• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan tentang terpidana

Dalam dokumen PENULISAN HUKUM (SKRIPSI) (Halaman 27-0)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Tinjauan tentang terpidana

Terpidana adalah orang yang dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Seorang terpidana memiliki hak sebagai berikut :

a. Berhak mendapat salinan putusan pidana ;

b. Berhak mengajukan permohonan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung (Pasal 263 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana).

Permintaan peninjauan kembali dilakukan atas dasar :

1) Apabila terdapat keadaan baru yang menimbulkan dugaan kuat, bahwa jika keadaan itu sudah diketahui pada waktu sidang masih berlangsung, hasilnya akan berupa putusan bebas dan putusan lepas dari segala tuntutan penuntut umum tidak dapat diterima atau terhadap perkara itu diterapkan ketentuan pidana yang lebih ringan;

2) Apabila dalam pelbagai putusan terdapat pernyataan bahwa sebagai dasar dan alasan putusan yang dinyatakan telah terbukti itu, ternyata telah bertentangan satu dengan yang lain;

3) Apabila putusan itu dengan jelas memperlihatkan suatu kekhilafan hakin atau suatu kekeliruan yang nyata;

4) Atau apabila dalam putusan itu suatu perbuatan yang didakwakan telah dinyatakan terbukti, akan tetapi tidak diikuti oleh suatu pemidanaan.

c. Jika diputus pidana denda, berhak atas jangka waktu satu bulan untuk membayar denda tersebut dengan perpanjangan waktu paling lama satu bulan (Pasal 273 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana);

d. Berhak atas berita acara pelaksanaan putus dan pengadilan (Pasal 278 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana);

commit to user

e. Jika telah memenuhi isi amar putusan, berhak segera mendapatkan kembali barang-barang miliknya yang telah disita oleh penyidik, penuntut umum atau pengadilan (Pasal 215 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana);

f. Berhak mengajukan permohonan grasi

Grasi adalah pengampunan berupa perubahan, peringanan, pengurangan, atau penghapusan pelaksanaan pidana kepada terpidana yang diberikan oleh Presiden. Syarat dan pelaksanaan grasi diatur dalam Undnag-undang Nomor 22 Tahun 2002;

g. Berhak atas remisi, asimilasi, cuti menjelang bebas, dan pembebasan bersyarat (Nur Muhamad Wahyu Kuncoro, 2011 : 122-123).

Adapun pengertian lebih lanjut tentang hak-hak seorang terpidana mendapatkan remisi, pembebasan bersyarat, asimilasi, cuti menjelang bebas yaitu sebagai berikut:

a) Remisi

Remisi adalah hak berupa pengurangan masa pidana yang diberikan kepada narapidana dan anak pidana.

b) Pembebasasan bersyarat

Pembebasan bersyarat adalah proses pembinaa narapidana di luar lembaga permasyarakatan setelah menjalani sekurang-kurangnya 2/3 (dua per tiga) masa pidananya atau minimal sembilan (9) bulan.

c) Asimilasi

Asimilasi adalah proses pembinaan narapidana dan anak didik permasyarakatan yang dilaksanakan dengan membaurkan narapidana dan anak didik permasyarakatan dalam kehidupan masyarakat.

d) Cuti menjelang bebas

Cuti menjelang bebas adalah proses pembinaan di luar lembaga permasyarakatan bagi narapidana yang menjalani masa pidana atau sisa masa pidana yang pendek ( Nur muhamad Wahyu Kuncoro, 2011 :132-135).

commit to user 2. Tinjauan Tentang Grasi

Dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2002, grasi adalah pengampunan berupa perubahan, peringanan, pengurangan, atau penghapusan pelaksanaan pidana kepada terpidana yang diberikan oleh Presiden. Tujuan pemberian grasi dalam bentuk pemberian remisi ini adalah kepentingan para terhukum sendiri, karena telah menunjukan kelakuan yang baik sewaktu menjalani hukuman, disamping itu tujuannya adalah kepentingan negara dimana para terhukum tersebut akan lebih cepat kembali ke masyarakat. Hal ini sesuai dengan tujuan lembaga Permasyarakatan itu sendiri. Disamping kedua bentuk pemberian grasi di atas, pada era ini banyak ditemukan perkara-perkara yang telah diputuskan oleh pengadilan untuk dimohonkan grasi kepada Presiden.

Terhadap putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, tepidana dapat mengajukan grasi kepada Presiden. Putusan pemindanaan yang dapat dimohonkan grasi adalah pidana mati, penjara seumur hidup, penjara paling rendah 2 (dua) tahun. (Undang-undangNomor 22 Tahun 2002 tentangGrasi Bab II Pasal 2)

Permohonan grasi menurut Undang – undang Nomor 22 Tahun 2002 tentangGrasi Pasal 2 ayat (3) yang hanya diajukan 1 (satu) kali, kecuali dalam hal :

a. Terpidana yang pernah ditolak pemberian grasinya dan telah lewat waktu 2 (dua) Tahun sejak tanggal permohonan grasi;

b. Terpidana yang pernah diberi grasi dari pidana mati menjadi pidana penjara seumur hidup dan telah lewat waktu 2 (dua) Tahun sejak tanggal keputusan grasi diterima.

Pemberian grasi adalah wewenang dari Presiden, ialah merupakan salah satu dari wewenang prerograip negara untuk membatalkan sekuruhnya atau sebagian pidana yang telah dijatuhkan, atau merobah pidana itu menjadi suatu pidana yanng lebih ringan sifatnya (lebih berat tidak mungkin) ( R.Soesilo, 1982 : 137). Di dalam Pasal 4 ayat (2) Undang-undangNomor 22 Tahun

commit to user

2002tentang Grasi, bahwa pemberian grasi oleh Presiden dapat berupa : peringanan atau perubahan jenis pidana, pengurangan jumlah pidana, penghapusan pelaksanaan pidana.

Terhadap putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, dapat diajukan permohonan grasi kepada Presiden secara tertulis oleh : 1) Terpidana dan atau kuasa hukumnya;

2) Keluarga terpidana dengan persetujuan terpidana;

3) Keluarga terpidana tanpa persetujuan terpidana, dalam hal yang dijatuhkan adalah pidana mati.

Menurut Pasal 2 ayat (2) Undang-undangNomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi, bahwa putusan pemindanaan yang dapat dimohonkan grasi adalah : pidana mati, pidana seumur hidup dan pidana penjara paling singkat 2 (dua) Tahun. Adapun tata cara pengajuan grasi menurut Undang-undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi adalah sebagai berikut yaitu:

a) Hak mengajukan grasi diberitahukan kepada terpidana oleh hakim ketua sidang yang metus perkara tingkat pertama (Pasal 5 ayat (1));

b) Jika pada waktu putusan pengadilan dijatuhkan terpidana tidak hadir, hak grasi diberitahukan secara tertulis oleh panitera dari pengadilan yang memutus perkara tingkat pertama (Pasal 5 ayat (2));

c) Permohonan grasi oleh terpidana atau kuasa hukmnya di ajukan kepada Presiden (Pasal 6 ayat (1));

d) Permohonan grasi dapat pula di ajukan oleh keluarga terpidana, dengan persetujuan terpidana (Pasal 6 ayat (2));

e) Dalam hal terpidana dijatuhi hukuman mati, permohonan grasi dapat diajukan oleh keluarga terpidana tanpa persetujuan dari terpidana (Pasal 6 ayat (3));

f) Permohonan grasi dapat diajukan sejak putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap (Pasal 7 ayat (1));

g) Permohonan grasi tidak dibatasi oleh tenggang waktu tertentu (Pasal 7 ayat (2));

commit to user

h) Permohonan grasi diajukan secara tertulis kepada Presiden. Permohonan dilakukan oleh terpidana, kuasa hukumnya, atau keluarganya (Pasal 8 ayat (1));

i) Salinan permohonan grasi disampaikan kepada pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama untuk diteruskan kepada Mahkamah Agung (Pasal 8 ayat (2));

j) Permohonan grasi dan salinannya dapat pula disampaikan oleh terpidana melalui Kepala Lembaga Permasyarakatan tempat terpidana menjalani pidana (Pasal 8 ayat (3));

k) Dalam hal permohonan grasi dan salinannya diajukan melalui Kepala Lembaga Permasyarakatan, lalu Kepala Lembaga Permasyarakatan menyampaikan permohonan grasi tersebut kepada Presiden dan salinannya dikirimkan kepada pengadilan yang memutus pada tingkat pertama paling lambat tujuh hari terhitung sejak diterimanya permohonan grasi dan salinannya (Pasal 8 ayat (4));

l) Dalam jangka waktu paling lambat 20 (dua puluh) hari terhitung sejak tanggal penerimaan salinan permohonan grasi, pengadilan tingkat pertama mengirimkan salinan permohonan dan berkas perkara terpidana kepada Mahkamah Agung (Pasal 9);

m) Dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal diterimanaya salinan permohonan dan berkas perkara, Mahkamah Agung mengirimkan pertimbangan kepada Presiden (Pasal 10);

n) Presiden memberikan keputusan atas permohonan grasi setelah memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung (Pasal 11 ayat (1));

o) Keputusan presiden dapat berupa pemberian atau penolakan grasi (Pasal 11 ayat (2));

p) Jangka waktu pemberian atau penolakan grasi paling lambat tiga bulan terhitung sejak diterimanya pertimbangan Mahkamah Agung (Pasal 11 ayat (3));

commit to user

q) Keputusan Presiden tentang grasi disampaikan kepada terpidana dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari terhitung sejak ditetapkannya Keputusan Presiden (Pasal 13 ayat (1)),

r) Salinan keputusan Presiden tentanng grasi disampaikan kepada:

(1) Mahkamah Agung;

(2) Pengadilan yang memutus perkara pada tingkat petama;

(3) Kejaksaan negeri yang menuntut perkara terpipdana;

(4) Lembaga permasyarakatan tempat terpidana menjalani pidana (Pasal 12 ayat (2)).

3. Tinjauan TentangAsas Persamaan Di Muka Hukum (Equality Before The Law)

Penjelasan dalam Kitab Undang-undang Hukum acara Pidana (KUHAP) disebutkan sepuluh asas yang mengatuur perlindungan terhadap “keluhuran harkat serta martabat manusia”.

Adapun sepuluh asas tersebut adalah sebagai berikut yaitu:

a. Perlakuan yang sama di muka hukum tanpa diskriminasi apapun ; b. Praduga tidak bersalah ;

c. Hak untuk memperoleh kompensasi (ganti rugi) dan rehabilitasi ; d. Hak untuk mendapatkan bantuan hukum ;

e. Hak kehadiiran terdakwa di muka pengadilan ;

f. Peradilan yang bebas dan dilakukan dengan cepat dan sederhana ; g. Peradilan yang terbuka untuk umum ;

h. Pelanggaran atas hak – hak warga negara (penangkapan, penahanan, penggledahan, dan penyitaaan) harus didasarkan pada Undang-undang dan dilakukan dengan surat perintah (tertulis) ; i. Kepada tersangka sejak sat dilakukan penangkapan dan atau

penahanan selain wajib diberi tahu dakwaan dan dasar hukum apa yang di dakwakan kepadanya, juga wajib diberi tahu haknya itu, termasuk hak untuk menghubungi dan minta bantuan penasehat hukum ;

commit to user

j. Kewajiban pengadilan untuk mengendalikan pelaksanaan putusannya.

Berdasarkan dengan adanya asas-asas yang menggambarkan penerapan Hak Asasi Manusia dalam proses peradilan pidana tersebut, bahwa yang paling penting untuk diperhatikan adalah asas yang pertama dan kedua, yaitu perlakuan yang sama di muka hukum, tanpa diskriminasi papapun dan praduga tidak bersalah. Pada dasarnya, kedua asas tersebut harus saling mengisi, sejalan harmonis, dan kemudian diimplementasikan dalam peraturan-peraturan, demi tegaknya hukum dan keadilan (Mien Rukmini, 2003 : 84-85).

Dalam Pasal 37 ayat (1) Undang-undang Dasar 1945, menyatakan bahwa : “ Setiap warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. Ayat ini mengisyaratkan suatu asas hukum yang sangat fundamental, yaitu asas persaaan kedudukan dalam hukum atauu dikenal dengan istilah “Equality Before the Law”.

Menurut penjelasan Undang-undang Dasar 1945, terutama Pasal 27 tersebut bersangkut pautkan dengan peraturan mengenai hak –hak warga Negara. Pasal 27 ayat (1) tesebut mengandung pengertian bahwa ketentuan itu dapat memberikan jaminan kepada setiap warga Negara atas keamanan pribadi dimana setiap orang mempunyai status yang sama baik di depan hukum maupun pemerintahan dan juga dalam kewajiban untuk menjunjung hukum dan pemerintahan. Konsekuensi yang harus dilaksanakan ialah bahwa Pasal itu mengharuskan Negara untuk tidak memperlakukan orang tidak adil baik dalam pengadilan maupun pemerintahan, artinya tidak seorangpun dapat dipaksa melawan kemauan orang lain dengan cara ancaman, desakan maupun dengan sikap politis (Haris Suche H dalam Mien Rukmini, 2003 : 23 –24).

Sebagai latar belakang filosofis dan pengaturan persamaan kedudukan di hadapan hukum, dinyatakan bahwa manusia diciptakan oleh Sang Pencipta dilengkapi oleh hak-haknya. Oleh karenanya, hak-hak tersebut melakat pada jadi diri manusia sebagai hak yang sangat mendasar atau asasi (O.C.Kaligis, 2009 : 365)

commit to user

Magna Carta 1215 yang dianggap sebagai embrio penegakan HAM yang dikenal dewasa ini menmgisyaratkan persamaan kedudukan di hadapan hukum (equality before the law) dapat disimpulakan dari Pasal 39 dan Pasal 40. Inti kedua Pasal tersebut adalah bahwa manusia yang bebas dijamin hak-haknya oleh hukum dan diisyaratkannya persamaan kedudukan di hadapan hukum (S.Tasrif dalam O.C.Kaligis, 2009 : 366).

4. Tinjauan Tentang Putusan Pengadilan Yang Telah Berkekuatan Hukum Tetap(inkracht van gewijsde)

Putusan pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka, yang dapat berupa pemindanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam Undang-undang ini (Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana).

Putusan pengadilan yang memperoleh kekuatan hukum tetap dapat dilihat dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undangNomor 22 Tahun 2002 tentangGrasi adalah sebagai berikut:

a. Putusan pengadilan tingkat pertama yang tidak diajukan banding atau kasasi dalam waktu yang ditentukan oleh Undang-undangtentangHukum Acara Pidana;

b. Putusan pengadilan tingkat banding yang tidak diajukan kasasi dalam waktu yang telah ditentukan oleh Undang-undangtentangHukum Acara Pidana;

c. Putusan Kasasi

Pengadilan adalah pengadilan dilingkungan peradilan umum atau pengadilan di lingkungan peradilan militer yang memutus perkara pidana.

Adapun bentuk-bentuk putusan pengadilan yaitu antara lain sebagai berikut :

a) Putusan Bebas

Adalah terdakwa dijatuhi putusan bebasdari tuntutan hukum, dalam ketentuan Pasal 191 ayat 1 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana menjelaskan apabila pengadilan berpendapat :

(1) Dari hasil pemeriksaan di sidang pengadilan;

commit to user

(2) Kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.

b) Putusan pelepasan dari segala tuntutan hukum

Dalam Pasal 191 ayat (2) yang berbunyi “Jika pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana maka terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan hukum.”

Pada Pasal 191 ayat (2), putusan pelepasan dari segala tuntutan hukum, berdasarkan kriteria sebagai berikut :

(1) Apa yang didakwakan kepada terdakwa memang terbukti secara sah dan meyakinkan;

(2) Tetapi sekallipun terbukti, hakim berpendapat bahwa perbuatan yang didakawakan tidak merupakan tindak pidana.

c) Putusan pemindanaan

Pada Pasal 193 ayat (1), bahwa penjatuhan potysan pemindanaan terhadap terdakwa didasarkan pada penilaian pengadilan itu .Jika pengadilan berpendapat dan menilai terdakawa terbukti bersalah melakukan kesalahan tindak pidana yang didakwakan kepadanya, pengadilan menjatuhkan hukuman pidana terhadap terdakwa;

d) Penetapan tidak berwenang mengadili,

e) Putusan yang menyatakan dakwaan tidak dapat diterima;

f) Putusan yang menyatakan dakwaan batal demi hukum.

Adapun pelaksanaan putusan pengadilan menurut Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana sebagai berikut :

(1) Pelaksanaan pputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dilakukan oleh jaksa, yang untuk itu panitera mengirimkan salinan surat putusan kepadanya (Pasal 270);

(2) Dalam hal pidana mati pelaksanaannya dilakukan tidak di muka umum dam menurut ketentuan Undang-undang (Pasal 271);

(3) Jika terpidana dipidhana penjara atau kurungan dan kemudian dijatuhi pidana yang sejenis sebelum ia menjalani pidana yang dijatuhkan

commit to user

terdahulu, maka pidana itu dijalankan berturut-turut dimulai dengan pidana yang dijatuhkan lebih dahulu (Pasal 272);

(4) Ketentuan yang dimaksud dalam Pasal inin adalalh bahwa pidana yang dijatuhkan berturut-turut itu ditetapkan untuk dijalani oleh terpidana berturut-turut secara berkesinambungan di antara menjalani pidana yang satu dengan yang lain (Pasal 272);

(5) Jika putusan pengadilan menjatuhkan pidanan denda, kapada terpidana diberikan jangka waktu satu bulan untuk membayayr denda tersebut kecuali dalam putusan acara pemeriksaan cepat yang harus seketika dilunasi (Pasal 273 ayat (1));

(6) Dalam hal terdapat alasan kuat, jangka waktu sebagaiman tersebut pada ayat (1) dapat diperpanjang untuk paling lama satu bulan (Pasal 273 ayat (2));

(7) Jika puusan pengadilan juga menetapkan bahwa barang bukti dirampas untuk negara, selain pengecualian sebagaimana pada Pasal 46, jaksa menguasakan benda tesebut kepada kantor lelang negara dan edalam waktu tiga bulan untuk dijual lelang, yanbg hasilnya dimasukkanke kas negara untuk dan atas nama jaksa (Pasal 273 ayat (3));

(8) Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (3) dapat diperpanjang untuk paling lama satu bulan (Pasal 273 yat (4)), dimaksud dalam Pasal 99, maka pelaksanaannuya dilakukan menurut tatacara putusan perdata (Pasal 274);

(9) Apabila lebih dari satu orang dipidana dalam satu perkara, maka biaya perkara dan atau ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dibebankan kepada mereka bersama-sama secara berimbang (Pasal 275);

(10) Dalam hal pengadilan menjatuhkan pidana bersyarat, maka pelaksanaannya dilakukan dengan pengawasan serta pengamatan yang sungguh-sungguh dan menurut ketentuan Undang-undang (Pasal 276).

commit to user

B. Kerangka Pemikiran

Secara garis besar kerangka pemikiran dalam penulisan hukum ini dapat dilihat dalam skema berikut ini :

Gambar Skematik .1 Kerangka Pemikiran

Dilakukan oleh mantan Bupati Kutai Kertanegara

Syaukani Hasan Rais Vonis pidana 6 tahun pada tingkat

kasasi Permohonan grasi

kepada Presiden

Terpidana mendapatkan potongan masa tahanan

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 Tentang Grasi

Kepres Nomor 7/G Tahun 2010

Pemberian Grasi Oleh Presiden

Permohonan Grasi diterima oleh Presiden

Pertimbangan Mahkamah Agung

Terpidanabebas

Perkara korupsi

commit to user Penjelasan gambar 1

Berdasarkan skematik diatas, maka penulis akan memaparkan tentang posisi kasus mengenai Mantan Bupati Kutai Kartanegara berkenaan dengan kasus korupsi dirinya. Adapun penjelasannya dapat dijabarkan pada uraian penjelasan kerangka pemikiran sebagai berikut.

Awalnya perkara korupsi yang dilakukan mantan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani Hasan Rais yang banyak menuai dilematis di masyarakat. Pada kasus ini terpidana melakukan tindak pidana 4 (empat) kasus korupsi dana APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah senilai kurang lebih Rp 113 milliar, antara lain fakta hukum tentang perbuatan menetapkan dan menandatangani surat keputusan Bupati tentang penetapan pembagian penerimaan uang perangsang atas penerimaan daerah terhadap minyak bumi dan gas, perbuatan penunjukan langsunng pekerjaan studi kelayakan (feasibility study) pembangunan bandar udara utama Samarinda Kutaikartanegara kepada PT.Mahakam Diastyar Internasional (PT.MDI), perbuatan mengambil dan menggunakan dana pembangunan bandar udara dalam APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2005, perbuatan menggunakan dana kesejahteraan rakyat / bantuan sosial dalam APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2005 (O.C Kaligis & Associates, 2009 : 374-396).

Pada Maret 2007, Syaukani ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), akan tetapi setelah menjalani pemidanaan yang kurang lebih 3 (tiga) Tahun, pada awal Januari 2009, Syaukani dirawat di RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) dikarenakan terpidana mengalami gagal pernapasan, menderita kebutaan dan kelumpuhan kaki tangan dan kerusakan memori yang tidak memungkinkan untuk menjalani masa pemindanaan. Apabila hal pemindaan tetap dilakukan maka akan membebani anggaran negara dan sangat menyusahkan pihak sipir (hhtp : // www. politikindonesia . com/index.php?k=politisiana&j=8819 tanggal akses 27 Mei 2011).

September 2009, pihak pengacara Syaukani Hasan Rais mengajukan upaya Grasi kepada Presiden, setelah mempertimbangkan dengan matang, Presiden

commit to user

Susilo Bambang Yudhoyono mengabulkan Grasi yaitu Keppres Nomor 7 / G / Tahun 2010 pada 15 Agustus Tahun 2010. Adapun isi Keputusan Presiden tersebut adalah pengampunan atau grasi yaitu pengurangan masa tahanan Syaukani Hasan Rais yang divonis enam tahun penjara dikurangi menjadi tiga tahun penjara saja. Yang awalnya masa pemindanaannya Syaukani yang divonis 2,5 tahunpenjara oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada tingkat banding pada Desember 2007 dalam kasus korupsi APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Kutai Kartanegara yang kemudian diperberat pada tingkat kasasi yaitu putusan enam tahun pidana penjara dan diwajibkan mengembalikan kerugian negara Rp49,367 miliar. Setelah vonis 6 (enam) tahun dikurangi 3 (tiga) tahunsetelah menerima grasi yang kemudian dibebaskan. Pemberian grasi sudah sesuai dengan keputusan Presiden RI tentang grasi yang menyebutkan bahwa pengampunan itu diperuntukan bagi anak pidana, narapidana usia lanjut, narapidana pengidap penyakit permanen, dan Keputusan Presiden ini diperkuat dengan disetujuinya Undang-undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi.Pihak Lembaga Permasyarakatan kelas I Cipinang telah menindak lanjutinya dengan menyerahkan berkas pelepasan Syaukani di RS Cipto Mangunkusumo, Rabu (18/8) malam. Syaukani yang kini buta, lumpuh kaki dan tangan, serta mengalami kerusakan memori paska gagal nafas pada awal Januari 2009, menerima langsung berkas yang diantarkan dua staf registrasi Lembaga Permasyarakatan Cipinang itu. Dibantu petugas Lembaga Permasyarakatan dan seorang kerabatnya, berkas pelepasan narapidana yang sudah ditandatangani Kepala Lembaga Permasyarakatan Cipinang I Wayan Sukerta itu, kemudian dibubuhi sidik jari Syaukani.Dengan terbitnya grasi, maka mantan Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) ini bisa langsung bebas, karena telah dipenjara lebih dari 3 Tahun. Dan Syaukani juga telah melunasi denda dan uang pengganti ke negara lewat KPK senilai 49,36 miliar rupiah serta denda sebesar 250 juta rupiah. Hal ini sebagaimana putusan Mahkamah Agung atas perkara korupsi Syaukani Hasan Rais (http : // www.jpnn.com/berita.detail-704282# tgl akses 27 mei 2011).

commit to user

Presiden memberikan grasi kepada Syaukani atas dasar kemanusiaan.

Bahwa pemberian grasi itu selektif sekali, atas dasar kemanusiaan dan kesehatan orang yang bersangkutan. Apalagi orang itu telah menjalani hukuman dari separuh dari vonis yang ada. Pemberantasan korupsi tetap menjadi prioritas utama bagi pemerintah, akan tetapi hak-hak manusia terkait kesehatan atau faktor-faktor kemanusiaan juga diperhatikan. Selain itu, apabila orang yang sakit-sakitan tidak mungkin terus dipenjara walaupun Syaukani bersalah telah melakukan korupsi dana APBD, gagasan Syaukani membangun daerahnya juga perlu dilihat, banyak jasa-jasa yang dilakukan oleh Syaukani (http : // www.batavia.co.id, 10 sms nanyain grasi syaukani, sby menjawab itu soal kemanusiaan, 10 agustus 20010 ,tanggal akses 27 Juni 2011).

Mahkamah Agung langsung pasang badan terkait pemberian grasi kepada mantan Bupati Kutaikartanegara Syaukani Hasan Rais. Ketua Mahkamah Agung, Harifin Tumpa mengaku bahwa pihaknya memberikan pertimbangan pemberian grasi kepada presiden salah satu alasannya adalah mengurangi beban biaya negara. Selain itu, berdasarkan alasan kemanusiaan, sosial, kemasyarakatan dan efisiensi itulah Mahkamah Agung memberikan pertimbangan kepada Presiden agar Syaukani memperoleh grasi. Mantan wakil ketua Mahkamah Agung bidang nonyudisial menceritakan,pemberian grasi tersebut berawal dari permohonan pengacara Syaukani kepada kepala Lembaga Permasyarakatan Cipinang lengkap dengan alasan-alasannya. Permohonan grasi tersebut dilanjutkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang akhirnya sampai ke tangan Mahkamah Agung. Setelah menerima permohonan itu, Harifin memerintahkan salah seorang Hakim Agung untuk menangani dan memeriksa permohonan tersebut. Dalam laporan kesehatan Rumah Sakit Pertamina tanggal 3 Maret 2010, diketahui Syaukani menderita serentetan penyakit dalam yang mengakibatkan gangguan dan keterbatasan mental serta fisik. Selain surat keterangan dari tim dokter, pihak Syaukani menyerahkan beberapa foto yang menggambarkan kondisi Syaukani. Harifin mengungkapkan, behwa foto-foto Syaukani sangat memprihatinkan. Bahwa Mahkamah Agung tidak menelusuri secara langsung,misalnya ke Rumah Sakit tempat dirawatnya Syaukani, Mahkamah Agung hanya percaya kepada sepenuhnya dengan

commit to user

keterangan tim dokter dan foto-foto yanng sudah dikirim. Sementara itu pada tanggal 20 Agustus 2010, Sekretaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum Denny Indrayana serta Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Patrialis Akbar menjenguk Syaukani di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Mantan ketua DPD Golkar Kaltim itu dirawat secara intensif di ruang 105 Gedung A RSCM. Saat dijenguk Syaukani hanya tergolek lemah seakan tak sadar diri.

Matanya tertutup, namun mulutnya terus menganga. Menurut Yusuf Misbach, ketua tim dokter yang merawat Syaukani, kondisi Syaukani sangat memprihatikan. Dia menerangakan, Syaukani mengalami stroke, beberapa

Matanya tertutup, namun mulutnya terus menganga. Menurut Yusuf Misbach, ketua tim dokter yang merawat Syaukani, kondisi Syaukani sangat memprihatikan. Dia menerangakan, Syaukani mengalami stroke, beberapa

Dalam dokumen PENULISAN HUKUM (SKRIPSI) (Halaman 27-0)

Dokumen terkait