• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Usaha Kecil

Konsep Usaha Kecil Menengah (UKM) sangat berbeda dari suatu negara dengan negara lain. UKM menjadi pembahasan berbagai pihak bahkan UKM dianggap sebagai penyelamat perekonomian Indonesia di masa krisis pada periode 1998-2000, UKM mempunyai ciri khas yaitu modal yang kecil, resiko yang relatif kecil dan mendorong masyarakat mengembangkan semangat wirausaha (Manurung, 2006). UKM di Indonesia telah mendapat perhatian dan dibina Pemerintah dengan dibuatnya sebuah Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

Peraturan perundang-undangan tentang usaha kecil telah dilakukan perubahan yaitu Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil diganti dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Undang-undang tersebut mengelompokkan usaha menjadi empat kelompok berdasarkan total aset dan total penjualan tahunan dengan kriteria sebagai berikut:

(1) Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dam/atau badan usaha perorangan yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000,00 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,00.

(2) Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasasi, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar, dengan kriteria memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000,00 sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000,00 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000,00 sampai dengan paling banyak Rp. 2.500.000.000,00.

(3) Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.000,00 sampai dengan

paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 2.500.000.000,00 sampai dengan paling banyak Rp. 50.000.000.000,00.

(4) Usaha besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari Usaha Menengah, yang meliputi usaha nasional milik negara atau swasta, usaha patungan dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia.

Berdasarkan uraian di atas Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tidak memberikan kriteria yang terlalu luas pada kelompok usaha kecil, seperti halnya pada Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995. Kelompok-kelompok usaha tersebut memberikan gambaran bahwa suatu kegiatan bisnis dapat berpindah kelompok sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan usahanya.

Terkait dengan usaha kecil, maka Badan Pusat Statistik (Tambunan, 2002), menyebutkan bahwa ada industri kecil (IK) yang merupakan unit usaha dengan jumlah pekerja paling sedikit 5 orang dan paling banyak 19 orang termasuk pengusaha, sedangkan industri rumah tangga (IRT) merupakan unit usaha dengan jumlah pekerja paling banyak 4 orang termasuk pengusaha. Unit-unit usaha tanpa pekerja (self-employment unit) termasuk dalam kategori ini. Pentingnya IK dan IRT di Indonesia terefleksi antara lain dari jumlah unit usahanya yang sangat banyak jauh melebihi jumlah unit usaha dari kelompok industri menengah besar (IMB). IK dan IRT di Indonesia secara tradisional memiliki spesialisasi dalam jenis-jenis industri yang membuat produk sederhana dengan kandungan teknologi rendah dan sebagian besar pengusaha IK dan IRT hanya berpendidikan SD ke bawah.

Kebijakan Usaha Kecil

Kebijakan usaha kecil tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 yang menyebutkan bahwa pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan Pemerintah, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha dan masyarakat secara sinergi dalam bentuk penumbuhan iklim dan pengembangan usaha terhadap Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Usaha Menengah sehingga mampu tumbuh dan berkembang menjadi usaha yang tangguh dan mandiri. Prinsip pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah adalah: (1) penumbuhan kemandirian, kebersamaan dan kewirausahaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah untuk berkarya dengan prakarsa sendiri; (2) perwujudan kebijakan publik yang transparan, akuntabel dan berkeadilan; (3)

pengembanagn usaha berbasis potensi daerah dan berorientasi pasar sesuai dengan kompetensi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah; (4) peningkatan daya saing Usaha Mikro, Kecil dan Menengah; dan (5) penyelenggaraan perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian secara terpadu.

Tujuan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah adalah: (1) mewujudkan struktur perekonomian nasional yang seimbang, berkembang dan berkeadilan; (2) menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah menjadi usaha yang tangguh dan mandiri; dan (3) meningkatkan peran Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dalam pembangunan daerah, penciptaan lapangan kerja, pemerataan pendapatan, pertumbuhan ekonomi dan pengentasan rakyat dari kemiskinan.

Iklim usaha adalah kondisi yang diupayakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk memberdayakan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah secara sinergis melalui penetapan berbagai peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan di berbagai aspek kehidupan ekonomi agar Usaha Mikro, Kecil dan Menengah memperoleh pemihakan, kepastian, kesempatan, perlindungan dan dukungan berusaha yang seluas-luasnya. Pemerintah dan Pemerintah Daerah Menumbuhkan Iklim Usaha dengan menetapkan peraturan perundangan-undangan dan kebijakan yang meliputi aspek: (1) pendanaan; (2) sarana dan prasarana; (3) informasi usaha; (4) perizinan usaha; (5) kesempatan berusaha; (6) promosi dagang; dan (7) dukungan kelembagaan.

Pengembangan adalah upaya yang dilakukan Pemerintah, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha dan masyarakat untuk memberdayakan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah melalui pemberian fasilitas, bimbingan, pendampingan, dan bantuan perkuatan untuk menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan dan daya saing Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Pemerintah dan Pemerintah Daerah memfasilitasi pengembangan usaha dalam bidang: (1) produksi dan pengolahan; (2) pemasaran; (3) sumberdaya manusia; dan (4) desain dan teknologi.

Pembiayaan adalah penyediaan dana oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha, dan masyarakat melalui bank, koperasi dan lembaga keuangan bukan bank, untuk mengembangkan dan memperkuat permodalan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Penjaminan adalah pemberian jaminan pinjaman Usaha Mikro, Kecil dan Menengah oleh lembaga penjamin kredit sebagai dukungan untuk memperbesar kesempatan memperoleh pinjaman dalam rangka memperkuat permodalannya.

Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyediakan pembiayaan bagi usaha mikro dan kecil. Badan Usaha Milik Negara dapat menyediakan pembiayaan dari penyisihan bagian laba tahunan yang dialokasikan kepada Usaha Mikro dan Kecil dalam bentuk pemberian pinjaman, penjaminan, hibah, dan pembiayaan lainnya. Usaha besar nasional dan asing dapat menyediakan pembiayaan yang dialokasikan kepada Usaha Mikro dan Kecil dalam bentuk pemberian pinjaman, penjaminan, hibah, dan pembiayaan lainnya.

Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan Dunia Usaha dapat memberikan hibah, mengusahakan bantuan luar negeri, dan mengusahakan sumber pembiayaan lain yang sah serta tidak mengikat untuk Usaha Mikro dan Kecil. Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat memberikan insentif dalam bentuk kemudahan persyaratan perizinan, keringanan tarif sarana dan prasarana, dan bentuk insentif lainnya yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan kepada dunia usaha yang menyediakan pembiayaan bagi Usaha Mikro dan Kecil.

Kemitraan merupakan kerjasama dalam keterkaitan usaha, baik langsung maupun tidak langsung, atas dasar prinsip saling memerlukan, mempercayai, memperkuat, dan menguntungkan yang melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dengan Usaha Besar. Pemerintah, Pemerintah Daerah, Dunia Usaha, dan masyarakat memfasilitasi, mendukung, dan menstimulasi kegiatan kemitraan, yang saling membutuhkan, mempercayai, memperkuat, dan menguntungkan.

Kemitraan antar Usaha Mikro, Kecil dan Menengah serta kemitraan antara Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dengan Usaha Besar mencakup proses alih keterampilan di bidang produksi dan pengolahan, pemasaran, permodalan, sumber daya manusia, dan teknologi. Menteri dan Menteri Teknis mengatur pemberian insentif kepada Usaha Besar yang melakukan kemitraan dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah melalui inovasi dan pengembangan produk berorientasi ekspor, penyerapan tenaga kerja, penggunaan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan, serta menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan.

Jadi kebijakan usaha kecil merupakan keputusan dan ketentuan yang dibuat oleh pemerintah baik Pusat maupun Daerah yang ditujukan pada upaya pemberdayaan usaha kecil sehingga mampu menumbuhkan dan menguatkan dirinya menjadi usaha yang tangguh dan mandiri. Bentuk kebijakan pemberdayaan usaha kecil tersebut meliputi: penumbuhan iklim usaha yang kondusif, pengembangan,

pembiayaan, penjaminan, kemitraan, inovasi produk, desain teknologi, pemasaran, dan dukungan kelembagaan.

Pemerintah juga mendorong keterlibatan usaha besar nasional, baik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta dan pihak asing untuk membantu usaha kecil dalam pengembangan produk dengan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan, pemasaran yang beoriantasi ekspor dan peningkatan modal kerja serta investasi. Bagi usaha besar dan pihak asing yang membantu usaha kecil akan mendapat insentif dalam bentuk kemudahan perizinan dan keringanan tarif.

Berhubungan dengan kebijakan usaha kecil, maka Iwantono (2003) berpendapat bahwa pengembangan industri pedesaan merupakan suatu keharusan. Dengan pengembangan ini diharapkan dapat mengoreksi ketimpangan dalam struktur ekonomi di Indonesia.

Beberapa pertimbangan mengapa industri pedesaan menjadi pilihan? yaitu karena (1) secara geografis wilayah Indonesia didominasi oleh desa. Desa menyimpan aneka potensi kekayaan alam dan berbagai sumber hayati; (2) penawaran tenaga kerja yang cukup melimpah. Penawaran tenaga kerja di pedesaan sangat elastis, artinya walaupun terjadi lonjakan permintaan, tidak akan diikuti oleh kenaikan upah; dan (3) berbagai kelembagaan desa relatif sudah cukup berkembang, antara lain: Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, PKK, Kelompok Usaha Bersama dan lembaga keuangan seperti BRI, BPR dan bank swasta telah sampai di desa, semua ini dapat menjadi infrastruktur yang akan menunjang pengembangan industri pedesaan. Hal lain yang lebih penting yaitu bagaimana sifat dari industri yang akan dikembangkan dan faktor apa yang menentukan sukses atau tidaknya pengembangan industri pedesaan.

Kondisi Individu Pengusaha Kecil

Terdapat berbagai studi yang menelaah faktor individu usaha kecil seperti status sosial ekonomi usaha kecil, pengalaman usaha, dan kekosmopolitan yang dikaitkan dengan persepsi terhadap pendidikan, hingga mengaitkan faktor individu usaha kecil dengan partisipasi dalam kegiatan kelompok, dan kemiskinan di antaranya dilakukan oleh Mubyarto dkk. (1984). Berdasarkan studi tersebut, faktor internal usaha kecil seperti status sosial ekonomi usaha kecil, pendidikan (formal dan informal yang pernah diikuti), teknologi yang digunakan, wawasan lingkungan, pengalaman berusaha dan kekosmopolitan memiliki hubungan positif dengan pendapatan, dan kesejahteraan rumah tangga. Terdapat hubungan antara tingkat

pendidikan dengan kinerja usaha kecil, serta pengalaman dalam memprediksi usaha yang tajam untuk memperhitungkan resiko dan kesuksesan.

Faktor-faktor individu yang umum biasanya meliputi: gender, suku, tingkat pendidikan, pengalaman dan keterampilan. Banyak kajian bahwa faktor-faktor ini ada kaitannya dengan keberhasilan kegiatan kewirausahaan. Dalam konsteks wirausaha, menurut Bird (1996), faktor individu wirausaha merupakan individu yang menjalankan usaha, faktor-faktor yang ada pada individu tersebut adalah: (1) karakteristik biologis meliputi: umur, jenis kelamin, pendidikan; (2) latar belakang wirausaha yaitu: pengalaman usaha, alasan berusaha, pekerjaan orang tua dan keluarga; dan (3) motivasi, sebagai dorongan kuat untuk melakukan suatu usaha, seperti: ketekunan, kegigihan dan kemauan keras untuk berhasil.

Menurut pemikiran para ahli tersebut, keragaan individu pengusaha kecil merupakan kondisi yang ada, melekat dan dimiliki oleh para pengusaha kecil, seperti tingkat pendidikan, status social, tingkat ekonomi yang dicapai usaha kecil, latar belakang wirausaha pengalaman berusaha, pekerjaan orang tua dan keluarga, keaktifan dalam kelompok, kekosmopolitan dan teknologi yang digunakan serta tingkat motivasi/kegigihan para pengusaha kecil dalam menjalankan usahanya. Industri Agro

Industri agro merupakan satu subsistem dalam sistem agribisnis. Secara garis besar terdapat empat subsistem produksi/usaha tani (farming), yaitu: (1) penyediaan sarana produksi seperti pupuk, bibit (benih), obat-obatan, mesin pertanian dan sebagainya; (2) pengolahan; (3) pemasaran (tata niaga); dan (4) subsistem pendukung seperti pembiayaan dan asuransi. Dalam hal ini yang disebut agro industri adalah subsistem yang menangani pengolahan hasil produksi usaha tani (Iwantono, 2003). Selanjutnya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2000), industri agro adalah industri di lapangan pertanian.

Pertanian dalam arti luas menurut Firdaus (2008) mencakup: (1) pertanian rakyat atau disebut pertanian dalam arti sempit; (2) perkebunan, termasuk di dalamnya perkebunan rakyat dan perkebunan besar; (3) kehutanan; (4) peternakan, dan (5) perikanan. Hal ini sejalan dengan pendapat Jumin (2008) bahwa obyek agronomi selain tanaman juga tumbuhan pengganggu, bahkan ternak, ikan dan kodok. Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa industri agro adalah proses pengolahan bahan mentah dari hasil pertanian dalam arti luas, mencakup

pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan menjadi barang-barang yang siap digunakan.

Dilihat dari Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) Tahun 2005 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), maka industri agro termasuk dalam industri pengolahan khususnya industri makanan dan minuman. Adapun pengkategorian tersebut menurut KBLI dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1.Industri Pengolahan Makanan dan Minuman Berdasarkan KBLI 2005

KATEGORI

Dokumen terkait