• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

C. Tinjauan Tentang Televisi

Televisi berasal dari bahasa Yunani “tele” yang berarti jarak jauh, dan “vision” yang berarti penglihatan (Lathief, 1989:221). Adapun televisi dalam eksiklopedi nasional mempunyai pengertian, televisi adalah pengubah gambar (serta suara) menjadi sinyal listrik kemudian disalurkan dengan perantara kabel atau gelombang elektromagnetik untuk diubah menjadi bentuk semula oleh pesawat penerima (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 194).

Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia, televisi adalah pesawat sistem penyiaran gambar objek yang bergerak yang disertai dengan bunyi (suara) melalui angkasa dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dengan mengubahknya menjadi berkas cahaya yang dilihat dan bunyi yang dapat didengar, digunakan untuk penyiaran, pertunjukan, berita, dan sebagainya (KBBI, 1998:191).

Menurut catatan Agee, et al, siaran percobaan televisi di Amerika Serikat dimulai pada tahun1920-an. Para ilmuwan terus mengembangkan teknologi komunikasi dalam bentuk televisi ini. Antara tahun 1890 dan 1920, sekelompok ilmuwan Inggris, Prancis, Rusia, dan Jerman menyarankan pengembangan teknik-teknik transmisi gambar televisi. John L Baird, sebagai penemu dari Skotlandia, memeragakan pertama kali teknologi gambar hidup

30

televisi di London tahun 1926. Sejak itu televisi dapat menayangkan gambar-gambar hidup seperti film layar lebar. Sementara itu, The English Derby

membuat movie house (film televisi) pada tahun 1923. British Broadcast

Corporation (BBC) merupakan televisi siaran pertama di dunia yang

membuat jadwal televisi secara teratur pada 2 November 1936 (Elvinaro et al, 2014:134).

Jelas televisi siaran untuk dapat diterima di rumah harus melalui proses-proses tertentu. Kecanggihan yang ada pada televisi ini bila tidak ditunjang dengan sumber daya manusia menyebabkan televisi yang diterima menjadi tontonan yang membosankan. Karenanya untuk menjadikan televisi siaran ini tetap survive maka dibutuhkan tenaga-tenaga yang handal di bidangnya dan juga manajerial yang kua, setidaknya ada delapan hal yang harus dimiliki individu-individu di televisi siaran, individu yang handal tersebut harus memiliki :

a) Keahlian di bidang masing-masing b) Tanggung jawab profesi

c) Kreativitas

d) Sifat untuk bekerja sama e) Kepemimpinan yang bijaksana

f) Kesadaran pada fungsinya masing-masing

Dari beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa televisi adalah alat atau benda untuk menyiarkan siaran-siaran yang membawakan

31

suara dan gambar sekaligus dan dari siaran televisi penonton dapat mendengar dan melihat gambar yang disajikan. Stasiun televisi merupakan suatu tempat terpusatnya kegiatan dari suatu organisasi penyiaran (Darwanto, 1994:46). Televisi merupakan media yang dapat mendominasi media massa karena sifatnya yang dapat memenuhi kebutuhan.

2. Sejarah dan perkembangan televisi

Penemuan televisi telah melalui berbagai eksperimen yang dilakukan oleh para ilmuwan akhir abad 19 dengan dasar penelitian yang dilakukan oleh James Clark Maxwell dan Heinrich Hertz, serta penemuan Marconi pada tahun 1920. Paul Nipkow dan William Jenkins melalui eksperimennya menemukan metode pengiriman gambar melalui kabel. Televisi sebagai pesawat transmisi dimulai pada tahun 1925 dengan menggunakan metode mekanikal dari Jenkins. Pada tahun 1928 General Electronic Company mulai menyelenggarakan acara siaran televisi secara reguler. Pada tahun 1939 Presiden Franklin D. Roosevelt tampil di layar televisi. Sedangkan siaran televisi komersial Amerika dimulai pada 1 September 1940 (Elvinaro et al, 2014:136).

Televisi yang muncul setelah media cetak dan radio, ternyata memberikan nilai yang menakjubkan dalam sisi pergaulan hidup manusia pada saat sekarang ini baik terhadap pola perilaku, pola pikir, budaya, dan sebagainya. Dewasa ini hampir setiap negara memiliki stasiun pemancar

32

televisi sendiri. Bahkan pemirsa di rumah menikmati siaran dari berbagai penjuru dunia melalui parabola yang berfungsi sebagai sambungan satelit.

Kegiatan penyiaran melaui media televisi di Indonesia dimulai pada tanggal 24 Agustus 1962, bertepatan dengan dilangsungkannya pembukaan Pesta Olahraga se Asia IV atau Asean Games di Senayan. Sejak itu pula Televisi Republik Indonesia yang disingkat TVRI dipergunakan sebagai panggilan stasiun (station call) hingga sekarang. Selama tahun 1962-1963 TVRI berada di udara rata-rata satu jam sehari dengan segala kesederhanaannya (Elvinaro et al, 2014:136).

Saat itu, masyarakat Indonesia disuguhi tontonan realita yang begitu memukau, meskipun hanya siaran televisi hitam putih, tetapi siaran pertama televisi di Indonesia itu menjadi momentum yang sangat bersejarah. Sementara puncak ketenaran (booming) televisi di Indonesia sendiri dimulai tahun 1992 ketika RCTI mulai mengudara dengan bantuan decoder atau alat pemancar. Saat ini, di Indonesia sudah mengudara satu televisi pemerintah, yakni TVRI, dan beberapa televisi swasta, antara lain SCTV, MNC, ANTV, Indosiar, MetroTV, Trans TV, Trans 7, TVOne, Global TV, serta stasiun-stasiun lokal seperti, O Channel, Jak TV, CTV Banten, dan lain-lain (Askurifai, 2006:12).

Bagi masyarakat Indonesia, televisi bukan merupakan barang baru lagi. Hal ini dibuktikan dengan jumlah kepemilikan televisi yang terus meningkat setiap tahunnya dengan kecanggihan teknologinya yang juga

33

semakin meningkat. Seperti pada mulanya televisi yang pada awalnya hitam putih menjadi berwarna, dengan kecanggihan yang disesuaikan dengan perkembangan jaman. Semua stasiun televisi telah hadir setiap hari di tengah masyarakat Indonesia dengan menyajikan program tayangan yang beraneka ragam, dari yang bersifat hiburan, pendidikan, dan lain sebagainya.

D. Televisi Sebagai Media Dakwah

Berdakwah menggunakan media teknologi komunikasi (televisi), merupakan salah satu bentuk pengoptimalan fungsi teknologi tersebut. Kegiatan dakwah pada dasarnya tidak berbeda dengan kegiatan komunikasi secara umum. Dalam berkomunikasi kecanggihan media di samping komponen lain, komunikator, isi pesan, komunikan dan feedback, merupakan salah satu faktor sukses tidaknya suatu aktivitas komunikasi.

Di era modern saat ini dakwah tidak hanya dilakukan dengan cara langsung bertatap muka antara da’i (penceramah) dengan mad’u (masyarakat yang diceramahi). Namun dengan memanfaatkan media atau wasilah dakwah juga dapat dilaksanakan. Azis (2004) menjelaskan bahwa pada dasarnya dakwah dapat menggunakan berbagai wasilah yang dapat merangsang indra-inda manusia serta dapat menimbulkan perhatian untuk menerima dakwah. Semakin tepat dan efektif wasilah yang dipakai maka semakin efektif pula upaya pemahaman ajaran Islam pada masyarakat yang menjadi sasaran dakwah. Pemakaian media (terutama media massa) telah meningkatkan intensitas, kecepatan, dan jangkauan komunikasi yang dilakukan umat manusia terutama bila dibandingkan sebelum

34

adanya media massa seperti pers, radio, televisi, internet, dan sebagainya. Oleh karena itu sudah seyogyanya bagi para da’i memanfaatkan peluang ini dalam menyebarkan ajaran Islam diantaranya menggunakan televisi (Atabik, 2013:194). Diyakini hingga hari ini media televisi mampu menembus tembok kamar tidur keluarga yang tidak mungkin ditembus oleh individu. Besarnya magnet media terhadap khalayak menjadikan televisi mampu menyedot perhatian pemirsa 5-6 jam untuk menonton acara televisi dengan jumlah penonton mencapai 94%. Lebih lanjut aksi media lewat tampilannya yang berulang dapat memberikan efek pengaruh terhadap masyarakat sebagai konsumen baik individu atau kelompok (Juniawati, 2014:216).

Muhyidin (2002) menjelaskan, sebagai sebuah sarana televisi sebagai media dakwah mempunyai kelebihan dibanding media lain. Kelebihan televisi sebagai media dakwah jika dibandingkan dengan media yang lainnya adalah sebagai berikut : (Atabik, 2013:196)

a) Televisi memiliki jangkauan yang sangat luas sehingga ekspansi dakwah dapat menjangkau tempat yang lebih jauh. Bahkan pesan-pesan dakwah bisa disampaikan pada mad’u yang berada di tempat-tempat yang sulit dijangkau.

b) Televisi mampu menyentuh mad’u yang heterogen dan dalam jumlah yang besar. Hal ini sesuai dengan salah satu karakter komunikasi massa yaitu komunikan yang heterogen dan tersebar. Kelebihan ini jika dimanfaatkan dengan baik tentu akan berpengaruh positif dalam aktifitas

35

dakwah. Seorang da’i yang bekerja dalam ruang yang sempit dan terbatas bisa menjangkau mad’u yang jumlahnya bisa jadi puluhan juta dalam satu sesi acara.

c) Televisi mampu menampung berbagai varian metode dakwah sehingga membuka peluang bagi para da’i memacu kreatifias dalam mengembangkan metode dakwah paling efektif.

d) Media televisi bersifat audio visual. Hal ini memungkinkan dakwah dilakukan dengan menampilkan pembicaraan sekaligus visualisasi berupa gambar.

Kehadiran televisi dengan berbagai stasiun televisi baik nasional maupun swasta secara tidak langsung menjadikan alternatif tontonan yang sangat luas. Televisi sangat efektif untuk kepentingan dakwah, karena kemampuannya yang dapat menjangkau daerah yang cukup luas dengan melalui siaran gambar sekaligus narasinya (suaranya). Dakwah melalui televisi dapat dilakukan dengan cara baik, dalam bentuk ceramah, sandiwara, ataupun drama. Dengan melalui televisi seorang pemirsa dapat mengikuti dakwah, seakan ia berhadapan dan berkomunikasi langsung di hadapan da’i. Sangat menarik dakwah melalui televisi, dan apalagi jika da’i benar-benar mampu menyajikan dakwahnya dalam suatu program yang mudah dan disenangi berbagai kalangan masyarakat (Muhaimin, 1994:87).

36 BAB III

GAMBARAN UMUM

A. Gambaran Umum Program Non-profit SAKSI (Satu Kamera Sejuta Inspirasi) di TVRI Jawa Tengah

Program non-profit SAKSI (Satu Kamera Sejuta Inspirasi) merupakan proogram yang ditayangkan di TVRI Jawa Tengah. Program ini menggali inspirasi dari tokoh-tokoh penting dalam bidangnya dengan mengungkap pemikiran-pemikiran, ide-ide, dan tindakan dari tokoh dalam mencapai kesuksesannya.

Program ini bersifat non-profit, yaitu mempunyai tujuan yang tidak komersil, tanpa ada perhatian terhadap hal-hal yang bersifat mencari laba (keuntungan).

Dalam proses produksi SAKSI (Satu Kamera Sejuta Inspirasi) melalui 3 tahapan yaitu: pra produksi, produksi, pasca produksi. Pada tahap ini kegiatan awal yang dilakukan dalam proses produksi SAKSI (Satu Kamera Sejuta Inspirasi) adalah persiapan atau pra-production. Dalam hal ini adalah menetapkan narasumber, kemudian waktu dan lokasi shooting yang disesuaikan dengan narasumber, lalu selanjutnya menentukan topik pembahasan yang dilakukan oleh Rifqi Aulia Erlangga sebagai producer, screnwriter, sekaligus presenter program non-profit SAKSI (Satu Kamera Sejuta Inspirasi).

37

Pada tahapan selanjutnya yaitu produksi, dalam hal ini tim produksi memulai untuk shooting dengan melibatkan penggunaan peralatan-peralatan yang rumit dan koordinasi sekelompok individu yang memiliki kemampuan teknis untuk mengkomunikasikan pikiran dan perasaan kepada penonton. Pelaksanaan produksi dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya pada tahapan pra produksi.

Tahapan pada proses pasca produksi merupakan tahap penyelesaian dan mengemas tayangan setelah shooting. Pasca produksi adalah semua kegiatan setelah proses produksi sampai materi selesai dan siap ditayangkan. Pelaksanaan pasca produksi melibatkan editor yang mempunyai tugas memotong, dan memilah gambar.

Program non-profit SAKSI (Satu Kamera Sejuta Inspirasi) mempunyai durasi penayangan selama 30 menit dimulai pada pukul 15:30 - 16:00 WIB setiap hari Minggu.

B. Tujuan dan Sasaran

SAKSI (Satu Kamera Sejuta Inspirasi) adalah program non-profit acara talk show yang dikemas dengan sederhana, ringan, dan menarik sehingga tidak sulit mengerti dan memahami acara dan tema apa yang disajikan. Tujuan dari program non-profit SAKSI (Satu Kamera Sejuta Inspirasi) ini dalam setiap produksinya menghadirkan sosok tokoh yang dinilai mampu membangkitkan semangat agar orang lain tidak pantang menyerah, selalu antusias dan semangat, dan selalu berusaha bangkit dari keterpurukan, serta melakukan tindakan nyata

38

untuk menjadikan hidup menjadi lebih baik supaya dapat memberikan sebanyak mungkin manfaat bagi orang banyak.

Karena dikemas dengan ringan, maka penonton atau audiens dalam program ini tidak dibatasi secara tingkatan umur. Anak-anak, remaja, dan orang dewasa sasaran utama dari terbentuknya program non-profit SAKSI (Satu Kamera Sejuta Inspirasi).

C. Kerabat Kerja

Sutradara : Ahmad Shofiudin Latif Produser : Rifqi Aulia Erlangga

Eksekutif Produser : Ahmad Shofiudin Latif Editor : Billy Anderson

Penulis Naskah : Rifqi Aulia Erlangga Editor Naskah : Billy Anderson

D. Cuplikan Gambar Video Saksi (Satu Kamera Sejuta Inspirasi)

39

Gambar 2. Sumber : Wawancara dengan Buya Syafi’i Ma’arif

Gambar 3. Sumber : Wawancara dengan Mahfud MD

40

Dari beberapa cuplikan gambar di atas diambil dari video SAKSI (Satu Kamera Sejuta Inspirasi) yang telah diunggah di YouTube yang menggambarkan seorang presenter sedang bersama narasumber diantaranya adalah; Buya Syafi’i Ma’arif, Mahfud MD, dan Emha Ainun Nadjib.

E. Transkrip Dialog 1. Episode Mahfud MD

Judul : SAKSI Episode Mahfud MD

Diunggah Hari/Tanggal : 16 September 2013 Pembawa Acara : Rifqi Aulia Erlangga Narasumber : Mahfud MD

Gambar 5. Sumber : Episode Mahfud MD

R : Pak Mahfud MD di masa muda, waktu itu masa yang paling krusial untuk bapak itu pilihan apa?

M : Ketika saya remaja memang tidak banyak alur negatif yang relatif agak cenderung merusak seperti saat ini. Saya hidup di masa remaja pada tahun 70an, pada saat itu kita masih begitu bersahaja, narkoba hampir

41

tidak ada, dunia gemerlap tidak seperti sekarang, kemudian tantangan materialisme juga tidak terlalu banyak sehingga waktu muda saya banyak belajar, membaca buku. Ketika saya masih semester akhir di sebuah perguruan tinggi di Jogja saya menikah dengan istri saya.

R : Kira-kira bapak bisa sampaikan untuk menyelamatkan mereka anak-anak muda, apakah harus mengurung diri di perpustakaan atau bapak punya saran lain.

M : Yang penting orang yang mengidolakan seseorang yang dianggap baik itu satu hal yang sangat positif, itu artinya bangsa ini mempunyai harapan bahwa ke depan itu kita masih punya kader-kader bangsa yang peduli terhadap bangsa dan negara. Jamannya sudah lain, tidak harus mengurung diri di perpustakaan karena kita sudah bisa belajar lewat dunia maya, kalau saya dulu yang saya hadapi adalah real space,

sekarang cyber space. Saya kira remaja sekarang sudah harus bisa menghadapi dunia maya. Saya juga sering menyarankan kepada anak-anak muda untuk menguasai IT, ikuti perkembangan karena tanpa itu kita juga tidak akan maju.

Perkembangan masyarakat dari waktu ke waktu semakin cepat, cepat pertumbuhan isunya maupun cepat peredarannya, kalau kita terlambat tidak mengikuti itu kita akan sulit maju. Perbanyak informasi dan informasi itu harus dipilih yang positif.

42

R : Bapak sangat memperhatikan masalah pendidikan, banyak orang belakangan ini yang sangat mendewa-dewakan prestasi yang tertulis seperti di raport padahal tidak semua orang akademisnya bagus. Komentar bapak untuk anak muda yang sebenarnya punya potensi lain tapi tidak bakat sekolah, apa yang bisa bapak sampaikan?

M : Setiap potensi yang melekat pada diri manusia jika dikembangkan akan memberi manfaat. Oleh sebab itu dikembangkan potensi yang setiap orang miliki itu sesuai dengan kecenderungannya, ahli sepak bola jika sungguh-sungguh juga bisa besar karena sepak bola, asal ditekuni saja karena Tuhan memberi begitu banyak aspek kehidupan yang kemudian menjadi kecenderungan masing-masing orang. Kegagalan seseorang kadang kala karena dia tanggung, tidak berani mengambil resiko atas apa yang ada dihadapannya. Oleh sebab itu, ia tidak mencoba, tidak mau memaksimalkan potensi diri. Intinya adalah sungguh-sungguh.

R : Apa yang menjadi panggilan hati pak Mahfud sehingga saya harus berkontribusi untuk negara?

M : Teorinya orang itu jika kebutuhan ekonominya minimal sudah terpenuhi biasanya orang tidak butuh lagi soal ekonomi. Tapi ada teori lain mengatakan sesudah kebutuhan ekonomi terpenuhi lalu orang mempunyai kebutuhan lain yaitu aktualisasi. Mungkin itu yang kemudian sekarang mendorong saya untuk bekerja di luar bidang pendidikan, misal menjadi menteri, ketua MK, itu dalam rangka

43

aktualisasi diri. Saya ingin mengabdi untuk memperbaiki bukan menguasai.

R : Anak muda jaman bapak dengan saat ini tantangannya lain, kontribusi yang dilakukan terutama untuk negara karena yang apatis dengan negara ini juga banyak. Cara sederhana untuk berkontribusi kepada negar ini menurut pak Mahfud apa pak?

M : Anak muda harus tau bahwa negara ini punya semua modal yang diperlukan untuk maju dan punya semua modal yang bisa kita berikan kepada setiap warga negara untuk maju sehingga setiap anak muda sekarang ini sebenarnya punya peluang untuk maju seperti yang lain. Saya kira anak-anak muda harus punya harapan. Membangun nasionalisme itu harus dengan mengenal potensi negeri sendiri. Jangan sampai di bawa terlalu jauh oleh dunia maya dan saya ingin katakan bahwa kemajuan setiap orang itu termasuk setiap anak muda itu hanya tergantung pada usaha dia sekeras apa, itu akan menentukan masa depan setiap orang.

R : Jadi selama kita optimis, kita kerja keras kita tidak berpangku tangan terhadap kepemimpinan bapak yakin kita akan kecipratan suksesnya? M : Saya yakin bahwa kesuksesan itu hanya bisa dibangun dengan

kesungguhan karena sumber daya yang dimiliki itu jauh lebih banyak dibanding bangsa-bangsa lain.

44

R : Mana yang harus kita perbaiki lebih dulu apakah rakyatnya atau para pemimpinnya?

M : Menurut saya itu simultan, artinya kesadaran kolektif itu harus diraih oleh semua warga

2. Episode Buya Syafi’i Ma’arif

Judul : SAKSI Episode Buya Syafi'i Ma'arif Diunggah Hari/Tanggal : 19 September 2013 Pembawa acara : Rifqi Aulia Erlangga Narasumber : Buya Syafi'i Ma'arif

Gambar 6. Sumber : Episode Buya Syafi’ie Ma’arif

R : Buya dikenal sebagai orang yang keras terhadap pemerintah, komentarnya sedikit tegas tapi entah kenapa tidak membuat orang sakit hati.

B : Saya mencintai Indonesia sepenuh hati dan saya tidak rela kalau bangsa dan negara yang cantik ini dirusak oleh anak-anaknya sendiri dan itu terjadi

45

karena secara moral kita sudah lama pingsan atau koma. Inilah keadaan yang harus kita perbaiki dan jangan tenggelam dalam pesimisme, jangan tenggelam dalam keputusasaan. Dalam batas-batas apapun kita harus berbuat sesuatu walaupun kecil tapi harus dilakukan secara maksimal. R : Peluang Indonesia untuk lebih baik dalam perbaikan karakternya,

peluangnya besar atau tidak?

B : Ini sangat tergantung kepada pemimpinnya. Jika pemimpinnya baik akan ada keteladanan bagi masyarakat. Money politic sangat merusak sekali dapat menghancurkan pola bangsa, dan itu tidak bisa sembuh dalam waktu dekat. Kita coba bersama-sama, media massa termasuk televisi dan tokoh-tokoh agama dari semua golongan, kita coba bahwa bangsa ini menunggu tangan dingin kita untuk memperbaiki keadaan yang sudah terlanjur agak parah.

R : Lintas agama di Indonesia ini kan agamanya banyak, kepercayaannya banyak, tapi kesannya itu mudah disulut. Saya tidak tau apa ada tujuan lain dibalik perselisihan tapi kesan yang terlihat adalah damainya agama-agama di Indonesia itu tidak semudah kelihatannya.

B : Bukan hanya antar muslim dan non-muslim, juga di dalam NU dan Muhammadiyah kita mencoba merajut persaudaraan itu dalam rangka memperbaiki modal bangsa.

R : Selebihnya bagaimana menurut Buya cara kita untuk menyampaikan rajutan yang sama di tingkat elit agar bisa sampai tergerak menyeluruh.

46

B : Nah, kita memerlukan agen-agen di tingkat provinsi, kabupaten sampai ke bawah. Untuk itu media menjadi sangat penting, televisi, surat kabar, dan lain-lain.

R : Yang bisa kita lakukan sebagai rakyat biasa untuk dapat berkontribusi untuk bangsa.

B : Kita perlu menciptakan critical mass kita harap akan muncul kantong-kantong kekuatan rakyat sipil yang bersama-sama untuk memperbaiki citra Indonesia yang cantik. Indonesia potensinya cantik sekali.

R : Orang seusia saya yang masih muda, banyak sekali yang di Indonesia ingin ke luar negeri, ke Eropa, Amerika, namun Buya yang sudah ke mana-mana mengakui dengan tulus dan jujur Indonesia itu jauh lebih cantik. B : Cantik sekali, saya tidak bisa membayangkan kok ada dunia semacam ini.

Ini yang menurut saya kita harus sadar betul jangan sampai kita berkhianat kepada bangsa. Dosa besar dan dusta besar.

R : Masalah pemimpin, lebih baik tidak memilih sama sekali atau memilih yang terbaik diantara yang tidak bagus-bagus amat.

B : Ini negara demokrasi, kita memerlukan partisipasi dari rakyat dalam berpolitik. Kita carilah yang pincang di antara yang lumpuh, yang baik ideal memang sulit, kita cari yang terbaik lalu kita pantau terus. Bangsa ini memerlukan tangan-tangan lembut yang betul-betul tampil secara optimal dengan sepenuh hati.

47 3. Episode Emha Ainun Nadjib

Judul : SAKSI Episode Emha Ainun Nadjib Diunggah Hari/Tanggal : 26 November 2013 Pembawa Acara : Rifqi Aulia Erlangga Narasumber : Emha Ainun Nadjib

Gambar 7. Sumber : Episode Emha Ainun Nadjib

R : Saya memiliki kesempatan yang luar biasa karena bisa kembali menghadirkan Cak Nun, atau Emha Ainun Nadjib. Saya ingin berbicara mengenai kebangsaan bersama Cak Nun, saya pribadi berpikir dengan banyaknya media saat ini seakan akan Indonesia antara mau maju dan tidak maju tapi kok cenderung banyak negatifnya. Cak Nun punya komentar? C : Terlalu jaih jika bicara negatif dan postitif, karena itu bisa secara ilmu,

moral, bisa secara budaya. Kita bicara kebangsaannya dulu, kita sudah memilih untuk berdemokrasi, jadi kita bukan lagi jadi manusia Indonesia, pilihannya menjadi manusia dunia. Kalau saya manusia jawa, saya benerin

48

betul sampai jawa bener-bener betul supaya saya bermanfaat untuk Indonesia.

R : Berarti Cak Nun termasuk yang setuju kalau kita tidak usah berpikir yang nasionalis sekali yang penting bermanfaat untuk lokasi yang kecil-kecil dulu.

C : Metode apa saja kan selalu berbuatlah ibda’ binafsih (dimulai dari diri sendiri), sebenarnya tidak usah jadi metode, itu sudah otomatis. Tapi sekarang ini yang disebut manfaat saja juga tidak jelas. Kamu jadi gubernur, pengusaha sukses, bermanfaat untuk keindonesiaan, kemanusiaan, untuk moral atau untuk apa, hampir semua parameter mengalami kelunturan. Saya cinta Indonesia dan saya coba bantu semampu

Dokumen terkait