LANDASAN TEORI
A. Pengertian Akuntansi
Bagian terbesar dari informasi yang dibutuhkan oleh manajemen untuk perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan diperoleh dari data akuntansi. Kemampuan untuk menganalisa dan pemanfaatan data akuntansi membantu manajemen untuk mencapai tujuan perusahaan. Melalui pemahaman dan pemanfaatan data akuntansi, kita akan mengetahui dengan baik bagaimana mengumpulkan data dan menyajikan laporan akuntansi yang tepat dan lebih jauh kita bisa memahami keterbatasan data akuntansi dalam penyajian laporan keuangan.
Akuntansi merupakan pokok pengetahuan yang berkaitan dengan suatu prosedur yang sistematis dalam pembuktian, pencatatan, pengklasifikasian, penafsiran dan memasok informasi yang tepat dan dapat dipercaya mengenai transaksi dan kejadian-kejadian yang setidak-tidaknya dapat diukur dengan uang yang dibutuhkan oleh pihak manajemen dan pelaksanaan kesatuan bisnis beserta laporannya yang harus ada untuk memenuhi keperluan perusahaan dan pertanggung jawaban lainnya.
Berbagai pakar akuntansi memberikan definisi yang berbeda-beda tentang akuntansi, sungguhpun yang dimaksud adalah sama. Perbedaan tersebut disebabkan karena adanya sudut pandang yang berbeda, latar belakang, dan sosial ekonomi.
Dalam pengetahuan akuntansi dikenal dua istilah asing, yaitu accountancy dan accounting. Secara terminologi istilah tersebut lazim diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi akuntansi. Untuk mendekatkan pengertian terhadap kedua istilah tersebut, perlu diketahui pengertian dan kedudukan masing-masing dalam pengetahuan akuntansi.
Accountancy merupakan suatu metodologi dan himpunan pengetahuan
yang berkenaan dengan sistem informasi dari satuan-satuan ekonomi apa pun bentuknya, yang terbagi atas dua bagian. Pertama, accounting ialah pengetahuan yang menyangkut proses pelaksanaan pembukuan dalam arti yang luas. Kedua, auditing ialah pengetahuan yang menyangkut pemeriksaan dan penilaian (evaluasi) atas hasil proses pelaksanaan pembukuan tersebut. Oleh karena itu, istilan accountancy lebih luas meliputi baik bidang teori, proses pembukuan, penerapan atau praktek, maupun pemeriksaan dan penilaian. Sementara itu, istilah
accounting hanya menunjukkan bidang teori. Proses pembukuan dalam arti yang
luas meliputi penafsiran (interpretasi) atasnya.
Menurut Muqodin (2005 : 4) mendefinisikan akuntansi sebagai seni pencatatan, pengklasifikasian dan peringkasan dalam suatu cara yang signifikan dan dalam ukuran uang, transaksi-transaksi dan peristiwa-peristiwa yang paling tidak sebagian bersifat keuangan, dan pengintegrasian hasil-hasilnya.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa akuntansi adalah suatu kegiatan jasa. Fungsinya adalah menyediakan informasi yang pada dasarnya bersifat keuangan, tentang kesatuan-kesatuan ekonomi yang dimaksudkan informasi tersebut bermanfaat dalam pembuatan keputusan ekonomi dengan cara memilih di antara beberapa alternatif yang mengarah pada tindakan.
Selanjutnya menurut Wasilah dan Ahmad (2009 : 17) mengatakan bahwa akuntansi (accounting) merupakan suatu kegiatan atau jasa yang berfungsi menyediakan informasi kuantitatif terutama yang bersifat keuangan mengenai kesatuan-kesatuan ekonomi tertentu kepada pihak-pihak yang berkepentingan, untuk digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan-keputusan ekonomi.
Prawironegoro (2009 : 4) mengemukakan bahwa akuntansi adalah merupakan perencanaan dengan bahasa angka-angka yang berupa anggaran dan merumuskan pengendalian sebagai laporan pelaksanaan dan memberikan umpan balik dengan jalan membandingkan prestasi kerja dengan anggaran. Perbedaan antara laporan prestasi kerja dengan anggaran itu melahirkan penyimpangan.
Harahap (2011 : 4), mengatakan bahwa akuntansi adalah mengukur alat pertanggungjawaban sekaligus sistem informasi. Yang diukur adalah aktivitas ekonomi yang memiliki sifat-sifat yang sudah maju bukan aktivitas ekonomi yang masih kuno misalnya masih menggunakan sistem barter. Cara pengukurannya juga menggunakan unit moneter yang dianggap stabil dan menggunakan
historical costs.
Peranan akuntansi dalam membantu melancarkan tugas manajemen sangat menonjol, khususnya dalam melaksanakan fungsi perencanaan dan pengawasan. Itulah sebabnya akuntansi semakin banyak dipelajari oleh para usahawan dan diajarkan mulai dari sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Memang tidak dapat disangkal bahwa sebagian besar informasi yang diperlukan para manajer modern adalah informasi akuntansi. Oleh karena itu para manajer dituntut untuk memiliki kemampuan menganalisis dan menggunakan data akuntansi.
Sadeli dan Siswanto (2006 : 1) mendefinisikan bahwa : “ Akuntansi adalah suatu disiplin yang memberikan informasi esensial untuk membantu efisiensi dan evaluasi dari aktivitas suatu organisasi. Informasi tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Efektivitas perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan oleh manajemen.
2. Penyampaian pertanggungjawaban organisasi kepada investor, kreditur, pemerintah, bankir, leveransir, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Dari definisi di atas dapat digeneralisasikan menjadi dua :
1. Bagian sentral dari akuntansi adalah organisasi. Informasi akuntansi terdiri atas informasi tentang organisasi.
2. Informasi akuntansi penting untuk aktivitas perusahaan bisnis. Hal ini digunakan untuk pengambilan keputusan di dalam organisasi. Selain itu juga, digunakan untuk pengambilan keputusan di luar organisasi oleh investor, kreditur, dan pihak lainnya.
Definisi yang dikemukakan di atas, menekankan bahwa akuntansi adalah suatu sistem yang mengukur aktivitas bisnis, memproses informasi-informasi menjadi suatu laporan dan mengkomunikasikan temuan-temuan tersebut kepada pengambil keputusan. Pengambil keputusan atau pengguna informasi akuntansi dapat berasal dari dalam organisasi yang bersangkutan (manajemen) maupun dari pihak luar organisasi tersebut (pemegang saham, investor, kreditor, pemerintah, organisasi buruh dan masyarakat umum).
Akuntansi menyajikan informasi keuangan secara kuantitatif dan relevan kepada pihak-pihak yang berkepentingan (pemakai informasi tersebut) dalam
pengambilan keputusan-keputusan ekonomi. Baik dalam mengukur keberhasilan operasi perusahaan, maupun membuat rencana di masa yang akan datang. Pimpinan perusahaan memerlukan catatan dan laporan akuntansi, dalam menentukan sejauh mana hasil-hasil yang dicapai sesuai dengan rencana.
B. Pengertian Pendapatan
Konsep pendapatan (revenue) dalam literatur-literatur akuntansi belumlah didefinisikan secara jelas. Hal tersebut terutama disebabkan karena pembicaraan tentang konsep pendapatan (revenue) dihubungkan dengan pengukuran dan penetapan waktu serta biasanya dalam konteks sistem “pembukuan berpasangan”. Akan tetapi sifat mendasarkan dari aktivitas-aktivitas pendapatan (revenue) dan atribut-atributnya haruslah diselidiki terlebih dahulu sebelum masalah pengukuran dan penetapan waktu ditangani.
Ada pula pendekatan terhadap pendapatan (revenue) yang dapat ditemui dalam literatur-literatur akuntansi, yaitu yang menekankan pada arus masuk aktiva yang merupakan hasil dari aktivitas-aktivitas operasional perusahaan dan yang satunya lagi menekankan pada penciptaan barang dan jasa oleh perusahaan serta mentransfer barang-barang dan jasa tersebut kepada konsumen atau produsen lain.
Definisi yang lebih tradisional tentang pendapatan (revenue) menggambarkan in flow of assets atau net assets ke dalam perusahaan sebagai akibat dari penjualan barang-barang atau jasa. Hal ini merupakan pendekatan yang dilakukan dalam statement. Akan tetapi hal ini menimbulkan pengertian yang tumpang tindih dan membingungkan antara pengukuran dan penetapan waktu dalam proses pendapatan (revenue). Aktiva pada umumnya bertambah atau utang
dicairkan pada saat penjualan ataupun pada saat pengiriman barang dan jasa dimana jumlah pendapatan (revenue) biasanya dinyatakan dalam nilai moneter dari aktiva yang diterima. Dengan demikian batasan ini sejalan dengan praktek tradisional tetapi tidak memungkinkan adanya perspektif yang lebih luas tentang proses pengukuran dan penetapan waktu.
Pendekatan arus aktiva (in flow of assets) juga harus dilakukan secara hati-hati untuk menentukan arus mana yang dianggap sebagai pendapatan dan mana yang bukan pendapatan. Banyak alasan-alasan lain yang menyebabkan meningkatnya aktiva atau menurunnya utang dimana pendapatan hanya merupakan salah satu dari alasan-alasan tersebut. Di samping itu, apabila pendapatan didefinisikan dalam pengertian di atas, maka pengecualian-pengecualian haruslah dinyatakan secara jelas, misalnya dalam beberapa hal pendapatan dilaporkan sebelum penjualan dilakukan dan sebelum terjadinya arus masuk aktiva yang sesungguhnya.
Untuk memperoleh pengertian tentang pendapatan maka, hal itu harus dilihat dari mana pendapatan tersebut dibentuk dan bagaimana proses pembentukannya. Karena pendapatan itu sendiri merupakan jumlah penerimaan yang diperoleh individual, masyarakat, produsen atau perusahaan, daerah dan negara dan sebagainya. Sebagai hasil usaha atau kompensasi yang diterima di dalam kegiatan-kegiatan ekonomi melalui produksi barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan mereka.
Ikatan Akuntan Indonesia dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 23 tahun 2009 menjelaslan kapan suatu pendapatan diakui adalah sebagai berikut:
1. Pendapatan dari transaksi penjualan produk diakui pada saat tanggal penjualan, biasanya merupakan tanggal penyerahan produk kepada pelanggan. 2. Pendapatan atas jasa yang diberikan oleh perusahaan jasa diakui pada saat
jasa tersebut telah dilakukan.
3. Imbalan yang diperoleh atas penggunaan aktiva sumber-sumber ekonomi perusahaan oleh pihak lain, seperti pendapatanbunga, dan royalty diakui sejalan dengan berlakunya waktu atau pada saat digunakan aktiva yang bersangkutan.
4. Pendapatan dari penjualan aktiva diluar barang dagangan seperti penjualan aktiva tetap atau surat berharga diakui pada saat tanggal penjualan.
Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima. Pada umumnya imbalan tersebut berbentuk kas atau setara kas. Bila arus masuk dari kas atau setara kas ditangguhkan, nilai wajar dari imbalan tersebut mungkin kurang dari jumlah nominal dari kas yang diterima atau yang dapat diterima (PSAK, 2015).
Disamping definisi yang dinyatakan diatas terdapat definisi pendapatan dari Suwardjono (2008: 185) yaitu : Pendapatan adalah aliran masuk aset/ kenaikkan aset lainnya pada suatu entitas atau penyelesaian/ pelunasan kewajiban entitas tersebut dari penyerahan atau produksi barang, pemberian/ penyerahan jasa, aau kegiatan lain yang membenuk operasi utama dan berlajut dari entitas tersebut.
Wibowo dan Abubakar (2005 : 4) bahwa : ”Pendapatan merupakan kenaikan harta perusahaan yang disebabkan oleh adanya transaksi dengan pihak
ketiga, misalnya : penjualan (sales), pendapatan sewa (rent revenue), pendapatan dividen (dividend revenue), dan pendapatan komisi (commision revenue).”
Baridwan (2004 ; 10) mengemukakan bahwa : “ Pendapatan adalah aliran masuk harta-harta (aktiva) yang timbul dari penyerahan barang atau jasa yang dilakukan oleh suatu unit usaha selama suatu perioede tertentu.”
Penghasilan didefinisikan dalam kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan sebagai peningkatan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi tertentu dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal. Penghasilan meliputi baik pendapatan maupun keuntungan.
Pendapatan menurut Standar Akuntansi Keuangan No. 23 (SAK, 2004 ; 23.2 paragraf 06) adalah : “ Arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi investasi.”
Pendapatan hanya terdiri dari arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang diterima dan dapat diterima oleh perusahaan untuk dirinya sendiri. Jumlah yang ditagih atas nama pihak ketiga, seperti pajak pertambahan nilai, bukan merupakan manfaat ekonomi yang mengalir ke perusahaan dan tidak mengakibatkan kenaikan ekuitas, dan karena itu harus dikeluarkan dari pendapatan. Begitupun dalam hubungan keagenan, arus masuk bruto manfaat ekonomi termasuk jumlah yang ditagih atas nama prinsipal, tidak mengakibatkan kenaikan ekuitas perusahaan, dan karena itu bukan merupakan pendapatan.
Pendapatan (revenue) tidak hanya menyajikan adanya suatu ”penghargaan” kepada perusahaan karena telah memproduksi nilai-nilai ekonomi dalam bentuk barang dan jasa tetapi juga pengukuran atas nilai-nilai tersebut. Pendapatan harus di identifikasikan dengan periode selama mana aktivitas-aktivitas utama yang diperlukan (the mayor economic activities necessary) untuk menciptakan dan mendisposisi barang-barang dan jasa-jasa yang telah diselesaikan, menyediakan pengukuran-pengukuran obyektif atas hasil-hasil yang diperoleh dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan. Kedua kondisi tersebut, aktivitas ekonomi yang utama dan pengukuran yang obyektif dipenuhi dalam tingkat aktivitas yang berbeda untuk kasus yang tidak sama kadang-kadang paling lambat pada saat pengiriman produk atau pelaksanaan pemberian layanan dan dalam kasus yang lain pada saat yang lebih awal.
C. Pengertian Biaya
Biaya merupakan unsur utama fisik yang harus dikorbankan demi kepentingan dan kelancaran perusahaan dalam rangka menghasilkan laba yang merupakan tujuan utama perusahaan. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya memerlukan perhatian yang sangat serius selain karena biaya juga merupakan unsur pengurangan yang sangat besar dalam hubungannya dalam pencarian laba bersih.
Biaya dapat dipandang sebagai suatu nilai tukar yang dikeluarkan atau suatu pengorbanan sumber daya yang dilakukan untuk mendapatkan manfaat di masa datang. Pengorbanan tersebut dapat berupa uang atau materi lainnya yang setara nilainya kalau di ukur dengan uang, dalam pengertian yang lebih jauh lagi,
biaya (cost) dapat dipisahkan menjadi aktiva atau assets (unexpired cost) dan biaya atau expenses (expired cost). Biaya dianggap sebagai “assets” apabila biaya tersebut belum digunakan untuk menghasilkan produk atau jasa atau belum habis digunakan, sedangkan biaya dianggap “expenses” jika biaya tersebut habis digunakan untuk memproduksi suatu produk atau jasa yang menghasilkan pendapatan di masa datang. Biaya sebagai assets dicantumkan dalam neraca, sedangkan biaya sebagai expenses dicantumkan dalam laporan laba-rugi.
Menurut Mulyadi (2012 : 8) dalam arti luas biaya adalah : “Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis, yang diukur dalam satuan uang, yang terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu.” Dalam arti sempit diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva. Untuk membedakan pengertian biaya dalam arti luas, pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva ini disebut dengan istilah kos.
Pengertian tersebut diatas dapat dilihat empat unsur yang terkandung didalamnya, yaitu biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi berupa kas atau ekuivalennya yang dapat diukur dalam satuan moneter uang, merupakan hal yang terjadi atau potensial akan terjadi dan pengorbanan tersebut dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu di masa yang akan datang dengan tujuan untuk memperoleh pendapatan. Biaya dapat dirumuskan sebagai suatu pengorbanan atau penyerahan sumber-sumber daya untuk tujuan tertentu. Biaya seringkali diukur dengan satuan-satuan moneter yang harus dibayar untuk barang dan jasa.
Kemudian Dunia Wasilah dan Ahmad Firdaus (2009 : 22), mengemukakan pengertian biaya sebagai berikut : “ Biaya (Cost) adalah pengeluaran-pengeluaran atau nilai pengorbanan untuk memperoleh barang atau jasa yang berguna untuk
masa yang akan datang atau mempunyai manfaat melebihi satu periode akuntansi tahunan “.
Umumnya biaya dihubungkan dengan jenis-jenis organisasi, yaitu organisasi bisnis, organisasi non-bisnis, perusahaan manufaktur, perusahaan dagang, dan perusahaan jasa dimana jenis biaya yang terjadi dan cara pengelompokkannya tergantung pada jenis organisasinya. Akuntansi manajemen dapat diterapkan pada berbagai jenis organisasi, oleh karenanya, diskusi tentang karakteristik biaya akan dikelompokkan ke dalam biaya yang terjadi di perusahaan jasa, dagang, dan manufaktur.
Berdasarkan dari definisi-definisi diatas tentang biaya maka digunakan akumulasi data biaya untuk keperluan penilaian persediaan dan untuk penyusunan laporan-laporan keuangan di mana data biaya jenis ini bersumber pada buku-buku dan catatan perusahaan. Tetapi, untuk keperluan perencanaan analisis dan pengambilan keputusan, kita sering harus berhadapan dengan masa depan dan berusaha menghitung biaya terselubung (imputed cost), biaya deferensial, biaya kesempatan (oppurtunity cost) yang harus didasarkan pada sesuatu yang lain dari biaya masa lampau. Oleh sebab itu merupakan persyaratan dasar bahwa biaya harus kita artikan dalam hubungannya dengan tujuan dan keperluan penggunaannya sehingga suatu permintaan akan data biaya harus disertai dengan penjelasan mengenai tujuan dan keperluan penggunaannya, karena data biaya yang sama belum tentu dapat memenuhi semua tujuan dan keperluan.
Pengumpulan, penyajian dan analisis data biaya harus dapat memenuhi tujuan-tujuan dan keperluan-keperluan dasar berikut ini:
1. Perencanaan rugi-laba dengan perantaraan budget
Perencanaan berhubungan dengan masa depan perusahaan dan akuntansi biaya bertugas menyediakan atau membuat budget biaya-biaya yang diperkirakan untuk bahan, upah, gaji dan biaya-biaya lainnya yang perlu untuk memproduksikan dan memasarkan produk perusahaan.
2. Pengawasan biaya melalui responsibility accounting
Dasar-dasar yang berikut ini hendaknya diperhatikan dalam melakukan penga-wasan biaya :
a. Penentuan tanggung jawab untuk pengawasan
b. Pembatasan tugas pengawasan seseorang pada biayanya sendiri c. Laporan hasil-hasil yang dicapai
3. Mengukur laba tahunan atau laba periodik, termasuk hitung pokok persediaan Mengukur laba tahunan atau laba periodik berarti memasang-masangkan biaya yang telah jatuh tempo (matching of expired costs) dengan pendapatan dan proses memasang-masangkan tersebut mengharuskan diadakannya pemisahan antara biaya-biaya jangka pendek dan biaya-biaya jangka panjang. 4. Membantu penentuan harga jual dan kebijaksanaan harga
Penentuan harga jual yang akan memberikan laba pada perusahaan menuntut adanya pengetahuan tentang biaya-biaya produk dalam hubungannya dengan volume. Dalam tahapan perencanaan, pengetahuan mengenai tingkat biaya di masa yang akan datang, berikut tingkat potongan-potongan yang harus diberikan, pada tingkat produksi dan penjualan yang berfluktuasi akan sanagt membantu pimpinan perusahaan.
5. Menyediakan data yang diperlukan untuk keperluan analisis dan pengambilan keputusan.
Perencanaan perusahaan sebagaimana digambarkan oleh budget jangka panjang mengharuskan dilakukannya strategi usaha yang meliputi jangka waktu lebih dari satu tahun. Untuk melaksanakan strategi jangka panjang, pimpinan perusahaan harus melakukan keputusan-keputusan dan perubahan-perubahan taktis yang menyangkut pilihan diantara berbagai alternatif tindakan yang dapat diambil. Akuntansi biaya mungkin diminta untuk menghitung biaya-biaya yang beda dan harga-harga yang berbeda-beda untuk keperluan dan tujuan yang berberbeda-beda pula. Perubahan dalam metode produksi, penggantian peralatan, menerima atau menolak suatu order, kesemuanya itu menuntut dilakukannya perhitungan biaya-biaya dan pendapatan yang harus disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan.
D. Metode Pencatatan Pengakuan Pendapatan dan Biaya
Permasalahan utama dalam akuntansi adalah menentukan saat pengakuan pendapatan. Pendapatan diakui bila kemungkinan manfaat ekonomi akan mengalir ke perusahaan, dan manfaat ini dapat diukur dengan andal. Pernyataan ini mengidentifikasikan keadaan yang memenuhi kriteria tersebut, agar pendapatan dapat diakui.
Menurut Gede dan Wasif (2010 : 142) ada tiga metode dalam pengakuan pendapatan dan biaya yaitu : 1. Metode penjualan cicilan, 2. Perolehan kembali biaya, 3. Metode kas.
Untuk lebih jelasnya ketiga metode di atas dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Metode penjualan cicilan
Dalam hal ketidakpastian penerimaan kas, metode ini paling sering diterapkan. Menurut metode ini, laba lebih baik diakui pada waktu kas diterima daripada waktu penjualan terjadi. Metode ini juga sesuai dengan kepentingan pajak penghasilan, karena peraturan pajak penghasilan memperbolehkan untuk menangguhkan pembayaran pajak sampai kas diterima.
Akuntansi untuk penjualan dengan pembayaran cicilan yang menggunakan pendekatan laba kotor yang ditangguhkan memerlukan penentuan persentase laba kotor untuk masing-masing penjualan per tahun dan pembentukan perkiraan piutang dan pendapatan yang ditangguhkan pada tahun dilaksanakannya penjualan tersebut.
2. Perolehan kembali biaya
Dalam metode ini tidak ada laba yang diakui untuk suatu penjualan sampai harga pokok barang yang dijual diperoleh kembali melalui penerimaan kas. Selanjutnya untuk penerimaan berikutnya akan dilaporkan sebagai pendapatan. Metode ini hanya digunakan apabila keadaan-keadaan yang melingkupi suatu penjualan sangat tidak pasti sehingga pengakuan yang lebih awal terhadap pendapatan tidak mungkin dilakukan.
3. Metode kas
Metode ini jarang digunakan dalam penjualan barang dagang karena hak untuk mengambil kembali akan memberikan nilai yang sangat besar bagi penjual. Metode kas ini mungkin tepat untuk dipakai pada kontrak jasa yang
biaya awalnya tinggi dan ketidakpastian mengenai penerimaan akhir dari harga kontrak yang demikian besar.
Dalam metode ini semua biaya dibebankan sebagai beban ketika biaya tersebut dikeluarkan atau dibayar dan pendapatan diakui pada waktu kas diterima. Metode ini jarang dipakai, dan hanya akan tepat dipakai apabila tingkat kepastian dari kerugian potensial atas suatu kontrak tidak dapat ditaksir.
Metode-metode di atas sesunguhnya bukan merupakan alternatif bagi metode yang lain, walaupun demikian, pedoman-pedoman untuk menerapkan metode-metode tersebut tidak dirumuskan dengan baik. Jika suasana ketidakpastian meningkat, maka prinsip akuntansi yang lazim menghendaki perpindahan dari metode full accrual ke metode penjualan cicilan, perolehan kembali biaya dan akhirnya ke suatu pendekatan kas.
Dalam konsep penandingan (matching concept) menghendaki pendapatan dan biaya diakui pada periode yang sama dan pada saat itu pula diakui penghasilan, maka kriteria yang digunakan menggunakan sebutan earning dan pengukuran penghasilan (income) bukannya pendapatan (revenue). Revenue dan
expenses keduanya merupakan komponen transaksi yang ingin diukur secara objectif dalam kaitannya untuk mengakui pendapatan. Sugiri (2009 : 19)
mengemukakan bahwa : akuntansi menggunakan konsep proper matching costs
with revenues yakni mempertemukan biaya dan pendapatan diterapkan secara
wajar maka perlu dilakukan pembagian biaya menjadi biaya produk (product cost) dan biaya periode (period cost). Banyak metode pengakuan pendapatan, namun pada dasarnya pendapatan dapat diakui :
1. Pada saat realisasi :
Pengakuan pendapatan pada saat realisasi berarti pendapatan diakui pada saat barang atau jasa ditukar dengan aktiva (pada umumnya kas) atau klaim terhadap aktiva (yang dapat diukur dengan satuan uang).
2. Pada saat terjadi :
a. Pendapatan dari penjualan diakui pada saat penjualan (saat penyerahan barang),
b. Pendapatan jasa diakui pada saat jasa selesai dikerjakan dapat difakturkan c. Pendapatan dari penggunaan aktiva perusahaan oleh pihak lain seperti
pendapatan bunga, pendapatan sewa atau royalty, diakui sesuai dengan berlakunya waktu atau sesuai dengan penggunaan aktiva tersebut.
E. Saat Pencatatan Pendapatan dan Biaya Diakui
Biasanya pendapatan diakui pada saat terjadinya penjualan barang atau jasa, yaitu pada saat ada kepastian mengenai besarnya pendapatan yang diukur dengan aktiva yang diterima. Tetapi ketentuan umum ini tidak selalu dapat diterapkan sehingga timbul beberapa ketentuan-ketentuan lain mengenai saat untuk mengakui pendapatan.