Ruang Terbuka Hijau
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 01 Tahun 2007 ruang terbuka hijau kawasan perkotaan adalah bagian dari ruang terbuka suatu kawasan perkotaan yang diisi oleh tumbuhan dan tanaman guna mendukung manfaat ekologi, sosial, budaya, ekonomi dan estetika.
Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 05 tahun 2008 Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota merupakan bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemik, introduksi) guna mendukung manfaat langsung dan/atau tidak langsung yang dihasilkan oleh RTH dalam kota tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan keindahan wilayah perkotaan tersebut.
Menurut Peraturan Daerah Kota Medan No.13 tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Medan bahwa ruang terbuka hijau adalah area memanjang atau jalur dan atau mengelompok, yang pengunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alami maupun yang sengaja di tanam.
Berdasarkan peraturan Daerah Kota Medan No. 13 tahun 2011 tentang rencana tata ruang Wilayah Kota Medan 2011-2031 pasal 38 ayat 1 hingga 11 menyatakan bahwa kawasan RTH ditetapkan seluas minimum 30,85% yang
meliputi: RTH kawasan wisata, RTH hutan kota, RTH taman kota, RTH Tempat pemakaman umum, RTH jalur hijau jalan, RTH jalur pejalan
Hutan Kota
Menurut Dinas Pertamanan Kota Medan (2003) hutan kota merupakan kawasan yang terletak di dalam kota yang didominasi oleh berbagai jenis tanaman berupa pohon yang difungsikan sebagai paru-paru kota yang mampu menghasilkan Oksigen dan menyerap zat pencemar udara dan juga sebagai tempat pelestarian berbagai jenis tumbuhan yang habitatnya dibiarkan tumbuh secara alami. Lokasi hutan kota umumnya di daerah pinggiran.
Menurut Dahlan (1992) Secara umum bentuk hutan kota yaitu : 1. Jalur Hijau. Jalur Hijau berupa peneduh jalan raya, jalur hijau di bawah kawat
listrik, di tepi jalan kereta api, di tepi sungai, di tepi jalan bebas hambatan. 2. Taman Kota. Taman Kota diartikan sebagai tanaman yang ditanam dan ditata
sedemikian rupa, baik sebagian maupun semuanya hasil rekayasa manusia, untuk mendapatkan komposisi tertentu yang indah.
3. Kebun dan Halaman. Jenis tanaman yang ditanam di kebun dan halaman biasanya dari jenis yang dapat menghasilkan buah.
4. Kebun Raya, Hutan Raya, dan Kebun Binatang. Kebun raya, hutan raya dan kebun binatang dapat dimasukkan ke dalam salah satu bentuk hutan kota. Tanaman dapat berasal dari daerah setempat, maupun dari daerah lain baik dalam negeri maupun luar negeri.
5. Hutan Lindung, daerah dengan lereng yang curam harus dijadikan kawasan hutan karena rawan longsor. Demikian pula dengan daerah pantai yang rawan akan abrasi air laut.
Pembangunan hutan kota harus sesuai dengan guna lahan (land use) yang
dikembangkan. Menurut Zoer’aini (2005), terdapat beberapa tipe hutan kota,
yaitu:
a. Tipe Pemukiman
Hutan kota tipe ini lebih dititik-beratkan kepada keindahan, kesejukan, penyediaan habitat satwa khususnya burung, dan tempat bermain dan bersantai. b. Tipe Kawasan Industri
Kawasan industri yang memiliki kebisingan yang tinggi dan udaranya tercemar, maka harus dibangun hutan kota dengan tipe kawasan industri yang mempunyai fungsi sebagai penyerap pencemar, tempat istirahat bagi pekerja, tempat parkir kendaraan dan keindahan.
c. Tipe Rekreasi dan Keindahan
Dewasa ini terdapat kecendrungan terjadinya peningkatan minat penduduk perkotaan untuk rekreasi, karena kehidupannya semakin sibuk dan semakin besar kemungkinan untuk mendapat stress. Rekreasi pada kawasan hutan kota bertujuan untuk menyegarkan kembali kondisi badan yang sudah penat dan jenuh dengan kegiatan rutin.
d. Tipe Pelestarian Plasma Nutfah
Hutan konservasi mengandung tujuan untuk mencegah kerusakan perlindungan dan pelestarian terhadap sumberdaya alam. Sasaran pembangunan hutan kota untuk pelestarian plasma nutfah yaitu sebagai tempat koleksi plasma nutfah dan tempat habitat khususnya untuk satwa yang akan dilindungi atau dikembangkan.
e. Tipe Perlindungan
Kota yang memiliki kuantitas air tanah yang sedikit atau terancam masalah intrusi air laut, maka fungsi hutan yang harus diperhatikan adalah sebagai penyerap, penyimpan dan pemasok air. Kota dengan kemiringan yang cukup tinggi yang ditandai dengan tebing-tebing yang curam ataupun daerah tepian sungai perlu dijaga dengan membangun hutan kota agar terhindar dari bahaya erosi dan longsoran.
f. Tipe Pengamanan
Hutan kota dengan tipe pengamanan adalah jalur hijau di sepanjang tepi jalan bebas hambatan. Dengan menanam perlu yang liat dan dilengkapi dengan jalur pohon pisang dan tanaman yang merambat dari legum secara berlapis-lapis, akan dapat menahan kendaraan yang keluar dari jalur jalan. Sehingga bahaya kecelakaan karena pecah ban, patah setir ataupun karena pengendara mengantuk dapat dikurangi.
Jalur Hijau
Jalur hijau merupakan jalur penempatan tanaman serta elemen lansekap lainnya yang terletak di dalam ruang milik jalan (RUMIJA) maupun di dalam ruang pengawasan jalan (RUWASJA). Sering disebut jalur hijau karena dominasi elemen lansekapnya adalah tanaman yang pada umumnya berwarna hijau. Jalur hijau merupakan faktor pengontrol tingkat polusi. Kualitas hidup manusia ditentukan dari segala aspek kehidupan, salah satu aspek terpenting adalah kesehatan masyarakat. Kesehatan masyarakat perkotaan ditentukan oleh kondisi lingkungan yang bersih dan bebas pencemaran, baik pencemaran air, tanah, dan udara. Manfaat dari adanya tajuk vegetasi di area jalur hijau adalah menjadikan
udara yang lebih bersih dan sehat, jika dibandingkan dengan kondisi udara pada kondisi tanpa tajuk dari hutan kota. Jalur hijau merupakan unsur signifikan bagi suatu sistem perkotaan sebagai kontrol polusi dan menjaga kualitas hidup masyarakat perkotaan. Jika luasan jalur hijau semakin besar maka kontrol polusi meningkat sehingga kualitas hidup masyarakat meningkat. Sedangkan penurunan luasan jalur hijau menyebabkan polusi udara meningkat dan menurunkan kualitas hidup masyarakat perkotaan.
Berdasarkan Undang-undang No.38 Tahun 2004 jalan arteri sekunder adalah ruas jalan yang menghubungkan kawasan primer dengan kawasan sekunder kesatu atau menghubungkan kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder lainnya atau kawasan sekunder kesatu dengan kawasan sekunder kedua. Jika ditinjau dari peranan jalan maka persyaratan yang harus dipenuhi oleh jalan arteri sekunder adalah:
1. Kecepatan > 30 Km/Jam. 2. Lebar jalan > 8,0 m.
3. Kapasitas jalan lebih besar atau sama dari volume lalu lintas rata-rata. 4. Tidak boleh diganggu oleh lalu lintas lambat.
Jalur hijau sebagai salah satu bentuk hutan kota memiliki fungsi menjaga kelangsungan hidup bumi,yakni sebagai media yang memiliki kemampuan mengurangi zat pencemar udara termasuk Karbon Dioksida (CO2) yang melayang di udara dan penghasil Oksigen (O2). Disamping itu hutan memiliki fungsi dan peran sebagai penyerap panas sehingga dapat mendinginkan bumi dan hutan kota yang di dalamnya terdapat berbagai macam vegetasi pada saat berfotesitesis memerlukan sinar matahari dan Karbon Dioksida (CO2) serta unsur-unsur lainnya
sehingga dengan demikian keberadaan hutan kota dapat mengurangi konsentrasi CO2 di udara dan dapat menurunkan suhu.
Jalur hijau di tepi jalan bebas hambatan yang terdiri dari jalur tanaman pisang dan jalur tanaman yang merambat serta tanaman perdu yang liat yang ditanam secara berlapis-lapis diharapkan dapat berfungsi sebagai penyelamat bagi kendaraan yang keluar dari badan jalan. Sedangkan pada bagian yang lebih luar lagi dapat ditanami dengan tanaman yang tinggi dan rindang untuk menyerap pencemar yang diemisikan oleh kendaraan bermotor.
Jenis tanaman Hutan Kota
Dalam memilih jenis tanaman untuk pembangunan hutan kota, oleh Permenhut (2004) direkomendasikan dipilih jenis tanaman pohon hutan, serta disesuaikan dengan bentuk dan tipe penghijauan kota. Secara umum, faktor- faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih pohon untuk penghijauan kota antara lain:
a. Mempunyai perakaran yang dalam, kuat, tidak mudah tumbang dan tidak mudah menggugurkan ranting dan daun.
b. Mampu tumbuh di tempat terbuka di berbagai jenis tanah c. Pertumbuhannya cepat dan tahan terhadap gangguan fisik d. Tidak memerlukan perawatan yang intensif
e. Berumur panjang
f. Tahan terhadap kekurangan air
g. Pohon-pohon langka dan unggulan setempat
i. Pohon-pohon yang teduh, indah, penghasil buah yang disenangi burung, kupu- kupu dan sebagainya
j. Pohon-pohon yang mempunyai evapotranspirasi rendah untuk daerah yang bermasalah dengan menipisnya air tanah dan intrusi air laut.
k. Pohon-pohon yang dapat berfungsi mengurangi abrasi untuk daerah pantai. Permen PU No.5/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan juga dapat dijadikan sebagai acuan dalam memilih jenis tanaman yang sesuai bagi jalur hijau jalan. Sebagai contoh tanaman yang akan dipilih sebagai tanaman untuk penyerap polusi udara harus mempunyai kriteria sebagai berikut:
a) terdiri dari pohon, perdu/semak;
b) memiliki kegunaan untuk menyerap udara; c) jarak tanam rapat;
d) bermassa daun padat.
e) sitem perakaran masuk kedalam tanah tidak merusak konstruksi jalan dan bangunan
f) fase anakan tumbuh cepat tetapi tumbuh lambat g) pada fase dewasa
h) ukuran dewasa sesuai ruang yang tersedia i) batang/ percabangan tidak mudah patah j) daun tidak mudah gugur/rontok
Dalam Jurnal Vegetalika Vol.3 No.1, 2014 : 1-11 rekomendasi tanaman yang diberikan untuk pengembangan kawasan jalur hijau di Yogyakarta oleh
Narendreswari, dkk. (2014) berdasarkan fungsi tanaman lanskap dan identitas kota adalah sebagai berikut:
1. Pada jalan yang memiliki median jalan di tanam dengan tanaman semak yang berupa tanaman soka (Ixora coccinea).
2. Pada trotoar jalan diberi pergola dengan tanaman hias merambat (Pasiflora sp., nona makan daun sirih).
3. Penanaman pohon sebagai perindang jalan dan pemberi identitas budaya seperti pohon tanjung (Mimusops elengi) dan asam jawa (Tamarindus indica).
Yani,dkk. (2011) disampaikannya dalam Prosiding Seminar Nasional Hari Lingkungan Hidup Tahun 2011 menuliskan bahwa mahoni (Swietenia mahagoni) merupakan pohon yang pantas untuk dijadikan pohon pelindung karena memiliki perakaran dan percabangan batang yang kuat. Angsana (Pterocarpus indicus), glodokan (Polyalthia longifolia) dan kiara payung (Filicium decipiens) mempunyai perakaran tidak kuat dan percabangan yang umumnya mudah patah. Angsana, akasia (Acasia auriculiformis), beringin (Ficus benyamina), ketapang (Terminalia catappa), waru (Hibiscus tiliaceus) adalah jenis pohon yang ditanam untuk penghijauan karena bermassa daun padat dan warna dominan hijau. Daun kupu-kupu(Bauhinia purpurea) yang ditanam di median jalan berfungsi sebagai penahan silau lampu kendaraan. Selain sebagai pohon pelindung, juga mempunyai fungsi tambahan antaranya mahoni mempunyai kemampuan dalam menurunkan kandungan timbal dari udara. Mahoni dan kiara payung mempunyai kemampuan menyerap debu semen. Daun kupu-kupu, akasia dan beringin merupakan tanaman yang baik sebagai penyerap dan penghasil oksigen. Nangka (Arthocarpus integra), mahoni dan jati(Tectona grandis) mempunyai kemampuan
evapotranspirasi yang tinggi sehingga dapat mengurangi penggenangan air tetapi tidak dapat melestarikan air tanah. Daun kupu-kupu efektif mengurangi pencemaran debu. Talok (Muntingia calabura) dapat menahan dan menyaring partikel padat dari udara karena mempunyai daun berbulu dan permukaannya kasar. Angsana ditanam pada jalur hijau jalan mempunyai fungsi sebagai peneduh, penyerap polusi dan pemecah angin. Angsana sebagai peneduh memenuhi persyaratan yaitu ditempatkan pada jalur tanaman (1,5 m), percabangan 2 m di atas tanah, bentuk percabangan batang tidak merunduk, bermassa daun padat dan di tanam secara berbaris. Angsana sebagai penyerap polusi udara memenuhi syarat atas dari pohon, memiliki ketahanan yang tinggi terhadap pengaruh udara dan jarak tanam rapat. Angsana sebagai pemecah angin memenuhi syarat sebagai tanaman berpohon tinggi. Angsana mempunyai sistem perakaran tidak kuat dan siklus peremajaan pendek. Angsana merupakan pohon yang cepat tumbuh yang umumnya mudah patah. Kiara payung memenuhi persyaratan sebagai penyerap kebisingan dan pemecah angin yaitu berupa pohon, massa daun rapat, percabangan 2 m di atas tanah dan ditanam secara berbaris. Akan tetapi, kiara payung juga merupakan pohon yang cepat tumbuh yang umumnya mudah patah.
Bunga Kenanga (Cananga odorata) merupakan tanaman asli Indonesia. Tanaman ini satu suku dengan sirsak dan srikaya, suku Annonaceae. Ditinjau dari sosok tanamannya, bunga kenangan ini dibedakan atas 2 jenis, yaitu jenis pohon dan spesies perdu. Akan tetapi, keduanya termasuk dalam spesies yang sama. Tanaman kenanga yang berbentuk pohon tingginya bisa mencapai 20-30 meter. Sedangkan yang berbentuk perdu tingginya hanya mencapai 1-3 meter.
Berdasarkan pertimbangan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara melalui surat Keputusan No. 522.5/1611/K/TAHUN 1991 tanggal 8 Juni 1991 menetapkan Bunga Kenanga (Cananga Odorata) sebagai Identitas flora Daerah Tingkat I Sumatera Utara (Dephut, 2015).
Hasil Penelitian Terkait
Potensi rata-rata biomassa, dengan menggunakan rumus Brown (1997) yang dimiliki hutan kota bentuk jalur hijau adalah lebih tinggi jika dibandingkan dengan bentuk gerombol. Perbedaan biomassa per hektarnya pada dua bentuk hutan kota disebabkan oleh tingkat kerapatan pohon per hektarnya. Faktor yang turut mempengaruhi adalah perbedaan kerapatan, diameter, tinggi pohon, dan faktor lingkungan dimana seluruh faktor ini berkorelasi positif dengan potensi tegakan karbon per hektarnya (Ratnaningsih dan Suhesti, 2010).
Penelitian yang dilakukan oleh Suwarna, dkk. (2012) yang dilaksanakan di wilayah konsesi hutan PT. Diamond Raya Timber, Riau menemukan bahwa biomassa dan stok karbon dalam tanah adalah delapan kali lebih tinggi daripada di vegetasi dalam kondisi hutan primer, dan sepuluh kali di hutan bekas tebangan dan kondisi hutan sekunder. Alokasi cadangan karbon yang terdapat pada tegakan di hutan primer, areal bekas tebangan, hutan sekunder dan hutan terdegradasi masing-masing adalah 70%, 60%,62%, dan 7%.
Faeth et al. (1994) dalam Perbatakusuma, dkk. (2008) mengungkapkan bahwa potensi pertumbuhan di hutan tropis umumnya lebih tinggi dan lebih cepat, sehingga dapat mempercepat akumulasi karbon di dalam tanaman. Perbatakusuma, dkk (2008) Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di
Batang Toru, Sumatera Utara bahwa sebagian besar (lebih dari 45%) karbon tegakan terdapat pada pepohonan yang berdiameter 50 cm atau lebih.
Perkalian antara diameter setinggi dada kuadrat dengan tinggi pohon (D2 × H) merupakan prediktor yang sangat baik untuk menaksir kandungan biomassa di atas permukaan tanah, terutama untuk jenis-jenis pohon yang tumbuh di hutan rakyat. Hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien determinasi (R2) yang masih di atas 84%, sehingga variasi kandungan biomassa pohon yang diteliti dapat dijelaskan oleh variabel diameter batang setinggi dada dan tinggi total pohon ( BPKH, 2009).
Kumulatif bersih emisi karbon di kawasan Karang Gading dan Langkat Timur Laut Wildlife Reserve (KGLTLWR) Sumatera Utara untuk tahun 2006 adalah 3.804,7 ton CO2 sedangkan diprediksi kedepannya pada tahun 2030 adalah 11,318,74 ton CO2, dengan kata lain akan terjadi peningkatan emisi CO2 sebesar 33,61% selama kurun waktu 12 tahun. Hal ini terjadi disebabkan oleh deforestasi lahan mangrove yakni alih fungsi lahan menjadi tambak ikan, pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit yang menjadikan gas rumah kaca sumber emisi di kawasan ini ( Basyuni et al., 2015)
Kondisi Umum Lokasi Penelitian
Medan merupakan kota yang memiliki kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Berdasarkan data sensus penduduk Indonesia tahun 2010 penduduk di kota Medan berjumlah 2.109.399 jiwa, yang terdiri atas 1.040.680 laki-laki dan 1.068.659 perempuan. Oleh karena itu, Medan merupakan kota dengan jumlah penduduk terbesar di Pulau Sumatera dan menduduki peringkat keempat jumlah penduduk terbesar di Indonesia.
Kota Medan dibagi atas 21 kecamatan yang didalamnya terdapat 151 kelurahan dengan luas daerah sekitar 265,10km2. Luas wilayah dengan persentase terbesar terdapat pada Kecamatan Medan Labuhan dengan persentase sebesar 13,83% dengan luas area sebesar 36,67km2, sedangkan luas wilayah dengan persentase terkecil terdapat pada Kecamatan Medan Maimun dengan persentase sebesar 1,12% dengan luas area sebesar 2,98km2. Adapun luas wilayah kota medan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1.Luas Wilayah Kota Medan per Kecamatan tahun 2006 s/d 2010
No Kecamatan Luas Area (Km2) Persentase (%) 1 Medan Maimun 2,98 1,12 2 Medan Perjuangan 4,09 1,54 3 Medan Kota 5,27 1,99 4 Medan Barat 5,33 2,01 5 Medan Area 5,52 2,08 6 Medan Baru 5,84 2,20 7 Medan Petisah 6,82 2,57 8 Medan Timur 7,76 2,93 9 Medan Tembung 7,99 3,01 10 Medan Polonia 9,01 3,40 11 Medan Denai 9,05 3,41 12 Medan Amplas 11,19 4,22 13 Medan Selayang 12,81 4,83 14 Medan Helvetia 13,16 4,96 15 Medan Johor 14,58 5,50 16 Medan Sunggal 15,44 5,82 17 Medan 20,68 7,80
Tuntungan 18 Medan Deli 20,84 7,86 19 Medan Marelan 23,82 8,99 20 Medan Belawan 26,25 9,90 21 Medan Labuhan 36,67 13,83 Jumlah Total 265,1 100,00 Sumber: BPS (2013)
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Berdasarkan data sensus penduduk kota Medan pada tahun 2010 berjumlah 2.109.339 jiwa yang terdiri atas 1.040.680 laki-laki dan 1.068.659 perempuan. Dimana dari jumlah keseluruhan tersebut, penduduk tidak tetap diperkirakan lebih dari 500.000 jiwa. Dengan Luasan kota Medan seluas 265,10 km2 sehingga kepadatan penduduk kota Medan mencapai 9.843 jiwa/km2 (Pemko Medan, 2011).
Umumnya perkembangan daerah perkotaan ditandai juga dengan pertumbuhan penduduk yang kian meningkat. Selain itu kebutuhan masyarakat terhadap lahan menjadikan tampilan kawasan kota terlihat sempit dan sesak oleh karena adanya pembangunan baik perumahan dan kawasan industri. Dengan demikian, semakin bertambahnya jumlah masyarakat di daerah perkotaan aktivitas sehari-hari harus didukung dengan mobilitas yang tinggi, kebutuhan akan sarana dan prasarana yang baik serta kebutuhan akan kendaraan bermotor, sehingga jumlahnya dapat menjadi suatu indikasi semakin pesatnya perkembangan suatu kota.
Besarnya emisi yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor terutama yang menggunakan bahan bakar fosil merupakan salah satu sumber penyebab terjadinya perubahan iklim global. Bahan bakar fosil yang digunakan oleh kendaraan bermotor dan pabrik industri untuk menjalankan mesinnya menghasilkan emisi gas CO2 yang cukup besar yang dapat menjadi gas rumah kaca yang pada akhirnya mengimplementasikan terjadinya polusi udara serta pemansan global (global warming) .
Berdasarkan isi peraturan daerah (Perda) Kota Medan No.13 tahun 2011, yang dimaksud dengan ruang terbuka hijau adalah areal memanjang atau jalur dan atau mengelompok, yang pengunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Selain itu, adanya ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan merupakan sesuatu yang harus ada dalam tata ruang kota yaitu dengan luasan sekitar 30,58% dari luas total wilayah kota.
Jalur hijau merupakan bagian dari ruang terbuka hijau, dimana keberadaan jalur hijau merupakan salah satu alternatif yang terbaik dalam mengurangi emisi yang berasal dari kendaraan bermotor oleh karena adanya tanaman yang ditanam di daerah sisi jalan yang dilalui oleh kendaraan bermotor yang dapat menyerap gas CO2. Kota Medan yang merupakan salah satu kota yang memiliki penduduk cukup padat serta memiliki tingkat transportasi yang tinggi sangat penting memiliki jalur hijau. Jalur hijau merupakan salah satu bentuk hutan kota yang penting perannya di wilayah perkotaan (Purwasih, 2013).
Keberadaan jalur hijau dianggap memiliki kelebihan dalam menyerap dan mengurangi zat pencemar udara termasuk gas CO2 dan mampu menghasilkan gas O2 daripada dalam bentuk taman karena bentuk dari jalur hijau memanjang dan langsung besinggungan dengan sumber emisi terkhususnya emisi kendaraan bermotor. Menurut Gulo (2008) faktor lingkungan di daerah perkotaan pada dasarnya berkaitan erat dengan masalah pencemaran. Apabila usaha pengendalian pencemaran dilakukan dengan konsep pembangunan hutan kota, maka cemaran CO2 merupakan kriteria yang harus
digunakan sebagai standar. O2 merupakan parameter yang sangat erat kaitannya dengan CO2 dalam produksi biomassa pohon. Oleh karenannya jumlah kebutuhan O2 manusia, jumlah kebutuhan O2 ternak, dan jumlah kebutuhan O2 kendaraan bermotor dapat dijadikan indikator penentuan luas hutan kota yang ideal pada Kota Medan.
Berdasarkan uraian tersebut, sehingga perlu dilakukan perhitungan dan pemetaan terhadap potensi biomassa, simpanan karbon dan serapan karbon oleh tanaman yang di tanam di jalur hijau di Kota Medan. Salah satu cara untuk mengetahui simpanan karbon dan serapan karbon adalah dengan menghitung diameter, tinggi serta mengetahui spesies dari tanaman tersebut di beberapa jalur hijau di Kota Medan.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang akan diperoleh dengan pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui jumlah simpanan karbon serta nilai serapan karbon pada jalur hijau di jalur arteri sekunder Kota Medan.
2. Memetakan jenis vegetasi dan penyebarannya pada jalur hijau di jalur arteri sekunder Kota Medan dan mengevaluasinya.
Manfaat Penelitian.
Dengan dilaksanaannya penelitian ini adalah sebagai sumber referensi bagi pihak yang membutuhkan informasi dalam mengetahui sebaran tanaman di jalur arteri sekunder dan cadangan karbon di Kota Medan, serta dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh Pemerintah Kota Medan khususnya Dinas
Pertamanan Kota Medan dalam menanam jenis yang lebih baik dalam penyerapan karbon di jalur hijau Kota Medan.
ABSTRAK
DAVID YODHA SITOMPUL: Pendugaan Karbon Tersimpan Pada Beberapa Jalur Hijau Jalan Arteri Sekunder Wilayah Medan Selatan . Dibimbing oleh SITI LATIFAH dan PINDI PATANA.
Kajian biomassa merupakan langkah penting untuk melakukan penilaian secara kuantitatif tentang peran suatu jenis pohon penghijauan kota dalam menyerap gas-gas tertentu. Dalam studi biomassa pohon persamaan alometrik digunakan untuk mengetahui hubungan antara ukuran pohon (diameter atau tinggi) dengan berat kering pohon secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah simpanan karbon serta nilai serapan karbon dan memetakan jenis vegetasi pada jalur hijau di jalur arteri sekunder kota medan. Lokasi yang diteliti adalah jalur hijau yang terdapat pada Jalan Sisingamangaraja, Jalan Gatot Subroto, Jalan Sunggal, Jalan Brigjen Zein Hamid, Jalan Brigjen Katamso, Jalan H.M. Joni, dan Jalan Armada.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh besarnya nilai biomassa total sebesar 1190,253 Ton/Ha. Nilai biomassa, simpanan karbon, dan serapan CO2 tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya luas jalur penelitian dan jumlah vegetasi yang ada didalamnya, namun juga dipengaruhi oleh jenis vegetasi yang menunjukkan besar nilai berat jenis vegetasi itu sendiri, yang digunakan