• Tidak ada hasil yang ditemukan

Usahatani merupakan suatu cara dalam mengelola kegiatan-kegiatan pertanian (Makeham dan Malcolm, 1991). Daniel (2002) mengemukakan bahwa usahatani yang diterapkan oleh sebagian besar petani Indonesia adalah untuk memenuhi kebutuhan keluarga (pola subsisten). Hal ini berarti belum sepenuhnya bertujuan untuk dijual ke pasar (market oriented).

Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 751/Kpts/Um/10/1982 menyatakan bahwa usaha peternakan sapi perah di Indonesia terbagi menjadi dua yaitu usaha peternakan sapi perah rakyat dan perusahaan peternakan sapi perah. Usaha peternakan sapi perah rakyat yaitu usaha peternakan sapi perah yang diselenggarakan sebagai usaha sampingan dan memiliki sapi perah kurang dari 10 ekor sapi laktasi atau dewasa dan atau memiliki jumlah keseluruhan kurang dari 20 ekor sapi perah campuran. Perusahaan peternakan sapi perah adalah usaha peternakan sapi perah untuk tujuan komersil dengan produk utama susu sapi yang memiliki 10 ekor sapi laktasi atau dewasa atau lebih, dan atau memiliki jumlah keseluruhan 20 ekor sapi campuran atau lebih.

Usaha peternakan sapi perah memiliki beberapa keuntungan dibandingkan usaha peternakan lainnya. Keuntungan tersebut diantaranya : merupakan suatu usaha yang tetap; sapi perah mempunyai kemampuan merubah makanan menjadi protein yang paling efisien, menghasilkan jumlah pendapatan yang tetap; menggunakan tenaga buruh yang tetap, dapat menggunakan berbagai jenis hijauan yang tersedia dan menghasilkan pupuk kandang yang lebih bernilai dibandingkan sapi potong karena sapi perah banyak menggunakan biji-bijian (Sudono, 1999).

Besarnya usaha peternakan sapi perah tergantung pada luas lahan yang tersedia dan daerah peternakan didirikan. Peternakan sapi perah di Indonesia umumnya merupakan usaha keluarga di pedesaan dalam skala kecil, sedangkan usaha skala besar masih sangat terbatas dan umumnya merupakan usaha sapi perah yang baru tumbuh. Penambahan jumlah sapi perah dalam suatu usaha peternakan umumnya akan meningkatkan efisiensi perusahaan jika dipelihara dengan baik. Efisiensi produksi tergantung pada cara pemberian makanan yang ekonomis dan

pakan hijauan yang berasal dari tanaman sendiri, sedangkan pakan konsentrat dapat dibeli dari luar dengan penggunaan yang minimum (Sudono, 1999).

Sudono (1999) menyatakan bahwa faktor terpenting untuk sukses dalam suatu usaha peternakan sapi perah adalah peternak itu sendiri. Peternak harus dapat mengkombinasikan tata laksana yang baik dengan menentukan lokasi yang baik, besarnya usaha peternakan, sapi-sapi yang berproduksi tinggi, pemakaian peralatan yang tepat, tanah yang subur untuk tanaman hijauan dan pemasaran yang baik agar dapat mencapai kesuksesan dalam usaha peternakan sapi perah.

Faktor-Faktor Produksi Usaha Peternakan Sapi Perah Ternak Sapi Perah

Suhartini (2001) mengemukakan bahwa jumlah produksi susu suatu usaha peternakan sapi perah ditentukan oleh jumlah ternak sapi laktasi yang dimiliki. Usaha peternakan saat ini berjalan pada kondisi rata-rata kepemilikan sapi perah relatif kecil dan dibawah skala ekonomis. Hal ini antara lain disebabkan oleh masih mahalnya harga sapi perah. Padahal tidak dapat dipungkiri bahwa sapi perah merupakan input utama dalam produksi susu sapi disamping input lainnya seperti pakan dan tenaga kerja.

Kemampuan berproduksi setiap bangsa sapi berbeda-beda. Kemampuan produksi dan kadar lemak susu dari berbagai bangsa sapi yang terkenal ditunjukkan oleh Tabel 2 (Sudono, 1999). Berdasarkan Tabel 2, sapi Friesian Holstein (FH) mempunyai kemampuan produksi susu yang paling tinggi dengan kadar lemak paling rendah dibandingkan dengan bangsa sapi lainnya, sedangkan bangsa Jersey mempunyai kemampuan produksi yang paling rendah dengan kadar lemak susu tertinggi (Sudono, 2002).

Tabel 2. Kemampuan Produksi dan Kadar Lemak dari Bangsa Sapi yang Terkenal

Bangsa sapi Kemampuan produksi /laktasi (Kg) Kadar lemak (%)

Friesian Holstein 7245 3,65 Brown Swiss 5939 4,10 Ayrshire 5685 3,96 Guernsey 5205 4,67 Jersey 4957 4,85 Milking Shorthorn 5126 3,65 Sumber : Sudono (2002)

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam manajemen usaha peternakan sapi perah untuk mencapai efisiensi produksi yaitu umur beranak pertama, lama laktasi, masa kering, efisiensi reproduksi, peremajaan dan culling, pemakaian tenaga kerja, dan pemberian pakan (Sudono, 1999).

Sapi Friesian Holstein (FH) atau keturunannya dapat beranak pada umur 2 – 2,5 tahun asalkan tata laksana dan pemberian makanan pada anak-anak dan sapi dara cukup baik. Sapi dara yang mengalami kekurangan makanan berbadan relatif kecil dan memiliki gangguan reproduksi (Sudono, 1999). Berdasarkan data beberapa survey dan penelitian Sudono (1999) di peternakan sapi perah Bogor, Lembang, Rawa Seneng dan Baturaden menunjukkan bahwa rata-rata beranak pertama berumur ± 3 tahun. Hal ini menyebabkan kenaikan ongkos-ongkos produksi di peternakan- peternakan tersebut, sehingga tidak efisien.

Lama laktasi adalah lama sapi itu menghasilkan susu yaitu antara waktu beranak sampai masa kering. Lama laktasi bergantung pada peristensi, sedangkan persistensi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya : umur sapi, kondisi sapi saat beranak, lama masa kering sebelumnya, dan banyaknya makanan yang diberikan pada sapi yang sedang laktasi. Lama laktasi yang baik adalah sekitar 10 bulan (Sudono, 1999). Hasil penelitian Prabowo (2002) di tiga desa yang berbeda bioklimat di Kabupaten dan Kodya Bogor menunjukkan bahwa selama masa laktasi, sapi perah mengalami perubahan jumlah produksi susu. Perubahan tersebut disajikan dalam Tabel 3.

Tabel 3. Rata-rata Produksi Susu di Tiga Desa Penelitian di Kabupaten dan Kota Madya Bogor Berdasarkan Periode Laktasi

Produksi susu (liter/ekor/hari) Periode

Cibeureum Tajur Halang Kebon Pedes Keseluruhan Laktasi 1 12,42 ± 3,55 9,53 ± 4,61 11,70 ± 2,97 11,50 ± 3,71 Laktasi 2 12,57 ± 4,84 9,80 ± 3,99 11,90 ± 4,39 11,72 ± 4,58 Laktasi 3 15,10 ± 4,53 12,18 ± 5,43 12,28 ± 3,90 13,21 ± 4,78 Laktasi 4 14,78 ± 4,35 10,67 ± 3,27 10,23 ± 5,19 11,47 ± 5,00

Sumber : Prabowo (2002)

Pergeseran jumlah produksi susu di daerah penelitian mungkin diakibatkan oleh manajemen pemberian pakan yang berbeda antar desa. Produksi susu akan mengalami peningkatan hingga mencapai puncak laktasi ketiga. Produksi susu akan

menurun pada laktasi keempat karena semakin bertambah umur sapi perah, maka susu akan semakin menurun (Prabowo, 2002).

Masa kering adalah masa istirahat sapi perah yaitu sebelum beranak (umumnya 2 bulan), sehingga sapi tidak diperah untuk sementara waktu. Masa kering yang baik adalah selama ± 2 bulan (Sudono, 1999). Selang beranak (calving interval) yang baik adalah 12-13 bulan. Calving interval yang lebih pendek dari 320 hari akan menyebabkan penurunan produksi susu sebesar 9 persen dari laktasi yang sedang berjalan dan penurunan 3,7 persen pada laktasi berikutnya. Namun, calving interval yang lebih panjang dari 13 bulan tidak ekonomis (Sudono, 1999).

Hasil penelitian Khoiriyah (2006) menunjukkan bahwa masa kering dan

calving interval sapi FH di PT. Taurus Dairy Farm berturut-turut adalah 1,8 dan 102 hari. Masa kering dipengaruhi oleh interval partus/beranak ke dikawinkan kembali, sedangkan calving interval dipengaruhi oleh lamanya interval dari beranak ke dikawinkan kembali. Calving interval sapi FH ini tergolong kurang baik, karena terlalu lama. Hal ini disebabkan oleh siklus berahi yang tidak teratur dan atau pengamatan berahi kurang tepat.

Peremajaan (replacement stock) yang baik adalah 20-25 persen dari jumlah sapi betina dewasa per tahun. Culling hewan-hewan yang diternakkan lagi oleh peternakan sapi perah di Indonesia umumnya karena steril atau majir. Suatu peternakan sapi perah di Bandung, sapi-sapi yang diafkir rata-rata per tahun adalah 23,79 pesen dari jumlah sapi betina dewasa dengan alasan 6,92 persen dijual, 3,05 persen karena tua, 4,94 persen karena sakit kaki, 6,73 persen karena majir, 0,55 persen karena mastitis dan 0,5 persen abortus (Sudono, 1999). Berdasarkan hasil penelitian Sinaga (2003), rata-rata persentase peremajaan (replacement stock) di kawasan usaha peternakan sapi perah Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor adalah 19,03 persen untuk dara dan 21,19 persen untuk pedet dari seluruh jumlah ternak.

Biaya produksi untuk tenaga kerja suatu peternakan berkisar antara 20 – 30 persen. Seorang tenaga kerja di Indonesia cukup menangani 6-7 ekor sapi dewasa untuk mencapai efisiensi penggunaan tenaga kerja. Semakin banyak sapi yang dipelihara dalam suatu peternakan, makin efisien tenaga yang dibutuhkan (Sudono, 1999). Berdasarkan hasil penelitian Sinaga (2003), rata-rata curahan tenaga kerja

peternakan secara keseluruhan adalah 1,45 HKP/hari. Rata-rata jumlah ternak yang dipelihara adalah 11,25 ST (Satuan Ternak), maka diperoleh rasio sebesar 0,129 HKP/ST/hari atau 1,03 jam/ST/hari atau 7,65 ST/HKP/hari. Rataan ini sudah mencapai efisiensi penggunaan tenaga kerja karena menurut Sudono (1999), seorang tenaga kerja cukup menangani 6-7 ekor sapi dewasa.

Pemberian pakan konsentrat pada sapi-sapi yang sedang diperah dapat mengatasi kekurangan protein dapat dicerna (Sudono, 1999). Berdasarkan hasil penelitian Sinaga (2003), pemberian konsentrat dilakukan pada pagi dan sore sebelum pemerahan dilakukan. Rataan pemberian konsentrat setiap hari adalah 3,04 kg/ST/hari. Hasil pengamatan pada daerah penelitian mengindikasikan bahwa pemberian konsentrat tergantung pada jumlah produksi yang dihasilkan. Semakin besar tingkat produksi susu yang dihasilkan maka peternak akan meningkatkan pemberian konsentrat. Hasil pengamatan lapang menunjukkan bahwa rasio pemberian konsentrat dengan tingkat produksi adalah 1:2 yang berarti jika sapi laktasi menghasilkan susu 2 liter akan diberi konsentrat 1 kg.

Kandang

Kandang merupakan syarat penting bagi pemeliharaan ternak. Berkembangnya permintaan akan hasil ternak dan adanya keinginan untuk memperoleh hasil yang optimum, pembuatan kandang harus mendapatkan perhatian yang serius dengan memperhatikan unsur-unsur efisiensi, pertimbangan ekonomi dan masalah yang menyangkut lingkungan (Sudono, 2002).

Sudono (2002) mengatakan bahwa kandang sapi perah yang efektif harus dirancang untuk memenuhi persyaratan dan kenyamanan ternak, enak dan nyaman untuk operator, efisien untuk tenaga kerja dan pemakaian alat-alat dan disesuaikan dengan peraturan kesehatan ternak. Kandang sapi perah dan kamar khusus mempunyai arti yang lebih dibandingkan dengan tiap bangunan lain yang ada di dalam peternakan, memerlukan sesuatu yang khusus dan spesifik dalam pengaturan konstruksi. Kandang harus menyesuaikan diri terhadap persyaratan kesehatan, yang mensyaratkan bangunan-bangunan tetap bersih dan dapat menghasilkan susu yang segar dan sehat.

Persyaratan kandang yang dilihat dari aspek teknis, kesehatan dan lingkungan diantaranya : cukup luas, alas dibuat padat/keras, ventilasi cukup, terang, bersih dan

kering, tenang dan aman, perlu dibuat penampung kotoran, memperhatikan kesehatan lingkungan serta biaya terjangkau oleh petani atau peternak (Sudono, 2002).

Hasil penelitian Suhendar (2004) menunjukkan bahwa bangunan kandang di PT. Gurame Anugrah Tani terdiri dari 6 kandang untuk sapi dewasa, muda dan dara serta 1 kandang untuk pedet. Bangunan kandang untuk sapi dewasa dan dara dibangun dengan lantai semen, tiang beton dan atap terdiri dari asbes dan rumbia dengan tujuan agar kandang tidak terlalu panas. Tipe kandang adalah tipe ganda dengan ukuran 6x24 m2 sebanyak 3 kandang dan 6x28 m2 1 kandang dengan kapasitas masing-masing kandang sebanyak 48 ST dan 56 ST untuk sapi dewasa. Dua kandang lainnya untuk sapi remaja berukuran 4x18 m2 dan 4x10 m2 yang mempunyai kapasitas sebanyak 24 ekor dan 12 ekor. Kandang tersebut dirancang dengan dua model yaitu peletakan sapi secara berhadapan dan peletakan sapi yang saling membelakangi. Kandang untuk sapi pedet yang belum lepas sapih dibangun di dekat kandang induk yang dibuat per individu dengan ukuran 1,25x1 m2 sebanyak 50 bok. Kandang tersebut dibuat seperti rumah panggung yang berdiri di atas lantai semen dengan ketinggian 50 cm sehingga memudahkan pegawai dalam membersihkan kandang (Suhendar 2004).

Pakan

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha peternakan sapi perah yaitu pemberian pakan. Sapi perah yang produksi susunya tinggi tidak akan menghasilkan susu yang sesuai dengan kemampuannya bila tidak mendapat pakan yang cukup, baik kuantitas maupun kualitas. Cara pemberian pakan yang salah akan mengakibatkan penurunan produksi, gangguan kesehatan bahkan kematian. Pemberian pakan harus diperhitungkan dengan cermat dan harus dilakukan secara efisien (Sudono, 1999).

Pakan sapi perah terbagi atas dua golongan yaitu bahan pakan berserat dan bahan pakan konsentrat. Bahan pakan konsentrat merupakan makanan utama bagi sapi perah yang umumnya terdiri dari rumput dan hijauan lainnya. Kadar serat kasar pada hijauan yang terlalu tinggi mengakibatkan pakan sukar dicerna oleh sapi, sebaliknya, kadar serat kasar yang terlalu rendah mengakibatkan gangguan pencernaan dan menurunkan kualitas susu (turunnya kadar lemak). Hal ini

menyebabkan peranan hijauan tidak dapat diganti seluruhnya oleh makanan penguat (Sudono, 1999).

Bahan pakan konsentrat merupakan makanan pelengkap bagi sapi, karena tidak semua zat makanan dapat terpenuhi oleh hijauan. Bahan pakan konsentrat tersusun dari berbagai bahan makanan biji-bijian dan hasil ikutan dari pengolahan hasil pertanian maupun industri lainnya. Konsentrat mempunyai fungsi untuk menutup kekurangan dalam hijauan, yaitu sulit dicerna oleh ternak (Sudono, 1999).

Hasil penelitian Sanusi (2005) di Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan dan Kecamatan Cisarua, Bogor menunjukkan bahwa kadar lemak susu di usaha peternakan sapi perah Kecamatan Setiabudi lebih tinggi daripada di Kecamatan Cisarua walaupun rasio hijauan di Kecamatan Setiabudi lebih rendah daripada di Kecamatan Cisarua (hanya 35 % dari bahan kering ransum). Produksi susu yang rendah dikarenakan kualitas hijauan yang rendah dan suhu yang relatif panas di dataran rendah. Suhu relatif panas tersebut menyebabkan konsumsi ransum menurun dan terjadinya energi tambahan yang dibutuhkan untuk pengaturan regulasi panas tubuh. Rasio hijauan konsentrat pada sapi laktasi serta kadar lemak, produksi susu dan berat jenis susu di Kecamatan Setiabudi dan Kecamatan Cisarua ditunjukkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Rasio Hijauan Konsentrat pada Sapi Laktasi serta Kadar Lemak, Produksi Susu dan Berat Jenis Susu di Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan dan Kecamatan Cisarua, Bogor

Parameter Kecamatan Setiabudi Kecamatan Cisarua Rasio hijauan : konsentrat 35 : 65 49 : 51

Kadar lemak susu (%) 4,10 3,80

Produksi susu (kg/ekor/tahun) 7,60 ± 3,00 13,20 ± 2,80 Produksi susu (4 % FCM/ekor/hari) 7,70 ± 3,00 12,80 ± 2,80

Berat jenis susu 1,03 1,03

Sumber : Sanusi (2005) Tenaga kerja

Usaha peternakan yang baik harus mempunyai tenaga yang terampil dan berpengalaman. Tenaga kerja dalam usaha peternakan sapi perah sangat berperan dalam pemeliharaan sapi perah. Pemeliharaan sapi perah yang dilakukan oleh tenaga kerja secara rutin diantaranya mencari hijauan, memberi pakan, membersihkan

kandang, memandikan ternak, menghilangkan tanduk anak sapi, memotong kuku sapi betina, memerah susu dan memasarkan susu (Sudono, 1999).

Hasil penelitian Sinaga (2003) di Kawasan Usaha Peternakan (Kunak) sapi perah Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa jenis kegiatan yang dilakukan oleh pekerja dalam mengelola usahaternak sapi perah adalah : membersihkan kandang, memandikan sapi, memberi makan, memberi minum, memerah, menyetor susu, mencari dan memotong rumput. Kegiatan yang menyita waktu paling banyak adalah mencari dan memotong rumput, karena rumput yang tersedia di sekitar kapling tidak mencukupi sehingga peternak harus mencari di luar Kunak. Penggunaan jumlah waktu yang digunakan tenaga kerja dalam melakukan kegiatan usahaternak sapi perah setiap harinya disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Jumlah Waktu dalam Kegiatan Usahaternak Sapi Perah pada Kunak Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor

Skala I Skala Skala III Keseluruhan No. Kegiatan

Jam Pria per Hari 1. Membersihkan kandang dan

memandikan sapi 2,49 2,46 3,34 2,73

2. Memerah 1,35 2,11 3,11 2,02

3. Memberi makan 1,14 1,22 1,74 1,28

4. Memberi minum 1,05 1,22 1,34 1,02

5. Menyetor susu 0,77 0,84 0,93 0,83

6. Mencari dan memotong rumput 2,82 4,26 5,50 3,98

Jumlah 9,63 12,33 15,96 11,86

Sumber : Sinaga (2003)

Perhitungan efisiensi tenaga kerja pada Kunak sapi perah diperoleh dengan melihat perbandingan antara jumlah sapi yang dimiliki dalam satuan ternak (ST) serta jumlah curahan tenaga kerja dalam hari kerja pria (HKP). Hasil perhitungan efisiensi tenaga kerja sapi perah di Kunak untuk masing-masing skala dan keseluruhan dijelaskan pada Tabel 6.

Tabel 6. Rata-rata Efisiensi Tenaga Kerja Sapi Perah di Kunak Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor

No. Efisiensi tenaga kerja Skala I Skala II Skala III Keseluruhan 1. Rataan pemilikan k 5,68 11,43 21,60 11,25 2. HKP/hari 1,16 1,49 2,04 1,45 3. HKP/ST/hari 0,21 0,14 0,09 0,13 4. ST/HKP/hari 4,88 7,35 10,79 7,65 Sumber : Sinaga (2003)

Sinaga (2003) mengatakan bahwa pada skala I, rataan tenaga kerja yang digunakan adalah 1,163 HKP/hari dengan rataan pemilikan sapi sebesar 5,68 ST, maka rasio yang diperoleh adalah 0,205 HKP/ST/hari atau 4,88 ST/HKP/hari yang berarti 1 HKP dapat menangani 4-5 ekor sapi dewasa. Skala II diperoleh rataan tenaga kerja 1,493 HKP/hari dengan rataan pemilikan sapi sebesar 11,3 ST, maka rasio yang diperoleh adalah 0,14 HKP/ST/hari atau 7,35 ST/HKP/hari yang berarti 1 HKP dapat menangani 7-8 ekor sapi dewasa. Skala III diperoleh rataan tenaga kerja 2,04 HKP/hari dengan rataan pemilikan sapi sebesar 21,6 ST, maka rasio yang diperoleh adalah 0,092 HKP/ST/hari atau 10,79 ST/HKP/hari yang berarti 1 HKP dapat menangani 4-5 ekor sapi dewasa.

Rata-rata curahan tenaga kerja peternakan secara keseluruhan adalah 1,45 HKP/hari. Rata-rata jumlah ternak yang dipelihara adalah 11,25 ST (Satuan Ternak), maka diperoleh rasio sebesar 0,129 HKP/ST/hari atau 1,03 jam/ST/hari atau 7,65 ST/HKP/hari.

Obat-obatan dan Peralatan

Selain ternak sapi, kandang, pakan dan tenaga kerja, faktor produksi yang digunakan dalam usaha peternakan sapi perah adalah obat-obatan dan peralatan. Program kesehatan pada usaha peternakan sapi perah seharusnya dijalankan secara teratur, terutama di daerah-daerah yang sering terjangkit penyakit menular seperti TBC, brucellosis, penyakit mulut dan kuku, radang limpa, dan lain-lain. Daerah yang sering terjangkit penyakit tersebut hendaknya dilakukan vaksinasi secara teratur (Sudono, 2002).

Hasil penelitian Suhendar (2004) menunjukkan bahwa kesehatan ternak di PT. GAT Bogor dipantau setiap hari dengan melakukan pemeriksaan secara kontinyu sehingga penyakit dapat terdeteksi secara lebih dini dan kesehatan sapi dapat terjaga serta dapat tetap berproduksi dengan baik. Penyakit yang sering ada, pencegahan dan pengobatannya tertera pada Tabel 7.

Hasil penelitian Haryati (2003) menunjukkan bahwa peralatan yang digunakan oleh peternak sapi perah di Kelurahan Kebon Pedes adalah sabit, ember minum, ember makan, sikat, sapu, lampu dan plastik (umur pakai < 1 tahun). Sabit biasa digunakan peternak untuk mencari dan memotong rumput, ember minum hanya digunakan peternak yang tidak membuat tempat minum di kandang, ember makan

digunakan untuk menampung pakan sebelum dimasukkan ke dalam bak pakan, sikat dan sapu digunakan untuk membersihkan kandang, lampu berfungsi sebagai alat penerang kandang dan plastik digunakan untuk membungkus susu yang akan dijual ke konsumen.

Tabel 7. Penyakit Ternak, Pencegahan dan Pengobatan Pencegahan/pengobatan No. Penyakit

Suplemen Frekuensi Dosis

1. Undigesti Vitamin 1-2 kali 20-25 cc 2. Enteritis Vitamin,

antibiotik 1-2 kali 20-25 cc 3. Pnounemia Vitamin,

antibiotik 1-2 kali 20-25 cc 4. Silent heat Pensteep,

hormon 1-2 kali 5-10 cc, 1 dosis 5. Hipocasimea Calsium, vitamin 1-2 kali 200-250 cc 6. Diarhae Terramicin 1-2 kali 15-20 cc 7. Cacing Valbazen Tiga bulan sekali 25-35 cc

Sumber : Suhendar (2004)

Peralatan lain yang digunakan peternak adalah gerobak, sekop, ember perah,

milkcan dan selang (umur pakai > 1 tahun). Gerobak digunakan untuk mengangkut rumput yang sudah disabit, sekop digunakan untuk mengangkut kotoran dan membersihkan kotoran sapi perah di kandang, ember perah digunakan untuk menampung susu yang sedang diperah, milkcan digunakan untuk menampung susu yang sudah diperah dan selang air digunakan untuk membersihkan kandang, memandikan sapi dan memberi minum (Haryati, 2003).

Biaya Produksi Usaha Peternakan Sapi Perah

Daniel (2003) menyatakan bahwa biaya produksi adalah kompensasi yang diterima oleh para pemilik faktor-faktor produksi atau biaya-biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam proses produksi, baik secara tunai maupun secara tidak tunai. Biaya tunai terdiri dari upah kerja untuk biaya persiapan dan penggarapan tanah, upah kerja untuk pemeliharaan ternak, biaya untuk membeli pupuk dan pestisida, dan lain-lain. Biaya tidak tunai terdiri dari biaya panen, bagi hasil, sumbangan dan pajak- pajak.

Selain itu, menurut Boediono (2002) biaya produksi juga digolongkan menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap merupakan biaya yang jumlahnya

tidak tergantung pada jumlah produksi yang antara lain mencakup : kandang, lahan, peralatan. Biaya variabel merupakan biaya yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan jumlah produksi yang dihasilkan. Semakin besar kuantitas produk yang dihasilkan, makin besar biaya variabel yang diperlukan. Biaya variabel ini meliputi biaya pakan, obat-obatan dan vaksinasi, upah tenaga kerja dan biaya lainnya.

Biaya produksi terbesar yang dikeluarkan dalam usaha peternakan sapi perah adalah biaya variabel, terutama biaya pakan dan biaya tenaga kerja (Sudono, 1999). Sudono (1999) mengungkapkan bahwa biaya pakan dapat mencapai 60-80 persen dari total biaya. Biaya produksi untuk tenaga kerja suatu peternakan berkisar antara 20 – 30 persen dari biaya total dan seorang tenaga kerja di Indonesia cukup menangani 6-7 ekor sapi dewasa untuk mencapai efisiensi penggunaan tenaga kerja. Semakin banyak sapi yang dipelihara dalam suatu peternakan makin efisien tenaga yang dibutuhkan (Sudono, 1999).

Hasil penelitian Sinaga (2003) menunjukkan bahwa secara keseluruhan rataan biaya tetap yang dikeluarkan oleh setiap peternak di kawasan usaha peternakan sapi perah Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor per bulan adalah Rp 235.580,2 atau 8,94 persen dari biaya total, sedangkan rataan biaya variabel untuk setiap peternak per bulan adalah Rp 2.400.632,19 atau 91,06 persen dari biaya total. Komponen terbesar untuk setiap peternak berturut-turut adalah biaya pakan (64,32 % dari biaya total), biaya tenaga kerja (16,6 %), biaya obat-obatan (3,03 %),

cooling unit (3,25 %), biaya lain-lain (air, transportasi dan listrik) (3,31 %) dan biaya penyusutan kandang (0,55 %).

Hasil penelitian Haryati (2003) menunjukkan bahwa biaya tunai yang termasuk dalam usahaternak sapi perah di Kelurahan Kebon Pedes adalah pembelian ternak, pakan, obet-obatan, IB, tenaga kerja luar, pajak, listrik, transportasi dan pembelian peralatan. Biaya tidak tunai yaitu depresiasi peralatan, depresiasi kandang dan depresiasi ternak. Komponen rata-rata biaya produksi usahaternak sapi perah di Kelurahan Kebon Pedes dalam satu tahun disajikan dalam Tabel 8.

Tabel 8. Rata-rata Komponen Biaya Produksi Usahaternak Sapi Perah di Kelurahan Kebon Pedes dalam Satu Tahun

Kelompok I Kelompok II Kelompok III Komponen biaya Rp % Rp % Rp % Pakan 8.887.382,34 70,31 19.291.222,23 78,03 52.776.666,33 62,42 Membeli ternak 2.066.666,67 16,35 - - 19.433.333,33 22,98 Peralatan 85.700 0,68 191.411,11 0,77 371.666,67 0,44 TKL 73.333,33 5,80 3.413.333,33 13,81 7.990.000 9,45 IB 130.700 1,03 178.000 0,72 225.666,67 0,27 Obat-obatan 73.800 0,58 68.888,89 0,29 195.666,67 0,23 Sewa dan pajak lahan 4.200 0,03 9.888,89 0,04 27.500 0,03 Listrik 118.606,67 0,94 193.333,33 0,78 405.000 0,48 Transportasi 175.100 1,39 369.777,78 1,49 467.208,33 0,55 Depresiasi alat 7.075,55 0,06 17.007,40 0,07 43.333,34 0,05 Depresiasi kandang 48.195,55 0,38 141.037,04 0,57 640.000 0,76 Depresiasi ternak 309.894,19 2,45 848.963,84 3,43 1.979.166,67 2,34 Jumlah 12.640.654,7 100,00 24.722.863,94 100,00 84.555.208,01 100,00 Sumber : Haryati (2003)

Biaya pakan merupakan biaya produksi terbesar yang dikeluarkan peternak sapi perah di Kelurahan Kebon Pedes. Peternak yang paling banyak mengeluarkan biaya produksi untuk pakan adalah Kelompok II yaitu sebesar 78,03 persen

Dokumen terkait