• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis

1. Laporan Keuangan

Gambaran tentang perkembangan finansial dari suatu perusahaan dapat

diperoleh dengan mengadakan analisis atau interprestasi terhadap data finansial

dari perusahaan bersangkutan, dimana data finansial itu tercermin didalam

laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan laporan yang berisikan

sekumpulan informasi keuangan perusahaan dalam suatu periode tertentu yang

disajikan dalam bentuk laporan sistematis yang mudah dibaca dan dipahami

oleh semua pihak yang membutuhkan. Pihak-pihak yang berkepentingan

terhadap posisi keuangan maupun perkembangan suatu usaha adalah para

pemilik perusahaan, manajer perusahaan yang bersangkutan, para kreditur,

bankers, para investor dan pemerintah di mana perusahaan tersebut berdomisili,

buruh serta pihak-pihak lainnya. Laporan Keuangan dibuat agar dapat

digunakan untuk menganalisis kesehatan ekonomi perusahaan.

Pengertian laporan keuangan menurut Ikatan Akuntan Indonesia

(PSAK,2007:1) yaitu sebagai berikut :

Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya, sebagai laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan. Disamping itu juga termasuk

skedul dan informasi tambahan yang berkaitan dengan laporan tersebut, misalnya informasi keuangan segmen industri dan geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan harga.

Tujuan laporan keuangan sebagaimana dikemukakan oleh Ikatan Akuntan

Indonesia (PSAK, 2007:2) yaitu :

Tujuan laporan keuangan untuk tujuan umum adalah memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja, dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka. Laporan keuangan yang disusun secara baik dan akurat dapat memberikan

Laporan keuangan yang disusun secara baik dan akurat dapat memberikan

gambaran keadaan yang nyata mengenai hasil atau prestasi yang telah dicapai

oleh suatu perusahaan selama kurun waktu tertentu. Keadaan inilah yang

digunakan untuk menilai kinerja keuangan. Laporan keuangan beserta

pengungkapannya dibuat perusahaan dengan tujuan memberikan informasi yang

berguna untuk pengambilan keputusan-keputusan investasi dan pendanaan.

Laporan keuangan harus memberikan informasi :

a. untuk keputusan investasi dan kredit,

b. mengenai jumlah dan timing arus kas,

c. mengenai aktiva dan kewajiban,

d. mengenai kinerja perusahaan,

e. mengenai sumber dan penggunaan kas,

f. penjelas dan interpretif, serta

Pemakai laporan keuangan ialah semua pihak yang berkepentingan

(stakeholders) akan kondisi keuangan perusahaan. Stakeholders yang menggunakan informasi akuntansi dapat dibedakan menjadi 2 klasifikasi utama,

yaitu: (1) pemakai internal, pengambil keputusan yang secara langsung

berpengaruh terhadap kegiatan internal perusahaan; (2) pemakai eksternal,

pengambil keputusan yang berkaitan dengan hubungan mereka terhadap

perusahaan. Pemakai internal membutuhkan informasi untuk membantu dalam

perencanaan dan pengendalian operasi perusahaan dan pengelolaan berbagai

sumber daya perusahaan. Pemakai eksternal meliputi pemakai sekarang dan

investor potensial, karyawan, pemberi pinjaman, pemasok dan kreditur usaha

lainnya, pelanggan, pemerintah serta lembaga-lembaganya, dan masyarakat.

Mereka menggunakan laporan keuangan untuk memenuhi beberapa kebutuhan

informasi yang berbeda. Beberapa kebutuhan ini meliputi :

a. Investor

Penanam modal beresiko berkepentingan dengan resiko yang melekat serta

pengembangan dari investasi yang mereka lakukan. Mereka membutuhkan

informasi laporan keuangan untuk menentukan apakah harus membeli,

menahan, atau menjual investasi tersebut. Pemegang saham juga tertarik

pada informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan

perusahaan untuk membayar dividen.

b. Kreditor

Kreditor berkepentingan dalam satu hal yaitu pembayaran kembali dengan

mereka untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat di

bayar pada saat jatuh tempo.

c. Pemasok

Pemasok tertarik dengan informasi laporan keuangan yang memungkinkan

mereka memutuskan apakah jumlah yang terutang akan dibayar pada saat

jatuh tempo. Pemasok juga berkepentingan dalam tenggang waktu yang

lebih pendek dari pada kreditor kecuali kalau sebagai pelanggan utama,

mereka tergantung pada kelangsungan hidup perusahaan.

d. Pelanggan

Pelanggan berkepentingan dengan informasi laporan keuangan mengenai

kelangsungan hidup perusahaan terutama kalau mereka terlibat dalam

perjanjian jangka panjang atau tergantung pada perusahaan.

e. Karyawan

Karyawan berkepentingan dengan informasi laporan keuangan untuk

bermacam-macam alasan seperti untuk mengharapkan janji-janji jangka

panjang seperti pensiun dan tunjangan kesehatan.

f. Pemerintah

Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada di bawah kekuasaannya

berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan karena itu berkepentingan

dengan aktivitas perusahaan. Mereka juga membutuhkan informasi

laporan keuangan untuk menetapkan kebijakan pajak dan sebagai alat

g. Masyarakat

Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan

informasi kecenderungan dan perkembangan terakhir kemakmuran

perusahaan serta rangkaian aktivitasnya.

Dalam pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) No.1 paragraf 07

(IAI, 2007) dinyatakan bahwa laporan keuangan yang lengkap terdiri dari

komponen-komponen berikut ini :

a. Neraca;

b. Laporan laba-rugi;

c. Laporan perubahan ekuitas;

d. Laporan arus kas; dan

e. Catatan atas laporan keuangan

Neraca, pada suatu waktu tertentu, melaporkan sumber daya yang dimiliki

perusahaan (aktiva), kewajiban perusahaan (pasiva atau utang), dan selisih

bersih antara aktiva dan kewajiban, yang mewakili equitas atau modal pemilik

(Stice, Stice, dan Skousen, 2004 :12). Laporan laba rugi, untuk rentang waktu

tertentu, melaporkan aktiva bersih yang dihasilkan oleh operasi perusahaan

(pendapatan), aktiva bersih yang digunakan (beban), dan selisihnya, yang

disebut laba bersih. Laporan laba rugi merupakan usaha terbaik akuntan dalam

mengukur kinerja ekonomis suatu perusahaan pada periode tertentu (Stice, stice,

Laporan perubahan ekuitas perusahaan menggambarkan peningkatan atau

Penurunan akitiva bersih atau kekayaan selama periode bersangkutan

berdasarkan prinsip pengukuran tertentu yang dianut dan harus diungkapkan

dalam laporan keuangan. Laporan perubahan ekuitas, kecuali untuk perubahan

yang berasal dari transaksi dengan pemegang saham seperti setoran modal dan

pembayaran dividen, menggambarkan jumlah keuntungan dan kerugian yang

berasal dari kegiatan perusahaan selama periode yang bersangkutan (IAI:

PSAK No.1 paragraf 66). Laporan cash flow, untuk rentang waktu tertentu,

melaporkan jumlah kas yang dihasilkan dan digunakan oleh perusahaan melalui

tiga tipe akti vitas: operasi, investasi, dan pendanaan. Laporan cash flow

merupakan laporan keuangan yang paling objektif karena tidak menggunakan

berbagai estimasi dan penilaian akuntansi yang dibutuhkan untuk menyusun

neraca dan laporan laba rugi (Stice, Stice, Skousen, 2004:12).

Catatan atas laporan keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian

jumlah yang tertera dalam neraca, laporan laba rugi, laporan cash flow, dan laporan perubahan ekuitas, serta informasi tambahan seperti kewajiban

kontijensi dan komitmen. Catatan atas laporan keuangan juga mencakup

informasi yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan dalam Pedoman

Standar Akuntansi Keuangan serta pengungkapan-pengungkapan lain yang

diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar

2. Laba Sebelum Bunga dan Pajak (EBIT)

Laba merupakan selisih pendapatan dan biaya. Berdasarkan pengertiannya,

laba diharapkan dapat digunakan sebagai pengukur efisiensi, pengukur kinerja

entitas dan manajemen, dasar penentuan pajak, dan lain sebagainya.

Pengembalian laba kepada pemegang saham/ekuitas dalam bentuk dividen

untuk periode bersangkutan atau untuk laba ditahan (return earnings) dapat dicerminkan oleh earnings, sementara pos-pos dalam laporan laba-rugi merinci bagaimana earnings di dapat atas kenaikan (penurunan) ekuitas sebelum distribusi kepada dan kontribusi dari pemegang ekuitas. Earnings

mengindikasikan profitabilitas perusahaan.

Stice, stice dan Skousen (2004:226) menunjukkan konsep dasar dari

earnings adalah hasil dari investasi. Salah satu definisi dari earnings yang diterima lebih luas adalah jumlah yang dapat diberikan kepada investor (sebagai

hasil investai) dan kondisi perusahaan di akhir periode masih sama baiknya atau

kayanya (well-off) dengan di awal periode. a. Pengukuran dan Pengakuan

Konsep dalam pengukuran earnings ada dua, yaitu: 1. Konsep pemeliaharaan modal keuangan

Konsep ini berasumsi bahwa perusahaan memiliki laba hanya jika nilai

aktiva bersih perusahaan yang diukur dalam satuan uang pada akhir

periode melebihi nilai aktiva bersih pada awal periode setelah dikurangi

2. Konsep pemeliharaan fisik

Dalam konsep ini, laba terjadi hanya jika kapasitas produktif fisik

perusahaan pada akhir periode melebihi kapasitas produktif fisik pada

awal periode, juga setelah dikurangi dampak transaksi dengan pemilik.

Konsep ini mengharuskan aktiva produktif (persediaan, gedung, dan

peralatan) dinilai pada biaya saat ini (current cost). Modal produktiif terpelihara hanya jika nil ai sekarang dari aktiva modal dipelihara.

Earnings diukur berdasarkan akuntansi akrual, tujuan utama akuntansi akrual adalah pengukuran laba. Dua proses utama dalam pengukuran earnings

adalah pengakuan pendapatan dan pengaitan beban. Pengakuan pendapatan

(revenue recognition) adalah titik awal pengukuran laba. Dua kondisi wajib untuk dapat diakui adalah bahwa pendapatan harus:

1. Telah atau dapat di realisasi (realized or realizable)

Untuk dapat diakui, suatu perusahaan harus telah mendapatkan kas

atau komitmen andal untuk mendapatkan kas, sepertipiutang yang sah.

2. Telah dihasilkan (earned)

Perusahaan harus menyelesaikan seluruh kewajibannya kepada

pembeli, yaitu proses perolehan laba harus telah selesai.

Ketika pendapatan telah diakui, biaya yang berhubungan dikaitkan dengan

pendapatan atau pengaitan beban (expense matching) untuk menghitung earnings. Beban diakui saat terjadinya ekonomi yang terkait, bukan saat

Laporan laba rugi menyediakan rincian pendapatan, beban, untung dan

rugi perusahaan untuk suatu periode waktu. Laba kotor (gross profit) yang disebut juga margin kotor (gross margin) merupakan selisih antara penjualan dan harga pokok penjualan. Laba kotor mengindikasikan seberapa jauh

perusahaan mampu menutupi biaya produknya. Indikator ini tidak relevan

khususnya untuk perusahaan jasa dan tekhnologi, di mana biaya produksi

hanyalah bagian kecil dari total biaya.

Dalam penelitian ini, laba yang digunakan adalah laba sebelum bunga dan

pajak (EBIT), sebagaimana namanya, merupakan laba dari operasi berjalan

sebelum cadangan untuk bunga dan pajak penghasilan. Laba sebelum bunga dan

pajak tidak termasuk dalam laba operasi yang merupakan selisih antara

penjualan dengan seluruh biaya dan beban operasi. Laba bersih dari operasi

berjalan merupakan laba dari bisnis perusahaan yang sedang berjalan setelah

bunga dan pajak.

3. Arus Kas Operasi

Dalam PSAK No. 2 paragraf 12 (IAI:2002) dinyatakan bahwa jumlah arus

kas yang berasal dari aktivitas operasi (cash flow from operation) merupakan indikator yang menentukan apakah dari operasinya perusahaan dapat

menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara

kemampuan operasi perusahaan, membayar dividen dan melakukan investasi

unsur tertentu arus kas historis bersama dengan informasi lain, berguna dalam

memprediksi arus kas operasi masa depan.

Aktivitas operasi merupakan aktivitas perusahaan yang terkait laba.

Aktivitas operasi meliputi arus kas masuk dan arus kas keluar bersih yang

berasal dari aktivitas operasi terkait. Aktivitas operasi terkait dengan pos-pos

laporan laba rugi (dengan beberapa pengecualian kecil) dan dengan pos-pos

operasi dalam neraca, umumnya pos modal kerja seperti piutang, persediaan,

pembayaran di muka, utang dan beban akrual. Aktivitas operasi juga meliputi

transaksi dan peristiwa yang tidak cocok untuk dikelompokkan ke dalam

aktivitas investasi atau aktivitas pendanaan.

Tabel 2.1 Aktivitas Operasi

Kas diterima dari : Kas dikeluarkan untuk:

1. Penjualan barang atau jasa 1. pembelian persediaan, 2. Penjualan efek yang diperdagangkan 2. gaji dan upah,

3. Pendapatan bunga, 3. pajak,

4. Pendapatan dividen 4. beban bunga

5. beban lainnya 6. pembelian efek Sumber : Stice,Stice,Skousen (2004;320)

Analisis arus kas operasi dapat dilakukan dengan menghitung free cash flow. Free cash flow adalah kas yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan perusahaan setelah dikurangi untuk pengeluaran pendanaan dan pengeluaran

perusahaan sangat tergantung pada jumlah free cash flow yang dimiliki perusahaan (Darsono dan Ashari, 2005:55). Perhitungan free cash flow adalah sebagai berikut:

FCF = Arus Kas Operasi – (pengeluaran pemeliharaan modal + dividen)

4. Dividen a. Pengertian

Menurut Dyckman et al (2001:439) “dividen merupakan distribusi laba

kepada para pemegang saham dalam bentuk aktiva atau saham perusahaan

penerbit, sedangkan menurut Stice et al (2004:902) dividen adalah pembagian

kepada pemegang saham dari suatu perusahaan secara proporsional sesuai

dengan jumlah lembar saham yang dipegang oleh masing-masing pemilik.

Distribusi laba dalam bentuk kas oleh sebuah korporasi kepada

pemegang sahamnya disebut dividen tunai (cash dividend). Biasanya sebuah korporasi harus memenuhi tiga kondisi terlebih dahulu agar dapat membayar

dividen tunai:

1. Laba ditahan yang mencukupi,

2. Kas yang memadai,

b. Jenis Dividen

Dividen yang dibagikan perusahaan kepada para pemegang saham

terbagi dalam beberapa jenis dividen. Dividen yang paling disukai oleh para

pemegang saham adalah dividen tunai atau dividen kas. Jenis dividen menurut

Dyckman (2001:439) adalah sebagai berikut:

1. Paling umum

a. dividen tunai, yaitu distrisbusi laba dalam bentuk kas oleh sebuah korporasi kepada pemegang sahamnya,

b. properti, yaitu dividen dalam bentuk aktiva non kas, berupa sekuritas perusahaan lain yang dimiliki perseroan, real estate, barang dagang, atau setiap aktiva non kas lainnya.

c. dividen saham, yaitu distribusi proporsional atas tambahan saham biasa atau saham preferen perseroan kepada pemegang saham.

2. Khusus

a. dividen likuidasi, yaitu pengembalian tambahan modal disetor dan bukan modal ditahan,

b. dividen skrip atau wesel, yaitu dividen yang diberikan dalam bentuk wesel promes kepada pemegang saham dimana kondisi perseroan mengalami kekurangan kas.

c. Prosedur Pembayaran Dividen

Biasanya perusahaan membayar dividen secara kuartalan. Persetujuan

akhir pembayaran dividen adalah dari dewan direksi. Setelah kebijakan

dividen perusahaan telah disusun, beberapa rincian prosedur baru diatur.

Menurut Keown, at al (2000:626) menyatakan bahwa ada beberapa prosedur

yang ada dalam pembayaran dividen adalah sebagai berikut :

1. Tanggal Pencatatan

Adalah tanggal yang ditetapkan oleh dewan direksi pada saat dividen diumumkan, dimana dilakukan pendaftaran para pemegang saham yang berhak menerima dividen. Apabila sesudah saham didaftarkan kemudian dijual maka pembeli tidak berhak menerima dividen yang dibagi itu karena nama yang terdaftar adalah pemegang saham lama. Saham yang

2. Tanggal Tanpa Dividen

Adalah tanggal pertama dimana pembeli saham tidak berhak lagi untuk menerima dividen yang baru saja diumumkan.

3. Tanggal Penggunaan

Adalah tanggal dimana dewan direksi mengumumkan jumlah dan tanggal pembayaran dividen berikutnya.

4. Tanggal pembayaran

Adalah tanggal dimana perusahaan membayarkan dividen yang diumumkan.

5. Rencana Reinvestasi Dividen (Dividend Reinvestment Plan)

Adalah pilihan rencana yang memungkinkan pemegang saham untuk menginvestasikan dividen yang diterimanya secara langsung dalam bentuk tambahan saham.

d. Kebijakan Dividen

Kebijakan pembagian dividen adalah suatu keputusan untuk menentukan

berapa besar bagian laba akan dibagikan kepada para pemegang saham dan

akan ditahan dalam perusahaan selanjutnya diinvestasikan kembali. Kebijakan

pembagian dividen tergantung pada keputusan rapat umum pemegang saham

(RUPS).

Kebijakan dividen penting bagi perusahaan dengan dua alasan, yaitu:

1. Pembayaran dividen mungkin akan mempengaruhi nilai perusahaan

yang tercermin dari harga saham perusahaan tersebut.

2. Laba ditahan biasanya merupakan sumber dana internal yang terbesar

Dividen yang dibagikan oleh perusahaan bisa tetap (tidak mengalami

perubahan) dan bisa mengalami perubahan (ada kenaikan atau penurunan) dari

dividen yang dibagikan sebelumnya.

Menurut Gitosudarmo (1995:238), “secara umum kebijakan dividen

yang ditempuh perusahaan adalah salah satu dari 3 kebijakan ini, yaitu stable dividend policy, fluctuating dividend policy, kombinasi stable dividend policy dan fluctuating dividend policy ”.

1. Stable Dividend Policy. Pada kebijaksanaan ini besarnya dividen yang dibayarkan selalu stabil dalam jumlah yang tetap, stabil yang makin naik dan stabil yang semakin menurun. Jadi, besarnya dividen yang dibayarkan dalam jumlah yang selalu stabil walaupun terjadi fluktuasi dalam net income. Apabila pada suatu saat kondisi perusahaan mengalami kerugian, pembayaran dividen akan diambilkan dari cadangan stabilisasi dividen.

2. Fluctuating Dividend Policy. Pada kebijaksanaan ini besarnya dividen yang dibayarkan mendasarkan pada tingkat keuntungan pada setiap akhir periode. Apabila tingkat keuntungan tinggi maka besarnya dividen yang akan dibayarkan relatif tinggi, dan sebaliknya bila tingkat keuntungan rendah maka besarnya dividen yang dibayarkan juga rendah, atau bisa dikatakan selalu proporsional dengan tingkat keuntungannya.

3. Kombinasi Stable Dividend Policy dan Fluctuating Dividend Policy.

Pada kebijaksanaan ini besarnya dividen yang dibayarkan sebagian ada yang bersifat stabil atau tetap, tetapi sebagian yang lain bersifat proporsional dengan tingkat keuntungan yang dicapai. Apabila perusahaan tidak mendapatkan laba para pemegang saham masih mendapatkan dividen tetap dan apabila didapatkan keuntungan dari hasil operasinya didapatkan bagian dari keuntungan. Bagian dividen yang bersifat proporsional besarnya tidak sama dengan dividen yang menggunakan kebijakan fluktuatif.

e. Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen

Menurut Keown et al (2000:621) terdapat beberapa faktor yang

1. Pembatasan Hukum

Pembatasan hukum merupakan salah satu faktor yang turut mempengaruhi kebijakan dividen suatu perusahaan. Pembatasan hukum dapat terbagi menjadi dua kategori. Pertama, pembatasan hukum menurut undang-undang dan kedua, pembatasan hukum karena kebijakan perusahaan itu sendiri untuk membatasi pembagian dividen saham biasa.

2. Posisi Likuiditas

Posisi likuiditas menggambarkan seberapa banyak aset lancar yang tersedia. Guna memenuhi pembagian dividen dalam berbagai jenis dividen salah satunya adalah ketersediaan kas yang digunakan untuk membayar dividen kas kepada para investor. Ketersediaan kas mempunyai pengaruh yang penting dalam kebijakan membagikan dividen dalam bentuk kas selain posisi laba ditahan yang cukup besar. Hal itu didasari karena laba ditahan yang cukup besar kurang menjamin ketersediaan perusahaan untuk membayar dividen dalam bentuk kas jika kas yang tersedia kurang memadai.

3. Tidak ada atau kurangnya sumber pendanaan lain

Perusahaan besar relatif mempunyai pendanaan eksternal guna melakukan pembayaran dividen kas sedangkan pada perusahaan kecil pendanaan perusahaan hanya berasal dari pihak internal sehingga jika ketersediaan dana internal kurang memadai maka akan berdampak pada kebijakan dividen yang diambil.

4. Kemampuan peramalan laba

Kemampuan peramalan laba menjadi salah satu faktor karena perusahaan yang mampu meramalkan pendapatnya pada masa yang akan datang relatif dapat meramalkan kebijakan dividen seperti apa yang akan diambil. Jika perusahaan mempunyai tren pendapatan yang stabil maka jumlah dividen dalam bentuk kas yang dibayarkan akan besar dan sebaliknya.

5. Kontrol kepemilikan

Kontrol kepemilikan berpengaruh terhadap kebijakan dividen yang diambil oleh suatu perusahaan, hal itu didasari dengan ketersediaan dana yang digunakan dalam perluasan perusahaan. Perusahaan yang relatif kecil, kontrol kepemilikan merupakan skala prioritas, hal ini berkaitan dengan perluasan perusahaan yang memerlukan dana yang besar. Jika perusahaan tidak mempunyai sumber pendanaan di luar perusahaan maka perusahaan akan menerbitkan utang guna mendanai perluasan tersebut. Selain itu dana juga didapat dari alokasi laba sehingga berdampak pada jumlah yang akan dibagikan dalam bentuk dividen.

6. Inflasi

Inflasi merupakan faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen suatu perusahaan. Idealnya jika suatu aset tetap rusak dan usang, dana yang dihasilkan dari depresiasi digunakan untuk mendanai penggantian. Karena dalam periode inflasi terjadi kenaikan harga maka untuk mengganti aset yang diperlukan dalam aktiva operasional perusahaan dibutuhkan pembatasan laba dan ini berarti pengurangan jumlah laba yang akan dibagi dalam bentuk dividen.

f. Indikator Kebijakan Deviden

Indikator untuk mengukur kebijakan dividen yang secara luas digunakan

ada dua macam. Pertama, hasil dividen (dividend yield). Dividend yield adalah suatu rasio yang menghubungkan suatu dividen yang dibayar dengan harga

saham biasa. Dividend yield secara matematis dapat diformulasikan sebagau berikut (Warsono, 2003:275) :

Dividend yield menyediakan suatu ukuran komponen pengembalian total yang dihasilkan dividen, dengan menambahkan apresiasi harga yang ada.

Beberapa investor menggunakan dividend yield sebagai suatu ukuran risiko dan sebagai suatu penyaring investasi, yaitu mereka akan berusaha

menginvestasikan dananya dalam saham yang menghasilkan dividend yield

yang tinggi.

Indikator kedua yang digunakan unyuk mengukur kebijakan dividen

adalah rasio pembayaran dividen (Dividend Payout Ratio atau DPR). DPR merupakan rasio hasil perbandingan antara dividen dengan laba yang tersedia

bagi para pemegang saham biasa, dan secara sistematis dirumuskan sebagai

berikut (Warsono,2003:275):

DPR lebih populer digunakan sebagai indikator kebijakan dividen

dibandingkan dengan dividend yield.

5. Pengaruh laba sebelum bunga dan pajak dan arus kas operasi terhadap deviden tunai.

Dari sisi investor, dividen merupakan salah satu motivator untuk

menanamkan dana di pasar modal. Tingkat keuntungan yang diharapkan para

investor tentunya lebih besar daripada apabila mereka menanamkan dananya

pada obligasi pemerintah atau tingkat bunga deposito. Rencana dividen yang

akan dibagikan perusahaan tergantung kepada kebijakan deviden

masing-masing perusahaan. Namun, pada umumnya dividen dibagikan dalam bentuk

tunai. kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba merupakan indikator

utama.

Beberapa perusahaan membayarkan dividen dengan jumlah yang

berbeda-beda setiap tahunnya. Fenomena yang terjadi adakalanya saat laba

yang diperoleh perusahaan menurun, dividen yang diberikan perusahaan justru

lebih besar dari tahun sebelumnya. Laba yang tinggi belum tentu

mencerminkan kas atau uang tunai tersedia dalam jumlah yang besar.

mempengaruhi dividen yang diberikanperusahaan, hal ini dapat dilihat bahwa

laba sebelum bunga dan pajak merupakan bagian dari laba tunai yang

diperoleh dari jumlah arus kas dari aktivitas operasi yang terdapat dalam

Dokumen terkait