 100%.

Bagian mamalia non karkas adalah bagian tubuh hewan mamalia selain

karkas yang layak dimakan seperti kepala (terdiri dari otak, lidah, hidung, telinga

dan tetelan kepala), kulit, kikil, ekor, tulang, kaki dan jeroan, setelah diberi

perlakuan pembersihan yang cukup sehingga layak digunakan sebagai bahan

pangan ( Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia, 2015).

Non karkas merupakan hasil pemotongan ternak selain karkas dan lazim

disebut offal. Non karkas terdiri dari bagian yang layak (offal edible) dan tidak

layak dimakan (offal non edible). Hasil pemotongan ternak selain karkas adalah

bagian non karkas. Non karkas terdiri dari bagian yang layak dimakan dan yang

tidak layak dimakan (Soeparno, 2005).

Komponen sisa karkas terdiri dari organ internal dan organ eksternal.

Organ internal terdiri atas hati, jantung, paru-paru, sedangkan yang termasuk

(44)

Bagian non karkas meliputi bobot kulit, jeroan merah (hati, ginjal, limfa

dan paru-paru), jeroan hijau kosong (lemak internal, lambung yaitu rumen,

retikulum, omasum, abomasum dan usus yang telah dibersihkan dari isi saluran

pencernaan), kaki, kepala dan ekor. Bobot non karkas (kg) diperoleh dari hasil

penimbangan komponen-komponen non karkas. Persentase non karkas (%)

diperoleh dari bobot bagian non karkas dibagi dengan bobot karkas kemudian

dikalikan 100% (Juliyanti, 2013).

Ridwan (1991), dalam Ginting et al. (2011) menyatakan bahwa yang

menyatakan bahwa domba yang mengkonsumsi nutrisi yang tinggi mempunyai

jantung, paru-paru yang lebih berat dari pada domba yang mengkonsumsi nutrisi

yang lebih rendah.

Bobot non karkas diperoleh dengan menimbang bagian non karkas.

Persentase karkas diperoleh dengan membandingkan bobot karkas dan bobot

potong, sedangkan persentase non karkas diperoleh dengan membandingkan

bobot non karkas dengan bobot potong. Penimbangan non karkas dilakukan untuk

masing-masing komponen yaitu kepala, darah, organ-organ dalam kecuali ginjal

keempat kaki bagian bawah, ekor, kulit dan bulu (Pubowati, 2011).

Komponen sisa karkas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain,

bangsa ternak adalah pengaruh bangsa yang berhubungan dengan perbedaan

genetik tiap bangsa dalam mencapai ukuran dewasa, tiap bangsa terdapat

perbedaan kecepatan pertumbuhan dari komponen tubuh. Akibat perbedaan

tersebut akan meningkatkan perbedaan proporsi tubuh pada berat yang sama.

Peningkatan kandungan konsentrat pada ransum akan menurunkan isi perut dan

(45)

meningkatkan isi perut dan menurunkan persentase karkas

(Whytes dan Ramsay, 1979).

Berat karkas juga dipengaruhi oleh umur ternak, jenis kelamin, kecepatan

pertumbuhan, metode pemotongan, lingkungan serta berat bagian/organ non

karkas. Ternak yang diberi pakan berenergi tinggi memberikan berat, ginjal, kulit

dan bulu yang lebih berat dibandingkaan ternak yang diberi pakan berenergi

rendah, sedangkan kepala, kaki dan ekor ternak yang laju pertumbuhannya lambat

memberikan berat yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan cepat

(Murray dan Slezacek, 1978).

Menurut Soeparno (2005), bahwa perlakuan nutrisional mempunyai

pengaruh berbeda terhadap berat non karkas. Berat non karkas dapat

mempengaruhi berat karkas, apabila berat non karkas semakin meningkat maka

perolehan berat karkas yang dihasilkan akan semakin menurun. Hal ini terjadi

karena jumlah non karkas yang dihasilkan lebih banyak daripada jumlah karkas

dari ternak tersebut. Pola pertumbuhan organ seperti hati, ginjal, dan saluran

pencernaan menunjukkan adanya variasi, sedangkan organ yang berhubungan

digesti dan metabolisme menunjukan perubahan berat yang besar sesuai dengan

status nutrisionalnya.

Tobing et al. (2004) dalam Hudallah et al. (2007), menyatakan bahwa

kepala dan kaki merupakan komponen yang mengalami pertumbuhan yang besar

pada awal kehidupan, tetapi mengalami penurunan pertumbuhan pada akhir

kehidupan, sedangkan bobot kulit dan volume darah pada domba sebanding

(46)

sehingga deposisi lemak tidak berada pada bagian ekor, tapi pada bagian lain

seperti viscera dan bagian bawah kulit.

Menurut Soeparno (2005), konsumsi nutrisi tinggi meningkatkan berat

hati, rumen, omasum, usus besar, usus kecil dan total alat pencernaan, tetapi

sebaliknya bagi berat kepala dan kaki perlakuan dan nutrisi serta spesies pastura

dan pangonan pada domba tidak mempengaruhi berat kepala, kaki dan kulit pada

berat tubuh yang sama.

Pada waktu lahir bagian kepala, leher dan kaki depan ternak relatif telah

berkembang dengan sempurna dan setelah itu proporsi dari ketiganya menurun

relatif dengan meningkatnya proporsi bagian lain yang mempunyai nilai ekonomis

tinggi, pada saat lahir sampai tercapainya bobot dewasa oleh karena jantung dan

paru-paru merupakan bagian tubuh yang sangat vital proporsinya menurun

masing-masing dari 0,8% menjadi 0,6% dan dari 1,8% menjadi 1,6%.

(Suhendar ,1984).

Berg dan Butterfield (1976) dalam Lusyana et al. (2014), yang

menyampaikan kadar laju pertumbuhan beberapa komponen non karkas hamper

sama dengan kadar laju pertumbuhan tubuh, misalnya abomasum dan usus besar

mencapai kedewasaan hampir bersamaan dengan tubuh. Usus kecil tumbuh lebih

cepat dari pada usus besar dan abomasum. Berat rumen retikulum dan omasum

meningkat dengan cepat pada awal kehidupan post natal. Meskipun demikian

(47)

Menurut Wilson, (1958) bahwa bobot total saluran pencernaan pada

waktu lahir proporsinya meningkat terhadap bobot tubuh pada saat tercapainya

dewasa tubuh.

Komponen Non Karkas Layak Dimakan (offal edible)

Di Indonesia, bagian non karkas yang layak dimakan seperti darah, kulit,

kepala, ekor dan viscera (hati, jantung, paru-paru dan saluran pencernaan) juga

bernilai ekonomi tinggi, karena merupakan bahan pangan yang disukai

masyarakat. Beberapa komponen non karkas yang tidak layak dimakan tetapi

diolah dengan teknologi tinggi dapat memberikan keuntungan financial yang

besar (Soeparno, 2005).

Menurut Goodwin (1977), proporsi hasil pemotongan sapi dapat

dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu karkas (58%), non karkas yang dapat

dimakan sebesar 13%, non karkas yang tidak dapat dimakan mempunyai proporsi

13%, isi saluran pencernaan dan darah 14%, sedangkan lain-lain 2%. Komponen

nonkarkas yang dapat dimakan meliputi hati, jantung, paru-paru dan saluran

pencernaan.

Menurut Balkely dan Bade (1991), komponen-komponen non karkas yang

tidak layak dimakan dapat diproses dan dimanfaatkan menjadi produk-produk

yang bernilai ekonomis cukup tinggi. Rincian pemamfaatan bagian non karkas

(48)

Tabel 3. Pemamfaatan bagian offal/non-karkas ternak kambing atau domba

yang layak dimakan

Komponen non Karakas Manfaat

Otak, jantung, ginjal, hati, paru-paru, limpa, pankreas dan lidah

Aneka ragam daging

Ekor Sup

Pipi dan tetelan kepala Bahan sosis

Ekstrak daging Sup

Lambung Renet untuk pembuatan keju

Bahan sosis, aneka ragam daging

Tulang Es krim dan agar- agar

Lemak Bahan peremah kue, kembang gula,

bahan pakan kalori tinggi.

Usus kecil dan besar Selongsong sosis dan aneka ragam

Daging

Sumber : Forrest et al. (1975) dalam Linda (2014).

Tidak Layak Dimakan ( Inedible Offal)

Menurut Goodwin (1977), proporsi hasil pemotongan sapi dapat

dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu karkas (58%), non karkas yang dapat

dimakan sebesar 13%, non karkas yang tidak dapat dimakan mempunyai proporsi

13%, isi saluran pencernaan dan darah 14%, sedangkan lain-lain 2%, komponen

non karkas yang tidak dapat dimakan yaitu tulang kepala, kuku, kulit, tanduk dan

isi saluran pencernaan.

Karkas merupakan hasil utama dari suatu penyembelihan ternak dan

mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi daripada non karkas. Sisa karkas

dibagi menjadi dua bagian, yaitu “Edible offal” dan “Inedible offal”

(Gerrard, 1997). Sedangkan “Inedible offal” adalah bagian sisa karkas yang tidak

layak dimakan, misalnya tanduk, bulu, saluran kantong kemih, kulit, tulang dan

(49)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Domba lokal Sumatera memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan

domba Jawa lainnya yakni memiliki daya adaptasi tinggi terhadap iklim basah,

dapat dikawinkan sepanjang tahun serta memiliki daya resistensi terhadap internal

parasit sehingga pemeliharaannya tergolong sederhana. Peranan domba dalam

sistem usaha tani telah nyata dalam peningkatan sumber pendapatan petani,

membuka kempatan kerja serta dalam berbagai fungsi sosial. Secara umum usaha

ternak domba masih bersifat tradisional sehingga perlu dilakukan upaya

pengembangan.

Peternakan domba sangat bergantung pada produktivitas hijauan pakan

yang menentukan keberhasilan dari peternakan tersebut. Seperti diketahui bahwa

produktivitas hijauan bersifat musiman, pada saat musim hujan hijauan pakan

melimpah, tetapi pada musim kemarau hijaun pakan sangat sedikit bahkan tidak

ada sehingga peternakan domba dapat mengalami penurunan produktivitasnya.

Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan upaya pencarian pakan

alternatif pengganti hijauan pakan pada musim kemarau.

Mengingat bahwa ketersediaan lahan semakin sempit, baik sebagai tempat

berusaha maupun sebagai sumber pakan semakin terbatas, maka pemanfaatan

sumber daya alternatif untuk menjamin kelanjutan serta efisiensi usaha ternak

domba merupakan tuntutan mendesak yang perlu ditangani. Saat ini dibutuhkan

suatu pemecahan masalah pakan untuk ternak domba. Salah satu faktor pembatas

laju peningkatan suatu usaha peternakan yaitu ketersediaan pakan dan merupakan

(50)

Limbah sayuran selama ini menjadi sumber masalah bukan hanya karena

bau yang ditimbulkan tetapi juga karena limbah pasar dapat menjadi sarang atau

sumber penyakit dan sumber ketegangan sosial. Padahal tumpukan limbah dapat

menjadi sumber nutrien yang berlimpah dan tidak sedikit nilainya. Jika dapat

mengelolaanya dengan teknologi yang baik dan benar. Limbah organik saat ini

bukan hanya digunakan untuk mendukung pertanian saja, tetapi juga dapat

dimanfaatkan dalam bidang peternakan dan perikanan terutama limbah sayuran

dan buah-buahan.

Limbah sayuran berpotensi sebagai bahan pakan ternak, akan tetapi limbah

tersebut sebagian besar mempunyai kecenderungan mudah mengalami

pembusukan dan kerusakan, sehingga perlu dilakukan pengolahan untuk

memperpanjang masa simpan serta untuk menekan efek anti nutrisi yang

umumnya berupa alkaloid. Dengan teknologi pakan, limbah sayuran dapat diolah

menjadi tepung dan silase dapat digunakan sebagai pakan ternak. Manfaat dari

teknologi pakan antara lain dapat meningkatkan kualitas nutrisi limbah sebagai

pakan, serta dapat disimpan dalam kurun waktu yang cukup lama sebagai

cadangan pakan ternak saat kondisi sulit mendapatkan pakan hijauan.

Dengan demikian maka ketersediaan pakan yang kuantitatif dan

kualitatifnya dapat terjamin sepanjang tahun sehingga produksi hasil ternak

domba dapat ditingkatkan seiring dengan meningkatnya permintaan akan hasil

olahan dari ternak tersebut. Selain itu semakin bertambahnya pengetahuan

masyarakat dalam mengolah berbagai jenis makanan termasuk bagian dari non

(51)

Bagian non karkas yang layak dimakan seperti darah, kulit, kepala, ekor

dan viscera (hati, jantung, paru-paru dan saluran pencernaan) juga bernilai

ekonomi tinggi, karena merupakan bahan pangan yang disukai masyarakat.

Beberapa komponen non karkas yang tidak layak dimakan tetapi diolah dengan

teknologi tinggi dapat memberikan keuntungan financial yang besar

(Soeparno, 2005). Dengan demikian penulis merasa perlu melakukan penelitian

pemanfaatan limbah sayuran fermentasi terhadap persentasi non karkas pada

domba lokal.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persentase non karkas pada

domba lokal yang diberikan limbah sayuran fermentasi sebagai pakan alternatif.

Hipotesis Penelitian

Pemanfaatan limbah sayuran fermentasi dapat meningkatkan persentase

komponen non karkas yang layak dimakan pada domba lokal.

Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi peneliti,

kalangan akademik dan masyarakat tentang pemanfaatan limbah sayuran

(52)

ABSTRAK

MELIANA SAMOSIR, 2016: ”Pemanfaatan Limbah Sayuran Fermentasi terhadap Persentase non Karkas pada Domba Lokal” di bimbing oleh TRI HESTI WAHYUNI dan HASNUDI.

Penelitian bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian limbah sayuran fermentasi terhadap persentase non karkas pada domba lokal. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara pada bulan Juni – September 2016 menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan 4 ulangan menggunakan domba dengan rataan bobot awal 13,4 ±1,2 kg. Perlakuan terdiri dari lima level pemberian limbah sayuran

fermentasi P0 (0%) , P1 (25%), P2 (50%), P3 (75%), P4 (100% ). Parameter yang diamati adalah : Persentase bobot kepala, kaki, kulit, ekor, trakea dan paru-paru, hati, jantung, darah, dan saluran pencernaan.

Hasil penelitian menunjukan rataan persentase bobot jantung secara berturut-turut : P0,P1,P2,P3, P4, adalah 0,81, 0,72, 1,17, 1,38dan 1,42. Hasil analisa keragaman menunjukkan bahwa pemberian limbah sayuran fermentasi tidak memberikan pengaruh yang nyata (P 0,05 <0) terhadap persentase non karkas yang layak dimakan kecuali jatung. Kesimpulan pemberian limbah sayuran fermentasi tidak dapat meningkatkan persentase bobot kompenen non karkas yang layak dimakan kecuali jantung.

(53)

ABSTRACT

MELIANA SAMOSIR, 2016: “The Utilization of fermented Vegetable

Waste on non carcass percentage on Local Sheep” supevissed by TRI HESTI WAHYUNI and HASNUDI.

The objective of this research is utilization of fermented vegetable waste to

the percentage of non-carcass at the local sheep. Research conducted at the Laboratory Animal Sciences Faculty of Agriculture, University of North Sumatra in June - September 2016 using a completely randomized design (CRD) with four replications five treatments using sheep with the average initial weight of 13.4 ± 1.2 kg. The treatments consisted of five levels of administration fermented vegetables waste P0 (0%), P1 (25%), P2 (50%), P3 (75%), P4 (100%). Parameters measured were: percentage of weight of the head, feet, skin, head, trachea and lungs, heart, liver, blood and digestive tract.

The results showed the average percentage of head weight intake for treatment : P0, P1, P2, P3, P4, were percentage of heart weight: 0.81, 0.72, 1.17, 1.42 and 1,38. Results of the analysis showed that fermented vegetable waste had no significant effect (P 0,05 >0) on the percentage of edible non carcass componens except percentage of heart weight. Conclusion fermented vegetable waste can not increase the percentage of edible non carcass componens except percentage heart weinght.

(54)

PEMANFAATAN LIMBAH SAYURAN FERMENTASI

TERHADAP PERSENTASE NON KARKAS

PADA DOMBA LOKAL

SIKRIPSI

Oleh:

MELIANA SAMOSIR 120306022

PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(55)

PEMANFAATAN LIMBAH SAYURAN FERMENTASI

TERHADAP PERSENTASE NON KARKAS

PADA DOMBA LOKAL

SIKRIPSI

Oleh:

MELIANA SAMOSIR 120306022

Sikripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi peternakan Fakultas pertanian Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(56)

Judul : Pemanfaatan Limbah Sayuran Fermentasi Terhadap Persentase

Non Karkas Pada Domba Lokal

Nama : Meliana Samosir

NIM :120306022

Program Studi : Peternakan

Disetujui oleh: Komisi Pembimbing

Ir. Tri Hesti Wahyuni, M.Sc Prof. Dr. Ir. Hasnudi, MS

Ketua Anggota

Mengetahui,

(57)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Parsingguran pada tanggal 03 Januari 1992 dari ayah

Marulak Samosir dan ibu Wasti Lumban Gaol. Penulis merupakan putri ke-2 dari

5 bersaudara.

Tahun 2011 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Pollung dan pada tahun 2012

masuk ke Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera

Utara melalui jalur SNMPTN tertulis.

Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif sebagai anggota Ikatan

Mahasiswa Peternakan (IMAPET) dan anggota Ikatan Mahasiswa Kristen

Peternakan (IMAKRIP).

Penulis melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di BPTU HPT

(Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak) Siborong-borong

Kabupaten Tapanuli Utara Provinsi Sumatera Utara mulai Juli hingga Agustus

(58)

ABSTRAK

MELIANA SAMOSIR, 2016: ”Pemanfaatan Limbah Sayuran Fermentasi terhadap Persentase non Karkas pada Domba Lokal” di bimbing oleh TRI HESTI WAHYUNI dan HASNUDI.

Penelitian bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian limbah sayuran fermentasi terhadap persentase non karkas pada domba lokal. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara pada bulan Juni – September 2016 menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan 4 ulangan menggunakan domba dengan rataan bobot awal 13,4 ±1,2 kg. Perlakuan terdiri dari lima level pemberian limbah sayuran

fermentasi P0 (0%) , P1 (25%), P2 (50%), P3 (75%), P4 (100% ). Parameter yang diamati adalah : Persentase bobot kepala, kaki, kulit, ekor, trakea dan paru-paru, hati, jantung, darah, dan saluran pencernaan.

Hasil penelitian menunjukan rataan persentase bobot jantung secara berturut-turut : P0,P1,P2,P3, P4, adalah 0,81, 0,72, 1,17, 1,38dan 1,42. Hasil analisa keragaman menunjukkan bahwa pemberian limbah sayuran fermentasi tidak memberikan pengaruh yang nyata (P 0,05 <0) terhadap persentase non karkas yang layak dimakan kecuali jatung. Kesimpulan pemberian limbah sayuran fermentasi tidak dapat meningkatkan persentase bobot kompenen non karkas yang layak dimakan kecuali jantung.

Gambar

Tabel 4. Rataan persentase bobot kepala (%)
Tabel 5. Analisis ragam persentase kepala
Tabel 7. Analisis ragam persentase bobot kaki
Tabel 8. Rataan persentase bobot kulit (%)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemanfaatan eceng gondok fermentasi tidak berpengaruh untuk menaikkan bobot karkas, persentase karkas, persentase lemak subkutan,

Karakteristik karkas yang diamati pada kelinci adalah bobot potong, bobot karkas, bobot kulit bulu, hati, jantung, paru-paru, ginjal, bobot daging total, bobot

Pengukuran bobot karkas dilakukan dengan cara menimbang hasil pemotongan ternak setelah dipisahkan kepala, viscera, ekor, kaki pada bagian teracak, darah, dan kulit.. Bobot

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian limbah sayur fermentasi dengan menggunakan EM4 (Effective Mikroorganisme 4) tidak berpengaruh nyata

Karkas merupakan hasil utama pemotongan ternak dan mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi dari pada non karkas, sesuai dengan tujuan pemotongan adalah untuk memproduksi

Kajian Tumbuh Kembang Karkas dan Komponennya Serta Penampilan Domba Sungei Putih dan Lokal Sumatera yang Menggunakan Pakan Limbah Kelapa Sawit.. Institute

Karakteristik karkas yang diamati pada kelinci adalah bobot potong, bobot karkas, bobot kulit bulu, hati, jantung, paru-paru, ginjal, bobot daging total, bobot

pencernaan nya dari pada ternak yang diberi pakan hijauan bermutu tinggi dengan. proporsi biji-bijian