• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Penelitian yang berhubungan dengan Corporate Social Responsibility (CSR) sudah pernah dikaji dalam beberapa skripsi. Pada bagian ini dibahas hal-hal yang berhubungan dengan penelitian yang telah dilakukan sehingga dapat diketahui persamaan dan perbedaannya.

Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Juni Wati (2009) dengan judul “Pengaruh Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Corporate Social Responsibility (CSR) Terhadap Citra dan Kredibilitas (Studi Kasus pada PT. Unilever Indonesia, Tbk)”. Dalam penelitian ini digunakan penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk mengetahui apakah Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan oleh PT. Unilever Indonesia, Tbk berpengaruh terhadap citra dan kredibilitas perusahaan PT. Unilever Indonesia, Tbk. Penelitian ini hanya meneliti Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Unilever Indonesia, Tbk pelatihan petani kedelai hitam saja dimana hasil yang diperoleh sebatas jawaban pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR) pelatihan petani kedelai hitam terhadap citra dan kredibilitas perusahaan, yang tidak mencakup aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR) lainnya yang telah di lakukan PT. Unilever Indonesia, Tbk. Setelah dilakukaan analisa data dan pembahasan dengan pengujian hipotesis diperolah kesimpulan sebagai berikut :

yang dilakukan PT. Unilever Indonesia, Tbk berpengaruh signifikan terhadap citra perusahaan PT. Unilever Indonesia, Tbk.

b. Corporate Social Responsibility (CSR) pelatihan petani kedelai hitam

yang dilakukan PT. Unilever Indonesia, Tbk berpengaruh signifikan terhadap kredibilitas perusahaan PT. Unilever Indonesia, Tbk. Namun, secara parsial tidak semua item dalam variabel bebas Corporate Social Responsibility (CSR) berpengaruh signifikan terhadap kredibilitas PT. Unilever Indonesia, Tbk.

Penelitian yang dilakukan ini memiliki beberapa keterbatasan yang dapat dijadikan masukan atas penelitian selanjutnya, yaitu :

a. Masyarakat yang menjadi obyek penelitian hanya berdasar dari petani

kedelai yang ada dibawah pelatihan PT. Unilever yang ada di kota Nganjuk sehingga hasil yang diperoleh hanya terbatas pada jawaban masyarakat petani kedelai hitam yang ada dibawah pelatihan PT.Unilever yang ada di kota Nganjuk.

b. Item pertanyaan dalam kuisoner yang telah disebarkan sebelumnya ini

belum mengungkapkan apakah responden benar-benar membutuhkan program Corporate Social Responsibility (CSR) pelatihan petani kedelai hitam, sehingga tidak ada informasi mengenai apakah perbedaan pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR) pelatihan petani kedelai hitam terhadap citra dan kredibilitas perusahaan dengan ada atau tidaknya pelatihan Corporate Social Responsibility (CSR) kedelai hitam.

judul “Eksplorasi Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”. Dalam penelitian ini digunakan penelitian kualitatif yang digunakan untuk menguji eksplorasi pengungkapan tanggung jawab sosial oleh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Dari analisis dan pembahasan yang telah dilakukan atas hasil penelitian maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Konsep stakeholder theory telah mengubah dunia bisnis dengan memunculkan

Corporate Social Responsibility (CSR).

2. Terjadi pro kontra didalam pelaksanaan Corporate Social Responsibility

(CSR).

3. Pengungkapan atas aktifitas Corporate Social Responsibility (CSR) dikenal dengan istilah Corporate Social Disclosure.

4. Pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) dan Corporate Social

Disclosure di Indonesia baru berkembang akhir-akhir ini.

5. Perusahaan yang dijadikan sample dalam penelitian ini dimungkinkan untuk

melakukan Corporate Social Responsibility (CSR) dan Corporate Social Disclosure karena informasi sosial tersebut dapat dijadikan Good News bagi perusahaan dalam perdagangan pasar modalnya.

6. Sampel perusaahan yang digunakan masih sedikit dan tahun penelitiah juga

masih pendek.

7. Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR) pada tahun penelitian

belum secara maksimal di ungkapkan. Item-item yang kurang untuk diungkapkan adalah item lingkungan, item kesehatan dan keselamatan tenaga

kerja, dan item lain-lain tentang tenaga kerja. Item tersebut penting untuk diungkapkan karena mencerminkan kepedulian perusahaan tersebut terhadap sumber daya alam dan sumber daya manusia yang mendukung jalannya operasioanal perusahaan.

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, yang apabila dapat diatasi pada penelitian selanjutnya akan dapat memperbaiki hasil penelitian. Persamaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya yaitu penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang mampu memberikan pemahaman yang mendalam mengenai program Corporate Social Responsibility (CSR). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu penelitian ini lebih fokus meneliti ke tanggung jawab sosial perusahaan terhadap lingkungan program Corporate Social Responsibility (CSR) CV.MERTANADI.

Selanjutnya penelitian dilakukan oleh Candra Kurniawan (2009) dengan judul “Studi Tentang Penerapan dan Pelaporan Corporate Social Responsibility (CSR) Pada PT. Semen Gresik (Persero) Tbk”. Dalam penelitian ini digunakan penelitian kualitatif yang digunakan digunakan sebagai penerapan serta pelaporan aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR) pada PT. Semen Gresik. Dari analisis dan pembahasan yang telah dilakukan atas hasil penelitian maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. PT. Semen Gresik dalam melakukan aktifitas CSR mengacu pada regulasi yang

lebih tinggi sesuai konteks kedudukan PT. Semen Gresik sebagai BUMN, regulasi tersebut adalah : PER-05/MBU/2007 tentang program kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), dan SE-04/MBU.S/2007 tentang pedoman

Akuntansi PKBL.

2. Aktifitas sosial yang dilakukan PT. Semen Gresik kepada masyarakat kendati terdapat unsur kemanusian yang dilakukan perusahaan dengan berupaya memberikan imbal balik perusahaan kepada masyarakat, karena masyarakat sudah banyak berkorban untuk perusahaan. Namun, kepentingan akan terbangunnya citra perusahaan yang akan berpengaruh terhadap kelancaran bisnis perusahaan dalam rangka jangka panjang tidak dapat dipungkiri.

3. Penyisihan laba perusahaan (droping) dibahas dan ditetapkan dalam Rapat

Umum Pemegang Saham (RUPS). Salah satu yang menjadi pertimbangan jumlah droping yang diperoleh adalah saldo dana yang tersisa pada akhir periode. Sehingga ada kecenderungan bahwa semakin banyak dana yang tersisa semakin kecil jumlah droping yang diperoleh. Hal tersebut menggambarkan bahwa penganggaran dalam aktifitas sosial PT. Semen Gresik yang berpola Top Down

4. Evaluasi yang seharusnya menjadi sarana tolak ukur keberhasilan mitra binaan yang dibina ternyata belum bisa mengakomodir secara data perkembangan mitra binaan yang menyangkut efektifitas bantuan yang disalurkan. Permasalahan tersebut terjadi karena keterbatasan SDM yang dimiliki.

5. PKBL mempunyai posisi sebagai unit kerja yang mandiri dan mempunyai

kewenangan atas pengelolaan dana, sumber daya dan pelaporan aktifitas Corporate Social Responsibility (CSR) secara terpisah dengan perusahaan induk.

dan penyusun laporan PKBL belum ada pemisahan fungsi jelas dikarenakan keterbatasan SDM.

7. Bentuk pelaporan pada umumnya mengacu pada standart yang ditetapkan

menteri, tapi PKBL juga melakukan modifikasi detail pelaporan atas program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan.

8. Kegiatan evaluasi yang belum bisa mengakomodir data keefektifan program

Corporate Social Responsibility (CSR) yang dirasakan masyarakat, berdampak pada pelaporan perkembangan mitra binaan.

9. Pada umumnya informasi yang diungkap dalam laporan PKBL adalah

mengenai isu ekonomi, sosial dan lingkungan. Isu ekonomi melalui laporan aktifitas program kemitraan sementara sosial lingkungan melalui laporan aktifitas bina lingkungan.

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Corporate Social Responsibility (CSR)

2.2.1.1 Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR)

Meskipun belum ada definisi Corporate Social Responsibility (CSR) yang dapat diterima secara universal, pada umumnya definisi yang beraneka ragam tersebut memiliki ciri-ciri yang sama mengenai cara pandang terhadap inti dari defenisi Corporate Social Responsibility (CSR) itu sendiri.

Adapun definisi-definisi Corporate Social Responsibility (CSR) menurut pandangan para ahli antara lain :

1. Yusuf Wibisono, 2007:10. Corporate Social Responsibility (CSR) dianggap sebagai media investasi bagi perusahaan untuk menumbuhkan dan menjaga

keberlanjutan perusahaan. Dunia usaha meyakini bahwa program Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan investasi bagi perusahaan demi pertumbuhan dan sustainability perusahaan.

2. John Elkington dalam bukunya Cannibals with Forks, The Triple Bottom Line of Twentieth Century Business 1997. Corporate Social Responsibility (CSR) adalah aktivitas yang mengejar Tripel Bottom Line, yang terdiri dari 3P. Mengejar profit untuk kepentingan shareholders (profit), pemenuhan kesejaterahaan masyarakat (people), berpartisipasi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet).

3. Guthrie dan Mathews, 1985. Tanggung jawab sosial perusahaan dapat digambarkan sebagai ketersediaan informasi keuangan dan non keuangan berkaitan dengan interaksi organisasi dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosialnya yang dapat dibuat dalam laporan keungan tahunan perusahaan atau laporan sosial terpisah

4. Hendrik Budi Untung, 2008. Corporate Social Responsibility (CSR) adalah komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan dan menitikberatkan pada keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomi sosial dan lingkungan.

5. Howard R. Bowen. Kewajiban perusahaan menjalankan usahanya sejalan dengan nilai-nilai dan tujuan yang hendak dicapai masyarakat di tempat perusahaan tersebut beroperasi.

adalah tanggung jawab perusahaan yang menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya bagi pemegang saham.

2.2.1.2 Manfaat Corporate Social Responsibility (CSR)

Fungsi Corporate Social Responsibility (CSR) menurut Hendrik Budi Untung (2008:6-7) adalah :

1. Mempertahankan dan mendongkrak reputasi serta citra merek perusahaan.

2. Mendapatkan lisensi untuk beroperasi secara sosial.

3. Membuka peluang pasar yang lebih luas.

4. Mereduksi biaya, misalnya terkait dampak pembuangan limbah.

5. Memperbaiki hubungan dengan stakeholders.

6. Memperbaiki hubungan dengan regulator.

7. Meningkatkan semangat dan produktifitas karyawan.

8. Peluang mendapatkan penghargaan.

2.2.1.3 Aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR)

Prince of Wales International Business Forum mengungkapkan bahwa ada lima pilar aktivitas dari Corporate Social Responsibility (CSR) (Ancok, 2005:19-20) 1. Building Human Capital

Secara internal, perusahaan dituntut untuk menciptakan SDM yang handal, secara eksetrnal perusahaan dituntut untuk melakukan pemberdayaan masyarakat, biasanya melalui Community Development.

2. Strengthening Economies

dilingkungan miskin, mereka harus memperdayakan ekonomi sekitar. 3. Assesing Social Cohesion

Perusahaan dituntut untuk menjaga keharmonisan dalam masyarakat sekitar agar tidak menimbulkan konflik

4. Encouraging Good Gorvernence

Dalam menjalankan bisnisnya, perusahaan harus menjalankan tata kelola bisnis dengan baik.

5. Protecting the Environment

Perusahaan harus berupaya keras untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Sebagaimana devinisi Corporate Social Responsibility (CSR) yang

tidak tunggal, beragam pendapat terkait dengan lingkup penerapannya juga beragam. Diantaranya adalah menganut konsep Triple Bottom Line dari Elkington, konsep dari Prince of Wales International Business Forum yang menganut lima pilar yaitu upaya perusahaan untuk menggalang dukungan SDM (Building Human Capital), memperdayakan ekonomi komunitas (Strengthening Ekonomies), menjaga harmonisasi dengan masyarakat sekitar agar tidak terjadi konflik (Assessing Social Cohession), mengimplementasikan tata kelola yang baik (Encouraging Good Governence) serta memperhatikan kelestarian lingkungan (Protecting the Inviroment), dan beberapa konsep lain (Yusuf Wibisono, 2007 : 125).

2.3 Hubungan Good Corporate Governance (GCG) dengan Corporate Social

Responsibility (CSR)

GCG merupakan suatu sistem dan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang berkepentingan terutama dalam arti sempit hubungan antara pemegang saham dan dewan komisaris serta dewan direksi demi tercapainya tujuan korporasi. Dalam arti luas mengatur hubungan seluruh stakeholders dapat dipenuhi secara proporsional. Good Corporate Governance (GCG) dimaksud untuk mengatur hubungan-hubungan tersebut dan mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan signifikan dalam strategi koorporasi. Good Corporate Governance (GCG) juga untuk memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat diperbaiki dengan segera. Terdapat lima prinsip Good Corporate Governance (GCG) yang dijadikan pedoman bagi pelaku bisnis, yaitu:

a. Transparancy (Keterbukaan Informasi)

Secara sederhana, bisa diartikan sebagai keterbukaan informasi. Dalam mewujudkan prinsip ini perusahaan dituntut untuk menyediakan informasi yang cukup, akurat dan tepat waktu kepada stakeholdesr-nya.

b. Accountability (Akuntabilitas)

Yang dimaksud akuntabilitas adalah adanya kejelasan fungsi, struktur, sistem dan pertanggung jawaban elemen perusahaan. Apabila prinsip ini diterapkan secara efektif, maka akan ada kejelasan akan fungsi, hak, kewajiban dan wewenang serta tanggung jawab antara pemegang saham, dewan komisaris dan dewan direksi.

c. Responsibility (Pertanggung jawaban)

yang berlaku, diantaranya masalah pajak, hubungan industrial, kesehatan dan keselamatan kerja, perlindungan lingkungan hidup, memelihara lingkungan bisnis yang kondusif bersama masyarakat dan sebagainya. Dengan menerapkan prinsip ini, di harapkan akan menyadarkan perusahaan bahwa dalam kegiatan operasionalnya, perusahaan juga mempunyai peran untuk bertanggung jawab selain kepada shareholder juga kepada stakeholder-nya.

d. Independency (Kemandirian)

Intinya prinsip ini mensyaratkan agar perusahaan dikelola secara professional tanpa ada benturan kepentingan dan tanpa adanya tekanan atau intervensi dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku.

e. Fairness (Kesetaraan dan Kewajaran)

Prinsip ini menuntut adanya perlakuan yang adil dalam pemenuhan hak stakeholder sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Diharapkan fairness dapat menjadi faktor pendorong yang dapat memonitor dan memberikan jaminan perlakuan adil diantara beragam kepentingan dalam perusahaan.

2.3.2 Konsep Triple Bottom Line

Gambar 2.1 Konsep Triple Bottom Line

People ( Sosial )

Berdasarkan konsep Triple Bottom Line di atas dapat dideskripsikan menjadi :

1. Profit (keuntungan)

Profit merupakan unsur terpenting dan menjadi tujuan utama dari setiap kegiatan usaha. Tidak heran bila fokus utama dari setiap kegiatan dalam perusahaan adalah mengejar profit atau mendongkrak harga saham setinggi-tingginya, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Inilah bentuk tanggung jawab sosial ekonomi yang paling esensial terhadap pemegang saham.

2. People (Masyarakat Pemangku Kepentingan)

Menyadari bahwa masyarakat merupakan stakeholder penting bagi perusahaan, karena dukungan mereka, terutama masyarakat sekitar, sangat diperlukan bagi keberadaan, kelangsungan hidup, dan perkembangan perusahaan, maka sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan masyarakat lingkungan, perusahaan perlu berkomitmen untuk berupaya memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada mereka. Selain itu juga perlu disadari bahwa operasi perusahaan berpotensi memberikan dampak kepada masyarakat. Karenanya pula perusahaan perlu untuk melakukan berbagai kegiatan yang menyentuh kebutuhan masyarakat, intinya, jika ingin eksis dan akseptabel, perusahaan harus menyertakan pula taanggung jawab sosial.

3. Planet (Lingkungan)

Unsur ketiga yang mesti diperhatikan juga adalah planet atau lingkungan. Jika perusahaan igin eksis dan akseptabel maka harus disertakan pula tanggung

jawab kepada lingkungan. Lingkungan adalah sesuatu yang terkait dengan seluruh bidang kehidupan kita. Semua kegiatan yang kita lakukan mulai kita bangun tidur di pagi hari hingga kita terlelap di malam hari berhubungan dengan lingkungan. Air yang kita minum, udara yang kita hirup, seluruh peralatan yang kita gunakan semuanya berasal dari lingkungan. Lingkungan dapat menjadi teman atau musuh kita, tergantung bagaimana melakukan.

2.3.3 Ruang Lingkup Corporate Social Responsibility (CSR)

Meskipun isu utamanya akan berbeda baik antara sektor industri maupun antar perusahaan, namun secara umum isu Corporate Social Responsibility (CSR) mencakup 5 (lima) komponen pokok. (Darwin, 2007):

1. Hak Asasi Manusia (HAM)

Bagaimana perusahaan menyingkapi masalah HAM dan strategi serta kebijakan apa yang dilakukan oleh perusahaan untuk menghindari terjadinya pelanggaran HAM di perusahaan yang bersangkutan.

2. Tenaga Kerja (Buruh)

Bagaimana kondisi tenaga kerja di pabrik milik sendiri mulai dari soal system penggajian, kesejahteraan hari tua, dan keselamatan kerja, peningkatan keterampilan dan profesionalisme karyawan, sampai pada soal penggunaan tenaga kerja dibawah umur.

3. Lingkungan hidup

Bagaimana strategi dan kebijakan yang berhubungan dengan masalah lingkungan hidup. Bagaimana perusahaan mengatasi dampak lingkungan atas produk atau jasa mulai dari pengadaan bahan baku sampai pada masalah

buangan limbah, serta dampak lingkungan yang diakibatkan oleh proses produksi dan distribusi produk.

4. Sosial masyarakat

Bagaimana strategi dan kebijakan dalam bidang sosial dan pengembangan masyarakat setempat (Community Development), serta dampak operasi perusahaan terhadap kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat.

5. Dampak produk dan jasa terhadap pelanggan

Apa saja yang dilakukan oleh perusahaan untuk memastikan bahwa produk dan jasa bebas dari dampak negatif seperti : mengganggu kesehatan, mengancam keamanan dan produk terlarang.

Mencermati prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan

prinsip-prinsip Corporate Social Responsibility (CSR) diatas, rasanya tidak sulit mencari benang merah hubungan antara Good Corporate Governance (GCG) dengan Corporate Social Responsibility (CSR), yang mana dalam konteks ini adanya penekanan yang signifikan diberikan kepada stakeholder perusahaan. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan salah satu bentuk implementasi dari konsep Good Corporate Governance (GCG). Sebagai entitas bisnis yang bertanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan, perusahaan memang mesti bertindak sebagai Good Citizen yang merupakan tuntutan dari Good Business Ethics.

2.4 Akuntabilitas

2.4.1 Pengertian Akuntabilitas

antara manajemen dan pemilik (Principal). Principal dalam hal ini memberikan kewenangan penuh pada manajemen untuk melakukan aktivitas operasional. Sebagai konsekuensi atas wewenang ini maka agen harus mempertanggung jawabkan aktivitasnya terhadap Principal. Namun saat ini akuntabilitas tidak hanya mengatur hubungan antara manajemen dengan pemilik saja, melainkan penekanan hubungan mengharuskan perusahaan untuk menjalin kondisi yang akuntabel kepada stakeholder.

2.5 Pengungkapan (Disclusure) Corporate Social Responsibility (CSR)

Sebagai tahap akhir dari penerapan Corporate Social Responsibility (CSR) adalah berupa pengungkapan yana akan mengungkap sejauh mana pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) dan merupakan pertanggung jawaban terhadap stakeholders secara luas. Pada dasarnya perusahaan yang sukses dalam menjalankan Corporate Social Responsibility (CSR) memiliki tiga nilai dasar (Core Values) yang ditanam secara mengakar dalam perusahaan, yaitu (Darwin,2007):

1. Ketangguhan ekonomi

2. Tanggung jawab lingkungan

3. Akuntabilitas sosial

Jika kinerja keuangan suatu perusahaan tercermin dalam laporan keuangan, maka kinerja CSR akan dapat disimak melalui sebuah laporan yang disebut “Laporan Keberlanjutan” (Sustainability Report). Laporan Corporate Social Responsibility (CSR) atau laporan keberlanjutan pada hakekatnya memuat tiga aspek pokok yaitu aspek ekonomi, sosial dan lingkungan.

Secara umum pengungkapan kinerja Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan produk dari Social Responsibility Accounting sehingga Belkaoui (2009 : 229) akuntansi sosial dapat didefinisikan dengan tepat sebagai “Proses seleksi variabel-variabel kinerja sosial tingkat perusahaan, ukuran dan prosedur pengukuran yang yang secara sistematis mengembangkan informasi yang bermaanfaat untuk mengevaluasi kinerja sosial perusahaan, dan mengkomunikasikan informasi tersebut kepada kelompok sosial yang tertarik, baik di dalam maupun di luar perusahaan”.

Menurut Belkaoui (2009 : 230) tentang siapa yang menekankan untuk membuat laporan sosial perusahaan adalah :

1. Mengasumsikan bahwa tujuan Corporate Social Responsibility (CSR) adalah

untuk meningkatkan citra perusahaan dan memegang asumsi, biasanya secara implisit, bahwa perilaku perusahaan baik secara asasi.

2. Mengasumsikan bahwa tujuan Corporate Social Responsibility (CSR) adalah

untuk menghentikan pertanggung jawaban organisasi dengan asumsi bahwa kontrak sosial terjadi antara organisasi dengan masyarakat. Keberasaan kontrak sosial ini membutuhkan berhentinya pertanggung jawaban sosial.

3. Tampaknya mengasumsikan bahwa Corporate Social Responsibility (CSR)

secara efektif memperluas pelaporan keuangan tradisional dan tujuannya adalah untuk memberi informasi bagi investor.

2.5.1 Alasan Pengukuran dan Pengungkapan Kinerja Corporate Social

Responsibility (CSR)

Corporate Social Responsibility (CSR) melahirkan berbagai argument sebagai berikut (Belkaoui, 2009):

1. Argument pertama adalah yang terkait dengan kontrak sosial secara implicit diasumsikan bahwa organisasi seharusnya bertindak untuk memaksimalkan kesejateraan sosial, jika terjadi kontrak antara organisasi dengan masyarakat. Dengan demikian, organisasi memperoleh sejenis legitimasi dari masyarakat berbagai hukum kemasyarakatan memberikan persetujuan agar kontrak menjadi lebih eksplisit. Sementara kontrak sosial diasumsikan implisit. Hukum ini berisi aturan main yang harus dipilih organisasi yang akan menjadi kontrak sosial.

2. Teori keadilan Rawis, yang disajikan dalam bukunya “A Theory of Justice”

berisi prinsip-prinsip untuk mengevaluasi hukum dan kebiasaan dari sudut pandang moral, dan menjelaskan konsep kejujuran yang bermanfaat bagi akuntansi sosial.

3. Argumen ketiga adalah kebutuhan pengguna. Pada dasarnya, pengguna laporan

keuangan membutuhkan informasi sosialuntuk membuat keputusan alokasi dananya. Argumen yang dibuat oleh beberapa orang menyatakan bahwa pemegang saham itu konservatif dan hanya peduli terhadap deviden. Kenyataannya, sesuai dengan survey dilakukan pada pemegang saham, mereka menginginkan perusahaan menggunakan sumber dayanya agar lingkungan bersih, menghentikan polusi lingkungan,dan membuat produk yang aman. Berikut ini agar mengelola pengeluaran dengan memperhatikan keadaan sosial: a. Mengintegrasikan masalah kesadaran sosial perusahaan, etika dan

lingkungan pada pembuat keputusan perusahaan, dan meyakinkan bahwa kesadaran tersebut telah dimiliki oleh dewan direksi.

b. Mengembangkan metode untuk mengevaluasi dan melaporkan dampak

sosial dan lingkungan akibat aktivitas perusahaan.

c. Memodifikasi struktur perusahaan untuk membuat mekanisme yang sesuai

untuk menghadapi krisis sosial, lingkungan dan etika. Sehingga perusahaan menjadi organisasi yang siap krisis, bukan organisasi yang Crisis-prone. Perusahaan yang tidak menyiapkan diri untuk keadaan, krisis tidak mudah untuk bertahan.

d. Membuat insentif bagi perilaku yang sesuai dengan etika. Lingkungan,

sosial, dan mengintegrasikan insentif tersebut menjadi bagian dari sistem penilaian kinerja dan budaya organisasi dan tidak mempunyai pengaruh, maka perubahan permanen tidak pernah terjadi.

e. Mengakui jika lingkungan bersih, maka perusahaan tersebut dapat menjadi

pemimpin dalam mengurangi polusi dan bijaksana dalam menggunakan sumber daya alam.

4. Argumen keempat adalah Investasi Sosial. Pada dasarnya, diasumsikan bahwa

saat ini kelompok investor yang etis tergantung pada informasi yang disediakan laporan tahunan untuk membuat keputusan investasi. Sehingga pengungkapan informasi sosial menjadi penting jika investor mempertimbangkan dampak negatif dengan tepat pengeluaran kesadaran sosial pada per lembar saham, sepanjang kompensasi dampak positifnya dapat mengurangi resiko atau timbulnya ketertarikan yang lebih dari kelompok investor.

2.5.2 Laporan keberlanjutan (Sustainability Report)

Pengembangan berkelanjutan (Sustainable Development), secara sederhana bisa didefinisikan sebagai pengembangan atau perkembangan yang memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa membahayakan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. Maka dari itu, untuk mengetahui kinerja perusahaan yang berkelanjutan dibutuhkan adanya suatu laporan keberlanjutan yang mana laporan tersebut mampu memonitor kondisi perusahaan secara periodik. Dalam hal ini ada berbagai hal yang dapat mendefinisikan arti dari laporan keberlanjutan, antara lain :

1. Dokumen yang dibuat oleh perusahaan berkaitan dengan kinerja aspek

Dokumen terkait