• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori

6. Tinjauan tentang Pembuktian Dan Alat Bukti

Pembuktian adalah ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang cara-cara yang dibenarkan Undang-Undang membuktikan kesalhan yang di dakwakan kepada Terdakwa. Pembuktian juga merupakan ketentuan yang mengatur alat-alat bukti yang dibenarkan oleh Undang-Undang dan dipergunakan Hakim membuktikan kelasahan yang di dakwakan (M. Yahya Harahap, 2002 ; 273)

Dalam konteks hukum acara pidana, pembuktian merupakan inti persidangan perkara pidana karena yang dicari dalam hukum

26

acara pidana adalah kebenaran materiil, yang menjadi tujuan pembuktian adalah benar bahwa suatu tindak pidana telah terjadi dan Terdakwa yang bersalah melakukannya. Untuk membuktikan kesalahan terdakwa, pengadilan terikat oleh cara-cara/ ketentuan-ketentuan pembuktian sebagaimana diatur dalam Undang-Undang. Pembuktian yang sah harus dilakukan di dalam sidang pengadilan dengan prosedur yang berlaku dalam hukum pembuktian.

Pembuktian bersal dari kata “bukti” yang artinya sesuatu yang menyatakan kebenaran suatu peristiwa, kemudian mendapatkan awalan “pem” dan akhiran “an” dimana keseluruhan mempunyai arti yaitu cara membuktikan sesuatu yang menyatakan kebenaran suatu peristiwa (Andi Sofyan dan Abd. Asis, 2004 : 230). Dengan kata lain pembuktian sangat penting kedudukannya dalam proses hukum acara pidana dan oleh karena itu haruslah dikuasai oleh semua aparat penegak hukum dalam tingkat pemeriksaan, khususnya Penuntut Umum yang mempunyai kewajiban membuktikan kesalhan Terdakwa.

b. Prinsip – Prinsip Pembuktian

Dalam pembuktian hukum pidana dikenal beberapa prinsip, antara lain :

1) Menjadi saksi adalah kewajiban, yang dapat dilihat didalam Pasal 159 ayat (2) KUHAP

2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan, yang diatur dalam Pasal 184 ayat (2) KUHAP

3) Satu saksi bukanlah saksi, yang diatur dalam Pasal 185 ayat (2) KUHAP

4) Keterangan Terdakwa hanya mengikat pada dirinya sendiri, yang diatur dalam Pasal 189 ayat (3) KUHAP

c. Sistem Pembuktian

Sistem pembuktian bertujuan untuk mengetahui cara menerapkan hasil pembuktian terhadap suatu perkara yang

27

diperiksa. Maka dari itu pembuktian harus dilandaskan pada teori-teori sebagai berikut :

1) Teori pembuktian berdasarkan Undang – Undang secara positif (Positive wettelijk bewijstheorie)

Menilai kekuatan pembuktian alat-alat bukti yang sah, dikenal sistem atau teori pembuktian. Pembuktian yang didasarkan kepada alat-alat pembuktian yang disebut Undang-Undang, disebut sistem atau teori pembuktian berdasarkan undang-undang secara positif (positief wettelijk bewijstheorie). Dikatakan secara positif, karena hanya didasarkan kepada Undang-Undang. Artinya, jika telah terbukti suatu perbuatan sesuai dengan alat-alat bukti yang disebut oleh undang-undang, maka keyakinan Hakim tidak diperlukan. 2) Sistem pembuktian berdasarkan keyakinan Hakim belaka

(Convintion In Time)

Sistem pembuktian ini menentukan salah tidaknya seorang Terdakwa, semata-mata ditentukan oleh penilaian “keyakinan” Hakim. Keyakinan bisa diambil dan disimpulkan Hakim dari alat-alat bukti yang diperiksanya dalam sidang pengadilan. Bisa juga hasil dari suatu pemeriksaan itu diabaikan oleh hakim dan langsug menarik keyakinan dari keterangan atau pengakuan Terdakwa. Kelemahan dari sistem ini adalah besar keyakinan Hakim tanpa didasari dukungan alat bukti yang cukup. Ada kecendurengan Hakim untuk menerapkan keyakinannya membebaskan Terdakwa dari dakwaan tindak pidana walaupun kesalhannya telah terbukti (M. Yahya Harahap, 2006 : 277)

3) Sistem pembuktian berdasarkan keyakinan Hakim atas alasan yang logis (convintion raisonee)

Sebagai jalan tengah, muncul sistem atau teori yang disebut pembuktian yang berdasarkan keyakinan Hakim atas alasan yang logis (convintion raisonee). Menurut teori ini, Hakim dapat memutuskan seseorang bersalah berdasarkan keyakinannya,

28

keyakinan yang didasarkan kepada dasar-dasar pembuktian disertai dengan suatu kesimpulan (conclusive) yang berlandaskan kepada peraturan-peraturan pembuktian tertentu. Dengan kata lain, menurut sistem ini keyakinan Hakim tetap memegang peranan penting dalam menentukan tidaknya Terdakwa (Andi Sofyan dan Abd. Asis, 2004 : 235)

4) Sistem pembuktian berdasarkann Undang – Undang secara Negatif (Negatif Wettlijk Bewijk Theory)

Dalam teori ini, putusan Hakim didasarkan pada pembuktian yang dilakukan berdasarkan Pasal 183 KUHAP yaitu berdasarkan alat-alat bukti yang ada dan sah, serta ditambah dengan keyakinan Hakim yang diperoleh berdasarkan alat-alat bukti tersebut bisa dikatakan sistem menurut Undang-Undang positif dan sistem pembuktian berdasarkan keyakinan Hakim belaka.

d. Pengertian tentang Alat bukti

Menurut Pasal 183 KUHAP yang menyatakan bahwa: “Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang, kecuali bila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya”

Sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah diperoleh berdasarkan pemeriksaan di sidang pengadilan, sedang pemeriksaan di persidangan di dasarkan atas surat dakwaan yang dirumuskan Penuntut Umum yang dilimpahkan ke pengadilan. Hal tersebut di atas berdasarkan Pasal 143 ayat (1) KUHAP yaitu: “Penuntut umum melimpahkan perkara ke Pengadilan Negeri dengan permintaan agar segara mengadili perkara tersebut disertai dengan surat dakwaan”

Pasal 184 KUHAP menyatakan bahwa alat bukti yang sah (Leden Marpaung, 1992: 23-24) adalah:

29 2) Keterangan Ahli; 3) Surat;

4) Petunjuk;

5) Keterangan Terdakwa.

Penjelasan mengenai alat bukti yang sah tersebut adalah sebagai berikut:

1) Keterangan Saksi

Menjadi saksi adalah kewajiban semua orang, kecuali dikecualikan oleh Undang-Undang. Menghindar sebagai saksi dapat dikenakan pidana (Penjelasan Pasal 159 Ayat (2) KUHAP). Semua orang dapat menjadi saksi. Kekecualian menjadi saksi tercantum dalam Pasal 168 KUHAP yaitu:

a) Keluarga berdarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dari atau yang sama-sama sebagai terdakwa.

b) Saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa, saudara ibu atau saudara bapak, juga mereka mempunyai hubungan karena perkawinan dan anak-anak saudara terdakwa sampai derajat ketiga.

c) Suami atau istri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang bersama sebagai terdakwa.

2) Keterangan Ahli

Keterangan Ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seseorang yang memiliki keahlian khusus tentang suatu hal yang diperlukan untuk memperjelas perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. Keterangan ahli dapat berupa keterangan lisan dan dapat juga berupa surat.

30

Surat adalah pembawa tanda tangan bacaan yang berarti, yang menerjemahkan suatu isi pikiran. Menurut Pasal 187 KUHAP yang termasuk surat adalah:

a) Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu.

b) Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan.

c) Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya.

d) Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian

yang lain. 4) Petunjuk

Pasal 188 KUHAP menyatakan bahwa petunjuk adalah perbuatan, kejadian atau keadaan yang diduga memiliki kaitan, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, yang menandakan telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya. Petunjuk hanya dapat diperoleh dari keterangan saksi, surat dan keterangan terdakwa. Oleh karena itu, petunjuk juga merupakan alat bukti tidak langsung. Penilaian terhadap kekuatan pembuktian sebuah petunjuk dari

31

keadaan tertentu, dapat dilakukan oleh hakim secara arif dan bijaksana, setelah melewati pemeriksaan yang cermat dan seksama berdasarkan hati nuraninya. Petunjuk adalah perbuatan atau kejadian, yang karena persesuaiannya baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi tindak pidana dan siapa pelakunya. Menurut Pasal 188 Ayat (2), Petunjuk hanya diperoleh dari keterangan saksi, surat dan keterangan terdakwa.

Berdasarkan penjelasan pada Pasal 184 KUHAP diketahui bahwa KUHAP hanya mengatur tentang 5 (lima) alat bukti yang sah, dan diluar dari alat-alat bukti tersebut tidak dibenarkan untuk dipergunakan sebagai alat bukti dalam membuktikan kesalahan pelaku tindak pidana, namun untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum yang berkenaan dengan alat bukti teknologi informasi, khususnya yang terkait dengan penggunan alat pendeteksi kebohongan (lie detector) sebagai alat bukti petunjuk, hakim dapat melakukan suatu penafsiran ekstensif yang merupakan pemikiran secara meluas dari peraturan perundang-undang yang berlaku positif dalam hal ini, alat bukti petunjuk di perluas, sehingga alat pendeteksi kebohongan (lie detector) dapat dijadikan alat bukti yang sah pada proses peradilan pidana.

Penafsiran ekstensif yang dilakukan hakim tidak hanya sebatas pada peraturan-peraturan yang ada di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana melainkan dapat mengacu kepada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang merupakan dasar hukum dalam penggunan sistem elektronik

Undang-32

Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik ini lebih memberikan kepastian hukum karena ruang lingkup berlakunya lebih luas, selain itu Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik juga mengakui hasil penggunan sistem elektronik, khususnya mengenai hasil tes penggujian alat pendeteksi kebohongan (lie detector) sebagai alat bukti yang sah, yaitu alat bukti petunjuk.

5) Keterangan Terdakwa

Menurut Pasal 194 KUHAP, yang dimaksud keterangan terdakwa itu adalah apa yang telah dinyatakan terdakwa di muka sidang, tentang perbuatan yang dilakukannya atau yang diketahui dan alami sendiri. Pengertian keterangan terdakwa memiliki aspek yang lebih luas dari pengakuan, karena tidak selalu berisi pengakuan dari terdakwa. Keterangan terdakwa bersifat bebas (tidak dalam tekanan) dan ia memiliki hak untuk tidak menjawab. Kekuatan alat bukti keterangan terdakwa, tergantung pada alat bukti lainnya dan hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri. Keterangan terdakwa ialah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia lakukan sendiri atau ia ketahui sendiri atau ia alami sendiri (Leden Marpaung, 1992: 25).

Dokumen terkait