• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan tentang Perikatan a. Pengertian Perikatan

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 33-39)

Istilah perikatan, perjanjian, persetujuan, perutangan sebenarnya untuk menterjemahkan istilah bahasa asing (Belanda) verbintenis dan overeenkomst. Kitab Undang-undang Hukum Perdata, terjemahan Subekti dan R.Tjiptosudibio, memakai istilah perikatan untuk verbintenis dan persetujuan untuk overeenkomst.68

Perikatan menurut Prof.Subekti, S.H dalam bukunya pokok-pokok Hukum Perdata, adalah suatu perhubungan hukum (mengenai kekayaan harta benda) antara dua orang, yang memberi hak kepada yang satu untuk menuntut barang sesuatu dari yang lainnya, sedang orang yang lainnya ini diwajibkan memenuhi tuntutan itu.

Perikatan adalah suatu hubungan hukum, ini mempunyai arti bahwa hubungan tersebut diatur dan diakui oleh hukum. Perikatan hukum harus dibedakan dengan perikatan (hubungan) yang timbul dalam pergaulan hidup di dalam masyarakat yang berada di luar hukum.69

b. Subjek dan Objek Perikatan

Dalam tiap-tiap perikatan ada dua macam subjek yaitu :70

1) Seorang manusia atau suatu badan hukum yang mendapat beban kewajiban untuk sesuatu (Schuldenaar atau Debiteur);

68 H.Setiono, Op.Cit, hlm. 1

69 H.Setiono, Op.Cit, hlm. 3

70 H. Setiono, Op.Cit, hlm. 8

commit to user

Subjek yang berupa seorang manusia haruslah memenuhi syarat umum untuk dapat melakukan suatu perbuatan hukum secara sah, yaitu harus sudah dewasa, sehat pikirannya, dan tidak oleh peraturan hukum dilarang atau dibatasi dalam melakukan perbuatan hukum yang sah.

2) Seorang manusia atau badan hukum yang mendapat hak atas pelaksanaan kewajiban itu (Schuldeiser atau Krediteur).

Subjek ini bisa tertentu orangnya dan juga tidak tertentu orangnya.

Kreditur yang tertentu orangnya, piutangnya disebut secara tegas mengenai nama dan keadaan orangnya.

Objek dalam perikatan ialah hal yang diwajibkan kepada pihak debitor dan dalam hal terhadap nama pihak kreditor mempunyai hak atau disebut prestasi.71 Menurut Pasal 1234 Kitab Undang-undang Hukum Perdata tiap-tiap perikatan adalah untuk :

1) Memberikan sesuatu;

2) Untuk berbuat sesuatu;

3) Untuk tidak berbuat sesuatu.

Syarat untuk dapat menjadi objek dari suatu perikatan yaitu :72

1) Pasal 1332 KUHPerdata menentukan bahwa hanya benda yang dapat diperdagangkan saja dapat menjadi objek dari perjanjian.

2) Pasal 1333 KUHPerdata menentukan suatu syarat lagi bagi benda agar dapat menjadi objek suatu perjanjian yaitu benda itu harus tertentu paling sedikit tentang jenisnya, jumlah benda itu tidak perlu ditentukan dulu asal saja kemudian dapat ditentukan.

3) Menurut Pasal 1334 KUHPerdata barang-barang yang seketika belum ada dapat menjadi objek suatu perjanjian.

c. Prestasi, Wanprestasi dan Ganti kerugian

Prestasi berarti suatu hal yang harus dilaksanakan sebagai isi dari suatu perikatan.73 Tidak terpenuhinya suatu prestasi dalam perikatan ada

71 H.Setiono, Op.Cit, hlm. 10

72 Ibid

commit to user

dalam dua bentuk, yaitu wanprestasi dan keadaan memaksa (overmacht).

Wanprestasi berarti ketiadaan suatu prestasi.74 Menurut Salim HS wanprestasi adalah tidak memenuhi atau lalai melaksanakan kewajiban sebagaimana yang ditentukan dalam perjanjian yang dibuat antara kreditor dengan debitor.75 Tindakan wanprestasi dapat terjadi karena kesengajaan, kelalaian, dan tanpa kesalahan yaitu tanpa kesengajaan atau kelalaian.76

Wanprestasi dapat terwujud empat macam yaitu:77 1) Pihak debitor sama sekali tidak melakukan prestasi;

2) Pihak debitor terlambat melakukan prestasi;

3) Pihak debitor salah / keliru dalam melakukan prestasi;

4) Pihak debitor melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.

Debitor apabila dalam keadaan wanprestasi, maka kreditor dapat memilih di antara beberapa kemungkinan tuntutan seperti disebut Pasal 1267 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, yang menyebutkan bahwa pihak terhadap siapa perikatan tidak dipenuhi, dapat memilih apakah ia, jika hal itu masih dapat dilakukan, akan memaksa pihak yang lain untuk memenuhi perjanjian, ataukah ia akan menuntut pembatalan perjanjian, disertai penggantian biaya kerugian dan bunga. Untuk menentukan bahwa seseorang itu dalam keadaan wanprestasi tidak mudah, dalam menentukan adanya wanprestasi itu orang mengadakan upaya hukum dengan pernyataan lalai penagihan “sommatie, ingebreke stelling”.

Fungsi pernyataan lalai adalah merupakan upaya hukum untuk menentukan kapankah saat mulai terjadinya wanprestasi.78

73 H.Setiono, Op.Cit, hlm. 13

74 Ibid

75 Salim HS, Pengantar Hukum Perdata (BW), Sinar Grafika, 2002, hlm. 98 76Munir Fuady, Jaminan Fidusia, Citra Aditya Bakti, 2003, hlm. 88

77 H.Setiono, Loc.cit

78 H.Setiono, Op.Cit, hlm. 14

commit to user

Wanprestasi karena keadaan memaksa dapat terjadi karena :79 1) Objek perikatan musnah (objectieve overmacht)

Karena objek perikatan musnah sama sekali, maka sifatnya abadi sehingga perikatan menjadi hapus (Pasal 1444 KUHPerdata).

2) Kehendak debitor untuk berprestasi terhalang (relative overmacht) Hanya bersifat sementara, misalnya kehendak debitor untuk berprestasi terhalang karena adanya bencana alam atau dalam keadaan perang.

Empat akibat adanya wanprestasi, yaitu sebagai berikut :80 1) Perikatan tetap ada;

Kreditor dapat menuntut debitor melaksanakan prestasi apabila ia terlambat memenuhi prestasi. Selain itu kreditor berhak menuntut ganti rugi akibat keterlambatan tersebut.

2) Debitor harus membayar ganti rugi kepada kreditor;

3) Beban risiko beralih untuk kerugian debitor, jika halangan itu timbul setelah debitor wanprestasi, kecuali bila ada kesengajaan atau kesalahan besar dari pihak kreditor. Oleh karena itu, debitor tidak dibenarkan untuk berpegang pada keadaan memaksa;

4) Jika perikatan lahir dari perjanjian timbal balik, kreditor dapat membebaskan diri dari kewajibannya memberikan kontra prestasi dengan menggunakan Pasal 1266 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

Debitor yang melakukan wanprestasi berkewajiban untuk memberikan penggantian kerugian yang ditimbulkan wanprestasi tersebut. Istilah resmi yang dipakai untuk penggantian kerugian itu ada tiga yaitu kosten, schaden, interessen (penggantian biaya, kerugian, dan bunga-bunga). Penggantian kerugian yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata adalah penggantian kerugian yang timbul dari tidak dipenuhinya perikatan yang berdasarkan perjanjian, bukan

79 Djaja S.Meliala, Perkembangan Hukum Perdata tentang Benda dan Hukum Perikatan, Nuansa Aulia, Bandung, 2007, hlm. 103

80 Salim HS, Op.cit, hlm. 99

commit to user

perikatan yang berdasarkan Undang-Undang.81 Pasal 1243 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menyebutkan bahwa :

“Penggantian biaya, rugi dan bunga karena tidak dipenuhinya suatu perikatan, barulah mulai diwajibkan, apabila si berutang, setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, tetap melalaikannya atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya, hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampaukannya.”

Mengenai bentuk / wujud penggantian kerugian, KUHPerdata tidak menegaskan apakah itu harus berupa uang tunai atau dapat juga berupa hal lain.82

d. Keadaan memaksa (Overmacht)

Keadaan memaksa (Overmacht) adalah peristiwa yang terjadi di luar kesalahan debitor setelah dibuat perikatan yang debitor tidak dapat memperhitungkannya lebih dahulu pada saat dibuatnya perikatan atau sepatutnya tidak dapat memperhitungkannya dan yang merintangi pelaksanaan perikatan.83 Menurut Pasal 1245 KUHPerdata, dalam keadaan memaksa, debitor tidak dapat dipertanggungjawabkan, karena keadaan ini timbul di luar kemauan dan kemampuan debitor. Unsur-unsur keadaan memaksa adalah sebagai berikut :84

1) Tidak dipenuhi prestasi karena terjadi peristiwa yang membinasakan / memusnahkan benda objek perikatan;

2) Tidak dipenuhi prestasi karena terjadi peristiwa yang menghalangi perbuatan debitor untuk berprestasi;

3) Peristiwa itu tidak dapat diketahui atau diduga akan terjadi pada waktu membuat perikatan.

81 H.Setiono, Op.Cit, hlm. 21-22

82 H.Setiono, Op.Cit, hlm. 22

83 H.Setiono, Op.Cit, hlm. 31

84Abdulkadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, hlm. 5

commit to user e. Risiko Keadaan Memaksa (Overmacht)

Adanya peristiwa yang dikategorikan sebagai overmacht membawa konsekuensi (akibat hukum), sebagai berikut :85

1) Kreditor tidak dapat menuntut pemenuhan prestasi;

2) Debitor tidak dapat lagi dinyatakan lalai;

3) Debitor tidak wajib membayar ganti rugi;

4) Risiko tidak beralih kepada debitor;

5) Kreditor tidak dapat menuntut pembatalan perjanjian timbal balik;

6) Perikatan dianggap gugur.

f. Berakhirnya Perikatan

Pasal 1381 Kitab Undang-undang Hukum Perdata menegaskan bahwa perikatan-perikatan hapus :

1) Karena pembayaran;

2) Karena penawaran pembayaran tunai, diikuti dengan penyimpangan atau penitipan;

3) Karena pembaharuan utang;

4) Karena perjumpaan utang atau kompensasi;

5) Karena percampuran utang;

6) Karena pembebasan utangnya;

7) Karena musnahnya barang yang terutang;

8) Karena kebatalan atau pembatalan;

9) Karena berlakunya suatu syarat batal, yang diatur dalam buku ke tiga bab ke satu KUHPerdata;

10)Karena lewatnya waktu, hal mana akan diatur dalam suatu bab tersendiri.

Berakhirnya perjanjian tidak diatur secara tersendiri dalam Undang-Undang, tetapi hal itu dapat disimpulkan dari beberapa ketentuan yang

85 Agus Yudha Hernoko, Hukum Perjanjian Asas Proporsionalitas dalam kontrak komersial, Kencana, Jakarta, 2010, hlm. 272

commit to user

ada dalam Undang-Undang tersebut. Berakhirnya suatu perjanjian tersebut disebabkan oleh :86

1) Ditentukan terlebih dahulu oleh para pihak, misalnya dengan menetapkan batas waktu tertentu, maka jika sampai pada batas yang telah ditentukan tersebut, mengakibatkan perjanjian hapus;

2) Undang-Undang yang menetapkan batas waktunya suatu perjanjian;

3) Karena terjadinya peristiwa tertentu selama perjanjian dilaksanakan;

4) Salah satu pihak meninggal dunia;

5) Adanya pernyataan untuk mengakhiri perjanjian yang diadakan oleh salah satu pihak atau pernyataan tersebut sama-sama adanya kesepakatan untuk mengakhiri perjanjian yang diadakan;

6) Putusan hakim yang mengakhiri suatu perjanjian yang diadakan;

7) Telah tercapainya tujuan dari perjanjian yang diadakan oleh para pihak.

6. Tinjauan tentang Pewarisan

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 33-39)

Dokumen terkait