• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

3. Tinjauan Tentang Pengertian Anak, Hak Anak,

a. Pengertian Anak.

Anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah menikah. Pengertian ini secara eksplisit dalam Undang-Undang Nomor 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Batas usia 21 tahun ditetapkan berdasarkan pertimbangan usaha kesejahteraan anak, dimana kematangan sosial, pribadi dan mental seseorang anak dicapai pada umur tersebut. Pengertian ini digunakan sepanjang memiliki keterkaitan dengan anak secara umum, kecuali untuk kepentingan tertentu menurut Undang-undang menentukan umur yang lain. Dalam hal ini, pengertian anak mencakup tumbuh kembangnya, membutuhkan bantuan orang lain (orang tua atau dewasa).

Dengan penetapan batas umur dan larangan pekerjaan anak terkandung cita-cita bahwa anak pada umumnya sekurang-kurangnya harus berpendidikan sekolah dasar ditambah dengan dua atau tiga tahun sekolah lanjutan atau sekolah kejuruan khusus.

Sedangkan Menurut Undang Ketenagakerjaan Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003, Anak adalah setiap orang yang berumur di bawah 18 tahun (Sholeh Soeaidy dan Zulkhair, 2001: 3)

b. Hak Anak.

Guna menjamin adanya kepastian hukum bagi perlindungan anak, haruslah dibentuk undang-undang yang mengatur mengenai hak dan kewajiban secara timbal balik antara yang dilindungi dan yang

xxxviii

melindungi. Ada tiga aspek utama yang terkandung dalam Konvensi Hak Anak yaitu aspek kelangsungan hidup (survival), aspek tumbuh kembang (developmental), dan aspek perlindungan (protection) (Sholeh Soeidy dan Zulkhair. 2001: 5).

Hak-hak anak adalah berbagai kebutuhan dasar yang seharusnya diperoleh anak untuk menjamin kelangsungan hidup, tumbuh kembang dan perlindungan dari segala bentuk perlakuan salah, eksploitasi dan penelantaran terhadap anak, baik yang mencakup hak sipil, ekonomi, sosial dan budaya anak. Hak- hak anak dalam bidang hukum perdata diatur secara garis besar antara lain yang terdapat dalam :

1. Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan

2. Undang-undang Nomor 4 tahun 1979 tentang kesejahteraan anak 3. Undang-undang Nomor 1 tahun 2000 tentang pelarangan dan

tindakan segera penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak.

4. Peraturan Pemerintah Nomor 2 tahun 1988 tentang usaha kesejahteraan anak bagi anak yang mempunyai masalah.

5. Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1990 tentang pendidikan pra sekolah.

6. Peraturan Pemerintah Nomor 73 tahun 1991 tentang Pendidikan luar sekolah.

7. Kitab Undang- undang Hukum Perdata, tentang orang.

8. Kompilasi hukum Islam di Indonesia (Sholeh Soeidy dan Zulkhair. 2001 :18).

Di dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, bahwa setiap anak berhak:

a. Anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan

bimbingan berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar. b. Anak juga berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan

xxxix

c. Anak berhak atas pemeliharaan dan perlindungan, baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan.

d. Seorang anak juga berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembanganya dengan wajar

e. Anak berhak untuk istirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak sebayanya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai minat, bakat dan tingkat kecerdasan demi pengembangan diri.

f. Anak berhak memperoleh perlindungan dari penyalahgunaan dalam kegiatan politik, pelibatan dalam sengketa bersenjata, pelibatan dalam kerusuhan sosial, pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasaan dan pelibatan dalam perang.

g. Anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi. Anak yang dirampas kebebasaannya berhak untuk mendapat perlakuan secara manusiawi dan penempatannya terpisah dari orang dewasa, memperoleh bantuan hukum atau bantuan lain sesuai tahapan upaya hukum yang berlaku dan membela diri dan memperoleh keadilan yang objektif di depan pengadilan yang tidak memihak. Anak yang menjadi korban kekerasaan seksual atau bermasalah dengan hukum identitasnya harus dirahasiakan (Pasal 4 s/d 19) (Sholeh Soeidy dan Zulkhair. 2001 : 96).

Berdasarkan Konvensi Hak-hak Anak 1989 tertanggal 20 November, berisi sepuluh asas tentang hak-hak anak yaitu :

1. Anak berhak menikmati semua hak- haknya. Setiap anak (tanpa pengecualian) harus dijamin hak-haknya tanpa membedakan suku bangsa, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pandangan politik atau pandangan lain, kebangsaan atau tingkatan sosial, kaya miskin, kelahiran atau status lain, baik yang ada pada dirinya maupun keluarganya.

xl

2. Anak berhak memperoleh perlindungan khusus dan harus memperoleh kesempatan yang dijamin oleh hukum dan sarana lain agar menjadikannya mampu mengembangkan diri secara fisik, kejiwaan, moral, spritual, dan kemasyarakatan dalam situasi yang sehat, normal sesuai kebebasaan dan harkatnya.

3. Anak sejak dilahirkan berhak atas nama dan kebangsaan.

4. Anak berhak dan harus dijamin secara kemasyarakatan untuk tumbuh kembang secara sehat.

5. Anak yang cacat fisik, mental, dan lemah kedudukan sosialnya akibat suatu keadaan tertentu harus memperoleh pendidikan, perawatan, dan perlakuan khusus.

6. Anak berhak atas pengertian dan kasih sayang.

7. Anak berhak mendapat pendidikan wajib secara cuma-cuma sekurang- kurangnya di tingkat sekolah dasar. Mereka harus mendapat perlindungan yang dapat meningkatkan pengetahuan umum untuk dapat mengembangkan kemampuannya.

8. Dalam keadaan apapun, anak harus didahulukan untuk menerima perlindungan dan pertolongan.

9. Anak harus dilindungi dari segala bentuk kealpaan, kekerasaan, dan pemerasan. Ia tidak boleh dijadikan subyek perdagangan. Anak tidak boleh bekerja sebelum usia tertent, ia tidak boleh dilibatkan dalam pekerjaan yang dapat merugikan kesehatan, pendidikan, maupun yang dapat mempengaruhi perkembangan tubuh, jiwa atau akhlaknya.

10.Anak harus dilindungi dari perbuatan yang mengarah ke bentuk diskriminasi sosial, agama maupun bentuk-bentuk diskriminasi lainnya

c. Larangan Memperkerjakan Anak.

Berdasarkan Keputusan Menteri dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 5 tahun 2001 tentang Penanggulangan Pekerja Anak pada Pasal 1 ayat (1) dan ayat (2), menyatakan bahwa:

xli

Ayat (1) berisi bahwa ”Pekerja anak adalah anak yang melakukan semua jenis pekerjaan yang membahayakan kesehatan dan menghambat proses belajar serta tumbuh kembang anak”

Ayat (2) berisi bahwa Penanggulangan Pekerja Anak adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk menghapus, mengurangi, dan melindungi pekerja anak berusia 15 tahun ke bawah agar terhindar dari pengaruh buruk pekerjaan berat dan berbahaya.

Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi propinsi, pada tahun 2005 menyebutkan bahwa dari 35 Kota atau Kabupaten yang tersebar di Jawa Tengah, dari 16.979 perusahaan yang ada terdapat sekitar 10.477 Pekerja anak usia dibawah 18 tahun. Namun demikian, data yang dikeluarkan tersebut tidak dirinci secara jelas, pada pekerjaan-pekerjaan apa saja anak tersebut berkerja.

Di Indonesia sebelum perang dunia kedua sudah mulai mengadakan peraturan mengenai pekerjaan anak, yaitu peraturan mengenai pembatasan pekerjaan anak (Stbl. 1925 Nomor 647). Sedangkan di Nederland, pada tahun 1872 diadakan peraturan tentang pekerjaan anak (”Kinderwetje-Van Houten”) yang melarang memperkerjakan anak di bawah umur dua belas tahun.

Undang-Undang Nomor 12 pada tahun 1948 yang saat ini berlaku Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003, ini yang mula-mula hanya berlaku untuk Republik Indonesia beribu kota Yogyakarta, diberlakukan kemudian untuk seluruh Indonesia dengan Undang-undang tanggal 6 Januari 1951 Nomor 1 (L.N. 1951 Nomor 12). Undang-undang kerja ini, dimaksudkan sebagai undang-undang pokok yang memuat aturan dasar tentang pekerjaan anak, pekerjaan orang muda, dan pekerjaan orang wanita, waktu kerja, waktu istirahat, tempat kerja, dan perumahan buruh. Undang-undang kerja ini yang pertama memuat ketentuan-ketentuan khusus bagi anak yaitu orang laki-laki maupun wanita yang berusia empat belas tahun ke bawah, bagi orang muda yaitu orang laki-laki ataupun wanita yang berusia lebih dari empat belas tahun tetapi kurang dari delapan belas tahun. Dalam

xlii

Undang-undang Kerja pada pasal 2 Undang-Undang Nomor 12 tahun 1948, menetapkan dengan tegas bahwa anak tidak boleh menjalankan pekerjaan (Iman Soepomo, 1988 : 27).

Sebelum berlakunya Undang-undang Kerja itu, mengenai pekerjaan anak kita masih menggunakan ” Maatregelen ter Bepereing van de Kinderbeid en de Nachtar bid van de Vrouwen” (Peraturan tentang pembatasan Pekerjaan Anak dan Pekerjaan Wanita pada malam hari). Dan juga ”Bepalingen betreffende de Arbeid van Kinderen en Jeugdige Personen aan Boord van Schepen” (Peraturan tentang Pekerjaan Anak dan Orang Muda di kapal) tersebut di atas. Hingga sampai saat ini dibuatnya Undang-undang No 13 tahun 2003 mengenai Undang-undang Ketenagakerjaan (Iman Soepomo, 1988 : 21).

Pekerjaan adalah pekerjaan yang dijalankan oleh buruh untuk majikan dalam suatu hubungan kerja dengan menerima upah. Larangan pekerjaan anak yang mutlak ini, yaitu :

1. tidak boleh menjalankan pada waktu kapan pun,

2. tidak boleh menjalankan pekerjaan di perusahaan jenis apapun juga.

3. Tidak boleh menjalankan suatu pekerjaan macam apapun juga,

apalagi pekerjaan-pekerjaan terburuk yaitu seperti menjadi Buruh Konveksi, Pekerja di Industri makanan, Pekerja Rumah Tangga Anak, Pekerja Seksual, Pekerja di bidang Pertanian, Industri Minuman Keras, Zat berbahaya, dll.

Larangan memperkerjakan bagi anak bukanlah semata-mata untuk membatasi anak untuk mencapai kesejahteraanya tetapi, seperti yang terdapat dalam jurnal Liz Stuart yang menyatakan bahwa “The reasons children work can be divided broadly into “supply”and “demand” factors. The very fact that so many different factors are at play is one reasons why there is no single solution, no magic recipe for putting an end to the economic exploitation of children” (www.unevoc.unesco.org).

xliii

Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000 tentang Pengesahan Konvensi ILO Nomor 182 Mengenai Pelarangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak, bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak, mengandung pengertian :

a. Segala bentuk perbudakan atau praktik-praktik sejenis perbudakan, seperti penjualan dan perdagangan anak- anak, kerja ijon (debt bondage) dan perhambaan serta kerja paksa atau wajib kerja, termasuk pengerahan anak-anak secara paksa atau wajib untuk dimanfaatkan dalam konflik bersenjata.

b. Pemanfaatan, penyediaan atau penawaran anak untuk pelacuran, untuk produksi pornografi, atau untuk pertunjukkan-pertunjukkan porno. c. Pemanfaatan, penyediaan atau penawaran anak untuk pelacuran,

khususnya untuk produksi dan perdagangan obat-obatan.

d. Pekerjaan yang sifatnya atau lingkungan tempat pekerjaan itu dilakukan dapat membahayakan kesehatan, keselamatan, atau moral anak-anak.

Hal tersebut diatas dimaksudkan karena untuk menjaga kesehatan anak, karena badan anak yang masih lemah untuk menjalankan pekerjaan, apalagi yang berat bahkan pekerjaan yang ringan pun akan merugikan kemajuan kecerdasan anak.

”Larangan pekerjaan anak ini bukanlah semata-mata ditunjukkan kepada majikan untuk tidak memperkerjakan anak, melainkan juga untuk kepentingan si anak itu sendiri sehingga anak tidak boleh menjalankan perkerjaan” (Iman Soepomo, 1988 : 29).

Secara umum larangan mutlak bagi anak adalah tepat, sebab akan terdapat beberapa kerugian atau dampak negatif jika anak melakukan pekerjaan, diantaranya adalah:

1. Menghambat atau memperburuk perkembangan jasmani maupun rohani anak.

xliv

3. Dalam jangka panjang perusahaan akan menderita beberapa

kerugian apabila memperkerjakan anak misalnya kualitas produksi rendah, pemborosan, dan lain-lain(Abdul Rahman Budiono, 1999 :32). 4. Tidak dapat mengerjakan pekerjaan dalam bidang yang cukup

berat, hanya bidang-bidang tertentu saja.

5. Penerimaan upah pekerja anak yang sangat rendah, karena anak tidak memiliki daya tawar sehingga anak akan mengalami penderitaan dan atau perbudakan.

4. Tinjauan Tentang Pembatasan Kerja dan Perlindungan Bagi Anak. 1. Pembatasan Kerja.

Di dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, dalam Pasal 68 menyatakan bahwa Pengusaha dilarang memperkerjakan anak dan ketentuan tersebut dikecualikan bagi anak yang berumur antara 13 tahun sampai dengan 15 tahun untuk melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak menggangu perkembangan dan kesehatan fisik, mental, dan sosial anak. Pengusaha yang memperkerjakan anak pada pekerjaan ringan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 harus memenuhi persyaratan, sebagai berikut:

a) Izin tertulis dari orang tua atau wali.

b) Perjanjian kerja antara pengusaha dengan orang tua atau wali.

c) Waktu kerja maksimum 3 (tiga) jam.

d) Dilakukan pada siang hari dan tidak menggangu waktu sekolah.

e) Keselamatan dan kesehatan kerja. f) Adanya hubungan kerja yang jelas dan

g) Menerima upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Tetapi ketentuan tersebut dikecualikan bagi anak yang bekerja pada usaha keluarganya. Dan juga anak dapat melakukan pekerjaan untuk mengembangkan bakat dan minatnya. Pasal 74 ayat (1)

Undang-xlv

Undang Nomor 13 tahun 2003, berisi bahwa siapapun dilarang memperkerjakan dan melibatkan anak pada pekerjaan-pekerjaan terburuk seperti yang terdapat dalam pasal 74 ayat (2).

Upaya yang dapat dilakukan Pemerintah dalam membatasi pekerjaan anak yaitu dengan Pemerintah berkewajiban untuk melakukan upaya penanggulangan anak yang bekerja di luar hubungan kerja yang diatur dengan Peraturan Pemerintah misalnya pada pekerjaan di bidang rumah tangga.

2. Perlindungan bagi Anak.

Pada tahun 2002-2003 berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional mengenai perkembangan pekerja anak memperlihatkan bahwa, pada tahun 2002 anak yang bekerja dibawah usia 15 tahun terdapat 842.228 ribu orang yang bekerja, menurun menjadi sebesar 566.526 ribu pada tahun 2003. Dari angka tersebut, ternyata Pekerja Anak di pedesaan lebih besar bila dibandingkan dengan perkotaan. Pada tahun 2002, anak yang bekerja di pedesaan berjumlah 82 % dan pada tahun 2003 menurun menjadi 447,027 %. Di perkotaan, jumlah anak yang bekerja sebesar 18% atau 150,931% (http://www.gerayak solo.co.id).

Salah satu pekerjaan terburuk yang banyak dilakukan di kota-kota besar adalah memperkerjakan anak sebagai Pekerja Rumah Tangga dan mengecualikan pekerja rumah tangga dari perlindungan minimum yang diberikan kepada pekerja-pekerja di sektor formal misalnya berupa ketentuan yang berkaitan dengan upah minimum, batasan jam kerja, waktu istirahat, hari libur, kontrak kerja dan jaminan sosial. Pengecualian ini memfasilitasi pelecehan dan eksploitasi pekerja rumah tangga dan secara tidak proporsional mempengaruhi perempuan dan anak-anak. Pengecualian pekerja rumah tangga dari perlindungan ketenagakerjaan mempunyai dampak diskriminatif yang serius bagi perempuan dan anak perempuan yang merupakan kebanyakan dari pekerja yang melakukan pekerjaan seperti ini dan

xlvi

mengingkari hak mereka untuk mendapatkan perlindungan hukum yang setara.

Perlindungan bagi pekerja anak sangatlah dibutuhkan bagi anak agar dapat terjaminya kesehatan dan keamanan si anak tersebut. Seperti yang dijelaskan dalam jurnal oleh O’donnel Owen, Van Doorslaer, dan Furio Camillo, yaitu:

The ILO definition of the worst forms of child labour includes work that is likely to jeopardise health and safety . Effective targeting of those child work activites most damaging to health requaires both conceptual understanding and empirical evidence of the interaction between child labour and health. The aim of the paper is to review the current state of such knowledge, which is central to the design of politics that, whils protecting children from work activities most damaging to their health, do not jeopardise the subsitance livelihood of their families. The relationship between child labour and health are complex. They can be direct and indirect, static and dinamic, positive and negative, causal and spurius. The diversity of potential relationship makes their empirical disantaglement a difficult exercise. A conceptual framework of analyisis is requaired and important issue of measurement and of estimetion must be given careful consideration (http://www. ucw-project.org/reseourches).

Sementara itu, Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dengan sewenang-wenang membedakan usaha milik “pengusaha” dan “pemberi kerja,” dan mewajibkan hanya pengusaha untuk menaati ketentuan dalam undang-undang ini mengenai perjanjian kerja, upah minimum, waktu kerja lembur, jam kerja, waktu istirahat, dan hari libur. Majikan pekerja rumah tangga tidak dianggap sebagai pengusaha, dan oleh karenanya pekerja rumah tangga tidak dilindungi oleh ketentuan-ketentuan ketenagakerjaan ini. Padahal untuk kasus pekerja rumah tangga anak, jam kerja yang tidak dibatasi bisa sampai 24 jam sehari dikarenakan berada dalam satu rumah dengan majikan sehingga jelas berbeda dengan anak-anak yang berada di jalan atau pengamen jalanan, persoalan upah kerja yang masih mengalami diskriminasi, dan tidak adanya kontrak kerja yang pasti. Melihat kondisi demikian, tentu saja mengakibatkan anak-anak

xlvii

tersebut kehilangan hak-haknya seperti tidak bisa mendapatkan kesempatan belajar ataupun masa bermain, sebagaimana anak-anak lain yang seusianya.

Sebagai gerakan nasional, upaya perlindungan anak melibatkan seluruh segmen yang ada, baik Pemerintah maupun Lembaga Sosial Masyarakat, Organisasi sosial, tokoh agama, kalangan dunia usaha lembaga pers (media massa) serta lembaga-lembaga akademik dan para pakar untuk bersama-sama dalam mewujudkan anak Indonesia yang teguh imannya, berpendidikan, sehat dan tangguh dalam bersaing serta mampu menentukan masa depannya sendiri. Dan upaya tersebut dapat tercapai apabila upaya untuk meningkatakan kesejahteraan anak seperti yang terdapat dalam Deklarasi dunia (yang telah diratifikasi melalui Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990 tentang Hak-hak Anak) dapat tercapai.

Perlindungan anak adalah segala upaya yang ditujukkan untuk mencegah, merehabilitasi, dan memberdayakan anak yang mengalami tindak perlakuan salah, eksploitasi dan penelantaran agar dapat menjamin kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak secara wajar, baik fisik, mental maupun sosialnya. Salah satu upaya pemberian perlindungan terhadap anak meliputi beberapa indikator pembinaan yaitu Pembinaan kesejahteraan Anak Balita, Pembinaan kesejahteraan Anak Remaja, Pembinaan Anak Nakal dan Korban Narkotika, Pembinaan Karang Taruna, Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat, Pembinaan Anak Jalanan dan Pekerja Anak, Pengasuhan dan Pengangkatan Anak. (http://www.kabarindonesia.com).

Perundang-undangan dalam bidang hukum Perdata mengenai perlindungan Anak lebih memadai daripada bidang hukum pidana untuk anak karena meliputi banyak aspek hukum, diantaranya adalah mengenai kedudukan anak, Pengakuan anak, Pengangkatan anak (Adopsi), Pendewasaan, Kuasa asuh (hak dan kewajiban) orang tua terhadap anak, Pencabutan dan pemulihan kuasa asuh orang tua,

xlviii

Perwalian, Tindakan untuk mengatur yang dapat diambil guna perlindungan anak, dan biaya hidup anak yang ditanggung orang tua akibat perceraian (alimentasi).

Perlindungan anak dalam lapangan hukum pidana, yang berisi mengenai ancaman pidana bagi perkara anak yang nakal yang penjatuhan pidanya ditentukan setengah dari maksimal ancaman pidana yang dilakukan oleh orang dewasa dimaksudkan untuk melindungi dan mengayomi anak agar dapat menyongsong masa depan yang masih panjang dan tidak akan mengulangi perbuatan yang telah dilakukan dan untuk memperoleh jati dirinya guna menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, dan berguna bagi keluarga dan masyarakat melalui pembinaan ini. Demi perlindungan terhadap anak, perkara anak nakal wajib disidangkan pada Pengadilan Anak yang bernaung dalam lingkungan peradilan umum. Walaupun dengan adanya Pengadilan anak ini secara tidak langsung akan menganggu kejiwaan anak tersebut (Sholeh Soeidy dan Zulkhair. 2001: 17 s/d 25 ). Hak asasi seorang anak dapat diwujudkan salah satunya adalah jaminan untuk mendapat perlindungan yang sesuai dengan nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Dimana jaminan perlindungan hak asasi tersebut sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan tujuan negar sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 (Sholeh Soeidy dan Zulkhair. 2001: 31).

Di dalam Undang Perlindungan anak, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tersebut, juga diatur persoalan anak yang sedang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas, anak dari korban eksploitasi ekonomi dan seksual, anak yang diperdagangkan, anak korban kerusuhan, anak yang menjadi pengungsi dan anak dalam situasi konflik bersenjata, perlindungan anak yang dilakukan berdasarkan prinsip nondiskriminasi, kepentingan bagi anak, penghargaan terhadap pendapat anak, hak untuk hidup, kelangsungan dan perkembangan. Dalam perkembangannya

undang-xlix

undang Perlindungan anak yang sudah ditandatangani tampaknya masih terdapat masalah, sehingga pengundangannya masih belum ada kejelasan. Beberapa persoalan yang masih menjadi masalah seperti Pasal 37 ayat (3) yakni masalah agama antara orang tua asuh dan anak yang akan diasuh. Di samping itu pada saat bersamaan terdapat ganjalan dari sekelompok masyarakat, seperti Komisi Perlindungan Anak (KPA) menolak Undang-Undang Perlindungan Anak, karena dianggap tidak sesuai dengan Konvensi Hak Anak dan Konvensi Internasional Labour Organisation (ILO) Nomor 182 yang telah diratifikasi dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2000.

5. Tinjauan tentang Pengertian Pekerja Rumah Tangga Anak, Jam kerja, Tempat Kerja, Upah, Libur, dan Perlindungan bagi Pekerja Rumah Tangga Anak.

1. Pengertian Pekerja Rumah Tangga Anak.

Pekerja rumah tangga, pembantu rumah tangga atau disebut pembantu saja adalah orang yang bekerja di dalam lingkup rumah tangga majikannya. Pekerja rumah tangga mengurus pekerjaan rumah tangga seperti memasak serta menghidangkan makanan, mencuci, membersihkan rumah, dan mengasuh anak-anak. Di beberapa negara, pembantu rumah tangga dapat pula merawat orang lanjut usia yang mengalami keterbatasan fisik. Pekerja Rumah Tangga anak adalah setiap laki-laki dan perempuan yang umurnya dibawah 18 tahun masih disebut anak atau belum dewasa dan bekerja di dalam wilayah rumah tangga tertentu dengan imbalan upah atau bentuk lainnya (mbethy.multiply.com.dhaneta amriski).

Beberapa masalah-masalah yang di hadapi dalam Pekerja Rumah Tangga Anak adalah adanya Eksploitasi anak yaitu dipekerjakan dengan waktu kerja yang tidak jelas dan sangat panjang dengan pemberikan upah yang tidak sesuai; atau tidak diberikan upah dan juga tidak diberi hari libur.

Kekerasaan yang biasa terjadi yaitu meliputi :

l

b) disterika, disundut rokok, dicambuk dan lain-lain;

c) Psikis seperti dimaki, dicela, diberikan panggilan yang tidak baik berupa hinaan fisik atau direndahkan;

d) Ekonomi seperti pemberian upah tidak sesuai dengan

perjanjian kerja atau ditangguhkan dengan alasan pengguna jasa tidak ada uang bahkan upah tidak dibayarkan;

e) Seksual seperti dirayu, dipegang, dipaksa oral seks, pelecehan

Dokumen terkait