• Tidak ada hasil yang ditemukan

Biologi Tanaman Stroberi

Klasifikasi tanaman stroberi sebagai berikut (Benson, 1957) : Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Famili : Rosaceae Genus : Fragaria Spesies : Fragaria sp.

Stroberi merupakan tanaman dengan bunga agregat yang terdiri dari bunga primer, tersier, dan sekunder. Bunga stroberi bersifat hermafrodit, terdiri atas bunga jantan dan bunga betina, berbentuk cluster (tandan), dan biasanya mekar dalam waktu yang tidak bersamaan. Bunga yang mekar lebih awal biasanya berukuran besar (Delaplane & Mayer, 2000). Bunga stroberi berwarna putih, diameter 1-1.5 inchi (2.5-3.8 cm), kelopak berwarna hijau, 5 mahkota, sejumlah tangkai putik dan putik, dan 24-36 stamen (Darrow, 1966). Kepala sari yang berisi serbuk sari fertil berwarna kuning emas. Nektar pada bunga stroberi dihasilkan di daerah tangkai buah, bagian dasar benang sari atau di sebelah luar putik (Delaplane & Mayer, 2000). Keberadaan nektar dalam suatu bunga dapat mempengaruhi pola pencarian pakan serangga penyerbuk (Klinkhamer et al.

2001) yang bergantung pada banyaknya volume nektar (Proctor et al. 1996). Tanaman stroberi dapat tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan 600- 700 mm/tahun dengan lama penyinaran cahaya matahari 8–10 jam per hari. Stroberi adalah tanaman yang dapat beradaptasi dengan baik di dataran tinggi tropis yang memiliki suhu 17-20°C dan kelembaban udara antara 80-90% (Prihartman, 2006).

Berdasarkan panjang hari, stroberi dibagi menjadi dua kultivar, yaitu short day cultivar (June-bearing) dan day neutral cultivar (everbearing). Pada short day cultivar, bunga mulai terbentuk ketika panjang hari kurang dari 14 jam dan

malam hari tetap di atas 15.5°C (Strand, 1994).Kultivar-kultivar tanaman stroberi dapat dibedakan dari beberapa karakteristik buahnya, seperti waktu panen, ukuran, rasa, tekstur, bobot, aroma, bentuk dan warna buah (Hancock, 1999). Kultivar Earlibrite merupakan kultivar yang berproduksi tinggi dan memiliki buah berwarna merah cerah. Kultivar Earlibrite termasuk tanaman hari pendek dengan ciri-ciri: rata-rata panjang petiole ialah 108 mm, rata-rata panjang dan lebar pangkal daun ialah 81 dan 71 mm, rata-rata panjang dan lebar daun kedua ialah 75 dan 72 mm, bentuk buah pertama sering globose-conic, bentuk buah kedua dan ketiga antara conic-wedge shaped, rata-rata ukuran buah kecil, dan tekstur buah lunak (Chandler et al. 2000).

Penyerbukan Tanaman Stroberi

Penyerbukan atau polinasi merupakan suatu peristiwa jatuhnya serbuksari (polen) pada kepala putik (stigma) dan memiliki peran yang penting dalam perkembangan bunga menjadi buah (Barth, 1991). Tanaman stroberi dapat melakukan penyerbukan sendiri (self pollination) dan penyerbukan silang (cross pollination) yang dibantu oleh serangga dan angin. Penyerbukan sendiri terjadi ketika serbuksari dari anther mencapai kepala putik dalam bunga yang sama. Penyerbukan silang terjadi ketika serbuk sari mencapai kepala putik dari bunga yang berbeda. Setelah terjadi fertilisasi, diikuti dengan perkembangan

achene. Jaringan dasar (receptacle) sekitar achene akan membesar dan membentuk bakal buah (Demchack, 2012). Beberapa kultivar tanaman stroberi dapat melakukan penyerbukan sendiri secara optimal. Penyerbukan oleh angin dan serangga, terutama lebah madu dipengaruhi oleh cuaca dan populasi lebah tersebut (Delaplane & Mayer, 2000).

Pada bunga stroberi, kematangan serbuksari, diikuti membukanya kepala anther dan serbuk sari. Getaran bunga stroberi yang terjadi diakibatkan oleh angin dan hujan membantu proses menempelnya serbuk sari di kepala putik. Namun, penyebukan sendiri atau yang dibantu oleh angin menyebabkan tanaman stroberi mengalami penyerbukan tidak sempurna, sehingga menghasilkan buah berukuran kecil dan berbentuk tidak sempurna. Dengan demikan, perpindahan serbuksari ke kepala putik lebih efektif dibantu oleh serangga (Demchack, 2012).

Morfologi bunga terutama panjang stamen berkaitan dengan penyerbukan (Zebrowska, 1998). Stamen yang panjang pada kultivar early midway (5.2 mm) lebih efektif dalam penyerbukan dibandingkan stamen yang berukuran pendek, yaitu pada kultivar surecrop (2.5 mm). Bunga stroberi yang memiliki stamen berukuran pendek menyebabkan produksi buah lebih rendah (Connor & Martin, 1973). Selain karakteristik morfologi bunga, perilaku spesies lebah yang berbeda- beda juga mempengaruhi penyerbukan. Di daerah Québec, lebah madu hanya mengunjungi bagian atas putik, sedangkan lebah liar mengunjungi bagian dasar bunga stroberi. Aktivitas kunjungan spesies lebah membantu penyebaran serbuk sari dan pembentukan buah menjadi optimal (Chagnon et al. 1993).

Biologi Apis cerana Fabricus

Klasifikasi lebah madu Apis cerana sebagai berikut (Michener, 2000): Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo : Hymenoptera Family : Apidae Genus : Apis

Spesies : Apis cerana Fabricus

Jumlah spesies lebah madu (Apis spp.) terus bertambah seiring dengan perkembangan penelitian taksonomi. Sembilan spesies lebah madu telah dideskripsikan, yaitu Apis andreniformis, Apis cerana, Apis dorsata, Apis florea,

Apis koschevnikovi, Apis nigrocincta, Apis nuluensis, Apis laboriosa, dan

Apis mellifera. Tujuh spesies diantaranya dijumpai di Indonesia, yaitu

A. andreniformis, A. florea, A. dorsata, A. koschevnikovi, A. nigrocincta, dan

A. cerana (Michener & Boongird, 2004), satu spesies yang diintroduksi, yaitu

A. mellifera.

Apis cerana merupakan serangga sosial yang hidup dalam koloni. Setiap koloni terdiri dari ratu (queen), jantan (drone), dan pekerja (worker). Setiap kasta

individu. Lebah ratu A. cerana berjumlah 1 individu dalam koloni. Ukuran tubuh lebah ratu lebih besar dari ukuran tubuh lebah jantan dan pekerja. Ukuran sayap lebah ratu lebih pendek (Gojmerac, 1983). Lebah ratu dan pekerja A. cerana

terbentuk dari telur yang dibuahi sperma. Ovarium lebah ratu mengalami perkembangan, yang menghasilkan telur untuk calon ratu, jantan, dan pekerja (Free, 1982).

Apis cerana pekerja adalah lebah betina yang ovariumnya tidak

berkembang, sehingga tidak menghasilkan telur. Lebah jantan A. cerana memiliki ukuran tubuh lebih besar dan warna lebih gelap dibandingkan dengan lebah ratu dan pekerja (Gojmerac, 1983). Lebah jantan akan melakukan perkawinan dengan lebah ratu dan mati setelah kawin, disebabkan karena abdomen terkoyak pada saat kopulasi (Free, 1982). Aktivitas lebah pekerja A. cerana dibedakan berdasarkan tempatnya, yaitu di dalam sarang dan di luar sarang. Tugas di dalam sarang seperti merawat sarang, merawat ratu, dan menerima nektar. Tugas di luar sarang berupa menjaga koloni, mengatur suhu, dan mencari pakan (Darmayanti, 2008).

Nektar merupakan sumber karbohidrat dan polen merupakan sumber protein bagi lebah A. cerana. Pakan tersebut digunakan untuk perkembangan koloni, perawatan ratu, peningkatan produksi telur, dan cadangan makanan (Herbert, 1992). Nektar disimpan oleh lebah dalam abdomen yang digunakan untuk pertumbuhan, berkembang biak, sumber energi untuk terbang, dan menjaga suhu tubuh dan koloni (Winston, 1987).

Biologi Trigona laeviceps Smith

Klasifikasi lebah Trigona laeviceps sebagai berikut (Michener, 2000): Kingdom : Animalia Filum : Arthtropoda Kelas : Insecta Ordo : Hymenoptera Family : Apidae Tribe : Meliponini Genus : Trigona

Di seluruh dunia, stingless bees terdapat 23 genus dan 18 sub genus yang terdiri dari 374 spesies. Di Asia telah diketahu 43 spesies stingless bees yang terbagi dalam 2 genus, yaitu Lisotrigona dan Trigona sp. (Subfamili Apinae).

Stingless bees termasuk lebah eusosial tingkat tinggi dan merupakan lebah berukuran kecil (2.1 mm). Trigona pada umumnya menjadi serangga penyerbuk utama pada bunga yang berukuran kecil (Michener 2004). Trigona (Tetragonula)

laeviceps (lebah jet-black) dengan panjang tubuh lebah pekerja ialah 4.8-5 mm (Chinh et al. 2005).

Dalam koloni lebah T. laeviceps terdapat 3000 lebah pekerja, ratusan lebah jantan, dan beberapa lebah ratu. Lebah pekerja juga bertugas mencari sarang yang baru di dalam pohon. Jarak antara sarang lama dengan sarang baru kemungkinan kurang dari 20 m. Selain membangun sarang baru, lebah pekerja juga mencari resin (propolis), menjaga sarang, dan membangun tempat menyimpan cadangan makanan (Inoue et al. 1984).

Sarang T. laeviceps terdapat di dalam rongga pohon yang berdiamater 30-50 cm, ukuran silinder rongga sarang 8-11 cm, dan panjang 40-90 cm. Sarang lebah T. laeviceps juga ditemukan pada cekungan batu. Lubang pintu masuk ke dalam sarang terbuat dari lingkaran tipis berwarna hitam dan lengket. Pada pohon, lubang pintu masuk sarang berkisar 2-4 m dari tanah. Dinding bagian dalam sarang dilapisi bahan berwarna hitam dengan ketebalan 1-2 mm dan ruangan tempat menyimpam telur berbentuk oval dengan panjang 4.5-5 mm disusun dalam kelompok amorf. Beberapa kelompok lebah T. laeviceps bertugas menyediakan makanan. Madu dan polen disimpan pada ruangan terpisah dengan ukuran ruangan yang sama (silinder 5-7 mm, tinggi 12-15 mm), tetapi ruangan menyimpan polen lebih dekat dengan sel-sel telur. Total volume pakan (polen dan

madu) yang disimpan di dalam sarang berkisar 1.0 sampai 5 liter (Chinh et al. 2005).

Peranan Lebah Apis cerana dan Trigona laeviceps sebagai Penyerbuk Tanaman Stroberi

dan beberapa spesies lebah liar mengunjungi tanaman stroberi untuk mencari nektar dan polen. Meskipun banyak spesies serangga mengunjungi bunga stroberi, tetapi hanya lebah yang mampu mentransfer serbuk sari secara efektif. Bunga stroberi membutuhkan 16-25 kunjungan lebah. Sebagian besar petani dan pengusaha yang konsisten menggunakan koloni lebah madu sebagai serangga penyerbuk pada tanaman stroberi akan memperoleh keuntungan berupa peningkatan produksi per hektar. Suhu yang rendah akan mengurangi jumlah kunjungan serangga dan memperlambat perkembangan (Demchack, 2012).

Penyerbukan adalah proses yang penting dalam pembentukan biji dan terbentuknya variasi genetik keturunannya (William & Adam, 2000). Kehadiran lebah juga dapat meningkatkan hasil buah pada tanaman (Klein et al. 2003). Aktivitas foraging A. cerana dan A. mellifera pada 13 kultivar tanaman stroberi dipengaruhi oleh kuantitas nektar yang dihasilkan (0.020-0.735 μl/bunga/hari), konsentrasi gula dalam nektar (30-42%), dan kandungan gula dalam nektar (0.006-0.2898 mg/bunga/hari) (Abrol, 1992). Penelitian Chang et al. (2001) menunjukkan lebah A. mellifera dan A. cerana mampu meningkatkan 45% buah stroberi. Roselino et al. (2009) juga melaporkan lebah Scaptotrigona aff. depilis

dan Nannotrigona testaceicornis efektif menyerbuki tanaman stroberi, sehinga terjadi peningkatan ukuran buah (panjang 9.8 cm dan bobot 11.2 gr) dibandingkan kontrol (panjang 5.5 cm dan bobot 10.6 gr). Penyerbukan S. aff. depilis dan

N. testaceicornis pada tanaman stroberi menurunkan pembentukan buah abnormal (4%) dibandingkan kontrol (23%).

Serangga polinator lain, seperti Osmia spp., Halictus sp. Eristalis spp. juga memiliki peranan penting terhadap penyerbukan tanaman stroberi di daerah Utah, Amerika Serikat (Nye & Anderson, 1974). Lebah Eristalis cerealis juga dilaporkan digunakan untuk penyerbukan tanaman stroberi di rumah kaca di Jepang (Matsuka & Sakai, 1989).

Perilaku Kunjungan Lebah Penyerbuk

Serangga penyerbuk mengunjungi bunga untuk mencari pakan berupa nektar dan serbuksari (Barth, 1991). Serangga penyerbuk memerlukan sumber pakan yang digunakan untuk metabolisme tubuh serangga, membuat sarang, dan

reproduksi (Schoonhoven et al. 1998). Perilaku kunjungan serangga penyerbuk dalam mengunjungi bunga juga dipengaruhi oleh persaingan dengan serangga penyerbuk lainnya dalam mendapatkan pakan (Raju & Ezradanam 2002; Fahem et al. 2004).

Lebah madu dapat melakukan aktivitas mencari pakan dengan jarak tempuh 2-3 km (Amano et al. 2000). Pada tanaman cabai (Capsicum annum),

A. cerana mengunjungi 1-8 tanaman dalam sekali perjalanan, Bombus auratus

sebanyak 22 kunjungan, sedangkan Halictus lanei sebanyak 4 kunjungan (Raw, 2000). Tangmitcharoen et al. (2006) melaporkan bahwa foraging rate T. laeviceps dan A. cerana pada tanaman jati masing-masing 4.36±1.0 bunga/menit dan 15.13±2.3 bunga/menit. Waktu yang dibutuhkan A. cerana untuk mencari polen tanaman buah cherry sekitar 3.25 menit/bunga (Gupta et al. 1990). Pada bunga pala, lama kunjungan A. cerana yaitu 4.68±4.04 menit/bunga, total waktu kunjungan yaitu 2.42±1.43 menit/bunga, sedangkan Trigona spp. ialah 1.94±1.48 menit (Masfufah, 2010). Lama kunjungan T. laeviceps pada tanaman

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan bulan Februari sampai Mei 2012 di perkebunan buah stroberi di Desa Panundaan, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Gambar 1). Identifikasi lebah dan pengukuran buah dilakukan di Laboratorium Biosistematik dan Ekologi Hewan, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor. Uji kandungan vitamin C buah stroberi dilakukan di Laboratorium Analisis Pangan, Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Deskripsi Lokasi Penelitian

Lokasi perkebunan stroberi yang diamati berada di Desa Panundaan, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, 18 km ke arah selatan dari kota Bandung. Letak geografis lokasi penelitian ialah 070 06.970’S-1070 26.575’E dan berada pada ketinggian 1.268 m dpl. Kebun stroberi tersebut berada di pinggir jalan raya sebagai jalur akomodasi penduduk dan dikelilingi oleh kebun dan tanaman pertanian, seperti jagung, padi, bawang daun, dan seledri.

Pengamatan Biologi Bunga Stroberi

Tanaman stroberi yang diamati adalah kultivar Earlibrate yang merupakan kultivar stroberi yang dihasilkan secara hibrida. Pengamatan biologi bunga tanaman stroberi kultivar Earlibrite meliputi morfologi bunga yaitu, bentuk, warna, aroma, kelopak daun, mahkota bunga, sepal, petal, anther, letak benang sari dan putik, jumlah benang sari dan putik, posisi nektar, dan waktu mekar. Morfologi tanaman stroberi tertera dalam Gambar 2

Penggunaan A. cerana dan T. laeviceps sebagai Penyerbuk Tanaman Stroberi

Pengukuran efektivitas penyerbukan lebah T. laeviceps dilakukan dengan memasukkan satu koloni lebah T. laeviceps ke dalam kurungan dari kasa yang berisi 45 tanaman stroberi (Gambar 3a). Pengukuran efektivitas penyerbukan A.

cerana dilakukan dengan menempatkan satu koloni lebah pada pertanaman

stroberi yang terbuka (Gambar 3b). Pada perlakuan ini dimungkinkan adanya jenis serangga penyerbuk lain yang mengunjungi bunga stroberi tersebut. Sebagai tanaman kontrol, digunakan 45 tanaman stroberi yang dikurung dengan kain kasa dan yang tidak diberi koloni lebah (Gambar 3c).

Gambar 3 Pengukuran efektivitas lebah dalam penyerbukan tanaman stroberi: satu koloni T. laeviceps dimasukkan dalam kurungan yang berisi 45 tanaman stroberi (a), satu koloni A. cerana yang ditempatkan pada 45 pertanaman stroberi yang terbuka (b), dan tanaman kontrol, yaitu 45 tanaman stroberi yang dikurung dan tidak diberi lebah (c).

(b)

(a)

Pengamatan ForagingA. cerana dan T. laeviceps pada Pertanaman Stroberi

Pengamatan foraging A. cerana dan T. laeviceps pada 45 pertanaman stroberi dilakukan selama 2 menit dengan fix sample method dengan interval waktu 30 menit. Pengamatan dimulai pukul 07.00-17.00 WIB. Dihitung jumlah individu lebah A. cerana dan T. laeviceps yang datang pada pertanaman stroberi.

Pengamatan Frekuensi Kunjungan A. cerana dan T. laeviceps pada Bunga Stroberi

Pengamatan frekuensi kunjungan lebah A. cerana dan T. laeviceps

dilakukan pada 45 pertanaman stroberi. Pengamatan frekuensi kunjungan meliputi: (i) jumlah bunga yang dikunjungi per menit (foraging rate), (ii) lama kunjungan per bunga (flower handling time), (iii) total waktu kunjungan pada pertanaman, yang diukur dari mulai lebah berkunjung ke bunga sampai lebah tersebut meninggalkan pertanaman stroberi yang diamati (Dafni, 1992). Pengamatan dilakukan dalam kisaran waktu pukul 07.00-17.00 WIB.

Pengukuran Parameter Fisik Lingkungan

Pada saat pengamatan frekuensi kunjungan lebah juga diukur parameter fisik lingkungan. Pengukuran dilakukan setiap satu jam dimulai pukul 07.00-17.00 WIB. Parameter fisik lingkungan yang diukur meliputi kelembaban dan suhu udara menggunakan thermohygrometer dan kecepatan angin dengan anemometer (Luxtron LM-8000). Intensitas cahaya diukur dengan lux meter (Luxtron LX-100).

Pengukuran Pembentukan Buah Stroberi Hasil Penyerbukan A. cerana dan

T. laeviceps

Pengukuran pembentukan buah hasil penyerbukan lebah meliputi jumlah buah terbentuk, jumlah buah sempurna, jumlah buah abnormal, panjang, lebar minimum, lebar maksimum buah, dan bobot segar buah (Gambar 4). Buah stroberi yang terbentuk juga diukur kandungan vitamin C. Pengukuran panjang

tersempit buah (Gambar 4b). Pengukuran lebar maksimum buah (cm) dilakukan secara horizontal pada bagian terlebar buah (Gambar 4c). Pengukuran dilakukan menggunakan kaliper (TRICLE BRAND). Pengukuran bobot buah dilakukan dalam keadaan segar (bobot basah) (gr) dengan menggunakan alat timbangan digital (KRIS) (Gambar 4d).

Uji kandungan vitamin C buah stroberi dilakukan pada umur buah yang dipanen dalam waktu bersamaan dan dalam keadaan segar. Pengukuran kandungan vitamin C dilakukan pada buah stroberi hasil penyerbukan lebah

A. cerana, T. laeviceps, dan tanaman kontrol. Uji kandungan vitamin C dilakukan dengan metode spektrofotometri di Laboratorium Analisis Pangan, Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

(a)

(b)

(c)

(d)

Gambar 4 Pengukuran buah stroberi: panjang buah (a), lebar minimum buah (b), lebar maksimum buah (c), dan bobot segar buah (d).

Analisa Data

Aktivitas foraging dan frekuensi kunjungan A. cerana dan T. laeviceps

pada pertanaman stroberi ditampilkan dalam tabel dan grafik. Hubungan parameter fisik lingkungan dengan aktivitas foraging dan frekuensi kunjungan

A. cerana dan T. laeviceps dianalisis dengan menggunakan Principal Component Analysis (PCA) dan korelasi Pearson. Jumlah buah yang terbentuk, jumlah buah sempurna, jumlah buah abnormal, bobot, dan ukuran buah, dan kandungan vitamin C stroberi hasil penyerbukan A. cerana, T. laeviceps, dan tanaman kontrol ditampilkan dalam Tabel dan diuji menggunakan ANOVA dengan selang kepercayaan 95%.

HASIL

Struktur dan Biologi Bunga Stroberi

Bunga stroberi berwarna putih, tidak beraroma, dan membentuk cluster. Bunga stroberi merupakan bunga sempurna (hermaprodite), yaitu dalam satu bunga terdapat stamen dan putik sehingga dapat melakukan penyerbukan sendiri (self pollination). Diameter bunga berkisar 2.3-3.5cm dengan 12 kelopak daun (calyx), 6-7 mahkota bunga yang berwarna putih, 5 sepal berwarna hijau, dan 5 petal berwarna putih. Stamen berjumlah 48 dan pistil berjumlah 243 dalam satu bunga yang menempel pada reseptakel (Gambar 5). Kelenjar nektar berada di dasar bunga atau terletak dekat dengan ovari.

Bunga stroberi mulai mekar antara pukul 06.00-08.00 WIB. Tanaman ini membentuk bunga setelah 6-7 hari setelah tanam. Kuncup bunga terbentuk 5-6 hari dari bakal bunga dan bunga mekar setelah 3-4 hari kemudian. Pembentukan bakal buah terjadi selama 5-6 hari setelah bunga mekar dan buah siap panen setelah 6-7 hari kemudian.

Aktivitas ForagingA. cerana dan T. laeviceps pada Pertanaman Stroberi

Gambar 5 Bunga stroberi saat mekar (a), struktur bunga stroberi (Rainey, 2000) (b).

Dari hasil pengamatan diketahui bahwa foraging A. cerana tertinggi (4 individu) terjadi pukul 08.00-08.02 WIB, sedangkan pada T. laeviceps tertinggi (4.5 individu) terjadi pukul 13.30-13.32 WIB. Foraging A. cerana terendah (2.5 individu) terjadi pada pukul 13.00-13.02 dan 14.00-14.02 WIB, sedangkan pada T. laeviceps terendah (2 individu) terjadi pukul 08.30-08.32 WIB (Gambar 6 dan 7).

A. cerana banyak melakukan aktivitas pada pagi hari sedangkan

T. laeviceps di siang hari. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas A. cerana terjadi pada waktu yang berbeda dengan T. laeviceps.

Parameter Fisik Lingkungan di Lokasi Penelitian

Dari hasil pengukuran parameter fisik lingkungan di lokasi pengamatan

A. cerana, diketahui suhu dan intensitas cahaya tertinggi (31.20C dan 13620 lux) terjadi pada pukul 13.00-13.30 WIB, kelembaban udara tinggi (63.1%) pada pukul 16.00-16.30 WIB (Tabel 1). Di lokasi pengamatan T. laeviceps (Tabel 2), suhu dan intesitas cahaya tertinggi (30.70C dan 12610 lux) terjadi pada pukul 13.30-14.00 WIB, kelembaban udara tertinggi (62.9%) pukul 15.30-16.00 WIB,

dan kecepatan angin tertinggi (0.3 knot) pada pukul 15.30-16.00 dan 16.30-17.00 WIB.

Tabel 1 Data parameter fisik lingkungan selama pengamatan A. cerana di kebun stroberi Waktu Suhu (0C) Kelembaban udara (%) Intensitas cahaya (lux) 07.00 - 07.30 23.1 - 24.9 37.5 - 49.8 2040 - 4750 08.00 - 08.30 24.3 - 25.9 38.1 - 52.2 3150 - 5820 09.00 - 09.30 23.7 - 26.2 40.3 - 55.4 3480 - 9670 10.00 - 10.30 24.4 - 28.1 45.1 - 59.8 3680 - 12860 13.00 - 13.30 26.2 - 31.2 44.9 - 62.1 5600 - 13620 14.00 - 14.30 24.9 - 29.8 48.8 - 64.5 4790 - 17710 15.00 - 15.30 22.5 - 27.7 52.6 - 62.2 3210 - 13420 16.00 - 16.30 22.2 - 26.6 55.5 - 63.1 2750 - 6950

Tabel 2 Data parameter fisik lingkungan selama pengamatan T. laeviceps di kebun stroberi Waktu Suhu (0C) Kelembaban udara (%) Intensitas cahaya (lux) Kecepatan angin (knot) 07.30 - 08.00 21.1 - 24.2 42.7 - 50.7 2990 - 6650 0 08.30 - 09.00 22.4 - 26.3 43 - 57 3890 - 7780 0 09.30 - 10.00 24.3 - 27.5 45.4 - 59.3 5180 - 9940 0 10.30 - 11.00 25.8 - 29.5 50.2 - 62.4 5890 - 12400 0 13.30 - 14.00 25.6 - 30.7 46.9 - 62.7 8390 - 12610 0 14.30 - 15.00 25.4 - 29.9 49.8 - 64.4 6120 - 10530 0 15.30 - 16.00 23.2 - 27.9 57.4 - 62.9 3030 - 7520 0 - 0.3 16.30 - 17.00 21.4 - 26.5 57.9 - 64.2 2990 - 6350 0 - 0.3

.6 -0 .4 -0 .2 0 .0 0 .2 0 .4 P C 2 1 2 3 4 5 6 7 -4 -2 0 2 -4 -2 0 2 ind su RH lux knot -0 .4 -0 .2 0 .0 0 .2 0 .4 P C 2 1 2 3 4 5 6 -3 -2 -1 0 1 2 -2 -1 0 1 2 Ind Su RH lux

Berdasarkan analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa jumlah individu A. cerana yang melakukan foraging berkorelasi positif signifkan terhadap suhu udara (r=0.742, p=0.00) dan intensitas cahaya (r=0.544, p=0.04). Kelembaban udara tidak berkorelasi dengan jumlah individu A. cerana (r=0.117, p=0.69) (Tabel 3).

Tabel 3 Korelasi Pearson dan nilai signifikansi antara jumlah individu A. cerana

dan T. laeviceps yang berkunjung pada bunga stroberi dengan parameter fisik lingkungan

Lebah Faktor fisik lingkungan Jumlah individu

r p

A. cerana Suhu udara (0C) 0.742 0.00

Kelembaban udara (%) 0.117 0.69 Intensitas cahaya (lux) 0.544 0.04

Kecepatan angin (Knot) - -

T. laeviceps Suhu udara (0C) 0.752 0.03

Kelembaban udara (%) 0.679 0.06 Intensitas cahaya (lux) 0.662 0.07 Kecepatan angin (Knot) 0.168 0.69 Keterangan: r = nilai korelasi Pearson, p = nilai signifikansi

Berdasarkan analisis korelasi Pearson diketahui jumlah individu

T. laeviceps yang berkunjung pada bunga stroberi berkorelasi positif secara signifikan terhadap suhu udara (r=0.752, p=0.031) dan tidak signifikan terhadap kelembaban udara (r=0.679, p=0.06), intensitas cahaya (r=0.662, p=0.07), dan kecepatan angin (r=0.168, p=0.69) (Tabel 3). Hubungan antara jumlah individu

A. cerana dan T. laeviceps dengan parameter fisik lingkungan juga ditunjukkan dengan hasil biplot PCA (Gambar 8).

Jumlah individu A. cerana dan T. laeviceps yang berkunjung pada tanaman stroberi berkorelasi positif terhadap suhu dan intensitas cahaya. Komponen utama 1 (PC 1) dan komponen utama 2 (PC 2) mencakup 98% dan 94%. Proporsi varian komponen utama dapat dilihat pada Lampiran 1 dan 3.

Frekuensi KunjunganA. cerana dan T. laeviceps

Pengamatan pada pertanaman stroberi diketahui bahwa Apis cerana

mengunjungi 2.8 bunga/menit, lama kunjungan per bunga ialah 12.64 detik, dan total waktu kunjungan ialah 14.46 menit. Trigona laeviceps mengunjungi 3.23 bunga/menit, lama kunjungan per bunga ialah 5.60 detik, dan total waktu kunjungan ialah 7.73 menit (Tabel 4).

Tabel 4 Frekuensi kunjungan A. cerana dan T. laeviceps pada 45 tanaman stroberi dengan interval waktu pengamatan 30 menit pada pagi-siang-sore hari

Periode Pengamatan ∑ Bunga dikunjungi /Menit (±stdv) Lama kunjungan /bunga (Detik±stdv) Total waktu kunjungan (Menit±stdv) A. cerana T. laeviceps A. cerana T. laeviceps A. cerana T laeviceps 07.00 - 08.00 3.6±3.59 2.9±2.34 14.5±6.02 5.1±3.98 16.5±7.00 6.9±5.38 08.00 - 09.00 3.8±3.82 2.1±2.51 15.7±4.41 3.4±4.10 17.9±5.17 4.7±5.67 09.00 - 10.00 3.4±3.34 3.4±2.28 14.7±6.07 5.7±3.73 16.5±7.00 7.8±5.14 10.00 - 11.00 2.6±2.51 3.8±2.1 10.7±8.17 6.2±3.39 12.4±9.59 8.6±4.68 13.00 - 14.00 2.1±1.20 3.7±2.04 9.5±8.54 6.3±3.43 10.9±9.82 8.5±4.65 14.00 - 15.00 2.4±2.27 3.6±2.04 9.6±8.62 6.2±3.39 11±9.90 8.7±4.72 15.00 - 16.00 3.2±3.46 3.4±1.90 13.3±7.19 6.2±3.39 15.1±8.20 8.7±4.71 16.00 - 17.00 2.9±2.92 3±2.05 13.1±7.06 5.7±3.78 15.4±8.35 7.9±5.16 Rata-rata 2.8±2.86 3.23±0.52 12.64±7.11 5.60±0.77 14.46±2.34 7.73±1.06

Jumlah bunga yang dikunjungi tertinggi pada A. cerana ialah 3.8±3.82 bunga/menit dan T. laeviceps ialah 3.8±2.1 bunga/menit. Lama kunjungan per bunga tertinggi A. cerana ialah 15.7±4.41 detik dan T. laeviceps

(a) (b)

Gambar 8 Biplot analisis komponen utama antara individu A. cerana (a) dan T. laeviceps

(b) dengan parameter fisik lingkungan. lux=Intensitas cahaya, RH=Kelembaban udara, 0C=Suhu, Knot=Kecepatan angin, dan Ind=individu.

ialah 6.3±3.43 detik. Total waktu kunjungan tertinggi A. cerana ialah 17.9±5.17 menit dan T. laeviceps ialah 8.7±4.72 menit pertanaman stroberi.

Jumlah bunga yang dikunjungi A. cerana terendah ialah 2.1±1.20 bunga/menit dan T. laeviceps ialah 2.1±2.51 bunga/menit. Lama

kunjungan per bunga terendah A. cerana ialah 9.5±8.54 detik dan T. laeviceps

ialah 3.4±4.10 detik. Total waktu kunjungan tertinggi A. cerana ialah 11±9.90 menit dan T. laeviceps ialah 4.7±5.67 menit.

Dari hasil analisis korelasi Pearson diketahui pada A. cerana, suhu udara dan intensitas cahaya berkorelasi positif secara signifikan terhadap jumlah bunga yang dikunjungi (r=0.842, p=0.00 dan r=0.807, p=0.01), lama kunjungan per bunga (r=0.856, p=0.00 dan r=0.810, p=0.01), dan total waktu kunjungan (r=0.857, p=0.00 dan r=0.814, p=0.01). Pada T. laeviceps, suhu udara berkorelasi

positif secara signifikan terhadap jumlah bunga yang dikunjungi (r=0.756, p=0.02), lama waktu kunjungan (r=0.761, p=0.02), dan total lama

kunjungan (r=0.756, p=0.03) (Tabel 5).

Tabel 5 Korelasi Pearson dan nilai signifikansi frekuensi kunjungan lebah

A. cerana dan T. laeviceps dengan parameter fisik lingkungan pada tanaman stroberi

Lebah Faktor fisik lingkungan ∑ Bunga yang dikunjungi per menit Lama waktu kunjungan per bunga Total waktu kunjungan r p r p r p A. cerana Suhu (0C) 0.842 0.00 0.856 0.00 0.857 0.00 Kelembaban udara (%) 0.599 0.11 0.661 0.07 0.655 0.07 Intensitas cahaya (lux) 0.807 0.01 0.810 0.01 0.814 0.01 Kecepatan angin (Knot)

- - - -

T. laeviceps Suhu (0C) 0.756 0.02 0.761 0.02 0.756 0.03 Kelembaban udara (%) 0.546 0.16 0.678 0.06 0.657 0.07 Intensitas cahaya (lux) 0.692 0.05 0.669 0.06 0.668 0.07 Kecepatan angin (Knot) 0.0027 0.99 0.138 0.74 0.127 0.76

Keterangan: r = nilai korelasi Pearson dan p = nilai signifikansi

Hubungan antara frekuensi kunjungan A. cerana dan T. laeviceps dengan parameter fisik lingkungan juga ditunjukkan dengan hasil biplot PCA (Gambar 9). Dari hasil analisis PCA diketahui frekuensi kunjungan A. cerana dan T. laeviceps

-0.6 -0.4 -0.2 0.0 0.2 0.4 -0 .6 -0 .4 -0 .2 0 .0 0 .2 0 .4 PC1 P C 2 1 2 3 4 5 6 7 -4 -2 0 2 -4 -2 0 2 Ind FR FH LTK Suh RH lux -0.6 -0.4 -0.2 0.0 0.2 -0 .6 -0 .4 -0 .2 0 .0 0 .2 PC1 P C 2 1 2 3 4 5 6 7 8 -6 -4 -2 0 2 -6 -4 -2 0 2 Suh RH lux Knot FR FH TL

Pembentukan Buah Tanaman Stroberi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman stroberi yang diserbuki lebah A. cerana rata-rata membentuk 7.22 buah, T. laeviceps membentuk 7.05 buah, sedangkan pada tanaman kontrol membentuk 5.02 buah (Tabel 6).

Tabel 6 Pembentukan buah tanaman stroberi hasil penyerbukan oleh lebah dan tanaman kontrol dan kandungan vitamin C

Parameter Buah

Perlakuan

Apis cerana

(Serangga lain) Trigona laeviceps Kontrol

∑ Buah terbentuk 7.22a (4 - 13) 7.05a(5 - 10) 5.02b(3 - 7)

∑ Buah sempurna 5.25a(0 - 9) 5.11a(0 - 9) 3.16b (0 - 6)

∑ Buah abnormal 1.99b (0 - 5) 1.93b (0 - 5) 1.87b (0 - 4)

)

Gambar 9 Biplot analisis komponen utama frekuensi kunjungan A. cerana (a)dan

T. laeviceps (b) terhadap parameter fisik lingkungan. lux=Intensitas cahaya, RH=Kelembaban udara, 0C=Suhu, Knot=Kecepatan angin, FHT=lama kunjungan, FR=jumlah bunga dikunjungi, dan TLK= total

Dokumen terkait