• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Perkembangan Perjudian di Indonesia

Perjudian adalah sebuah permainan yang digandrungi di seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia. Sejarah mencatat, dari penggalian arkeolog di Mesir ditemukan sejenis permainan judi yang diduga berasal dari tahun 3500 SM. Pada lukisan makam dan keramik terlihat orang yang sedang melempar astragali, yaitu tulang kering di bawah tumit domba atau anjing yang disebut pula tulang buka kaki. Ada juga papan pencatat untuk melihat nilai pemain. Tulang ini memiliki sisi yang tidak rata. Setiap sisi memiliki nilai tersendiri. Astragali juga dimainkan oleh penduduk Yunani dan Romawi yang membuat tiruannya dari batu dan logam.13

Permainan dadu juga sudah ada jauh sebelum masehi. Ada dadu yang terbuat dari tulang, namun lebih banyak tembikar atau kayu. Dadu tertua yang dibuat berumur 3000 SM, berasal dari Irak dan India. Orang kuno juga berjudi dengan menggunakan sebatang tongkat kecil. Dalam cerita Mahabharata dapat diketahui bahwa Pandawa kehilangan kerajaan dan dibuang ke hutan selama 13 tahun karena kalah dalam permainan judi melawan Kurawa.14

13

Di Indonesia sendiri, permainan yang mengandung unsur taruhan ini telah ada sejak zaman dulu. Judi tradisional yang terkenal adalah judi sabung ayam. Para penduduk akan mempertaruhkan hartanya sebagai taruhan dalam berjudi. Perkembangan judi di Indonesia dimulai pada masa penjajahan VOC. Pemerintah Hindia Belanda di Batavia (Jakarta) memberikan izin kepada para Kapten Tionghoa untuk membuka dan mengurus rumah judi untuk memperolah pajak yang tinggi dari pengelolaan rumah judi tersebut. Rumah judi yang didirikan dapat berada di dalam benteng ataupun di luar benteng kota Batavia. Pada masa itu judi yang terkenal ada judi dadu dan kartu. Judi lotere yang berasal dari Eropa baru masuk pada abad 19.15

Menurut Kartini Kartono, sejak tahun 1960-an sampai tahun 1981 judi bermunculan seperti cendawan di musim hujan. Baik legal maupun yang ilegal dan mencapai puncaknya pada tahun 1977. Judi tersebar hampir di seluruh kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang dan Makassar. Bentuknya juga bermacam-macam. Ada yang berbentuk kasino, lotto fair, stand- stand adu nasib dengan wajah permainan, stand kim dan mesin jackpot. Ada yang bersifat lokal dan kecil-kecilan, ada juga yang besar, mewah dan berkaliber internasional. Namun sejak 1981 segala bentuk perjudian dilarang oleh pemerintah. Namun prakteknya hingga kini perjudian masih tumbuh di Indonesia.16

Dalam harian Suara Merdeka terbitan Senin 19 Januari 2004

17

15

diuraikan latar belakang sejarah panjang mengenai judi di Indonesia.

September 2016

16 Kartini Kartono, Op.cit, Hal. 56. 17

Pada umumnya, dulu perjudian selalu terkait dengan dunia malam dan hiburan. Di bawah kekuasaan Belanda di Indonesia, judi berlangsung dengan sebuah ordonansi yang dikeluarkan oleh residen setempat.

Judi dalam bentuk lotere sudah ada sejak tahun 1960-an yang zaman itu lebih dikenal dengan nama lotere buntut. Pada masa itu, di Bandung ada lotere yang disebut Toto Raga sebagai upaya pengumpulan dana mengikuti pacuan kuda. Sedangkan di Jakarta semasa Gubernur Ali Sadikin muncul undian lotere yang diberi nama Toto dan Nalo. Tahun 1965, Presiden Soekarno mengeluarkan Keppres No. 113 Tahun 1965 yang menyatakan lotere buntut merusak moral bangsa dan masuk dalam kategori subversi. Memasuki orde baru, lotere ini malah semakin berkembang. Di tahun-tahun berikutnya malah Pemda Surabaya mengeluarkan Lotere Totalisator PON Surya yang tidak ada kaitannya dengan penyelenggaraan olahraga dan hanya berdasarkan undian yang bertujuan untuk menghimpun dana bagi PON VII yang akan diselenggarakan di Surabaya pada tahun 1969.

Pada tahun 1974, Toto KONI dihapus. Pemerintah melalui Menteri Sosial pada saat itu mulai memikirkan sebuah gagasan untuk menyelenggarakan forecast

sebagai bentuk undian tanpa menimbulkan ekses judi. Setelah melakukan beberapa studi banding maka pada tahun 1976, Depsos meminta penilaian dari Kejagung, Badan Koordinasi Intelijen Negara dan Depdagri untuk menyelenggarakan forecast dan merencanakan pembagian hasil 50-30-20. Akan tetapi rencana itu belum bisa terlaksana karena Presiden Suharto saat itu bersikap hati-hati dan meminta untuk dipelajari lebih dalam lagi.

Pada tanggal 28 Desember 1985, Kupon Berhadiah Porkas Sepak Bola diresmikan, diedarkan dan dijual. Porkas dimaksudkan menghimpun dana masyarakat untuk menunjang pembinaan dan pengembangan prestasi olahraga di Indonesia. Porkas lahir berdasarkan Undang-undang No. 22 Tahun 1954 tentang Undian, yang antara lain bertujuan agar undian yang menghasilkan hadiah tidak menimbulkan keburukan sosial. Porkas tidak ada tebakan angka hanya menebak menang, seri atau kalah. Porkas juga hanya beredar sampai tingkat kabupaten dan anak-anak di bawah usia 17 tahun dilarang menjual, mengedarkan serta membelinya. Pada tanggal 11 Januari 1986, penarikan pertama Porkas dilakukan. Hingga dalam bulan berikutnya dalam tahun yang sama, dana Porkas mencapai 11 Milyar rupiah, dimana dananya dibagi kepada KONI Pusat dan KONI daerah, Kantor Menpora, PSSI Pusat serta dalam perhelatan Asian Games X di Seoul.

Akhir tahun 1987, Porkas berubah namanya menjadi Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah (KSOB) yang mana dalam 1 tahun menyedot dana masyarakat hingga 221 Milyar rupiah. Pertengahan tahun 1988, Fraksi Karya Pembangunan dan Fraksi Persatuan Pembangunan di DPR menyatakan, SOB dan Tanda Sumbangan Sosial Berhadiah menimbulkan akibat negatif yakni tersedotnya dana masyarakat pedesaan dan akan mempengaruhi kehidupan perekonomian daerah. Namun sikap dari kedua Fraksi tersebut tidak ada respon dari Pemerintah sama sekali bahkan SOB dan TSSB hingga tahun- tahun berikutnya menyedot dana hingga empat kali lipat dari tahun sebelumnya. Tanggal 1 Januari 1989, SOB dan TSSB dihentikan dan digantikan permainan baru yang bernama Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB) yang mana tujuannya beritikad baik.

Pada tanggal 25 November 1993, pemerintah mencabut dan membatalkan pemberian izin untuk pemberlakuan SDSB tahun 1994. Lotere SDSB di Indonesia berakhir setelah sebelumnya didahulu berbagai demonstrasi mahasiswa anti- SDSB. Setelah itu, Dana Masyarakat untuk Olahraga (Damura) dibentuk, namun ditunda hingga semua persoalan yang menyangkut penggalangan dana masyarakat itu sudah jelas.

Jelaslah bahwa di Indonesia sendiri, perjudian berkembang dengan sangat marak bahkan pada saat orde baru pemerintah menggunakan undian-undian yang menyerupai judi dengan tujuan menggalang dana untuk meningkatkan sarana dan prasarana dibidang olahraga dan sosial. Tidaklah heran jika pada masa sekarang ini masih banyak praktek judi yang berkembang di Indonesia. Pada masa sekarang perjudian bahkan sudah semakin modern. Judi-judi seperti sabung ayam mungkin sudah tidak ditemui di kota-kota besar lagi. Bahkan perjudian telah merambah hingga ke dalam dunia maya. Untuk mengantisipasi hal itu maka pemerintah telah membuat peraturan-peraturan yang tegas sehingga dapat memberikan efek jera kepada para pelaku judi.

2. Tindak Pidana dan Unsur-unsur Tindak Pidana a. Pengertian Tindak Pidana

Pengertian tindak pidana telah banyak dikemukakan oleh para ahli hukum pidana. Antara satu pengertian tindak pidana dengan pengertian tindak pidana yang lain secara umum terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang memisahkan secara tegas antara perbuatan pidana dan pertanggungjawaban pidana, dan kelompok yang menyamakan antara perbuatan pidana dan pertanggungjawaban pidana.18

Dalam konsep KUHP, tindak pidana diartikan sebagai perbuatan melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang oleh perundang-undangan

18

dinyatakan sebagai perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana. Dalam konsep tersebut juga dikemukakan bahwa untuk dinyatakan sebagai tindak pidana, selain perbuatan tersebut dilarang dan diancam pidana oleh peraturan perundang-undangan, harus juga bersifat melawan hukum atau bertentangan dengan kesadaran hukum masyarakat. Setiap tindak pidana selalu dipandang melawan hukum kecuali ada alasan pembenar.19

Dalam Bahasa Belanda, strafbaarfeit itu terdiri dari tiga kata yaitu straf,

baar, dan feit. Straf diartikan sebagai pidana atau hukum, baar diartikan sebagai dapat atau boleh, dan feit diartikan sebagai tindak, peristiwa, pelanggaran dan perbuatan

Istilah tindak pidana berasal dari Bahasa Belanda yaitu strafbaarfeit, yaitu istilah yang terdapat KUHP Belanda demikian juga dalam KUHP Indonesia, tetapi tidak ada penjelasan secara rinci mengenai pengertian

strafbaarfeit tersebut.

20

Menurut Simons, strafbaarfeit adalah

. Jadi, secara harafiah straafbaarfeit dapat diartikan sebagai suatu perbuatan yang dapat dipidana.

21

Sedangkan menurut Pompei, strafbaarfeit adalah :

“Tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja oleh seseorang dapat dipertanggungjawabkan atas tindakannya dan oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum.”

22

19

Ibid, Hal. 98. 20

Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana I, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, Hal. 69. 21 Evi Hartanti, Tindak Pidana Korupsi, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, Hal. 5.

:

”Suatu pelanggaran normal atau gangguan terhadap tertib hukum yang dengan sengaja atau tidak sengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku, dimana penjatuhan hukuman terhadap pelaku itu adalah penting demi terpeliharanya tertib hukum dan terjaminnya kepentingan umum.”

Selain pengertian menurut para ahli tersebut, ada juga beberapa istilah yang pernah digunakan baik dalam perundang-undangan yang ada maupun dari berbagai literatur hukum sebagai terjemahan dari istilah strafbaarfeit

yaitu23

1) Tindak Pidana :

Merupakan istilah resmi yang digunakan dalam perundang-undangan pidana di Indonesia. Istilah ini digunakan antara lain dalam Undang- undang No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta ( yang telah diganti dengan Undang-undang No. 19 Tahun 2002), Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (yang telah diubah dengan Undang-undang No. 20 Tahun 2001), dan perundang- undangan lainnya. Ahli hukum yang menggunakan istilah ini yaitu Wirjono Prodjodikoro. Menurut beliau, tindak pidana adalah suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukuman pidana24

Ahli hukum lainnya yang menggunakan istilah ini yaitu Satochid Kartanegara. Menurut beliau, tindak pidana diartikan sebagai tindakan yang dilakukan oleh manusia untuk mana ia dapat dipidana

.

25

2) Peristiwa Pidana

.

Istilah ini digunakan oleh Mr. R. Tresna dalam bukunya Asas-asas Hukum Pidana. Menurut beliau, peristiwa pidana adalah26

“Suatu perbuatan atau rangkaian perbuatan manusia, yang bertentangan dengan undang-undang atau peraturan-peraturan lainnya, terhadap perbuatan mana diadakan tindakan penghukuman.”

:

23 Adami Chazawi, Op.cit, Hal. 67-68. 24

E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, Storia Grafika, Jakarta, 2002, Hal. 209.

25Ibid, Hal. 208. 26

Ahli hukum lainnya yang menggunakan istilah ini adalah Utrecht, dalam bukunya Hukum Pidana I. Menurut beliau, peristiwa pidana diartikan sebagai27

3) Delik

:

“Suatu perbuatan handelen atau doen-positif atau suatu melalaikan

nalaten-negatif, maupun akibatnya (keadaan yang ditimbulkan karena perbuatan atau melalaikan itu). Peristiwa pidana merupakan suatu peristiwa hukum (rechtsfeit) yaitu peristiwa kemasyarakatan yang membawa akibat yang diatur oleh hukum”.

Istilah ini sebenarnya berasal dari Bahasa Latin yaitu delictum. Dalam Bahasa Jerman disebut delict, dalam Bahasa Perancis disebut dengan

delit, dan dalam Bahasa Belanda disebut dengan delict28

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata “delik” diberi batasan yaitu

.

29

Beberapa ahli hukum pidana memberikan pengertian mengenai delik dalam arti strafbaarfeit, antara lain yaitu Vos, van Hamel dan Simons. Menurut Vos, delik didefinisikan sebagai feit yang dinyatakan dapat dihukum berdasarkan undang-undang. Menurut van Hamel, delik adalah suatu serangan atau ancaman terhadap hak-hak orang lain. Sedangkan menurut Simons delik berarti

: “Perbuatan yang dapat dikenakan hukuman karena merupakan pelanggaran terhadap undang-undang; tindak pidana.”

30

4) Pelanggaran Pidana

:

“Suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja oleh seseorang yang tindakannya tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu perbuatan yang dapat dihukum.”

27

Evi Hartanti, Op.cit, Hal. 6. 28

Leden Marpaung, Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, Hal. 7. 29Ibid.

Digunakan oleh Mr. M. H. Tirtaadmidjaja dalam bukunya Pokok-pokok Hukum Pidana.

5) Perbuatan yang boleh dihukum

Digunakan oleh Mr. Karni dalam bukunya Ringkasan Tentang Hukum Pidana.

6) Perbuatan Pidana

Digunakan oleh Mr. Moeljatno dalam berbagai tulisan beliau seperti dalam buku Asas-asas Hukum Pidana.

Menurut beliau, perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut. Dapat juga dikatakan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh suatu aturan hukum dilarang dan diancam pidana, asal saja dalam pada itu diingat bahwa larangan ditujukan kepada perbuatan (yaitu suatu keadaan atau kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan orang), sedangkan ancaman pidananya ditujukan kepada orang yang menimbulkan kejadian itu. Antara larangan dan ancaman pidana ada hubungan yang erat, oleh karena antara kejadian dan orang yang menimbulkan kejadian itu ada hubungan yang erat pula. Yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain. Kejadian tidak dapat dilarang, jika yang menimbulkan bukan orang, dan orang tidak dapat diancam pidana, jika karena tidak ditimbulkan olehnya. Dan justru untuk menyatakan hubungan yang erat itu, maka dipakailah perkataan perbuatan, yaitu suatu pengertian abstrak yang menunjuk kepada dua

keadaan konkret: pertama, adanya kejadian tertentu dan kedua, adanya orang yang berbuat, yang menimbulkan kejadian itu. 31

Karena itulah menurut Prof. Moeljatno, kurang tepat jika untuk pengertian yang abstrak itu digunakan istilah “peristiwa” sebagaimana halnya dalam Pasal 14 ayat (1) Undang-undang Dasar Sementara (UUDS) dahulu, yang memakai istilah “peristiwa pidana”. Sebab peristiwa itu adalah pengertian yang konkret, yang hanya menunjuk kepada suatu kejadian tertentu saja, misalnya: matinya orang. Peristiwa ini saja tidak dilarang. Hukum Pidana tidak melarang adanya orang mati, tetapi melarang adanya orang mati karena perbuatan orang lain. Jika matinya orang itu karena keadaan alam, entah karena penyakit, entah karena sudah tua, entah karena tertimpa pohon yang roboh ditiup angin puyuh, maka peristiwa itu tidak penting sama sekali bagi hukum pidana. Juga tidak penting, jika matinya orang itu karena binatang. Baru apabila matinya ada hubungan dengan kelakuan orang lain, disitulah peristiwa tadi menjadi penting bagi hukum pidana.32 Menurut beliau pula, untuk adanya perbuatan pidana itu harus ada unsur- unsur yaitu: (1) perbuatan (manusia), (2) memenuhi rumusan dalam undang-undang (syarat formil), (3) bersifat melawan hukum (syarat materiil)33

Pada dasarnya tidak ada perdebatan tentang istilah-istilah mana yang digunakan untuk merujuk kepada perbuatan pidana tersebut. Akan tetapi, ada beberapa sarjana yang mencampuradukkan pengertian tindak pidana atau strafbaarfeit dengan pertanggungjawaban pidana.

.

31

Moeljatno, Op.cit, Hal. 59. 32Ibid, Hal. 60.

Simons menerangkan, bahwa strafbaarfeit adalah kelakuan (handeling) yang diancam dengan pidana, yang bersifat melawan hukum, yang berhubungan dengan kesalahan dan yang dilakukan oleh orang yang mampu bertanggung jawab. Sementara Van Hamel merumuskan sebagai berikut: strafbaarfeit adalah kelakuan orang (menselijke gedraging) yang dirumuskan dalam wet, yang bersifat melawan hukum, yang patut dipidana (strafwaardig) dan dilakukan dengan kesalahan.

Jika melihat pengertian-pengertian ini maka di situ dalam pokoknya ternyata:

1) Bahwa feit dalam strafbaarfeit berarti handeling, kelakuan atau tingkah laku;

2) Bahwa pengertian strafbaarfeit dihubungkan dengan kesalahan orang yang mengadakan kelakuan tadi.

Mengenai yang pertama, ini berbeda dengan pengertian “perbuatan” dalam perbuatan pidana. Perbuatan adalah kelakuan ditambah kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan atau dengan pendek yaitu kelakuan ditambah akibat dan bukan kelakuan saja. Sebetulnya Simons di bagian lain berkata

strafbaarfeit itu terdiri atas handeling dan gevolg (kelakuan dan akibat). Adapun mengenai yang kedua, hal itu berbeda dengan “perbuatan pidana” sebab di sini tidak dihubungkan dengan kesalahan yang merupakan pertanggungjawaban pidana bagi orang yang melakukan perbuatan pidana. Perbuatan pidana hanya menunjuk kepada sifatnya perbuatan saja, yaitu sifat dilarang dengan ancaman dengan pidana kalau dilanggar. Apakah yang melanggar itu benar-benar dipidana seperti yang sudah diancamkan,

ini tergantung kepada keadaan batinnya dan hubungan batinnya dengan perbuatannya itu, yaitu dengan kesalahannya. Jadi, perbuatan pidana dipisahkan dari pertanggungjawaban pidana dipisahkan dengan kesalahan. Lain halnya strafbaarfeit. Di situ dicakup pengertian perbuatan pidana dan kesalahan.34

Pengertian perbuatan pidana yang dikemukakan oleh Komariah dan Indrianto tersebut dipengaruhi oleh pendapat Simons dan Van Hamel, karena memasukkan kesalahan sebagai bagian dari unsur perbuatan pidana. Padahal, kesalahan tidak terkait dengan perbuatan pidana, tapi berhubungan dengan pertanggungjawaban pidana. Ketika seseorang terbukti melakukan suatu perbuatan yang dilarang oleh hukum pidana, tidak secara otomatis orang itu dijatuhi pidana. Untuk menjatuhkan pidana Pendapat Simons dan Van Hamel yang mencampuradukkan antara perbuatan pidana dan pertanggungjawaban pidana ternyata diikuti oleh beberapa ahli hukum pidana Indonesia. Komariah Emong Supardjaja mengatakan bahwa perbuatan pidana adalah suatu perbuatan manusia yang memenuhi rumusan delik, melawan hukum dan pembuat bersalah melakukan perbuatan itu. Demikian halnya yang dikemukakan oleh Indrianto Seno Adji yang mengatakan, bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan seseorang yang diancam pidana, perbuatannya bersifat melawan hukum, terdapat suatu kesalahan dan bagi pelakunya dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya.

kepada orang itu, harus terdapat kesalahan kepada orang itu dan telah dibuktikan dalam proses peradilan.35

Kedua, karena criminal act ini juga dipisahkan dari pertanggungjawaban pidana yang dinamakan criminal liability atau responsibility. Untuk adanya criminal liability (jadi untuk dapat dipidananya seseorang) selain daripada melakukan criminal act (perbuatan pidana) orang itu juga harus mempunyai kesalahan (guilt). Hal ini dinyatakan dalam kalimat Latin:

“Actus non facit reum, nisi mens sit res”. (an act does not make a person guilty, unless the mind is guilty). Bahwa untuk pertanggungjawaban pidana tidak cukup dengan dilakukannya perbuatan pidana saja, akan tetapi di samping itu harus ada kesalahan, atau sikap batin yang dapat dicela, ternyata pula dalam asas hukum yang tidak tertulis: tidak dipidana jika tidak ada kesalahan (geen straf zonder schuld, ohne schuld keine strafe). Perbuatan pidana ini menurut Prof. Moeljatno dapat kita samakan dengan istilah Inggris criminal act. Pertama, karena criminal act ini juga berarti kelakuan dan akibat, atau dengan kata lain: akibat dari suatu kelakuan, yang dilarang oleh hukum. Dalam Kenny’s Outline of Criminal Law 1952 tentang criminal act atau dalam bahasa Latin: actus reus ini diterangkan sebagai berikut: “actus reus may be defined as such result of human conduct as the law seeks (mencoba) to prevent. It is important to note that the actus reus, which is result of conduct, must be distinguished from the conduct whict proceed the result”.

36

35 Mahrus Ali, Op.cit. Hal. 99. 36

b. Unsur-unsur Tindak Pidana

Berdasarkan uraian di atas dapat kita ketahui bahwa menurut Prof. Moeljatno, unsur-unsur perbuatan pidana adalah unsur-unsur yang terdapat di dalam pengertian perbuatan yang dipisahkan dengan pertanggungjawaban pidana. Ketika dikatakan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana barangsiapa yang melakukannya, maka unsur-unsur perbuatan pidana meliputi beberapa hal. Pertama, perbuatan itu berujud suatu kelakuan baik aktif maupun pasif yang berakibat pada timbulnya suatu hal atau keadaan yang dilarang oleh hukum. Kedua, kelakuan dan akibat yang timbul tersebut harus bersifat melawan hukum baik dalam pengertiannya yang formil maupun yang materiil. Ketiga, adanya hal-hal atau keadaan tertentu yang menyertai terjadinya kelakuan dan akibat yang dilarang oleh hukum. Dalam unsur yang ketiga ini terkait dengan beberapa yang wujudnya berbeda-beda sesuai dengan ketentuan pasal hukum pidana yang ada di dalam undang-undang. Misalnya berkaitan dengan diri pelaku perbuatan pidana, tempat terjadinya perbuatan pidana, keadaan sebagai syarat tambahan bagi pemidanaan, dan keadaan yang memberatkan pemidanaan. Menurut Prof. Moeljatno pada hakikatnya perbuatan pidana harus terdiri dari unsur-unsur lahiriah (fakta) oleh perbuatan, mengandung kelakuan dan akibat yang ditimbulkan karenanya. Keduanya memunculkan kejadian dalam alam lahir (dunia). Unsur-unsur perbuatan atau elemen perbuatan pidana adalah:

2) Hal ikhwal atau keadaan tertentu yang menyertai perbuatan, hal ikhwal yang mana oleh Van Hamel dibagi dalam dua golongan, yaitu yang mengenai diri orang yang melakukan perbuatan dan yang mengenai di luar diri si pelaku. Selain itu terdapat hal ikhwal tambahan dalam keadaan tertentu. Misalnya dalam Pasal 164, 165 KUHP yaitu kewajiban untuk melapor kepada yang berwajib jika mengetahui akan terjadinya suatu kejahatan. Jika kejahatan tersebut benar-benar terjadi maka orang yang sebenarnya telah mengetahui akan terjadinya kejahatan tersebut tetapi tidak melapor baru saja telah melakukan perbuatan pidana. Atau seperti pada Pasal 331 KUHP yaitu keharusan memberi pertolongan kepada orang yang sedang menghadapi bahaya maut. Jika orang yang membutuhkan pertolongan tersebut meninggal, orang yang sebenarnya dapat memberi pertolongan tetapi tidak memberi pertolongan baru saja melakukan tindak pidana. Hal ikhwal tambahan tertentu seperti yang dicontohkan di atas dalam buku-buku Belanda dinamakan Bijkomende voorwarden van strafbaarhaid, yaitu syarat-syarat tambahan untuk dapat dipidananya (strafbaar) seseorang. Keadaan yang terjadinya kemudian daripada perbuatan yang

Dokumen terkait