• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Limbah Sayuran Fermentasi Terhadap Persentase Non Karkas Pada Domba Lokal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pemanfaatan Limbah Sayuran Fermentasi Terhadap Persentase Non Karkas Pada Domba Lokal"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Limbah Sayuran

Menurut Hadiwiyoto (1983), sampah pasar yang banyak mengandung bahan organik adalah sampah-sampah hasil pertanian seperti sayuran, buah-buahan dan daun-daunan serta dari hasil perikanan dan peternakan. Limbah sayuran adalah bagian dari sayuran atau sayuran yang sudah tidak dapat digunakan atau dibuang. Limbah buah-buahan terdiri dari limbah buah semangka, melon, pepaya, jeruk, nenas dan lain-lain sedangkan limbah sayuran terdiri dari limbah daun bawang, seledri, sawi hijau, sawi putih, kol, limbah kecambah kacang hijau, klobot jagung, daun kembang kol dan masih banyak lagi limbah-limbah sayuran lainnya. Namun yang lebih berpeluang digunakan sebagai bahan pengganti hijauan untuk pakan ternak adalah limbah sayuran karena selain ketersediaannya yang melimpah, limbah sayuran juga memiliki kadar air yang relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan limbah buah-buahan sehingga jika limbah sayuran dipergunakan sebagai bahan baku untuk pakan ternak maka bahan pakan tersebut akan relatif tahan lama atau tidak mudah busuk.

(2)

cadangan pakan ternak saat kondisi sulit mendapatkan pakan hijauan (Syananta, 2009).

Limbah sayuran akan bernilai guna jika dimanfaatkan sebagai pakan melalui pengolahan. Hal tersebut karena pemanfaatan limbah sayuran sebagai bahan pakan dalam ransum harus bebas dari efek anti-nutrisi, terlebih toksik yang dapat menghambat pertumbuhan ternak yang bersangkutan. Limbah sayuran mengandung anti nutrisi berupa alkaloid dan rentan oleh pembusukan sehingga perlu dilakukan pengolahan ke dalam bentuk lain agar dapat dimanfaatkan secara optimal dalam susunan ransum ternak (Rusmana et al., 2007).

Tabel 1. Kandungan nutrisi beberapa limbah sayuran

Nama Bahan

Kandungan Nutrisi dalam 100% BK Air Abu Protein Lemak Serat

Sumber : a Balai Riset dan Standarisasi Industri Manado (2014). b Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak UNILA (2015). c Syananta (2009).

(3)

Fermentasi

Fermentasi merupakan proses pemecahan senyawa organik menjadi sederhana yang melibatkan mikroorganisme. Proses fermentasi dapat meningkatkan ketersediaan zat-zat makanan seperti protein dan energi metabolis serta mampu memecah komponen kompleks menjadi komponen sederhana (Zakariah, 2012). Fermentasi terbagi atas dua jenis, yakni homofermentatif dan heterofermentatif. Homofermentatif adalah fermentasi yang produk akhirnya hanya berupa asam laktat. Contoh homofermentatif adalah proses fermentasi yang terjadi dalam pembuatan yoghurt. Heterofermentatif adalah fermentasi yang produk akhirnya berupa asam laktat dan etanol sama banyak. Contoh heterofermentatif adalah proses fermentasi yang terjadi dalam pembuatan tape (Belitz et al., 2009).

Eko et al. (2012) menyatakan bahwa tujuan dari fermentasi yaitu untuk mengubah selulosa menjadi senyawa yang lebih sederhana melalui dipolimerisasi dan memperbanyak protein mikroorganisme.

Limbah sayuran memiliki beberapa kelemahan sebagai pakan, antara lain mempunyai kadar air tinggi (91,56%) yang menyebabkan cepat busuk sehingga kualitasnya sebagai pakan cepat menurun. Oleh karena itu, limbah sayuran tidak bisa diberikan langsung kepada ternak perlu diolah terlebih dahulu untuk mempertahankan kualitasnya. Pengolahan dengan cara fermentasi telah mampu mengawetkan dan mempertahankan kualitas sampah organik sebagai bahan pakan (Muktiani et al., 2006).

(4)

perubahan nilai gizi yang mencakup terjadinya peningkatan protein dan penurunan serat kasar. Semuanya mengalami perubahan akibat aktivitas dan perkembangbiakan mikroorganisme selama fermentasi. Melalui fermentasi terjadi pemecahan enzim-enzim tertentu terhadap bahan yang tidak dapat dicerna, misalnya selulosa dan hemiselulosa menjadi gula sederhana. Selama proses fermentasi terjadi pertumbuhan kapang, selain dihasilkannya enzim juga dihasilkan protein ekstraseluler dan protein hasil metabolisme kapang sehingga terjadi peningkatan kadar protein (Sembiring, 2006).

Pakan

Kandungan zat makanan yang penting untuk diperhatikan dalam ransum kambing adalah energi dan protein. Protein banyak terdapat pada jaringan otot dan dapat digunakan sebagai sumber energi. Anggorodi (1990), menambahkan bahwa protein merupakan zat yang esensial bagi kehidupan karena zat tersebut merupakan protoplasma aktif dalam semua sel hidup. Protein merupakan bagian utama dari susunan saraf dan bagian penting dari tulang kerangka yang memberikan kekuatan dan kekenyalan pada tulang tersebut. Jika diberi pakan yang kandungan proteinnya melebihi kebutuhan hidup pokok ternak, produksi dan reproduksi, maka dalam batas-batas tertentu protein akan di deaminasi dalam hati untuk digunakan sebagai sumber energi.

(5)

disukai ternak, mudah diperoleh karena memiliki kemampuan tumbuh tinggi, terutama didaerah tropis meskipun sering dipotong/direnggut langsung oleh ternak (Hartadi et al., 1997).

Rumput kolonjono memiliki komposisi kimia sebagai berikut; bahan kering 91,60 %, bahan organik 88,57%, protein kasar 6,82%, serat kasar 31,24 %, lemak kasar 1,63%, abu 16,63%, BETN 44,19%, kalsium 0,35% dan phosphor 0,87% (Harfiah , 2007).

Konsentrat merupakan pakan penguat yang terdiri dari bahan pakan yang kaya karbohidrat dan protein seperti dedak padi, jagung kuning dan bungkil-bungkilan. Menurut Darmono (1993), bahwa pakan penguat atau konsentrat adalah pakan yang berasal dari biji-bijian dan mengandung protein

yang cukup tinggi dan mengandung serat kasar kurang dari 18%. Hartadi et al. (1997), menambahkan bahwa konsentrat adalah suatu bahan pakan

(6)

Tabel 2. Kebutuhan nilai nutrisi domba untuk pertumbuhan

Sumber: Haryanto dan Andi (1993)

Kebutuhan ternak akan zat-zat gizi bervariasi antar species ternak dan umur fisologis yang berlainan. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan zat gizi antar lain adalah jenis kelamin, tingkat produksi keadaan lingkungan serta aktifitas fisik ternak. Zat makanan yang diperlukan ternak dapat dipisahkan menjadi komponen utama antara lain energi, protein, mineral dan vitamin. Zat-zat makanan tersebut berasal dari pakan yang dikonsumsi (Haryanto, 1992).

Parakkasi (1995), menyatakan bahwa pemberian konsentrat terlampau banyak akan meningkatkan energi konsentrasi pakan yang dapat menurunkan tingkat konsumsi sehingga tingkat konsumsi energi sendiri dapat berkurang.

(7)

Domba

Ternak domba termasuk dalam phylum Chordata, kelas Mammalia, ordo

Artiodactyla, subfamili Cuprinae, famili Bovidae, genus Ovis dan spesies Ovis aries (Damron dan Stephen, 2006). Subfamili Cuprinae berasal dari dataran tinggi di daerah pegunungan dan berkembang menjadi spesies, subspesies, varietas serta ras-ras lokal tertentu. Ternak domba dari Asia tersebar kesebelah barat antara lain Mediterania, termasuk Eropa dan Afrika serta kesebelah timur tersebar ke daerah subkontinen India dan Asia Tenggara (Devendra dan Mc Leroy. 1982).

Menurut Freer dan Dove (2002) domba merupakan ternak yang pertama kali didomestikasi, dimulai dari daerah Kaspia, Iran, India, Asia Barat, Asia Tenggara dan Eropa sampai ke Afrika. Di Indonesia, domba dikelompokkan menjadi 1. Domba ekor tipis (Javanese thin tailed); 2. Domba ekor gemuk (Javanese fat tailed); 3. Domba Priangan atau dikenal juga sebagai domba garut.

Pada awalnya proses pembudidayaan domba lebih banyak menggunakan sistem penggembalaan di padang pastura, namun sistem ini banyak terdapat kelemahan seperti area pastura yang semakin berkurang, manajemen pemeliharaan yang buruk, terlalu banyak parasit dan pendapatan yang diperoleh sedikit dan seiring dengan berkembangnya industri peternakan domba, metode pemeliharaan ternak mulai beralih ke sistem kandang (Ensminger et al., 1990).

(8)

Sistem Pencernaan Domba

Sistem pencernaan adalah sebuah sistem yang terdiri dari saluran pencernaan yang dilengkapi dengan beberapa organ yang bertanggung jawab atas pengambilan, penerimaan dan pencernaan bahan pakan dalam perjalanannya menuju tubuh (saluran pencernaan) mulai dari rongga mulut sampai ke anus. Disamping itu sistem pencernaan bertanggung jawab pula atas pengeluaran (ekskresi) bahan-bahan pakan yang tidak terserap atau tidak dapat kembali (Parakkasi, 1995).

Proses utama pencernaan adalah secara mekanik, enzimatik atau mikroba. Proses mekanik terdiri dari mastikasi atau pengunyahan dalam mulut dan gerakan-gerakan saluran pencernaan yang dihasilkan oleh kontraksi otot sepanjang usus. Pencernaan enzimatik atau kimawi dilakukan oleh enzim yang dihasilkan oleh sel-sel dalam tubuh berupa getah-getah pencernaan (Tillman et al.,1991).

Saluran pencernaan pada ternak ruminansia lebih panjang dan lebih kompleks dibandingkan dengan saluran pencernaan ternak lainnya. Pada ternak ruminansia modifikasi lambung dibedakan menjadi empat bagian yaitu, rumen (perut besar), retikulum (perut jala), omasum (perut kitab) dan abomasum. Dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan alamiahnya. Kapasitas rumen 80%, retikulum 5%, omasum 7-8% dan abomasum 7-8% (Prawirokusumo, 1994).

(9)

NH3 dan merupakan bahan utama pembentukan asam-asam amino. Selain dari bahan pakan yang dikonsumsinya, kebutuhan tubuh ruminansia terhadap protein juga dipenuhi dari mikroba rumen (Sodiq dan Abidin, 2002).

Komponen Non Karkas

Non karkas ternak adalah hasil pemotongan ternak yang terdiri dari, kepala, kulit, organ-organ internal, kaki bagian bawah dari sendi karpal dan kaki, sendi tarsal dan kaki belakang (Soeparno, 2005). Menurut Sembiring et al. (2006) persentasi bobot non karkas dapat diperoleh dengan pembagian bobot non karkas (kulit, kepala, kaki, hati, limpa paru-paru, trakea, jantung, testis, lemak omental, ekor) dengan bobot tubuh kosong dikali 100%.

Bagian mamalia non karkas adalah bagian tubuh hewan mamalia selain karkas yang layak dimakan seperti kepala (terdiri dari otak, lidah, hidung, telinga dan tetelan kepala), kulit, kikil, ekor, tulang, kaki dan jeroan, setelah diberi perlakuan pembersihan yang cukup sehingga layak digunakan sebagai bahan pangan ( Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia, 2015).

Non karkas merupakan hasil pemotongan ternak selain karkas dan lazim disebut offal. Non karkas terdiri dari bagian yang layak (offal edible) dan tidak layak dimakan (offal non edible). Hasil pemotongan ternak selain karkas adalah bagian non karkas. Non karkas terdiri dari bagian yang layak dimakan dan yang tidak layak dimakan (Soeparno, 2005).

(10)

Bagian non karkas meliputi bobot kulit, jeroan merah (hati, ginjal, limfa dan paru-paru), jeroan hijau kosong (lemak internal, lambung yaitu rumen, retikulum, omasum, abomasum dan usus yang telah dibersihkan dari isi saluran pencernaan), kaki, kepala dan ekor. Bobot non karkas (kg) diperoleh dari hasil penimbangan komponen-komponen non karkas. Persentase non karkas (%) diperoleh dari bobot bagian non karkas dibagi dengan bobot karkas kemudian dikalikan 100% (Juliyanti, 2013).

Ridwan (1991), dalam Ginting et al. (2011) menyatakan bahwa yang menyatakan bahwa domba yang mengkonsumsi nutrisi yang tinggi mempunyai jantung, paru-paru yang lebih berat dari pada domba yang mengkonsumsi nutrisi yang lebih rendah.

Bobot non karkas diperoleh dengan menimbang bagian non karkas. Persentase karkas diperoleh dengan membandingkan bobot karkas dan bobot potong, sedangkan persentase non karkas diperoleh dengan membandingkan bobot non karkas dengan bobot potong. Penimbangan non karkas dilakukan untuk masing-masing komponen yaitu kepala, darah, organ-organ dalam kecuali ginjal keempat kaki bagian bawah, ekor, kulit dan bulu (Pubowati, 2011).

(11)

meningkatkan isi perut dan menurunkan persentase karkas (Whytes dan Ramsay, 1979).

Berat karkas juga dipengaruhi oleh umur ternak, jenis kelamin, kecepatan pertumbuhan, metode pemotongan, lingkungan serta berat bagian/organ non karkas. Ternak yang diberi pakan berenergi tinggi memberikan berat, ginjal, kulit dan bulu yang lebih berat dibandingkaan ternak yang diberi pakan berenergi rendah, sedangkan kepala, kaki dan ekor ternak yang laju pertumbuhannya lambat memberikan berat yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan cepat (Murray dan Slezacek, 1978).

Menurut Soeparno (2005), bahwa perlakuan nutrisional mempunyai pengaruh berbeda terhadap berat non karkas. Berat non karkas dapat mempengaruhi berat karkas, apabila berat non karkas semakin meningkat maka perolehan berat karkas yang dihasilkan akan semakin menurun. Hal ini terjadi karena jumlah non karkas yang dihasilkan lebih banyak daripada jumlah karkas dari ternak tersebut. Pola pertumbuhan organ seperti hati, ginjal, dan saluran pencernaan menunjukkan adanya variasi, sedangkan organ yang berhubungan digesti dan metabolisme menunjukan perubahan berat yang besar sesuai dengan status nutrisionalnya.

(12)

sehingga deposisi lemak tidak berada pada bagian ekor, tapi pada bagian lain seperti viscera dan bagian bawah kulit.

Menurut Soeparno (2005), konsumsi nutrisi tinggi meningkatkan berat hati, rumen, omasum, usus besar, usus kecil dan total alat pencernaan, tetapi sebaliknya bagi berat kepala dan kaki perlakuan dan nutrisi serta spesies pastura dan pangonan pada domba tidak mempengaruhi berat kepala, kaki dan kulit pada berat tubuh yang sama.

Pada waktu lahir bagian kepala, leher dan kaki depan ternak relatif telah berkembang dengan sempurna dan setelah itu proporsi dari ketiganya menurun relatif dengan meningkatnya proporsi bagian lain yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, pada saat lahir sampai tercapainya bobot dewasa oleh karena jantung dan paru-paru merupakan bagian tubuh yang sangat vital proporsinya menurun

masing-masing dari 0,8% menjadi 0,6% dan dari 1,8% menjadi 1,6%. (Suhendar ,1984).

(13)

Menurut Wilson, (1958) bahwa bobot total saluran pencernaan pada waktu lahir proporsinya meningkat terhadap bobot tubuh pada saat tercapainya dewasa tubuh.

Komponen Non Karkas Layak Dimakan (offal edible)

Di Indonesia, bagian non karkas yang layak dimakan seperti darah, kulit, kepala, ekor dan viscera (hati, jantung, paru-paru dan saluran pencernaan) juga bernilai ekonomi tinggi, karena merupakan bahan pangan yang disukai masyarakat. Beberapa komponen non karkas yang tidak layak dimakan tetapi diolah dengan teknologi tinggi dapat memberikan keuntungan financial yang besar (Soeparno, 2005).

Menurut Goodwin (1977), proporsi hasil pemotongan sapi dapat dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu karkas (58%), non karkas yang dapat dimakan sebesar 13%, non karkas yang tidak dapat dimakan mempunyai proporsi 13%, isi saluran pencernaan dan darah 14%, sedangkan lain-lain 2%. Komponen nonkarkas yang dapat dimakan meliputi hati, jantung, paru-paru dan saluran pencernaan.

(14)

Tabel 3. Pemamfaatan bagian offal/non-karkas ternak kambing atau domba yang layak dimakan

Komponen non Karakas Manfaat

Otak, jantung, ginjal, hati, paru-paru, limpa, pankreas dan lidah

Aneka ragam daging

Ekor Sup

Pipi dan tetelan kepala Bahan sosis

Ekstrak daging Sup

Lambung Renet untuk pembuatan keju

Bahan sosis, aneka ragam daging

Tulang Es krim dan agar- agar

Lemak Bahan peremah kue, kembang gula,

bahan pakan kalori tinggi.

Usus kecil dan besar Selongsong sosis dan aneka ragam Daging

Sumber : Forrest et al. (1975) dalam Linda (2014).

Tidak Layak Dimakan ( Inedible Offal)

Menurut Goodwin (1977), proporsi hasil pemotongan sapi dapat dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu karkas (58%), non karkas yang dapat dimakan sebesar 13%, non karkas yang tidak dapat dimakan mempunyai proporsi 13%, isi saluran pencernaan dan darah 14%, sedangkan lain-lain 2%, komponen non karkas yang tidak dapat dimakan yaitu tulang kepala, kuku, kulit, tanduk dan isi saluran pencernaan.

Karkas merupakan hasil utama dari suatu penyembelihan ternak dan mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi daripada non karkas. Sisa karkas dibagi menjadi dua bagian, yaitu “Edible offal” dan “Inedible offal” (Gerrard, 1997). Sedangkan “Inedible offal” adalah bagian sisa karkas yang tidak layak dimakan, misalnya tanduk, bulu, saluran kantong kemih, kulit, tulang dan

Gambar

Tabel 1. Kandungan nutrisi beberapa limbah sayuran
Tabel 2. Kebutuhan nilai nutrisi domba untuk pertumbuhan
Tabel 3. Pemamfaatan bagian offal/non-karkas ternak kambing atau domba

Referensi

Dokumen terkait

Rekapitulasi hasil penelitian ini gabungan dari beberapa parameter seperti persentase bobot kepala, persentase bobot kaki, persentase bobot organ bagian dalam dan persentase

Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemanfaatan eceng gondok fermentasi tidak berpengaruh untuk menaikkan bobot karkas, persentase karkas, persentase lemak subkutan,

berjudul PEMANFAATAN LIMBAH SAYUR FERMENTASI TERHADAP PERSENTASE KARKAS PADA DOMBA LOKAL adalah benar merupakan gagasan dan hasil penelitian saya sendiri dibawah komisi

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian limbah sayur fermentasi dengan menggunakan EM4 (Effective Mikroorganisme 4) tidak berpengaruh nyata

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian limbah sayur fermentasi dengan menggunakan EM4 (Effective Mikroorganisme 4) tidak berpengaruh nyata

lain yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak

Kajian Tumbuh Kembang Karkas dan Komponennya Serta Penampilan Domba Sungei Putih dan Lokal Sumatera yang Menggunakan Pakan Limbah Kelapa Sawit.. Institute

Penggunaan tepung kulit buah kakao fermentasi dalam konsentrat memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot karkas, persentase karkas dan bobot komponen karkas domba lokal jantan..