Wilayah diambil dari bahasa arab (etimologis), akar kata terdiri dari wala, waliy yang berarti saling tolong menolong. Istilah tolong menolong dapat diartikan saling memperkuat, dengan kata lain terjadi proses pendauran dan siklus. Proses pendauran atau siklus bisa terjadi jika ada interaksi antar wilayah. Istilah daerah diambil dari akar kata dairah dan idarah (bahasa Arab). Idarah berarti manajemen atau administratif. Istilah daerah terkait dengan pemerintahan dan pengaturan yang dibuat oleh pemimpin dalam satu daerah yang dibatas oleh sistem administrasi. Kawasan berasal dari kata khash (bahasa arab), secara etimologi berarti kekhasan atau dengan kata lain memiliki karakteristik tertentu. (Saefulhakim, 2005).
Wilayah dalam istilah bahasa inggris diambil dari 3 bahasa yaitu region yang berarti daerah urban (perkotaan) dan rural (perdesaan), kedua diambil dari kata spatial yang terkait dengan segala entitas yang terdapat dalam ruang (space) dan yang ketiga adalah lokasi (locality) yang berarti aktifitas tertentu dalam lokasi. Perdesaan adalah suatu wilayah dengan aktifitas utama adalah pertanian dan pengelolahan sumberdaya alam. Perkotaan adalah aktifitas utamanya adalah jasa. Ilmu wilayah menekankan 3 aspek ilmu yaitu ilmu ekonomi dan sosial, ilmu ruang (geografi) dan teknik kuantitatif sebagai pendekatan utama dan pendekatan kualitatif sebagai pendekatan pendukung.
Ada 4 pendekatan penting dalam rangka membangun falsafah Ilmu wilayah (regional science). Keempat pendekatan dimulai dengan pertanyaan what (apa), where dan why (mengapa) dan so what (jadi mengapa), pertama what yang menyangkut untuk setiap tipe aktivitas ekonomi, tidak hanya hasil produksi yang hanya terbatas dalam pabrik perusahaan, farm (pertanian) tetapi berbagai macam bisnis, household (rumah tangga) dan private serta institusi publik. Where menyangkut lokasi dalam menghubungkan aktifitas ekonomi lain, melibatkan pertanyaan berdasarkan kedekatan, konsentrasi tempat, dispersion dan kemiripan atau disparitas pada pola spasial (Hoover dan Giarratni, 1999).
Suatu daerah yang memiliki rasio outflow terhadap total produksi melebihi rata-rata dan rasio inflow terhadap total permintaan akhir dalam satu wilayah juga melebihi rata-rata untuk semua wilayah disebut wilayah yang memiliki interdependent perdagangan. Sementara wilayah yang memiliki rasio outflow terhadap total produksi yang melebihi rata-rata tetapi rasio inflow yang di bawah rata-rata untuk semua wilayah disebut dengan wilayah yang memiliki hubungan outflow-dependent. Selanjutnya suatu wilayah yang memiliki rasio outflow terhadap total produksi di bawah rata-rata dan rasio inflow terhadap permintaan akhir untuk semua wilayah juga di bawah rata-rata disebut dengan wilayah selfcontained. Wilayah yang memiliki rasio inflow terhadap total permintaan akhir di atas rata-rata untuk semua wilayah tetapi memiliki rasio outflow terhadap total produksi yang di bawah rata-rata disebut dengan inflow-dependent.
Simetrik dan Asimetrik Wilayah
Ilmu wilayah memiliki dimensi utama (core) interaksi fungsional (spasial), kedekatan/kemiripan antar bagian (variasi spasial) atau biasa disebut dengan spatial disparity, siklus tertentu perputaran kehidupan (life cycle) (ekologis dan ekonomi) atau dengan kata lain dinamika spasial dan kekhasan lokal (uniqeness) atau (spatial specificacy).
Ilmu wilayah tidak hanya melihat indikator pertumbuhan dan agregat ekonomi sebagai faktor utama kemajuan dalam lingkup negara. Prinsip keterkaitan dan keterpaduan menjadi hal penting dalam wilayah. Pertumbuhan ekonomi wilayah tidak menyebabkan ketimpangan antara wilayah tetapi justru memberi pengaruh positif terhadap pertumbuhan wilayah lain. Dalam hal ini interaksi antara wilayah harus terkait dan terpadu. Wilayah yang tidak merasakan dampak terhadap kemajuan wilayah lain mengindikasikan interaksi wilayah tidak saling memperkuat melainkan saling memperlemah (Azis , 1994).
Rustiadi et al (2009) menyatakan bahwa intsrumen yang perlu untuk diemplementasikan dalam rangka menciptakan keterkaitan wilayah yang kuat adalah (1) mendorong pemerataan investasi, (2) mendorong pemerataan permintaan dan (3) mendorong pemerataan tabungan.
Keterkaitan antar wilayah perlu didukung dengan regulasi kebijakan antar daerah. Regulasi tersebut dibangun secara bersama antar daerah yang memiliki aliansi strategik. Namun kerjasama tersebut seringkali terkendala pada persoalan kepercaayaan (trust). Rendahnya kepercayaan yang dimiliki oleh pihak yang berwenang menjadi penghambat yang besar dalam membangun kerjasama antar daerah. Mistrust menjadi biaya yang besar untuk menciptakan keterkaitan antar wilayah.
Fukuyama (1999) mengatakan bahwa besarnya biaya transaksi pembangunan salah satu penyebabnya adalah karena rendahnya kepercayaan pada pihak yang akan bekerjasama. Kerjasama yang dilakukan oleh berbagai pihak berusaha untuk membuat legalitas hukum yang rumit dengan biaya yang sangat besar. Lebih jauh, pihak tersebut menyewa beberapa ahli dan pengawas untuk menjamin jalannya kerjasama tersebut. Oleh karena itu, kerjasama antar daerah seyogyanya dibangun berlandaskan kepercayaan yang tinggi antar pemerintah daerah.
Rustiadi (2009) mengatakan bahwa beberapa implikasi pembangunan yang tidak berimbang adalah (1) disparitas pendapatan dan infrastruktur, (2) disparitas desa-kota terkait dengan standar hidup, (3) peran kota yang semakin dominan dan (4) adanya kecendrungan migrasi ke kota.
Upaya penanggulangan disparitas antarwilayah dapat dilakukan dalam beberapa tahap yaitu (1) redistribusi aset, (2) pengembangan lembaga dan pasar finansial, (3) kebijakan insentif lapangan kerja, (4) kebijakan insentif nilai tukar untuk meningkatkan nilai tukar pertanian dan (5) pengendalian kebijakan perpajakan dan monitoring pada lalu lintas devisa dan modal.
Upaya tersebut dalam rangka memperkuat basis sumberdaya dan mengembangkan ekonomi berbasis lokal yang bernilai tambah. Pengendalian kebijakan dalam lalu lintas modal sangat penting untuk membatasi arus modal di desa menuju kota. Jika arus modal ini tidak terkendali akan berpotensi
menciptakan kebocoran wilayah. Pengendalian arus modal dimaksudkan untuk melakukan reinvestasi di daerah tertinggal atau desa sebagai langkah dasar menciptakan keberimbangan pembangunan.
Langkah lain yang fokus untuk menciptakan keberimbangan antar wilayah adalah dengan mengedepankan perencanaan yang berbasis pengetahuan sebagai landasan keputusan dan kebijakan politik. Persoalan pembangunan seringkali lebih mengutamakan arus kepentingan politik untuk mempertahankan dan memperluas kekuasaan tanpa dibarengi dengan ilmu pengetahuan. Akhirnya yang terjadi “kesemrawutan” pembangunan wilayah.
LeSage (dalam Seafulhakim 2008) menyatakan bahwa pembangunan wilayah harus memperhatikan fenomena keterkaitan/ ketergantungan antar lokasi seperti ini diformalisasikan dalam berbagai konsep, antara lain: (1) interaksi spasial (spatial interaction), (2) difusi spasial (spatial diffusion), (3) hirarki spasial (spatial hierarchies), dan (4) aliran antar daerah (interregional spillover).
Saefulhakim (2008) Kekuatan-kekuatan pengendali (driving forces) dari berbagai fenomena keterkaitan ini bisa terdiri atas beberapa faktor, antara lain: (1) sistem geografi fisik sumberdaya alam dan lingkungan, (2) sistem ekonomi, (3) sistem sosial budaya, dan (4) sistem politik. Variabel yang diamati pada dua lokasi yang: (1) bertetangga, (2) berdekatan, (3) terkait, atau (4) bermitra, dapat berkorelasi lebih kuat, dibandingkan dengan variabel yang diamati pada dua lokasi yang tidak demikian. Dengan kata lain autokorelasi spasial (Spatial Autocorrelationship) dari variabel antar dua lokasi yang: (1) bertetangga, (2) berdekatan, (3) terkait, atau (4) bermitra, tersebut lebih kuat dibandingkan dengan variabel yang diamati pada dua lokasi yang tidak demikian. Matriks kontiguitas spasial dibangun untuk mengakomodasikan berbagai fenomena autokorelasi spasial.
Aglomerasi Ekonomi
Kuncoro (2002) salah satu pendorong disparitas pembangunan wilayah karena ada spesialisasi dan aglomerasi industri manufaktur. Ia menegaskan bahwa aglomerasi industri besar sangat terkonsentrasi di wilayah Pulau Jawa. Aglomerasi berkembang pesat di Wilayah Jabodetabek dan Surabaya. Wilayah tersebut menjadi daya tarik aglomerasi yang kuat sehingga cenderung menyebabkan ketimpangan antar daerah.
Bradley dan Gans (1996) menyatakan bahwa aglomerasi terwujud karena faktor kedekatan aktifitas ekonomi secara geografis. Akibatnya aglomerasi memberikan efek pertumbuhan daerah dimana kegiatan aglomerasi. Daerah yang memiliki aktifitas aglomerasi cenderung memiliki pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih besar dari pada daerah yang tidak memiliki aktifitas aglomerasi. Akibatnya aglomerasi ekonomi menjadi awal mula terjadinya ketimpangan ekonomi.
Aktifitas ekonomi pada suatu perusahaan yang baik adalah perusahaan yang memiliki akses pasar dan pasokan yang lebih baik sehingga mampu membayar upah 20% lebih besar dari pada perusahaan yang tidak memiliki akses pasar dan pasokan yang baik (terutama perusahaan yang berada di wilayah periphery). Lebih lanjut manfaat hubungan vertikal antar perusahaan sangat bersifat khas dan lokalitas. Manfaat akses pasar sebesar 10% hanya menyebar
pada jarak 108 Km, sementara manfaat akses pasokan hanya menyebar pada jarak 262 Km. Perusahaan yang berada di luar Pulau Jawa terlalu jauh untuk mendapatkan keuntungan dari aglomerasi industri di pulau utama jawa. Selanjutnya manfaat dari aglomerasi yang besar menyebabkan perusahaan enggan untuk beralih ke daerah yang memiliki upah rendah (terutama daerah periphery). Hal ini menjadi faktor penyebab mengapa pemerintah sangat kesulitan untuk memperluas wilayah ekonomi pada daerah yang belum berkembang dengan baik aktifitas ekonominya. (Amita dan Cameron, 2004)
Mendoza (2002) globalisasi ekonomi cenderung menginginkan re- lokalisasi aktifitas ekonomi manufaktur. Akibatnya lokalisasi (spesialisasi) menimbulkan peningkatan aglomerasi manufaktur dan urbanisasi. Aglomerasi memiliki dampak positif terhadap pertumbuhan manufaktur diwilayah utara Mexico. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksternalitas disebabkan oleh spesialisasi industri mendorong pertumbuhan tenaga kerja di wilayah tersebut dalam kurun waktu 1988-1993. Nilai koefisien dari spesialisasi mampu menjelaskan pertumbuhan tenaga kerja manufaktur di wilayah tersebut. Penting untuk ditekankan bahwa variabel dependen secara positif dipengaruhi level tenaga kerja dalam Tahun 1993. Perluasan industri manufaktur mendorong pesatnya perkembangan daerah. Aglomerasi industri sangat mempengaruhi backward- forward lingkage antara perusahaan dan faktor-faktor produksi di pusat perkotaan. Dampak aglomerasi kecil tetapi positif dan memungkinkan pasar tenaga kerja terkumpul di kota.
Efek spesialisasi menjadi pendorong yang kuat terhadap urbanisasi untuk mencari pekerjaan di kota. Tenaga kerja yang memiliki keterampilan di desa terpicu oleh modernisasi perusahaan yang berada di wilayah perkotaan sehingga mendorong peningkatan perpindahan penduduk ke wilayah spesialisasi. Tenaga kerja terampil di desa menjadi berkurung sepanjang tahun karena keahliannya belum tertampung di desa. Sementara Perusahaan atau aktifitas ekonomi baru lebih cenderung memilih dan mempertahankan aglomerasi karena pertimbangan efisien dan persediaan tenaga kerja terampil. Situasi ini menjadi awal mula menimbulkan dampak backwash effect.
Keterkaitan Ekonomi Kasus Daerah
Keragaman ekonomi dan kondisi sosial indonesia cukup besar, tetapi pertumbuhan ekonomi dan progres sosial belum terjadi secara merata. Belum ada perubahan secara signifikan pada aktifitas ekonomi beberapa daerah di Indonesia. Kegiatan ekonomi masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Bali dengan perkiraan 60% sementara di Pulau Sumatra aktifitas ekonomi berkisar 20%, selebihnya berkisar 17% terjadi dibagian timur Indonesia. Wilayah Jabodetabek dan sekitarnya tetap menjadi aglomerasi ekonomi utama Indonesia. Disparitas antar daerah juga cenderung mengalami peningkatan sepanjang Tahun 1975-2004 (PDRB tanpa tambang) sehingga tidak terjadi konvergensi hanya pengeluaran rumah tangga yang menunjukkan konvergensi ekonomi yang lemah (Hill, Resosudarmo dan Vidyattama, 2008).
Priyarsono dan Rustiadi (2010) juga memperoleh hasil riset yang sama dengan temuan Hill, Resosudarmo dan Vidyattama (2008) yaitu perbedaan wilayah jawa dan luar jawa secara relatif tidak mengalami perubahan dan pergeseran yang cukup besar dari waktu ke waktu. Periode tahun 2000 hingga 2007 pertumbuhan ekonomi di wilayah jawa secara konsisten selalu lebih tinggi dari pada wilayah di luar jawa dan tidak ada perubahan siginifikan dalam polo hubungan antara luar jawa dan jawa dalam pembangunan. Disparitas pembangunan juga terjadi di dalam provinsi jawa, dimana Jabodetabek jauh lebih berkembang dari pada wilayah diluar Jabodetabek. Disparitas pembangunan tertutama nampak terlihat pada aktifitas dan pertumbuhan ekonomi sangat ekspansif dibanding wilayah di luar Jabodetabek.
Dasril (1993) Pendekatan struktural dimana perubahan komponen permintaan mampu merespon pertumbuhan dan perubahan struktur produksi. Metode yang digunakan adalah Metode IO dengan data 1985 selanjutnya di RAS ke Tahun 1990 untuk memperoleh indeks. Hasil penelitian diantaranya sektor pertanian memiliki keterkaitan kebelakang maupun kedepan yang cenderung meningkat walaupun masih lemah. Lemahnya keterkaitan tersebut mengindikasikan bahwa industri pengolahan pertanian dihilir belum cukup berkembang. Akibatnya kesempatan kerja di sektor pertanian semakin menurun sehingga mendorong angka pengangguran. Pengembangan industri pertanian dinilai sangat potensial untuk menarik sektor pertanian ke level industrialisasi. Kegiatan industri pengolahan pertanian akan mendorong penyerapan tenaga kerja, pasar bagi komoditi pertanian, kemampuan ekspor yang meningkat dan menurunkan impor.
Wakhidin (2005) hasil penelitian bahwa pola pengalokasian anggaran Kabupaten Indramayu belum optimal pada penciptaan output, tenaga kerja dan pajak. Alokasi anggaran masih banyak terdistribusi pada anggaran rutin yang dampaknya pada penciptaan output, tenaga kerja dan pajak rendah, anggaran lebih banyak fokus pada kegiatan yang tidak memiliki potensi mendorong produktifitas ekonomi. Optimalisasi pengalokasian anggaran dapat meningkatkan output, tenaga kerja dan pajak berkisar antara 0.27 hingga 2.54%.
Antara (1999) Penelitian tentang kinerja perekonomian bali dengan Metode SAM menemukan hasil bahwa produksi tanaman pangan memberikan efek neraca institusi. Peningkatan produksi pada padi mendorong peningkatan industri alat angkutan, sementara peningkatan produksi pada jagung berperan meningkatkan permintaan industri makanan/minuman dan jasa. Komoditas buah – buahan juga berefek pada sektor produksi, neraca institusi dan pendapatan faktor produksi. Produksi tanaman perkebunan seperti kelapa, tembakau, kopi dan tanaman perkebunan lainnya, secara umum mendorong peningkatan produk- produk industri makanan/minuman tembakau, industri kimia, industri alat angkutan, jasa perdagangan, jasa transportasi dan jasa keuangan. Fakta tersebut menunjukkan bahwa efek pengganda pertanian dalam arti luas, industri, dan jasa memiliki keterkaitan dalam mendorong peningkatan faktor produksi, pendapatan rumah tangga dan permintaan output sektor produksi lainnya.
Setiawan (2006) Hasil bahwa inter-regional pertumbuhan sektor industri makanan, minuman dan tembakau di Provinsi Jawa Timur (dari segi nilai tambah bruto dan penciptaan lapangan pekerjaan) lebih kuat pengarunya di Provinsi Nusa Tenggara Barat daripada di Provinsi Bali. Sektor unggulan di Provinsi Bali
(Perhotelan) dampak lebih besar terjadi di Provinsi Jawa Timur daripada Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pertumbuhan sektor unggulan di Provinsi Nusa Tenggara Barat berdampak lebih besar terjadi di Provinsi Jawa Timur daripada Provinsi Bali baik dari sisi nilai tambah maupun penciptaan lapangan pekerjaan. Dampak inter- regional mengindikasikan adanya keterkaitan dan efek nilai tambah yang berbeda. Setiap daerah memiliki sektor unggulan yang perlu untuk difokuskan dan dikembangkan karena berimplikasi pada pertumbuhan output, tenaga kerja dan nilai tambah.
Hendranata (2002) Melakukan penelitian input output dengan model kombinasi input-output dengan ekonometrika. Parameter persamaan diduga dengan OLS dan Autoregressive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi perekonomian indonesia relatif stabil dan cenderung meningkat Tahun 2003. Peranan konsumsi dan industri manufaktur masih sangat dominan menghasilkan output dan pendapatan. Sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan merupakan sektor terbesar dalam menyerap tenaga kerja. Dampak kebijakan realokasi anggaran lebih baik daripada APBN 2012 dimana sektor perkebunan memberikan kontribusi terbesar dalam menciptakan multiplier output dan pendapatan yang tinggi. Industri makanan, minuman, tembakau memberikan kontribusi terbesar dalam mendorong terciptanya multiplier tenaga kerja yang tinggi.
Hastoto (2003) melakukan analisis disparitas pembangunan regional di Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo. Salah satu metode yang digunakan adalah menggunakan model gravitasi. Salah satu hasil penelitian adalah interaksi spasial yang kuat adalah antara Kabupaten Minahasa, Kota Manado dan Kota Bitung. Kota Manado dan Kota Bitung mampu menarik daerah penyangga yaitu Kabupaten Minahasa menjadi lebih berkembang. Berbeda halnya di Provinsi Gorontalo, interaksi spasial yang kuat antara Kota Gorontalo dengan Kabupaten Gorontalo dan Boalemo belum mampu menarik kedua kabupaten penyangga tersebut menjadi daerah yang berkembang.
Wadji (2011) menganalisis ketimpangan wilayah di Provinsi Sulawesi Selatan dengan salah satu metode yang digunakan adalah model indeks entropy dengan kendala ganda. Hasill analisis menunjukkan bahwa interaksi sangat dipengaruhi oleh aktifitas ekonomi di Sulawesi Selatan. Jarak menjadi faktor yang sangat mempengaruhi kuatnya interaksi dimana semakin kecil jarak maka peluang interaksi semakin besar. Peningkatan infrastruktur pendidikan, kesehatan dan sosial juga akan mendorong pengaruh interaksi.
Legowo (2009) menganalisis keterkaitan infrastruktur di wilayah Jabodetabek dengan menggunakan data time series 1990-2006 dan mencakup 4 aktifitas ekonomi sektor yaitu perdagangan, pengangkutan, perumahan dan industri. Model persamaan dan estimasi yang digunakan adalah metode 2SLS dengan simulasi model SIMNLIN. Hasil penelitian dari beberapa skenario adalah bahwa investasi tol ditiap wilayah meningkatkan pertumbuhan ekonomi (kecuali di wilayah bekasi), sebaliknya kebijakan investasi jalan raya menurunkan PDRB di hampir seluruh wilayah.
Lumaksono (2011) menganalisis dampak ekonomi pariwisata internasional pada perekonomian Indonesia dengan menggunakan metode ekonometrika dan input-output. Salah satu hasilnya yang peroleh adalah sektor perdagangan memiliki daya penyebaran tertinggi atau daya dorong yang paling kuat
dibandingkan sektor lainnya. Indeks sektor perdagangan 2.94, yang berarti perubahan 1 output sektor perdagangan menyebabkan output sektor lain mencapai 2.94. Sektor yang memiliki indeks kepekaan yang tinggi adalah sektor minyak dan lemak. Nilai indeks kepekaan sektor tersebut adalah 1.29. Hasil lainnya adalah permintaan barang dan jasa akan meningkat disaat terjadi peningkatan pariwisata. Peningkatan tersebut berdampak pada meningkatnya kontribusi tenaga kerja yang lebih besar dibandingkan peningkatan kontribusi produk nasional maupun nilai tambah bruto. Sebaliknya penurunan pariwisata akan menurunkan kontribusi tenaga kerja pariwisata. Hasil tersebut menunjukkan bahwa dampak pariwisata pada perekonomian indonesia terhadap sektor ekonomi bersifat padat karya.
Keterkaitan dan Interaksi Ekonomi Beberapa Negara
Kilkenny (2010) penelitian ini menguji kekuatan pasar dan kegagalan pasar yang menyebabkan desa semakin distress. Issu yang menarik adalah memerlukan teori inovasi tentang desa, urban, regional dan ekonomi spasial untuk menjadi bahan acuan. Hasil estimasi menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan terhadap spatial gradient terhadap tenaga kerja. Pendapatan nominal dan sewa secara dramatis menurun terhadap faktor jarak dari pusat urban. Pemerintah Amerika mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk mengatasi non farm rural economic development programs. Program tersebut dalam rangka menyediakan akses pasar, air minum, sanitasi, pendidikan, public safety dan pelayanan hukum.
Trinh et al (2000) menganalisis dampak pengganda ekonomi terhadap modernisasi di beberapa daerah di Vietnam. Pendekatan dan metode yang digunakan adalah Multi-Regional Input Output (MRIO) dengan mengagregasi total sektor menjadi 10 sektor ekonomi. Wilayah yang menjadi obyek penelitian sebanyak 10. Studi ini mengestimasi aliran perdagangan, perdagangan luar negeri, aliran barang dan jasa beragam sektor ekonomi antar wilayah. Hasil estimasi menunjukkan bahwa jika tanpa induksi, food processing dan Light manufacturing memiliki pengaruh yang paling besar terhadap sektor lain. Apabila induksi diterapkan maka agriculture dan food processing memiliki dampak yang paling besar terhadap sektor lain. Formasi Gross Capital Fixed dan ekspor merupakan 2 komponen dalam permintaan akhir yang berdampak paling besar pada produksi di seluruh wilayah yang dianalisis. Ekspor dinilai sebagai bagian penting untuk membuka perekonomian Vietnam agar bisa lebih maju lagi.
Kwangmoon (2011b) Melakukan penelitian perdagangan bilateral antara Negara Thailand dan Vietnam dengan menggunakan metode IRIO. Asumsi yang digunakan adalah (1) asumsi pertama adalah koefisien teknologi setiap negara stabil, (2) koefisien perdagangan bilateral stabil (dalam jangka pendek). Hasil analisis menunjukkan bahwa pola perdagangan antar negara masih sangat lemah dibandingkan dengan rest of the world (ROW). Akibatnya pengaruh spillover dan feedback diabaikan. Hasil interdependence antar negara menunjukkan bahwa backward dan forward linkages Negara Thailand lebih besar dibandingkan Negara Vietnam. Hal tersebut mengindikasikan bahwa Negara Thailand lebih bergantung pada input industri dari negara sendiri daripada input impor dari Negara Vietnam. Hal yang menarik dalam penelitian ini adalah Negara Thailand lebih banyak menggunakan input impor (ROW) untuk menghasilkan produk ekspor barang dan
jasa dibandingkan Negara Vietnam. Kondisi ini tersebut menunjukkan bahwa Negara Thailand lebih besar potensi kebocoran ekonomi di bandingkan Vietnam
Deitzenbacher dan Temurshoev (2012) menganalisis apa yang membedakan dampak input output jika data yang digunakan harga konstan atau harga berlaku (Agregasi sektor dari 130 jadi 56 sektor). Penelitian ini, secara khusus menghitung output bruto harga konstan dan tenaga kerja yang diperlukan untuk vektor eksogen terhadap harga saat ini. Perhitungan simulasi pertama adalah dengan hanya menggunakan harga berlaku dengan PDRB deflator, perhitungan simulasi kedua adalah menggunakan harga konstan dengan permintaan akhir deflator dan ketiga menggabungkan harga dasar dengan harga berlaku untuk mendapatkan harga indeks. Hasil yang diperoleh dengan menggunakan ketiga metode simulasi tersebut relatif sama untuk output dan tenaga kerja. Hasil simulasi pertama menunjukkan bahwa output bruto pada harga berlaku perlu dikurangi dengan deflator output bruto untuk menemukan output yang sesuai dengan harga konstan. Kedua, apabila data harga konstan tersedia, maka data tersebut direkomendasikan untuk digunakan dalam analisis. Vektor eksogen permintaan akhir dalam harga saat ini perlu dikurangi dengan permintaan akhir deflator. kemudian, vektor stimulus permintaan akhir digunakan untuk memprediksi output bruto berdasarkan harga konstan. Hasil dari metode tersebut memiliki hasil yang sama pada level total output bruto dan tenaga kerja tetapi pada sektor yang kontribusinya kecil terdapat selisih 3,5% terhadap total output bruto.
Freeman dan Felsenstein (2007) Penelitian mengembangkan metode IO sebagai insturmen meramal permintaan dan perkembangan Hotel. Pendekatan MRIO yang ditambah dengan matriks investasi pada 6 lokasi di Israel untuk setiap hotel berbintang empat. Model mengestimasi (mendamaikan) disparitas tingkat pengembalian aktual dan diharapakan. Sisi wilayah, output hotel setiap wilayah berbeda. Hasil estimasi menunjukkan bahwa tanpa ada pembangunan hotel yang baik maka pembangunan industri hotel tidak akan lebih baik. Sektor hotel memberikan dampak pada peningkatan pariwisata, perdagangan (tranportasi udara, rental mobil, restoran dan catering)
Keller dan Shiue (2007) menggali bagaimana pola perdagangan secara spasial di China pada abad ke 18 . Penelitian mengunakan metode spasial (spasial regression, local dan Spatial Autocorrelation) untuk mendeteksi dan menganalisis pola perdagangan harga beras China dengan mengambil sampel 10 dari 121