• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN TEKNIK PENGERINGAN TERHADAP

TINJAUAN PUSTAKA

Karakteristik Brachiaria humidicola

Brachiaria humidicola disebut juga dengan Brachiaria dictyoneura dengan nama umum rumput Koronivia. Brachiaria humidicola merupakan rumput tahunan berasal dari Afrika Selatan yang kemudian menyebar ke daerah Fiji dan Papua New Guinea (Skerman and River, 1990). Batang yang berkembang tingginya dapat mencapai 20-60 cm. Helai daun berwarna hijau terang (Bright green ) dengan panjang 12-25 cm dan lebar 5-6 mm (Jayadi, 1991). Rumput ini biasanya digunakan sebagai hijauan dalam padang penggembalaan permanen (Hanum, 1997). Bentuk Brachiaria humidicola dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Bentuk Brachiaria humidicola

Sumber : Forages fact sheets, 2005

Brachiaria humidicola merupakan rumput yang tahan terhadap kekeringan dan genangan namun tidak setahan Brachiaria mutica. Rumput ini juga tahan terhadap penggembalaan berat dan mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap invasi gulma, tetapi kurang cocok bila dilakukan penanaman dengan campuran leguminosa, hal ini karena pertumbuhan Brachiaria humidicola cepat sekali menutup tanah sehingga akan menekan pertumbuhan leguminosa (Jayadi, 1991). Brachiaria humidicola dapat tumbuh dengan baik apabila di tanam di bawah pohon kelapa serta sangat efektif untuk menahan erosi. Kapasitas produksinya dapat mencapai 20 ton/ha (Jayadi, 1991). Kandungan Nutrien Brachiaria humidicola diperlihatkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan Nutrien Brachiaria humidicola Kandungan Nutrien (%) Bahan Kering Protein Kasar 17,22 8,94 Lemak Kasar 2,34 Serat Kasar 27,28 Abu 7,65

TDN (Total Digestible Nutrient) 43,88

BETN (Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen) 57,39

Sumber : Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Institut Pertanian Bogor. 2009

Karakteristik Gamal (Gliricidia sepium)

Gamal merupakan legum pohon yang tingginya mencapai 10 m dengan tipe daunnya berbentuk majemuk sederhana.Gamal memiliki bunga berbentuk kupu-kupu yang berwarna putih dan merah jambu (Rosa, 1998). Gamal dapat tumbuh baik pada kondisi iklim tropis basah dan untuk menghasilkan produksi yang tinggi dibutuhkan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun. Legum ini dapat juga bertahan hidup pada musim kering yang panjang tetapi ukuran daunnya lebih kecil (Rosa, 1998). Penanaman gamal dapat dilakukan dengan menggunakan stek yaitu menggunakan batang yang mempunyai mata tunas dengan panjang ± 1 meter, ditanam pada kedalaman 15 cm. Waktu tanam sebaiknya dilakukan pada musim penghujan (Dinas Peternakan, 1999). Bentuk Gamal (Gliricidia sepium) dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Bentuk Gamal (Gliricidia sepium)

Kegunaan gamal dapat dijadikan sebagai tanaman pagar, pupuk hijau dan sebagai penahan erosi. Daun atau bagian tanaman yang dipangkas dapat digunakan sebagai hijauan makanan ternak yang dapat meningkatkan produktivitas ternak ruminansia seperti : sapi, kambing dan domba (Rossa, 1998). Penggunaan daun gamal sebagai hijauan makanan ternak ruminansia tidak mengakibatkan pengaruh negatif walaupun diberikan dalam jumlah banyak dan terus menerus, tetapi sebelum diberikan kepada ternak legum ini perlu dilakukan pelayuan terlebih dahulu dengan cara dijemur diatas lantai jemur atau alas tikar. Ternak yang belum terbiasa dengan daun Gamal perlu dilatih agar terbiasa dapat memakan daun Gamal sebagai kebutuhan pokoknya. Penggunaan daun Gamal (Gliricidia sepium) kurang disukai oleh ternak karena adanya bau seperti vanilla yang disebabkan oleh senyawa kumarin, khususnya pada daun yang masih basah (Dinas Peternakan, 1999). Gamal selain sebagai hijauan pakan ternak juga mempunyai banyak manfaat apabila ditanam dalam padang penggembalaan. Kegunaan lain dari legum ini adalah sebagai pemberantas alang-alang. Alang-alang akan binasa oleh naungan pohon gamal, hal ini disebabkan daun gamal memiliki akar yang dapat menembus tanah cukup dalam (Rossa, 1998). Kandungan Nutrien Gamal (Gliricidia sepium) diperlihatkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Kandungan Nutrien Gamal (Gliricidia sepium)

Kandungan Nutrien (%) Bahan Kering Protein Kasar 27 25.2 Serat Kasar 18 Ca (Calcium) 0.67 P (Phospor) 0.19 Sumber : Hendrawan, 2002

Karakteristik Rumput Raja (P. purpureum x P. thypoides)

Rumput Raja (King Grass) merupakan hasil persilangan antara P. purpureum dengan P. thypoides. Rumput ini dapat tumbuh di dataran rendah dengan tinggi (50- 1200 mdpl). Menurut Siregar (1988) batang yang digunakan untuk stek sebaiknya yang berumur cukup tua yaitu yang sudah berumur bulan, panjang stek kira-kira 25-

30 cm dan memiliki dua mata tunas. Rumput Raja (P. purpureum x P. thypoides) memiliki batang yang keras dengan daun berbulu kasar serta memiliki bercak berwarna hijau muda. Bentuk Rumput Raja (P. purpureum x P. thypoides) dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Bentuk Rumput Raja (P. purpureum x P. thypoides)

Sumber : Forages fact sheets, 2005

Penanaman rumput Raja (P. pupureum x P. thypoides) dengan menggunakan stek harus diperhatikan yaitu tunas jangan sampai terbalik. Stek dapat langsung ditancapkan setengahnya ke dalam tanah tegak lurus atau miring dengan jarak tanamnya 1 x 1 m, untuk penanaman dengan menggunakan sobekan rumpun, perlu dibuat lubang sedalam 20 cm (Rukmana, 2005). Waktu tanam yang baik adalah pada awal sampai pertengahan musim hujan. Produksi hijauan rumput Raja (P. purpureum x P.thypoides) dua kali lipat dari produksi rumput Gajah yaitu mencapai 200-250 ton rumput segar/hektar/tahun (Rukmana, 2005). Pertumbuhan rumput Raja (P. purpureum x P. thypoides) dapat mengalahkan rumput Gajah (BPTHMT Baturaden, 1989). Kandungan nutrien rumput Raja (P. purpureum x P. thypoides) diperlihatkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Kandungan Nutrien Rumput Raja (P. purpureum x P. thypoides)

Kandungan Nutrien (%)

Bahan Kering Protein Kasar

21,2 13,5

TDN (Total Digestible Nutrient) 54

Serat Kasar 34,1

Rumput sebagai Hijauan Makanan Ternak

Rumput memegang peranan penting dalam penyediaan pakan bagi ternak ruminansia di Indonesia. Rumput mengandung zat-zat makanan yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup ternak, seperti air, lemak, serat kasar, beta protein, mineral serta vitamin. Umumnya peternak di pedesaan masih bertumpu pada cara-cara tradisional dengan mengandalkan rumput lapang sebagai sumber utama pakan ternak dengan jumlah yang terbatas. Keterbatasan pakan dapat menjadi penyebab utama populasi ternak di suatu daerah menurun. Kemampuan peternak dalam penyediaan pakan akan menentukan jumlah ternak yang dipelihara (Hutasoit, 2009).

Teknik Pengeringan

Pengeringan merupakan salah satu cara dalam teknologi pangan yang dilakukan dengan cara pengawetan (Rukmana, 2005). Pengeringan dapat menghasilkan produk dengan satu atau lebih produk, tergantung tujuan produk yang diinginkan, misalnya bentuk fisik (bubuk, pipih atau butiran), warna, rasa, dan strukturnya (Mujumdar, 2008). Salah satu tujuan pengeringan adalah untuk mengurangi kadar air bahan sampai batas dimana perkembangan mikroorganisme dan kegiatan enzim yang dapat menyebabkan pembusukan terhambat atau terhenti. Bahan yang dikeringkan biasanya mempunyai waktu simpan yang lebih lama. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengeringan ada 2 faktor, yaitu : faktor yang berhubungan dengan udara pengering (suhu, kelembaban udara) dan faktor yang berhubungan dengan sifat bahan (ukuran bahan, kadar air awal) (Rukmana, 2005).

Pengeringan Matahari (Sun Drying)

Pengeringan matahari (sun drying) sering disebut juga sebagai pengeringan alami (Rukmana, 2005). Pengeringan matahari merupakan salah satu metode pengeringan tradisional, karena menggunakan panas yang berasal dari sinar matahari langsung. Pengeringan ini sangat rentan terhadap resiko kontaminasi lingkungan, sehingga bahan yang akan dikeringkan harus dilindungi dari serangan serangga dan sebaiknya ditutup pada malam hari. Pengeringan matahari juga sangat tergantung pada iklim dengan matahari yang panas dan udara atmosfer yang kering (Frazier, 1988). Bentuk hasil pengeringan hijauan dengan menggunakan sinar matahari dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Bentuk Hasil Pengeringan Hijauan dengan Menggunakan Sinar Matahari

Sumber : Dokumentasi Penelitian

Pengeringan Oven (Oven Drying)

Oven adalah alat untuk memanaskan, memanggang dan mengeringkan. Oven dapat digunakan sebagai alat pengering apabila dengan kombinasi pemanas dengan humidity rendah dan sirkulasi udara yang cukup. Pengeringan menggunakan oven (oven drying) lebih cepat dibandingkan dengan pengeringan menggunakan matahari akan tetapi, kecepatan pengeringan tergantung dari tebal bahan yang dikeringkan. Kelebihan pengeringan menggunakan oven diantaranya dapat dipertahankan dan diatur suhunya selain itu, dapat melindungi bahan pangan dari serangan serangga dan debu (Hui, 2007). Pengeringan dengan menggunakan oven tidak disarankan untuk pengeringan bahan pangan karena sulit untuk mengontrol suhu rendah dan pangan yang dikeringkan lebih rentan hangus (Hughes and Willenberg, 1994). Salah satu contoh pengeringan dengan menngunakan oven dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Pengeringan dengan Menggunakan Oven

Hasil Penelitian tentang Pengeringan

Menurut Krissetiana (1996) pengeringan labu kuning dengan menggunakan matahari dapat dilakukan selama 4-6 hari, hal ini disebabkan pengeringan matahari sangat tergantung pada cuaca, namun apabila pengeringan dilakukan dengan menggunakan oven 50°C waktu pengeringan yang diperlukan hanya 48 jam.

Penelitian Hove et al., (2003) menunjukkan bahwa perbedaan teknik pengeringan dengan menggunakan metode pengeringan di bawah naungan, matahari langsung dan oven dapat menghasilkan terjadinya perbedaan kandungan nutrien pada tanaman semak Akasia dan Kaliandra. Penelitian lain untuk mengetahui efek pengeringan terhadap tanaman rami menunjukkan bahwa pengeringan matahari 21 jam dan pengeringan efek rumah kaca 14 jam dapat menghasilkan hay dengan kandungan bahan kering (BK) >86% atau kadar air (KA) <14%. Suhu pengeringan 50, 60, dan 70°C pada oven juga menghasilkan hay dengan kandungan bahan kering (BK) >86% atau kadar air (KA) <14% (Noveni, 2009).

Menurut Herniawan (2010) lama waktu pengeringan dengan menggunakan teknik pengeringan matahari/penjemuran dan efek rumah kaca (ERK) memberikan pengaruh terhadap peningkatan kadar abu air, abu, serat kasar, protein, total HCN, total mikroba dan kelarutan tepung kasava, namun menyebabkan penurunan kadar lemak, karbohidrat, pati tepung kasava. Akan tetapi lama waktu pengeringan tidak memberikan pengaruh tehadap ph, derajat warna dan minyak. Penelitian Wadli (2005) menyebutkan bahwa pada pengeringan rumput laut (Eucheuma sp) dengan menggunakan alat pengering rumah kaca, laju penurunan kadar air disebabkan oleh suhu udara yang tinggi. Semakin tinggi suhu udara menyebabkan kelembaban relatif menurun, sehingga kemampuan menyerap dan menampung uap air lebih banyak, hal ini menyebabkan proses pengeringan berjalan cepat. Semakin rendah kadar air rumput laut (Eucheuma sp) maka umur simpan dan daya tahan terhadap kemungkinan rusaknya bahan akibat mikroorganisme pembusuk semakin lama.

MATERI DAN METODE

Dokumen terkait