BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori 1. Tinjauan tentang Pendaftaran Tanah
a. Pengertian Pendaftaran Tanah
Pendaftaran tanah ditentukan dalam Pasal 19 UUPA. Pasal 19 Ayat (1) UUPA menyatakan bahwa yang mengadakan pendaftaran tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia adalah Pemerintah.
Pengertian pendaftaran tanah dimuat dalam Pasal 1 angka 1 Peraturan Pemerintah (selanjutnya disebut PP) No. 24 Tahun 1997 yang menyatakan bahwa:
Pendaftaran tanah adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah secara terus-menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan, dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun, termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya.
b. Asas-asas Pendaftaran Tanah
Pelaksanaan pendaftaran tanah didasarkan pada asas-asas yang diatur dalam Pasal 2 PP No. 24 Tahun 1997. Asas-asas tersebut yakni (Urip Santoso, 2013:17-18):
1) Asas sederhana
Asas ini dimaksudkan agar ketentuan-ketentuan pokoknya maupun prosedurnya dengan mudah dapat dipahami oleh pihak-pihak yang berkepentingan, terutama para pemegang hak atas tanah.
2) Asas aman
Asas ini ditujukan bahwa pendaftaran tanah perlu diselenggarakan secara teliti dan cermat sehingga hasilnya
12
dapat memberikan jaminan kepastian hukum sesuai tujuan pendaftaran tanah itu sendiri.
3) Asas terjangkau
Asas ini dimaksudkan keterjangkauan bagu pihak-pihak yang memerlukan, khususnya dengan memperhatikan kebutuhan dan kemampuan golongan ekonomi lemah. Pelayanan yang diberikan haris bisa dijangkau oleh pihak yang memerlukan.
4) Asas mutakhir
Asas ini dimaksudkan kelengkapan yang memadai dalam pelaksanaannya dan berkesinambungan dalam pemeliharaan datanya, sehingga data yang tersimpan di Kantor Pertanahan selalu sesuai dengan keadaan nyata di lapangan.
5) Asas terbuka
Masyarakat dapat mengetahui atau memperoleh keterangan mengenai data fisik dan data yuridis yang benar setiap saat di Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota.
c. Pembuktian Hak Milik dalam Pendaftaran Tanah
Berdasarkan Pasal 24 PP No. 24 Tahun 1997 dalam rangka memperoleh kebenaran data yuridis bagi hak-hak lama dan untuk keperluan pendaftaran hak dibuktikan melalui dua cara (Samun Ismaya, 2013: 107-108), yaitu:
1) Hak atas tanah yang berasal dari konversi hak-hak lama dibuktikan dengan alat-alat bukti mengenai adanya hak tersebut berupa bukti-bukti tertulis, keterangan saksi, dan atau pernyataan yang bersangkutan yang kebenarannya oleh Panitia Ajudikasi/Kepala Kantor Badan Pertanahan Nasional cukup untuk mendaftarkan hak tersebut. Bukti-bukti tersebut antara lain:
a) Grosse akta hak eigendom yang dibubuhi catatan tentang konversinya menjadi hak milik.
b) Grosse akta hak eigendom yang dibuat sejak berlakunya UUPA sampai tanggal pendaftaran tanah dilaksanakan menurut PP No. 10 Tahun 1961 di daerah yang bersangkutan.
c) Surat tanda bukti hak milik yang diterbitkan berdasarkan peraturan swapraja yang bersangkutan.
d) Sertifikat hak milik yang diterbitkan berdasarkan PMA 9/1959.
e) Surat keputusan pemberian hak (SKPH) dari pejabat yang berwenang yang disertai kewenangan untuk mendaftar, tetapi telah terpenuhi kewajiban yang harus dipenuhi.
f) Akta pemindahan hak yang dibuat di bawah tangan disertai kesaksian Kepala Adat/Kepala Desa/Kelurahan yang dibuat sebelum tanggal 8 Juli 1997.
g) Akta pemindahan hak dibawah tangan maupun yang dibuat PPAT yang tanahnya belum dibukukan atau sudah dibukukan, tetapi belum diikuti dengan pendaftarannya pada Kantor Pertanahan.
h) Akta ikrar wakaf, surat ikrar wakaf yang dibuat sebelum atau sejak dimulai berlakunya PP No. 28 tahun 1977.
i) Risalah lelang yang dibuat oleh pejabat lelang yang tanahnya belum dibukukan atau sudah dibukukan, tetapi belum didaftar pada Kantor Pertanahan.
j) Surat penunjukan atau pembelian kavling tanah sebagai pengganti tanah yang diambil Pemerintah atau Pemerintah Daerah.
k) Pethuk pajak bumi/landrente, girik/Letter C, pipil, ketitir, dan verponding Indonesia sebelum berlakunya UUPA.
l) Surat keterangan riwayat tanah yang pernah dibuat oleh Kantor Pelayanan PBB.
m) Lain-lain bentuk alat bukti tertulis dengan nama apapun sebagaimana dimaksud dalam Pasal II, Pasal VI dan Pasal VII ketentuan konversi UUPA.
2) Dalam hal tidak lagi tersedia secara lengkap alat-alat pembuktian, pembukuan hak dapat dilakukan berdasarkan kenyataan penguasaan fisik oleh pemohon pendaftaran dan pendahulu-pendahulunya dengan memenuhi syarat:
a) Penguasaan dan penggunaan tanah dilakukan secara nyata dan itikad baik selama 20 tahun atau lebih secara berurut-turut;
b) Kenyataan penguasaan dan penggunaan tanah tersebut tidak diganggu gugat dan karena itu dianggap diakui dan dibenarkan oleh masyarakat hukum adat atau desa/kelurahan yang bersangkutan;
c) Kenyataan tersebut diperkuat oleh kesaksian orang- orang yang dapat dipercaya;
d) Pihak lain telah diberi kesempayan untuk mengajukan keberatan melalui pengumuman;
e) Kebenaran-kebenaran tersebut diatas telah diteliti;
f) Kesimpulan mengenai status tanah dan pemegang haknya dituangkan dalam keputusan berupa pengakuan hak yang bersangkutan oleh Panitia Ajudikasi dalam pendaftaran tanah secara sistematik, dan oleh Kepala Kantor Pertanahan dalam pendaftaran tanah secara sporadik.
Berdasarkan penjelasan di atas, salah satu alat bukti kepemilikan tanah sebelum berlakunya UUPA berupa Pethuk pajak bumi/landrente, girik/Letter C, pipil, ketitir, dan verponding pada dasarnya bukan merupakan alat bukti kepemilikan tanah yang
sesungguhnya. Pethuk pajak bumi/landrente, girik/Letter C, pipil, ketitir, dan verponding merupakan tanda bukti pembayaran pajak tanah terhadap tanah milik adat. Diterbitkannya Letter C bertujuan untuk pemungutan pajak tanah dan pajak tersebut dikenakan pada pemilik atas nama tanah tersebut, sehingga masyarakat menganggap bahwa Letter C adalah bukti kepemilikan hak atas tanah dan sering digunakan sebagai alat bukti yang diajukan oleh pihak-pihak yang berperkara di persidangan (Sri Handayani et. al., 2015:128).
Pendaftaran tanah pertama kali merupakan mendaftarkan untuk pertama kalinya sebidang tanah yang semula belum didaftarkan menurut ketentuan pendaftaran tanah yang bersangkutan dan pemeliharaan data pendaftaran tanah untuk mendapatkan tanda bukti hak atas tanah yang berupa Sertifikat.
Sertifikat sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 19 Ayat (2) huruf c UUPA dan Pasal 1 angka 20 PP No. 24 Tahun 1997 adalah surat tanda bukti hak atas tanah, hak pengelolaan, tanah wakaf, hak milik atas satuan rumah susun dan hak tanggungan yang sudah dibukukan dalam buku tanah yang bersangkutan. Pasal 32 Ayat (1) PP No. 24 Tahun 1997 menyatakan Sertifikat merupakan tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat mengenai data fisik dan data yuridis yang termuat didalamnya, sepanjang data fisik dan data yuridis tersebut sesuai dengan data yang ada dalam surat ukur dan buku tanah hak yan bersangkutan.
Pelaksanaan konversi dilakukan dengan cara mengajukan permohonan kepada Kepala Kantor Pendaftaran Tanah setempat.
Persyaratan pendaftaran tanah adat dengan melampirkan (Samun Ismaya, 2013: 113-114):
a) Bukti kepemilikan/penguasaan tanah secara tertulis antara lain Pethuk pajak bumi/landrente, girik/Letter C, pipil,
ketitir, dan verponding Indonesia, dan lain sebagainya sebelum berlakunya UUPA
b) Bukti lain yang dilengkapi dengan pernyataan yang bersangkutan dan keterangan yang dapat dipercaya dari sekurang-kurangnya dua orang saksi dituangkan dalam bentuk surat.
c) Bukti penguasaan secara fisik atas sebidang tanah yang bersangkutan selama 20 tahun yang dituangkan dalam bentuk Surat Pernyataan. Penguasaan itu dilakukan dengan itikad baik, tidak pernah diganggu gugat dan tidak dalam sengketa.
d) Kesaksian dari Kepala Desa/Lurah/Tetua Adat.
e) Identitas Pemohon warga Negara Indonesia.
f) Bukti pelunasan SPPT PBB terakhir.
d. Sistem Publikasi Pendaftaran Tanah
Umumnya dikenal dua sistem publikasi, yaitu sistem publikasi positif dan sistem publikasi negatif. Menurut Effendi Perangin sebagaimana yang dikutip oleh Urip Santoso, sistem publikasi positif mengandung pengertian apa yang terkandung dalam buku tanah dan surat-surat tanda bukti hak yang dikeluarkan merupakan alat pembuktian yang mutlak, sehingga pihak ketiga yang bertindak atas bukti-bukti tersebut mendapat perlindungan yang mutlak meskipun kemudian hari terbukti bahwa keterangan yang tercatat didalamnya tidak benar (Urip Santoso, 2010:263).
Sedangkan sistem publikasi negatif digunakan untuk melindungi pemegang hak yang sebenarnya, sehingga pemegang hak yang sebenarnya dapat menuntut kembali haknya yang terdaftar atas nama siapapun. Sistem publikasi negatif menganggap sertifikat yang dikeluarkan merupakan tanda bukti hak atas tanah yang kuat, artinya semua keterangan yang terdapat didalamnya mempunyai kekuatan hukum dan harus diterima sebagai keterangan yang
benar, selama tidak dibuktikan sebaliknya dengan alat bukti yang lain (Urip Santoso, 2010:263).
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, Pendaftaran tanah di Indonesia menganut sistem publikasi negatif yang berunsur positif. Hal itu diperjelas pada Pasal 32 (2) PP No. 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah bahwa dalam hal suatu bidang tanah sudah diterbitkan sertifikat secara sah atas nama orang atau badan hukum yang memperoleh tanah tersebut dengan itikad baik dan secara nyata menguasainya, maka pihak lain yang merasa mempunyai hak atas tanah itu tidak dapat lagi menuntut pelaksanaan hak tersebut apabila dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diterbitkannya sertifikat itu tidak mengajukan keberatan secara tertulis kepada pemegang sertifikat dan Kepala Kantor Pertanahan yang bersangkutan ataupun tidak mengajukan gugatan ke Pengadilan mengenai penguasaan tanah atau penerbitan sertifikat tersebut. Indonesia menganut sistem publikasi negatif berunsur positif dapat dibuktikan dengan hal-hal berikut (Urip Santoso, 2010:271-272):
1) Pendaftaran tanah menghasilkan surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat, bukan sebagai alat pembuktian yang mutlak (sistem publikasi negatif).
2) Sistem pendaftaran tanah menggunakan sistem pendaftaran hak (regsitration of titles), bukan sistem pendaftaran akta (registration of deed) (sistem publikasi positif).
3) Negara tidak menjamin kebenaran data fisik dan data yuridis yang tercantum dalam sertifikat (sistem publikasi negatif).
4) Petugas pendaftaran tanah bersifat aktif meneliti kebenaran data fisik dan yuridis (sistem publikasi positif).
5) Tujuan pendaftaran tanah adalah untuk memberikan jaminan kepastian hukum (sistem publikasi positif).
6) Pihak lain yang dirugikan atas diterbitkannya sertifikat dapat mengajukan keberatan kepada yang bersangkutan atau Kepala Kantor Pertanahan yang bersangkutan untuk membatalkan sertifikat atau dapat mengajukan gugatan ke pengadilan agar sertifikat dinyatakan tidak sah dalam kurun waktu lima tahun sejak diterbitkannya sertifikat itu (sistem publikasi negatif).
2. Tinjauan tentang Sengketa Tanah a. Pengertian Sengketa
Sengketa memiliki arti sebagai suatu pertentangan atau konflik. Konflik mengindikasikan adanya posisi atau pertentangan antara orang-orang, kelompok-kelompok, atau organisasi-organisasi terhadap suatu permasalahan. Hal tersebut dikuatkan dengan pendapat Ali Ahmad mengenai sengketa. Menurut Ali Ahmad, sengketa adalah pertentangan antara dua pihak atau lebih yang berawal dari persepsi yang berbeda tentang suatu kepentingan atau hak milik yang dapat menimbulkan akibat hukum bagi keduanya (Wirahadi Prasetyono, 2013: 108). Sengketa merupakan perilaku pertentangan antara dua orang atau lebih yang dapat menimbulkan suatu akibat hukum dan karenanya dapat diberi sanksi hukum bagi salah satu diantara keduanya. Berdasarkan definisi-definisi tersebut, terdapat empat bentuk sengketa antara lain:
1) Sengketa di bidang ekonomi 2) Sengketa di bidang pajak
3) Sengketa di bidang internasional 4) Sengketa di bidang pertanahan
b. Pengertian Sengketa Tanah
Sengketa yang sering dijumpai dalam kehidupan masyarakat berkaitan dengan hal yang sangat krusial akan kepentingan haknya adalah sengketa pertanahan. Sengketa tanah merupakan konflik antara dua orang atau lebih yang sama-sama mempunyai kepentingan atas status hak objek tanah, antara satu atau beberapa objek tanah yang dapat menimbulkan akibat hukum tertentu bagi para pihak yang bersengketa. Kemudian Rusmadi Murad menyatakan bahwa:
Sengketa tanah atau sengketa hak atas tanah adalah timbulnya sengketa hukum yang bermula dari pengaduan suatu pihak (orang atau badan) yang berisi keberatan- keberatan dan tuntutan hak atas tanah, baik terhadap status tanah, prioritas, maupun kepemilikannya dengan harapan dapat memperoleh penyelesaian secara administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku (Wirahadi Prasetyono, 2013: 109).
Sengketa tanah berbeda dengan konflik tanah. Berdasarkan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) No. 11 Tahun 2016 tentang Penyelesaian Kasus Pertanahan, sengketa tanah mengandung arti perselisihan pertanahan antara orang perseorangan, badan hukum atau lembaga yang tidak berdampak luas. Sedangkan konflik pertanahan merupakan perselisihan pertanahan antara orang perseorangan, kelompok, golongan, organisasi, badan hukum atau lembaga yang mempunyai kecenderungan atau sudah berdampak luas. Sengketa pertanahan terbatas pada sengketa administratif, sengketa perdata, sengketa pidana terkait dengan kepemilikan, transaksi, pendaftaran, penjaminan, pemanfaatan, penguasaan dan sengketa hak ulayat.
(sumber:http://www.bpn.go.id/LayananPublik/Program/Penan ganan-Kasus-Pertanahan, diakses pada tanggal 19 Maret 2017 Pukul 23:08 WIB)
Sengketa tanah terjadi karena tanah memiliki kedudukan yang penting bagi orang atau pihak yang memilikinya. Hingga saat ini, masih terdapat tanah-tanah yang belum memiliki surat bukti hak atas tanah karena merupakan warisan hukum adat maupun hak-hak atas tanah menurut hukum kolonial sehingga menimbulkan permasalahan (Elza Syarief, 2012: 177).
3. Tinjauan tentang Pemeriksaan Perkara a. Penunjukan Majelis Hakim
Pasal 121 Ayat (4) HIR/ Pasal 145 Ayat (4) Rbg mengatur bahwa proses pemeriksaan perkara di persidangan diawali dengan adanya pengajuan gugatan oleh penggugat kepada Kepaniteraan Pengadilan Negeri. Penggugat juga harus melunasi biaya perkara karena apabila biaya perkara belum dilunasi, gugatan tidak akan dimasukkan ke dalam daftar.
Berdasarkan Pasal 121 Ayat (1) HIR/Pasal 145 Ayat (1) Rbg, setelah gugatan terdaftar, dikeluarkan surat penetapan penunjukan oleh Ketua Pengadilan Negeri kepada hakim yang akan melakukan pemeriksaan perkara (Sudikno Mertokusumo, 2002: 97). Hakim yang ditunjuk menentukan hari persidangan dan melakukan pemanggilan terhadap kedua belah pihak yang berperkara agar menghadap pada hari sidang yang telah ditentukan. Lamanya waktu antara pemanggilan dan hari sidang tidak kurang dari tiga hari dan tidak termasuk hari Minggu. Jadi, selambat-lambatnya tiga hari sebelum sidang di gelar, pihak-pihak yang berperkara telah menerima surat pemanggilan secara sah (Abdulkadir Muhammad, 2008: 85).
b. Tata Cara Melakukan Pemanggilan
Pemanggilan dilakukan oleh Ketua Majelis Hakim dengan memerintahkan kepada panitera untuk memanggil kedua belah pihak yang berperkara dan saksi-saksi yang
diminta untuk keperluan didengar kesaksiannya agar datang di hari sidang yang telah ditentukan, serta membawa surat-surat bukti lain yang dijadikan alat bukti di persidangan.
pemanggilan dilakukan oleh jurusita yang menyerahkan surat pemanggilan beserta salinan surat gugatan kepada Tergugat di tempat tinggalnya (Abdulkadir Muhammad, 2008:86).
Tata cara pemanggilan diatur dalam Pasal 390 HIR/718 Rbg. Pemanggilan dilakukan dengan cara jurusita bertemu dan berbicara dengan para pihak yang dipanggil di tempat kediamannya atau ditempat dia biasa berada. Apabila pihak yang dipanggil tidak diketahui alamatnya, pemanggilan harus dilakukan dengan perantara bupati/walikota yang dalam wilayah hukum penggugat bertempat tinggal. Ketika pihak yang telah dipanggil dengan patut dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, para pihak harus memenuhi panggilan tersebut. Meskipun tidak ada kewajiban bagi Tergugat untuk menghadiri persidangan, tetapi apabila Tergugat tidak menghadirinya maka akan rugi dan diberi sanksi sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam HIR atau Rbg (Abdulkadir Muhammad, 2008:88).
c. Pemeriksaan Perkara oleh Majelis Hakim
Pemeriksaan perkara di persidangan dilakukan oleh Majelis Hakim yang terdiri dari tiga orang hakim yang bertugas sebagai Hakim Ketua dan dua Hakim Anggota. Susunan mengenai Majelis Hakim dalam melakukan pemeriksaan perkara diatur dalam Pasal 11 UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. Ketika persidangan berlangsung, Majelis Hakim dibantu oleh seorang panitera atau seseorang yang ditugaskan melakukan pekerjaan panitera.
Hakim wajib menerima, memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya. Hakim dilarang menolak untuk memeriksa dan mengadili suatu perkara yang diajukan dengan alasan hukum tidak jelas atau kurang jelas, kecuali perkara yang diperiksanya mengandung kepentingannya sendiri (Sudikno Mertokusumo, 2002:108- 109). Terhadap perkara yang diajukan kepadanya pertama dengan mengkonstatir benar tidaknya peristiwa yang diajukan.
Setelah mengkontatir perkara, hakim mengkualifisir, yaitu menilai peristiwa yang telah dianggap benar terjadi berdasarkan hubungan hukumnya dan menemukan hukumnya.
Langkah terakhir, Hakim harus mengkonstituir perkara yang diajukan yaitu dengan menetapkan hukumnya kepada yang bersangkutan guna memberi keadilan (Sudikno Mertokusumo, 2002:111-112).
Persidangan dibuka oleh Hakim Ketua didampingi oleh panitera dan menyatakan bahwa sidang terbuka untuk umum seperti yang telah ditentukan dalam Pasal 13 Ayat (1) dan Ayat (2) UU No. 48 Tahun 2009 yang berbunyi: “semua sidang pemeriksaan pengadilan adalah terbuka untuk umum, kecuali Undang-undang menentukan lain.” Begitu juga dengan putusan pengadilan harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.
Apabila putusan pengadilan tidak diucapkan dalam sidang tertutup, maka putusan dinilai tidak sah dan tidak mempunyai kekuatan hukum.
Setelah persidangan dinyatakan terbuka untuk umum, kedua belah pihak yang berperkara, yaitu Penggugat dan Tergugat dipanggil untuk memasuki ruang persidangan. kedua belah pihak harus menghadiri persidangan, apabila ada salah satu pihak yang tidak menghadiri persidangan maka sidang harus ditunda. Hal ini berdasarkan pada asas auditu er alteram
partem, dimana kedua belah pihak harus didengar bersama dan diperlakukan sama. Jika ada pihak yang tidak dapat hadir, maka dapat menguasakan kepada seorang wakil secara lisan atau tertulis (Sudikno Mertokusumo, 2002:121).
Selanjutnya, hakim mengupayakan untuk adanya sebuah perdamaian antara kedua belah pihak dengan jalan mediasi.
Hakim menunjuk seorang mediator untuk memimpin jalannya mediasi. Apabila disepakati adanya perdamaian, maka dijatuhkan putusan perdamaian dan mewajibkan kedua belah pihak untuk menaati isi perdamaian yang telah disepakati.
Apabila tidak tercapai perdamaian, dilanjutkan dengan pembacaan surat gugatan oleh pihak Penggugat. Kemudian pihak Tergugat atas surat gugatan Tergugat memberikan jawabannya yang dituangkan dalam jawaban gugatan, baik secara lisan maupun tertulis. Atas jawaban gugatan yang disampaikan pihak Tergugat, Penggugat kemudian memberikan tanggapannya dalam bentuk replik dan Tergugat menanggapi replik Penggugat dalam bentuk duplik (Sudikno Mertokusumo, 2002:122). Acara pemeriksaan perkara dipersidangan dimulai dengan jawab jinawab dari kedua belah pihak. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui dan menetukan tentang pokok sengketa. Jika proses jawab menjawab antara Penggugat dan Tergugat telah dinyatakan selesai oleh Hakim, maka tahap pemeriksaan selanjutnya adalah acara pembuktian dari kedua belah pihak.
4. Tinjauan tentang Pembuktian dan Kekuatan Pembuktian a. Pengertian Pembuktian
Menurut Riduan Syahrani yang dikutip oleh Moh. Taufik Makarao, pembuktian adalah penyajian alat-alat bukti yang sah menurut hukum kepada hakim yang memeriksa suatu perkara
guna memberikan kepastian tentang kebenaran peristiwa yang dikemukakan. Artinya, penyajian alat-alat bukti tersebut guna mengungkapkan fakta-fakta dari suatu peristiwa yang menjadi objek perselisihan. Sedangkan menurut R. Subekti, membuktikan adalah upaya meyakinkan hakim tentang kebenaran dalil atau dalil-dalil yang dikemukakan dalam suatu persengketaan. Menurut Sudikno Mertokusumo yang dikutip oleh Moh. Taufik Makarao, dalam hukum acara, membuktikan mengandung arti secara yuridis. Pembuktian dalam arti yuridis sendiri hanya berlaku bagi pihak-pihak yang berperkara atau yang memperoleh hak dari mereka (Moh. Taufik Makarao, 2009:93-94).
b. Beban Pembuktian
Hukum Acara mengatur suatu hal yang sangat penting dalam hukum pembuktian, yaitu beban pembuktian. Beban pembuktian harus dilakukan dengan adil dan tidak berat sebelah.
Hakim pemeriksa perkara dalam memeriksa perkara dan menjatuhkan putusan tidak boleh memihak dan hakim harus bersikap objektif (Asas Objektivitas). Kedua belah pihak yang berperkara harus sama-sama diperhatikan, karena mempunyai hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dan masing- masing harus diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya serta didengar pendapatnya. Hal tersebut sesuai dengan asas hukum acara, yakni Asas Mendengar Kedua Belah Pihak (audi et alteram partem).
Beban pembuktian diatur dalam Pasal 163 HIR dan Pasal 1865 BW yang berbunyi:
Barang siapa yang mengaku mempunyai hak, atau menyebut suatu kejadian untuk meneguhkan haknya itu,
atau untuk membantah hak orang lain, maka orang itu harus membuktikan adanya hak itu atau adanya kejadian itu.
Artinya, setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai suatu hak atau guna meneguhkan haknya sendiri maupun membantah hak orang lain, maka ia wajib membuktikan adanya hak atau peristiwa tersebut. Sehingga dapat disimpulkan bahwa yang harus membuktikan adalah para pihak yang berperkara, baik itu Penggugat maupun Tergugat. Hal yang harus dibuktikan, antara lain pokok sengketa atas semua yang didalilkan dalam gugatan dan yang dibantah dalam jawaban gugatan. Selain itu, hal-hal yang harus dibuktikan adalah peristiwanya bukan hukumnya karena hakim dianggap telah mengetahui hukum yang akan diterapkan baik hukum yang tertulis maupun tidak tertulis yang masih hidup ditengah masyarakat. Hal-hal yang harus dibuktikan berupa peristiwa, hak atau hubungan hukumnya dan yang tidak perlu dibuktikan adalah hal-hal yang diakui dan tidak dibantah oleh Tergugat, hal-hal yang diketahui Hakim di dalam persidangan dan adanya fakta Notoir (pengetahuan umum) (Sudikno Mertokusumo, 2002:142).
Pertimbangan putusan dalam Hukum Acara Perdata tidak memerlukan adanya keyakinan hakim seperti halnya pada Hukum Acara Pidana. Hal terpenting adalah adanya alat-alat bukti yang sah dan berdasarkan alat bukti yang diajukan tersebut hakim akan mengambil keputusan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Dengan kata lain, hukum acara perdata kebenaran yang dicari hanya kebenaran formil. Proses pembuktian dalam pemeriksaan perkara perdata diajukan oleh kedua belah pihak, tetapi yang menilai pembuktian adalah Majelis Hakim.
c. Teori Kekuatan Pembuktian
Majelis Hakim dalam menilai pembuktian dapat menggunakan tiga teori (Sudikno Mertokusumo, 2002:133-134), antara lain:
1) Teori Pembuktian Bebas
Teori ini tidak menghendaki adanya ketentuan-ketentuan yang mengikat hakim, sehingga penilaian pembuktian diserahkan kepadanya.
2) Teori Pembuktian Mengikat
Hakim terikat dengan alat pembuktian yang diajukan oleh para pihak yang berperkara. Putusan yang dijatuhkan harus selaras dengan alat-alat bukti yang diajukan dalam persidangan. Teori pembuktian Mengikat kemudian dibagi menjadi:
a) Teori Pembuktian Negatif
Teori ini menyatakan harus ada ketentuan-ketentuan yang mengikat, yang bersifat negatif, yaitu bahwa ketentuan ini harus membatasi pada larangan kepada hakim untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pembuktian.
b) Teori Pembuktian Positif
Teori ini menghendaki adanya perintah kepada hakim, jadi hakim diwajibkan tetapi dengan syarat. Selain ada larangan, teori ini menghendaki adanya perintah kepada hakim untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pembuktian.
d. Alat Bukti
Alat-alat bukti yang diatur dalam Pasal 164 HIR/284 RBG/1866 KUHperdata yaitu:
a) Surat/Tulisan
b) Saksi c) Pengakuan d) Persangkaan e) Sumpah
Selain alat bukti yang diatur dalam Pasal-pasal tersebut, terdapat alat bukti lain-lain, yaitu pemeriksaan setempat.
e. Macam-macam Alat Bukti 1) Alat Bukti Surat/Tulisan
Alat bukti surat atau tulisan adalah segala sesuatu yang memuat tanda baca yang mudah dimengerti untuk mencurahkan isi hati atau menyampaikan buah pikiran seseorang dan digunakan sebagai pembuktian. Tanda-tanda bacaan yang dimaksud misalnya huruf Latin, huruf Arab, huruf Kanji, dan lain sebagainya. Artinya, segala sesuatu yang tidak memuat tanda bacaan yang susah dimengerti, tidak dapat dikatakan sebagai alat bukti surat atau tulisan.
Begitu juga dengan bentuk potret, gambar atau denah yang tidak dilengkapi dengan tanda-tanda bacaan tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti tulisan atau meskipun memuat tanda bacaan tapi tidak memuat unsur pikiran maka tidak dapat disebut sebagai alat bukti tulisan. Sehingga, apabila potret, gambar atau denah tersebut tetap diajukan dipersidangan pengadilan, maka fungsinya hanya sebagai barang untuk menambah keyakinan saja bagi hakim dalam memutus suatu perkara (Moh. Taufik Makarao, 2009: 99).
Alat bukti surat/tulisan kemudian dibagi menjadi dua macam, antara lain: Akta dan Tulisan atau surat-surat lain.
Akta adalah surat atau tulisan yang dibuat dengan sengaja untuk dijadikan bukti tentang suatu peristiwa dan
ditandatangani oleh pembuatnya. Akta kemudian dibagi menjadi dua jenis (Bachtiar Effendi, 1991:63), yaitu:
a) Akta otentik adalah surat yang dibuat oleh atau dihadapan seorang pejabat umum, yang menurut peraturan perundang-undangan yang berwenang membuat surat itu, dengan maksud untuk dipergunakan sebagai alat bukti tentang peristiwa atau peristiwa hukum yang tercantum didalamnya. Pengaturan mengenai akta otentik ditegaskan dalam Pasal 285 RBg/165 HIR/Pasal 1868-1870 KUHPerdata. Pihak yang mempunyai wewenang untuk membuat akta otentik antara lain, notaris, presiden, menteri, gubernur, bupati, camat, panitera pengadilan, pegawai pencatat perkawinan. Akta otentik dijadikan sebagai alat bukti yang lengkap dan sempurna. Kekuatan alat bukti dikatakan lengkap karena apa yang tercatat dalam akta tersebut harus dipercaya oleh Hakim sebagai sesuatu yang benar, dan dikatakan sempurna karena tidak diperlukan penambahan alat bukti lain dan apa yang tercantum dalam akta otentik tersebut sudah cukup untuk membuktikan suatu peristiwa atau hak. Akta otentik sendiri terdapat dua jenis, yaitu:
(1) Akta ambtelijk merupakan akta otentik yang dibuat oleh pejabat, misalnya berita acara pemeriksaan pengadilan yang dibuat oleh panitera, berita acara penyitaan dan pelelangan barang-barang tergugat yang dibuat oleh jurusita, berita acara pelanggaran lalulintas yang dibuat oleh polisi, dan lain sebagainya.
(2) Akta partij merupakan akta otentik yang dibuat dihadapan pejabat (notaris), misalnya akta jual beli tanah yang dibuat dihadapan camat atau
notaris selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).
b) Akta dibawah tangan merupakan akta atau surat yang dibuat oleh para pihak yang berkepentingan sendiri.
Menurut Pasal 1874 KUHPerdata, akta dibawah tangan adalah surat yang dibuat dan ditandatangani oleh pihak- pihak yang bersangkutan dengan maksud untuk dipergunakan sebagai alat bukti tentang peristiwa atau peristiwa hukum yang tercantum di dalamnya. Sebagai contoh akta dibawah tangan, yaitu surat, kuitansi, daftar, surat urusan rumah tangga, dan surat yang ditandatangani serta dibuat dengan tidak memakai bantuan pejabat umum. (M. Yahya Harahap, 2010:566).
Kekuatan pembuktian dari akta dibawah tangan tergantung pada diakui atau tidaknya akta tersebut.
Apabila diakui maka kekuatan pembuktiannya sama dengan akta otentik, yaitu kekuatan pembuktiannya sempurna. Namun, jika seseorang tidak mengakui tulisannya atau tandatangannya atau ahli warisnya atau sekalian orang yang mendapat hak darinya menjelaskan bahwa mereka tidak mengakui tulisannya atau tandatangan itu, maka kekuatan pembuktiannya bebas artinya penilaian diserahkan kepada hakim atau hakim dapat memerintahkan supaya kebenaran tulisan atau tandatangan itu diperiksa dihadapan hakim pidana sesuai dengan ketentuan Pasal 290 RBG/Pasal 3 Stbl. 1867 No.
29 (Bachtiar Effendie, 1991:65).
2) Alat Bukti Saksi
Kesaksian merupakan kepastian yang diberikan kepada Hakim di persidangan tentang peristiwa yang
disengketakan dengan jalan pemberitahuan secara lisan dan pribadi oleh orang yang bersangkutan, bukan salah satu pihak yang berperkara. Alat bukti saksi dalam perkara perdata diatur dalam Pasal 1895-1912 KUHPerdata, Pasal 168-172 HIR/306-309 RBG. Pembuktian saksi berdasarkan pada asas pembuktian, yaitu unus testis nullus testis (satu saksi bukan saksi) yang diatur dalam Pasal 1905 KUHPerdata yang artinya dalam hukum, keterangan seorang saksi saja tanpa disertai oleh alat bukti lain maka tidak dapat dijadikan alat bukti dalam persidangan atau keterangan yang diberikan tidak dapat dipercaya.
Keterangan seorang saksi dapat menjadi bukti apabila didampingi dengan alat bukti lain berupa surat, persangkaan, pengakuan atau sumpah. Selain diwajibkan disertai dengan alat bukti lain, pembuktian melalui keterangan saksi akan dianggap sempurna apabila terdapat dua orang saksi atau lebih. Selain itu, saksi dalam memberikan kesaksian harus berdasarkan pada pengetahuan saksi tentang peristiwa yang dialami, didengar dan dilihat sendiri oleh saksi. Keterangan yang diberikan saksi bukan berdasarkan pada apa yang dia dengar dari orang lain atau apa yang dia simpulkan sendiri dari pendapat orang lain (testimonium de auditu). (Sudikno Mertokusumo, 2002:162)
Pemeriksaan saksi tidak boleh dilakukan secara bersama-sama. Para saksi yang dipanggil untuk diperiksa dan memberikan keterangannya, dipanggil satu per satu sesuai Pasal 171 RBG/144 Ayat (1) HIR. Hal tersebut dimaksudkan agar para saksi yang diperiksa tidak saling menyesuaikan kesaksisan mereka satu sama lain. Syarat menjadi saksi, antara lain: dewasa, tidak memiliki
hubungan darah dengan para pihak, dan tidak memiliki hubungan kerja dengan para pihak. Selain itu, Hakim harus memperhatikan kualitas kesaksian dan kecocokan keterangan antara satu saksi dengan saksi lainnya atas perkara yang dipersengketakan sebagai dasar pertimbangan hakim. Kekuatan pembuktian dari saksi merupakan bebas.
Artinya, penilaian terhadap pembuktian saksi diserahkan kepada Hakim.
3) Alat Bukti Persangkaan
Persangkaan merupakan bukti sementara dan bersifat alat bukti tidak langsung, bukan merupakan alat bukti yang berdiri sendiri. Misalnya, membuktikan ketidakhadiran seseorang di suatu tempat tertentu, dengan membuktikan kehadirannya di tempat yang lain. Alat bukti persangkaan ditujukan untuk menarik kesimpulan dari suatu peristiwa yang sudah jelas dan terang ke arah peristiwa lain yang belum terang keadaannya. Persangkaan diatur dalam Pasal 1915 s.d 1922 KUHPerdata.
Persangkaan dibagi menjadi dua macam, yaitu persangkaan berdasarkan kenyataan dan persangkaan berdasarkan hukum. Persangkaan berdasarkan kenyataan diatur dalam Pasal 1915 KUHPerdata dan persangkaan berdasarkan hukum diatur dalam Pasal 1916 KUHPerdata.
Persangkaan berdasarkan kenyataan merupakan persangkaan hakim dimana hakim berwenang untuk memutuskan kemungkinan kenyataan tersebut. Sedangkan persangkaan berdasarkan hukum merupakan persangkaan yang didasarkan pada ketentuan khusus dalam Undang- Undang, kemudian dihubungkan dengan perbuatan-
perbuatan atau peristiwa tertentu (Moh. Taufik Makarao, 2009: 110), diantaranya:
a) Perbuatan yang oleh UU dinyatakan batal, karena dari sifat dan keadaannya dapat diduga dilakukan untuk menghindari UU
b) Dalam UU dijelaskan bahwa Hak Milik atau pembebasan Utang disimpulkan dari keadaan tertentu.
c) Kekuatan yang oleh UU diberikan kepada suatu putusan hakim yang telah memeperoleh kekuatan hukum tetap.
d) Kekuatan yang oleh UU diberikan kepada pengakuan atau sumpah salah satu pihak.
4) Alat Bukti Pengakuan
Menurut pendapat dari R. Subekti yang dikutip oleh Moh. Taufik Makarao, sebenarnya tidak tepat untuk menamakan pengakuan sebagai suatu alat bukti, karena apabila dalil-dalil yang dikemukakan oleh salah satu pihak diakui oleh pihak lain, maka pihak yang mengajukan dalil- dalil tersebut tidak perlu membuktikannya. Apabila dalil- dalil yang dipaparkan diakui kebenarannya, maka pihak yang mengajukan dalil-dalil itu dibebaskan dari pembuktian. Pengakuan dari dalil-dalil yang diajukan dapat mengindikasikan tidak adanya suatu perselisihan antara pihak-pihak yang bersengketa (Moh. Taufik Makarao, 2009:111).
Pembuktian pengakuan diatur dalam Pasal 174-176 HIR/ 311-313 RBG/1923-1928 KUHPerdata. Pengakuan dapat diberikan didalam maupun diluar persidangan baik dapat dilakukan secara lisan maupun tertulis yang tegas
dan jelas dinyatakan oleh salah satu pihak yang membenarkan baik seluruhnya atau sebagian dari suatu peristiwa, hak atau hubungan hukum yang diajukan oleh lawannya dan mengakibatkan pemeriksaan lebih lanjut oleh hakim tidak diperlukan lagi (Sudikno Mertokusumo, 2002: 173).
Pengakuan merupakan keterangan yang membenarkan terjadinya suatu peristiwa, hak atau hubungan hukum yang diajukan oleh lawan. Pengakuan yang diberikan dihadapan hakim tidak dapat ditarik kembali, kecuali dapat dibuktikan bahwa pengakuan tersebut akibat dari sebuah kekeliruan atau kekhilafan tentang suatu hal yang terjadi. Selain itu, Pasal 1926 Ayat (2) KUHPerdata mengatur bahwa pengakuan tidak dapat ditarik kembali dengan alasan seolah-olah orang yang melakukan pengakuan itu keliru tentang hukum. Terdapat dua macam pengakuan, antara lain: pengakuan yang tidak boleh dipisah-pisahkan (onsplitsbare aveu) dan pengakuan diluar persidangan.
(1) Pengakuan yang Tidak Boleh Dipisah-pisahkan (onsplitsbare aveu)
Pasal 176 HIR/313RBG/1924 KUHPerdata menyatakan bahwa:
Tiap pengakuan harus diterima dan hakim tidak bebas untuk menerima sebagian dan menolak selebihnya, sehingga merugikan yang memberikan pengakuan. Hal tersebut dapat dilakukan kalau orang yang berhutang dengan maksud untuk membebaskan dirinya, menyebutkan peristiwa yang terbukti tidak benar.
Artinya, pengakuan itu harus diterima secara bulat, hakim tidak diperbolehkan untuk memilah atau memisah-misah pengakuan itu dan menerima
sebagian dari pengakuan sehingga tidak perlu lagi dibuktikan dan menolak sebagian lain yang masih perlu dibuktikan lebih lanjut. Pengakuan jenis ini membagi pengakuan menjadi tiga jenis, yaiu:
i) Pengakuan murni (aveu pure et-simple), yaitu pengakuan yang sifatnya sederhana dan sesuai sepenuhnya dengan tuntutan pihak lawan.
ii) Pengakuan dengan kualifikasi (aveu qualifie), yaitu pengakuan yang disertai dengan sangkalan terhadap sebagian dari tuntutan.
iii) Pengakuan dengan klausula (aveu complexe), yaitu pengakuan yang disertai dengan keterangan tambahan yang bersifat membebaskan.
Berdasarkan ketiga jenis tersebut, baik pengakuan dengan kualifikasi dan pengakuan klausula harus diterima dengan bulat dan tidak boleh dipisah- pisahkan dari keterangan tambahannya. Sehingga, disebutlah pengakuan yang tidak boleh dipisah- pisahkan sebagaimana diatur dalam Pasal 176 HIR/313 RBG/1924 KUHPerdata (Sudikno Mertokusumo, 2002: 175-176).
(2) Pengakuan di Luar Persidangan
Pengakuan di luar persidangan merupakan keterangan yang diberikan oleh salah satu pihak dalam suatu perkara perdata di luar persidangan untuk membenarkan pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh lawannya. Pasal 175HIR/312RBG/1927-1928 KUHPerdata mengatur bahwa kekuatan pembuktian dari pengakuan lisan di luar persidangan diserahkan kepada pertimbangan hakim dan pengakuan lisan diluar persidangan tidak dapat digunakan selain dalam
hal-hal yang diizinkan membuktikan dengan saksi.
Selain itu, pengakuan di luar persidangan dapat ditarik kembali.
5) Alat Bukti Sumpah
Sumpah merupakan suatu pernyataan yang khidmat yang diberikan atau diucapkan pada waktu memberi janji atau keterangan dengan mengingat akan sifat yang mahakuasa dari Tuhan dan mempercayai bahwa siapapun yang memberikan keterangan atau janji yang tidak benar akan mendapatkan hukuman dari-Nya. Alat bukti sumpah dibagi menjadi dua macam (Sudikno Mertokusumo, 2002:
179-182), antara lain:
(1) Sumpah promissoir, ialah sumpah untuk berjanji melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
(2) Sumpah confirmatoir, ialah sumpah untuk memberikan keterangan bahwa sesuatu itu benar atau tidak benar. Sumpah confirmatoir dibagi menjadi dua jenis: sumpah suppletoir dan sumpah decicoir.
(i) Sumpah suppletoir adalah sumpah yang diperintahkan oleh hakim karena jabatannya kepada salah satu pihak untuk melengkapi pembuktian peristiwa yang menjadi sengketa sebagai dasar putusannya. Sumpah suppletoir berfungsi menyelesaikan masalah maka mempunyai kekuatan pembuktian sempurna, yang masih memungkinkan adanya bukti lawan.
(ii) Sumpah decisoir adalah sumpah yang dibebankan atas permintaan salah satu pihak kepada lawannya. Hal itu diatur dalam Pasal
1930 KUHPerdata. Sumpah ini dapat dibebankan atau diperintahkan meskipun tidak ada pembuktian sama sekali, sehingga pembebanan sumpah decisoir dapat dilakukan pada setiap saat selama pemeriksaan di persidangan.
6) Pemeriksaan Setempat
Pemeriksaan setempat merupakan kegiatan memeriksa barang tetap oleh hakim untuk mendapatkan kepastian dan tidak hanya menggantungkan pada keterangan saksi atau surat, sehingga persidangan dipindahkan ke tempat barang tetap tersebut untuk mengadakan pemeriksaan setempat, biasanya berkaitan dengan letak gedung atau batas tanah. Pemeriksaan ini diatur dalam Pasal 153 HIR yang menyatakan bahwa apabila ketua menganggap perlu dapat mengangkat seorang atau dua orang komisaris dari majelis, yang dengan bantuan panitera pengadilan akan melihat keadaan setempat dan melakukan pemeriksaan (plaatselijke opneming en onderzoek), yang dapat memberikan keterangan kepada hakim. Pemeriksaan setempat ini pada prakteknya dilakukan sendiri oleh Hakim Ketua persidangan (Sudikno Mertokusumo, 2002: 187).
Menurut Sudikno Mertokusumo, tujuan dari diadakannya pemeriksaan setempat adalah agar hakim memperoleh kepastian tentang peristiwa yang menjadi sengketa, maka fungsi dari pemeriksaan setempat pada hakikatnya adalah sebagai alat bukti dan kekuatan pembuktiannya diserahkan kepada pertimbangan hakim (Sudikno Mertokusumo, 2002: 187).
7) Keterangan Ahli
Keterangan ahli adalah keterangan dari pihak ketiga untuk memperoleh kejelasan bagi hakim dari suatu peristiwa yang disengketakan, selain dari keterangan saksi.
Hakim menggunakan keterangan ahli agar memperoleh keterangan atau pengetahuan yang lebih mendalam tentang suatu peristiwa, hak atau hubungan hukum yang hanya dimiliki oleh ahli tertentu. Keterangan ahli dalam perkara perdata diatur dalam Pasal 154 HIR/181 RBG/
215 RV.
5. Tinjauan tentang Putusan Hakim a. Pengertian Putusan
Putusan merupakan tahap akhir dari serangkaian proses pemeriksaan perkara di persidangan dinyatakan selesai.
Putusan hakim adalah suatu pernyataan yang oleh hakim, sebagai pejabat negara yang diberi wewenang untuk itu, diucapkan di persidangan dan bertujuan untuk mengakhiri atau menyelesaikan suatu perkara atau sengketa antara para pihak (Sudikno Mertokusumo, 2002:202).
Terdapat tiga jenis putusan akhir dalam Hukum Acara Perdata yaitu: putusan condemnatoir (condemnatoir vonnis/condemnatory verdict), putusan deklaratoir (declaratoir vonnis/declaratory verdict), dan putusan konstitutif (constitutief vonnis/contitutive verdict) (Sarwono, 2011:212).
1) Putusan condemnatoir (condemnatoir vonnis/condemnatory verdict)
Putusan Condemnatoir adalah putusan yang bersifat menghukum pihak yang dikalahkan dalam persidangan untuk memenuhi prestasi. Putusan ini
disebabkan adanya hubungan perikatan antara Penggugat dan Tergugat yang berasal dari perjanjian atau Undang-undang telah terjadi wanpretasi dan perkaranya diselesaikan di pengadilan. Putusan condemnatoir kekuatannya bersifat mengikat terhadap pihak yang dikalahkan dalam persidangan untuk memenuhi prestasinya dalam perjanjian yang telah disepakati. (Sarwono, 2011:212)
2) Putusan deklaratoir (declaratoir vonnis/declaratory verdict)
Putusan Deklaratoir adalah putusan yang bersifat menyatakan hukum atau menegaskan suatu keadaan hukum. Putusan ini menyatakan bahwa keadaan hukum tertentu yang dimohonkan ada atau tidak ada. Misalnya, mengenai pengangkatan anak, penegasan hak atas suatu benda, kelahiran seorang anak. Sehingga, bentuk putusan deklaratoir berupa penetapan tentang keadaan hukum. (Abdulkadir Muhammad, 2008: 165)
3) Putusan konstitutif (constitutief vonnis/contitutive verdict)
Putusan konstitutif adalah putusan yang bersifat menghentikan keadaan hukum lama atau menimbulkan keadaan hukum baru. Misalnya, putusan tentang perceraian, putusan pernyataan pailit atau putusan tidak berwenangnya pengadilan menangani suatu perkara.
(Sarwono, 2011:212)
b. Isi Putusan Hakim
Isi putusan hakim diatur dalam Pasal 178, Pasal 182 dan Pasal 183 HIR. Pasal 178 menentukan bahwa:
1) Hakim karena jabatannya waktu bermusyawarah wajib mencukupkan segala alasan hukum, yang tidak dikemukakan oleh kedua belah pihak.
2) Hakim wajib mengadili atas segala bagian gugatan.
3) Ia tidak diizinkan menjatuhkan putusan atas perkara yang tidak digugat atau memberikan lebih dari yang digugat.
Pasal 182 HIR menentukan tentang hukuman pembayaran biaya perkara, sedangkan Pasal 183 HIR mengatur tentang jumlah biaya perkara yang dibebankan kepada salah satu pihak yang disebutkan dalam putusan, termasuk jumlah biaya, kerugian dan bunga uang untuk dibayarkan kepada pihak lain.
(Sarwono, 2011:225)
Selain itu, Pasal 184 HIR juga mengatur bahwa isi putusan harus ringkas tetapi jelas mengenai apa yang digugat atau dituntut, identitas para pihak yang berperkara (nama, umur, pekerjaan, alamat, dan sebagainya).
Susunan isi putusan pengadilan antara lain:
a) Kepala Putusan
Kepala putusan berada dibagian atas putusan dengan bunyi: “Demi Keadilan berdasarkan ke- Tuhanan Yang Maha Esa” (Pasal 435 Rv). Berdasarkan Pasal 224 HIR/258 Rbg, Kepala putusan memberi kekuatan eksekutorial pada putusan. Tanpa kepala putusan, hakim tidak dapat menjalankan putusan tersebut.
Apabila terdapat putusan tidak berkepala putusan, maka dilakukan pengetikkan lagi putusan itu oleh panitera yang bersangkutan dengan menambahkan Kepala Putusan, kecuali ketika membacakan putusan, Hakim mengucapkan “Demi Keadilan berdasarkan ke- Tuhanan Yang Maha Esa” dan dimuat dalam berita
acara. Jika tidak mengucapkan dan tidak dimuat dalam berita acara, maka dalam SEMA 10/1985 tentang putusan pidana yang tidak memuat kepala putusan, majelis hakim atas permintaan para pihak yang berperkara membuka kembali persidangan dan mengucapkan lagi putusan secara lengkap dan membuka kembali kesempatan untuk mengajukan permohonan banding/kasasi. (Sudikno Mertokusumo, 2002:212)
b) Identitas Para Pihak
Dalam putusan harus memuat identitas diri para pihak yang berperkara (Sarwono, 2011:232), antara lain memuat:
(1) Nama (2) Umur (3) Alamat (4) Pekerjaan
(5) Nama dari kuasa hukum (jika ada) c) Pertimbangan Hakim
Pertimbangan atau considerans merupakan dasar dari sebuah putusan. Terdapat dua macam pertimbangan dalam perkara perdata, yaitu:
(1) Pertimbangan tentang duduk perkaranya (2) Pertimbangan tentang hukumnya
Isi dari pertimbangan hakim merupakan uraian dari alasan-alasan hakim. Alasan dan dasar putusan juga harus dimuat dalam pertimbangan. Pasal 184 HIR mengharuskan setiap putusan memuat ringkasan yang jelas dari tuntutan dan jawaban, alasan dan dasar daripada putusan, pasal-pasal serta hukum tidak tertulis, pokok perkara, biaya perkara serta hadir tidaknya para
pihak pada waktu putusan diucapkan oleh hakim.
Sebagai dasar putusan, gugatan dan jawaban gugatan beserta replik dan duplik juga harus dimuat dalam putusan secara ringkas (Sudikno Mertokusumo, 2002:214).
d) Amar Putusan
Amar putusan atau dictum merupakan jawaban terhadap petitum gugatan. Hakim wajib mengadili semua tuntutan atau sebagian dan dilarang menjatuhkan putusan atas perkara yang tidak dituntut, dengan kata lain mengabulkan lebih daripada yang dituntut (Pasal 178 Ayat (2) dan (3) HIR, Pasal 189 Ayat (2 dan (3) Rbg). Amar (dictum) dibagi menjadi dua, yaitu decalratif dan dictum atau dispositif. Bagian declaratif merupakan penetapan dari hubungan hukum yang menjadi sengketa. Sedangkan bagian dispositif merupakan pemberian hukum atau sanksinya, dalam bentuk: mengabulkan atau menolak gugatannya (Sudikno Mertokusumo, 2002: 216-217).
e) Tanda Tangan Hakim dan Panitera
Setiap putusan pengadilan harus ditandatangani oleh Ketua Majelis Hakim, Hakim-hakim Anggota dan Panitera. Putusan yang memuat tandatangan Majelis Hakim dan Panitera maka putusan tersebut menjadi akta autentik. Selain itu, dibawah tandatangan dicantumkan rincian biaya perkara dan jumlahnya (Sarwono, 2011:234).
b) Kerangka Pemikiran
Keterangan:
Bagan kerangka pemikiran tersebut merupakan alur pemikiran penulis dalam mengkaji permasalahan hukum berupa kekuatan alat bukti Letter C yang diajukan kedua belah pihak yang bersengketa dan pertimbangan Hakim Mahkamah Agung (MA) dalam membatalkan putusan Judex Factie, serta menemukan jawabannya.
Sengketa tanah bermula ketika Penggugat mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Sleman perihal tanah warisan dari Almh. B. Martodinomo selaku ibu dari Penggugat yang tercatat dalam Letter C Nomor 204. Kemudian, Alm. suami Tergugat meminta izin untuk menggarap tanah objek sengketa bukan untuk dimiliki. Penggugat terkejut ketika akan mendaftarkan tanah untuk
GUGATAN SENGKETA PERTANAHAN
PEMERIKSAAN DALAM PERSIDANGAN
PERTIMBANGAN HAKIM MA TERHADAP PUTUSAN
JUDEX FACTIE
PUTUSAN MA PERKARA NOMOR: 816 K/Pdt/2016 1. LETTER C
2. KETERANGAN SAKSI
KEKUATAN PEMBUKTIAN
1. UNDANG-UNDANG NO. 5 TAHUN 1960 TENTANG PERATURAN DASAR POKOK-POKOK AGRARIA
2. PP NO. 24 TAHUN 1997 TENTANG PENDAFTARAN TANAH
disertifikatkan, terdapat coretan pada Letter C 1067 dan telah beralih ke Letter C Nomor 577 atas nama tergugat. Peralihan kepemilikan tersebut telah dilakukan dengan cara melawan hukum oleh Tergugat I dengan dibantu oleh Tergugat II. Menurut ketentuan hukum yang berlaku di Daerah Istimewa Yogyakarta, UUPA baru berlaku secara efektif pada bulan September 1984, sehingga semua bentuk peralihan hak dilakukan menurut Hukum Adat dan disaksikan oleh dua orang saksi dihadapan dan ditandatangani Lurah desa setempat. Namun, ternyata peralihan tersebut tidak dilakukan dihadapan dua orang saksi dan tidak ditandatangani Lurah Desa Trihanggo, melainkan oleh Kabag Umum desa Trihanggo yang tidak memiliki wewenang dan telah menyalahi aturan Hukum Adat. Hal yang menjadi permasalahan adalah alat bukti yang diajukan oleh pihak Penggugat berupa surat Letter C. Menurut ketentuan dalam UUPA dan PP No. 24 Tahun 1997 yang dapat dijadikan sebagai alat bukti kepemilikan tanah yang sah adalah Sertifikat. Sedangkan Letter C merupakan surat tanda bukti pembayaran pajak tanah terhadap tanah milik adat.
Hakim Mahkamah Agung dalam putusan Perkara Nomor:
816 K/Pdt/2016, menjatuhkan amar putusan berupa menolak memori Kasasi yang diajukan oleh Penggugat dan memberikan pertimbangan lain bahwa pengajuan gugatan telah kadaluarsa berdasarkan ketentuan dari UU No. 5 Tahun 1960 tentang UUPA dan PP No. 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
Berdasarkan uraian tersebut, timbul permasalahan mengenai apakah masih relevan surat Letter C untuk diajukan sebagai alat bukti dalam proses pemeriksaan sengketa tanah di pengadilan dan sejauh mana kekuatan bukti dari surat Letter C itu sendiri, serta apakah pertimbangan hakim MA dalam membatalkan putusan Judex Factie sudah sesuai dengan UUPA dan PP No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.