• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan tentang Putusan Hakim a. Pengertian Putusan

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori (Halaman 27-33)

Putusan merupakan tahap akhir dari serangkaian proses pemeriksaan perkara di persidangan dinyatakan selesai.

Putusan hakim adalah suatu pernyataan yang oleh hakim, sebagai pejabat negara yang diberi wewenang untuk itu, diucapkan di persidangan dan bertujuan untuk mengakhiri atau menyelesaikan suatu perkara atau sengketa antara para pihak (Sudikno Mertokusumo, 2002:202).

Terdapat tiga jenis putusan akhir dalam Hukum Acara Perdata yaitu: putusan condemnatoir (condemnatoir vonnis/condemnatory verdict), putusan deklaratoir (declaratoir vonnis/declaratory verdict), dan putusan konstitutif (constitutief vonnis/contitutive verdict) (Sarwono, 2011:212).

1) Putusan condemnatoir (condemnatoir vonnis/condemnatory verdict)

Putusan Condemnatoir adalah putusan yang bersifat menghukum pihak yang dikalahkan dalam persidangan untuk memenuhi prestasi. Putusan ini

disebabkan adanya hubungan perikatan antara Penggugat dan Tergugat yang berasal dari perjanjian atau Undang-undang telah terjadi wanpretasi dan perkaranya diselesaikan di pengadilan. Putusan condemnatoir kekuatannya bersifat mengikat terhadap pihak yang dikalahkan dalam persidangan untuk memenuhi prestasinya dalam perjanjian yang telah disepakati. (Sarwono, 2011:212)

2) Putusan deklaratoir (declaratoir vonnis/declaratory verdict)

Putusan Deklaratoir adalah putusan yang bersifat menyatakan hukum atau menegaskan suatu keadaan hukum. Putusan ini menyatakan bahwa keadaan hukum tertentu yang dimohonkan ada atau tidak ada. Misalnya, mengenai pengangkatan anak, penegasan hak atas suatu benda, kelahiran seorang anak. Sehingga, bentuk putusan deklaratoir berupa penetapan tentang keadaan hukum. (Abdulkadir Muhammad, 2008: 165)

3) Putusan konstitutif (constitutief vonnis/contitutive verdict)

Putusan konstitutif adalah putusan yang bersifat menghentikan keadaan hukum lama atau menimbulkan keadaan hukum baru. Misalnya, putusan tentang perceraian, putusan pernyataan pailit atau putusan tidak berwenangnya pengadilan menangani suatu perkara.

(Sarwono, 2011:212)

b. Isi Putusan Hakim

Isi putusan hakim diatur dalam Pasal 178, Pasal 182 dan Pasal 183 HIR. Pasal 178 menentukan bahwa:

1) Hakim karena jabatannya waktu bermusyawarah wajib mencukupkan segala alasan hukum, yang tidak dikemukakan oleh kedua belah pihak.

2) Hakim wajib mengadili atas segala bagian gugatan.

3) Ia tidak diizinkan menjatuhkan putusan atas perkara yang tidak digugat atau memberikan lebih dari yang digugat.

Pasal 182 HIR menentukan tentang hukuman pembayaran biaya perkara, sedangkan Pasal 183 HIR mengatur tentang jumlah biaya perkara yang dibebankan kepada salah satu pihak yang disebutkan dalam putusan, termasuk jumlah biaya, kerugian dan bunga uang untuk dibayarkan kepada pihak lain.

(Sarwono, 2011:225)

Selain itu, Pasal 184 HIR juga mengatur bahwa isi putusan harus ringkas tetapi jelas mengenai apa yang digugat atau dituntut, identitas para pihak yang berperkara (nama, umur, pekerjaan, alamat, dan sebagainya).

Susunan isi putusan pengadilan antara lain:

a) Kepala Putusan

Kepala putusan berada dibagian atas putusan dengan bunyi: “Demi Keadilan berdasarkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa” (Pasal 435 Rv). Berdasarkan Pasal 224 HIR/258 Rbg, Kepala putusan memberi kekuatan eksekutorial pada putusan. Tanpa kepala putusan, hakim tidak dapat menjalankan putusan tersebut.

Apabila terdapat putusan tidak berkepala putusan, maka dilakukan pengetikkan lagi putusan itu oleh panitera yang bersangkutan dengan menambahkan Kepala Putusan, kecuali ketika membacakan putusan, Hakim mengucapkan “Demi Keadilan berdasarkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa” dan dimuat dalam berita

acara. Jika tidak mengucapkan dan tidak dimuat dalam berita acara, maka dalam SEMA 10/1985 tentang putusan pidana yang tidak memuat kepala putusan, majelis hakim atas permintaan para pihak yang berperkara membuka kembali persidangan dan mengucapkan lagi putusan secara lengkap dan membuka kembali kesempatan untuk mengajukan permohonan banding/kasasi. (Sudikno Mertokusumo, 2002:212)

b) Identitas Para Pihak

Dalam putusan harus memuat identitas diri para pihak yang berperkara (Sarwono, 2011:232), antara lain memuat:

(1) Nama (2) Umur (3) Alamat (4) Pekerjaan

(5) Nama dari kuasa hukum (jika ada) c) Pertimbangan Hakim

Pertimbangan atau considerans merupakan dasar dari sebuah putusan. Terdapat dua macam pertimbangan dalam perkara perdata, yaitu:

(1) Pertimbangan tentang duduk perkaranya (2) Pertimbangan tentang hukumnya

Isi dari pertimbangan hakim merupakan uraian dari alasan-alasan hakim. Alasan dan dasar putusan juga harus dimuat dalam pertimbangan. Pasal 184 HIR mengharuskan setiap putusan memuat ringkasan yang jelas dari tuntutan dan jawaban, alasan dan dasar daripada putusan, pasal-pasal serta hukum tidak tertulis, pokok perkara, biaya perkara serta hadir tidaknya para

pihak pada waktu putusan diucapkan oleh hakim.

Sebagai dasar putusan, gugatan dan jawaban gugatan beserta replik dan duplik juga harus dimuat dalam putusan secara ringkas (Sudikno Mertokusumo, 2002:214).

d) Amar Putusan

Amar putusan atau dictum merupakan jawaban terhadap petitum gugatan. Hakim wajib mengadili semua tuntutan atau sebagian dan dilarang menjatuhkan putusan atas perkara yang tidak dituntut, dengan kata lain mengabulkan lebih daripada yang dituntut (Pasal 178 Ayat (2) dan (3) HIR, Pasal 189 Ayat (2 dan (3) Rbg). Amar (dictum) dibagi menjadi dua, yaitu decalratif dan dictum atau dispositif. Bagian declaratif merupakan penetapan dari hubungan hukum yang menjadi sengketa. Sedangkan bagian dispositif merupakan pemberian hukum atau sanksinya, dalam bentuk: mengabulkan atau menolak gugatannya (Sudikno Mertokusumo, 2002: 216-217).

e) Tanda Tangan Hakim dan Panitera

Setiap putusan pengadilan harus ditandatangani oleh Ketua Majelis Hakim, Hakim-hakim Anggota dan Panitera. Putusan yang memuat tandatangan Majelis Hakim dan Panitera maka putusan tersebut menjadi akta autentik. Selain itu, dibawah tandatangan dicantumkan rincian biaya perkara dan jumlahnya (Sarwono, 2011:234).

b) Kerangka Pemikiran

Keterangan:

Bagan kerangka pemikiran tersebut merupakan alur pemikiran penulis dalam mengkaji permasalahan hukum berupa kekuatan alat bukti Letter C yang diajukan kedua belah pihak yang bersengketa dan pertimbangan Hakim Mahkamah Agung (MA) dalam membatalkan putusan Judex Factie, serta menemukan jawabannya.

Sengketa tanah bermula ketika Penggugat mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Sleman perihal tanah warisan dari Almh. B. Martodinomo selaku ibu dari Penggugat yang tercatat dalam Letter C Nomor 204. Kemudian, Alm. suami Tergugat meminta izin untuk menggarap tanah objek sengketa bukan untuk dimiliki. Penggugat terkejut ketika akan mendaftarkan tanah untuk

GUGATAN SENGKETA PERTANAHAN

PEMERIKSAAN DALAM PERSIDANGAN

PERTIMBANGAN HAKIM MA TERHADAP PUTUSAN

JUDEX FACTIE

PUTUSAN MA PERKARA NOMOR: 816 K/Pdt/2016 1. LETTER C

2. KETERANGAN SAKSI

KEKUATAN PEMBUKTIAN

1. UNDANG-UNDANG NO. 5 TAHUN 1960 TENTANG PERATURAN DASAR POKOK-POKOK AGRARIA

2. PP NO. 24 TAHUN 1997 TENTANG PENDAFTARAN TANAH

disertifikatkan, terdapat coretan pada Letter C 1067 dan telah beralih ke Letter C Nomor 577 atas nama tergugat. Peralihan kepemilikan tersebut telah dilakukan dengan cara melawan hukum oleh Tergugat I dengan dibantu oleh Tergugat II. Menurut ketentuan hukum yang berlaku di Daerah Istimewa Yogyakarta, UUPA baru berlaku secara efektif pada bulan September 1984, sehingga semua bentuk peralihan hak dilakukan menurut Hukum Adat dan disaksikan oleh dua orang saksi dihadapan dan ditandatangani Lurah desa setempat. Namun, ternyata peralihan tersebut tidak dilakukan dihadapan dua orang saksi dan tidak ditandatangani Lurah Desa Trihanggo, melainkan oleh Kabag Umum desa Trihanggo yang tidak memiliki wewenang dan telah menyalahi aturan Hukum Adat. Hal yang menjadi permasalahan adalah alat bukti yang diajukan oleh pihak Penggugat berupa surat Letter C. Menurut ketentuan dalam UUPA dan PP No. 24 Tahun 1997 yang dapat dijadikan sebagai alat bukti kepemilikan tanah yang sah adalah Sertifikat. Sedangkan Letter C merupakan surat tanda bukti pembayaran pajak tanah terhadap tanah milik adat.

Hakim Mahkamah Agung dalam putusan Perkara Nomor:

816 K/Pdt/2016, menjatuhkan amar putusan berupa menolak memori Kasasi yang diajukan oleh Penggugat dan memberikan pertimbangan lain bahwa pengajuan gugatan telah kadaluarsa berdasarkan ketentuan dari UU No. 5 Tahun 1960 tentang UUPA dan PP No. 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

Berdasarkan uraian tersebut, timbul permasalahan mengenai apakah masih relevan surat Letter C untuk diajukan sebagai alat bukti dalam proses pemeriksaan sengketa tanah di pengadilan dan sejauh mana kekuatan bukti dari surat Letter C itu sendiri, serta apakah pertimbangan hakim MA dalam membatalkan putusan Judex Factie sudah sesuai dengan UUPA dan PP No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori (Halaman 27-33)

Dokumen terkait