• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam dokumen Skripsi Suci (Halaman 23-40)

2.1 Keterampilan Proses Sains

1. Pengertian Keterampilan Proses Sains

Dimyati dan Mudjiono (2006) menyatakan bahwa keterampilan proses merupakan wahana penemuan dan pengembangan fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan bagi diri peserta didik. Meningkatnya Keterampilan Proses Sains peserta didik akan berdampak pada peningkatan penguasaan konsep peserta didik. Penguasaan konsep terbentuk ketika peserta didik menjawab berbagai pertanyaan yang telah tersusun, sehingga diharapkan mereka mencari dan menyelidiki maksud dari pertanyaan serta merumuskan sendiri penemuannya.

Keterampilan Proses Sains sebagai pendekatan dalam pembelajaran sangat penting karena menumbuhkan pengalaman selain proses belajar. Mengingat semakin banyaknya sekolah yang telah memiliki laboratorium biologi, sehingga perlu upaya meningkatkan efektivitas pembelajaran, khususnya prestasi hasil belajar kognitif yang didukung oleh keterampilan serta sikap dan prilaku yang baik. Oleh karena itu para guru hendaknya secara bertahap mulai bergerak melakukan penilaian hasil belajar dalam aspek keterampilan dan sikap (Rustaman, 2005).

Terdapat tiga komponen keterampilan proses yang perlu dikembangkan, yaitu: a) Kemampuan menggunakan pikiran (keterampilan intelektual), b) Kemampuan nalar, c) Perbuatan efisien dan efektif untuk mencapai hasil tertentu termasuk kreativitas.

Komponen keterampilan intelektual dalam Keterampilan Proses Sains terjadi sebagai hasil proses tranformasi atau informasi yang diterima otak. Menurut Rustaman (2005) keterampilan proses meliputi: a)Keterampilan melakukan pengamatan (observasi), b) Mengelompokkan (klasifikasi), c) Menafsirkan pengamatan (interpretasi), d) Meramalkan (prediksi), e) Mengajukan pertanyaan, f) Berhipotesis, g) Merencanakan percobaan atau penyelidikan, h) Menggunakan alat dan bahan, i) Menerapkan konsep atau prinsip, j) Berkomunikasi.

Radford dkk. (2002) dalam Prayogi dkk. (2014) mengungkapkan tiga kondisi yang harus dipenuhi sebuah pembelajaran agar pebelajar dapat mengalami proses pembelajaran Keterampilan Proses Sains meliputi: a) Pemahaman mengenai Keterampilan Proses Sains serta pentingnya dalam pembelajaran oleh guru, b) Pebelajar harus diberikan kesempatan untuk mempraktikkan Keterampilan Proses Sains yang dimilikinya, c) Adanya kegiatan evaluasi mengenai perkembangan Keterampilan Proses Sains yang dimiliki oleh pebelajar.

2. Jenis Keterampilan Proses Sains

Deskripsi mengenai jenis-jenis Keterampilan Proses Sains menurut Rustaman (2005):

a. Mengamati

Suatu proses untuk mengenal sesuatu dengan jalan memperhatikan atau menyadari obyek/peristiwa, untuk hal ini

peserta didik harus menggunakan semua alat inderanya seperti penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan, dan penciuman. Dalam kegiatan ilmiah mengamati berarti menyeleksi fakta-fakta yang relevan dan memadai dari hal-hal yang diamati. Dengan membandingkan hal-hal yang diamati peserta didik mengembangkan kemampuan mencari persamaan dan perbedaan suatu benda/peristiwa.

b. Mengelompokkan/Klasifikasi

Mengelompokkan adalah suatu sistematika yang digunakan untuk menggolongkan sesuatu berdasarkan syarat-syarat tertentu. Proses mengklasifikasikan tercakup beberapa kegiatan seperti mencari kesamaan, mencari perbedaan, mengontraskan ciri-ciri, membandingkan, dan mencari dasar penggolongan.

c. Menafsirkan

Menafsirkan hasil pengamatan ialah menarik kesimpulan tentatif dari data yang dicatatnya. Hasil-hasil pengamatan tidak akan berguna bila tidak ditafsirkan. Karena itu, dari mengamati langsung, lalu mencatat setiap pengamatan secara terpisah, kemudian menghubung-hubungkan hasil-hasil pengamatan itu. Selanjutnya peserta didik mencoba menemukan pola dalam suatu seri pegamatan, dan akhirnya membuat kesimpulan.

Keterampilan meramalkan atau mengajukan perkiraan tentang sesuatu yang belum terjadi berdasarkan suatu pola yang sudah ada, menggunakan pola-pola atau hubungan informasi / ukuran / hasil observasi dan mengantisipasi suatu peristiwa berdasarkan pola atau kecenderungan. Apabila peserta didik dapat mengajukan perkiraan tentang sesuatu yang belum terjadi berdasarkan fakta yang menunjukkan suatu kecenderungan atau pola yang sudah ada.

e. Mengajukan pertanyaan

Kemampuan mengajukan pertanyaan baik pertanyaan yang meminta penjelasan tentang apa, mengapa dan bagaimana ataupun menanyakan sesuatu hal yang berlatar belakang hipotesis. Keterampilan proses mengajukan pertanyaan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengungkapkan apa yang ingin diketahuinya, baik yang bersifat penyelidikan maupun yang tidak secara langsung bersifat penyelidikan, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan mencerminkan cara berpikir peserta didik dan dapat pula dikatakan bahwa kualitas pertanyaan yang diajukan menunjukkan tinggi rendahnya tingkat berpikir peserta didik.

f. Merumuskan hipotesis

Keterampilan proses menggunakan informasi dengan mengemukakan dugaan atau generalisasi sementara yang dapat menjelaskan atau menghubungkan sifat-sifat benda peristiwa, berhipotesis melibatkan keterampilan menduga sesuatu,

menguraikan sesuatu yang menunjukkan hubungan sebab akibat antara dua variabel pengetahuan yang telah dimilikinya.

g. Merencanakan percobaan

Agar peserta didik dapat memiliki keterampilan merencanakan percobaan maka peserta didik tersebut harus dapat menentukan alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan. Selanjutnya, peserta didik harus dapat menentukan variabel-variabel, menentukan variabel yang harus dibuat tetap, dan variabel mana yang berubah. Demikian pula peserta didik perlu untuk menentukan apa yang akan diamati, diukur, atau ditulis, menentukan cara dan langkah-langkah kerja. Selanjutnya peserta didik dapat pula menentukan bagaimana mengolah hasil-hasil pengamatan.

h. Menggunakan alat/bahan

Untuk dapat memiliki keterampilan menggunakan alat dan bahan, dengan sendirinya peserta didik harus menggunakan secara langsung alat dan bahan agar dapat memperoleh pengalaman langsung. Selain itu, peserta didik harus mengetahui mengapa dan bagaimana cara menggunakan alat dan bahan.

i. Menerapkan konsep

Mampu menjelaskan peristiwa baru dengan menggunakan konsep yang telah dimiliki dan mampu menerapkan konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru atau menemukan penjelasan (konsep) tentang suatu peristiwa yang sedang terjadi. Keterampilan

menerapkan konsep/prinsip menjadi penunjang dalam memantapkan dan mengembangkan konsep/prinsip yang telah dimiiki peserta didik, mengembangkan kemampuan intelektual peserta didik dan merangsang peserta didik untuk lebih banyak mempelajari Ilmu Pengetahuan Alam.

j. Berkomunikasi

Keterampilan berkomunikasi mengandung arti mencatat hasil pengamatan yang relevan dengan penyelidikan, mentransfer suatu bentuk penyajian ke bentuk penyajian yang lainnya atau menggunakan kriteria untuk menyajikan data ke bentuk yang dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lain. Untuk mencapai keterampilan berkomunikasi peserta didik harus dapat menyusun dan menyampaikan laporan kegiatan yang telah dikerjakan dengan sistematis dan jelas, selain itu diharapkan peserta didik mampu menjelaskan hasil kegiatan, mendiskusikan dan menggambarkan data yang diperoleh ke bentuk diagram, grafik atau tabel.

2.1 Lembar Kerja Peserta Didik

1. Pengertian Lembar Kerja Peserta Didik

LKPD merupakan kumpulan dari lembaran yang berisikan kegiatan peserta didik yang memungkinkan peserta didik melakukan aktivitas nyata dengan objek dan persoalan yang dipelajari. LKPD berfungsi sebagai panduan belajar peserta didik dan juga memudahkan peserta

didik dan guru melakukan kegiatan belajar mengajar. LKPD juga dapat didefenisikan sebagai bahan ajar cetak berupa lembar-lembar kertas yang berisi materi, ringkasan, dan petunjuk-petunjuk pelaksanaan tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik, yang mengacu pada kompetensi dasar yang dicapai (Prastowo,2012).

Trianto (2011) mengungkapkan bahwa „ Lembar Kerja Peserta‟

Didik (LKPD) memuat sekumpulan kegiatan mendasar yang harus dilakukan oleh peserta didik untuk memaksimalkan pemahaman dalam upaya pembentukan kemampuan dasar sesuai indikator pencapaian yang ditempuh. Pengetahuan awal dari pengetahuan dan pemahaman peserta didik diberdayakan melalui penyediaan meja belajar pada setiap kegiatan eksperimen sehingga situasi belajar menjadi lebih bermakna, dan dapat berkesan dengan baik pada pemahaman peserta didik. Karena nuansa keterpaduan konsep merupakan salah satu dampak pada kegiatan pembelajaran, muatan materi setiap LKPD pada setiap kegiatannya diupayakan dapat mencerminkan hal itu.

2. Langkah Penyusunan LKPD

Dalam menyiapkan LKPD dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut ;

a. Analisis kurikulum

Analisis kurikulum (Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), indikator dan materi pembelajaran) dimaksudkan untuk menentukan materi-materi mana yang memerlukan bahan ajar LKPD.

Biasanya dalam menentukan materi dianalisis dengan cara melihat materi pokok dan pengalaman belajar dari materi yang akan diajarkan, kemudian kompetesi yang harus dimiliki oleh peserta didik.

b. Menyusun peta kebutuhan LKPD

Peta kebutuhan LKPD sangat diperlukan guna mengetahui jumlah LKPD yang harus ditulis dan sekuensi atau urutan LKPD-nya juga dapat dilihat. Sekuens LKPD ini sangat diperlukan dalam menentukan prioritas penulisan. Diawali dengan analisis kurikulum dan analisis sumber belajar.

c. Menentukan judul-judul LKPD

Judul LKPD ditentukan atas dasar KI-KD, materi-materi pokok atau pengalaman belajar yang terdapat dalam kurikulum. Satu KD dapat dijadikan sebagai judul LKPD apabila kompetensi itu tidak terlalu besar, sedangkan besarnya KD dapat dideteksi antara lain dengan cara apabila diuraikan ke dalam materi pokok (MP) mendapatkan maksimal 4 MP, maka kompetensi itu telah dapat dijadikan sebagai satu judul LKPD. Namun apabila diuraikan menjadi lebih dari 4 MP, maka perlu dipikirkan kembali apakah perlu dipecah misalnya menjadi 2 judul LKPD.

3. Penulisan LKPD

Penulisan LKPD dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Rumusan KD dan indikator pencapaian kompetensi pada suatu LKPD langsung diturunkan dari dokumen SI.

b. Menentukan alat Penilaian

Penilaian dilakukan terhadap proses kerja dan hasil kerja peserta didik. Karena pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah kompetensi, dimana penilaiannya didasarkan pada penguasaan kompetensi, maka alat penilaian yang cocok adalah menggunakan pendekatan Panilaian Acuan Patokan (PAP) atau Criterion Referenced Assesment. Dengan demikian guru dapat menilainya melalui proses dan hasil kerjanya. c. Penyusunan Materi

Materi LKPD sangat tergantung pada KD yang akan dicapai. Materi LKPD dapat berupa informasi pendukung, yaitu gambaran umum atau ruang lingkup substansi yang akan dipelajari. Materi dapat diambil dari berbagai sumber seperti buku, majalah, internet, jurnal hasil penelitian. Agar pemahaman peserta didik terhadap materi lebih kuat, maka dapat saja dalam LKPD ditunjukkan referensi yang digunakan agar peserta didik membaca lebih jauh tentang materi itu. Tugas-tugas harus ditulis secara jelas guna mengurangi pertanyaan dari peserta didik tentang hal-hal yang seharusnya peserta didik dapat melakukannya, misalnya tentang tugas diskusi. Judul diskusi diberikan secara jelas dan didiskusikan dengan siapa, berapa orang dalam kelompok diskusi dan berapa lama.

Struktur LKPD secara umum adalah sebagai berikut: a. Judul, Tema, Sub tema, Kelas, dan Semester.

b. Kompetensi yang akan dicapai (KD dan Indikator pencapaian kompetensi).

c. Alat dan bahan, jika kegiatan belajar memerlukan alat dan bahan, maka dituliskan alat dan bahan yang diperlukan.

d. Prosedur Kerja/Petunjuk Belajar, berisi petunjuk kerja untuk peserta didik yang berfungsi mempermudah peserta didik melakukan kegiatan belajar.

e. Informasi Pendukung, bisa berupa materi atau bahan diskusi

f. Tugas-tugas dan langkah kerja atau dapat berupa table kerja. Tabel kerja dapat berisi tabel di mana peserta didik dapat mencatat hasil pengamatan atau pengukuran. Untuk kegiatan yang tidak memerlukan data bisa diganti dengan tabel/kotak kosong yang dapat digunakan peserta didik untuk menulis, menggambar atau berhitung

g. Penilaian

5. Fungsi Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

Lembar Kerja Peserta Didik memiliki beberapa fungsi sebagai berikut (Astuti,2016) :

a. Sebagai panduan peserta didik di dalam melakukan kegiatan belajar, seperti melakukan percobaan. LKPD berisi alat dan bahan serta prosedur kerja.

b. Sebagai lembar pengamatan, dimana LKPD menyediakan dan memandu peserta didik menuliskan data hasil pengamatan. LKPD

berisi tabel yang memungkinkan peserta didik mencatat data hasil pengukuran atau pengamatan.

c. Sebagai lembar diskusi, di mana LKPD berisi sejumlah pertanyaan yang menuntun peserta didik melakukan diskusi dalam rangka konseptualisasi. Melalui diskusi tersebut peserta didik dilatih membaca dan memaknakan data untuk memperoleh konsep-konsep yang dipelajari.

d. Sebagai lembar penemuan (discovery), di mana peserta didik mengekspresikan temuannya berupa hal-hal baru yang belum pernah ia kenal sebelumnya.

e. Sebagai wahan untuk melatih peserta didik berfikir lebih kritis dalam kegiatan belajar mengajar.

f. Meningkatkan minat peserta didik untuk belajar jika kegiatan belajar yang dipandu melalui LKPD lebih sistematis, berwarna serta bergambar serta menarik perhatian peserta didik.

2.2 Kerangka Berpikir

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) merupakan lembar kerja yang digunakan untuk mengasah keterampilan peserta didik dan dapat membantu guru untuk mengarahkan peserta didik menemukan konsep-konsep melalui aktivitasnya sendiri. LKPD sebagai salah satu penunjang pembelajaran dan latihan bagi peserta didik harus dapat menunjang pencapaian KD yang akan dicapai, karena penyusunan materi dalam LKPD sangat tergantung pada KD yang akan dicapai. LKPD yang digunakan peserta didik harus disusun sedemikian rupa sehingga dapat dikerjakan oleh peserta didik dengan baik

dan dapat memotivasi belajar peserta didik. Karena itu dalam penulisan LKPD guru harus memperhatikan tiga hal berikut yakni (a) perumusan KD dan indikator pencapaian kompetensi, (b) menentukan alat penilaian, (c) penyusunan materi.

LKPD sering digunakan dalam berbagai bentuk pembelajaran, misalnya kegiatan praktikum, diskusi dan observasi. LKPD menuntun peserta didik untuk berpikir kritis, logis dan sistematis, karena peserta didik dituntut untuk mencari informasi sendiri. Selain itu, LKPD juga digunakan untuk membantu tumbuhnya kreativitas peserta didik agar dapat menjawab suatu permasalahan, sehingga dalam pembelajaran peserta didik akan aktif mencari dan menemukan sendiri jawaban permasalahan sedangkan guru hanya sebagai motivator dan fasilitator. LKPD digunakan sebagai sarana atau acuan untuk memandu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, terutama praktikum. Praktikum merupakan sarana untuk mengembangkan keterampilan proses sains karena pembelajaran dengan praktikum dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengalami atau melakukan sendiri. Keterampilan proses sains merupakan semua kemampuan yang digunakan untuk melakukan suatu penyelidikan ilmiah. Kemampuan-kemampuan yang yang dikembangkan dalam keterampilan proses sains yaitu mengamati (observasi), mengelompokkan (klasifikasi), menafsirkan (interpretasi), meramalkan (prediksi), mengajukan pertanyaan, berhipotesis, merencanakan percobaan, menggunakan alat/bahan, menerapkan konsep dan berkomunikasi.

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir untuk mengasah keterampilan peserta didik

LKPD sering digunakan dalam berbagai bentuk pembelajaran

Diskusi Praktikum Observasi

Praktikum merupakan sarana untuk mengembangkan Keterampilan Proses Sains (KPS) peserta didik

Mengobservasi Mengelomp okkan Menafsirkan hasil memperkira kan Berkomunikasi Berhipotesis Merencanakan percobaan Menerapkan konsep Mengajukan pertanyaan

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif yang dimaksud yaitu untuk mendeskripsikan jenis keterampilan proses sains yang terdapat dalam LKPD yang dikembangkan oleh guru SMP Negeri di Kota Mataram. Data hasil deskripsi keterampilan proses sains yang terdapat dalam LKPD di analisis secara kualitatif.

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2017 di SMPN 1 Mataram, SMPN 2 Mataram, SMPN 3 Mataram, SMPN 7 Mataram, SMPN 10 Mataram, dan SMPN 21 Mataram.

3.3 Variabel penelitian

Variabel independen (bebas) dalam penelitian ini adalah Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) sedangkan variabel dependen (terikat) dalam penelitian ini adalah Keterampilan Proses Sains (KPS).

3.4 Subyek Penelitian

Subyek penelitian dalam ini adalah Lembar Kerja Peserta Didik yang disusun oleh guru SMP Negeri di Kota Mataram.

3.5 Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam Penelitian ini adalah guru IPA kelas VII SMP Negeri Kota Mataram. Sedangkan pengambilan sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan teknik purposive sampling. Sampel penelitian ini diambil berdasarkan 2 pertimbangan yakni berdasarkan sekolah yang telah menerapkan kurikulum 2013 dan berdasarkan kategori nilai Ujian Nasional (UN) tahun ajaran 2015/2016 untuk melihat sekolah yang memiliki nilai akademik tinggi, akademik sedang, dan akademik rendah . Berdasarkan hal tersebut sampel LKPD yang akan diteliti ialah LKPD praktikum peserta didik yang disususn oleh guru IPA SMPN 1 Mataram, SMPN 2 Mataram, SMPN 3 Mataram, SMPN 7 Mataram, SMPN 10 Mataram, dan SMPN 21 Mataram.

3.6 Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian yang dilakukan mengikuti tahapan yang dilakukan oleh puspita (2016) yang terdiri dari 2 tahap kegiatan yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Tahap persiapan meliputi (a) mengumpulkan LKPD yang akan di analisis, (b) membuat instrumen pengumpulan data yang terkait dengan keterampilan proses sains, (c) melakukan validasi instrument. Sedangkan tahap pelaksanaan meliputi (a) melakukan analisis jenis keterampilan proses sains yang dikembangkan dalam LKPD, (b) menghitung jumlah kemunculan setiap jenis

keterampilan proses sains yang ada dalam LKPD, (c) jenis keterampilan proses sains yang mucul kemudian di rangking berdasarkan jumlah kemunculan terbanyak hingga jumlah kemunculan yang paling sedikit untuk mengetahui jenis keterampilan proses sains yang paling banyak dikembangkan oleh guru dalam LKPD, (d) menghitung persentase jenis keterampilan proses sains yang muncul pada LKPD IPA kelas VII untuk melihat apa saja jenis keterampilan proses sains yang dikembangkan oleh guru dalam LKPD.

3.7 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan Lembar Kerja Peserta Didik yang disusun oleh guru SMP Negeri di Kota Mataram. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengambil LKPD buatan guru IPA SMP Negeri di Kota Mataram yang dilakukan secara langsung kepada guru yang bersangkutan.

3.7 Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dengan cara (a) menjumlahkan jenis Keterampilan Proses Sains yang muncul dalam LKPD yang dianalisis, (b) menghitung persentase kemunculan jenis Keterampilan Proses Sains untuk setiap kategori pada setiap LKPD yang dianalisis. Persentase kategori kemunculan Keterampilan Proses Sains dapat dianalisis menggunakan rumus seperti yang digunakan oleh Riduwan (2016) dengan rumus persentase sebagai berikut :

K3PS=skor yang diperoleh(n)

skor maksimal(N) X100 Keterangan :

 K3PS : Kategori kemunculan keterampilan proses sains.

 n : Skor yang diperoleh

 N : Skor maksimal

Untuk mengkatagorikan tingkat kemunculan Keterampilan Proses Sains, maka digunakan tabel kriteria interpretasi skor yang dikutip dalam Riduwan (2016) sebagai berikut :

Tabel 3.1 Kriteria Interpretasi Skor

No

Persentase kemunculan Keterampilan Proses Sains

( % ) Kategori 1 81-100 Sangat tinggi 2 61-80 Tinggi 3 41-60 Sedang 4 21-40 Rendah 5 0-20 Sangat rendah

BAB IV

Dalam dokumen Skripsi Suci (Halaman 23-40)

Dokumen terkait