• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aleurodicus dispersus Russell (Hemiptera: Aleyrodidae) Biologi dan Taksonomi

Kutukebul A. dispersus memiliki karakteristik yang sama dengan A. dugesii. Telur berbentuk bulat panjang dengan berwarna kuning dan berukuran

0,2-0,3 mm. Imago betina memiliki fekunditas 51,80-64,06 telur. Biasanya telur diletakkan di permukaan bawah daun. Setelah telur menetas berubah menjadi nimfa. Nimfa terdiri dari 3 instar. Nimfa instar pertama memiliki tungkai untuk bergerak mencari tempat penyerapan makanan yang sesuai dan menetap disana. Pada fase ini, nimfa berbentuk bulat telur dan pipih. Pada fase instar kedua dan ketiga selama masa perkembangannya haya melekat di daun karena nimfa kutukebul tersebut tidak memiliki tungkai sehingga tidak dapat bergerak walaupun kondisi lingkungan tidak mendukung di sekitar daerah penyerapan makanan.

Stadia terakhir, kutukebul menghentikan aktivitas makannya dan membentuk pupa sebelum menjadi imago. Pupa berwarna kuning, berbentuk lonjong dengan ukuran panjang 1 mm dan lebar 0,75 mm serta diselimuti lilin berwarna putih. Setelah melalui fase pupa, kutukebul menjadi imago. Imago keluar dari kantung pupa melalui bagian yang paling lunak yaitu bagian belakang dari kantung pupa. Total periode nimfa normalnya berkisar 12-14 hari dan fase pupa sekitar 3-4 hari (Palaniswami et al. 1995)

Kutukebul A. dispersus aktif di pagi hari dan umumnya perkawinan terjadi pada sore hari. Kutukebul ini memiliki inang sangat banyak dan adanya lapisan liin yang menyelimuti tubuhnya sehingga sangat sulit dikendalikan. Kutukebul A. dispersus digolongkan ke dalam ordo Hemiptera, subfamili Aleurodicinae, family Aleyrodidae (Rusell 1965).

Kutukebul A. dispersus memiliki ciri morfologi seperti pupa berwarna transparan dan tubuh dikelilingi oleh lilin. Subdorsum memiliki pori majemuk penghasil lilin. Nimfa dan imago dapat ditemukan di bawah permukaan daun dan hidup dalam berkelompok. Bentuk luar agak lonjong, terdapat empat pasang pori

4

pada bagian abdomen yang berukuran sama dengan diameter ± 25 µm (Gambar 1). Pori abdominal terdapat pada segmen III dan IV. Lingkaran dorsal dengan pola pori berseptat pada wilayah submedian dan kebanyakan dari pori tersebut berukuran agak besar dan tebal. Diskus dorsal dengan pori-pori septat yang jelas terdapat di daerah submedian, sebagian besar dengan pori-pori rimmed yang luas dan padat terdapat di daerah subdorsal.

Gambar 1 Pupa A. dispersus (dorsal) dengan empat pasang pori pada bagian abdomen (angka 1-4) (a), serangan A. dispersus pada tanaman pepaya (b).

Parasitoid dan predator A. dispersus

Ditemukan dua parasitoid utama yang memarasit kutukebul A. dispersus yaitu Encarsia haitiensis (Hymenoptera: Aphelinidae) dan E. quadeloupe (Hymenoptera: Aphelinidae) serta dua spesies predator Cryptolaemus montrouzieri (Coleoptera: Coccinellidae) dan Axinoscymnus puttarudriahi

(Coleoptera: Coccinellidae) (Mani 2010). Parasitoid E. haitiensis dan E. quadeloupae terbukti sangat berguna dalam menekan kutukebul A. dispersus di

Kepulauan Pasifik, Afrika dan negara-negara Asia (Mani dan Krishnamoorthy 2002). Namun Aishwariya et al. (2007) menyatakan predator C. montrouzieri dan Axinoscymnus puttarudriahi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap populasi kutukebul A. dispersus. Kedua predator tersebut juga tidak mampu mencegah peledakan kutukebul di Indonesia pada tanaman jambu biji

(a) (b) 1 2 3 4 0,5 mm

5

(Kajita et al. 1991). Metzler & Laprade (1998) juga melaporkan ditemukan empat spesies parasitoid yaitu E. noyesii, E. aluerodici, E. probo dan E. quadeloupe yang memarasit kutukebul A. dispersus. Dilaporkan juga ditemukan predator yang memangsa kutukebul A. dispersus yaitu Nephaspis sp. (Coleoptera: Coccinellidae) dan Scymnus sp. (Coleoptera: Coccinellidae) (Metzler & Laprade 1998).

Mani (2010) melaporkan dalam pengamatannya di India bahwa terdapat dua spesies parasitoid (Tabel 1) dan 45 spesies predator (Tabel 2) sebagai musuh alami dari A. dispersus.

Encarsia haitiensis Dozier (Hymenoptera: Aphelinidae)berwarna kuning, memiliki ukuran tubuh 0,57 mm dengan lebar 0,26 mm. Antena terdiri dari 8 ruas. Sayap depan dan sayap belakang setaseus. Nimfa yang terparasitisasi berwarna hitam dengan lama terparasitisasi sampai parasitoid menetas berkisar 17 hari. Imago hidup selama 4-6 hari (Geetha 2000). Parasitoid E. haitiensis memarasit A. dispersus pertama kalinya di Bangalore pada Januari 1998. E. haitiensis dilaporkan memarasit A. dispersus mencapai 97% di Bangalore (Ramani 2000).

Encarsia quadeloupae Viggiani (Hymenoptera: Aphelinidae) berwarna hitam. Periode pupa spesies ini hidup selama rata-rata 7,32 hari. Imago dapat hidup selama 20 hari pada suhu 30 0C.

Cryptolaemus montrouzieri Mulsant (Coleoptera: Coccinellidae). Mani & Krishnamoorthy (1999) melaporkan bahwa masing-masing larva C. montrouzieri instar I. II ,III, dan instar IV rata-rata mengkonsumsi jumlah nimfa A. dispersus sebanyak 23,50, 47,85, 74,60, dan 149,80. Satu ekor larva C. montrouzieri dapat mengkonsumsi 138-228 nimfa A. dispersus sepanjang periode perkembangannya selama 16 hari.

Axinoscymnus puttarudriahi Kapur & Munshi (Coleoptera: Coccinellidae). Telur menetas selama empat hari. Perkambangan periode larva selama 7-8 hari sedangkan periode pupa selama 5-6 hari. Total siklus hidupnya mulai dari telur sampai imago adalah 16-18 hari. Imago A. puttarudriahi dapat hidup selama 31- 47 hari. Imago betina mampu bertelur 51-134 telur dalam masa perkembangannya.

6

Aleurodicus dugesii Cockerell (Hemiptera: Aleyrodidae) Biologi dan Taksonomi

Kutukebul A. dugesii memiliki tipe metamorfosis paurometabola (metamorfosis bertingkat). Secara umum, serangga pradewasa dengan tipe metamorfosis ini disebut nimfa. Metamorfosis serangga ini dimulai dari telur, berkembang menjadi nimfa, dan selanjutnya berkembang menjadi imago.

Telur dihasilkan oleh imago A. dugesii betina. Imago betina mampu menghasilkan 150-300 telur selama hidupnya. Imago betina yang sudah dibuahi oleh imago jantan akan menempelkan telurnya di permukaan daun dengan suatu pengait yang disebut pedisel. Kutukebul A. dugesii bereproduksi secara seksual, namun sesekali saja bersifat partenogenesis. Imago betina yang tidak dibuahi akan menghasilkan keturunan jantan.

Sebelum telur menetas, calon nimfa kutukebul mendapatkan makanan dari tanaman inangnya (Dreistadt et al. 2001). Nimfa instar pertama memiliki tungkai untuk bergerak mencari tempat penyerapan makanan yang sesuai dan menetap disana. Fase selanjutnya, nimfa kutukebul tersebut tidak memiliki tungkai sehingga tidak dapat bergerak walaupun kondisi lingkungan tidak mendukung di sekitar daerah penyerapan makanan. Stadia terakhir, kutukebul menghentikan aktivitas makannya dan membentuk puparium sebelum menjadi imago. Setelah melewati fase pupa, kutukebul menjadi imago.

Imago kutukebul A. dugesii memiliki ukuran tubuh 4-5 mm. Kutukebul A. dugesii merupakan spesies kutukebul yang berukuran paling besar. Dibandingkan dengan spesies lain, imago kutukebul Bemisia tabaci hanya memiliki ukuran tubuh 1-2 mm dan A. dispersus berukuran 2-3 mm.

Kutukebul A. dugesii digolongkan ke dalam ordo Hemiptera, subordo Sternorrhyncha, family Aleyrodidae, dan subfamily Aleurodicine. Kutukebul spesies ini sangat unik. Selain memiliki ukuran tubuh yang panjang, kutukebul A. dugesii memiliki ciri khas berupa adanya pola mosaik atau totol-totol hitam di sayapnya yang berwarna abu-abu. Kutukebul A. dugesii meletakkan telur secara melingkar (berbentuk spiral) mengikuti alur lilin yang dibentuk. Biasanya telur diletakkan di bawah permukaan daun. Lilin tersebut dihasilkan oleh imago

7

A. dugesii betina, sedangkan imago jantan tidak menghasikan lilin (Botha et al. 2000). Menurut Aylsworth (1996), lilin dapat mencapai panjang lebih dari 10 inchi dalam kondisi rumah kaca, sedangkan di alam bebas lilin tersebut rusak diterpa angin ataupun percikan hujan. Lilin diproduksi saat imago betina meletakkan telur di tanaman inang. Imago betina mampu menghasilkan 150-300 telur selama hidupnya.

Kutukebul A. dugesii memiliki ciri morfologi berupa pupa berwarna transparan dan banyak mengekskresikan lilin. A. dugesii banyak ditemukan di bawah permukaan dalam berkelompok. Bentuk luar agak lonjong dan pada bagian abdomen terdapat enam pasang pori dengan dua pasang pori yang tereduksi (Gambar 2). Pori abdominal tersebut memiliki ukuran berdiameter 28 µm dan terdapat pada segmen III dan VI. Lingkaran dorsal dengan dengan pola pori berseptat terdapat pada wilayah submedian dan kebanyakan dari pori tersebut berukuran tebal dan agak besar. Barisan pori pada wilayah submarginal tidak terinterupsi oleh vasiform orifice. Dua pasang pori posterior tereduksi dan berbentuk seperti lonceng (bell-shaped).

Gambar 2 Enam pasang pori pada bagian abdomen A. dugesii (angka 1-6) dengan dua pasang pori tereduksi (angka 5&6) (a), lilin A. dugesii pada tanaman kembang sepatu (b), telur A. dugesii diletakkan spiral (c).

(a) (b) (c) 1 2 3 4 5 6

8

Kerusakan kutukebul A. dispersus dan A. dugesii dapat dibedakan berupa kerusakan langsung dan kerusakan tidak langsung. Kerusakan langsung disebabkan oleh aktifitas makan fase nimfa dan imago yang menusuk menghisap cairan daun sehingga mengakibatkan matinya jaringan daun. Penghisapan cairan tanaman yang dilakukan oleh nimfa juga dapat menginduksi gangguan fisiologis tanaman (physiological disorder) seperti tidak teraturnya waktu matang tanaman tomat dan daun yang keperakan (silver leaf) pada tanaman famili Cucurbitaceae. Kerusakan tidak langsung berupa ekskresi embun madu yang dijadikan media bagi pertumbuhan embun jelaga. Embun jelaga sendiri menghambat proses fotosintesis karena cahaya matahari terhalang oleh lapisan jelaga di permukaan daun. Kerugian yang ditimbulkan berkisar 20-100% tergantung dari tanaman dan musim serta hubungan antara serangga ini dengan faktor lain.

Parasitoid dan predator A. dugesii

Pada tahun 1995, di Texas ditemukan spesies parasitoid Entedononecremnus krauteri (Hymenoptera: Eulophidae) memarasit kutukebul A. dugesii (Garrison 2001, Zolnerowich 1996) dan ditemukan di California tahun 1997 (Nguyen & Hamon 2004). Selain itu, ditemukan dua spesies parasitoid yang memarasit A. dugesii yaitu Encarsiella noyesii (Hymenoptera: Aphelinidae) dan Idioporus affinis (Hymenoptera: Pteromalidae) (Hayat 1983, Lassale et al. 1997, Garrison 2001, Dreistadt 2001, Myartseva 2002). Kedua spesies tersebut berasal dari Guadalajara, Mexico. Eksplorasi sebelumnya tercatat bahwa sampai 80% larva A. dugesii terparasitisasi oleh E. noyesii dan I. affinis (Garrison 2001). Terdapat beberapa spesies predator dari A. dugesii yang ditemukan. Predator dari A. dugesii yang ditemukan adalah Delphastus catalinae (Coleoptera: Coccinellidae). Pada tahun 1995, spesies Delphastus catalinae ditemukan memangsa A. dugesii di California (Garrison 2001). Spesies lain yang dianggap predator dari A. dugesii adalah Chrysopa (Neuroptera: Chrysopidae) and Chrysoperla spp (Neuroptera: Chrysopidae), bahkan Harmonia axyridis (Coleoptera: Coccinellidae) ditemukan memangsa A. dugesii juga (Dreistadt 2001).

9

Encarsiella noyesii Polaszek & Hayat (Hymenoptera: Aphelinidae) termasuk ke dalam subordo Chalcidoidea. Peran spesies aphelinidae sangat penting di dalam ekosistem sebagai musuh alami dari banyak inang dan telah sukses digunakan sebagai agens pengendali biologi di Mexico dan di banyak negara. Karakteristik genus Encarsiella memiliki delapan segmen antena baik serangga jantan maupun betina. Segmen ketiga dari garis lintang di ujung antena terdapat 2-4 seta. Terdiri dari mesoskutum dengan jumlah seta yang tidak tetap tetapi selalu lebih dari enam (Myartseva et al. 2002).

Parasitoid E. noyesii memiliki ukuran tubuh imago sangat kecil, tidak menyengat. Parasitoid ini meletakkan telurnya dengan cara memarasitsasi pupa kutukebul A. dugesii. Sebelum menetas menjadi imago, parasitoid ini hidup dan mendapatkan di dalam tubuh inangnya. Saat E. noyesii menetas akan meninggalkan lubang pada bagian pupa yang terparasitisasi.

Idioporus affinis LaSalle & Polaszek (Hymenoptera: Pteromalidae) memiliki ukuran tubuh yang sangat kecil. Parasitoid ini berukuran 0,85-1,15 mm (Lassale 1997). Cara memarasit I. affinis sama seperti E. noyesii. Parasitoid ini meletakkan telurnya dengan cara memarasit pupa kutukebul A. dugesii. Sebelum menetas menjadi imago, parasitoid ini hidup dan mendapatkan di dalam tubuh inangnya. Saat E. noyesii menetas akan meninggalkan lubang pada bagian pupa yang terparasit.

Parasitoid I. affinis betina memiliki ciri kepala yang berwarna coklat gelap. Antena terdiri dari lima segmen dengan skapus dan pedisel yang panjang dan tanpa anneli. Sedangkan ciri I. affinis jantan hampir mirip dengan I. affinis betina. Antena tidak berkembang seperti imago betinanya. Antena imago jantan memiliki skapus yang yang seluruhnya berwarna coklat kecuali pada bagian ukungnya berwarna pucat. Pedisel berwarna coklat, flagelum berwarna kuning sampai coklat terang. Koksa bagian depan berwarna coklat sedangkan koksa bagian tengah dan belakang berwarna kuning. Femur depan berwarna, tibia berwarna kuning, dan semua tarsi berwarna kuning sampai coklat terang.

Entedononecremnus krauteri Zolnerowich & Rose (Hymenoptera: Eulophidae) termasuk ke dalam Superfamili Chalcidoidea. Spesies ini

10

merupakan parasit utama yang memarasit kutukebul, terutama spesies A.dugesii dan spesies tersebut belum pernah dilaporkan menyerang inang kutukebul lainnya (Zolnerowich & Rose 1996).

Imago betina E. krauteri berukuran 0,98-1,17 mm. Kepala dan tubuhnya berwarna hitam. Pada antenna, skapus dan pedisel testaseus dengan ruas dan club funikular berwarna kecoklatan. Koksa berwarna hitam dan trokanter coklat gelap. Femur dan tibia berwarna hitam. Tarsi terdiri dari 4 ruas. Ruas 1-3 berwarna putih sedangkan tarsi ruas ke-4 berwarna hitam. Sayap transparan sedangkan venasinya berwarna kecoklatan.

Imago jantan berukuran lebih kecil dari betinanya yaitu 0,99-1,14 mm. ukuran skapus 3,3-4,0 kali lebih panjang dengan sebuah celah ventral yang berisi pori yang terbuka. Ruas funikular kedua sedikit lebih panjang sekitar 3 kali lebih panjang dari ruas funikular pertama.

Delphastus catalinae (Horn) (Coleoptera: Coccinellidae) sering sekali digunakan di rumah kaca umumnya untuk mengendalikan kutukebul Bemisia tabaci. Predator ini sering ditemukan berasosiasi dengan populasi tinggi dari beragam spesies kutukebul lainnya.

Ukuran imago sangat kecil yaitu 1,4 mm. Spesies ini berwarna coklat gelap sampai kehitaman. Pada imago betina, kepala berwarna kuning kemerahan, berwarna lebih terang dari kepala imago jantan. Telur berbentuk oval berwarna kekuningan. Imago betina mampu bertelur 2-6 telur per hari dan dapat bertelur lebih dari 300 telur dalam hidupnya selama 65 hari.betina harus makan 100-150 telur kutukebul per hari untuk dapat melanjutkan bertelur.

Chrysoperla sp. (Neuroptera: Chrysopidae) memiliki nama umum Green Lacewing. Spesies ini termasuk ke dalam ordo Neuroptera, family Chrysopidae. Imago berwarna hijau terang. Sayap berwarna transparan dengan banyak selaput. Imago betina mampu menghasilkan telur 100-200 telur. Biasanya imago betina meletakkan telur pada malam hari serta telur diletakkan di bagian permukaan bawah daun.

11

Tabel 1 Musuh alami (parasitoid) dari A. dispersus (Mani 2010)

Musuh alami Famili (Ordo) Referensi

Encarsia haitiensis Dozier

(=Encarsia meritoria Gahan)

Aphelinidae (Hymenoptera) Srinivasa et al. (1999); Beevi et al. (1999); Mani et al. (2001); Geetha & Swamiappan (2001c) Encarsia guadeloupae

Viggiani

Aphelinidae (Hymenoptera) Mani et al.(2001); Beevi et al.(2001)

Tabel 2 Musuh alami (predator) dari A. dispersus (Mani 2010)

Musuh alami Famili (Ordo) Referensi

Leptus sp. Erythraeidae (Acarina) Geetha&Swamiappan(2001c)

Axinoscymnus

puttarudiahi Kapur and Munshi

Coccinellidae (Coleoptera) Mani & Krishnamoorthy (1999a,c)

Asia Mariam (1999); Muralikrishna(1999)

Curinus coeruleus Muls.

Coccinellidae (Coleoptera) Mani et al. ( 2001) Horniolus sp. Coccinellidae (Coleoptera) Anonim (2002) Cheilomenes

sexmaculata(Fab.)

Coccinellidae (Coleoptera) Palaniswami et al. (1995);

Mani & Krishnamoorthy (1999a); Asia Mariam (1999); Muralikrishna(1999); Geetha (2000) Cryptolaemus montrouzieri Muls

Coccinellidae (Coleoptera) Mani & Krishnamoorthy (1999a);

Muralikrishna(1999); Geetha (2000); Chilocorus nigrita

(Fab.)

Coccinellidae (Coleoptera) Mani & Krishnamoorthy (1999b);

Geetha (2000); Anegleis cardoni

(Wiese)

Coccinellidae (Coleoptera) Mani et al. (2001); Asia Mariam(1999); Geetha (2000); Anegleis perrotteti

(Muls.)

Coccinellidae (Coleoptera) Anonim (2002) Jauravia dorsalis

(Wise.).

12

Musuh alami Famili (Ordo) Referensi

Jauravia pallidula Motseh.

Coccinellidae (Coleoptera) Anonim (2002) Rodoloia breviuscula

Weise

Coccinellidae (Coleoptera) Anonim (2002); Geetha (2000) Rodolia fumida Mulsant Coccinellidae (Coleoptera) Anonim (2002); Geetha (2000) Serangium

parcesetosum Sic

Coccinellidae (Coleoptera) Mani et al.(2000a); PDBC (1999)

Nephus regularis Sic, Coccinellidae (Coleoptera) Anonim (2001) Scymnus sp. Coccinellidae (Coleoptera) Anonim (1999) Rodolia amabilis Kapur Coccinellidae (Coleoptera) Anonim (2002) Psedoscymnus sp. Coccinellidae (Coleoptera) Anonim (2000) Keiscymnus sp. Coccinellidae (Coleoptera) Anonim (2000) Scymnus coccivora

Ayyar

Coccinellidae (Coleoptera) Anonim (2002) Scymnus latemaculatus

Motsch.

Coccinellidae (Coleoptera) Anonim (2002); Geetha (2000) Scymnus posticalis Sic Coccinellidae (Coleoptera) Anonim (2002) Scymnus saciformis

Motsch.

Coccinellidae (Coleoptera) Anonim (2002) Scymnus nubilus Muls. Coccinellidae (Coleoptera) Anonim (1999) Pseudaspidimerus

flaviceps(Walk.)

Coccinellidae (Coleoptera) Anonim (2002) Pseudaspidimerus

trinotatus(Walk.)

Coccinellidae (Coleoptera) Anonim (2001)

Cybocephalus sp. Nitidulidae (Coleoptera) Mani & Krishnamoorthy (2001);

Muralikrishna (1999); Geetha (2000)

Mallada astur (Banks) Chrysopidae (Neuroptera) Mani & Krishnamoorthy (1977c);

Asia Mariam (1999); Geetha (2000);

Apertochrysa sp. Chrysopidae (Neuroptera) Mani & Krishnamoorthy (1999a); Geetha et al . (1999) Nobilinus sp. Chrysopidae (Neuroptera) Mani & Krishnamoorthy

(1999a); Mallada boninensis

(Okomato)

Chrysopidae (Neuroptera) Mani & Krishnamoorthy (1999a);

Chrsoperla carnea (Steph)

Chrysopidae (Neuroptera) Geetha et al. (2000) Symherobius barberi

(Banks)

Hemerobiidae (Neuroptera) Paulson & Kumashiro (1985) Hemerobius sp. Hemerobiidae (Neuroptera) Mani et al. (2001)

Notiobiella viridinervis Banks

Hemerobiidae (Neuroptera) Mani et al. (2001) Leucopis sp. Chamaemyiidae (Diptera) Anonim (2000)

13

Musuh alami Famili (Ordo) Referensi

Triommato coccdivora (Felt)

Cecidomiidae (Diptera) Mani & Krishamoorthy (1999a)

Acletoxenus indicus Malloch

Drosophilidae (Diptera) Mani & Krishnamoorthy (1999a)

Spalgis epeus (West wood)

Lycaenidae (Lepidoptera) Mani et al.(2001) Oecophylla smaragdina

(F)

Formicidae (Hymenoptera) Gopi et al. (2001) Solenopsis geminata (F) Formicidae (Hymenoptera) Gopi et al. (2001)

Oxopes sp. Oxypidae (Acari) Geetha (2000)

House sparrow, Passer domesticus (L) Aves Gopi et al. (2001) Spider hunter Archnothera longirostris (Latham) Aves Gopi et al. (2001)

Pied bushchat Saxicola caprata (L)

Aves Gopi et al. (2001)

Tailor bird Orthotomus sutorius

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu

Penelitian dilakukan di berbagai lahan pertanian, pekarangan dan kehutanan di Kabupaten dan Kotamadya Bogor meliputi Kecamatan Dramaga, Rancabungur, Tanah Sereal, Bogor Timur, Ciawi, Megamendung, dan Cisarua. Wilayah lain yang juga di survei yaitu Kecamatan Pacet dan Haurwangi (Kabupaten Cianjur), Lembang (Kabupaten Bandung), serta Cibadak dan Cisaat (Kabupaten Sukabumi). Identifikasi dilakukan di Laboratorium Biosistematika Serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilakukan dari Maret 2011 sampai dengan Agustus 2011.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan untuk pembuatan preparat slide adalah sampel kutukebul dari tanaman inang, alkohol 50-100%, larutan KOH 10%, fuchsin acid dan glacial acetic acid, carbol cylene, minyak cengkeh dan canada balsam.

Alat yang digunakan adalah mikroskop cahaya dan stereo, GPS (Global Positioning System) Mio Digi Walker, Camera digital, kantung plastik transparan, kaca pembesar, alat tulis, tabung reaksi, cawan siracus, kaca penutup preparat dan kaca objek, serta gunting.

Metode Penelitian Pengumpulan sampel kutukebul

Tanaman yang yang diamati adalah semua tanaman yang terserang kutukebul A. dispersus dan A. dugesii yang ditemukan di berbagai lahan pengamatan. Pengambilan sampel kutukebul pada bagian tanaman inang yang terserang, baik berupa imago, pupa, dan kantung pupa untuk diidentifikasi di laboratorium. Sampel yang ditemukan di lapang dimasukkan ke dalam kantung plastik dan selanjutnya dibawa ke Laboratorium Biosistematika Serangga, Departemen Proteksi Tanaman IPB. Dengan bantuan mikroskop, pupa yang menempel pada tanaman inang dilepaskan perlahan menggunakan jarum mikro. Selanjutnya pupa disimpan ke dalam alkohol 70% hingga siap untuk diawetkan

15

dalam bentuk preparat slide. Namun tidak semua pupa yang didapat diawetkan dalam bentuk preparat slide. Sebagian pupa yang didapat juga akan dipelihara untuk mengetahui jenis parasitoid dan tingkat parasitisasinya. Pencatatan informasi garis lintang dan ketinggian tempat pengambilan sampel menggunakan GPS sebelum kegiatan pengoleksian kutukebul dilakukan.

Pengamatan parasitoid dan predator

Pengamatan parasitoid dilakukan di laboratorium. Sampel daun tanaman inang yang terserang kutukebul yang diperoleh di lapang dimasukkan ke dalam kantung plastik dan selanjutnya dibawa ke laboratorium. Di laboratorium, dengan bantuan mikroskop pupa yang menempel pada tanaman inang dihitung jumlahnya. Hal ini dilakukan untuk menghitung tingkat parasitisasinya dan mendapatkan parasitoid dimana sebelumnya telah memarasit inangnya. Pupa kutukebul yang berwarna hitam merupakan salah satu ciri pupa yang telah terparasit parasitoid. Daun yang berisi pupa yang telah dihitung jumlah pupanya dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang ditutup dengan kain kasa. Dalam waktu beberapa hari, parasitoid yang keluar dari pupa kutukebul dihitung jumlahnya dan langsung dimasukkan ke dalam botol koleksi yang berisi alkohol 70% hingga siap diawetkan dalam bentuk preparat slide untuk diidentifikasi.

Tingkat parasitisasi dihitung dengan:

Jumlah parasitoid yang menetas

Jumlah pupa yang diamati %

Pengamatan predator kutukebul dilakukan pada saat pengamatan langsung di lapang. Pengamatan predator kutukebul dilakukan pada bagian tanaman yang terserang kutukebul. Pengamatan dibantu menggunakan kaca pembesar. Predator kutukebul yang ditemukan dalam bentuk imago dimasukkan ke dalam botol koleksi yang berisi alkohol 70% sedangkan penemuan predator kutukebul dalam bentuk larva atau pupa akan dibawa ke laboratorium untuk dipelihara sampai menjadi imago.

16

Pembuatan preparat slide kutukebul dan parasitoid

Pembuatan preparat kutukebul dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode dengan pemanasan dan tanpa pemanasan (Watson 2007).

Pembuatan preparat slide parasitoid dilakukan dengan perendaman alkohol secara bertingkat mulai dari alkohol 70%, 80%, 95%, dan 100%. Perendaman dilakukan masing-masing selama 10 menit. Agar alkohol tidak menguap, cawan siracus ditutup menggunakan penutupnya. Alkohol hasil perendaman terakhir dibuang dan diganti dengan perendaman minyak cengkeh selama 10 menit. Spesimen diambil dan diletakkan di atas kaca objek selanjutnya ditata lurus. Setelah spesimen tertata lurus, diteteskan canada balsam secara merata dan ditutup dengan kaca penutup, kemudian preparat dikeringkan ke dalam elemen pengering.

Identifikasi kutukebul, parasitoid, dan predator

Pengamatan morfologi dan identifikasi kutukebul dilakukan di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 4, 10, dan 40 kali. Buku identifikasi yang digunakan untuk mengidentifikasi spesies kutukebul yaitu Key to Commonly Intercepted Whitefly Pest (Dooley 2006) dan Identification of Whiteflies (Hemiptera: Aleyrodidae) (Watson 2007).

Pengamatan morfologi dan identifikasi parasitoid dan predator dilakukan di bawah mikroskop cahaya dan stereo. Kunci identifikasi yang digunakan untuk membantu dalam identifikasi parasitoid yaitu Key To Parasitoid Genera Associated With Whiteflies (Aleyrodidae) (http://www.sel.barc.usda.gov:8080/) dan Hymenoptera of The World: An Identification Guide to Families (Goulet dan Huber 1993). Buku yang digunakan untuk mengidentifikasi predator yaitu Insect: Their Natural History and Diversity (Marshall 2006) dan Coccinellidae (http://gaga.biodiv.tw/).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Pengamatan kutukebul A. dispersus dan A. dugesii dilakukan di Kabupaten Bogor dan Kotamadya Bogor meliputi Kecamatan Dramaga (162-351 mdpl), Kecamatan Rancabungur, Kecamatan Ciawi (636 mdpl), Kecamatan Megamendung (698-975 mdpl), Kecamatan Cisarua (977-1021 mdpl), Kecamatan Tanah Sereal (200 mdpl), dan Kecamatan Bogor Timur (277 mdpl). Pengamatan juga dilakukan di beberapa kecamatan di luar Kabupaten dan Kotamadya Bogor yaitu Kecamatan Pacet dan Haurwangi (Kabupaten Cianjur) (283-1201 mdpl), Kecamatan Lembang (Kabupaten Bandung) (1231-1322 mdpl), serta Kecamatan Cisaat dan Cibadak (Kabupaten Sukabumi) (586-594 mdpl). Pengamatan di Kecamatan Cibadak dilakukan di Hutan Pendidikan Gunung walat, IPB. Kutukebul A. dispersus ditemukan di semua wilayah pengamatan kecuali di Kecamatan Bogor Timur, Kecamatan Pacet, dan Kecamatan Cibadak. Begitu juga kutukebul A. dugesii hampir ditemukan di semua wilayah pengamatan kecuali di Kecamatan Rancabungur, Kecamatan Ciawi, dan Kecamatan Haurwangi.

Penyebaran kutukebul A. dispersus dan A. dugesii sudah sangat meluas karena kedua kutukebul ini ditemukan di wilayah mana saja, baik wilayah dataran rendah, sedang maupun dataran tinggi. Banyaknya jumlah tanaman inang memungkinkan populasi kutukebul ada sepanjang tahun baik menyerang inang utama maupun inang alternatif. Jambu biji, singkong, dan kastuba merupakan tanaman yang menjadi inang utama kutukebul A. dispersus (Tabel Lampiran 1). Kembang sepatu, alpukat, labu siam, dan begonia merupakan tanaman yang menjadi inang utama kutukebul A. dugesii (Tabel Lampiran 2).

Parasitoid yang ditemukan memarasit kutukebul A. dispersus adalah Encarsia sp., dan Encarsiella noyesii (Hymenoptera: Aphelinidae), sedangkan predator yang ditemukan memangsa kutukebul A. dispersus adalah Nephaspis sp., Cryptolaemus montrouzieri, Harmonia axyridis, dan Scymnus sp. (Coleoptera: Coccinellidae).

18

Parasitoid yang ditemukan memarasit kutukebul A. dugesii adalah Encarsia sp., E. noyesii (Hymenoptera: Aphelinidae), Amitus sp. (Hymenoptera: Platygastridae), dan Scelionidae sp1 (Hymenoptera: Scelionidae), sedangkan

predator yang ditemukan memangsa kutukebul A. dugesii adalah Nephaspis sp., C. montrouzieri, H. axyridis, dan Scymnus sp.

Informasi parasitoid dan predator kutukebul A. dispersus dan A. dugesii yang ditemukan di wilayah Bogor dan wilayah lainnya dapat dilihat pada Tabel 3 - Tabel 6.

Tabel 3 Parasitoid kutukebul A. dispersus yang ditemukan di wilayah Bogor dan beberapa wilayah lainnya

Parasitoid Lokasi penemuan

Kecamatan (Kabupaten/Kotamadya)

Tingkat parasitisasi rata-rata (%)

E. noyesii Dramaga (Bogor) 6,99

Tanah sereal (Bogor) 36,35

Ciawi (Bogor) 21,30

Megamendung (Bogor) 52,38

Cisarua (Bogor) 23,68

Encarsia sp. Dramaga (Bogor) 21,11

Rancabungur (Bogor) 49,61

Tanah Sereal (Bogor) 26,67

Ciawi (Bogor) 21,30

Megamendung (Bogor) 4,84

Dokumen terkait