• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Ruang Lingkup Penelitian

II. TINJAUAN PUSTAKA

A.Asesmen

Asesmen atau penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut secara khusus, dalam konteks pembelajaran di kelas, penilaian dilakukan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik/perbaikan proses belajar mengajar, dan penentuan kenaikan kelas. Melalui penilaian dapat diperoleh informasi yang akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar peserta didik, guru, serta proses pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan informasi itu, dapat dibuat keputusan tentang pembelajaran, kesulitan peserta didik dan upaya

Penilaian menurut Muchtar (2010: 71) mendefinisikan sebagai berikut:

Penilaian merupakan bagian integral dari proses pembelajaran. Penilaian sering dianggap sebagai salah satu dari tiga pilar utama yang sangat menentukan kegiatan pembelajaran. Ketiga pilar tersebut adalah perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Apabila ketiga pilar tersebut sinergis dan berkesinambungan, maka akan sangat menentukan kualitas pembelajaran. Oleh karena itu penilaian harus dirancang dan dilaksanakan sesuai dengan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Sistem

penilaian harus dikembangkan sejalan dengan perkembangan model dan strategi pembelajaran.

Penilaian menurut Kunandar (2013: 61) mendefinisikan sebagai berikut: Penilaian adalah suatu yang sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan penilaian hasil belajar maka dapat diketahui seberapa besar keberhasilan peserta didik telah menguasai kompetensi atau materi yang telah yang diajarkan oleh guru. Melalui penilaian juga dapat

dijadikan acuan untuk melihat tingkat keberhasilan atau efektifitas guru dalam belajar. Oleh karena itu, penilaian hasil belajar harus dilakukan dengan baik mulai dari menentukan instrumen, penyusunan instrumen, telaah instrumen, pelaksanaan penilaian, analisis hasil penilaian dan program tindak lanjut hasil penilaian. Dengan penilaian hasil belajar yang baik akan memberikan informasi yang bermanfaat dalam perbaikan kualitas proses belajar mengajar. Sebaliknya, kalau terjadi kesalahan dalam penilaian hasil belajar, maka akan terjadi salah informasi tentang kualitas proses belajar mengajar dan pada akhirnya tujuan pendidikan yang sesungguhnya tidak akan tercapai.

Melihat penjelasan mengenai penilaian di atas maka dapat disimpulkan bahwa penilaian merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam memahami pelajaran yang telah disampaikan guru. Penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik dengan memiliki beberapa tujuan menentukan nilai suatu objek, seperti baik-buruk, efektif-tidak efektif, berhasil-tidak berhasil, dan semacamnya sesuai dengan kriteria atau tolak ukur yang telah ditetapkan sebelumnya.

9 B.Tujuan dan Manfaat Asesmen

Tujuan penilaian menurut Kunandar (2013: 70) antara lain sebagai berikut: 1) Melacak kemampuan peserta didik;

2) Mengecek ketercapaian kompetensi peserta didik;

3) Mendeteksi kompetensi yang belum dikuasai oleh peserta didik; 4) Menjadi umpan balik untuk perbaikan bagi peserta didik;

Manfaat penilaian menurut Kunandar (2013:71) antara lain sebagai berikut: 1) Mengetahui tingkat pencapai kopentensi selama dan setelah proses

pembelajaran berlangsung;

2) Memberikan umpan balik bagi peserta didik agar mengetahui kekuatan dan kelemahannya dalam proses pencapaian kopetensi;

3) Memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar yang dialami peserta didik;

4) Umpan balik bagi guru dalam memperbaiki metode, pendekatan, kegiatan dan sumber belajar yang digunakan;

5) Memberikan pilihan alternatif penilaian kepada guru;

6) Memberikan informasi kepada orang tua tentang mutu dan efektivitas pembelajaran yang dilakukan sekolah.

Tujuan dan manfaat penilaian menurut Arikunto (2008: 37) antara lain sebagai berikut:

1) Makna bagi siswa dengan diadakannya penilaian maka siswa dapat mengetahui sejauh mana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Hasil yang diperoleh oleh siswa ada 2 kemungkinan yakni memuaskan atau tidak memuaskan.

2) Makna bagi guru dengan hasil penilaian guru akan dapat mengetahui siswa mana saja yang berhak melanjutkan pelajarannya karena sudah berhasil menguasai bahan, maupun mengetahui siswa-siswa mana yang belum menguasai bahan. Guru dapat mengetahui apakah materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa sehingga untuk memberikan

pengajaran di waktu yang akan datang tidak perlu diadakan perubahan. 3) Makna bagi sekolah adalah guru-guru mangadakan penilaian dan

diketahui bagaimana hasil belajar siswa-siswanya, dapat diketahui pula apakah kondisi belajar yang diciptakan oleh sekolah sudah sesuai harapan atau belum.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi dan manfaat penilaian sebagai berikut:

a) Manfaat penilaian bagi guru seperti:

1) Pada pelaksanaan penilaian, guru akan memperoleh data tentang kemajuan belajar siswa.

2) Pada pelaksanaan penilaian guru akan dapat mengetahui apakah metode mengajar yang digunakannya sudah sesuai atau tidak.

3) Hasil penilaian dapat dimanfaatkan guru untuk melaporkan kemajuan belajar siswa kepada orang tua/wali siswa.

b) Manfaat penilaian bagi siswa seperti:

1) Hasil penilaian dapat menjadi pendorong siswa agar belajar lebih giat. 2) Hasil penilaian dapat dimanfaatkan siswa untuk mengetahui kemajuan

belajarnya.

3) Hasil penilaian merupakan data tentang apakah cara belajar yang dilaksanakannya sudah tepat atau belum.

c) Manfaat penilaian bagi lembaga/sekolah seperti:

1) Hasil penilaian dapat dimanfaatkan sekolah untuk mengetahui apakah kondisi belajar mengajar yang dilaksanakan sekolah sudah sesuai dengan harapan atau belum.

2) Hasil penilaian merupakah data yang dapat dimanfaatkan sekolah untuk merencanakan pengembangan sekolah pada masa yang akan datang.

3) Hasil penilaian merupakan bahan untuk menetapkan kebijakan dalam upaya meningkatkan kualitas sekolah.

11 C.Prinsip Asesmen

Pada proses penilaian terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam menilai peserta didik. Penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang

pendidikan dasar dan menengah didasarkan Permendikbud Nomer 66 Tahun 2013 tentang standar penilaian pada prinsip-prinsip sebagai berikut:

1) Objektif, berarti penilaian berbasis pada standar dan tidak dipengaruhi faktor subjektivitas penilai.

2) Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik dilakukan secara terencana, menyatu dengan kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan.

3) Ekonomis, berarti penilaian yang efisien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporannya.

4) Transparan, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diakses oleh semua pihak.

5) Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak internal sekolah maupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur, dan hasilnya.

6) Edukatif, berarti mendidik dan memotivasi peserta didik dan guru.

Sedangkan pelaksanaan penilaian pendidikan harus memperhatikan prinsip penilaian. Ada 9 prinsip sebagaimana dijelaskan dalam Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:

1) Sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur.

2) Objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai.

3) Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender. 4) Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu

komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran. 5) Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar

pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan.

6) Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik.

7) Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.

8) Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.

9) Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.

Prinsip penilaian menurut Grounlund (1998: 28) antara lain sebagai berikut: 1) Harus ada spesifikasi yang jelas apa yang mau dinilai: penempatan,

formatif, ataukah sumatif.

2) Harus komprehensif: afektif, psikomotor, dan kognitif.

3) Butuh berbagai ragam teknik/metode asesmen, baik metode tes maupun nontes.

4) Harus dapat memilih instrumen asesmen yang sesuai.

5) Harus jelas apa maksud dan tujuan diadakan asesmen, jadi akan jelas pula apa tindak lanjutnya.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip penilaian harus valid, objektif, terbuka, dan adil. Prinsip penilaian harus valid yakni penilaian hasil belajar oleh pendidik harus mengukur pencapaian kompetensi yang ditetapkan dalam standar isi (standar kompetensi dan

kompetensi dasar) dan standar kompetensi lulusan. Selain itu prinsip penilaian harus objektif yakni penilaian hasil belajar peserta didik hendaknya tidak dipengaruhi oleh subyektivitas penilai, perbedaan latar belakang agama, sosial-ekonomi, budaya, bahasa, gender, dan hubungan emosional. Selain itu prinsip penilaian harus terbuka yaknipenilaian hasil belajar oleh pendidik bersifat terbuka artinya prosedur penilaian, kriteria penilaian dan dasar pengambilan keputusan terhadap hasil belajar peserta didik dapat diketahui oleh semua pihak yang berkepentingan.

13 D.Asesmen Otentik

Penilaian hasil belajar peserta didik harus menggunakan penilaian yang menilai seluruh aspek dalam pembelajaran. Penilaian otentik dituntut dapat menilai semua aspek dalam proses pembelajaran. Adapun aspek-aspek dalam pembelajaran yaitu aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik. Sehingga penilaian otentik harus

memperlihatkan keseimbangan antara penilaian sikap, pengetahuan dan ketrampilan peserta didik. Pada penilaian ini guru dapat mengambil penilaian ketika proses pembelajaran sehingga penilaian ini tidak hanya dilakukan di akhir periode pembelajaran saja. Penilaian otentik menurut Pantiwati (2013: 26) menjelaskan sebagai berikut:

Penilaian merupakan bagian dari proses pembelajaran yang harus sejalan dengan perkembangan model dan strategi pembelajaran. Seiring dengan perkembangan kurikulum, maka asesmen yang digunakan harus

mengalami perkembangan juga. Pada kurikulum 2013, asesmen yang ditekankan adalah asesmen otentik. Asesmen otentik adalah asesmen yang menekankan pada permasalahan atau kenyataan nyata yang dilakukan siswa pada saat pembelajaran berlangsung.

Penilaian otentik menurut Kunandar (2013: 35) mendefinisikan sebagai berikut: Penilaian otentik adalah kegiatan menilai peserta didik yang menekankan pada apa yang seharusnya dinilai, baik proses maupun hasil dengan berbagai instrument penilaian yang disesuaikan dengan tuntutan

kompetensi yang ada di Standar Kompetensi (SK) atau Kompetensi Dasar (KD) dan Kompetensi Inti (KI).

Penilaian otentik menurut Mueller dalam Abidin (2012: 168) mendefinisikan bahwa seperti berikut:

Penilaian otentik adalah suatu penilaian belajar yang merujuk pada situasi

atau konteks dunia “nyata” yang memerlukan berbagai macam pendekatan

untuk memecahkan masalah yang memberikan kemungkinan bahwa satu masalah bisa mempunyai lebih dari satu macam pemecahan.

Penilaian otentik menurut Grounlund dalam Pantiwati (2013: 12) mendefinisikan sebagai berikut:

Asesmen otentik adalah asesmen yang berpusat pada pelajar nyata seperti kehidupan sehari-hari dan terintegrasi dalam strategi pembelajaran, bersifat berkelanjutan dan dilakukan terhadap proses dan produk.

Asesmen otentik merupakan suatu proses yang terintegrasi untuk menentukan ciri dan tingkat belajar dan perkembangan belajar peserta didik seperti yang dijelaskan Kunandar (2013: 35):

Asemen otentik adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran oleh anak didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran dan kompetensi telah benar-benar dikuasai dan dicapai.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa asesmen otentik adalah asesmen yang menilai apa yang dipelajari siswa bukan apakah siswa tersebut belajar. Sehingga pada asesmen otentik ini tidak hanya menilai apa yang diketahui oleh siswa saja tetapi juga menilai apa yang dapat siswa lakukan dalam proses pembelajaran.

Implementasi dari asesmen otentik harus mengikuti prinsip-prinsip: 1) Asesmen merupakan bagian tak terpisahkan dari pembelajaran. 2) Asesmen harus mencerminkan masalah dunia nyata.

3) Asesmen harus menggunakan berbagai ukuran, metode dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar.

4) Asesmen meliputi semua aspek dari tujuan pembelajaran, baik kognitif, afektif maupun sensori motorik.

15 E.Jenis-Jenis Asesmen Otentik

Jenis-jenis penilaian otentik menurut pendapat Burton dalam Bakti (2014: 3) menjelaskan sebagai berikut:

Penilaian otentik adalah sekumpulan penilaian yang menghubungkan pengetahuan dengan praktik langsung. Pada penilaian otentik terdapat beberapa teknik penilaian yang dapat dilakukan di antaranya penilaian otentik termasuk di dalamnya penilaian perfomansi (performance assessment), portofolio (portfolios), dan penilaian diri-sendiri (student self-assessment), penugasan (Proyek/Projek), hasil kerja (Product), dan tertulis (Paper & Pen).

Penilaian otentik menurut Daryanto (2014: 126) ada beberapa jenis antara lain, yaitu : 1) Penilaian kinerja. 2) Penilaian proyek. 3) Penilaian portofolio. 4) Penilaian tertulis. 5) Penilaian lisan.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis penilaian otentik dapat berupa penilaian performansi, portofolio, penilaian diri sendiri, penugasan, hasil kerja, dan tertulis.

Penilaian performansi (Performance Assessment) merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini tepat dilakukan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik menunjukkan kinerjanya. Pemantauan didasarkan pada kinerja (performance) yang ditunjukkan dalam menyelesaikan suatu tugas atau permasalahan yang diberikan. Hasil yang diperoleh merupakan suatu hasil dari unjuk kerja tersebut. Penilaian ini merupakan bentuk penilaian yang membangun

respon siswa, misalnya dalam hal berbicara atau menulis. Respon siswa dapat diperoleh guru dengan melakukan observasi selama pembelajaran di kelas. Penilaian ini meminta siswa untuk menyelesaikan tugas yang komplek dalam konteks pengetahuan, pembelajaran terkini, dan keahlian yang relevan untuk menemukan solusi dari suatu permasalahan. Siswa dapat menggunakan bahan-bahan atau menunjukkan hasil aktifitas tangan dalam mengatasi masalah, contoh: laporan berbicara, menulis, proyek individu maupun grup, pameran, dan

demonstrasi.

Portofolio (Portfolios) merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada berbagai informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi perkembangan peserta didik tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didiknya, hasil tes (bukan nilai), piagam penghargaan atau bentuk

informasi lain yang terkait dengan kompetensi tertentu dalam satu mata pelajaran. Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik dan terus melakukan perbaikan. Portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik. Portofolio adalah penilaian yang meminta peserta didik menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajari berdasarkan kreteria yang telah ditetapkan. Tujuan utama dari portofolio adalah untuk mendukung atau memperbaiki proses dan hasil belajar. Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memberikan nilai. Jenis asesmen diri:

17 1) Asesmen langsung dan spesifik yaitu penilaian secara langsung pada saat

atau setelah selesai melakukan tugas, untuk menilai aspek-aspek tertentu pada mata pelajaran.

2) Asesmen tidak langsung dan holistik yaitu penilaian yang dilakukan dalam kurun waktu yang panjang, untuk memberikan penilaian secara

keseluruhan.

3) Asesmen sosio-afektif yaitu penilaian terhadap unsur-unsur afektif atau emosional, misal: peserta didik diminta membuat tulisan yang membuat curahan perasaan. Sistem pengumpulan hasil kerja siswa yang dianalisis untuk menunjukkan kemajuan belajar siswa dalam jangka waktu tertentu. Contoh penilaian portofolio, misalnya: menulis, membaca buku harian,

menggambar, audio atau video, dan atau komentar guru dan siswa tentang kemajuan yang telah dicapai siswa.

Penilaian diri-sendiri (Student Self-Assessment) merupakan kunci dalam penilaian otentik dan dalam pengaturan pembelajaran diri, “motivasi dan strategi untuk menyelesaikan permasalahan dengan tujuan spesifik”. Penilaian diri-sendiri digunakan untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang di dalamnya merupakan integrasi dari kemampuan kognitif, motivasi, dan sikap terhadap pembelajaran. Dalam pengaturan diri pembelajar, murid membuat pilihan, memilih aktivitas pembelajaran, dan merencanakan bagaimana mereka menggunakan waktu dan sumber. Mereka memiliki kebebasan untuk memilih aktivitas yang menantang, mengambil resiko, meningkatkan kemahiran pembelajaran, dan mencapi tujuan yang telah direncanakan.

Penugasan (Proyek) merupakan tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari

pengumpulan, pengorganisasian, pengevaluasian, hingga penyajian data. Karena dalam pelaksanaannya proyek bersumber pada data primer/sekunder, evaluasi hasil, dan kerjasama dengan pihak lain, proyek merupakan suatu sarana yang penting untuk menilai kemampuan umum dalam semua bidang. Proyek juga akan memberikan informasi tentang pemahaman dan pengetahuan peserta didik pada pembelajaran tertentu, kemampuan peserta didik dalam mengaplikasikan

pengetahuan, dan kemampuan peserta didik untuk mengomunikasikan informasi. Penilaian ini juga merupakan penilaian terhadap suatu tugas yang mengandung penyelidikan yang harus selesai dalam waktu tertentu. Proyek adalah suatu tugas yang meminta siswa menghasilkan sesuatu oleh diri siswa sendiri pada suatu topik yang berhubungan dengan kurikulum lebih dari hanya sekedar ”memproduksi” pengetahuan dalam suatu tes.

Hasil kerja (Product) adalah penilaian terhadap keterampilan siswa dalam membuat suatu produk tertentu dan kualitas produk tersebut. Tujuan penilaian produk adalah:

1) Menilai penguasaan keterampilan siswa yang diperlukan sebelum mempelajari keterampilan berikutnya.

2) Menilai tingkat kompetensi yang sudah dikuasai siswa pada setiap akhir jenjang.

3) Menilai keterampilan siswa yang akan memasuki institusi pendidikan tertentu.

19 Tertulis (Paper & Pen) dapat digolongkan menjadi dua bentuk, yaitu tes esai jawaban terbuka (extended-response) dan jawaban terbatas (restricted-response) dan hal ini tergantung pada kebebasan yang diberikan kepada peserta didik untuk mengorganisasikan atau menyusun ide-idenya dan menuliskan jawabannya. Pada tes pilihan jamak termasuk tes tertutup karena siswa hanya memilih jawaban yang paling benar yang sudah disediakan, sedangkan tes uraian termasuk tes terbuka karena siswa bebas menjawab pertanyaan yang diberikan.

Dokumen terkait