• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam dokumen WURI HANDAYANI F3608114 (Halaman 24-42)

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Bank Konvensional

1. Definisi Bank Konvensional

Definisi Bank menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1999 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Bank Konvensional dapat didefinisikan seperti pada pengertian Bank umum pada pasal 1 ayat 3 Undang-Undang No.10 tahun 1998 dengan menghilangkan kalimat “dan atau berdasarkan prinsip Syariah”, yaitu Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara Konvensional yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

a. Jenis-Jenis Bank

Bank didefinisikan oleh Undang-Undang No.10 tahun 1999 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 7 tahun 1992 tentang perbankan sebagai “badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”. Penggolongan Bank

commit to user

9 tidak hanya berdasarkan jenis kegiatan usahanya, melainkan juga mencakup bentuk badan hukumnya dan target pasarnya. Uraian singkat mengenai jenis-jenis Bank adalah sebagai berikut :

2. Jenis bank menurut kegiatan usaha

Sebelum diberlakukannya Undang-Undang No.7 tahun 1992, Bank dapat digolongkan berdasarkan jenis kegiatan usahanya, seperti Bank Tabungan, Bank Pembangunan, dan Bank Ekspor Impor. Setelah Undang-Undang tersebut berlaku, jenis Bank yang diakui secara resmi hanya terdiri atas dua jenis, yaitu Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

a) Bank Umum

Bank Umum didefinisikan oleh Undang-Undang No.10 tahun 1998 sebagai bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara Konvensional dan/atau berdasarkan prinsip Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

b) Bank Perkreditan Rakyat (BPR)

Bank Perkreditan Rakyat didefinisikan oleh Undang-Undang No. 10 tahun 1998 sebagai bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara Konvensional dan/atau berdasarkan prinsip Syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

commit to user

10

3. Jenis Bank Menurut Bentuk Badan Usaha

Untuk memperoleh izin usaha sebagai Bank Umum atau Bank Perkreditan Rakyat, suatu lembaga keuangan wajib memenuhi persyaratan mengenai :

a) Susunan Organisasi

b) Permodalan

c) Kepemilikan

d) Keahlian di bidang perbankan

e) Kelayakan rencana kerja

a) Badan Hukum suatu Bank Umum dapat berupa :

(1) Perseroan Terbatas

(2) Koperasi atau

(3) Perusahaan Daerah

b) Badan hukum Bank Perkreditan Rakyat dapat berupa :

(1) Perusahaan Daerah

(2) Koperasi

(3) Perseroan Terbatas atau

(4) Bentuk lain yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah

4. Jenis Bank Menurut Target Pasar

Secara umum, jenis Bank atas dasar target pasarnya dapat digolongkan menjadi tiga :

commit to user

11 a) Retail Bank

Bank jenis ini mengfokuskan pelayanan dan transaksi kepada nasabah retail. Penngertian retail disini adalah nasabah-nasabah individual, perusahaan, dan lembaga lain yang skalanya kecil.

b) Corporate Bank

Bank jenis ini memfokuskan pelayanan dan transaksi kepada nasabah-nasabah yang berskala besar. Mengingat nasabah yang berskala besar ini biasanya berbentuk suatu korporasi, maka

Bank kelompok ini disebut corporate Bank.

c) Retail-Corporate Bank

Disamping kedua jenis Bank diatas, terdapat juga Bank yang tidak memfokuskan pada kedua pilihan jenis nasabah di atas. Bank jenis ini memberikan pelayanannya tidak hanya kepada

nasabah retail tetapi juga kepada nasabah korporasi.

a. Usaha Bank

Menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang kegiatan usaha Bank Umum yang meliputi :

1) Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa

giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, dan bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu

commit to user

12

3) Memberikan surat pengakuan utang

4) Membeli, menjual atau menjamin atas resiko sendiri maupun untuk

kepentingan dan atas perintah nasabah :

a) Surat-surat wesel

b) Surat pengakuan utang

c) Kertas Perbendaharaan Negara dan Surat Jaminan Pemerintah

d) Sertifikat Bank Indonesia

e) Obligasi

f) Surat dagang berjangka waktu sampai dengan satu tahun

g) Surat berharga lain berjangka waktu sampai dengan satu tahun

5) Memindahkan uang, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk

kepentingan nasabah.

6) Menempatkan dana pada, meminjamkan dana dari, atau

meminjamkan dana kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk atau sarna lainnya.

7) Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan

melakukan perhitungan dengan atau antar pihak ketiga.

8) Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga.

9) Melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain

berdasarkan suatu kontrak.

10) Melakukan penempatan dana bagi nasabah kepada nasabah lainnya

commit to user

13

11) Melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit, dan

kegiatan wali amanat.

12) Menyediakan pembiayaan atau melakukan kegiatan lain

berdasarkan prinsip Syariah, sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

13) Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh Bank

sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Selain melakukan kegiatan usaha sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 6, Bank Umum dapat pula:

1) Melakukan kegiatan dalam valuta asing dengan memenuhi

ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

2) Melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi

akibat kegagalan kredit atau kegagalan pembiayaan berdasarkan

Prinsip Syariah, dengan syarat harus menarik kembali

penyertaannya, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

3) Bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus dana pensiun

commit to user

14 B. Tinjauan Umum Bank Syariah

1. Definisi Bank Syariah (Bank Islam)

Definisi Bank Syariah menurut Sudarsono (2004:27), Bank Syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa lain dalam lalu-lintas pembayaran serta peredaran uang yang beroperasi dengan prinsip-prinsip Syariah. Menurut Perwaatmadja dan Antonio (2002:1-2), mendefinisikan Bank Syariah yaitu Bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip Syariah Islam yang tata cara operasinya mengacu pada Al-Qu’ran dan Hadits. Bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip Syariah Islam adalah Bank yang dalam beroperasi itu mengikuti ketentuan-ketentuan Syariah Islam. Sesuai dengan suruhan dan larangan Islam itu, maka yang dijauhi itu praktik-praktik yang mengandung unsur riba, sedangkan yang diikuti adalah praktik-praktik yang dilakukan di zaman Rasullulah SAW atau bentuk-bentuk usaha yang telah ada sebelumnya yang tidak dilarang oleh Beliau.

2. Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional

Berikut ini adalah perbedaan antara Bank Syariah dan Bank Konvensional, yang secara ringkas dapat dilihat pada Tabel 2.1, yaitu sebagai berikut :

commit to user

15 Tabel 2.1 Perbedaan Bank Syariah dan Bank Konvensional

No Perbedaan Bank Syariah Bank Konvensional

1 Falsafah Tidak berdasarkan

bunga, spekulasi, dan ketidakjelasan

Berdasarkan Bunga

2 Operasional -Dana masyarakat

berupa titipan dan

investasi yang baru

akan mendapatkan hasil jika diusahakan terlebih dahulu.

-Penyaluran pada usaha

yang halal dan

menguntungkan.

-Dana masyarakat

berupa simpanan yang harus dibayar bunganya pada saat jatuh tempo. -Penyaluran dana sector

yang menguntungkan

aspek halal tidak

menjadi pertimbangan utama.

3 Aspek Sosial Dinyatakan secara

eksplisit dan tegas yang tertuang dalam visi dan misi.

Tidak diketahui secara tegas.

4 Organisasi Harus memilki Dewan

Pengawas Syariah.

Tidak memiliki Dewan Pengawas Syariah. Sumber : Sudarsono, 2004

commit to user

16

3. Pengertian Bunga dan Riba

Bunga adalah tanggungan pada pinjaman uang, yang biasanya dinyatakan dengan prosentase dari uang yang dipinjamkan. Pendapat lain

menyatakan “interest yaitu sejumlah uang yang dibayar atau dikalkulasi

untuk penggunaan modal. Jumlah tersebut misalnya dinyatakan dengan satu tingkat atau prosentase modal yang bersangkut paut dengan itu yang dinamakan suku bunga modal.”

Pengertian Riba menurut bahasa berarti Ziyadah yaitu tambahan,

tumbuh, tinggi dan naik. Sedangkan menurut Etimologi ilmu fiqih, riba artinya yaitu : Tambahan khusus yang dimiliki salah satu dari dua pihak yang terlibat tanpa ada imbalan tertentu. (Abdullah Muslish : Fikih Ekonomi Keuangan Islam). Dalam pengertian lain, secara linguistik riba juga berarti tumbuh dan membesar. Sedangkan menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil. Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba, namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip Syariah dalam Islam.

4. Macam-Macam Riba

Ulama fiqih membagi riba menjadi dua macam, yaitu : riba fadl dan

riba an-nasi’ah. Riba fadl adalah riba yang berlaku dalam jual beli yang

didefinisikan oleh para ulama fiqih dengan “kelebihan pada salah satu harta

commit to user

17

dengan ukuran syarak adalah timbangan atau ukuran tertentu. Sedangkan

riba an-nasi’ah adalah kelebihan atas piutang yang diberikan orang yang

berhutang kepada pemilik modal ketika waktu yang disepakati jatuh tempo. Apabila waktu jatuh tempo sudah tiba, ternyata orang yang berhutang tidak sanggup membayar utang dan kelebihannya, maka waktunya bisa diperpanjang dan jumlah utang bertambah pula. (Muhammad, 2000:148)

5. Perbedaan Bunga dan Bagi Hasil

Islam mendorong praktik bagi hasil dan mengharamkan riba. Keduanya sama-sama memberikan keuntungan bagi pemilik dana, namun keduanya memiliki perbedaan yang sangat nyata. Hal ini dapat dilihat pada tabel 2.2, yaitu sebagai berikut :

Tabel 2.2 Perbedaan Bunga dan Bagi Hasil

Bunga Bagi Hasil

1. Penentuan bunga dibuat pada

waktu akad dengan asumsi usaha akan selalu menghasilkan keuntungan.

1. Penentuan besarnya rasio / nisbah

bagi hasil disepakati pada waktu akad

dengan berpedoman pada

kemungkinan untung dan rugi.

2. Besarnya presentase didasarkan

pada jumlah dana / modal yang dipinjamkan.

2. Besarnya rasio bagi hasil didasarkan

pada jumlah keuntungan yang

diperoleh.

3. Bunga dapat mengambang /

variable dan besarnya naik turun sesuai dengan naik turunnya

3. Rasio bagi hasil didasarkan pada

commit to user

18 bunga patokan atau kondisi

ekonomi.

4. Pembayaran bunga tetap seperti

yang dijanjikan tanpa

pertimbangan apakah usaha

yang dijalankan peminjam

untung atau rugi.

4. Bagi hasil bergantung pada

keuntungan usaha yang dijalankan. Bila usaha merugi, kerugian akan ditanggung bersama.

5. Jumlah pembayaran bunga tidak

meningkat sekalipun

keuntungan naik berlipat

ganda.

6. Jumlah pembagian laba meningkat

sesuai dengan peningkatan

keuntungan.

7. Eksistensi bunga diragukan

(kalau tidak dikecam) oleh semua agama.

6. Tidak ada yang meragukan

keabsahan bagi hasil.

Sumber : Ascarya, 2005 : 6

6. Prinsip-Prinsip Pembiayaan Bank Syariah

Sebagaimana Bank pada umumnya, Bank Syariah mempunyai produk-produk keuangan. Salah satu produk Bank Syariah adalah pembiayaan yang dalam terminologi umum disebut kredit. Pembiayaan merupakan penyaluran dana kepada pihak yang membutuhkan. Prinsip penyaluran dana dalam Bank Syariah terbagi menjadi empat prinsip seperti yang dikemukakan oleh Sudarsono (2004) yaitu sebagai berikut :

commit to user

19

a. Prinsip jual beli (Ba’i)

Transaksi jual beli dibedakan berdasarkan bentuk

pembayarannya dan waktu penyerahan barang. Ada tiga jenis jual beli yang dijadikan dasar dalam pembiayaan modal kerja dan investasi

dalam perbankan Syariah, yaitu ba’i al murabahah, ba’i as-salam, dan

ba’i al-istishna.

1) Ba’i al-Murabahah

Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati antara pihak bank dan nasabah. Dalam murabahah, penjual menyebutkan harga pembelian barang kepada pembeli, kemudian ia mensyaratkan atas laba dalam jumlah tertentu.

2) Ba’i as-Salam

Kata salama dengan salafa artinya sama. Disebut salam

karena pemesan barang menyerahkan uangnya di tempat akad.

Disebut salaf karena pemesan barang menyerahkan uangnya

terlebih dahulu. Definisi salam ialah akad pesanan barang yang disebutkan sifat-sifatnya, yang dalam majelis itu pemesan barang menyerahkan uang seharga barang pesanan yang barang pesanan tersebut menjadi tanggungan penerima pesanan. Menurut Sayyid

Sabiq, as-salam dinamai juga as-salaf (pendahuluan). Yaitu

penjualan sesuatu dengan kriteria tertentu (yang masih berbeda) dalam tanggungan dengan pembayaran disegerakan.

commit to user

20 3) Ba’i al-Istishna

Menurut jumhur ulama fuqaha, ba’i al-istishna merupakan

suatu jenis khusus dari ba’i as-salam. Biasanya jenis ini

dipergunakan di bidang manufaktur. Dengan demikian, ketentuan

istishna mengikuti ketentuan dan aturan akad ba’i as-salam.

Produk istishna menyerupai produk salam, namun dalam istishna pembayarannya dapat dilakukan oleh Bank dalam beberapa kali (termin) pembayaran.

b. Prinsip Sewa (Ijarah)

Ijarah adalah pemindahan hak guna atas barang dan jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan

kepemilikan (ownership/milkiyyah) atas barang itu sendiri. Dalam

konteks perbankan Syariah, ijarah adalah lease contract dimana suatu

Bank atau lembaga keuangan menyewakan peralatan (equipment)

kepada salah satu nasabahnya berdasarkan pembebanan biaya yang

sudah ditentukan secara pasti sebelumnya (fixed charger).

c. Prinsip Bagi Hasil

Produk pembiayaan Bank Syariah yang didasarkan atas prinsip

bagi hasil terdiri dari al-musyarakah dan al-mudharabah, yaitu sebagai

berikut :

1) Al-Musyarakah

Musyarakah adalah kerjasama antara kedua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak

commit to user

21 memberikan kontribusi dana dengan keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

Musyarakah ada dua jenis, yaitu musyarakah kepemilikan dan musyarakah akad (kontrak). Musyarakah kepemilikan tercipta karena dua warisan, wasiat atau kondisi lainnya yang berakibat pemilikan satu asset oleh dua orang atau lebih. Sedangkan musyarakah akad tercipta dengan kesepakatan dimana dua orang atau lebih setuju bahwa tiap orang dari mereka memberikan modal musyarakah dan berbagi keuntungan dan kerugian.

2) Al-Mudharabah

Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak

dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh modal,

sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.

d. Akad Pelengkap

Untuk mempermudah pelaksanaan pembiayaan biasanya diperlukan juga akad pelengkap. Akad pelengkap ini tidak ditujukan

commit to user

22 untuk mencari keuntungan, tetapi ditujukan untuk mempermudah pelaksanaan pembiayaan.

1) Al-Hiwalah

Hiwalah adalah memindahkan hutang dari tanggungan

orang yang berhutang (muhil) menjadi tanggungan orang yang

berkewajiban membayar hutang (muhal alaih). Dalam konsep

hukum perdata, hiwalah adalah serupa dengan lembaga

pengambilalihan utang (schuldoverneming), atau lembaga pelepasan

utang atau penjualan utang (debt sale), atau lembaga penggantian

kreditur atau penggantian debitur.

2) Ar-Rahn

Menurut bahasa rahn adalah tetap dan lestari, seperti juga

dinamai al-habsu, artinya penahan, seperti dikatakan ni’matun,

rahinah, artinya karunia yang tetap dan lestari. Teknisnya rahn

adalah menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya.

3) Al-Qard

Al-Qard adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau diminta kembali atau dengan kata lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan.

4) Al-Wakalah

Wakalah atau wikalah berarti menyerahkan, pendelegasian, atau pemberian mandat. Dalam bahasa Arab, hal ini dipahami

commit to user

23

sebagai at-taqwidh. Tetapi yang dimaksud dalam hal ini wakalah

adalah pelimpahan kekuasaan oleh seseorang sebagai pihak pertama kepada orang lain sebagai pihak kedua dalam hal-hal yang diwakilkan.

5) Al-Kafalah

Kafalah merupakan jaminan yang diberikan oleh

penanggug (kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban

pihak kedua atau yang ditanggung. Dalam pengertian lain, kafalah juga berarti mengalihkan tanggung jawab seseorang yang dijamin dengan berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai jaminan.

7. Mekanisme Perhitungan Bagi Hasil

Mekanisme perhitungan bagi hasil yang diterapkan di dalam perbankan Syariah terdiri dari dua sistem, yaitu :

a. Profit Sharing

Profit Sharing menurut etimologi Indonesia adalah bagi keuntungan. Dalam kamus ekonomi diartikan pembagian laba. Di dalam

istilah lain profit sharing adalah perhitungan bagi hasil didasarkan

kepada hasil bersih dari total pendapatan setelah dikurangi dengan biaya-biaya lain yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut. Pada perbankan Syariah istilah yang sering dipakai adalah

profit and loss sharing, dimana hal ini dapat diartikan sebagai pembagian antara untung dan rugi dari pendapatan yang diterima atas hasil usaha yang telah dilakukan.

commit to user

24

Sistem profit and loss sharing dalam pelaksanaannya

merupakan bentuk dari perjanjian kerjasama antara pemodal (investor)

dan pengelola modal (enterpreneur) dalam menjalankan kegiatan usaha

ekonomi, dimana diantara keduanya akan terikat kontrak bahwa di dalam usaha tersebut jika mendapat keuntungan akan dibagi kedua pihak sesuai nisbah kesepakatan diawal perjanjian, dan begitu pula bila usaha mengalami kerugian akan ditanggung bersama sesuai porsi masing-masing.

b. Revenue Sharing

Revenue Sharing berasal dari bahasa Inggris yang terdiri dari

dua kata yaitu, revenue yang berarti ; hasil, penghasilan, pendapatan.

Sharing adalah bentuk kata kerja dari share yang berarti bagi atau

bagian. Revenue sharing berarti pembagian hasil, penghasilan atau

pendapatan. Di dalam revenue terdapat unsur-unsur yang terdiri dari

total biaya (total cost) dan laba (profit). Laba bersih (net profit)

merupakan laba kotor (gross profit) dikurangi biaya distribusi penjualan,

administrasi dan keuangan. Berdasarkan definisi di atas dapat diambil

kesimpulan bahwa arti revenue pada prinsip ekonomi dapat diartikan

sebagai total penerimaan dari hasil usaha dalam kegiatan produksi, yang merupakan jumlah dari total pengeluaran atas barang ataupun jasa

dikalikan dengan harga barang tersebut. Yang dimaksud dengan revenue

bagi Bank adalah jumlah dari penghasilan bunga Bank yang diterima dari penyaluran dananya atau jasa atas pinjaman maupun titipan yang

commit to user

25

diberikan oleh Bank. Revenue pada perbankan Syariah adalah hasil yang

diterima oleh Bank dari penyaluran dana (investasi) ke dalam bentuk

aktiva produktif, yaitu penempatan dana Bank pada pihak lain. Hal ini merupakan selisih atau angka lebih dari aktiva produktif dengan hasil penerimaan Bank. Perbankan Syariah memperkenalkan sistem pada

masyarakat dengan istilah Revenue Sharing, yaitu sistem bagi hasil yang

dihitung dari total pendapatan pengelolaan dana tanpa dikurangi dengan

biaya pengelolaan dana. Lebih jelasnya Revenue Sharing dalam arti

perbankan adalah perhitungan bagi hasil didasarkan kepada total seluruh pendapatan yang diterima sebelum dikurangi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut. (Bakhrul Muchtasib)

commit to user

26

Dalam dokumen WURI HANDAYANI F3608114 (Halaman 24-42)

Dokumen terkait