• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepiting Bakau (Scylla serrata)

Gambar 2. Kepiting Bakau (Scylla serrata) (Sumber : Dokumentasi Hasil Penelitian)

Klasifikasi kepiting bakau (Scylla serrata) menurut Hasnidar (2018) adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Crustacea

Ordo : Decapoda

Famili : Portunidae Genus : Scylla

Spesies : Scylla serrata

Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan salah satu jenis komoditas laut yang potensial untuk dibudidayakan karena mempunyai nilai ekonomis tinggi.

Kepiting bakau disebut juga kepiting lumpur karena habitatnya dihutan bakau dan sering membenamkan diri ke dalam lumpur. Berdasarkan morfologi tersebut maka kepiting bakau tergantung kedalam filum Arthropoda (hewan berkaki ruas), kelas

krustasea (udang-udangan), ordo decapoda (binatang bertungkai sepuluh), famili purtunidae (mempunyai sepasang kaki akhir berbentuk dayung) dan genus Scylla (Fujaya et al., 2012)

Gambar 3. Capit pada Kepiting (Sumber : Siahainenia, 2009)

Kepiting bakau jantan mempunyai sepasang capit yang panjang hampir dua kali lipat daripada panjang karapasnya, sedangkan kepiting betina relatif lebih pendek. Capit pada kepiting bakau sangat berperan penting sebagai alat memegang dan membawa makanan, menggali, untuk makan yaitu menggunakan untuk memasukkan makanan kedalam mulutnya, dan sebagai senjata menyerang musuhnya dengan ganas dan musuhnya akan dicabik-cabik dengan ganas.

Kepiting jantan dewasa memiliki ukuran capit lebih besar dibandingkan kepiting betina dengan umur dan ukuran kepiting yang sama (Hasnidar, 2018)

Gambar 4. Kerapas pada Kepiting (Sumber : Siahainenia, 2009)

Kepiting bakau memiliki bentuk karapaks yang agak bulat, memanjang, pipih, sampai agak cembung. Panjang karapaks berukuran kurang lebih dua per tiga ukuran lebar karapaks. Secara umum, karapaks kepiting bakau terbagi atas empat area, yaitu: area pencernaan (gastric region), area jantung (cardiac region), area pernapasan (branchial region), dan area pembuangan (hepatic region). Pada bagian tepi anterolateral kiri dan kanan karapas, atau pada branchial region, terdapat sembilan buah duri dengan bentuk dan ketajaman yang bervariasi.

Sedangkan pada bagian depan karapaks, atau pada gastric region, tepat di antara kedua tangkai mata, terdapat enam buah duri kokoh di bagian atas, dan dua duri kokoh di bagian bawah kiri dan kanan. Sepasang duri pertama pada bagian anterolateral kiri dan kanan karapas, serta dua pasang duri pada bagian atas dan bawah karapaks, berada dalam posisi mengelilingi rongga mata, dan berfungsi melindungi mata. Duri-duri pada bagian depan karapaks, memiliki bentuk dan ketajaman yang bervariasi, sehingga menjadi salah satu faktor pembeda dalam klasifikasi jenis kepiting bakau (Siahainenia, 2009)

Gambar 5. Perbedaan Secara Morfologis Kepiting Bakau Jantan kiri dan Betina Kanan

(Sumber : Dokumentasi Hasil Penelitian)

Kepiting bakau memiliki jenis kelamin jantan dan betina. Jenis kelamin kepiting bakau mudah dikenal dengan bentuk abdomennya. Kepiting jantan

memiliki abdomen segitiga sama kaki ditandai dengan abdomen bagian bawah berbetuk segitiga meruncing sedangkan betina lebih membulat dan melebar.

Namun ada juga kepiting yang disebut dengan kepiting banci. Kepiting banci merupakan kepiting betina yang memiliki bentuk abdomen yang lebih sempit antara jantan dan betina (Fujaya et al., 2012)

(a) (b)

Gambar 6. Kaki jalan (a) dan Kaki renang (b) (Sumber : Siahainenia, 2009)

Kepiting bakau memiliki lima pasang kaki, yang terletak pada bagian kiri dan kanan tubuh, yaitu: sepasang cheliped, tiga pasang kaki jalan (walking leg) dan sepasang kaki renang (swimming leg). Tiga pasang kaki berikutnya, disebut kaki jalan yang selain berfungsi untuk berjalan saat kepiting bakau berada di darat, juga berfungsi dalam proses reproduksi, terutama pada kepiting bakau jantan. Ketika proses percumbuan menjelang perkawinan berlangsung, dengan bantuan kaki-kaki jalan kepiting bakau jantan akan mendekap betina di bagian bawah tubuhnya, sehingga tubuh mereka menyatu. Pasangan kaki terakhir kepiting bakau yang disebut kaki renang, berbentuk agak membulat dan lebar.

Dua ruas terakhir kaki renang (dactylus dan propondus) berbentuk pipih.

Pasangan kaki renang digunakan sebagai alat bantu semacam dayung saat berenang (Siahainenia, 2009)

Siklus Hidup Kepiting

Gambar 7. Siklus Hidup Kepiting Bakau (Sumber : Pratiwi, 2011)

Perkembangan kepiting bakau dimulai dari telur hingga mencapai ukuran dewasa dan mengalami beberapa kali perubahan (metamorfosis). tingkat perkembangan antara lain, tingkat zoea yang terdiri atas 5 tingkatan untuk perkembangan tingkat zoea seluruhnya memerlukan waktu minimal 18 hari, tingkat megalopa melalui lima kali pergantian kulit (molting), crablet, dan kepiting dewasa. Larva kepiting bakau stadia zoea bersifat plantonik, namun setelah mencapai stadia megalopa sampai dewasa bersifat bentik dan suka membenamkan diri kedalam pasir atau lumpur (Fujaya et al., 2012).

Siklus hidup kepiting bakau meliputi empat tahap (stadia) perkembangan yaitu: tahap larva (zoea), tahap megalopa, tahap kepiting muda (juvenil) dan tahap kepiting dewasa Pada stadia megalopa, tubuh kepiting bakau belum terbentuk secara sempurna. Meskipun telah terbentuk mata, capit (chela), serta kaki yang lengkap, namun tutup abdomen (abdomen flap) masih menyerupai ekor yang panjang dan beruas Selain itu, pasangan kaki renang belum terbentuk sempurna,

karena masih menyerupai kaki jalan dengan ukuran yang panjang. Memasuki stadia kepiting muda (juvenil), tubuh kepiting bakau mulai terbentuk sempurna.

Tutup abdomen telah melipat ke arah belakang (ventral) tubuh, sedangkan ruas terakhir pasangan kaki renang mulai pendek dan memipih. Meskipun demikian, tubuh masih berbentuk bulat dengan bagian-bagian tubuh yang tidak proporsional.

Hal ini terlihat pada bentuk mata yang membesar dengan tangkai yang pendek, sehingga memberikan kesan melekat pada tubuh. Secara umum, tubuh kepiting bakau dewasa terbagi atas dua bagian utama, yaitu bagian badan dan bagian kaki, yang terdiri atas sepasang cheliped, tiga pasang kaki jalan, dan sepasang kaki renang (Kasry, 1986).

Kepiting bakau melangsungkan perkawinannya di perairan hutan mangrove,dan secara berangsur-angsur sesuai dengan perkembangan telurnya, kepiting bakau betina akan bermigrasi ke perairan laut atau menjauhi pantai, untuk mencari perairan yang parameter lingkungannya (terutama suhu dan salinitas perairan) cocok sebagai tempat memijah. Kepiting bakau jantan setelah melakukan perkawinan akan tetap berada di perairan butan mangrove, tambak atau sela-sela perakaran mangrove (Pratiwi, 2011).

Kepiting bakau merupakan hewan yang khas di hutan bakau. Sejak muda kepiting bakau telah menempati perairan dengan habitat berlumpur. Bila kondisi mendukung, kepiting bakau dapat bertahan hidup hingga mencapai 3-4 tahun.

Sementara itu pada umur 12-14 bulan kepiting sudah dianggap dewasa dan dapat dipijahkan. Kepiting bakau dewasa akan beruaya (migrasi) ke laut lepas untuk melakukan pemijahan. Induk dan anak-anak kepiting akan kembali ke perairan

pantai, muara sungai atau perairan berhutan bakau untuk berlindung, mencari makan dan membesarkan diri (Hasnidar, 2018).

Molting Kepiting

Molting adalah proses terlepasnya cangkang lama yang keras dengan cangkang baru. Cangkang baru berukuran lebih besar, berwarna pucat, dan lunak.

Aktivitas berlangsung hanya beberapa jam, masuknya sejumlah air dan mineral ke dalam tubuh kepiting maka cangkang tersebut perlahan-lahan mengeras kembali.

Proses molting dimulai ketika sel-sel epidermal merespon perubahan hormonal menuju sintesis protein. Pada awal proses molting terjadi retakan pada bagian belakang kepiting. Retakan tersebut semakin membesar disertai upaya untuk melepaskan diri dari cangkang lama. Bagian abdomen terangkat, kaki renang mulai terlepas dan capit ikut meninggalkan cangkang lama, cangkang lama terpisah secara sempurna dari tubuh yang baru dengan cangkang baru yang mash

lunak. Setelah molting ukuran kepiting bertambah hingga 30%

(Fujaya et al., 2012).

Pertumbuhan kepiting bakau sangat dipengaruhi oleh molting karena pertambahan bobot, panjang, dan lebar karapaks akan terjadi setelah molting.

Selama masa pertumbuhan menjadi dewasa, kepiting akan mengalami pergantian kulit. Pada saat ganti kulit tubuh kepiting bakau seluruhnya akan lunak. Cangkang baru tersebut berukuran lebih besar , berwarna pucat dan lunak. Aktivitas ini berlangsung selama beberapa jam. Setelah cangkang lama terlepas, air akan terakumulasi ke dalam darah dan kantung-kantung air di dalam tubuh kepiting untuk membantu merentangkan cangkang yang masih lunak menjadi bentuk yang lebih besar Selain itu untuk molting kepiting juga memerlukan kondisi lingkungan

yang mendukung. Salinitas adalah salah satu faktor yang mempengaruhi proses molting pada kepiting bakau (Hasnidar, 2018)

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi molting, yaitu eksternal dan internal. Faktor Eksternal dari lingkungan seperti cahaya, salinitas, suhu, pH, DO atau oksigen terlarut dan ketersediaan makanan. Pada faktor internal juga sangat berperan pada ukuran tubuh yang membutuhkan tempat yang luas. Kedua faktor ini akan mempengaruhi otak dan menstimulasi organ-Y untuk menghasilkan hormone molting. Organ-Y adalah sumber hormone molting (Fujaya et al., 2012).

Teknik Popey

Prinsip budidaya kepiting soka adalah memelihara kepiting ditambak sampai molting. Permasalahan pada molting kepiting bakau yang menghadang kesuksesan budidaya kepiting cangkang lunak adalah molting. Molting yang tidak bersamaan dibutuhkan waktu yang cukup banyak dengan waktu kerja panjang.

Untuk mempercepat proses molting dilakukan upaya metode pemotongan capit dan kaki jalan dan metode popey (Widyastuti dan Husni, 2007).

Metode popey dilakukan dengan memotong semua kaki jalan kepiting, sedangkan capit dan kaki renangnya dibiarkan. Pematahan atau pemotongan kaki jalan yang dilakukan untuk mencegah keluarnya kepiting dari keranjang.

Sedangkan untuk capit dibiarkan hanya ujung capit yang dipotong, supaya kepiting tidak bisa menggigit dan keluar dari kurungan. Saat molting capit keliatan besar untuk harga kepiting lebih mahal dengan metode popey, dikarenakan menarik perhatian konsumen sehingga harga lebih mahal (Fujaya et al., 2012)

Teknik Mutilasi

Perlakuan mutilasi adalah secara sengaja mematahkan satu pasang capit dan tiga pasang kaki jalan. Kepiting dimutilasi tepat di bagian pangkal kaki dan capit dengan menggunakan tang ataupun gunting. Pangkal kaki jalan dan capit pada kepiting terdapat hormone penghambat molting yaitu Molt Inhibiting Hormone (MIH). Secara alami kepiting akan melepaskan sendiri keempat pasang organ kakinya hanya dengan cara diganggu – ganggu saja dengan usaha menghindar dari bahaya yang datang, seperti halnya cecak. Secara sengaja satu pasang kaki renang tidak di ganggu sehinga kepiting masih bisa berenang mencari makan agar tetap hidup sampai molting terjadi (Habibi et al.,2013)

Metode mutilasi biasanya melakukan pemotongan pada bagian organ kaki jalan, capit dan kaki renang. Teknik ini merupakan upaya untuk meningkatkan produk kepiting cangkang lunak (soka) karena dapat merangsang keluarnya hormon exdecis untuk memicu terjadinya pergantian kulit dengan cepat. Hormon yang menghambat kepiting bakau moulting terletak pada organ gerak kepiting bakau. Bagi kepiting proses dari mutilasi merupakan proses alami yaitu usaha menghindari bahaya dan regenerative dengan merangsang fisiologi hormonal untuk menumbuhkan kembali anggota badan yang patah atau rusak pada proses mutilasi diri sendiri. Naluri mutilasi diri sendiri dan menumbuhkan anggota tubuh yang patah (body building) ini juga ada pada cecak (tetapi cecak tidak melakukan molting untuk menumbuhkan anggota tubuhnya (Ariani et al., 2018)

Perlakuan mutilasi adalah secara sengaja mematahkan satu pasang capit dan tiga pasang kaki jalan. Secara sengaja satu pasang kaki renang tidak di ganggu sehinga kepiting masih bisa berenang mencari makan agar tetap hidup

sampai molting terjadi. Bagi kepiting proses dari mutilasi merupakan proses alami yaitu usaha menghindari bahaya dan regenerative dengan merangsang fisiologi hormonal untuk menumbuhkan kembali anggota badan yang patah atau rusak pada proses mutilasi diri sendiri (Khairiah et al., 2012).

Karakteristik Parameter Perairan Suhu

Kualitas air merupakan faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap fisiologi organisme perairan. Pertumbuhan kepiting juga dipengaruhi oleh suhu. Suhu merupakan salah satu faktor abiotik penting yang mempengaruhi aktivitas kelangsungan hidup, pertumbuhan dan molting krustasea. Secara umum laju pertumbuhan meningkat sejalan dengan kenaikan suhu sampai pada batas tertentu. Suhu optimum untuk kepiting adalah 25-35°C (Fujaya et al., 2012).

Suhu air dapat mempengaruhi pertumbuhan, aktifitas dan nafsu makan kepiting bakau. Suhu air yang lebih rendah dari 20ºC akan mengakibatkan aktifitas dan nafsu makan kepiting bakau menurun secara drastis. Pada saat itu pertumbuhan akan berhenti walaupun kepiting masih dapat tetap hidup.

Disamping kepadatan makanan, suhu perairan diduga berperan terhadap efisiensi pemanfaatan makanan dan peningkatan kelulushidupan larva kepiting bakau.

Kepiting bakau tumbuh lebih cepat pada perairan dengan kisaran suhu 23-32°C.

Diantara faktor-faktor lingkungan, suhu merupakan faktor yang paling berpengaruh pada pertumbuhan dan molting (Katiandagho, 2014)

Salinitas

Salinitas merupakan salah satu faktor bagi organisme akuatik yang dapat memodifikasi peubah fisika dan kimia air menjadi satu kesatuan pengaruh yang

berdampak terhadap organisme. Proses metabolisme kepiting yang dapat berpengaruh pada tingkat pembelanjaan energi. Oleh sebab itu, pertumbuhan kepiting yang maksimum hanya dapat dihasilkan apabila penggunaan energi untuk metabolisme dapat diminimalisir (Sagala et al., 2013)

Salinitas merupakan gambaran jumlah kelarutan garam atau konsentrasi ion-ion dalam air. Salinitas merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh penting terhadap organisme akuatik. Salinitas optimal untuk budidaya kepiting bakau adalah berkisar antara 15-30 ppt tergantung spesies tersebut. Informasi tentang penurunan salinitas diperlukan karena akan memberikan dampak pertumbuhan yang maksimum pada kepiting bakau berkaitan dengan proses osmoregulasinya, dan penerapan selanjutnya di lingkungan tambak (Fujaya et al., 2012).

pH

pH( per hydronium ion atau power of hydrogen) atau derajat keasaman merupakan suatu indeks kadar ion hidrogen (H+) yang terlarut dalam air.

Digunakan untuk mengetahui tingkat keasaman dan kebasaan yang dimiliki oleh suatu perairan. Tinggi rendahnya pH suatu perairan dipengaruhi oleh fluktuasi kandungan oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2). Perubahan pH dapat berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap organisme akuatik.

Pengaruh langsung antara lain adalah mengurangi produktivitas primer dan dapat menyebabkan kematian organisme. Sedangkan pengaruh tidak langsung adalah perubahan toksisitas zat kimia tertentu, contohnya semakin tinggi pH dan suhu air maka toksisitas amoniak meningkat. Nilai pH pada media budidaya kepiting lunak sebaiknya dipertahankan antara pH 6,8-8,2 (Hasnidar, 2018)

Media pH yang optimum akan memberikan dampak pertumbuhan yang maksimum pada kepiting bakau karena berkaitan dengan derajat keasaman dan kebasaan di dalam perairan. pH di dalam perairan akan berpengaruh besar terhadap kelangsungan hidup kepiting bakau S. serrata. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai pH optimum pada media pemeliharaan untuk menunjang kinerja pertumbuhan kepiting bakau S. serrata (Hastuti et al., 2016) Disolved Oksigen ( DO)

Oksigen terlarut adalah jumlah oksigen didalam perairan yang tersedia untuk kepiting. Oksigen sangat penting untuk pertumbuhan kepiting. Konsentrasi oksigen terlarut yang baik adalah >5,0 ppm. Dibawah 3,0 ppm molting beberapa menjadi lambat dan dibawah 2,0 ppm kepiting tidak aka nada yang molting. Oleh karena itu, pentingnya kondisi kualitas air tetap terjaga agar usaha budidaya dapat berhasil maka pengelolaan kualitas air tambak selama pemeliharaan sangat diperlukan (Hasnidar, 2018)

Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan. Kisaran Oksigen terlarut menunjukkan kisaran yang rendah pada pagi hari dan tinggi pada sore hari. Kisaran oksigen yang rendah merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan kematian pada Kepiting bakau, kematian beberapa ekor kepiting uji pada saat pagi hari mengindikasikan hal tersebut (Katiandagho, 2014).

BAB III METODOLOGI

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan bulan Agustus tahun 2019. Penelitian dilaksanakan di kolam Tambak Desa Sei Bilah Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Peta lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8. Peta Lokasi Penelitian Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah keramba sebagai tempat pemeliharaan, gunting sebagai alat untuk memotong kaki kepiting, ember sebagai wadah kepiting, Global Positioning System (GPS) sebagai penentu titik kordinat penelitian, alat tulis untuk mencatat hasil pengamatan (Lampiran 2). Termometer

untuk mengukur suhu, pH meter unruk mengukur pH perairan, refraktometer untuk mengukur salinitas perairan, dan DO meter untuk mengukur DO perairan tambak, kamera sebagai dokumentasi (Lampiran. 4)

Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah kepiting bakau sebagai bahan uji, ikan rucah sebagai pakan, air sebagai media pemeliharaan (lampiran. 3) Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan dapat diartikan sebagai rangkaian kegiatan berupa pemikiran dan tindakan yang dipersiapkan secara kritis dan seksama mengenai berbagai aspek yang dipertimbangkan dan sedapat mungkin diupayakan kelak dapat diselenggarakan dalam suatu percobaan dalam rangka menemukan sesuatu pengetahuan baru. Semua pemikiran, perkiraan, pedoman dan rencana itu dituangkan dalam suatu rancangan percobaan, yang seharusnya dibuat sebelum percobaan dilakukan. Rancangan Percobaan yang baik adalah yang efektif, terkelola dan efesien serta dapat dipantau, dikendalikan dan dievaluasi (Bangun, 1991). (Lampiran. 1)

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah menggunakan Rancangan Blok Acak Lengkap (RBAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dan masing-masing 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari :

Perlakuan A : kepiting yang tidak dipotong capit dan kaki jalan (alami) Perlakuan B : kepiting yang dipotong seluruh capit dan kaki jalan (mutilasi) Perlakuan C : kepiting yang dipotong sebagian yakni pada kaki jalan (popey) Persiapan Wadah

Wadah yang digunakan adalah keramba bambu berukuran 150 cm x 120 cm sebanyak 120 buah petakan - petakan kecil dengan ukuran (15cm x 15

cm/petakan). Keramba dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan dengan cara dicuci dan dikeringkan selama 2 hari untuk membunuh patogen-patogen yang berbahaya bagi kepiting. Selanjutnya, keramba dipasang pada tambak dan dilakukan perendaman selama 3 hari di dalam tambak sebelum dimasukkan kepiting. Setiap petakan kecil keramba berisi 1 ekor kepiting bakau. Kemudian diapungkan atau ditenggelamkan sedalam 4 cm ke dalam air tambak atau setengah dari tinggi keramba bambu sebagai media pemeliharaan kepiting bakau sesuai dengan metode yang telah ditetapkan. (Lampiran. 5)

Penebaran Hewan Uji

Hewan uji berasal dari hasil tangkapan alam yang telah melalui proses seleksi terlebih dahulu dengan bobot tubuh rata-rata 80gr/ekor dan lebar karapas 8cm/ekor dengan padat tebar yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1ekor/petakan keramba. Jumlah hewan uji yang digunakan adalah 120 ekor.

Setelah itu dilakukan pengukuran panjang dan bobot kepiting bakau sebagai data awal sebelum dilakukan pemotongan. Hewan uji ditebarkan kedalam keramba dengan 3 perlakuan 4 ulangan. Sebelum dimasukkan ke dalam wadah pemeliharaan, kepiting dilakukan pemotongan capit, kaki jalan menggunakan gunting sesuai perlakuan yang akan digunakan. Perlakuan alami, benih kepiting tidak dilakukan pemotongan baik kaki jalan maupun capit sehingga pemeliharaan kepiting dilakukan secara alami. Metode popey dilakukan dengan memotong semua kaki jalan kepiting, sedangkan capit dan kaki renangnya dibiarkan.

Mutilasi yaitu dengan memotong semua bagian capit dan kaki jalan menggunakan gunting pada ujung sehingga pangkal kaki jalan patah dengan sendirinya.

(Lampiran 6)

Sebelum hewan uji dimasukkan, dilakukan pengukuran kualitas parameter perairan pada tambak yang meliputi suhu, DO, pH, dan salinitas. Kemudian dimasukkan ke dalam masing-masing kotak keramba. Waktu tebar hewan uji adalah sore hari karena menghindari panas dari paparan sinar matahari langsung

dan suhu air cenderung stabil dan tidak membuat kepiting stress (Fujaya et al., 2012)

Pemberian Pakan

Pemberian pakan dilakukan setelah dua hari dari waktu penebaran benih ke keramba. Pakan yang diberikan berupa ikan Tamban yang telah dipotong-potong dengan ukuran 2 cm. Dengan pemberian pakan 5% dari bobot hewan uji. Ikan Tamban tersebut didapatkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Pakan diberikan dengan frekuensi satu kali dalam 2 hari, yaitu sore pukul 16.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB (Lampiran. 6)

Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah : a) derajat kelangsungan hidup kepiting b) laju pertumbuhan bobot c) jumlah kepiting molting terhadap waktu d) porsentase molting e) mortalitas f) parameter fisika kimia perairan.

Kelangusungan hidup kepiting dilihat dari jumlah kepiting yang berhasil hidup dan melakukan molting selama pemeliharaan. Laju pertumbuhan bobot spesifik (spesific growth rate) dihitung dari nilai bobot kepiting sebelum ditebar dan setelah mengalami proses molting serta jangka waktu pencapaian molting. Persentase molting dihitung dari awal sampai akhir penelitian yang melakukan molting pada setiap perlakuan.

Pengukuran parameter kualitas air dilakukan dari awal sampai akhir pemeliharaan yang meliputi parameter suhu, kandungan oksigen terlarut (DO), pH, dan salinitas. Pengukuran kualitas air untuk pH dan Suhu dilakukan setiap hari sedangkan untuk DO dan salinitas sebanyak empat kali dengan interval waktu

± 7 hari selama 1 bulan (disesuaikan dengan pemasukan kepiting kedalam kolam dan pengukuran setelah moulting) dengan peralatan sesuai dengan Tabel 1.

Tabel 1. Pengukuran Parameter Kualitas Air

Parameter Satuan Alat Ukur

1. Derajat kelangsungan hidup

Derajat kelangsungan hidup (survival rate) dihitung dari data jumlah kepiting pada awal dan akhir perlakuan. Pengamatan dilakukan setiap 7 hari sekali. Tingkat derajat kelangsungan hidup atau survival rate (SR) diukur dengan menggunakan rumus menurut (Effendi, 1978):

SR = (Nt / No) x 100%

Keterangan:

SR = Derajat kelangsungan hidup (%) No = Jumlah kepiting awal penelitian (ekor) Nt = Jumlah kepiting akhir penelitian (ekor)

2. Peningkatan Bobot

Pengukuran bobot kepiting menggunakan timbangan. Bobot kepiting ditimbang kemudian dicatat. Peningkatan bobot menggunakan rumus pertumbuhan menurut Effendie (1997) yaitu :

W = Wt - W0 Keterangan :

W = Peningkatan bobot ikan (gr)

Wt = Bobot akhir pada waktu molting (gr) W0 = Bobot awal kepiting (gr)

3. Jumlah Kepiting Molting Terhadap Waktu Pemeliharaan

Jumlah kepiting molting terhadap waktu pemeliharaan dihitung dari jumlah kepiting yang ditebar pada setiap perlakuan dan dilihat perlakuan yang paling cepat molting atau ganti kulit tiap harinya.

4. Persentase Molting

Pengamatan molting dilakukan setiap minggu menghitung berapa jumlah kepiting yang ganti kulit (molting) dan dilihat setiap perlakuan yang lebih tinggi persentase moltingnya

Jumlah Hewan Uji yang Molting Jumlah Hewan Uji 5. Mortalitas

Mortalitas adalah ukuran jumlah kematian dalam suatu populasi.

Mortalitas hewan uji dihitung setiap perlakuan dengan menggunakan rumus : Jumlah Hewan Uji yang Mati

Jumlah Hewan Uji

x 100%

Prosentase Molting =

Mortalitas = x 100%

6. Analisis ANOVA SPSS

Analisis yang digunakan terhadap data yang dikumpulkan adalah Analisis Of Varians (ANOVA), untuk mengetahui pengaruh perbedaan teknik molting terhadap Survival Rate. Analisis ini dilakukan menggunakan sofware SPSS.

Selanjutya untuk mengetahui diterima tidaknya hipotesis yang diajukan maka

Selanjutya untuk mengetahui diterima tidaknya hipotesis yang diajukan maka

Dokumen terkait