KHAIRUNI KHUMAIRAH HARAHAP
SEKOLAH PASCASARJANA
EFEKTIVITAS POLINASI Apis cerana FABRICUS DAN
Trigona laeviceps SMITH (HYMENOPTERA: APIDAE) PADA
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Efektivitas Polinasi
Apis cerana Fabricus dan Trigona laeviceps Smith (Hymenoptera: Apidae) pada
Fragaria x annanassa Kultivar Earlibrite adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Maret 2013
Khairuni Khumairah Harahap
KHAIRUNI KHUMAIRAH HARAHAP. Pollination Effectiveness of
Apis cerana Fabricus and Trigona laeviceps Smith (Hymenoptera: Apidae) in
Fragaria x annanassa Ealibrite Cultivar. Supervised by TRI ATMOWIDI and SIH KAHONO
Strawberries (Fragaria x annanassa) is herbaceous perennial plant. Pollination of the plant is conducted by wind and insects, especially bees. The purpose of the research were to study pollination effectiveness of Apis cerana
Fabricus and Trigonalaeviceps Smith in Fragaria x annanassa Ealibrite Cultivar. Effectiveness of pollination of the bees were measured by visiting behavior and fruit set. Visiting behavior of bees were observed based on foraging rate, flower handling time, and total foraging time. Fruit set were measured based on number of normal fruit, number of abnormal fruit, size and weight of the fruits, and vitamin C content. Environmental factors, such as air temperature, humidity, velocity of wind, and light intensity were measured. Peak of foraging activity of
A. cerana occurred in the morning, while T. laeviceps occurred in the noon. Foraging rate of A. cerana was 2.8 flowers/minutes, flower handling time was 12.64 seconds, and total foraging time was 14.46 minutes. Whereas, foraging rate of T. laeviceps was 3.23 flowers/minutes, flower handling time was 5.60 seconds,
and total foraging time was 7.73 minutes. Pollination of A. cerana and
T. laeviceps increase normal fruit, decrease abnormal fruit, increase size and weight of fruits, and vitamin C content.
KHAIRUNI KHUMAIRAH HARAHAP. Efektivitas Polinasi Apis cerana
Fabricus dan Trigona laeviceps Smith (Hymenoptera: Apidae) pada Fragaria x
annanassa Kultivar Earlibrite. Dibimbing oleh TRI ATMOWIDI dan SIH
KAHONO
Rendahnya produksi buah stroberi merupakan masalah yang sering dijumpai oleh para pengusaha dan petani stroberi. Berbagai usaha dilakukan untuk meningkatkan produksi buah stroberi, salah satunya dengan menggunakan serangga untuk membantu penyerbukan sehingga dapat meningkatkan produksi. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari efektivitas polinasi lebah Apis cerana
Fabricus dan Trigona laeviceps Smith (Hymenoptera: Apidae) pada
Fragaria x annanassa kultivar Earlibrite.
Pengukuran efektivitas penyerbukan lebah T. laeviceps dilakukan dengan memasukkan satu koloni ke dalam kurungan dari kasa yang berisi 45 tanaman stroberi. Pengukuran efektivitas penyerbukan A. cerana dilakukan dengan meletakkan satu koloni pada pertanaman yang terbuka (tidak dikurung). Sebagai kontrol, digunakan 45 tanaman stroberi dikurung dan tidak diberi koloni lebah. Pengamatan frekuensi kunjungan lebah A. cerana dan T. laeviceps pada pertanaman stroberi dilakukan selama 30 menit dengan fix sample method. Pengamatan frekuensi kunjungan meliputi jumlah bunga yang dikunjungi per menit (foraging rate), lama kunjungan per bunga (flower handling time), total waktu kunjungan, yang diukur dari mulai lebah berkunjung ke bunga sampai dengan lebah tersebut meninggalkan pertanaman stroberi yang diamati. Parameter fisik lingkungan yang diukur meliputi suhu, kelembaban udara, kecepatan angin, dan intensitas cahaya. Pengukuran keberhasilan pembentukan buah stroberi dilakukan sebanyak 3 ulangan pada masing-masing perlakuan. Pengukuran efektivitas buah hasil penyerbukan lebah, meliputi persentase buah yang terbentuk, jumlah buah sempurna, jumlah buah abnormal, panjang, lebar minimum, lebar maksimum buah, bobot segar buah, dan uji kandungan vitamin C.
Perilaku kunjungan A. cerana yang diamati meliputi jumlah bunga dikunjungi per menit ialah 2.8 bunga, lama kunjungan per bunga ialah 12.64
detik, dan total waktu kunjungan ialah 14.46 menit. Perilaku kunjungan
T. laeviceps yang diamati meliputi jumlah bunga dikunjungi per menit ialah 3. 23 bunga, lama kunjungan per bunga ialah 5.60 detik, dan total waktu kunjungan ialah 7.73 menit. Aktivitas kunjungan yang tinggi pada A. cerana terjadi pada pagi hari, sedangkan T. laeviceps terjadi pada siang hari.
Penyerbukan oleh A. cerana yang dibantu juga serangga lain dan
T. laeviceps meningkatkan pembentukan buah dan menurunkan persentase buah abnormal. Penyerbukan oleh lebah juga meningkatkan ukuran, bobot, dan kandungan vitamin C buah tanaman stroberi.
© Hak Cipta milik IPB, tahun 2013
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Fragaria x annanassa KULTIVAR EARLIBRITE
KHAIRUNI KHUMAIRAH HARAHAP
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Studi Biosains Hewan
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Nama : Khairuni Khumairah Harahap NIM : G352100011
Disetujui
Komisi Pembimbing
Dr. Tri Atmowidi, MSi
Ketua Anggota Dr. Sih Kahono
Diketahui
Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana Biosains Hewan
Dr. Bambang Suryobroto Dr. Ir. Dahrul Syah, MScAgr
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Februari 2012, dengan judul Efektivitas Polinasi Lebah Apis cerana Fabricus dan Trigona laeviceps Smith (Hymenoptera: Apidae) pada Fragaria x annanassa Kultivar Earlibrite.
Terimakasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Tri Atmowidi M.Si dan Bapak Dr. Sih Kahono selaku komisi pembimbing yang telah banyak memberi saran, arahan, nasehat serta dukungan selama penelitian sampai dengan selesai. Di samping itu, penulis juga mengucapkan terimakasih kepada teman-teman BSH 2010 yang telah menjadi sahabat dalam memberikan dukungan serta saran tiada putusnya dan seluruh staf pengajar Biosains Hewan Departemen Biologi FMIPA IPB atas diskusi dan arahan. Secara khusus penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada Pak Leman, Pak Awar, bapak serta ibu yang telah memberikan waktu dan kesempatan melakukan penelitian di kebun stroberi Desa Panundaan, Ciwidey. Terimakasih juga penulis ucapkan kepada Ibu Tini, Ani serta Pak Suparman selaku laboran bagian Fungsi dan Perilaku Hewan dan bagian Taksonomi Tumbuhan Biologi FMIPA IPB. Ibu Hanifah selaku Kepala Laboratorium Analisis Pangan Departeman Ilmu dan Teknologi Pangan atas bantuan serta arahannya selama penelitian.
Ungkapan terimakasih yang sangat mendalam penulis ucapkan kepada ayahanda Drs. H. Abdurrahim Harahap, Ibunda Dra. Hj. Masto Dewani Sihombing, Helif Indra Halomoan Harahap, Azmi Rifqi Khalfin Harahap, Muti’ah Ilmi Fatma Harahap, Dini Rahmi Rahim Harahap, Muntahharrahmi Melati Putri Harahap, Deliana Harahap, Siti Aisyah Pulungan, Lisbet Tiorida Sihombing, Muhammad Rifyal Harahap, Aliyah Fikra Salsabila Harahap dan seluruh keluarga atas segala doa dan kasih sayangnya. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada adik-adik di Wisma Rahayu atas kebersaman dan persahabatan selama ini.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Maret 2013
DAFTAR TABEL xii
Biologi Tanaman Stroberi 4
Penyerbukan Tanaman Stroberi 5
Biologi Apis cerana Fabricus 6
Biologi Trigona laeviceps Smith 7
Peranan Lebah A. cerana dan T. laeviceps Sebagai Penyerbuk pada
Tanaman Stroberi 8
Perilaku Kunjungan Lebah Penyerbuk 9
BAHAN DAN METODE 11
Waktu dan Tempat Penelitian 11
Deskripsi Lokasi Penelitian 11
Pengamatan Biologi Bunga Stroberi 12
Penggunaan A. cerana dan T. laeviceps sebagai Penyerbuk Tanaman
Stroberi 12
Pengamatan Foraging A. cerana dan T. laeviceps pada Pertanaman
Stroberi 14
Pengamatan Frekuensi Kunjungan A. cerana dan T. laeviceps pada Bunga
Stroberi 14
Pengukuran Parameter Fisik Lingkungan 14
Pengukuran Pembentukan Buah Stroberi Hasil Penyerbukan A. cerana
Halaman
1 Data parameter fisik lingkungan selama pengamatan A. cerana di
kebun stroberi 19
2 Data parameter fisik lingkungan selama pengamatan T. laeviceps di
kebun stroberi 19
3 Korelasi Pearson dan nilai signifikansi antara jumlah individu
A. cerana dan T. laeviceps yang berkunjung pada bunga stroberi
dengan parameter fisik lingkungan 20
4 Frekuensi kunjungan A. cerana dan T. laeviceps pada 45 tanaman stroberi dengan interval waktu pengamatan 30 menit pagi-siang-sore 21 5 Korelasi Pearson dan nilai signifikansi frekuensi kunjungan lebah
A. cerana dan T. laeviceps dengan parameter fisik lingkungan pada
tanaman stroberi 22
6 Pembentukan buah tanaman stroberi hasil penyerbukan oleh lebah dan tanaman kontrol dan kandungan vitamin C 23
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Peta lokasi penelitian di kebun stroberi Desa Panundaan 11
2 Morfologi tanaman stroberi 12
3 Pengukuran efektivitas buah dalam penyerbukan tanaman stroberi 13
4 Pengukuran buah stroberi 15
5 Bunga stroberi 17
6 Rata-rata individu A. cerana mengunjungi tanaman stroberi 18 7 Rata-rata individu T. laeviceps mengunjungi tanaman stroberi 18 8 Biplot analisis komponen utama parameter fisik lingkungan terhadap
jumlah individu A. cerana dan T. laeviceps 20 9 Biplot analisis komponen frekuensi kunjungan A. cerana dan
Halaman
1 Proporsi varian komponen utama dalam analisis uji PCA
berdasarkan jumlah individu A. cerana 37 2 Proporsi varian komponen utama dalam analisis uji PCA
berdasarkan aktivitas kunjungan A. cerana 37 3 Proporsi varian komponen utama dalam analisis uji PCA
berdasarkan jumlah individu T. laeviceps 37 4 Proporsi varian komponen utama dalam analisis uji PCA
berdasarkan aktivitas kunjungan T. laeviceps 38 5 Hasil analysis of variance dan Duncan's Multiple Range Test jumlah
buah terbentuk pada tanaman stroberi 38
6 Hasil analysis of variance dan Duncan's Multiple Range Test jumlah
buah sempurna pada tanaman stroberi 39
7 Hasil analysis of variance dan Duncan's Multiple Range Test jumlah
buah abnormal pada tanaman stroberi 39
8 Hasil analysis of variance dan Duncan's Multiple Range Test
panjang buah pada tanaman stroberi 40
9 Hasil analysis of variance dan Duncan's Multiple Range Test lebar
minimum buah pada tanaman stroberi 40
10 Hasil analysis of variance dan Duncan's Multiple Range Test lebar
maksimum buah pada tanaman stroberi 41
11 Hasil analysis of variance dan Duncan's Multiple Range Test bobot
buah pada tanaman stroberi 41
12 Hasil uji kandungan vitamin C buah stroberi hasil penyerbukan
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Stroberi Fragaria L. merupakan tanaman herbaceous perennial yang termasuk dalam famili Rosaceae, subfamili Rosoideae (Potter et al. 2007). Spesies
Fragaria x annanassa var Duchesne merupakan hasil persilangan antara
Fragaria virginiana L. varietas Duschene asal Amerika Utara yang memiliki ukuran buah kecil dan beraroma dengan Fragaria chiloensis L. varietas Duschene yang berasal dari Chili yang memiliki ukuran buah besar. Persilangan tersebut menghasilkan tanaman stroberi dengan buah berukuran besar, harum, dan manis (Staudt, 1999).
Propinsi Jawa Barat merupakan pusat penghasil dan pengembangan buah stroberi di Indonesia, yang mencakup daerah Ciwidey, Garut, dan Lembang. Kultivar yang banyak ditanam di wilayah tersebut ialah Sweetcharlie, California, Earlibrite, dan Holland (Zainuri & Hasim, 2012). Di Vin’s Berry Park Bandung, kultivar stroberi yang dibudidayakan adalah kultivar Earlibrite dan strawberry festival. Kultivar Earlibrite merupakan hasil persilangan antara rosa linda dan FL 90-38 pada tahun 1993 (Chandler et al. 2000).
Di Indonesia, usaha agribisnis stroberi sangat menjanjikan. Umur tanaman stroberi yang relatif panjang dan cara perbanyakan yang mudah mendukung pengembangan agribisnis stroberi. Permintaan buah stroberi cukup tinggi, baik untuk dikonsumsi langsung maupun diolah menjadi produk makanan. Nilai ekonomi buah stroberi terletak pada warna buah, ukuran yang kecil, bentuk yang unik dan menarik, serta rasa yang manis dan segar (Susanto, 2003).
volume dan nilai yang fluktuatif, tetapi secara umum cenderung turun (BPS 2004). Produksi buah stroberi pada tahun 2008 juga mengalami penurunan
(BPS 2010). Berbagai usaha dilakukan untuk meningkatkan produksi buah stroberi, diantaranya dengan memperbaiki teknik budidaya, seperti memperbaiki komposisi hara atau mendapatkan hasil silangan baru dari beberapa kultivar. Selain perbaikan teknik budidaya dan kualitas benih, diperhatikan pula peranan serangga dalam penyerbukan bunga stroberi yang dapat meningkatkan produksi buah (Susanto, 2003).
Dengan jumlah spesies dan individu yang besar, serangga memegang peranan yang sangat penting dalam suatu ekosistem, diantaranya sebagai herbivor, predator, parasit, dekomposer, bioindikator, dan penyerbuk (Speight et.al, 1999). Lebah (ordo Hymenoptera, superfamili Apoidea) merupakan serangga penyerbuk yang sangat potensial pada tanaman pertanian dan perkebunan (Michener, 2000).
Dalam penelitian ini digunakan dua spesies lebah, yaitu Apis cerana
Fabricus dan Trigona laeviceps Smith. Lebah madu merupakan serangga penyerbuk utama pada tanaman di lahan pertanian (Kremen et al. 2002). Lebah
Apis cerana merupakan serangga penyerbuk utama pada tanaman cabai (Raw, 2000), jarak pagar (Atmowidi et al. 2008), bunga matahari (Greenleaf & Kremen, 2006), dan tanaman stroberi (Chang et al. 2001). Di samping A. cerana, lebah Trigona juga merupakan serangga penyerbuk pada berbagai tanaman, seperti mentimun (Solange et al. 2008), pala (Dennis, 1994), jarak pagar (Atmowidi et al. 2008), dan tanaman stroberi (Roselino et al. 2009). Dalam penelitian ini dipelajari peranan lebah A. cerana dan T. laeviceps dalam penyerbukan tanaman stroberi.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari efektivitas polinasi Apis cerana
Fabricus dan Trigona laeviceps Smith (Hymenoptera: Apidae) pada
Perumusan Masalah
Buah stroberi memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Nilai ekonomi buah stroberi terletak pada warna, ukuran, bentuk, rasa, dan mengandung vitamin C, asam fospat, kalsium, dan antioksidan dalam jumlah yang tinggi. Kandungan vitamin C yang tinggi menyebabkan buah stroberi digunakan untuk meningkatkan kesehatan jantung, mengurangi resiko terserang beberapa jenis kanker, meningkatkan fungsi ingatan, dan mengatasi peradangan sendi atau rematik (Hancock, 1999). Dalam meningkatkan produksi buah stroberi perlu diperhatikan peranan lebah sebagai serangga penyerbuk. Peranan serangga penyerbuk perlu diperhatikan, sehingga proses penyerbukan bunga stroberi terjadi secara optimal. Di samping itu, frekuensi kunjungan serangga penyerbuk perlu dipelajari sehingga efektivitas penyerbukannya dapat diketahui. Efektivitas penyerbukan diukur dari frekuensi kunjungan dan pembentukan buah, yang diukur dari ukuran, bobot, dan kandungan vitamin C. Selain itu, pengukuran faktor fisik lingkungan meliputi suhu, kelembaban udara, intesitas cahaya, dan kecepatan angin perlu dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap frekuensi kunjungan serangga penyerbuk. Pengamatan serangga penyerbuk dalam penelitian ini dilakukan pada pagi, siang, dan sore hari.
Manfaat Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Biologi Tanaman Stroberi
Klasifikasi tanaman stroberi sebagai berikut (Benson, 1957) : Divisi : Spermatophyta
Stroberi merupakan tanaman dengan bunga agregat yang terdiri dari bunga primer, tersier, dan sekunder. Bunga stroberi bersifat hermafrodit, terdiri atas bunga jantan dan bunga betina, berbentuk cluster (tandan), dan biasanya mekar dalam waktu yang tidak bersamaan. Bunga yang mekar lebih awal biasanya berukuran besar (Delaplane & Mayer, 2000). Bunga stroberi berwarna putih, diameter 1-1.5 inchi (2.5-3.8 cm), kelopak berwarna hijau, 5 mahkota, sejumlah tangkai putik dan putik, dan 24-36 stamen (Darrow, 1966). Kepala sari yang berisi serbuk sari fertil berwarna kuning emas. Nektar pada bunga stroberi dihasilkan di daerah tangkai buah, bagian dasar benang sari atau di sebelah luar putik (Delaplane & Mayer, 2000). Keberadaan nektar dalam suatu bunga dapat mempengaruhi pola pencarian pakan serangga penyerbuk (Klinkhamer et al.
2001) yang bergantung pada banyaknya volume nektar (Proctor et al. 1996). Tanaman stroberi dapat tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan 600- 700 mm/tahun dengan lama penyinaran cahaya matahari 8–10 jam per hari. Stroberi adalah tanaman yang dapat beradaptasi dengan baik di dataran tinggi tropis yang memiliki suhu 17-20°C dan kelembaban udara antara 80-90% (Prihartman, 2006).
malam hari tetap di atas 15.5°C (Strand, 1994).Kultivar-kultivar tanaman stroberi dapat dibedakan dari beberapa karakteristik buahnya, seperti waktu panen, ukuran, rasa, tekstur, bobot, aroma, bentuk dan warna buah (Hancock, 1999). Kultivar Earlibrite merupakan kultivar yang berproduksi tinggi dan memiliki buah berwarna merah cerah. Kultivar Earlibrite termasuk tanaman hari pendek dengan ciri-ciri: rata-rata panjang petiole ialah 108 mm, rata-rata panjang dan lebar pangkal daun ialah 81 dan 71 mm, rata-rata panjang dan lebar daun kedua ialah 75 dan 72 mm, bentuk buah pertama sering globose-conic, bentuk buah kedua dan ketiga antara conic-wedge shaped, rata-rata ukuran buah kecil, dan tekstur buah lunak (Chandler et al. 2000).
Penyerbukan Tanaman Stroberi
Penyerbukan atau polinasi merupakan suatu peristiwa jatuhnya serbuksari (polen) pada kepala putik (stigma) dan memiliki peran yang penting dalam perkembangan bunga menjadi buah (Barth, 1991). Tanaman stroberi dapat melakukan penyerbukan sendiri (self pollination) dan penyerbukan silang (cross pollination) yang dibantu oleh serangga dan angin. Penyerbukan sendiri terjadi ketika serbuksari dari anther mencapai kepala putik dalam bunga yang sama. Penyerbukan silang terjadi ketika serbuk sari mencapai kepala putik dari bunga yang berbeda. Setelah terjadi fertilisasi, diikuti dengan perkembangan
achene. Jaringan dasar (receptacle) sekitar achene akan membesar dan membentuk bakal buah (Demchack, 2012). Beberapa kultivar tanaman stroberi dapat melakukan penyerbukan sendiri secara optimal. Penyerbukan oleh angin dan serangga, terutama lebah madu dipengaruhi oleh cuaca dan populasi lebah tersebut (Delaplane & Mayer, 2000).
Morfologi bunga terutama panjang stamen berkaitan dengan penyerbukan (Zebrowska, 1998). Stamen yang panjang pada kultivar early midway (5.2 mm) lebih efektif dalam penyerbukan dibandingkan stamen yang berukuran pendek, yaitu pada kultivar surecrop (2.5 mm). Bunga stroberi yang memiliki stamen berukuran pendek menyebabkan produksi buah lebih rendah (Connor & Martin, 1973). Selain karakteristik morfologi bunga, perilaku spesies lebah yang berbeda-beda juga mempengaruhi penyerbukan. Di daerah Québec, lebah madu hanya mengunjungi bagian atas putik, sedangkan lebah liar mengunjungi bagian dasar bunga stroberi. Aktivitas kunjungan spesies lebah membantu penyebaran serbuk sari dan pembentukan buah menjadi optimal (Chagnon et al. 1993).
Biologi Apis cerana Fabricus
Klasifikasi lebah madu Apis cerana sebagai berikut (Michener, 2000): Kingdom : Animalia
Jumlah spesies lebah madu (Apis spp.) terus bertambah seiring dengan perkembangan penelitian taksonomi. Sembilan spesies lebah madu telah dideskripsikan, yaitu Apis andreniformis, Apis cerana, Apis dorsata, Apis florea,
Apis koschevnikovi, Apis nigrocincta, Apis nuluensis, Apis laboriosa, dan
Apis mellifera. Tujuh spesies diantaranya dijumpai di Indonesia, yaitu
A. andreniformis, A. florea, A. dorsata, A. koschevnikovi, A. nigrocincta, dan
A. cerana (Michener & Boongird, 2004), satu spesies yang diintroduksi, yaitu
A. mellifera.
Apis cerana merupakan serangga sosial yang hidup dalam koloni. Setiap koloni terdiri dari ratu (queen), jantan (drone), dan pekerja (worker). Setiap kasta mempunyai tugas masing-masing dalam koloni (Gary, 1992). Dalam koloni
individu. Lebah ratu A. cerana berjumlah 1 individu dalam koloni. Ukuran tubuh lebah ratu lebih besar dari ukuran tubuh lebah jantan dan pekerja. Ukuran sayap lebah ratu lebih pendek (Gojmerac, 1983). Lebah ratu dan pekerja A. cerana
terbentuk dari telur yang dibuahi sperma. Ovarium lebah ratu mengalami perkembangan, yang menghasilkan telur untuk calon ratu, jantan, dan pekerja (Free, 1982).
Apis cerana pekerja adalah lebah betina yang ovariumnya tidak
berkembang, sehingga tidak menghasilkan telur. Lebah jantan A. cerana memiliki ukuran tubuh lebih besar dan warna lebih gelap dibandingkan dengan lebah ratu dan pekerja (Gojmerac, 1983). Lebah jantan akan melakukan perkawinan dengan lebah ratu dan mati setelah kawin, disebabkan karena abdomen terkoyak pada saat kopulasi (Free, 1982). Aktivitas lebah pekerja A. cerana dibedakan berdasarkan tempatnya, yaitu di dalam sarang dan di luar sarang. Tugas di dalam sarang seperti merawat sarang, merawat ratu, dan menerima nektar. Tugas di luar sarang berupa menjaga koloni, mengatur suhu, dan mencari pakan (Darmayanti, 2008).
Nektar merupakan sumber karbohidrat dan polen merupakan sumber protein bagi lebah A. cerana. Pakan tersebut digunakan untuk perkembangan koloni, perawatan ratu, peningkatan produksi telur, dan cadangan makanan (Herbert, 1992). Nektar disimpan oleh lebah dalam abdomen yang digunakan untuk pertumbuhan, berkembang biak, sumber energi untuk terbang, dan menjaga suhu tubuh dan koloni (Winston, 1987).
Biologi Trigona laeviceps Smith
Klasifikasi lebah Trigona laeviceps sebagai berikut (Michener, 2000): Kingdom : Animalia
Di seluruh dunia, stingless bees terdapat 23 genus dan 18 sub genus yang terdiri dari 374 spesies. Di Asia telah diketahu 43 spesies stingless bees yang terbagi dalam 2 genus, yaitu Lisotrigona dan Trigona sp. (Subfamili Apinae).
Stingless bees termasuk lebah eusosial tingkat tinggi dan merupakan lebah berukuran kecil (2.1 mm). Trigona pada umumnya menjadi serangga penyerbuk utama pada bunga yang berukuran kecil (Michener 2004). Trigona (Tetragonula)
laeviceps (lebah jet-black) dengan panjang tubuh lebah pekerja ialah 4.8-5 mm (Chinh et al. 2005).
Dalam koloni lebah T. laeviceps terdapat 3000 lebah pekerja, ratusan lebah jantan, dan beberapa lebah ratu. Lebah pekerja juga bertugas mencari sarang yang baru di dalam pohon. Jarak antara sarang lama dengan sarang baru kemungkinan kurang dari 20 m. Selain membangun sarang baru, lebah pekerja juga mencari resin (propolis), menjaga sarang, dan membangun tempat menyimpan cadangan makanan (Inoue et al. 1984).
Sarang T. laeviceps terdapat di dalam rongga pohon yang berdiamater 30-50 cm, ukuran silinder rongga sarang 8-11 cm, dan panjang 40-90 cm. Sarang lebah T. laeviceps juga ditemukan pada cekungan batu. Lubang pintu masuk ke dalam sarang terbuat dari lingkaran tipis berwarna hitam dan lengket. Pada pohon, lubang pintu masuk sarang berkisar 2-4 m dari tanah. Dinding bagian dalam sarang dilapisi bahan berwarna hitam dengan ketebalan 1-2 mm dan ruangan tempat menyimpam telur berbentuk oval dengan panjang 4.5-5 mm disusun dalam kelompok amorf. Beberapa kelompok lebah T. laeviceps bertugas menyediakan makanan. Madu dan polen disimpan pada ruangan terpisah dengan ukuran ruangan yang sama (silinder 5-7 mm, tinggi 12-15 mm), tetapi ruangan menyimpan polen lebih dekat dengan sel-sel telur. Total volume pakan (polen dan
madu) yang disimpan di dalam sarang berkisar 1.0 sampai 5 liter (Chinh et al. 2005).
Peranan Lebah Apis cerana dan Trigona laeviceps sebagai Penyerbuk Tanaman Stroberi
dan beberapa spesies lebah liar mengunjungi tanaman stroberi untuk mencari nektar dan polen. Meskipun banyak spesies serangga mengunjungi bunga stroberi, tetapi hanya lebah yang mampu mentransfer serbuk sari secara efektif. Bunga stroberi membutuhkan 16-25 kunjungan lebah. Sebagian besar petani dan pengusaha yang konsisten menggunakan koloni lebah madu sebagai serangga penyerbuk pada tanaman stroberi akan memperoleh keuntungan berupa peningkatan produksi per hektar. Suhu yang rendah akan mengurangi jumlah kunjungan serangga dan memperlambat perkembangan (Demchack, 2012).
Penyerbukan adalah proses yang penting dalam pembentukan biji dan terbentuknya variasi genetik keturunannya (William & Adam, 2000). Kehadiran lebah juga dapat meningkatkan hasil buah pada tanaman (Klein et al. 2003). Aktivitas foraging A. cerana dan A. mellifera pada 13 kultivar tanaman stroberi dipengaruhi oleh kuantitas nektar yang dihasilkan (0.020-0.735 μl/bunga/hari), konsentrasi gula dalam nektar (30-42%), dan kandungan gula dalam nektar (0.006-0.2898 mg/bunga/hari) (Abrol, 1992). Penelitian Chang et al. (2001) menunjukkan lebah A. mellifera dan A. cerana mampu meningkatkan 45% buah stroberi. Roselino et al. (2009) juga melaporkan lebah Scaptotrigona aff. depilis
dan Nannotrigona testaceicornis efektif menyerbuki tanaman stroberi, sehinga terjadi peningkatan ukuran buah (panjang 9.8 cm dan bobot 11.2 gr) dibandingkan kontrol (panjang 5.5 cm dan bobot 10.6 gr). Penyerbukan S. aff. depilis dan
N. testaceicornis pada tanaman stroberi menurunkan pembentukan buah abnormal (4%) dibandingkan kontrol (23%).
Serangga polinator lain, seperti Osmia spp., Halictus sp. Eristalis spp. juga memiliki peranan penting terhadap penyerbukan tanaman stroberi di daerah Utah, Amerika Serikat (Nye & Anderson, 1974). Lebah Eristalis cerealis juga dilaporkan digunakan untuk penyerbukan tanaman stroberi di rumah kaca di Jepang (Matsuka & Sakai, 1989).
Perilaku Kunjungan Lebah Penyerbuk
reproduksi (Schoonhoven et al. 1998). Perilaku kunjungan serangga penyerbuk dalam mengunjungi bunga juga dipengaruhi oleh persaingan dengan serangga penyerbuk lainnya dalam mendapatkan pakan (Raju & Ezradanam 2002; Fahem et al. 2004).
Lebah madu dapat melakukan aktivitas mencari pakan dengan jarak tempuh 2-3 km (Amano et al. 2000). Pada tanaman cabai (Capsicum annum),
A. cerana mengunjungi 1-8 tanaman dalam sekali perjalanan, Bombus auratus
sebanyak 22 kunjungan, sedangkan Halictus lanei sebanyak 4 kunjungan (Raw, 2000). Tangmitcharoen et al. (2006) melaporkan bahwa foraging rate T. laeviceps dan A. cerana pada tanaman jati masing-masing 4.36±1.0 bunga/menit dan 15.13±2.3 bunga/menit. Waktu yang dibutuhkan A. cerana untuk mencari polen tanaman buah cherry sekitar 3.25 menit/bunga (Gupta et al. 1990). Pada bunga pala, lama kunjungan A. cerana yaitu 4.68±4.04 menit/bunga, total waktu kunjungan yaitu 2.42±1.43 menit/bunga, sedangkan Trigona spp. ialah 1.94±1.48 menit (Masfufah, 2010). Lama kunjungan T. laeviceps pada tanaman
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan bulan Februari sampai Mei 2012 di perkebunan buah stroberi di Desa Panundaan, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Gambar 1). Identifikasi lebah dan pengukuran buah dilakukan di Laboratorium Biosistematik dan Ekologi Hewan, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor. Uji kandungan vitamin C buah stroberi dilakukan di Laboratorium Analisis Pangan, Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Deskripsi Lokasi Penelitian
Lokasi perkebunan stroberi yang diamati berada di Desa Panundaan, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, 18 km ke arah selatan dari kota Bandung. Letak geografis lokasi penelitian ialah 070 06.970’S-1070 26.575’E dan berada pada ketinggian 1.268 m dpl. Kebun stroberi tersebut berada di pinggir jalan raya sebagai jalur akomodasi penduduk dan dikelilingi oleh kebun dan tanaman pertanian, seperti jagung, padi, bawang daun, dan seledri.
Pengamatan Biologi Bunga Stroberi
Tanaman stroberi yang diamati adalah kultivar Earlibrate yang merupakan kultivar stroberi yang dihasilkan secara hibrida. Pengamatan biologi bunga tanaman stroberi kultivar Earlibrite meliputi morfologi bunga yaitu, bentuk, warna, aroma, kelopak daun, mahkota bunga, sepal, petal, anther, letak benang sari dan putik, jumlah benang sari dan putik, posisi nektar, dan waktu mekar. Morfologi tanaman stroberi tertera dalam Gambar 2
Penggunaan A. cerana dan T. laeviceps sebagai Penyerbuk Tanaman Stroberi
Pengukuran efektivitas penyerbukan lebah T. laeviceps dilakukan dengan memasukkan satu koloni lebah T. laeviceps ke dalam kurungan dari kasa yang berisi 45 tanaman stroberi (Gambar 3a). Pengukuran efektivitas penyerbukan A.
cerana dilakukan dengan menempatkan satu koloni lebah pada pertanaman
stroberi yang terbuka (Gambar 3b). Pada perlakuan ini dimungkinkan adanya jenis serangga penyerbuk lain yang mengunjungi bunga stroberi tersebut. Sebagai tanaman kontrol, digunakan 45 tanaman stroberi yang dikurung dengan kain kasa dan yang tidak diberi koloni lebah (Gambar 3c).
Gambar 3 Pengukuran efektivitas lebah dalam penyerbukan tanaman stroberi: satu koloni T. laeviceps dimasukkan dalam kurungan yang berisi 45 tanaman stroberi (a), satu koloni A. cerana yang ditempatkan pada 45 pertanaman stroberi yang terbuka (b), dan tanaman kontrol, yaitu 45 tanaman stroberi yang dikurung dan tidak diberi lebah (c).
(b)
(a)
Pengamatan ForagingA. cerana dan T. laeviceps pada Pertanaman Stroberi
Pengamatan foraging A. cerana dan T. laeviceps pada 45 pertanaman stroberi dilakukan selama 2 menit dengan fix sample method dengan interval waktu 30 menit. Pengamatan dimulai pukul 07.00-17.00 WIB. Dihitung jumlah individu lebah A. cerana dan T. laeviceps yang datang pada pertanaman stroberi.
Pengamatan Frekuensi Kunjungan A. cerana dan T. laeviceps pada Bunga Stroberi
Pengamatan frekuensi kunjungan lebah A. cerana dan T. laeviceps
dilakukan pada 45 pertanaman stroberi. Pengamatan frekuensi kunjungan meliputi: (i) jumlah bunga yang dikunjungi per menit (foraging rate), (ii) lama kunjungan per bunga (flower handling time), (iii) total waktu kunjungan pada pertanaman, yang diukur dari mulai lebah berkunjung ke bunga sampai lebah tersebut meninggalkan pertanaman stroberi yang diamati (Dafni, 1992). Pengamatan dilakukan dalam kisaran waktu pukul 07.00-17.00 WIB.
Pengukuran Parameter Fisik Lingkungan
Pada saat pengamatan frekuensi kunjungan lebah juga diukur parameter fisik lingkungan. Pengukuran dilakukan setiap satu jam dimulai pukul 07.00-17.00 WIB. Parameter fisik lingkungan yang diukur meliputi kelembaban dan suhu udara menggunakan thermohygrometer dan kecepatan angin dengan anemometer (Luxtron LM-8000). Intensitas cahaya diukur dengan lux meter (Luxtron LX-100).
Pengukuran Pembentukan Buah Stroberi Hasil Penyerbukan A. cerana dan
T. laeviceps
tersempit buah (Gambar 4b). Pengukuran lebar maksimum buah (cm) dilakukan secara horizontal pada bagian terlebar buah (Gambar 4c). Pengukuran dilakukan menggunakan kaliper (TRICLE BRAND). Pengukuran bobot buah dilakukan dalam keadaan segar (bobot basah) (gr) dengan menggunakan alat timbangan digital (KRIS) (Gambar 4d).
Uji kandungan vitamin C buah stroberi dilakukan pada umur buah yang dipanen dalam waktu bersamaan dan dalam keadaan segar. Pengukuran kandungan vitamin C dilakukan pada buah stroberi hasil penyerbukan lebah
A. cerana, T. laeviceps, dan tanaman kontrol. Uji kandungan vitamin C dilakukan dengan metode spektrofotometri di Laboratorium Analisis Pangan, Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
(a)
(b)
(c)
(d)
Analisa Data
Aktivitas foraging dan frekuensi kunjungan A. cerana dan T. laeviceps
pada pertanaman stroberi ditampilkan dalam tabel dan grafik. Hubungan parameter fisik lingkungan dengan aktivitas foraging dan frekuensi kunjungan
HASIL
Struktur dan Biologi Bunga Stroberi
Bunga stroberi berwarna putih, tidak beraroma, dan membentuk cluster. Bunga stroberi merupakan bunga sempurna (hermaprodite), yaitu dalam satu bunga terdapat stamen dan putik sehingga dapat melakukan penyerbukan sendiri (self pollination). Diameter bunga berkisar 2.3-3.5cm dengan 12 kelopak daun (calyx), 6-7 mahkota bunga yang berwarna putih, 5 sepal berwarna hijau, dan 5 petal berwarna putih. Stamen berjumlah 48 dan pistil berjumlah 243 dalam satu bunga yang menempel pada reseptakel (Gambar 5). Kelenjar nektar berada di dasar bunga atau terletak dekat dengan ovari.
Bunga stroberi mulai mekar antara pukul 06.00-08.00 WIB. Tanaman ini membentuk bunga setelah 6-7 hari setelah tanam. Kuncup bunga terbentuk 5-6 hari dari bakal bunga dan bunga mekar setelah 3-4 hari kemudian. Pembentukan bakal buah terjadi selama 5-6 hari setelah bunga mekar dan buah siap panen setelah 6-7 hari kemudian.
Aktivitas ForagingA. cerana dan T. laeviceps pada Pertanaman Stroberi
Gambar 5 Bunga stroberi saat mekar (a), struktur bunga stroberi (Rainey, 2000) (b).
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa foraging A. cerana tertinggi (4 individu) terjadi pukul 08.00-08.02 WIB, sedangkan pada T. laeviceps tertinggi (4.5 individu) terjadi pukul 13.30-13.32 WIB. Foraging A. cerana terendah (2.5 individu) terjadi pada pukul 13.00-13.02 dan 14.00-14.02 WIB, sedangkan pada T. laeviceps terendah (2 individu) terjadi pukul 08.30-08.32 WIB (Gambar 6 dan 7).
Gambar 6 Rata-rata individu A. cerana yang mengunjungi tanaman stroberi.
A. cerana banyak melakukan aktivitas pada pagi hari sedangkan
T. laeviceps di siang hari. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas A. cerana terjadi pada waktu yang berbeda dengan T. laeviceps.
Parameter Fisik Lingkungan di Lokasi Penelitian
Dari hasil pengukuran parameter fisik lingkungan di lokasi pengamatan
A. cerana, diketahui suhu dan intensitas cahaya tertinggi (31.20C dan 13620 lux) terjadi pada pukul 13.00-13.30 WIB, kelembaban udara tinggi (63.1%) pada pukul 16.00-16.30 WIB (Tabel 1). Di lokasi pengamatan T. laeviceps (Tabel 2), suhu dan intesitas cahaya tertinggi (30.70C dan 12610 lux) terjadi pada pukul 13.30-14.00 WIB, kelembaban udara tertinggi (62.9%) pukul 15.30-16.00 WIB,
dan kecepatan angin tertinggi (0.3 knot) pada pukul 15.30-16.00 dan 16.30-17.00 WIB.
Tabel 1 Data parameter fisik lingkungan selama pengamatan A. cerana di kebun stroberi
-0.6 -0.4 -0.2 0.0 0.2 0.4
Berdasarkan analisis korelasi Pearson menunjukkan bahwa jumlah individu A. cerana yang melakukan foraging berkorelasi positif signifkan terhadap suhu udara (r=0.742, p=0.00) dan intensitas cahaya (r=0.544, p=0.04). Kelembaban udara tidak berkorelasi dengan jumlah individu A. cerana (r=0.117, p=0.69) (Tabel 3).
Tabel 3 Korelasi Pearson dan nilai signifikansi antara jumlah individu A. cerana
dan T. laeviceps yang berkunjung pada bunga stroberi dengan parameter fisik lingkungan
Lebah Faktor fisik lingkungan Jumlah individu
r p
A. cerana Suhu udara (0C) 0.742 0.00
Kelembaban udara (%) 0.117 0.69 Intensitas cahaya (lux) 0.544 0.04
Kecepatan angin (Knot) - -
T. laeviceps Suhu udara (0C) 0.752 0.03
Kelembaban udara (%) 0.679 0.06 Intensitas cahaya (lux) 0.662 0.07 Kecepatan angin (Knot) 0.168 0.69 Keterangan: r = nilai korelasi Pearson, p = nilai signifikansi
Berdasarkan analisis korelasi Pearson diketahui jumlah individu
T. laeviceps yang berkunjung pada bunga stroberi berkorelasi positif secara signifikan terhadap suhu udara (r=0.752, p=0.031) dan tidak signifikan terhadap kelembaban udara (r=0.679, p=0.06), intensitas cahaya (r=0.662, p=0.07), dan kecepatan angin (r=0.168, p=0.69) (Tabel 3). Hubungan antara jumlah individu
Jumlah individu A. cerana dan T. laeviceps yang berkunjung pada tanaman stroberi berkorelasi positif terhadap suhu dan intensitas cahaya. Komponen utama 1 (PC 1) dan komponen utama 2 (PC 2) mencakup 98% dan 94%. Proporsi varian komponen utama dapat dilihat pada Lampiran 1 dan 3.
Frekuensi KunjunganA. cerana dan T. laeviceps
Pengamatan pada pertanaman stroberi diketahui bahwa Apis cerana
mengunjungi 2.8 bunga/menit, lama kunjungan per bunga ialah 12.64 detik, dan total waktu kunjungan ialah 14.46 menit. Trigona laeviceps mengunjungi 3.23 bunga/menit, lama kunjungan per bunga ialah 5.60 detik, dan total waktu kunjungan ialah 7.73 menit (Tabel 4).
Tabel 4 Frekuensi kunjungan A. cerana dan T. laeviceps pada 45 tanaman stroberi dengan interval waktu pengamatan 30 menit pada pagi-siang-sore hari
Periode Rata-rata 2.8±2.86 3.23±0.52 12.64±7.11 5.60±0.77 14.46±2.34 7.73±1.06
Jumlah bunga yang dikunjungi tertinggi pada A. cerana ialah 3.8±3.82 bunga/menit dan T. laeviceps ialah 3.8±2.1 bunga/menit. Lama kunjungan per bunga tertinggi A. cerana ialah 15.7±4.41 detik dan T. laeviceps
(a) (b)
Gambar 8 Biplot analisis komponen utama antara individu A. cerana (a) dan T. laeviceps
ialah 6.3±3.43 detik. Total waktu kunjungan tertinggi A. cerana ialah 17.9±5.17 menit dan T. laeviceps ialah 8.7±4.72 menit pertanaman stroberi.
Jumlah bunga yang dikunjungi A. cerana terendah ialah 2.1±1.20 bunga/menit dan T. laeviceps ialah 2.1±2.51 bunga/menit. Lama
kunjungan per bunga terendah A. cerana ialah 9.5±8.54 detik dan T. laeviceps
ialah 3.4±4.10 detik. Total waktu kunjungan tertinggi A. cerana ialah 11±9.90 menit dan T. laeviceps ialah 4.7±5.67 menit.
Dari hasil analisis korelasi Pearson diketahui pada A. cerana, suhu udara dan intensitas cahaya berkorelasi positif secara signifikan terhadap jumlah bunga yang dikunjungi (r=0.842, p=0.00 dan r=0.807, p=0.01), lama kunjungan per bunga (r=0.856, p=0.00 dan r=0.810, p=0.01), dan total waktu kunjungan (r=0.857, p=0.00 dan r=0.814, p=0.01). Pada T. laeviceps, suhu udara berkorelasi
positif secara signifikan terhadap jumlah bunga yang dikunjungi (r=0.756, p=0.02), lama waktu kunjungan (r=0.761, p=0.02), dan total lama
kunjungan (r=0.756, p=0.03) (Tabel 5).
Tabel 5 Korelasi Pearson dan nilai signifikansi frekuensi kunjungan lebah
Keterangan: r = nilai korelasi Pearson dan p = nilai signifikansi
Hubungan antara frekuensi kunjungan A. cerana dan T. laeviceps dengan parameter fisik lingkungan juga ditunjukkan dengan hasil biplot PCA (Gambar 9). Dari hasil analisis PCA diketahui frekuensi kunjungan A. cerana dan T. laeviceps
-0.6 -0.4 -0.2 0.0 0.2 0.4
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman stroberi yang diserbuki lebah A. cerana rata-rata membentuk 7.22 buah, T. laeviceps membentuk 7.05 buah, sedangkan pada tanaman kontrol membentuk 5.02 buah (Tabel 6).
Tabel 6 Pembentukan buah tanaman stroberi hasil penyerbukan oleh lebah dan tanaman kontrol dan kandungan vitamin C
Parameter Buah
Perlakuan
Apis cerana
(Serangga lain) Trigona laeviceps Kontrol
∑ Buah terbentuk 7.22a (4 - 13) 7.05a(5 - 10) 5.02b(3 - 7)
∑ Buah sempurna 5.25a(0 - 9) 5.11a(0 - 9) 3.16b (0 - 6)
∑ Buah abnormal 1.99b (0 - 5) 1.93b (0 - 5) 1.87b (0 - 4)
)
Gambar 9 Biplot analisis komponen utama frekuensi kunjungan A. cerana (a)dan
T. laeviceps (b) terhadap parameter fisik lingkungan. lux=Intensitas cahaya, RH=Kelembaban udara, 0C=Suhu, Knot=Kecepatan angin, FHT=lama kunjungan, FR=jumlah bunga dikunjungi, dan TLK= total lama kunjungan.
Panjang buah (cm) 11.4a (10.85 - 11.95) 10.5a (9.79 - 11.27) 7.4b (6.42 - 8.46) Tebal minimum buah (cm) 8.2a (7.86 - 8.95) 8a (7.64 - 8.34) 6.7b (5.62 - 7.57) Tebal maksimum buah (cm) 10a (9.32 - 10.68) 9.25a (8.12 - 10.1) 7b (5.91 - 8.4) Bobot buah (g) 14.87a (1.69 - 20.2) 12.99b (1.94 - 18.62) 6.31c (0.77 - 8.67) Kandungan vit. C (g/100g) buah 1.58 1.47 1.37 Huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukan nilai yang berbeda berdasarkan analisis varian ANOVA dan uji Duncan selang kepercayaan 95% (p<0.05).
Tanaman stroberi yang diserbuki oleh lebah A. cerana dan T. laeviceps
memiliki ukuran dan bobot buah lebih besar dibandingkan tanaman kontrol. Tanaman stroberi yang diserbuki oleh lebah A. cerana dan serangga lain menghasilkan rata-rata 5.25 buah sempurna dan 1.99 buah abnormal. Penyerbukan oleh T. laeviceps menghasilkan rata-rata 5.11 buah sempurna dan 1.93 buah abnormal, sedangkan pada tanaman kontrol dihasilkan 3.16 buah sempurna dan 1.87 buah abnormal. Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa perlakuan A. cerana dan T. laeviceps meningkatkan pembentukan buah sempurna dan menurunkan buah abnormal pada tanaman stroberi.
Penyerbukan oleh lebah A. cerana juga meningkatkan ukuran buah (panjang 11.4 cm, tebal maksimum 10 cm, tebal minimum 8.2 cm) dan bobot buah (14.87g). Demikian juga penyerbukan T. laeviceps meningkatkan ukuran buah (panjang 10.5 cm, tebal maksimum 9.2 cm, tebal minimum 8 cm) dan bobot buah (12.99g). Buah stroberi pada tanaman kontrol mempunyai ukuran lebih kecil (panjang 7.4 cm, tebal maksimum 7 cm, tebal minimum 6.7 cm) dan bobot lebih rendah (6.31g) dibandingkan perlakuan dengan lebah.
Pada tanaman stroberi, penyerbukan yang dibantu oleh lebah A. cerana
dan T. laeviceps juga memiliki kandungan vitamin C buah lebih tinggi (1.58 g/100g dan 1.47 g/100g) dibandingkan dengan tanaman kontrol (1.37gr/100gr). Berdasarkan analisis varian ANOVA, bobot buah hasil penyerbukan A. cerana
PEMBAHASAN
Aktivitas Foraging A. cerana dan T. laeviceps pada Tanaman Stroberi
Berdasarkan hasil pengamatan, aktivitas A. cerana tertinggi terjadi pada pukul 08.00-08.30 WIB (Gambar 1) sedangkan T. laeviceps terjadi pukul 13.30-14.00 WIB (Gambar 2). Hasil penelitian ini sesuai dengan laporan Singh (2008) bahwa puncak aktivitas A. cerana terjadi pada pukul 08.30-11.30 dan
T. laeviceps pada pukul 10.00-14.00 (Chinh, 2005). Pada T. itima Cockrell, aktivitas foraging terjadi pada siang hari (Inoue & Salmah, 1984). Pada tanaman
Tectona grandis, puncak aktivitas foraging T. collina terjadi pada pukul 10.00-12.00 (Tangmitcharoen et al. 2006).
Banyaknya individu A. cerana yang ditemukan pada pagi hari dan
T. laeviceps di siang hari menunjukkan adanya perbedaan relung ekologi dan pembagian waktu kunjungan antara A. cerana dan T. laeviceps. Hal ini berkaitan dengan sumber pakan yang tersedia (polen dan nektar) sehingga diduga terjadinya kompetisi dan agresifitas antara serangga-serangga yang mengunjungi pertanaman stroberi. Schoonhoven et al. (1998) melaporkan aktivitas mencari pakan pada lebah mempertimbangkan beberapa faktor, seperti karakteristik sumber pakan, aroma, waktu, dan kondisi cuaca. Selain itu, aktivitas foraging lebah berukuran besar (bumblebee) terjadi pada pagi hari dan lebah berukuran kecil (stinglessbee) terjadi pada siang hari. Lebah berukuran kecil mengalami kesulitan dalam kompetisi untuk mendapatkan sumber pakan tersedia (Heinrich, 1979).
Puncak aktivitas foraging A. cerana pada tanaman stroberi terjadi pukul 08.00-08.30 WIB kemudian mengalami penurunan pukul 10.00-17.00 WIB,
sedangkan puncak aktivitas foraging T. laeviceps terjadi pada pukul 13.30-14.00 WIB dan mulai menurun pada pukul 14.30-17.00 WIB. Hal ini
penyerbuk tanaman jarak pagar. Selain itu, Faheem et al. (2004) juga melaporkan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi aktivitas mencari pakan A. cerana, antara lain ketinggian tempat, suhu udara, intensitas cahaya, kelembaban udara, kecepatan angin, dan curah hujan.
Berdasarkan hasil analisis PCA dan korelasi Pearson diketahui aktivitas
A. cerana dan T. laeviceps berkorelasi positif terhadap suhu dan intensitas cahaya. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas terbang A. cerana dan T. laeviceps diatur dalam proses thermoregulasi yang berkaitan dengan suhu lingkungan. Aktivitas terbang lebah terjadi jika suhu thoraks mencapai 300C (Barth, 1991). Anendra (2010) melaporkan bahwa intensitas cahaya, suhu, dan kelembaban udara mempengaruhi akitivitas harian mencari pakan A. cerana. Shuel (1992) melaporkan suhu yang rendah mengganggu aktivitas mencari pakan A. cerana. Lebah mengalami kesulitan dalam mengumpulkan polen karena udara yang lembab membuat polen menjadi lengket. Sakagami et al. (1983) juga melaporkan bahwa perubahan kondisi lingkungan mempengaruhi kemampuan thermoregulasi
T. laeviceps. Suhu, intensitas cahaya, dan kelembaban udara mempengaruhi distribusi dan kelimpahan T. laeviceps (Liow et al. 2001). Trigona biroi Friese melakukan aktivitas foraging lebih rendah di pagi hari karena suhu dan intensitas cahaya yang rendah (Cervanica et al. 1982).
Frekuensi Kunjungan A. cerana dan T. laeviceps pada Pertanaman Stroberi
Berdasarkan hasil pengamatan diketahui jumlah bunga yang dikunjungi
Lama kunjungan per bunga T. laeviceps (5.60 detik) lebih singkat bila dibandingkan lama kunjungan per bunga A. cerana (12.64 detik). Hal tersebut kemungkinan berkaitan dengan ukuran tubuh T. laeviceps yang lebih kecil. Hal ini sesuai dengan pernyataan Raw (2000) bahwa lebah Dialictus ypirangensis yang
dengan ukuran tubuh yang kecil cenderung berkunjung lebih cepat (5.8 detik per bunga) dibandingkan dengan lebah Augochlora morrae yang
berukuran tubuh lebih besar (8.1 detik per bunga). Waktu yang dibutuhkan
A. cerana untuk mencari polen sekitar 3.25 per bunga (Gupta et al. 1990). Lama kunjungan T. laeviceps pada tanaman Tectona grandis (21±7.31 detik/bunga) lebih singkat (Tangmitcharoen et al. 2006). Lama kunjungan A. cerana pada bunga pala ialah 4.68±4.04 menit/bunga (Masfufah, 2010).
Total lama kunjungan A. cerana pada pertanaman stroberi lebih lama (14.46 menit) dibanding dengan T. laeviceps (7.73 menit). Hal ini mungkin karena posisi nektar berada di dasar bunga dan ukuran bunga kecil, sehingga A. cerana
mengalami kesulitan dan membutuhkan waktu yang lama untuk mengambil nektar. Pada penelitian Masfufah (2010) pada bunga pala yang berukuran kecil juga dilaporkan total kunjungan A. cerana (2.42±1.43 menit) lebih lama dibanding total kunjungan Trigona spp. (1.94±1.48 menit). Hal ini sesuai dengan laporan Chagnon et al. (1993) bahwa selain karakteristik morofologi bunga, perilaku setiap spesies lebah yang berbeda-beda akan mempengaruhi proses penyerbukan.
Pembentukan Buah Tanaman Stroberi
Hasil penelitian menunjukkan jumlah buah yang terbentuk hasil penyerbukan A. cerana dan T. laeviceps lebih tinggi dibandingkan tanaman kontrol (Lampiran 5). Hal ini menunjukkan frekuensi kunjungan lebah A. cerana
dan T. laeviceps memiliki peranan dalam membantu penyerbukan bunga stroberi. Viabilitas polen yang dibawa oleh lebah A. cerana dan T. laeviceps kemungkinan cukup tinggi dan putik diserbuki secara sempurna. Faegri & van der Pijl (1971) menjelaskan serangga penyerbuk mampu meningkatkan kuantitas dan viabilitas polen dan biji tanaman. Hal ini ditunjukkan Roselino et al. (2009), bahwa kehadiran lebah Scaptotrigona aff. depilis dan Nannotrigona testaceicornis
kualitas dan kuantitas buah stroberi. Penelitian Chang et al. (2001) juga menunjukan persentase buah stroberi hasil penyerbukan A. mellifera dan
A. cerana mencapai 45%. Selain pada tanaman stroberi, pada tanaman bunga matahari yang diberi lebah A. mellifera menunjukkan persentase pembentukan
buah lebih tinggi (98.5%) dibandingkan tanaman tanpa lebah (4.6%) (Oz et al. 2009). Pada tanaman tomat, penyerbukan oleh Bombus ephippiatus
terbentuk buah lebih banyak (201 buah) dibandingkan tanpa B. ephippiatus (128 buah) (Vergara & Buendía, 2012). Pada tanaman mentimun (Cucumis sativus L.), Solange et al. (2008) melaporkan bahwa penyerbukan oleh
S. aff. depilis dan N. testaceicornis mampu meningkatkan 100% hasil buah. Pada tanaman jarak pagar, terjadi peningkatan pembentukkan buah dengan adanya serangga penyerbuk (Rianti, 2008).
Penyerbukan pada tanaman stroberi dengan perlakuan A. cerana dan
T. laeviceps menyebabkan terjadinya peningkatan pembentukan buah sempurna (Lampiran 6) dan terjadi penurunan buah abnormal (Lampiran 7). Hal ini mengindikasikan bahwa A. cerana dan T. laeviceps efektif dalam penyerbukan tanaman stroberi dan pembentukkan buah. Roselino et al. (2009) melaporkan bahwa buah stroberi abnormal yang terbentuk hasil penyerbukan S. aff. depilis
dan N. testaceicornis lebih rendah (4%) dibandingkan tanpa lebah penyerbuk (23%). Selain itu, Solange et al. (2008) juga melaporkan persentase buah abnormal pada mentimum yang terbentuk dari hasil penyerbukan S. aff. depilis
dan N. testaceicornis lebih rendah (6%) dibandingkan tanpa lebah (18%). Dafni (1992) melaporkan bahwa keberhasilan penyerbukan dipengaruhi oleh viabilitas polen, reseptibilitas putik, dan inkompabilitas.
Perkembangan buah stroberi dikontrol oleh achene yang menempel pada permukaan reseptakel yang membesar. Achene menghasilkan hormon auksin, hormon vegetal, yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman (Nitsch, 1950).
heterozygote advantage tanaman. Hasil penelitian Atwal (1970) membuktikan bahwa penyerbukan yang dibantu oleh serangga pada tanaman pertanian mampu meningkatkan hasil panen dan memperbaiki kualitas benih tanaman. Roselino et al. (2009) juga melaporkan bahwa buah stroberi yang diserbuki oleh
Scaptotrigona aff. depilis dan N. testaceicornis berukuran lebih besar (panjang 9.8 cm dan bobot 11.2 gr) dibandingkan tanaman kontrol (panjang 5.5 cm dan bobot 10.6 gr). Selain itu, buah stroberi hasil penyerbukan oleh lebah A. cerana
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan puncak aktivitas kunjungan
Apis cerana terjadi pada pagi hari, sedangkan Trigona laeviceps terjadi di siang hari. Ukuran tubuh lebah dan faktor fisik lingkungan, seperti suhu udara dan
intensitas cahaya mempengaruhi aktivitas kunjungan lebah A. cerana dan
T. laeviceps pada tanaman stroberi. Pada A. cerana, aktivitas kunjungan meliputi jumlah bunga yang dikunjungi ialah 2.8 bunga/menit, lama kunjungan per bunga ialah 12.64 detik, dan total waktu kunjungan ialah14.46 menit. Pada T. laeviceps,
aktivitas kunjungan meliputi jumlah bunga yang dikunjungi ialah 3.23 menit/bunga, lama kunjungan per bunga ialah 5.60 detik, dan total waktu
kunjungan ialah 7.73 menit. Aktivitas kunjungan A. cerana dan T. laeviceps
membantu penyerbukan tanaman stroberi, yang meningkatkan pembentukan buah, ukuran dan bobot buah, dan menurunkan terbentuknya buah abnormal. Kandungan vitamin C buah stroberi hasil penyerbukan lebah lebih tinggi dibanding tanaman kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa lebah A. cerana dan
T. laeviceps efektif dalam penyerbukan tanaman stroberi.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Abrol DP. 1992. Energetics of nectar production in some strawberry cultivars as a predictor of floral choice by honeybees. J Biosci 17: 41-44.
Amano K, Nemoto T, Heard TA. 2000. What are stingless bees and why and how to use them as crop pollinator? JARQ 34: 183-190.
Anendra YC. 2010. Aktivitas Apis cerana Mencari polen, Identifikasi Polen dan Kompetisi Menggunakan Sumber Pakan dengan Apis mellifera [Tesis]. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Atmowidi T, Rianti P & Sutrisna A. 2008. Pollination effectiveness of Apis cerana Fabricius and Apis mellifera Linnaeus in Jatropha curcas L. (Euphorbiaceae). Biotropia 15: 29-134.
Atwal AS. 1970. Biology, ecology and utilization of insects other than honeybees in the pollination of crops. Ludhiania: Punjab Agricultural University.
Badan Pusat Statistik. 2004. Statistik Perdagangan Luar Negeri (Impor). Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2004. Statistik Perdagangan Dalam Negeri (Ekspor).
Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2010. Perkembangan Beberapa Indikator Utama Sosial-Ekonomi Indonesia. Jakarta.
Barth FG. 1991. Insects and Flowers. The Biology of a Partnership. New Jersey. Princeton Univ Press.
Benson L. 1957. Plant Classification. Boston: DC. Heath & Co. Boston.
Cervanica CR, Barile GE, Veeresh GK, Shankar RO, Ganeshaiah KN. 1982. Foraging behaviour of Trigona biroi Friese. Bangalore. Proc. Int. Symp. On Pollin. In tropic 64: 78-80.
Chandler CK, Legard DE, Duningan DD, Crocker TE, Sims CA. 2000. ‘Strawberry earlibrite’ strawberry. HortScience 35: 1363-1365.
Chagnon M, Gingras J, de Oliveira D. 1993. Complementary aspects of strawberry pollination by honey and indigenous bees (Hymenoptera). J Econ Entomol 86: 416-420.
Chinh TX, Marinus J. Sommeijer, Willem J. Boot. Michener CD. 2005. Nest architecture and colony characteristics of three stingless bees in North Vietnam with the first description of the nest of Lisotrigona carpenteri Engel (Hymenoptera: Apidae, Meliponini). J Kan Entomol Soc. 46: 30-601.
Connor LJ & Martin EC. 1973. Component of pollination of commercial starwberries in Michigan. HortScience 8: 304-306.
Dafni A. 1992. Pollination Ecology: A Practical Approach. New York: Oxford University Press.
Darrow GM. 1966. The Strawberry. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Damayanti E.2008. Obeservasi perilaku berdasarkan umur pada lebah pekerja
Apis cerana [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
Delaplane KS & Mayer DF. 2000. Crop Pollination by Bees. Oxon: CABI Publishing.
Demchak K. 2012. The Mid-Atlantic Berry Guide for Commercial Growers 2013-1014. Senior Extension Associate. Pennsylvania: Department of Horticulture.
Dennis SH. 1994. Agricultural Entomology. Oregon: Timber Press.
Faegri K, van der Pijl L. 1971. The Principles of Pollination Ecology. New York: Pergamon Press.
Faheem M, Aslam M, Razaq M. 2004. Pollination ecology with special reference to insects a review. J Res Sci 4: 395-409.
Free JB. 1982. Bees and Mankind. London: George Allen and Unwin.
Gary NE. 1992. Activities and Behavior of Honey Bees. In JM Graham, editor.
The Hive and The Honey Bee. Dadant and sons. Hamilton: Illionis 322-328.
Greenleaf SS, Kremen C. 2006. Wild bees enchance honey bees pollination of hybrid sunflower. PNAS 37: 13890-13895.
Gojmerac WL. 1983. Bees, Beekeeping, Honey and Pollination. Connecticut: Avi Publishing Company Weasport.
Gupta JK, Reddy MCM, Kumar J. 1990. Pattern of nectar secretion in wild cherry , Prunus pruddum Roxb, and the associated foraging behaviourof Apis cerana indica F and Apis mellifera L. Apidologie 21: 11-16.
Heinrich B. 1979. Bumblee Economics. USA-Massachusetts: Harvard University
Herbert EW. 1992. Honey Bee Nutrition. In JM Graham, editor. The Hive and The Honey Bee. Dadant and sons. Hamilton: Illionis 197-224.
Inoue T, Salmah S. 1984. Foraging behaviour of individual workers and foraging dynamics of colonies of three Sumatran stingless bees. In: Entomol Ecol of Insect in Humid Trop 44-49.
Inoue T, Sakagami SF, Salmah S, Yamane S. 1984. The process of colony multiplication in the Sumatran stingless bee Trigona laeviceps. Biotropica
16:100–11
Klein AM, Dewenter AS, Tscharntke T. 2004. Foraging trip duration and density of megachilid bees, eumenid wasps and pompilid wasps in tropical agroforestry systems. J Animal Ecol 73: 517–525.
Klinkhamer PGL, de Jong TJ, Linnebank LA. 2001. Small-scale spatial patterns determine ecological relationships:an experimental example using nectar production rates. Ecol Letters 4: 559-567.
Kremen C, William MN, Thorp RW. 2002. Crop pollination from native bees at risk from agricultural intensification. PNAS 99: 16812-16819.
Liow LH, Navjot S, Sodhi, Thomas E. 2001. Bee diversity along a disturbance
gradient in tropical lowland forests of south-east Asia. J Appl Ecol
38: 180–192.
Masfufah I. 2010. Keanekaragaman Serangga Penyerbuk Dan Efektivitasnya Dalam Pembentukan Buah Pala (Myristica fragrans: Myristicaceae) [Tesis]. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Matsuka M, Sakai T. 1989. Bee pollination in Japan with special reference to strawberry production in greenhouse. Bee World 70: 55-61.
Michener CD. 2000. The Bees of The World. Baltimore: The Johns Hopkins University Press.
Michener CD, Boongird, S. 2004. A new species of Trigona from Peninsular Thailand (Hymenoptera: Apidae: Meliponini). Kansas: J the Kan Entomol Soc
77: 143-146.
Nitsch JP. 1950 . Growth and morphogenesis of the strawberry as related to auxin.
Am J Bot 37: 211-215.
Oz M, Karasu A, Cakmak I, Goksoy AT, Turan ZM. 2009. Effects of honeybee (Apis mellifera) pollination on seed set in hybrid sunflower (Helianthus annuus L.). Af J Biotech 8: 1037-1043.
Potter D et al. 2007. Phylogeny and classification of rosaceae. Plant Syst Evol 266: 5–43.
Proctor M, Yeo P, Lack A. 1996. The Natural History of Pollination. London: Harper Collins Publishers.
Raju AJS, Ezradanam V. 2002. Pollination ecology and fruiting behavior in a
monoecious species, Jatropha curcas L. (Euphorbiaceae). Cur Science 83: 1395-1398.
Raw A. 2000. Foraging behavior of wild bees at hot pepper flower (Capsicum annum) and its possible influence on cross pollination. Annals Bot 85: 187-192.
Rianti, P. 2008. Keragaman, Perilaku, Kunjungan dan Efektivitas Serangga Penyerbuk Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L: Euphorbiaceae). [tesis]. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Roselino AC, Santos SB, Hrneir M, Bego LR. 2009. Differences between the quality of strawberries (Fragaria x ananassa) pollinated by the stingless bees
Scaptotrigona aff. depilis and Nannotrigona testaceicornis. Gen Mol Rese 8: 539-545.
Sakagami SF, T Inoue, Sô Yamane, S Salmah. 1983. Nests architecture and colony composition of the Sumatran stingless bees Trigona (Tetragonula) laeviceps. Kontyû 51: 100-111.
Schoonhoven LM, Jermy T, van Loon JJA. 1998. Physiology to Evolution: Insect-Plant Biology. London: Chapman&Hall.
Shuel RW. 1992. The Production of nectar and pollen. Illionis: In JM Graham. Dadant and Sons.
Singh MM. 2008. Foraging behavior of the himalayan honeybee (Apis cerana F.) 0n flowers of Fagopyrum asculentum M. and its impact on grain quality and yield. Ecoprint 15: 37-46.
Solange AB, Dos Santos, Roselino AC, Bego LR, 2008. Pollination of Cucumber,
Cucumis sativus L. (Cucurbitales: Cucurbitaceae) by the Stingless Bees
Scaptotrigona aff. depilis Moure and Nannotrigona testaceicornis Lepeletier
(Hymenoptera: Meliponini) in Greenhouses Neotropical. Entomology
Speight MR, Hunter MD, Watt AD. 1999. Ecology of Insect: Concept and Application. Blacwell Science.
Staudt G. 1999. Systematics and geographic distribution of the american strawberry species. Taxonomic studies in the genus Fragaria. Univ Calif Publ Bot 81.
Strand L. 1994. Integrated Pest Management for Strawberries. Oakland: University of California, CA. Division of Agriculture and Natural Resources Publication 3351.
Susanto S. 2003. Pertumbuhan 11 aksesi stroberi yang dibudidayakan secara hidroponik. The growth of 11 accessions of strowberry grown by hydroponic.
Bul Agron 31: 68 - 70.
Tangmitcharoen SA, Takaso TB, Siripatanadilox SC, Tasen WC, Owens JN. 2006. Behavior of major insect pollinators of teak (Tectona grandis L. f.): A comparison of clonal seed orchard versus wild trees. Royal Forest Department. Bangkok: Thailand. 10900.
William G, Adam P. 1994. A review of rainforest pollination and plant pollinator interactions with particular reference to australian subtropical rain forests.
Aus Zoo 29: 3-4.
Winston ML. 1987. The Biology of the Honey Bee. Massachussets: Harvard University Press Cambridge.
Vergara CH, Buendía PF. 2012. Pollination of greenhouse tomates by the mexican bumblebee Bombus ephippiatus (Hymenoptera: Apidae). J Poll Ecol 7: 27-30.
Zebrowska J. 1998. Influence of pollination modes on yield components in strawberry (Fragaria x ananassa Duch.). Plant Breeding 117: 255-260.
Lampiran 1 Proporsi varian komponen utama dalam analisis uji PCA berdasarkan jumlah individu A. cerana
PC 1 PC 2 PC 3 PC 4
SD 1.739 0.948 0.2474 0.125
VAR 0.756 0.224 0.0153 0.00393
KUM 0.756 0.981 0.9961 1.000
PC= komponen utama, SD = standar deviasi, VAR = proporsi varian, KUM = proporsi kumulatif.
PC 1 PC 2 PC 3 PC 4
SD 1.499 1.025 0.669 0.506
VAR 0.561 0.263 0.112 0.064
KUM 0.561 0.824 0.936 1.000
PC= komponen utama, SD = standar deviasi, VAR = proporsi varian, KUM = proporsi kumulatif.
Lampiran 2 Proporsi varian komponen utama dalam analisis uji PCA berdasarkan aktivitas kunjungan A. cerana
PC 1 PC 2 PC 3 PC 4 PC 5 PC 6
SD 2.345 0.961 0.7384 0.15750 0.08971 0.01302 VAR 0.785 0.132 0.0779 0.00354 0.00115 0.00002 KUM 0.785 0.917 0.9953 0.99883 0.99998 1.00000 PC= komponen utama, SD = standar deviasi, VAR = proporsi varian, KUM = proporsi kumulatif.
Lampiran 3 Proporsi varian komponen utama dalam analisis uji PCA berdasarkan jumlah individu T. laeviceps
PC 1 PC 2 PC 3 PC 4 PC 5
SD 1.748 1.279 0.512 0.216 0.029
VAR 0.611 0.327 0.052 0.009 0.00017
KUM 0.611 0.938 0.991 0.999 1.000
PC= komponen utama, SD = standar deviasi, VAR = proporsi varian, KUM = proporsi kumulatif.
PC 1 PC 2 PC 3 PC 4 PC 5
SD 1.626 1.081 0.908 0.475 0.372
VAR 0.529 0.234 0.165 0.045 0.028
KUM 0.529 0.762 0.927 0.972 1.000
Lampiran 4 Proporsi varian komponen utama dalam analisis uji PCA berdasarkan aktivitas kunjungan T. laeviceps
PC 1 PC 2 PC 3 PC 4 PC 5 PC 6 PC 7 SD 2.18 1.281 0.743 0.22061 0.03974 0.02387 0.00571 VAR 0.68 0.234 0.079 0.00695 0.00023 0.00008 0.00000 KUM 0.68 0.914 0.993 0.99969 0.99991 1.00000 1.00000 PC= komponen utama, SD = standar deviasi, VAR = proporsi varian, KUM = proporsi kumulatif.
Lampiran 5 Hasil analysis of variance dan Duncan's Multiple Range Test jumlah buah terbentuk pada tanaman stroberi
Analysis of Variance
Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F Model 8 1347.081481 168.385185 23.44 <.0001
Error 126 905.066667 7.183069
Corrected Total 134 2252.148148
Duncan's Multiple Range Test
Means with the same letter are not significantly different
Duncan Grouping Mean N perlk
A 21.6667 45 a
A 21.1556 45 b
B 15.0667 45 c
Lampiran 6 Hasil analysis of variance dan Duncan's Multiple Range Test jumlah buah sempurna pada tanaman stroberi
Analysis of Variance
Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F Model 8 1268.325926 158.540741 20.78 <.0001 Error 126 961.333333 7.629630
Corrected Total 134 2229.659259
Duncan's Multiple Range Test
Means with the same letter are not significantly different
Duncan Grouping Mean N perlk
A 15.756 45 a
A 15.333 45 b
B 9.489 45 c
Keterangan: a. Apis cerana, b. Trigona laeviceps, dan c. Kontrol
Lampiran 7 Hasil analysis of variance dan Duncan's Multiple Range Test jumlah buah abnormal pada tanaman stroberi
Analysis of Variance
Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F Model 8 22.1481481 2.7685185 0.54 0.8256 Error 126 647.7333333 5.1407407
Lampiran 8 Hasil analysis of variance dan Duncan's Multiple Range Test panjang buah pada tanaman stroberi
Analysis of Variance
Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F Model 8 47.38461926 5.92307741 83.39 <.0001 Error 126 8.95008000 0.07103238
Corrected Total 134 56.33469926
Duncan's Multiple Range Test
Means with the same letter are not significantly different
Duncan Grouping Mean N perlk
A 3.8087 45 a
A 3.4900 45 b
B 2.4756 45 c
Keterangan: a. Apis cerana, b. Trigona laeviceps, dan c. Kontrol
Lampiran 9 Hasil analysis of variance dan Duncan's Multiple Range Test lebar minimum buah pada tanaman stroberi
Analysis of Variance
Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F Model 8 30.11053926 3.76381741 33.22 <.0001 Error 126 14.27632000 0.11330413
Corrected Total 134 44.38685926
Duncan's Multiple Range Test
Means with the same letter are not significantly different
Duncan Grouping Mean N perlk
A 3.3389 45 a
A 3.0609 45 b
B 2.3424 45 c