• Tidak ada hasil yang ditemukan

1) Nomenklatur dan Nama lokal.

T. merguensis pertama kali dideskripsikan oleh Griffit pada tahun 1812 dengan spesimen yang berasal dari Burma (Hooker & Jackson 1960). Griffit menyebutnya dengan Tristania merguensis. Tahun 1982 dilakukan revisi terhadap genus Tristania, dan Tristania merguensis berubah menjadi Tristaniopsis merguensis (Wilson & Waterhouse 1982). Terdapat beberapa sinonim untuk spesies ini yaitu: Tristania merguensis, Tristania backhuizenni Back, Tristania maingayi, Tristania subauriculata dengan beberapa nama lokal yaitu pelawan tudak (Belitung), pelawan bukit (Malaysia), nya-kamaung (Myanmar), kha nang (Thailand) (Sosef & Prawirohatmodjo 1998).

2) Deskripsi

T. merguensis merupakan spesies pohon dengan batang berwarna merah dan bagian kulit luar mengelupas (Gambar 1a). Duduk daun berseling, jarang berhadapan. Ujung daun tumpul sampai membulat. Pangkal daun meruncing ke arah tangkai daun. Tangkai daun bersayap. Panjang daun antara 10 cm – 15 cm dan lebar 3 cm – 5 cm (Gambar 1b). Permukaan daun kasar, tidak berambut. Bunga majemuk, padat, putih (Gambar 1c). Ibu tangkai bunga di ketiak daun, berambut. Kelopak berbentuk tabung menyatu dengan bagian lobus yang tajam, berambut. Mahkota 5 berlekatan. Benang sari banyak, berhadapan dengan mahkota, 5 kelompok. Ovari tenggelam atau setengah tenggelam, 3 ruang. Buah kapsul dengan 3 lokus. Biji bersayap (Gambar 1d dan e) (Ridley 1922).

Gambar 1 Morfologi T. merguensis. (a) batang, (b) daun, (c) bunga, (d) buah, (e) buah yang pecah saat kering.

(a) (b)

(c) (d)

3) Klasifikasi

Klasifikasi dari T. merguensis menurut The International Plant Names Index (IPNI) Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Myrtales Famili : Myrtaceae Genus : Tristaniopsis

Spesies : T. merguensis (Griff.) Peter G. Wilson & J.T. Waterhouse

4) Persebaran

T. merguensis tersebar di selatan Myanmar, selatan Thailand, Malaysia, Sumatera, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat dan Kalimantan (Sosef & Prawirohatmodjo 1998). Tristaniopsis dapat tumbuh pada daerah dataran rendah, pegunungan sampai dengan ketinggian 1300 mdpl., juga terdapat di sepanjang aliran sungai dan daerah berbatu.

5) Pertumbuhan dan Perkembangan

Tidak banyak informasi mengenai pertumbuhan dan perkembangan T. merguensis, baik dari periode germinasi maupun fase dewasanya. Namun pada umumnya karakteristik Tristaniopsis perbanyakannya adalah dengan biji.

6) Pemanfaatan

T. merguensis ini sering dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai kayu bakar karena menghasilkan api yang bagus, panas lebih lama dan abu yang sedikit. Kayu T. merguensis sangat kuat (Muslich & Sumarni 2008), sehingga masyarakat memanfaatkannya sebagai bahan bangunan dan bahan pembuat kapal. Petani lada juga memanfaatkan batang T. merguensis ini sebagai tajar dari tanaman lada mereka.

Selain itu, nektar bunga T. merguensis merupakan makanan bagi lebah yang menghasilkan madu pahit. Selama ini masyarakat mengambil madu pahit dari sarang lebah madu yang ada pada T. merguensis maupun pohon lain yang ada di sekitarnya.

T. merguensis merupakan inang jamur edible pelawan yang tumbuh di sekitar sistem perakaran pohon tersebut. Diduga jamur pelawan merupakan mikoriza yang membutuhkan T. merguensis sebagai inangnya. Selama ini jamur pelawan hanya muncul satu kali sampai dua kali dalam setahun, sesaat setelah terjadinya musim panas yang cukup lama, menjelang datangnya musim hujan (Triadiati 24 Februari 2010, komunikasi pribadi).

Mikoriza

Asosiasi simbiotik antara mikoriza dan akar tanaman tersebar luas di lingkungan alam dan dapat memberikan berbagai manfaat bagi tanaman inang, diantaranya: memperbaiki nutrisi berupa hara, meningkatkan ketahanan terhadap hama, meningkatkan daya tahan terhadap kekeringan, toleransi terhadap logam berat dan perbaikan struktur tanah (

Mikoriza merupakan salah satu bentuk interaksi mutualistik antara jamur atau cendawan dengan akar tumbuhan yang menginfeksi dan mengkoloni akar tumbuhan tersebut namun tidak menimbulkan nekrosis (Agarwal & Sah 2009). Mikoriza dapat dibedakan atas dua macam yaitu: 1) Ektomikoriza, jamur atau cendawan yang berkembang di permukaan luar akar dan di antara sel-sel kortek akar; 2) Endomikoriza, jamur atau cendawan yang berkembang di dalam akar di antara dan di dalam sel kortek akar (Smith & Read 1997).

Setiadi 2003; Yano & Takaki 2005; Gosling et al. 2006). Tanaman yang dikolonisasi oleh mikoriza memperlihatkan respon positif terhadap pemberian fosfor anorganik (Antunes et al. 2007). Tanaman yang diinokulasi dengan mikoriza umumnya memiliki sistem perakaran yang lebih luas, karena hifa cendawan lebih panjang dan dapat menyebar secara cepat di dalam tanah (Liu et al. 2000).

Mikoriza mempunyai potensi yang baik dalam proses pertumbuhan dan perkembangan benih maupun anakan tumbuhan tingkat tinggi melalui penyerapan hara immobil (Yu et al. 2005) dan peningkatan ketahanan terhadap kekeringan (Lee et al. 2008). Saat ini penelitian ektomikoriza telah meluas sampai pada kajian pupuk hayati, bahkan sampai pada ektomikoriza jamur pelawan pada akar pohon T. merguensis yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Gambar 2 Jamur pelawan

Analisis Vegetasi

Analisis vegetasi adalah cara memperlajari susunan dan bentuk vegetasi atau masyarakat tumbuhan (Soerianegara & Indrawan 2005). Berdasarkan analisis vegetasi dapat ditentukan beberapa besaran yang akan memberikan gambaran tentang keseluruhan kondisi hutan (Indriyanto 2006) diantaranya:

1. Kerapatan dan kerapatan relatif.

Kerapatan adalah nilai yang menunjukkan jumlah individu dari spesies-spesies yang menjadi anggota suatu komunitas tumbuhan dalam luasan tertentu. Sementara kerapatan relatif menunjukkan persentase dari jumlah individu spesies tersebut dalam komunitasnya.

2. Frekuensi dan frekuensi relatif.

Frekuensi adalah besaran yang menyatakan derajat penyebaran spesies dalam komunitasnya. Frekuensi relatif memperlihatkan persentase dari frekuensi spesies tersebut dalam komunitasnya.

3. Luas penutupan atau dominansi dan dominansi relatif.

Dominansi adalah besaran yang digunakan untuk menyatakan derajat penguasaan ruang atau tempat tumbuh, berapa luas areal yang ditumbuhi oleh spesies tumbuhan.

4. Indeks Nilai Penting (INP).

Indeks Nilai Penting (INP) adalah parameter kuantitatif yang dapat dipakai untuk menyatakan tingkat penguasaan spesies tertentu dalam suatu komunitas.

Sistem perakaran T. merguensis

INP untuk spesies tumbuhan bawah dan anakan pohon merupakan penjumlahan dari kerapatan relatif dan frekuensi relatif. Sedangkan INP untuk pohon fase dewasa adalah penjumlahan dari kerapatan relatif, frekuensi relatif, dan dominansi relatif.

5. Indeks kesamaan komunitas

Merupakan suatu koefisien untuk mengetahui kesamaan spesies tumbuhan di dua lokasi yang berbeda. Krebs (1989) mengelompokkan indeks kesamaan komunitas kedalam empat kategori, yaitu : ≥75% (sangat tinggi), 50 -75% (tinggi), 25-50% (sedang), dan ≤ 25% (rendah).

Nilai lain yang menggambarkan suatu ekosistem adalah nilai keanekaragaman (Diversity), kekayaan (Richness), dan kemerataan spesies tumbuhan (Eveness) (Ludwig & Reynolds 1988).

Menurut Barbour et al. (1987) Indeks Keanekaragaman Shanon dapat dikelompokkan menjadi 4, yaitu : H > 2 (rendah), 2 < H < 3 (sedang), 3 < H < 4 (tinggi), dan H > 4 (sangat tinggi). Kemerataan dari persebaran spesies berkisar antara 0 – 1. Semakin nilai mendekati 1 berarti kemerataan akan menjadi maksimum dan homogen. Nilai kemerataan spesies akan maksimum jika semua spesies mempunyai jumlah individu yang sama pada setiap satuan sampel.

Struktur hutan dapat dilihat dari stratifikasi atau pelapisan tajuk. Stratifikasi atau pelapisan tajuk merupakan susunan tumbuhan secara vertikal dalam suatu komunitas tumbuhan atau ekosistem hutan. Menurut Soerianegara dan Indrawan (2005), stratifikasi disebabkan oleh:

1. Persaingan.

Persaingan terjadi akibat adanya kompetisi yang berlangsung dalam suatu masyarakat tumbuhan atau spesies pohon yang ada. Akibat kompetisi ini akan muncul pohon yang mampu bersaing, memiliki pertumbuhan yang kuat, dan menjadi spesies dominan dari spesies lain. Individu yang dominan tersebut akan mencirikan vegetasi hutan yang bersangkutan.

2. Sifat toleransi spesies.

Sifat toleransi ini sangat dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari. Spesies yang toleran mendapatkan kesempatan ruang tumbuh dengan radiasi sinar

matahari yang penuh. Sedangkan spesies yang intoleran akan mendapatkan naungan dari spesies yang toleran.

Soerianegara dan Indrawan (2005) menyatakan bahwa stratifikasi tajuk dalam hutan hujan tropis dipisahkan oleh lima stratum, yaitu:

1. Stratum A, merupakan lapisan teratas terdiri dari pohon dengan tinggi lebih dari 30 m.

2. Stratum B, terdiri dari pohon dengan tinggi 18-30 m.

3. Stratum C, terdiri dari pohon-pohon yang mempunyai tinggi 4-18 m. 4. Stratum D, terdiri dari lapisan perdu dan semak yang mempunyai tinggi

1-4 m, termasuk di dalamnya adalah pohon muda, palma kecil, herba besar dan paku-pakuan besar.

5. Stratum E, terdiri dari lapisan tumbuh-tumbuhan penutup tanah atau lapisan lapangan yang mempunyai tinggi 0-1 m.

Individu-individu dalam populasi dan komunitas dapat menyebar menurut tiga pola, yaitu: acak, seragam, dan mengelompok (Ludwig & Reynolds 1988; Krebs 1989; Odum 1994). Pola sebaran merupakan bentuk apresisasi dari interaksi yang terjadi dalam suatu komunitas, yang biasa disebut dengan asosiasi. Hampir semua spesies tumbuhan berada dalam asosiasi yang kompleks untuk melengkapi fase-fase dalam siklus hidupnya (Widyatmoko 2001).

Asosiasi yang terjadi pada komunitas tumbuhan atau ekosistem hutan dapat berupa asosiasi negatif dan positif. Asosiasi negatif yang dapat terjadi pada masyarakat tumbuhan adalah kompetisi, amensalisme, ataupun parasitisme; sedangkan bentuk positif adalah komensalisme, protokooperasi, dan mutualisme (Setiadi & Tjondronegoro 1989).

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli - Agustus 2010 di Hutan Tanaman Pelawan Desa Trubus, Hutan Kawasan Lindung Kalung Desa Namang, dan Hutan Dusun Air Pasir Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Studi herbarium dilakukan di Herbarium Bogoriense LIPI Cibinong. Analisis tanah dan serasah dilakukan di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Gambar 3 Lokasi penelitian ( )

Alat dan Bahan

Objek utama dalam penelitian ini adalah T. merguensis. Peralatan yang digunakan antara lain :

1. Perlengkapan pencatatan data lingkungan : Global Position System (GPS), lightmeter, altimeter, clinometer, termohigrograf, dan kamera.

3. Perlengkapan sampling vegetasi: peta lokasi, meteran, kompas, tali plastik, kertas label, dan tally sheet.

4. Perlengkapan untuk pembuatan herbarium, serta buku identifikasi tumbuhan.

Data Penelitian 1) Jenis data

a. Data primer, berupa data ekologi vegetasi, serasah dan data lingkungan abiotik (tanah dan iklim mikro).

b. Data sekunder, berupa data klimatologi yang diperoleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika, Stasiun Klimatologi Pangkal Pinang.

2) Pengumpulan data

a. Penentuan lokasi penelitian.

Hutan yang dijadikan lokasi penelitian adalah hutan yang memiliki populasi T. merguensis serta riwayat pertumbuhan jamur pelawan. Sedangkan sebagai kontrol negatif adalah hutan yang ada populasi T. merguensis namun tidak memiliki riwayat pertumbuhan jamur pelawan. Riwayat pertumbuhan jamur pelawan di lokasi penelitian diperoleh dari komunikasi pribadi dengan penduduk sekitar hutan. Hutan yang memiliki populasi T. merguensis dan riwayat pertumbuhan jamur pelawan adalah Hutan Kawasan Lindung Kalung Desa Namang dan Hutan Dusun Air Pasir. Kontrol negatif dari penelitian ini adalah Hutan Tanaman Pelawan Desa Trubus.

b. Analisis vegetasi.

Data ekologi populasi dan komunitas T. merguensis didapatkan melalui analisis vegetasi menggunakan metode Quadrat. Petak contoh ditempatkan pada jalur transek sepanjang 100 m secara purposive di tiga lokasi penelitian.

Petak contoh yang dibangun berbentuk bujur sangkar bersarang dengan ukuran 20 m x 20 m untuk fase pohon (diameter batang setinggi dada / diameter breast hight (dbh) > 20 cm), 10 m x 10 m untuk fase tiang (20 cm < dbh < 10 cm), 5 m x 5 m untuk fase sapihan (10 cm < dbh 2 cm), dan 2 m x 2 m untuk fase semai (dbh < 2 cm) serta untuk spesies tumbuhan

bawah (Krebs 1989). Dalam satu unit analisis vegetasi dibuat lima petak contoh (Gambar 4). Penempatan plot sejalur dilakukan karena luasan Hutan Tanaman Pelawan Desa Trubus yang relatif sempit, sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan penempatan plot secara acak. Penempatan plot pada dua lokasi lain mengikuti penempatan plot di Hutan Tanaman Pelawan Desa Trubus.

Satu unit analisis vegetasi ukuran plot 20 m x 50 m sampai dengan 100 m dipercaya sudah memadai untuk hutan yang ada di daerah tropis (Loumonier 1997).

20 m

100 m

Gambar 4 Skema plot bersarang

Keterangan: = Petak contoh ukuran 2 m x 2 m, untuk tumbuhan bawah dan semai.

= Petak contoh ukuran 5 m x 5 m, untuk pancang. = Petak contoh ukuran 10 m x 10 m, untuk tiang. = Petak contoh ukuran 20 m x 20 m, untuk pohon.

Data vegetasi yang dicatat adalah nama spesies dan famili, diameter batang setinggi dada, tinggi batang bebas cabang, tinggi total tumbuhan, diameter tajuk, dan posisi tumbuhan pada sebuah petak contoh (x, y). Data dianalisis dan dituangkan dalam bentuk profil vegetasi suatu komunitas T. merguensis.

Herbarium dibuat untuk spesies tumbuhan yang pada saat analisis vegetasi tidak diketahui nama spesies ataupun familinya. Pembuatan herbarium dilakukan dengan cara standar sesuai dengan yang dikemukakan oleh Djarwaningsih et al. (2002).

c. Pengambilan contoh serasah.

Serasah lantai hutan diambil sampai lapisan atas tanah dengan luasan 50 cm x 50 cm (Kavvadias et al. 2001) di sekitar pohon T. merguensis.

Contoh serasah diambil pada tiga titik yang dianggap mewakili kondisi serasah di setiap lokasi penelitian, yang kemudian dikompositkan untuk di analisis lebih lanjut.

d. Pengukuran iklim mikro.

Iklim mikro yang diukur adalah suhu, kelembaban udara, dan intensitas cahaya matahari yang ada di bawah tajuk pohon pelawan. Pengukuran dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan di setiap lokasi pengamatan. e. Pengambilan contoh tanah.

Contoh tanah diambil pada lapisan topsoil di sekitar perakaran pohon pelawan. Contoh tanah diambil pada tiga titik yang dianggap mewakili kondisi tanah di setiap lokasi penelitian, yang kemudian dikompositkan untuk dianalisis sifat fisik dan kimianya.

f. Data sekunder berupa kondisi iklim tahunan diperoleh dari Badan Klimatologi dan Geofisika, stasiun klimatologi terdekat dengan lokasi penelitian, yaitu Stasiun Klimatologi Pangkal Pinang

3) Analisis data

a. Komposisi spesies.

Nilai kerapatan relatif (KR), frekuensi relatif (FR), dominansi relatif (DR), dan indeks nilai penting (INP) spesies tumbuhan dihitung menggunakan formula (Cox 1996), sebagai berikut:

Jumlah individu suatu spesies Kerapatan = ---

Luas petak contoh

Kerapatan suatu spesies

Kerapatan relatif = --- x 100% Kerapatan seluruh spesies

Jumlah petak ditemukan suatu spesies Frekuensi = ---

Jumlah seluruh petak

Frekuensi suatu spesies

Frekuensi relatif = --- x 100% Frekuensi seluruh spesies

Luas bidang dasar suatu spesies Dominansi = ---

Dominansi suatu spesies

Dominansi relatif = --- x 100% Dominansi seluruh spesies

Dominansi dan dominansi relatif hanya dihitung untuk spesies pohon fase pertumbuhan pancang, tiang, dan pohon (Soerianegara & Indrawan 2005). Indeks Nilai Penting (INP) untuk kategori tumbuhan bawah dan fase semai adalah penjumlahan antara kerapatan relatif, frekuensi relatif. Sedangkan INP untuk kategori pancang, tiang dan pohon adalah penjumlahan antara kerapatan relatif, frekuensi relatif, dan dominansi relatif.

b. Keanekaragaman tumbuhan

Nilai keanekaragaman spesies tumbuhan dihitung berdasarkan indeks kekayaan, indeks keanekaragaman, dan indeks kemerataan dengan formula (Ludwig & Reynolds 1988), sebagai berikut:

 Kekayaan spesies dihitung menggunakan indeks Margalef (R'), sebagai berikut:

R' = ( S - 1) / ln N

R' merupakan indeks Margalef, S adalah jumlah spesies yang teramati, dan N adalah jumlah total individu yang teramati.

 Keanekaragaman spesies dihitung menurut indeks Shannon (H'), sebagai berikut:

H' = - ∑ [ ni/N] ln [ni/N]

H' menyatakan indeks keanekaragaman Shannon, ni adalah jumlah individu spesies ke-i, dan N adalah total jumlah individu semua spesies yang ditemukan.

 Kemerataan spesies dihitung dengan menggunakan Indeks Pielou (E), sebagai berikut:

E = H' / ln (S)

E merupakan indeks kemerataan Pielou, H' adalah indeks keanekaragaman Shannon, dan S adalah jumlah spesies.

c. Nilai kemiripan komunitas

Nilai kemiripan dari komunitas-komunitas yang dibandingkan dihitung dengan menggunakan indeks Sǿrensen (Ludwig & Reynolds

1988), dengan formula sebagai berikut:

S = 2 C / (A + B)

S adalah nilai kemiripan, C adalah jumlah nilai penting terkecil untuk masing-masing tegakan yang diamati, A adalah jumlah nilai penting dari tegakan pertama, dan B adalah jumlah nilai penting dari tegakan kedua. d. Pola sebaran

Pola penyebaran ditentukan berdasarkan perbandingan keragaman dengan nilai rata-rata hitung individu spesies ke-i (Ludwig & Reynolds 1988)

Keterangan : X = Rata-rata jumlah individu spesies ke-i Xi = Jumlah individu ke-I dalam tiap kuadrat n = Jumlah kuadrat

Id = Indeks penyebaran

Jika : Id > 1, maka pola penyebaran spesies ke-i adalah mengelompok. Id < 1, maka pola penyebaran spesies ke-i adalah teratur/merata. Id = 1, maka pola penyebaran spesies ke-i adalah acak.

e. Asosiasi interspesies.

Pola asosiasi antara T. merguensis dengan spesies tumbuhan lainnya di lokasi penelitian diuji berdasarkan data kehadiran dan ketidakhadiran (data biner) pada petak contoh yang diuji. Pengujian pola asosiasi interspesifik ditentukan dari indeks Jaccard berdasarkan metode spesies berpasangan untuk multispesies. Kehadiran spesies yang diuji dinyatakan dengan 1, sedangkan ketidakhadirannya dinyatakan dengan 0 (Tabel 1).

Tabel 1 Matriks data kehadiran dan ketidakhadiran dari S spesies dalam N petak contoh.

Spesies Petak contoh Total

1 2 …. (N) Spesies 1 1 1 0 n1 2 1 0 1 n2 3 0 1 1 n3 S 0 1 1 Ns Total SU T1 T2 TN

Asosiasi secara simultan menggunakan Variance Ratio (VR) diturunkan dari null association model. Indeks asosiasi VR diturunkan dari data kehadiran dan ketidakhadiran (Tabel 1). Hipotesis nol (Ho) yang dibangun adalah T. merguensis merupakan spesies independen; tidak ada asosiasi dengan spesies lain. Hipotesis ini diuji dengan uji statistik chi-square (χ²

Varian sampel total dihitung untuk keterdapatan S spesies dalam sampel, dengan persamaan sebagai berikut :

)

Keterangan: δT² = varian sampel total

pi = ni/N

Selanjutnya dilakukan pendugaan varian jumlah spesies total dengan persamaan :

Keterangan: ST² = varian jumlah spesies

t = tara-rata jumlah spesies per petak contoh.

Kemudian VR (indeks asosiasi antar seluruh spesies) dihitung dengan rumus:

Bila : VR = 1, maka tidak ada asosiasi VR > 1, menunjukkan asosiasi positif. VR < 1, menunjukkan asosiasi negatif.

Untuk menguji adanya penyimpangan nilai 1, maka dilakukan penghitungan nilai statistik W, dihitung dengan rumus :

W = (N)(VR) Jika nilai W terletak pada batas χ²

Selanjutnya spesies lain yang memiliki INP ≥ 10% (Botanri 2010) akan diuji asosiasinya dengan chi-square (p = 0,05 ; df =1) spesies berpasangan dari tabel kontingensi 2 x 2 (Tabel 2). Hipotesis nol (Ho) yang dibangun adalah bahwa T. merguensis merupakan spesies independen; tidak ada asosiasi dengan spesies lain.

dengan probabilitas 90% maka hipotesis bahwa tidak ada asosiasi spesies diterima.

Pasangan yang memiliki nilai signifikan diuji tingkat asosiasinya menggunakan indeks Jaccard (Ludwig & Reynolds 1988)

Keterangan: J = Indeks Jaccard

a = Jumlah plot ditemukannya T. merguensis dan spesies B

b = Jumlah plot ditemukannya T. merguensis tetapi tidak spesies B c = Jumlah plot ditemukannya spesies B tetapi tidak T. merguensis

Tabel 2. Tabel kontingensi 2 x 2 untuk asosiasi spesies

Spesies B

ada Tidak ada

T. merguensis ada a b m = a + b

tidak ada c d n = c + d

r = a + c s = b + d

Keterangan :

a = Jumlah plot ditemukannya T. merguensis dan spesies B

b = Jumlah plot ditemukannya T. merguensis tetapi tidak spesies B c = Jumlah plot ditemukannya spesies B tetapi tidak T. merguensis d = Jumlah plot tidak ditemukannya kedua spesies tersebut.

f. Analisis sifat tanah meliputi sifat fisik dan kimia tanah di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB. g. Kemiripan komposisi spesies tumbuhan dan parameter kuantitatif

komunitas lainnya dari tiap lokasi pengamatan dituangkan dalam bentuk dendrogram yang dihasilkan oleh analisis cluster.

h. Persamaan dan perbedaan iklim mikro dihitung dengan metode analisis sidik ragam pada taraf kepercayaan 95% (p ≤ 0,05). Uji lanjut menggunakan uji Duncan (DMRT).

i. Kurva periodik komponen iklim (suhu udara, kelembaban udara, curah hujan, kecepatan angin, dan lama penyinaran) tahun 2008 dan 2009 dibuat untuk melihat kondisi iklim pada saat jamur Pelawan tumbuh. Sedangkan kurva periodik iklim tahun 2010 digunakan sebagai pembanding, karena selama tahun 2010 jamur Pelawan tidak tumbuh. Kurva periodik dibuat sesuai dengan metode yang dikemukakan oleh Little dan Hills (1977). Pembuatan kurva periodik diperlukan 2 nilai P yang dinamai PU1 (∑U1Y) dan PV1 (∑V1

Y adalah iklim bulanan, U Y), dimana :

1 adalah cos CX, V1

Kurva periodik membutuhkan PU

adalah sin CX, (X adalah bulan, dimana Januari adalah bulan ke-0, Februari adalah bulan ke-1, dan seterusnya, C = 1/12 x 360°.

1 dan PV1 untuk kurva first degree, serta PU2dan PV2

Persamaan kurva first degree adalah : untuk kurva second degree.

Ŷ1 = ao + a1 cos CX + b1 Keterangan: a sin CX o a = ∑ Y/n 1 = 2 PU1 b /n 1 = 2 PV1

Persamaan kurva second degree adalah : /n

Ŷ2 = ao + a1 cos CX + b1 sin CX + a2 cos 2CX + b2

Keterangan: a sin 2CX 2 = 2 PU2 b /n 1 = 2 PV2/n

Kurva periodik yang digambarkan adalah hasil dari perhitungan second degree dengan sumbu X adalah bulan, dan sumbu Y adalah deviasi rata-rata.

j. Karakteristik ekologi vegetasi dan komponen lingkungan abiotik yang mendukung pertumbuhan T. merguensis dan jamur Pelawan diperlihatkan oleh loading plot hasil analisis komponen utama (Principal Component Analisis, PCA).

Secara ringkas, alur dari penelitian yang dilaksanakan dapat dilihat pada Gambar 5 berikut:

Alur Penelitian

Gambar 5 Skema alur penelitian. ( ) dilakukan analisis, ( ) komunikasi pribadi T. merguensis ANALISIS VEGETASI INP, R, H’, E, Asosiasi, dll ANALISIS FAKTOR LINGKUNGAN Jamur pelawan KLIMATIK Curah hujan, kelembaban, suhu, intensitas cahaya, dll EDAFIK

Sifat fisika Sifat kimia

PREFERENSI HABITAT Faktor lingkungan yang mendukung

penyebaran

T.mergeuensis sekaligus sebagai inang jamur pelawan

HASIL

Komposisi Spesies dan Struktur Hutan Pelawan

Komposisi spesies dari dua hutan pelawan yang diteliti yaitu Hutan Kawasan Lindung Kalung Desa Namang dan Hutan Dusun Air Pasir disusun oleh beberapa spesies pohon yang sama. Berbeda halnya dengan Hutan Tanaman Pelawan Desa Trubus yang hanya ditanami pohon pelawan, walaupun ada beberapa spesies lain dengan Indeks Nilai Penting (INP) yang sangat kecil. Komposisi spesies tumbuhan dan pola sebarannya di Hutan Tanaman Pelawan Desa Trubus, Hutan Kawasan Lindung Kalung Desa Namang, dan Hutan Dusun Air Pasir tersaji pada Tabel 3 – 6.

Tabel 3 Spesies tumbuhan bawah dan pohon di Hutan Tanaman Pelawan Desa Trubus.

Tumbuhan bawah

No Spesies Famili KR FR DR INP Pola sebaran

1 Alpinia galanga Zingiberaceae 0,04 2,63 - 2,67 Acak

2 Asystasia nemorum Acanthaceae 1,86 10,53 - 12,39 Mengelompok

3 Chromolaena odorata Asteraceae 14,09 18,42 - 32,51 Mengelompok

4 Gleichenia linearis Gleicheniaceae 0,36 7,89 - 8,25 Mengelompok

5 Imperata cylindrica Poaceae 81,44 34,21 - 115,65 Mengelompok

6 Melastoma malabatricum Melastomataceae 1,23 15,79 - 17,02 Mengelompok

7 Mimosa pudica Fabaceae 0,99 10,53 - 11,52 Mengelompok

Jumlah 100,00 100,00 - 200,00

Spesies pohon fase semai

No Spesies Famili KR FR DR INP Pola sebaran

1 Callophyllum nodosum Clusiaceae 100,00 100,00 - 200,00 Mengelompok

Jumlah 100,00 100,00 - 200,00

Spesies pohon fase pancang

No Spesies Famili KR FR DR INP Pola sebaran

1 Alstonia sp. Apocynaceae 1,89 4,00 0,82 6,71 Mengelompok

2 Bridellia tomentosa Euphorbiaceae 3,77 4,00 1,57 9,34 Mengelompok

3 Connarus sp. Connaraceae 1,89 4,00 0,44 6,33 Acak

4 Criptocarya crassinervia Lauraceae 1,89 4,00 0,72 6,61 Acak

5 Prunus arborea Rosaceae 1,89 4,00 0,29 6,18 Acak

6 Symplocos adenophylla Simplocaceae 1,89 16,00 0,49 18,38 Acak

7 Syzygium grande Myrtaceae 3,77 8,00 1,71 13,48 Teratur

8 Tristaniopsis merguensis Myrtaceae 83,02 56,00 93,95 232,97 Teratur

Jumlah 100,00 100,00 100,00 300,00

KR = Kerapatan Relatif, FR = Frekuensi Relatif, DR = Dominansi Relatif, INP = Indeks Nilai Penting

Tabel 4 Spesies tumbuhan bawah dan pohon di Hutan Kawasan Lindung Kalung Desa Namang.

Tumuhan bawah

No Spesies Famili KR FR DR INP Pola sebaran

1 Bromheadia finlaysoniana Orchidaceae 39,26 19,05 - 58,31 Mengelompok

2 Gleichenia linearis Gleicheniaceae 27,61 9,52 - 37,13 Mengelompok

3 Nepenthes raflessiana Nepentheceae 9,20 19,05 - 28,25 Mengelompok

4 Stenochlaena palustris Blechnaceae 23,93 52,38 - 76,31 Mengelompok

Jumlah 100,00 100,00 - 200,00

Spesies pohon fase semai

No Spesies Famili KR FR DR INP Pola sebaran

1 Callophyllum nodosum Clusiaceae 2,72 4,29 - 7,00 Mengelompok

2 Callophyllum soulattri Clusiaceae 27,17 17,14 - 44,32 Mengelompok

3 Chionanthus ramiflorus Oleaceae 1,63 1,43 - 3,06 Mengelompok

4 Cratoxilum glaucum Clusiaceae 1,09 1,43 - 2,52 Mengelompok

5 Criptocarya crassinervia Lauraceae 0,54 2,86 - 3,40 Mengelompok

6 Gaertnera vaginans Rubiaceae 2,17 2,86 - 5,03 Mengelompok

7 Ghordonia sp. Theaceae 1,09 1,43 - 2,52 Mengelompok

8 Harpulia cupanioides Sapindaceae 0,54 1,43 - 1,97 Acak

9 Lithocarpus elegans Fagaceae 0,54 1,43 - 1,97 Acak

10 Meliosma sumatrana Clusiaceae 5,43 4,29 - 9,72 Mengelompok

11 Prunus arborea Rosaceae 1,09 1,43 - 2,52 Mengelompok

12 Pternandra azurea Melastomataceae 0,54 1,43 - 1,97 Acak

13 Pternandra rostrata Melastomataceae 18,48 8,57 - 27,05 Mengelompok

14 Syzygium barringtonioides Myrtaceae 1,63 10,00 - 11,63 Mengelompok

15 Syzygium caudatilimbum Myrtaceae 2,17 1,43 - 3,60 Mengelompok

Dokumen terkait