BAB II. LANDASAN TEORI
4. Tinjauan Tentang Aturan Sinus dan Cosinus
Dalam penelitian ini kompetensi dasar yang ingin dicapai adalah merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan perbandingan, fungsi, persamaan dan identitas trigonometri
Indikator hasil belajar yang dapat digunakan untuk mencapai kompetensi dasar dalam penelitian ini diantaranya adalah siswa dapat :
a) Merumuskan aturan sinus yang berlaku pada tiap segitiga
b) Merumuskan aturan cosinus yang berlaku pada tiap segitiga.
c) Menggunakan aturan sinus dan kosinus untuk menyelesaikan soal perhitungan sisi atau sudut pada segitiga.
Pada umumnya, pada pembelajaran langsung siswa diberikan rumus aturan sinus dan cosinus secara langsung oleh guru tanpa disertai pengkontruksian pemahaman oleh siswa sendiri. Akibatnya, siswa hanya menghafal rumus yang diberikan. Sehingga ketika siswa menghadapi permasalahan terkait dengan penggunaan aturan sinus dan cosinus, siswa mengalami kesulitan.
B. Kerangka Pemikiran
Keberhasilan proses belajar mengajar dapat dilihat dari prestasi belajar siswa, yakni sampai sejauh mana tingkat pemahaman siswa terhadap materi. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajar mengajar diantaranya adalah model pembelajaran dan kecerdasan logika matematika.
Penggunaan model pembelajaran cukup besar pengaruhnya terhadap keberhasilan guru dalam mengajar. Seorang guru yang baik adalah guru yang dapat menguasai bermacam-macam model pembelajaran dan mampu memilih dan
commit to user
menerapkan model pembelajaran yang tepat pada setiap materi pelajaran yang diajarkan. Pemilihan model pembelajaran yang tidak tepat dapat menyebabkan kegiatan belajar mengajar berjalan kurang efektif sehingga dapat menyebabkan prestasi belajar siswa kurang optimal. Misalnya untuk sub materi aturan sinus dan cosinus, materi ini bertujuan agar siswa dapat merumuskan aturan sinus dan cosinus serta menyelesaikan permasalahan terkait aturan sinus dan cosinus. Oleh karena itu diperlukan suatu model yang dapat meningkatkan kemampuan merumuskan aturan sinus dan cosinus dan meningkatkan kemampuan individual siswa dalam menyelesaikan permasalahan mengenai trigonometri
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan Latihan Individual Terstruktur merupakan suatu model pengembangan dari pembelajaran STAD yang dapat memberikan suasana baru dalam kegiatan belajar mengajar. Model pembelajaran kooperatif melalui tipe STAD dengan Latihan Individual Terstruktur merupakan kombinasi antara belajar secara kelompok dan latihan terstruktur secara individual. Dalam model ini, siswa diarahkan untuk bekerjasama dalam kelompoknya, menilai kemampuan pengetahuan sendiri dan mengisi kekurangan anggota kelompoknya, untuk menguasai materi yang diajarkan. Sehingga kesulitan yang dihadapi siswa selama pembelajaran segera teratasi. Selain itu pemberian latihan soal terstruktur secara individual diberikan dalam rangka penguatan konsep materi agar siswa lebih memahami konsep materi. Sehingga siswa dapat meningkatkan individualisasi dan kemandirian belajar yang efektif. Akibatnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Berbeda pada model pembelajaran langsung, dimana pembelajaran terpusat pada guru. Meskipun, pada model pembelajaran pembelajaran langsung guru sudah memberikan latihan-latihan dan selalu terbuka apabila siswa mengajukan pertanyaan, namun siswa tidak diajak untuk mengkonstruksikan sendiri ilmu yang mereka peroleh. Informasi yang diberikan oleh guru, itulah yang ada dibenak siswa. Sehingga kesulitan yang dihadapi siswa selama pembelajaran tidak segera teratasi.
Prestasi belajar matematika antara siswa yang satu dengan siswa yang lain tidak sama. Perbedaan ini salah satunya dipengaruhi kecerdasan logika matematika siswa. Kecerdasan logika matematika adalah kemampuan dalam mengolah angka
commit to user
dan menggunakan logika dalam memecahkan masalah. Kecerdasan logika matematika siswa meliputi kemampuan numerik, kemampuan konsep aljabar, kemampuan deret bilangan, dan kemampuan logika (penalaran). Oleh karena itu, kecerdasan logika matematika siswa akan menunjang prestasi belajar matematika siswa.
Siswa dengan tingkat kecerdasan logika matematika yang berbeda, memiliki kecenderungan menggunakan kemampuan yang ada pada diri seseorang untuk memecahkan masalah yang berbeda pula. Sehingga mempengaruhi cepat lambatnya siswa menemukan sesuatu hal untuk menyelesaikan masalah secara logis. Akibatnya tingkat kecerdasan logika matematika yang berbeda dalam belajar, akan menghasilkan prestasi yang berbeda pula. Pada umumnya, siswa yang mempunyai kecerdasan logika matematika tinggi memiliki kecenderungan menyukai aktivitas berhitung dengan kecepatan tinggi, lebih mudah menyusun solusi dengan urutan yang logis dalam memecahkan masalah matematika. Apabila kurang memahami, siswa cenderung berusaha mencari jawaban atas hal yang kurang dipahaminya. Akibatnya siswa dengan kecerdasan logika matematika tinggi lebih mudah memahami suatu materi pelajaran dibandingkan dengan siswa yang memiliki kecerdasan logika matematika yang sedang maupun rendah. Begitu pula siswa yang mempunyai kecerdasan logika matematika sedang akan lebih mudah memahami suatu materi dibandingkan dengan siswa yang memiliki kecerdasan logika matematika yang rendah.
Penerapan suatu model pembelajaran dalam pembelajaran matematika sangat dipengaruhi oleh kondisi personal siswa, salah satunya adalah kecerdasan logika matematika. Pembelajaran dengan menggunaan model yang berbeda kemungkinan akan memberikan prestasi belajar matematika yang berbeda pada masing-masing tingkat kecerdasan logika matematika siswa. Baik pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan Latihan Individual Terstruktur maupun model pembelajaran langsung memberikan prestasi belajar matematika yang berbeda.
Dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan Latihan Individual Terstruktur siswa dituntut untuk selalu aktif belajar secara berkelompok untuk memahami konsep materi yang diajarkan. Selain itu, dalam penguatan pemahaman
commit to user
konsep materi secara individual, siswa dituntut untuk menggunakan kecerdasan logika matematika.
Pada umumnya siswa dengan kecerdasan logika matematika tinggi memiliki kemampuan yang tinggi dalam menyusun jalan keluar dan menggunakan logika dalam menyelesaikan masalah matematika. Sehingga, mudah dalam memahami materi. Akibatnya, pembelajaran pada siswa dengan kecerdasan logika matematika tinggi dengan model yang berbeda akan menghasilkan prestasi yang sama baiknya. Akan tetapi, pembelajaran model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan Latihan Individual Terstruktur pada siswa dengan kecerdasan logika matematika sedang maupun rendah akan menghasilkan prestasi yang lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran langsung. Hal ini dikarenakan pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan Latihan Individual Terstruktur ini perbedaan individual mendapat perhatian secara khusus, yakni melalui kelompok yang heterogen. Sehingga kesulitan yang dihadapi siswa dengan kecerdasan logika matematika sedang maupun rendah dalam pembelajaran dapat segera teratasi. Sehingga penerapan model pembelajaran dan tingkat kecerdasan logika matematika siswa yang berbeda akan menghasilkan prestasi belajar yang berbeda pula.
Berangkat dari pemikiran tersebut di atas, maka dapat diasumsikan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan Latihan Individual Terstruktur dan kecerdasan logika matematika siswa berperan dalam menentukan tingkat penguasaan mata pelajaran matematika yang tercermin dalam prestasi belajar matematika. Dari pemikiran di atas, dapat digambarkan kerangka pemikiran dalam penelitian sebagai berikut:
Gambar 2.1. Paradigma Penelitian Model Pembelajaran
Kecerdasan Logika Matematika