• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adapun beberapa penelitian terdahulu yang penulis temukan, terkait dengan pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan ‘Aisyah r.a sebagai berikut:

1. M.Ibadurrahman Skripsi yang berjudul “Perkawinan Usia Dini Perspektif Undang-Undang Perlindungan Anak (Study Kasus Di KUA Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal” Jurusan Akhwal al-Syahsiyah (As), Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri Walisongo Tahun 2015.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “1) Mengapa praktek perkawinan calon mempelai perempuan masih berumur 16 (enam belas) dan 17 (tujuh belas) tahun terjadi di KUA Kaliwungu? 2) Bagaimana Kebijakan KUA Kecamatan Kaliwungu dalam menangani hal tersebut dipandang dari Undang-Undang No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Hukum Islam?” penelitian ini

31Abdul Majid Khon, Tahrîj dan Metode Memahami Hadits (Jakarta: Amzah, 2014) h. 11-12 .

bertujuan untuk mengetahui Bagaimana Kebijakan KUA Kecamatan Kaliwungu dalam menangani hal tersebut dipandang dari Undang-Undang No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Hukum Islam?.

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research). dengan pendekatan pendekatan studi kasus dengan sumber data berasal dari kepala, penghulu dan penyuluh KUA Kecamatan Kaliwungu. Data di peroleh dengna menggunakan teknik interview dan dokumentasi. Data yang telah terkumpul kemudian di analisis deskriptif dengna tahapan reduksi, display dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Praktek perkawinan calon mempelai perempuan masih berumur 16 (enam belas) dan 17 (tujuh belas) tahun terjadi di KUA Kaliwungu dilakukan karena anggapan bahwa anak perempuan harus segera dinikahkan karena akan menjadi perawan tua jika tidak segera dinikahkan, selain itu hal yang lebih dominan praktek perkawinan ini terjkadi karena pergaulan bebas yang menyebabkan perempuan hamil duluan dan harus dinikahkan. 2) Kebijakan KUA Kecamatan Kaliwungu dari sudut pandang hukum islam sudah sesuai karena merujuk undang-undang No.1 Tahun 1974, Kompilasi hukum Islam, Peraturan Menteri Agama yakni calon suami sekurang-kurangnya 19 (sembilan belas) tahun dan calon isteri sekurang-kurangnya 16 (enam belas) tahun dan fiqih memperbolehkannya, jika dibawah 16 tahun maka pihak KUA tidak berani melaksanakan pernikahan, harus dapat rekomendasi dari Pengadilan Agama. Sedangkan dari sudut undang-undang perlindungan anak KUA perlu menggali lagi batas umur dan lebih memementingkan kematangan dari mempelai guna mewujudkan keluarga yang matang secara fisik maupun

mental guna mengarungi bahterai rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah.32

2. Asyiharul Mu’ala, Skripsi yang berjudul “Batas Usia Minimal Nikah Perspektif muhamadiyyah dan Nahdlatul Ulama” Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2012.

Penelitian ini membahas tentang batas usia minimal nikah menurrut pandangan Muhamadiyyah dan Nahdlatul Ulama’ (NU). Maraknya pernikahan pada usia muda di masyarakat menimbulkan pro dan kontra. Sebagaian kelompok menganggap bahwa pernikahan itu tidak memandang usia karena adanya sebuah hadis yang sudah popular tentang pernikahan Rasul SAW dan ‘Aisah r.a yang masih berusia sangat belia yaitu 6 atau 7 tahun. Sedangkan sebagian masyaraka yang lain memandang bahwa pernikahan pada usia teerlalu muda sangat rentan menimbulkan konflik karena belum adanya kesiapan fiisik ataupun mental dari pihak yang bersangkutan, sehingga pernikahan tersebut menarrik untuk dikaji lebih dalam apalagi dua organisasi terbesar di Indonesia yaitu Muhamadiyyah dan Nahdlatul Ulama, (NU) juga merespon masalah tersebut. Muhamadiyyah membahas permasalahan usia nikah dalam munas majlis tarjih dan tajdid di Malang pada tahun 2010 M/1431 H. Sedangkan NU membahasnya dalam muktamar NU di Makasar pada tahun 2010 M/1431 h. Penyusun dalam penelitian ini pada dasarnya melakukan penelitian kepustakaan dengan menggunakan pendekatan Ushuly untuk menganalisa metodologi yang digunakan kedua organisasi tersebut dalam memutuskan permasalahan usia nikah. Bahan primer

32M. Ibadurrahman, “Perkawinan Usia Dini Perspektif Undang-Undang Perlindungan Anak (Study Kasus Di KUA Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal”. (Skripsi Jurusan Akhwal Al Syahsiyah (As), Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri Walisongo Tahun 2015.). h. ii.

dari penelitian ini adalah keputusan munas majlis tarjih dan tajdid di Malang pada tahun 2010 M/1431 H. dan muktamar NU di Makasar pada tahun 2010 M/1431 H. disamping itu, buku, kitab, dan karya tulis yang berkaitan dengan permasalahan tersebut menjadi bahan sekunder dari penyusunan skriipsi ini. Untuk melngkapi dan menyempurnakan penelitian ini, penulis juga melakukan wawancara dengan beberapa tokoh dikedua organisasi tersebut.

Penyusun membandingkan antara pandangan muhamadyyah dan NU tentang batas minimal usia nikah. Muhamadyyah cenderung lebih sepakat dengan UU nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan yang memberikan batasan jelas bagi laki-laki dan perempuan yang ingin melakukan prnikahan. Muhamadyyah dalam menetapkan hukumnya, mengkritiisi hadis tentang pernikahan ‘Aisyah r.a dengan mengatkan bahwa dalam hadis tersebut, terdapat perawi yang dipertanyakan ingatannya karena sudah masuk usia lanjut. Muhamadyyah juga mengatakan bahwa prnikahan merrupakan sebuah ritual yang harus dipersiapkan secara matang baik fisik maupun mental dari kedua pengantin, karrena dengan pernikahan seseorang secara otomatis mendapatkan hak dan sekaligus memiliki kewajiban yang harus dilaksanakan. Sedangkan NU dengan metode istimbatnya yang selalu menggunakan pendapat ulama terdahulu, melihat perundang-undangan di Indonesia yang mengatur tentang batasan usia menikah, tidak relevan dengan pendapat para ulama terdahulu dalam karya-karya klasiknya. Sehingga NU tidak membrikan batasan minimal usia nikah. Namun hal yang paling mendasar tentang persyaratan bolehnya menikah ialah ketika

kemaslahatan bisa diraih oleh pihak-pihak yang terkait dengan pernikahan tersebut.33

Skripsi ini berbeda dengan skripsi skripsi sebelumnya, focus penelitia skripsi ini terletak pada sanad dan matan untuk menentukan kualitas hadits yang berkaitan mengenai hadits tentang pernikahan dini dalam perspektif hadits studi hadits pernikahan ‘Aisyah r.a dengan Nabi SAW.

33Asyiharul Mu’ala, “Batas usia Minimal Nikah Perspektif muhamadiyyah dan Nahdlatul Ulama”. (Perbandingan Mazhab dan Hukum Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2012..). h. ii.

BAB II

NIKAH MENURUT PERSPEKTIF HUKUM ISLAM