DALAM NATONI PERKAWINAN DI GMIT
4.1Makna bahasa gambaran dalam natoni perkawinan
Tonis merupakan syair-syair indah masyarakat Timor Tengah Selatan, NTT terkhususnya Suku Amanuban. Maksud hati kedua keluarga diungkapkan melalui berbagai simbol benda budaya maupun bahasa gambaran yang diungkapkan dengan syair-syair berbalasan sehingga mereka bersatu dalam satu tujuan yaitu kesejahteraan pasangan nikah dan persaudaraan kedua keluarga. Inilah yang diungkapkan oleh Budiono Herusatoto bahwa manusia berpikir, berperasaan dan bersikap dengan ungkapan-ungkapan yang simbolis.102 Dengan demikian,
99
AT dan NT…, 17 April 2015, pukul. 18.00 WITA. 100TK…, 15 April 2015, pukul 18.00 WITA. 101
AT dan NT…, 17 April 2015, pukul. 18.00 WITA. 102
25
masyarakat Suku Amanuban juga adalah animal symbolicum seperti yang diungkapkan oleh Ernst Cassier karena mereka menggunakan simbol kebahasaan dalam memberi arti dan mengisi kehidupannya.103 Dalam natoni, simbol kebahasaan itu dituangkan melalui bahasa gambaran, sikap tubuh serta benda-benda budaya. Berdasarkan penelitian, para penutur tidak menciptakan simbol benda-benda budaya seperti seperti oko mama (tempat sirih pinang), noin muti (uang perak), puah manus (sirih pinang), dsb, karena benda-benda budaya tersebut telah tersedia turun temurun sebagai peninggalan bersejarah dan wujud penghargaan adat. Hal ini sesuai dengan pendapat Carey bahwa simbol-simbol sudah tersedia turun temurun sesuai tradisi.104 Menurut Palczewski, simbol-simbol itu mewakili dunia tempat hidup.105 Dengan demikian, simbol-simbol yang tertuang melalui bahasa gambaran seperti sirih pinang, bunga, jeruk, limau, kelelawar, kuda, babi, ketupat, pagar, tangga, semak-semak, dsb, dipilih dari tempat tinggal mereka agar bahasa-bahasa gambaran itu lebih dekat dengan kehidupan mereka sebagai seorang petani dan peternak serta dapat mencerminkan identitas mereka.
Sebuah simbol adalah „sesuatu‟ yang terdiri atas „sesuatu‟ yang lain.106
Begitu pula dengan simbol-simbol benda budaya dan bahasa gambaran dalam natoni perkawinan di Suku Amanuban. Melalui benda-benda budaya dan bahasa gambaran tersebut, Suku Amanuban ingin menyatakan gambaran ideal perempuan dan laki-laki sebagai suami dan istri. Bahasa gambaran memiliki makna yang mewakili entitas yang lebih besar dan semantik berperan untuk menelaah makna bahasa gambaran.107 Setiap makna bahasa gambaran itu ditafsirkan sesuai dengan tradisi yang sudah melekat dalam kebudayaan Timor secara khusus Suku Amanuban.108 Menurut Susanne Langer, simbol bekerja untuk menghubungkan makna denotatif dan makna konotatif.109 Makna denotatif merupakan makna yang disepakati bersama sedangkan makna konotatif merupakan tafsiran kita sendiri. Makna denotatif bahasa gambaran natoni adalah makna yang lahir atas kesepakatan masyarakat pada umumnya sedangkan makna konotatif merupakan makna yang disepakati bersama oleh para peserta natoni. Contohnya, “bunga yang indah” memiliki
makna konotatif perempuan cantik menurut para peserta natoni dan makna denotatif sebagai
103
Aminuddin, Semantik (Pendekatan Studi Tentang Makna)…, 15. 104
Petrus Ana Andung, “Komunikasi Ritual Natoni…”: 39. 105
Alo Liliweri, Pengantar Studi Kebudayaan..., 296. 106
Alo Liliweri, Komunikasi: Serba Ada Serba Makna…, 350. 107
Aminuddin, Semantik (Pendekatan Studi Tentang Makna)…., 113.
108
Aminuddin, Semantik (Pendekatan Studi Tentang Makna)…, 15.
109
bunga sebenarnya yang berwarna cerah dan bentuknya bagus menurut pandangan masyarakat pada umumnya. Hal ini terjadi karena makna konotatif bahasa gambaran itu merupakan bentuk yang khas karena hubungan maknanya melampaui hubungan khusus yang telah disepakati
bersama dalam kehidupan sehari-hari.110 Makna-makna bahasa gambaran mengungkapkan
entitas yang lebih besar dalam kehidupan masyarakat Suku Amanuban.
Dalam setiap tahap perkawinan Suku Amanuban, para penutur selalu mengucapkan “ya
surya yang menyala dan membara.” Kalimat bahasa gambaran ini menunjukkan kepada
kepercayaan asli orang Timor yang berpusat pada Uis Neno Mnanu sebagai Raja Langit yang tinggi yang salah satu gelarnya adalah apinat ma aklahat (yang menyala dan membara).111 Sebelum injil masuk ke daratan Timor, istilah Uis Neno Mnanu (Raja Langit) merupakan sebutan untuk Allah orang Timor dan setelah injil masuk maka sebutan Allah itu semakin kuat.112 Hal ini membuktikan bahwa keluarga yang melaksanakan perkawinan adalah keluarga beragama sehingga segala yang terjadi harus berdasarkan tuntunan Tuhan. Pernyataan ini merupakan wujud peranan simbol dalam religi dan upacara adat yang diungkapkan melalui bahasa gambaran dalam upacara natoni.113 Bahasa gambaran tonis “menaiki pagar dan turun melalui tangga” serta
“duduk bersila apik” juga membuktikan bahwa keluarga memiliki etika sopan santun serta
“membersihkan semak-semak” yang membuktikan bahwa mereka memohon pengampunan dan
telah mengampuni kesalahan masing-masing. Sikap rendah hati keluarga digambarkan dalam
bahasa gambaran “merangkak dan bersimpuh datang” serta “hamba” bahkan berperan sebagai
“kurir.” Identitas masyarakat Suku Amanuban telah nyata dalam bahasa gambaran natoni
perkawinan yaitu masyarakat yang beragama, beretika dan rendah hati.
Cerminan laki-laki dan perempuan juga tergambar jelas melalui bahasa gambaran tonis di tiap tahap perkawinan. Seorang laki-laki tidak hanya menyanjung perempuan dengan sebutan
110
Aminuddin, Semantik (Pendekatan Studi Tentang Makna)…, 113.
111 E. Erlin Naisanu “(Skripsi) Kaus Nono (Suatu Tinjauan Sosio-Teologis tentang Marga dalam Ritus
Kaus Nono di Timor Tengah Selatan)” (Salatiga: UKSW, 2012), 25. Uis Neno Mnanu merupakan sebutan bagi Tuhan Yang Maha Esa oleh orang Timor termasuk Suku Amanuban.
112
Middelkoop, Atoni Pah Meto (Pertemuan Injil dan Kebudayaan di Kalangan Suku Timor Asli)…, 116 -119. Setelah injil masuk ke daratan Timor, banyak orang menjadi percaya dan sebutan Uis Neno yang ditujukan kepada Allah semakin kuat. Jadi, nama Tuhan Yang Maha Esa dalam bahasa orang Timor adalah Uis Neno. Bahkan dalam gereja pun, pada saat melaksanakan ibadah dengan bahasa daerah, maka Tuhan disebut dengan Uis Neno. Hal ini dipertegas dengan semua narasumber penulis yang beragama Kristen dan mayoritas agama di Suku Amanuban adalah Kristen Protestan.
113
27
“jeruk dan limau yang manis” atau “bunga yang indah” tetapi ia juga harus beretika seperti
bahasa gambaran “menaiki pagar dan turun melalui tangga” serta penuh kesabaran seperti bahasa
gambaran “eraman telur atau menajamkan pedang.” Ia juga harus hidup rukun bagai merpati
serta tidak tergiur dengan hal-hal yang lebih indah seperti burung nuri serta menjaga dan
menafkahi keluarga barunya seperti bahasa gambaran “menyiram dan memupuk jeruk dan
limau.” Laki-laki dan perempuan harus setia seperti bahasa gambaran “tidak membiarkan
kelelawar malam menyentuh dan unggas siang mendekati.” Ia juga harus menjamin kebutuhan moril dan materi mertuanya sesuai adat yang berlaku seperti bahasa gambaran “ketupat dan babi
panggang” serta “pinang dan sirih muda yang memiliki ranting, batang dan pokok.” Tidak hanya
laki-laki yang menyanjung perempuan, tetapi perempuan pun menyanjung laki-laki atas usahanya seperti orang arif dan bijak penata pinang dan sirih muda. Perempuan yang telah siap berkeluarga (sirih matang) harus dapat hidup mandiri dan pandai mengatur rumah tangga. Orang tua perempuan akan mengantarkan segala keperluan anak mereka agar dapat dikembangkannya serta meminta perhatian, kasih sayang, bimbingan dan nasihat dari orang tua laki-laki jika pasangan nikah mengalami keributan dan rumah tangga.
Budiono Herusatoto mengatakan bahwa simbol yang dituangkan dalam bahasa meliputi kata, tarian dan gambar isyarat tetapi setelah melakukan penelitian, penulis menemukan bahwa bahasa juga dituangkan dalam benda-benda budaya Suku Amanuban.114 Benda-benda budaya tersebut mencerminkan gambaran ideal laki-laki dan perempuan. Pemberian benda budaya dari laki-laki kepada perempuan menjadi bukti perbuatannya kelak dalam rumah tangga yang baru, yaitu ia akan bertanggung jawab untuk menjaga dan mengayomi istrinya, terikat dan bergantung pada istri, mendengar saran istri, setia dalam susah maupun senang, perhatian, setia, menciptakan komunikasi yang baik, respek serta hidup rukun dengan semua keluarga. Sedangkan pemberian benda budaya dari perempuan kepada laki-laki menyatakan penghargaan kepada suami dan akan melayaninya lahir dan batin, keterikatan kepada suami, setia, dapat mengelola keuangan rumah tangga dan bekerja serta terikat pada suami. Adapun benda-benda budaya lain seperti oko mama
(tempat sirih pinang) yang melambangkan persaudaraan, penghargaan dan penghormatan; noin muti (uang perak) yang melambangkan harapan dan kemurnian hati; dan puah manus (sirih
114
pinang) yang melambangkan persatuan dan kesatuan segenap keluarga, menjadi identitas masyarakat Timor terkhususnya Suku Amanuban yang menyelenggarakan perkawinan.
Jadi, bahasa gambaran dalam natoni perkawinan merupakan bahasa simbolik yang memiliki makna tertentu untuk menyatakan gambaran ideal masyarakat Timor yang dalam hal ini adalah Suku Amanuban. Bahasa gambaran tersebut diperoleh dari tradisi di Timor yang selalu menyelenggarakan upacara dalam bentuk tuturan kiasan adat yang disebut natoni. Bahasa gambaran yang menyatakan gambaran ideal masyarakat ini telah menjadi identitas mereka dan perlu dikembangkan karena bahasa gambaran natoni pun mengandung unsur sakral. Selain berperan dalam upacara adat dan ilmu pengetahun, bahasa simbolik ini pun berperan dalam religi untuk menyatakan kasih kepada Sang Pencipta. Maka sudah semestinya bahasa gambaran sebagai bahasa simbolik dalam upacara perkawinan harus mengandung nilai-nilai sebagai wujud kecintaannya kepada Sang Pencipta.
4.2Tinjauan Sosio – Teologis Tentang Makna Bahasa Gambaran Dalam Natoni Perkawinan di GMIT
Menurut Abineno, perkawinan Kristen bukan hanya persekutuan hidup tetapi juga persekutuan percaya.115 Inilah yang dibuktikan oleh masyarakat Suku Amanuban melalui bahasa gambaran yang melibatkan Tuhan (yang bercahaya, yang membara). Mereka meyakini bahwa upacara perkawinan terjadi atas dasar rancangan atau inisiatif Allah (Kejadian 2:18).116 Laki-laki dan perempuan yang bersatu adalah atas inisiatif Allah yang telah menjadikan perempuan sebagai penolong bagi laki-laki. Melalui bahasa gambaran natoni perkawinan, pasangan nikah dan kedua keluarga tidak hanya bersatu dalam kesejahteraan dan persaudaraan sebagai komunitas terkecil dalam masyarakat tetapi juga bersatu dalam satu kepercayaan bahwa Tuhan berinisiatif dan menyatu dalam kehidupan keluarga baru mereka. Bahasa gambaran “daunku jatuh bertempat atau tidak” yang dipertanyakan pada awal tahap perkawinan oleh laki-laki merupakan bukti bahwa daun yang melambangkan cinta adalah dasar yang penting dari hubungan mereka yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh Tuhan. Cinta itu harus hadir dalam hubungan mereka terlebih dahulu sehingga perkawinan dapat dilaksanakan.
115
J.L.Ch Abineno, Perkawinan: persiapan, persoalan-persoalan dan pembinaannya…, 14-15. 116
29
Berdasarkan Kejadian 2:24 seorang laki-laki harus meninggalkan orang tua dan bersatu dengan istrinya dan hidup mandiri.117 Dengan demikian, suami atau istri adalah orang terdekat dan terakrab dalam keluarga barunya. Namun tidak berarti bahwa mereka sepenuhnya melepas
perhatian mereka kepada orang tua. Berdasarkan bahasa gambaran “ketupat dan babi panggang
yang disediakan”, suami harus memperhatikan mertua secara moril dan materi menurut adat.
Menjadi satu daging dan mandiri berarti tidak bergantung sepenuhnya dengan orang tua tetapi sabagai wujud penghormatan kepada orang tua maka seorang anak wajib memperhatikan kehidupan orang tua dengan batasan tertentu, yaitu tidak ikut campur sepenuhnya. Itulah wujud kasih sayang seorang anak atau menantu yang telah bersatu dengan istrinya atau suaminya serta keluarganya karena mereka memiliki sanjungan, panutan dan tradisi yang digambarkan dengan
kalimat “pinang dan sirih muda yang memiliki ranting dan batang serta pokok”. Begitu pula
dengan sang istri yang harus mendengar bimbingan dan nasihat keluarga suaminya, namun ia
tetap terikat dan bergantung dengan suaminya. Melalui bahasa gambaran “piring berbunyi
tersentuh sendok didengar telinga kita berdua” orang tua juga memiliki tanggung jawab untuk
memberi nasihat dan doa kepada kedua mempelai jika mengalami masalah dalam rumah tangga
mereka. Meskipun “penambat atau tali di pundak dan leher telah dilepas” yang berarti orang tua
telah melepas keterikatan perempuan kepada mereka tetapi keduanya tetap saling memperhatikan karena tradisi di Timor bahwa setiap masyarakat Timor memiliki junjungan dan panutan. Orang tua perempuan melepas anak perempuannya untuk hidup mandiri dengan memberikan bekal usaha yang dilakukan dalam bentuk Tonis Ike Suti sehingga ia dapat mengembangkan usaha itu dalam rumah tangganya yang baru merupakan suatu bentuk kepedulian orang tua dan pernyataan bahwa anak perempuan mereka telah siap untuk membangun rumah tangga dengan segala bakat yang ia miliki. Hubungan orang tua dan anak sangat tercermin dengan jelas dalam bahasa gambaran natoni ini. Alkitab pun banyak menyaksikan hubungan orang tua dengan anak-anak seperti dalam Efesus 6:1-4, Keluaran 20:12 dan Amsal 22:6 yang mengajarkan agar setiap anak harus menghormati orang tua dan orang tua harus mengasihi dan mendidik anak-anak. Dengan demikian, hubungan terakrab suami istri sebagai pinang muda dan sirih muda yang memiliki batang, ranting, dan pokok adalah hubungan antara orang tua, anak dan Allah. Orang tua mendidik, membimbing dan menasihati anak-anak sesuai tradisi, anak-anak menghormati orang tua sebagai panutan mereka serta menjunjung Allah sebagai sembahan mereka.
117
Bahasa gambaran juga mencerminkan sikap pasangan suami istri Kristen. Mereka saling memuji sebagai wujud komunikasi yang baik, namun dalam bahasa gambaran dalam natoni yang penulis teliti hanya sebatas pujian atas jasa laki-laki (bijak dalam menata sirih dan pinang muda) dan pujian atas perawakan perempuan (jeruk dan limau serta bunga yang indah). Salah satu wujud komunikasi yang baik adalah pujian kepada pasangannya, sehingga baik atas jasa suami atau istri maupun perawakan suami atau istri bahkan untuk hal-hal di luar itu, mereka harus saling memberi pujian dan berkomunikasi dengan baik agar mereka dapat saling menerima, memahami dan memperoleh rasa aman.118 Selain itu, dengan komunikasi yang baik mereka juga
akan saling mengenal dan menghargai pendapat masing-masing.119 Dengan menggunakan
kata-kata yang membangun dalam komunikasi setiap hari maka kesejahteraan dan kasih karunia itu akan hidup dalam keluarga dan terpancar di lingkungan masyarakat (Efesus 4:29). Suami istri akan saling respek satu dengan yang lainnya karena komunikasi dan penghargaan yang tidak hanya dibatasi oleh jasa atau perawakan pasangan masing-masing tetapi karena pengenalan akan keduanya sehingga mereka saling menghormati meskipun berbeda pendapat.120 Hal ini disaksikan dalam Efesus 5:22-33 bahwa seperti Kristus mengasihi jemaat-Nya demikianlah suami mengasihi istrinya dan seperti jemaat-Nya melayani dan taat pada Kristus demikianlah istri melayani dan taat kepada suami. Saling mengasihi, melayani dan taat telah digambarkan oleh simbol benda budaya yang telah penulis jabarkan pada poin 4.1. Selain itu, ada pula bahasa
gambaran “menyiram dan memupuk pohon jeruk dan limau” yang membuktikan bahwa suami
akan menjaga dan menafkahi istri dan melalui simbol kotak sirih pinang dan segala bakatnya yang dituturkan dalam Tonis Ike Suti (penyerahan bekal oleh orang tua) membuktikan bahwa istri akan melayani suami dan keluarganya dengan segala bakat yang ia miliki. Dengan komunikasi yang saling menguatkan dan memberi penghargaan akan membuahkan kasih Kristus bagi setiap orang yang mendengarnya dan kasih Kristus itu merupakan dasar hubungan suami istri yang diwujudkan dalam sikap saling menghormati, mengasihi dan taat.
Gambaran ideal dalam bahasa gambaran lainnya adalah saling percaya dan setia serta
hidup dengan rukun dan damai yang digambarkan dalam kalimat “hidup bagai pasangan burung
merpati” sehingga mereka berdua tidak lagi tergiur dengan seseorang atau sesuatu hal yang lebih
118
Y. Singgih D Gunarsa dan Singgih D, Gunarsa, Psikologi Untuk Keluarga…, 31.
119
Ed Young, The 10 Commandments of Marriage…, 218.
120
31
baik menurut penilaian mereka seperti yang tersirat dalam bahasa gambaran “tergiur dengan
kicauan burung nuri”. Kepercayaan lahir dari kesetiaan terhadap komitmen setiap pasangan
untuk saling mempertahankan hubungan sehingga “kelelawar malam tidak menyentuh, unggas
siang pun tidak mendekati” yang berarti kesetiaan untuk tidak tergoda dengan hal apapun yang dapat mengancam kehidupan keluarga bahkan dengan godaan seks atau perzinahan sekalipun. Menurut Ed Young, selain untuk menghasilkan keturunan, Allah juga mendesain seks sebagai suatu kenikmatan yang mempersatukan suami istri secara fisik, spiritual dan emosi, namun tidak untuk disalahgunakan dalam keadaan apapun karena tubuh kita adalah bait-Nya.121 Perkawinan adalah inisiatif Allah dan Ia memberkatinya sehingga Ia ingin agar pasangan suami istri menghormati perkawinan itu dan tidak mencemarkan diri mereka (Ibrani 13:4). Dengan hidup dalam kebenaran, kejujuran dan berusaha untuk menciptakan kenyamanan dalam hubungan suami istri maka kecemburuan, kekuatiran dan kecurigaan tidak akan hadir dalam hubungan mereka karena kasih sudah merajai hati masing-masing (1 Korintus 13:4).
Pada saat laki-laki melarang atau mengikat perjanjian dengan perempuan (pinang dan sirih muda hal pengikat dan daun larangan pada jeruk dan limau) untuk setia, menjaga dan mengayominya, maka perjanjian itu pun harus diikatkan pada laki-laki (biar seutas tali sehelai daun pun ku ikat dan menggantung pula sebagai rambu dan tanda ikat atau daun tegur sapa). Perjanjian ini diterima dan disepakati untuk dilakukan bersama-sama. Hal ini berarti bahwa keduanya tidak mementingkan kepentingan pribadi (egois) tetapi mengetahui dan menjalankan tugas masing-masing agar tidak ada kekacauan dalam rumah tangga (Yakobus 3:16).122 Komitmen yang dibangun oleh suami agar dilakukan oleh sang istri harus juga dilakukan oleh suami kepada istrinya (Matius 7:12). Dengan mengetahui komitmen masing-masing maka perhatian itu akan selalu hadir dalam sikap dan tingkah laku serta tutur kata pasangan suami istri. Perhatian kepada pasangan masing-masing serta orang tua juga merupakan wujud kehidupan yang peduli dan tidak mementingkan kepentingan diri sendiri.
Sebuah rumah tangga yang telah dibangun atas dasar kepercayaan, komunikasi yang baik, saling respek, perhatian, setia serta bertanggung jawab dengan komitmen masing-masing bukan menjadi satu-satunya jaminan untuk kehidupan yang sejahtera karena sangat sulit untuk
121
Ed Young, The 10 Commandments of Marriage…, 150. 122
menyatukan dua pribadi yang berbeda sehingga banyak masalah yang terjadi. Oleh karena itu, sikap saling mengampuni juga harus dimiliki dan diterapkan oleh pasangan suami istri. Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis membuktikan bahwa pengampunan itu tersirat
dalam bahasa gambaran “membersihkan semak-semak”. Ketika laki-laki dan perempuan ingin
masuk ke dalam kehidupan masing-masing keluarga maka ada permohonan maaf dan pengampunan yang diberikan dan diperoleh keduanya. Hal ini menjadi pelajaran penting bagi pasangan suami istri yang telah hidup bersama atas dasar pengampunan. Matius 6:14-15 menyatakan bahwa seseorang yang telah mengampuni dan memberi pengampunan kepada orang lain maka Bapa akan mengampuni mereka sedangkan dalam Matius 18:21-22 menyaksikan bahwa pengampunan itu harus dilakukan seumur hidup. Oleh karena itu, pasangan suami istri yang telah memulai kehidupan mereka dengan pengampunan harus menerapkan pengampunan itu dalam kehidupan mereka hingga akhir hayat.
Itulah gambaran ideal pasangan suami istri yang tergambar melalui bahasa gambaran dan benda budaya dalam natoni perkawinan di GMIT terkhususnya di Suku Amanuban. Masyarakat beragama, beretika, rendah hati, memiliki panutan, tradisi dan junjungan serta memiliki sikap-sikap yang luhur sesuai Firman Tuhan menjadi gambaran ideal yang tercermin dalam bahasa gambaran natoni perkawinan. Gambaran ideal hubungan pasangan suami istri yang tercermin dalam bahasa gambaran tonis dan benda-benda budaya dalam natoni perkawinan sangat bermanfaat untuk kelangsungan kehidupan rumah tangga mereka. Namun untuk mempunyai perkawinan seperti yang direncanakan Allah maka mereka harus yakin bahwa Firman Allah
adalah pedoman yang paling tepat dalam membangun bahtera rumah tangga.123 Pasangan suami
istri yang semakin dekat dengan Tuhan, pasti akan semakin dekat satu sama lainnya sehingga dengan keakraban itu, mereka dapat menunaikan tugas sebagai suami dan istri.124 Dengan semakin dekat dengan Tuhan melalui pembelajaran akan firman-Nya dan melakukannya dalam kehidupan setiap hari maka mereka dapat menghayati rencana atau panggilan Allah yaitu menjadi satu daging dalam kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, Firman Tuhan harus dijadikan dasar dalam hidup berumah tangga. Dalam Kolose 3:18-21 dan Efesus 5:22-33 Allah menghendaki agar suami harus mengasihi istrinya seperti Kristus mengasihi jemaatNya serta istri harus tunduk
123
Jonathan A.Trisna, Pernikahan Kristen Suatu Usaha Dalam Kristus…, 2. 124
Ed Young, The 10 Commandments of Marriage Sepuluh Perintah Kunci Kebahagiaan Suami Istri…,
33
kepada suaminya seperti jemaat tunduk kepada Kristus. Dengan saling percaya, setia, saling mengandalkan dan mendukung, saling respek, perhatian, saling mengampuni, tidak egois, tidak melakukan perzinahan serta menjalin komunikasi yang baik, maka suami dan istri dapat menunaikan perintah Allah itu untuk saling mengasihi dan tunduk kepada pasangan.