commit to user
KAJIAN HAK TERPIDANA UNTUK MENGAJUKAN GRASI TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN YANG SUDAH BERKEKUATAN
HUKUM TETAP (INKRACHT VAN GEWIJSDE) DAN RELEVANSINYA DENGAN ASAS PERSAMAAN DI MUKA HUKUM (EQUALITY BEFORE
THE LAW) (TELAAH TEORITIK PEMBERIAN GRASI BAGI TERPIDANA PERKARA KORUPSI MANTAN BUPATI KUTAI
KERTANEGARA SYAUKANI HASAN RAIS)
PENULISAN HUKUM (SKRIPSI)
Disusun dan diajukan untuk
Melengkapi Persyaratan Guna Meraih Derajat Sarjana dalam Ilmu Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta
Oleh :
WIWIK ESTRIA WIJAYANTI NIM : E1107083
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011
commit to user
commit to user
commit to user
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan),kerjakanlah dengan sungguh-sunguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada
Tuhanmu lah hendaknya kamu berharap”.
(Q.S Al Insyiroh ayat 6-8)
Kesombongan adalah tanah dimana segala dosa lain tumbuh, dan induk darimana dosa lain datang”.
( William Barclay )
“Membaca menciptakan manusia seutuhnya, konferensi menciptakan manusia siap pakai, dan menulis menciptakan manusia sejati”.
(Francis Bacon )
“Mengetahui kekurangan diri sendiri adalah tangga untuk mnecapai cita-cita dan berusaha mengisi kekurangan tersebut dengan kebenaran luar biasa.”
(Hamka)
“Semua kesulitan dijalani dengan senyuman jauh lebih berharga daripada dijlani dengan keluhan.”
(Penulis)
PERSEMBAHAN
1. Allah SWT 2. Keluargaku 3. My beloved 4. Teman-temanku 5. Almamaterku
commit to user PERNYATAAN
Nama : Wiwik Estria Wijayanti NIM : E1107083
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa penulisan hukum (skripsi) berjudul KAJIAN HAK TERPIDANA UNTUK MENGAJUKAN GRASI TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN YANG SUDAH BERKEKUATAN HUKUM TETAP (INKRACHT VAN GEWIJSDE) DAN RELEVANSINYA DENGAN ASAS PERSAMAAN DI MUKA HUKUM (EQUALITY BEFORE THE LAW) (TELAAH TEORITIK PEMBERIAN GRASI BAGI TERPIDANA PERKARA KORUPSI MANTAN BUPATI KUTAI KERTANEGARA SYAUKANI HASAN RAIS)
adalah betul- betul karya sendiri. Hal – hal yang bukan karya saya dalam penulisan hukum (skripsi) ini diberi tanda citasi dan ditunjukkan dalam daftar pustaka. Apabila kemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan hukum (skripsi) dan gelar yang saya peroleh dari penulisan hukum (skripsi) ini.
Surakarta, Juli 2011 Yang membuat pernyataan
Wiwik Estria Wijayanti NIM. E1107083
commit to user ABSTRAK
WIWIK ESTRIA WIJAYANTI, E1107083. 2011. KAJIAN HAK TERPIDANA UNTUK MENGAJUKAN GRASI TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN YANG SUDAH BERKEKUATAN HUKUM TETAP (INKRACHT VAN GEWIJSDE) DAN RELEVANSINYA DENGAN ASAS PERSAMAAN DI MUKA HUKUM (EQUALITY BEFORE THE LAW) (TELAAH TEORITIK PEMBERIAN GRASI BAGI TERPIDANA PERKARA KORUPSI MANTAN BUPATI KUTAI KERTANEGARA SYAUKANI HASAN RAIS) Fakultas Hukum Universitas Negeri Sebelas Maret Surakara.
Penelitian ini bertujuan untukmengetahui pemenuhan hak grasi terpidana mantan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani Hasan Rais untuk mengajukan grasi terhadap putusan penagdilan yang sudah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) selanjtunya kajian perkara korupsi sudah sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi dan mengkaji lebih lanjut tentang pemberian grasi kepada mantan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani Hasan Rais tidak bertentangan dengan prinsip persamaan di muka hukum (equality before the law).
Sebagai penelitian hukum, maka penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif atau doktrinal. Sumber bahan hukum penelitiannya meliputi bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Analisa bahan hukumnya menggunakan analisa bahan hukum dengan metode deduksi, dengan cara menarik kesimpulan dari suatu permasalalhan yang bersifat umum terhadap permasalahan konkret yang dihadapi.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat diambil suatu kesimpulan yaitu Bahwa dalam pemenuhan hak grasi terhadap mantan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani Hasan Rais sudah sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi, karena Syaukani Hasasn Rais sudah memenuhi Syarat-syarat pada Undang- undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi yaitu : Grasi merupakan suatu pengampunan dari Presiden kepada terpidana, Syaukani adalah seorang terpidana yang telah memperoleh putusan pengadilan yang sudah inkracht van gewijsde (putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap), Syaukani divonis enam tahun pada tingkat kasasi, Syaukani sudah menjalani pemidanaan selama tiga tahun, Permohonan grasi Syaukani diajukan oleh kuasa hukumnya kepada Presiden.Dalam hal pengajuan grasi, Syaukani Hasan Rais sudah memenuhi ketentuan yang berlaku saat menjalani penegakan hukum sehingga tidak bertentangan dengan asas persamaan di muka hukum. Pemberian grasi kepada Syaukani Hasan Rais ini didasarkan pada pertimbangan Mahkamah Agung kerena beberapa alasan yaitu : alasan kemanusiaan karena Syaukani menderita penyakit permanen, biaya negara yang dikeluarkan untuk perawatan Syaukani sangat besar apabila Syaukani masih berada dalam tahanan, dan juga Syaukani telah berjasa atas gagasan-gagasannya untuk membangun daerahnya Kabupaten Kutai Kartanegara.
Kata kunci : Terpidana, Grasi, inkracht van gewijsde, equality before the law.
commit to user ABSTRACT
Wiwik Estria Wijayanti, E1107083. 2011. A STUDY ON THE DEFENDANT’S RIGHT TO APPLY CLEMENCY AGAINST THE COURT VERDICT WITH FIXED LEGAL POWER (INKRACHT VAN GEWIJSDE) AND THE RELEVANCE TO THE EQUALITY BEFORE THE LAW PRINCIPLE (A THEORETICAL STUDY ON CLEMENCY GIVING FOR THE DEFENDANT OF CORRUPTION CASE, THE FORMER REGENT OF KUTAI KERTANEGARA SYAUKANI HASAN RAIS) Faculty of Law of Surakarta Sebelas Maret University.
This research aims to find out whether or not the fulfillment of clemency right for the defendant the former regent of Kutai Kertanegara Syaukani Hasan Rais to apply the clemency against the court verdict with fixed legal power (inkracht van gewijsde) in the corruption has been consistent with the Act Number 22 of 2002 about clemency to study further whether or not the clemency administration to the former regent of Kutai Kertanegara Syaukani Hasan Rais is contradictory with the equality before the law principle.
As the law research, this study belongs to a normative or doctrinal law research.
The law material source of research included primary and secondary law materials. The law material analysis was done using deductive method, by drawing a conclusion from general problem to the concrete problem encountered.
Considering the result of research, it can be concluded that the fulfillment of clemency right for the defendant the former regent of Kutai Kertanegara Syaukani Hasan Rais has been consistent with the Act Number 22 of 2002 abut the Clemency, because Hasan Rais has fulfilled the conditions in the Act Number 22 of 2002 abut the Clemency: Clemency is a forgiveness from the president to defendant, Syaukani is the defendant who has obtained inkracht (court verdict with fixed legal power), Syaukani was sentenced with six years imprisonment in the clemency level, Syaukani has undertaken conviction for three years. The clemency application of Syaukani is proposed by his lawyer to the President. In the term of clemency application, Syaukani Hasan Rais has fulfilled the prevailed provision when undertaking the law enforcement so that it is not contradictory with the equality before the law principle. The clemency administration to Syaukani Hasan Rais is based the Supreme Court’s deliberation because of such reasons: humanity reason because Syaukani suffers from permanent disease, the cost the state should spend for Syaukani’s treatment is very high when Syaukani is still in the prison, and Syaukani also has large contribution to the ideas of development for his area, Kutai Kartanegara Regency.
Keywords: Defendant, Clemency, Equality Before The Law Principle, inkracht van gewijsde.
commit to user KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur hanya milik Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan berupa ilmu pengetahuan dan ijin-Nya, akhirnya penulis berhasil menyelesaikan penulisan hukum dengan judul KAJIAN HAK TERPIDANA UNTUK MENGAJUKAN GRASI TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN YANG SUDAH BERKEKUATAN HUKUM TETAP (INKRACHT VAN GEWIJSDE) DAN RELEVANSINYA DENGAN ASAS PERSAMAAN DI MUKA HUKUM (EQUALITY BEFORE THE LAW) (TELAAH TEORITIK PEMBERIAN GRASI BAGI TERPIDANA PERKARA KORUPSI MANTAN BUPATI KUTAI KERTANEGARA SYAUKANI HASAN RAIS) ini tepat sesuai waktu yang telah direncanakan.
Penulisan hukum ini disusun untuk memenuhi dan melengkapi syarat- syarat untuk memperoleh derajat Sarjana dalam Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta..
Tentunya selama penyusunan penulisan hukum ini, maupun selama penulis menuntut ilmu di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret, tidak sedikit bantuan yang penulis terima baik moril maupun materiil dari berbagai pihak.
Dalam kesempatan ini ijinkan penulis menghaturkan terima kasih yang setulus- tulusnya kepada :
1. Ibu Prof. Dr. Hartiwiningsih, S.H., M.Hum. selaku Dekan Fakultas Hukum UNS yang telah memberi izin dan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini;
2. Bapak Edy Herdyanto,S.H.,M.H., selaku Pembimbing I Penulisan Hukum penulis. Terima kasih atas kesabaran dalam membimbing dan mengarahkan sehingga penulisan hukum (skripsi) ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu;
3. Bapak Muhammad Rustamaji, S.H.,M.H., selaku Pembimbing II Penulisan Hukum penulis. Terima kasih atas kesabaran dalam membimbing dan
commit to user
mengarahkan sehingga penulisan hukum (skripsi) ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu;
4. Bapak Harjono, S.H., MH. selaku Ketua Program Non Reguler Hukum UNS;
5. Seluruh Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret atas segala dedikasinya terhadap seluruh mahasiswa termasuk Penulis selama Penulis menempuh studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta;
6. Seluruh karyawan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret yang telah banyak membantu segala kepentingan Penulis selama Penulis menempuh studi di Fakultas Hukum UNS Surakarta;
7. Alm. Bpk.Karwito HS dan Ibu Siti Murwanti yang telah memberikanku doa, cinta, kasih sayang dan ridho yang menjadi kekuatan dan bekal dalam menjalankan kehidupan ini;
8. Saudara-saudaraku, mbak Na, mas Aris, mas Hen yang telah memberiku motivasi dan wejangan-wejangannya;
9. My beloved Mahesa Taruwibowo, yang telah memberikan motivasi, semangat dan menemani penulis di manapun kapanpun;
10. Keluarga Besar penulis yang telah memberikan perhatian dan dukungan baik moril maupun materiil kepada penulis;
11. Teman-teman Angkatan 2007 Non Reguler, teman-teman kuliah terimakasih atas setiap waktu yang kita habiskan bersama, dan semua pihak yang membantu dalam penulisan hukum;
commit to user
Penulis sadari bahwa penulisan hukum ini jauh dari sempurna. Oleh sebab itu penulis sangat terbuka akan segala sumbang saran dan kritik yang bersifat membangun.
Semoga penulisan hukum ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua, terutama untuk penulisan, kalangan akademisi, praktisi serta masyarakat umum.
Surakarta, Juli 2011
Wiwik Estria Wijayanti NIM. E1107083
commit to user DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERSETUJUAN...ii
HALAMAN PENGESAHAN...iii
HALAMAN MOTTO dan PERSEMBAHAN...iv
HALAMAN PERNYATAAN...v
ABSTRAK...vi
KATA PENGANTAR...ix
DAFTAR ISI...xi
DAFTAR GAMBAR...xiii
DAFTAR TABEL...xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah...1
B. Perumusan Masalah...6
C. Tujuan Penelitian...7
D. Manfaat Penelitian...7
E. Metode Penelitian...8
F. Sistematika Penulisan Hukum...11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori...13
1. Tinjauan tentang terpidana...13
2. Tinjauan tentang grasi...15
3. Tinjauan tentang asas persamaan di muka hukum (Equality Before The Law)...18
4. Tinjauan tentang putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (Inkracht van gewijsde)...20
B. Kerangka Pemikiran...23
commit to user BAB III HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian...28 B. Pembahasan...30
1. Analisis Pemenuhan Hak Terpidana Mantan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani Hasan Rais Untuk Mengajukan Grasi Terhadap Keputusan Hakim Yang Sudah Berkekuatan Hukum Tetap (inkracht van gewijsde) ditinjau dari Undang-undang Grasi Nomor22 Tahun
2002...30 2. Analisis Terhadap Pemberian Grasi Syaukani Hasan Rais Tidak
Bertentangan Dengan Prinsip Persamaan di Muka Hukum (Equality Before The Law)...38 BAB IV PENUTUP
A. Simpulan...46 B. Saran...47 DAFTAR PUSTAKA
commit to user DAFTAR GAMBAR
Gambar Skematik 1 Kerangka Pemikiran...23 Gambar Skematik 2 Alur Pengajuan Grasi Syaukani
Hasan Rais...28 Gambar Skematik 3 Analisa Pemenuhan Hak Terpidana...30 Gambar Skematik 4 Kesesuaian Grasi Atas Asas Pemenuhan
di Muka Huukum...39
commit to user DAFTAR TABEL
Tabel 1 Pemenuhan Hak Terpidana Syaukani Hasan Rais yang Ditinjau dari Undang-undang
Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi...34 Tabel 2 Penegakan Hukum Syaukani Hasan Rais...43
commit to user BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Korupsi selalu mendapatkan perhatian yang lebih dibandingkan dengan tindak pidana lainnya. Fenomena ini dapat dimaklumi mengingat dampak negatif yang ditimbulkan oleh tindak pidana demikian ini. Dampak yang ditimbulkan dapat menyentuh berbagai bidang kehidupan. Korupsi merupakan masalah serius, tindak pidana ini dapat membahayakan stabilitas dan keamanan masyarakat, membahayakan pembangunan sosial ekonomi, dan juga politik serta dapat merusak nilai-nilai demokrasi dan moralitas karena lambat laun perbuatan ini seakan menjadi budaya. Korupsi merupakan ancaman terhadap cita-cita menuju masyarakat adil dan makmur (Etika Farida, 2009 : 2).
Meningkatnya tindak pidana korupsi yang tidak terkendali akan membawa bencana tidak saja terhadap kehidupan perekonomian nasional tetapi juga pada kehidupan berbangsa dan bernegara pada umumnya. Tindak pidana korupsi yang meluas dan sistematis juga merupakan pelanggaran terhadap hak sosial dan hak ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, tindak pidana korupsi tidak lagi dapat digolongkan sebagai kejahatan biasa melainkan telah menjadi kejahatan luar biasa. Begitu pun dalam upaya pemberantasannya tidak lagi dapat dilakukan secara biasa, tetapi dituntut dengan cara-cara luar biasa (Etika Farida, 2009 : 2).
Korupsi merupakan suatu penyakit dalam masyarakat, suatu hal yang dapat menghambat jalannya pembangunan di negara Indonesia tercinta ini. Karena itu, sebagaimana juga berbagai penyakit dalam masyarakat lainnya, penyakit ini perlu diberantas. Darimana dan bagaimana memulai pemberantasan korupsi, ketika penyimpangan kekuasaan itu sudah merasuk ke semua sektor di berbagai tingkatan, dalam lingkungan politik dan birokrasi yang tidak mendukung.
Sementara pemerintahan baru yang diharapkan masyarakat dapat memutus mata rantai korupsi yang ditinggalkan rezim lama, juga harus menghadapi kesulitan- kesulitan ekonomi, masalah politik dan keamanan yang juga sama pentingnya untuk diselesaikan dalam waktu bersamaan (Etika Farida, 2009 : 2-3).
commit to user
Sejauh ini banyak pihak di tanah air, termasuk pemerintah, yang meyakini penyelesaian masalah semacam itu sesuatu hal yang tidak mudah dan harus ditoleransi sebagai masalah bersama yang telah membudaya yang harus dihadapi dengan kesabaran tinggi, sambil berharap ada perebaikan dalam jangka panjang.
Tidak ada perbedaan signifikan korupsi yang terjadi pada era demokrasi ini, bahkan sesungguhnya merupakan kelanjutan sistem, pola dan cara-cara yang diwariskan orde baru. Terutama korupsi di birokrasi pemerintah relatif tidak mengalami perubahan. Hal ini mudah dipahami karena birokrasi hampir 100 persen masih di dominasi orang-orang lama, meskipun pemerintahannya berganti.
Juga tidak ada kebijakan untuk mereformasi birokrasi, termasuk lembaga pengawasan dan institusi hukum guna mempersempit peluang-peluang bagi terjadinya korupsi dan menjamin pelakunya diadili (Etika Farida, 2009 : 4).
Korupsi tidak hanya di lingkungan pemerintah pusat saja, namun kini sudah merambah di kalangan daerah. Adanya otonomi daerah ini yang menjadi faktor penunjang kebobrokan moral pada petinggi-petinggi dari daerah tersebut untuk berbuat korup. Salah satu kasus yang menyita perhatian masyarakat adalah kasus korupsi yang dilakukan mantan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani Hasan Rais yang banyak menuai dilematis di masyarakat. Pada kasus ini terpidana melakukan tindak pidana 4 (empat) kasus korupsi dana APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah senilai kurang lebih Rp 113 milliar, antara lain fakta hukum tentang perbuatan menetapkan dan menandatangani surat keputusan Bupati tentang penetapan pembagian penerimaan uang perangsang atas penerimaan daerah terhadap minyak bumi dan gas, perbuatan penunjukan langsunng pekerjaan studi kelayakan (feasibility study) pembangunan bandar udara utama Samarinda Kutaikartanegara kepada PT.Mahakam Diastyar Internasional (PT.MDI), perbuatan mengambil dan menggunakan dana pembangunan bandar udara dalam APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2005, perbuatan menggunakan dana kesejahteraan rakyat / bantuan sosial dalam APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2005 (O.C Kaligis & Associates, 2009 : 374-396).
commit to user
Pada Maret 2007, Syaukani ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), akan tetapi setelah menjalani pemidanaan yang kurang lebih 3 (tiga) Tahun, pada awal Januari 2009, Syaukani dirawat di RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) dikarenakan terpidana mengalami gagal pernapasan, menderita kebutaan dan kelumpuhan kaki tangan dan kerusakan memori yang tidak memungkinkan untuk menjalani masa pemidanaan. Apabila hal pemidanaan tetap dilakukan maka akan membebani anggaran negara dan sangat menyusahkan pihak sipir (http : // www.politikindonesia.com/index.php?k=politisiana&j=8819 tanggal akses 27 Mei 2011).
September 2009, pihak pengacara Syaukani Hasan Rais mengajukan upaya Grasi kepada Presiden, setelah mempertimbangkan dengan matang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengabulkan Grasi yaitu Keppres Nomor 7 / G / Tahun 2010 pada 15 Agustus Tahun 2010. Adapun isi Keputusan Presiden tersebut adalah pengampunan atau grasi yaitu pengurangan masa tahanan Syaukani Hasan Rais yang divonis enam tahun penjara dikurangi menjadi tiga tahun penjara saja. Yang awalnya masa pemindanaannya Syaukani yang divonis 2,5 tahunpenjara oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada tingkat banding pada Desember 2007 dalam kasus korupsi APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Kutai Kartanegara yang kemudian diperberat pada tingkat kasasi yaitu putusan enam tahun pidana penjara dan diwajibkan mengembalikan kerugian negara Rp 49,367 miliar. Setelah vonis 6 (enam) tahun dikurangi 3 (tiga) tahunsetelah menerima grasi yang kemudian dibebaskan. Pemberian grasi sudah sesuai dengan keputusan Presiden RI tentang grasi yang menyebutkan bahwa pengampunan itu diperuntukan bagi anak pidana, narapidana usia lanjut, narapidana pengidap penyakit permanen, dan Keputusan Presiden ini diperkuat dengan disetujuinya Undang-undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi.Pihak Lembaga Permasyarakatan kelas I Cipinang telah menindak lanjutinya dengan menyerahkan berkas pelepasan Syaukani di RS Cipto Mangunkusumo, Rabu (18/8) malam. Syaukani yang kini buta, lumpuh kaki dan tangan, serta mengalami kerusakan memori paska gagal nafas pada awal Januari 2009, menerima langsung berkas yang diantarkan dua staf registrasi Lembaga Permasyarakatan Cipinang
commit to user
itu. Dibantu petugas Lembaga Permasyarakatan dan seorang kerabatnya, berkas pelepasan narapidana yang sudah ditandatangani Kepala Lembaga Permasyarakatan Cipinang I Wayan Sukerta itu, kemudian dibubuhi sidik jari Syaukani.Dengan terbitnya grasi, maka mantan Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) ini bisa langsung bebas, karena telah dipenjara lebih dari 3 Tahun. Dan Syaukani juga telah melunasi denda dan uang pengganti ke negara lewat KPK senilai 49,36 miliar rupiah serta denda sebesar 250 juta rupiah. Hal ini sebagaimana putusan Mahkamah Agung atas perkara korupsi Syaukani Hasan Rais (http : // www.jpnn.com/berita.detail-704282# tgl akses 27 mei 2011).
Presiden memberikan grasi kepada Syaukani atas dasar kemanusiaan.
Bahwa pemberian grasi itu selektif sekali, atas dasar kemanusiaan dan kesehatan orang yang bersangkutan. Apalagi orang itu telah menjalani hukuman dari separuh dari vonis yang ada. Pemberantasan korupsi tetap menjadi prioritas utama bagi pemerintah, akan tetapi hak-hak manusia terkait kesehatan atau faktor-faktor kemanusiaan juga diperhatikan. Selain itu, apabila orang yang sakit-sakitan tidak mungkin terus dipenjara walaupun Syaukani bersalah telah melakukan korupsi dana APBD, gagasan Syaukani membangun daerahnya juga perlu dilihat, banyak jasa-jasa yang dilakukan oleh Syaukani (http : // www.batavia.co.id, 10 sms nanyain grasi syaukani, sby menjawab itu soal kemanusiaan, 10 agustus 20010 ,tanggal akses 27 Juni 2011).
Mahkamah Agung langsung pasang badan terkait pemberian grasi kepada mantan Bupati Kutaikartanegara Syaukani Hasan Rais. Ketua Mahkamah Agung, Harifin Tumpa mengaku bahwa pihaknya memberikan pertimbangan pemberian grasi kepada presiden salah satu alasannya adalah mengurangi beban biaya negara. Selain itu, berdasarkan alasan kemanusiaan, sosial, kemasyarakatan dan efisiensi itulah Mahkamah Agung memberikan pertimbangan kepada Presiden agar Syaukani memperoleh grasi. Mantan wakil ketua Mahkamah Agung bidang nonyudisial menceritakan,pemberian grasi tersebut berawal dari permohonan pengacara Syaukani kepada kepala Lembaga Permasyarakatan Cipinang lengkap dengan alasan-alasannya. Permohonan grasi tersebut dilanjutkan ke Pengadilan
commit to user
Negeri Jakarta Pusat yang akhirnya sampai ke tangan Mahkamah Agung. Setelah menerima permohonan itu, Harifin memerintahkan salah seorang Hakim Agung untuk menangani dan memeriksa permohonan tersebut. Dalam laporan kesehatan Rumah Sakit Pertamina tanggal 3 Maret 2010, diketahui Syaukani menderita serentetan penyakit dalam yang mengakibatkan gangguan dan keterbatasan mental serta fisik. Selain surat keterangan dari tim dokter, pihak Syaukani menyerahkan beberapa foto yang menggambarkan kondisi Syaukani. Harifin mengungkapkan, behwa foto-foto Syaukani sangat memprihatinkan. Bahwa Mahkamah Agung tidak menelusuri secara langsung,misalnya ke Rumah Sakit tempat dirawatnya Syaukani, Mahkamah Agung hanya percaya kepada sepenuhnya dengan keterangan tim dokter dan foto-foto yanng sudah dikirim. Sementara itu pada tanggal 20 Agustus 2010, Sekretaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum Denny Indrayana serta Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Patrialis Akbar menjenguk Syaukani di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Mantan ketua DPD Golkar Kaltim itu dirawat secara intensif di ruang 105 Gedung A RSCM. Saat dijenguk Syaukani hanya tergolek lemah seakan tak sadar diri.
Matanya tertutup, namun mulutnya terus menganga. Menurut Yusuf Misbach, ketua tim dokter yang merawat Syaukani, kondisi Syaukani sangat memprihatikan. Dia menerangakan, Syaukani mengalami stroke, beberapa anggota badannya tidak bisa bergerak dan tekanan darahnya drop, selain itu, mata Syaukani tidak bisa melihat, untuk berbicara pun dia mengalmi kesulitan, namun masih ada komunikasi meski sering melantur.Yusuf juga menjelaskan, yang membuat Syaukani sedemikian rupa adalah stroke dan bagian kepalanya sudah kerap kekurangan oksigen (http : // www.Batavia.co.id, negara tolak rawat syaukani, 21 Agustus 2010, tanggal akses 27 Juni 2011).
Berdasarkan hal yang telah diuraikan tentang grasi tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk menelitinya dan menyusunnya kedalam penulisan hukum dengan judul “KAJIAN HAK TERPIDANA UNTUK MENGAJUKAN GRASI TERHADAP PUTUSAN PENGADILAN YANG SUDAH BERKEKUATAN HUKUM TETAP (INKRACHT VAN GEWIJSDE) DAN RELEVANSINYA DENGAN ASAS PERSAMAAN DI MUKA HUKUM
commit to user
(EQUALITY BEFORE THE LAW) (TELAAH TEORITIK PEMBERIAN GRASI BAGI TERPIDANA PERKARA KORUPSI MANTAN BUPATI KUTAI KARTANEGARA SYAUKANI HASAN RAIS)”.
B. Perumusan Masalah
Untuk dapat memperjelas tentangpermasalahan yang ada agar pembahasannya lebih terarah dan sesuai dengan tujuan serta sasaran yang diharapkan, maka penting sekali adanya perumusan masalah yang akan dibahas.
Perumusan masalah juga akan memudahkan penulis dalam pengumpulan bahan hukum, menyusun bahan hukums dan menganalisisnya, sehingga penelitian dapat dilakukan secara mendalam dan sesuai dengan sasaran yang telah ditentukan. Adapun perumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah pemenuhan hak terpidana mantan Bupati Kutai Kertanegara Syaukani Hasan Rais untuk mengajukan grasi terhadap putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) dalam perkara korupsi sudah sesuai dengan ketentuan Undang-undangNomor 22 Tahun 2010 tentang Grasi ? 2. Apakah pemberian grasi kepada mantan Bupati Kutai Kertanegara Syaukani Hasan Rais tidak bertentangandengan prinsip persamaan di muka hukum (equality before the law)?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan suatu terget yang ingin dicapai dalam suatu penelitian sebagai suatu solusi atas masalah yang dihadapi (tujuan obyektif), maupun untuk memenuhi kebutuhan perorangan (tujuan subyektif). Dalam penelitian ini tujuan yang ingin dicapai adalah :
1. Tujuan Obyektif
a. Untuk mengetahui konsepsi sinkronisasi hak terpidana dalam mengajukan grasi terhadap putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap (inkracht) dalam perkara korupsi mantan Bupati Kutai Kertanegara Syaukani Hasan Rais,
commit to user
b. Untuk mengetahui relevansi asas persamaan di muka hukum (equality before the law) atas perkara korupsi mantan Bupati Kutai Kertanegara Syaukani Hasan Rais.
2. Tujuan Subyektif
a. Untuk memperluas wawasan pengetahuan serta pemahaman penulis terhadap teori-teori mata kuliah yang telah diperoleh penulis serta sinkronisasinya dengan pelaksanaan teori-teori tersebut dalam prakteknya, b. Untuk memperoleh bahan hukum yang lebih lengkap dan jelas sebagai
bahan untuk menyusun penulisan hukum, sebagai persyaratan dalam memperoleh gelar kesarjanaan di bidang Ilmu Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.
D. Manfaat Penelitian
Dalam setiap penelitian diharapkan adanya suatu manfaat dan kegunaan yang diperoleh dari penelitian, sebab besar kecilnya manfaat penelitian akan menentukan nilai-nilai dari penelitian tersebut. Adapun yang manjadi manfaat dari penelitian ini dibedakan antara manfaat teoritis dan manfaat praktis yaitu:
1. Manfaat Teoritis
a. Memberikan perkembangan pemikiran dalam ilmu hukum pada umumnya, dan pada Hukum Acara Pidana pada khususnya,
b. Dapat memberikan jawaban terhadap permasalah yang diteliti.
2. Manfaat Praktis
a. Memberikan pengetahuan pemikiran bagi para pihak yang memiliki kepentingan dalam penelitian ini,
b. Mengembangkan penalaran, membentuk pola pikir dinamis, dan untuk mengetahui kemampuan peneliti dalam menerapkan ilmu yang diperoleh, c. Untuk melatih Penulis dalam mengungkapkan permasalahan tertentu secara
sistematis dan berusaha memecahkan permasalahan yang ada tersebut dengan metode ilmiah yang baik,
commit to user
d. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan masalah penelitian ini.
E. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan unsur yang paling penting dalam penelitian untuk mendapatkan bahan hukum dengan validitas tinggi. Tanpa suatu metode maka seorang peneliti akan mengalami kesulitan dalam menentukan, merumuskan dan memecahkan masalah dalam mengungkapkan suatu kebenaran.
Penelitian hukum merupakan suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum yang berguna untuk menjawab isu hukum yang dihadapi (Peter Mahmud Marzuki, 2010: 35).
Beberapa hal yang menyangkut metode penelitian dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut:
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum normatif disebut juga penelitian hukum doktrinal atau penulisan hukum kepustakaan. Yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau bahan hukum sekunder, yaitu bahan hukum yang diperoleh dari hasil penelitian dan kajian bahan-bahan pustaka. Bahan-bahan tersebut disusun secara sistematis, dikaji kemudian ditarik kesimpulan dalam hubungannya dengan masalah yang diteliti. Hukum dikonsepkan sebagai apa yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan (law in books) atau hukum dikonsepkan sebagai kaidah atau norma yang merupakan patokan berperilaku manusia yang dianggap pantas (Amiruddin & H. Zainal Asikin, 2008: 118).Penelitian hukum normatif adalah suatu prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya (Johnny Ibrahim, 2006: 57).
2. Sifat Penelitian
Dalam usaha memperoleh bahan hukum yang diperlukan untuk menyusun penulisan hukum ini, maka akan dipergunakan metode penelitian preskriptif
commit to user
dan terapan. Sebagai suatu ilmu yang bersifat preskriptif, ilmu hukum mempelajari tujuan hukum, nilai-nilai keadilan, validitas aturan hukum, konsep-konsep hukum dan norma-norma hukum. Sebagai ilmu terapan ilmu hukum menetapkan standar prosedur, ketentuan-ketentuan, rambu-rambu dalam melaksanakan aturan hukum (Peter Mahmud Marzuki, 2008: 22).
3. Pendekatan Penelitian
Pendekatan (approach) yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kasus (case approach). Menurut Peter Mahmud Marzuki, pendekatan kasus dilakukan dengan cara melakukan terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu yang dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (Peter Mahmud Marzuki, 2008:94).
4. Jenis Bahan Hukum Penelitian
Bahan hukum adalah suatu keterangan atau fakta dari obyek yang diteliti.
Berkaitan dengan jenis penelitian yang dilakukan oleh penulis yang merupakan penelitian normatif, maka jenis bahan hukun yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis bahan hukum sekunder. Bahan hukum sekunder didapat dari sejumlah keterangan atau fakta-fakta yang diperoleh secara tidak langsung, yaitu melalui bahan hukum yang diperoleh dengan cara penelitian kepustakaan yang terdiri dari dokumen-dokumen, buku-buku literatur, himpunan peraturan perundang-undangan yang saat ini berlaku, hasil penelitian yang berwujud laporan, bahan-bahan dari internet maupun bentuk-bentuk lain yang berkaitan dengan masalah penelitian.
5. Sumber Bahan Hukum Penelitian
Sumber bahan hukum adalah tempat dimana bahan-bahan hukum dalam penelitian ini diperoleh. Sumber bahan hukum dalam penelitian ini berasal dari bahan-bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini, yang meliputi:
commit to user a. Bahan hukum primer
Bahan hukum primer merupakan bahan yang bersifat autoritatif artinya mempunyai otoritas. Bahan-bahan hukum primer terdiri dari perundang- undangan, catatan-catatan resmi atau risalah putusan hakim (Peter Mahmud Marzuki, 2008: 141). Yang menjadi bahan hukum primer dalam penelitian hukum ini adalah:
1) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum AcaraPidana, 2) Undang-undang Nomor 22 Tahun 2002 Tentang Grasi,
3) Kepres Nomor 7 / G / Tahun 2010 b. Bahan hukum sekunder
Bahan hukum sekunder berupa semua publikasi Tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi. Publikasi Tentang hukum meliputi ; buku-buku teks, kamus-kamus hukum, jurnal-jurnal hukum, dan komentar-komentar atas keputusan pengadilan (Peter Mahmud Marzuki, 2008 : 141)
6. Teknik Pengumpulan Bahan hukum
Berdasarkan jenis penelitian yang merupakan penelitian normatif maka untuk memeperoleh bahan hukum yang mendukung, kegiatan pengumpulan bahan hukum dalam penelitian ini adalah dengan studi kepustakaan (library research), yang dalam hal ini studi pustaka dilaksanakan dengan membaca dan mempelajari buku-buku literatur, surat kabar, majalah, internet, peraturan perundang-undangan dan dokumen resmi yang terkait dengan permasalahan yang sesuai dengan dasar penyusunan penulisan hukum ini.
7. Teknik Analisa Bahan hukum
Agar bahan hukum yang terkumpul dapat dipertanggungjawabkan dan dapat menghasilkan jawaban yang tepat dari suatu permasalahan maka perlu suatu teknik anaisis bahan hukum yang tepat. Analisis bahan hukum merupakan langkah selanjutnya untuk mengolah hasil penelitian menjadi suatu laporan.Di dalam penelitian studi kepustakaan, disajikan dalam penulisan yang
commit to user
lebih sistematis guna menjawab permasalahan yang telah dirumuskan.Dalam penelitian hukum ini permasalahan hukum dianalisa oleh penulis dengan metode deduksi, yaitu manarik kesimpulan dari suatu permasalahan yang bersifat umum terhadap permasalahan konkret yang dihadapi (Johnny Ibrahim, 2006: 393). Analisa dengan menggunakan metode deduksi ini dengan menggunakan premis mayor dan premis minor. Dalam premis mayor atau hal yang bersifat umum yaitu dengan menggunakan Undang-undang sebagai bahan acuan yang dalam hal ini adalah KUHAP yang disinkronisasi denganUndang- undangNomor 22 Tahun 2002 Tentang Grasi dan beserta teori-teorinya, sedangkan premis minor atau permasalahan konkret yang dihadapi adalah kasus permohonan grasi oleh Syukani Hasan Rais yang dikabulkan oleh Presiden di dalam Keppres Nomor 7 / G / Tahun 2010, dari hasil tersebut kemudian ditarik suatu kesimpulan.
F.Sistematika Penulisan Hukum
Untuk memepermudah pemahaman dalam pembahasan dan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai keseluruhan isi skripsi, penulis menjabarkan dalam bentuk sistematika skripsi sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini diuraikan hal-hal yang terdiri dari latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan metode penelitian.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini diuraikan mengenai dua sub bab yaitu kerangka teori dan kerangka pemikiran. Dalam kerangka teori penulis uraikan tinjauan tentang grasi, tinjauan tentang putusan yang sudah berkekuatan hukum tetap (inckraht van gewijsde), dan tinjauan tentang asas persamaan di muka umum (equality before the law).
Sedangkan dalam kerangka pemikiran akan menampilkan bagan kerangka pemikiran.
BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
commit to user
Pada bab ini penulis mencoba untuk menyajikan pembahasan Tentang hak terpidana mantan Bupati Kutai Kertanegara Syaukani Hasan Rais untuk mengajikan grasi terhadap utusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap (inckraht van gewijsde) dalam perkara korupsi sudah sesuai dengan ketentuan Undang- undang Nomor 22 Tahun2002 tentang Grasi dan pemberian grasi kepada mantan Bupati Kutai Kertanegara Syaukani Hasan Rais tidak bertentangan prinsip persamaan di muka umum (equality before the law).
BAB IV : PENUTUP
Pada bab ini diuraikan tentangpokok-pokok yang menjadi simpulan dan saran dari penelitian ini yang tentu saja berpedoman pada hasil penelitian dan pembahasan.
DAFTAR PUSTAKA
commit to user BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A.Kerangka Teori
1. Tinjauan Tentang Terpidana
Terpidana adalah orang yang dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Seorang terpidana memiliki hak sebagai berikut :
a. Berhak mendapat salinan putusan pidana ;
b. Berhak mengajukan permohonan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung (Pasal 263 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana).
Permintaan peninjauan kembali dilakukan atas dasar :
1) Apabila terdapat keadaan baru yang menimbulkan dugaan kuat, bahwa jika keadaan itu sudah diketahui pada waktu sidang masih berlangsung, hasilnya akan berupa putusan bebas dan putusan lepas dari segala tuntutan penuntut umum tidak dapat diterima atau terhadap perkara itu diterapkan ketentuan pidana yang lebih ringan;
2) Apabila dalam pelbagai putusan terdapat pernyataan bahwa sebagai dasar dan alasan putusan yang dinyatakan telah terbukti itu, ternyata telah bertentangan satu dengan yang lain;
3) Apabila putusan itu dengan jelas memperlihatkan suatu kekhilafan hakin atau suatu kekeliruan yang nyata;
4) Atau apabila dalam putusan itu suatu perbuatan yang didakwakan telah dinyatakan terbukti, akan tetapi tidak diikuti oleh suatu pemidanaan.
c. Jika diputus pidana denda, berhak atas jangka waktu satu bulan untuk membayar denda tersebut dengan perpanjangan waktu paling lama satu bulan (Pasal 273 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana);
d. Berhak atas berita acara pelaksanaan putus dan pengadilan (Pasal 278 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana);
commit to user
e. Jika telah memenuhi isi amar putusan, berhak segera mendapatkan kembali barang-barang miliknya yang telah disita oleh penyidik, penuntut umum atau pengadilan (Pasal 215 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana);
f. Berhak mengajukan permohonan grasi
Grasi adalah pengampunan berupa perubahan, peringanan, pengurangan, atau penghapusan pelaksanaan pidana kepada terpidana yang diberikan oleh Presiden. Syarat dan pelaksanaan grasi diatur dalam Undnag-undang Nomor 22 Tahun 2002;
g. Berhak atas remisi, asimilasi, cuti menjelang bebas, dan pembebasan bersyarat (Nur Muhamad Wahyu Kuncoro, 2011 : 122-123).
Adapun pengertian lebih lanjut tentang hak-hak seorang terpidana mendapatkan remisi, pembebasan bersyarat, asimilasi, cuti menjelang bebas yaitu sebagai berikut:
a) Remisi
Remisi adalah hak berupa pengurangan masa pidana yang diberikan kepada narapidana dan anak pidana.
b) Pembebasasan bersyarat
Pembebasan bersyarat adalah proses pembinaa narapidana di luar lembaga permasyarakatan setelah menjalani sekurang-kurangnya 2/3 (dua per tiga) masa pidananya atau minimal sembilan (9) bulan.
c) Asimilasi
Asimilasi adalah proses pembinaan narapidana dan anak didik permasyarakatan yang dilaksanakan dengan membaurkan narapidana dan anak didik permasyarakatan dalam kehidupan masyarakat.
d) Cuti menjelang bebas
Cuti menjelang bebas adalah proses pembinaan di luar lembaga permasyarakatan bagi narapidana yang menjalani masa pidana atau sisa masa pidana yang pendek ( Nur muhamad Wahyu Kuncoro, 2011 :132- 135).
commit to user 2. Tinjauan Tentang Grasi
Dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2002, grasi adalah pengampunan berupa perubahan, peringanan, pengurangan, atau penghapusan pelaksanaan pidana kepada terpidana yang diberikan oleh Presiden. Tujuan pemberian grasi dalam bentuk pemberian remisi ini adalah kepentingan para terhukum sendiri, karena telah menunjukan kelakuan yang baik sewaktu menjalani hukuman, disamping itu tujuannya adalah kepentingan negara dimana para terhukum tersebut akan lebih cepat kembali ke masyarakat. Hal ini sesuai dengan tujuan lembaga Permasyarakatan itu sendiri. Disamping kedua bentuk pemberian grasi di atas, pada era ini banyak ditemukan perkara-perkara yang telah diputuskan oleh pengadilan untuk dimohonkan grasi kepada Presiden.
Terhadap putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap, tepidana dapat mengajukan grasi kepada Presiden. Putusan pemindanaan yang dapat dimohonkan grasi adalah pidana mati, penjara seumur hidup, penjara paling rendah 2 (dua) tahun. (Undang-undangNomor 22 Tahun 2002 tentangGrasi Bab II Pasal 2)
Permohonan grasi menurut Undang – undang Nomor 22 Tahun 2002 tentangGrasi Pasal 2 ayat (3) yang hanya diajukan 1 (satu) kali, kecuali dalam hal :
a. Terpidana yang pernah ditolak pemberian grasinya dan telah lewat waktu 2 (dua) Tahun sejak tanggal permohonan grasi;
b. Terpidana yang pernah diberi grasi dari pidana mati menjadi pidana penjara seumur hidup dan telah lewat waktu 2 (dua) Tahun sejak tanggal keputusan grasi diterima.
Pemberian grasi adalah wewenang dari Presiden, ialah merupakan salah satu dari wewenang prerograip negara untuk membatalkan sekuruhnya atau sebagian pidana yang telah dijatuhkan, atau merobah pidana itu menjadi suatu pidana yanng lebih ringan sifatnya (lebih berat tidak mungkin) ( R.Soesilo, 1982 : 137). Di dalam Pasal 4 ayat (2) Undang-undangNomor 22 Tahun
commit to user
2002tentang Grasi, bahwa pemberian grasi oleh Presiden dapat berupa : peringanan atau perubahan jenis pidana, pengurangan jumlah pidana, penghapusan pelaksanaan pidana.
Terhadap putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, dapat diajukan permohonan grasi kepada Presiden secara tertulis oleh : 1) Terpidana dan atau kuasa hukumnya;
2) Keluarga terpidana dengan persetujuan terpidana;
3) Keluarga terpidana tanpa persetujuan terpidana, dalam hal yang dijatuhkan adalah pidana mati.
Menurut Pasal 2 ayat (2) Undang-undangNomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi, bahwa putusan pemindanaan yang dapat dimohonkan grasi adalah : pidana mati, pidana seumur hidup dan pidana penjara paling singkat 2 (dua) Tahun. Adapun tata cara pengajuan grasi menurut Undang-undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi adalah sebagai berikut yaitu:
a) Hak mengajukan grasi diberitahukan kepada terpidana oleh hakim ketua sidang yang metus perkara tingkat pertama (Pasal 5 ayat (1));
b) Jika pada waktu putusan pengadilan dijatuhkan terpidana tidak hadir, hak grasi diberitahukan secara tertulis oleh panitera dari pengadilan yang memutus perkara tingkat pertama (Pasal 5 ayat (2));
c) Permohonan grasi oleh terpidana atau kuasa hukmnya di ajukan kepada Presiden (Pasal 6 ayat (1));
d) Permohonan grasi dapat pula di ajukan oleh keluarga terpidana, dengan persetujuan terpidana (Pasal 6 ayat (2));
e) Dalam hal terpidana dijatuhi hukuman mati, permohonan grasi dapat diajukan oleh keluarga terpidana tanpa persetujuan dari terpidana (Pasal 6 ayat (3));
f) Permohonan grasi dapat diajukan sejak putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap (Pasal 7 ayat (1));
g) Permohonan grasi tidak dibatasi oleh tenggang waktu tertentu (Pasal 7 ayat (2));
commit to user
h) Permohonan grasi diajukan secara tertulis kepada Presiden. Permohonan dilakukan oleh terpidana, kuasa hukumnya, atau keluarganya (Pasal 8 ayat (1));
i) Salinan permohonan grasi disampaikan kepada pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama untuk diteruskan kepada Mahkamah Agung (Pasal 8 ayat (2));
j) Permohonan grasi dan salinannya dapat pula disampaikan oleh terpidana melalui Kepala Lembaga Permasyarakatan tempat terpidana menjalani pidana (Pasal 8 ayat (3));
k) Dalam hal permohonan grasi dan salinannya diajukan melalui Kepala Lembaga Permasyarakatan, lalu Kepala Lembaga Permasyarakatan menyampaikan permohonan grasi tersebut kepada Presiden dan salinannya dikirimkan kepada pengadilan yang memutus pada tingkat pertama paling lambat tujuh hari terhitung sejak diterimanya permohonan grasi dan salinannya (Pasal 8 ayat (4));
l) Dalam jangka waktu paling lambat 20 (dua puluh) hari terhitung sejak tanggal penerimaan salinan permohonan grasi, pengadilan tingkat pertama mengirimkan salinan permohonan dan berkas perkara terpidana kepada Mahkamah Agung (Pasal 9);
m) Dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal diterimanaya salinan permohonan dan berkas perkara, Mahkamah Agung mengirimkan pertimbangan kepada Presiden (Pasal 10);
n) Presiden memberikan keputusan atas permohonan grasi setelah memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung (Pasal 11 ayat (1));
o) Keputusan presiden dapat berupa pemberian atau penolakan grasi (Pasal 11 ayat (2));
p) Jangka waktu pemberian atau penolakan grasi paling lambat tiga bulan terhitung sejak diterimanya pertimbangan Mahkamah Agung (Pasal 11 ayat (3));
commit to user
q) Keputusan Presiden tentang grasi disampaikan kepada terpidana dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari terhitung sejak ditetapkannya Keputusan Presiden (Pasal 13 ayat (1)),
r) Salinan keputusan Presiden tentanng grasi disampaikan kepada:
(1) Mahkamah Agung;
(2) Pengadilan yang memutus perkara pada tingkat petama;
(3) Kejaksaan negeri yang menuntut perkara terpipdana;
(4) Lembaga permasyarakatan tempat terpidana menjalani pidana (Pasal 12 ayat (2)).
3. Tinjauan TentangAsas Persamaan Di Muka Hukum (Equality Before The Law)
Penjelasan dalam Kitab Undang-undang Hukum acara Pidana (KUHAP) disebutkan sepuluh asas yang mengatuur perlindungan terhadap “keluhuran harkat serta martabat manusia”.
Adapun sepuluh asas tersebut adalah sebagai berikut yaitu:
a. Perlakuan yang sama di muka hukum tanpa diskriminasi apapun ; b. Praduga tidak bersalah ;
c. Hak untuk memperoleh kompensasi (ganti rugi) dan rehabilitasi ; d. Hak untuk mendapatkan bantuan hukum ;
e. Hak kehadiiran terdakwa di muka pengadilan ;
f. Peradilan yang bebas dan dilakukan dengan cepat dan sederhana ; g. Peradilan yang terbuka untuk umum ;
h. Pelanggaran atas hak – hak warga negara (penangkapan, penahanan, penggledahan, dan penyitaaan) harus didasarkan pada Undang-undang dan dilakukan dengan surat perintah (tertulis) ; i. Kepada tersangka sejak sat dilakukan penangkapan dan atau
penahanan selain wajib diberi tahu dakwaan dan dasar hukum apa yang di dakwakan kepadanya, juga wajib diberi tahu haknya itu, termasuk hak untuk menghubungi dan minta bantuan penasehat hukum ;
commit to user
j. Kewajiban pengadilan untuk mengendalikan pelaksanaan putusannya.
Berdasarkan dengan adanya asas-asas yang menggambarkan penerapan Hak Asasi Manusia dalam proses peradilan pidana tersebut, bahwa yang paling penting untuk diperhatikan adalah asas yang pertama dan kedua, yaitu perlakuan yang sama di muka hukum, tanpa diskriminasi papapun dan praduga tidak bersalah. Pada dasarnya, kedua asas tersebut harus saling mengisi, sejalan harmonis, dan kemudian diimplementasikan dalam peraturan-peraturan, demi tegaknya hukum dan keadilan (Mien Rukmini, 2003 : 84-85).
Dalam Pasal 37 ayat (1) Undang-undang Dasar 1945, menyatakan bahwa : “ Setiap warga Negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”. Ayat ini mengisyaratkan suatu asas hukum yang sangat fundamental, yaitu asas persaaan kedudukan dalam hukum atauu dikenal dengan istilah “Equality Before the Law”.
Menurut penjelasan Undang-undang Dasar 1945, terutama Pasal 27 tersebut bersangkut pautkan dengan peraturan mengenai hak –hak warga Negara. Pasal 27 ayat (1) tesebut mengandung pengertian bahwa ketentuan itu dapat memberikan jaminan kepada setiap warga Negara atas keamanan pribadi dimana setiap orang mempunyai status yang sama baik di depan hukum maupun pemerintahan dan juga dalam kewajiban untuk menjunjung hukum dan pemerintahan. Konsekuensi yang harus dilaksanakan ialah bahwa Pasal itu mengharuskan Negara untuk tidak memperlakukan orang tidak adil baik dalam pengadilan maupun pemerintahan, artinya tidak seorangpun dapat dipaksa melawan kemauan orang lain dengan cara ancaman, desakan maupun dengan sikap politis (Haris Suche H dalam Mien Rukmini, 2003 : 23 –24).
Sebagai latar belakang filosofis dan pengaturan persamaan kedudukan di hadapan hukum, dinyatakan bahwa manusia diciptakan oleh Sang Pencipta dilengkapi oleh hak-haknya. Oleh karenanya, hak-hak tersebut melakat pada jadi diri manusia sebagai hak yang sangat mendasar atau asasi (O.C.Kaligis, 2009 : 365)
commit to user
Magna Carta 1215 yang dianggap sebagai embrio penegakan HAM yang dikenal dewasa ini menmgisyaratkan persamaan kedudukan di hadapan hukum (equality before the law) dapat disimpulakan dari Pasal 39 dan Pasal 40. Inti kedua Pasal tersebut adalah bahwa manusia yang bebas dijamin hak-haknya oleh hukum dan diisyaratkannya persamaan kedudukan di hadapan hukum (S.Tasrif dalam O.C.Kaligis, 2009 : 366).
4. Tinjauan Tentang Putusan Pengadilan Yang Telah Berkekuatan Hukum Tetap(inkracht van gewijsde)
Putusan pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka, yang dapat berupa pemindanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam Undang-undang ini (Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana).
Putusan pengadilan yang memperoleh kekuatan hukum tetap dapat dilihat dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undangNomor 22 Tahun 2002 tentangGrasi adalah sebagai berikut:
a. Putusan pengadilan tingkat pertama yang tidak diajukan banding atau kasasi dalam waktu yang ditentukan oleh Undang-undangtentangHukum Acara Pidana;
b. Putusan pengadilan tingkat banding yang tidak diajukan kasasi dalam waktu yang telah ditentukan oleh Undang-undangtentangHukum Acara Pidana;
c. Putusan Kasasi
Pengadilan adalah pengadilan dilingkungan peradilan umum atau pengadilan di lingkungan peradilan militer yang memutus perkara pidana.
Adapun bentuk-bentuk putusan pengadilan yaitu antara lain sebagai berikut :
a) Putusan Bebas
Adalah terdakwa dijatuhi putusan bebasdari tuntutan hukum, dalam ketentuan Pasal 191 ayat 1 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana menjelaskan apabila pengadilan berpendapat :
(1) Dari hasil pemeriksaan di sidang pengadilan;
commit to user
(2) Kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.
b) Putusan pelepasan dari segala tuntutan hukum
Dalam Pasal 191 ayat (2) yang berbunyi “Jika pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana maka terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan hukum.”
Pada Pasal 191 ayat (2), putusan pelepasan dari segala tuntutan hukum, berdasarkan kriteria sebagai berikut :
(1) Apa yang didakwakan kepada terdakwa memang terbukti secara sah dan meyakinkan;
(2) Tetapi sekallipun terbukti, hakim berpendapat bahwa perbuatan yang didakawakan tidak merupakan tindak pidana.
c) Putusan pemindanaan
Pada Pasal 193 ayat (1), bahwa penjatuhan potysan pemindanaan terhadap terdakwa didasarkan pada penilaian pengadilan itu .Jika pengadilan berpendapat dan menilai terdakawa terbukti bersalah melakukan kesalahan tindak pidana yang didakwakan kepadanya, pengadilan menjatuhkan hukuman pidana terhadap terdakwa;
d) Penetapan tidak berwenang mengadili,
e) Putusan yang menyatakan dakwaan tidak dapat diterima;
f) Putusan yang menyatakan dakwaan batal demi hukum.
Adapun pelaksanaan putusan pengadilan menurut Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana sebagai berikut :
(1) Pelaksanaan pputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dilakukan oleh jaksa, yang untuk itu panitera mengirimkan salinan surat putusan kepadanya (Pasal 270);
(2) Dalam hal pidana mati pelaksanaannya dilakukan tidak di muka umum dam menurut ketentuan Undang-undang (Pasal 271);
(3) Jika terpidana dipidhana penjara atau kurungan dan kemudian dijatuhi pidana yang sejenis sebelum ia menjalani pidana yang dijatuhkan
commit to user
terdahulu, maka pidana itu dijalankan berturut-turut dimulai dengan pidana yang dijatuhkan lebih dahulu (Pasal 272);
(4) Ketentuan yang dimaksud dalam Pasal inin adalalh bahwa pidana yang dijatuhkan berturut-turut itu ditetapkan untuk dijalani oleh terpidana berturut-turut secara berkesinambungan di antara menjalani pidana yang satu dengan yang lain (Pasal 272);
(5) Jika putusan pengadilan menjatuhkan pidanan denda, kapada terpidana diberikan jangka waktu satu bulan untuk membayayr denda tersebut kecuali dalam putusan acara pemeriksaan cepat yang harus seketika dilunasi (Pasal 273 ayat (1));
(6) Dalam hal terdapat alasan kuat, jangka waktu sebagaiman tersebut pada ayat (1) dapat diperpanjang untuk paling lama satu bulan (Pasal 273 ayat (2));
(7) Jika puusan pengadilan juga menetapkan bahwa barang bukti dirampas untuk negara, selain pengecualian sebagaimana pada Pasal 46, jaksa menguasakan benda tesebut kepada kantor lelang negara dan edalam waktu tiga bulan untuk dijual lelang, yanbg hasilnya dimasukkanke kas negara untuk dan atas nama jaksa (Pasal 273 ayat (3));
(8) Jangka waktu sebagaimana tersebut pada ayat (3) dapat diperpanjang untuk paling lama satu bulan (Pasal 273 yat (4)), dimaksud dalam Pasal 99, maka pelaksanaannuya dilakukan menurut tatacara putusan perdata (Pasal 274);
(9) Apabila lebih dari satu orang dipidana dalam satu perkara, maka biaya perkara dan atau ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 dibebankan kepada mereka bersama-sama secara berimbang (Pasal 275);
(10) Dalam hal pengadilan menjatuhkan pidana bersyarat, maka pelaksanaannya dilakukan dengan pengawasan serta pengamatan yang sungguh-sungguh dan menurut ketentuan Undang-undang (Pasal 276).
commit to user
B. Kerangka Pemikiran
Secara garis besar kerangka pemikiran dalam penulisan hukum ini dapat dilihat dalam skema berikut ini :
Gambar Skematik .1 Kerangka Pemikiran
Dilakukan oleh mantan Bupati Kutai Kertanegara
Syaukani Hasan Rais Vonis pidana 6 tahun pada tingkat
kasasi Permohonan grasi
kepada Presiden
Terpidana mendapatkan potongan masa tahanan
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 Tentang Grasi
Kepres Nomor 7/G Tahun 2010
Pemberian Grasi Oleh Presiden
Permohonan Grasi diterima oleh Presiden
Pertimbangan Mahkamah Agung
Terpidanabebas
Perkara korupsi
commit to user Penjelasan gambar 1
Berdasarkan skematik diatas, maka penulis akan memaparkan tentang posisi kasus mengenai Mantan Bupati Kutai Kartanegara berkenaan dengan kasus korupsi dirinya. Adapun penjelasannya dapat dijabarkan pada uraian penjelasan kerangka pemikiran sebagai berikut.
Awalnya perkara korupsi yang dilakukan mantan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani Hasan Rais yang banyak menuai dilematis di masyarakat. Pada kasus ini terpidana melakukan tindak pidana 4 (empat) kasus korupsi dana APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah senilai kurang lebih Rp 113 milliar, antara lain fakta hukum tentang perbuatan menetapkan dan menandatangani surat keputusan Bupati tentang penetapan pembagian penerimaan uang perangsang atas penerimaan daerah terhadap minyak bumi dan gas, perbuatan penunjukan langsunng pekerjaan studi kelayakan (feasibility study) pembangunan bandar udara utama Samarinda Kutaikartanegara kepada PT.Mahakam Diastyar Internasional (PT.MDI), perbuatan mengambil dan menggunakan dana pembangunan bandar udara dalam APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2005, perbuatan menggunakan dana kesejahteraan rakyat / bantuan sosial dalam APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2005 (O.C Kaligis & Associates, 2009 : 374-396).
Pada Maret 2007, Syaukani ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), akan tetapi setelah menjalani pemidanaan yang kurang lebih 3 (tiga) Tahun, pada awal Januari 2009, Syaukani dirawat di RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) dikarenakan terpidana mengalami gagal pernapasan, menderita kebutaan dan kelumpuhan kaki tangan dan kerusakan memori yang tidak memungkinkan untuk menjalani masa pemindanaan. Apabila hal pemindaan tetap dilakukan maka akan membebani anggaran negara dan sangat menyusahkan pihak sipir (hhtp : // www. politikindonesia . com/index.php?k=politisiana&j=8819 tanggal akses 27 Mei 2011).
September 2009, pihak pengacara Syaukani Hasan Rais mengajukan upaya Grasi kepada Presiden, setelah mempertimbangkan dengan matang, Presiden
commit to user
Susilo Bambang Yudhoyono mengabulkan Grasi yaitu Keppres Nomor 7 / G / Tahun 2010 pada 15 Agustus Tahun 2010. Adapun isi Keputusan Presiden tersebut adalah pengampunan atau grasi yaitu pengurangan masa tahanan Syaukani Hasan Rais yang divonis enam tahun penjara dikurangi menjadi tiga tahun penjara saja. Yang awalnya masa pemindanaannya Syaukani yang divonis 2,5 tahunpenjara oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada tingkat banding pada Desember 2007 dalam kasus korupsi APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Kutai Kartanegara yang kemudian diperberat pada tingkat kasasi yaitu putusan enam tahun pidana penjara dan diwajibkan mengembalikan kerugian negara Rp49,367 miliar. Setelah vonis 6 (enam) tahun dikurangi 3 (tiga) tahunsetelah menerima grasi yang kemudian dibebaskan. Pemberian grasi sudah sesuai dengan keputusan Presiden RI tentang grasi yang menyebutkan bahwa pengampunan itu diperuntukan bagi anak pidana, narapidana usia lanjut, narapidana pengidap penyakit permanen, dan Keputusan Presiden ini diperkuat dengan disetujuinya Undang-undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi.Pihak Lembaga Permasyarakatan kelas I Cipinang telah menindak lanjutinya dengan menyerahkan berkas pelepasan Syaukani di RS Cipto Mangunkusumo, Rabu (18/8) malam. Syaukani yang kini buta, lumpuh kaki dan tangan, serta mengalami kerusakan memori paska gagal nafas pada awal Januari 2009, menerima langsung berkas yang diantarkan dua staf registrasi Lembaga Permasyarakatan Cipinang itu. Dibantu petugas Lembaga Permasyarakatan dan seorang kerabatnya, berkas pelepasan narapidana yang sudah ditandatangani Kepala Lembaga Permasyarakatan Cipinang I Wayan Sukerta itu, kemudian dibubuhi sidik jari Syaukani.Dengan terbitnya grasi, maka mantan Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) ini bisa langsung bebas, karena telah dipenjara lebih dari 3 Tahun. Dan Syaukani juga telah melunasi denda dan uang pengganti ke negara lewat KPK senilai 49,36 miliar rupiah serta denda sebesar 250 juta rupiah. Hal ini sebagaimana putusan Mahkamah Agung atas perkara korupsi Syaukani Hasan Rais (http : // www.jpnn.com/berita.detail-704282# tgl akses 27 mei 2011).
commit to user
Presiden memberikan grasi kepada Syaukani atas dasar kemanusiaan.
Bahwa pemberian grasi itu selektif sekali, atas dasar kemanusiaan dan kesehatan orang yang bersangkutan. Apalagi orang itu telah menjalani hukuman dari separuh dari vonis yang ada. Pemberantasan korupsi tetap menjadi prioritas utama bagi pemerintah, akan tetapi hak-hak manusia terkait kesehatan atau faktor-faktor kemanusiaan juga diperhatikan. Selain itu, apabila orang yang sakit-sakitan tidak mungkin terus dipenjara walaupun Syaukani bersalah telah melakukan korupsi dana APBD, gagasan Syaukani membangun daerahnya juga perlu dilihat, banyak jasa-jasa yang dilakukan oleh Syaukani (http : // www.batavia.co.id, 10 sms nanyain grasi syaukani, sby menjawab itu soal kemanusiaan, 10 agustus 20010 ,tanggal akses 27 Juni 2011).
Mahkamah Agung langsung pasang badan terkait pemberian grasi kepada mantan Bupati Kutaikartanegara Syaukani Hasan Rais. Ketua Mahkamah Agung, Harifin Tumpa mengaku bahwa pihaknya memberikan pertimbangan pemberian grasi kepada presiden salah satu alasannya adalah mengurangi beban biaya negara. Selain itu, berdasarkan alasan kemanusiaan, sosial, kemasyarakatan dan efisiensi itulah Mahkamah Agung memberikan pertimbangan kepada Presiden agar Syaukani memperoleh grasi. Mantan wakil ketua Mahkamah Agung bidang nonyudisial menceritakan,pemberian grasi tersebut berawal dari permohonan pengacara Syaukani kepada kepala Lembaga Permasyarakatan Cipinang lengkap dengan alasan-alasannya. Permohonan grasi tersebut dilanjutkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang akhirnya sampai ke tangan Mahkamah Agung. Setelah menerima permohonan itu, Harifin memerintahkan salah seorang Hakim Agung untuk menangani dan memeriksa permohonan tersebut. Dalam laporan kesehatan Rumah Sakit Pertamina tanggal 3 Maret 2010, diketahui Syaukani menderita serentetan penyakit dalam yang mengakibatkan gangguan dan keterbatasan mental serta fisik. Selain surat keterangan dari tim dokter, pihak Syaukani menyerahkan beberapa foto yang menggambarkan kondisi Syaukani. Harifin mengungkapkan, behwa foto-foto Syaukani sangat memprihatinkan. Bahwa Mahkamah Agung tidak menelusuri secara langsung,misalnya ke Rumah Sakit tempat dirawatnya Syaukani, Mahkamah Agung hanya percaya kepada sepenuhnya dengan
commit to user
keterangan tim dokter dan foto-foto yanng sudah dikirim. Sementara itu pada tanggal 20 Agustus 2010, Sekretaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum Denny Indrayana serta Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Patrialis Akbar menjenguk Syaukani di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Mantan ketua DPD Golkar Kaltim itu dirawat secara intensif di ruang 105 Gedung A RSCM. Saat dijenguk Syaukani hanya tergolek lemah seakan tak sadar diri.
Matanya tertutup, namun mulutnya terus menganga. Menurut Yusuf Misbach, ketua tim dokter yang merawat Syaukani, kondisi Syaukani sangat memprihatikan. Dia menerangakan, Syaukani mengalami stroke, beberapa anggota badannya tidak bisa bergerak dan tekanan darahnya drop, selain itu, mata Syaukani tidak bisa melihat, untuk berbicara pun dia mengalmi kesulitan, namun masih ada komunikasi meski sering melantur.Yusuf juga menjelaskan, yang membuat Syaukani sedemikian rupa adalah stroke dan bagian kepalanya sudah kerap kekurangan oksigen (http : // www.Batavia.co.id, negara tolak rawat syaukani, 21 Agustus 2010, tanggal akses 27 Juni 2011).
commit to user BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Hasil Penelitian
Pada subbab hasil penelitian ini, peneliti akan memaparkan kajian tentang kasus korupsi mantan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani Hasan Rais yang dibuat secara skematik agar para pembaca dapat mengetahui dengan jelas bagaimana kasus ini terjadi. Adapun data skematiknya dapat dilihat sebagi berikut :
Gambar Skematik 2
Alur Pengajuan Grasi Syaukani Hasan Rais Kasus Syaukani Hasan
Rais
Vonis pidana enam tahun pada tingkat
kasasi
Syaukani menderiita sakit permanen setelah menjalani pemidanaan selama kurang lebih
tiga Tahun
Upaya grasi oleh kuasa hukum Syaukani
Grasi diterima Presiden melalui pertimbangan
Mahkamah Agung (Kepres Nomor 7 /G
/2010) Syaukani mendapat potongan masa tahanan
sehingga Syaukanipun bebas
commit to user Keterangan gambar skematik 2
Kasus korupsi yang dilakukan mantan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani Hasan Rais yang mana terpidana melakukan tindak pidana 4 (empat) kasus korupsi dana APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah senilai kurang lebih Rp 113 milliar, antara lain fakta hukum Tentang perbuatan menetapkan dan menandatangani surat keputusan Bupati tentang penetapan pembagian penerimaan uang perangsang atas penerimaan daerah terhadap minyak bumi dan gas, perbuatan penunjukan langsunng pekerjaan studi kelayakan (feasibility study) pembangunan bandar udara utama Samarinda Kutai Kartanegara kepada PT.Mahakam Diastyar Internasional (PT.MDI), perbuatan mengambil dan menggunakan dana pembangunan bandar udara dalam APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Kabupaten Kutai Karatnegara Tahun 2005, perbuatan menggunakan dana kesejahteraan rakyat / bantuan sosial dalam APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Kab. Kutai Kartanegara Tahun 2005. (O.C Kaligis &
Associates, 2009 : 374-396). Dengan adanya kasus korupsi itu,maka Syaukani Hasan Rais divonis enam tahun penjara pada tingkat kasasi, setelah menjalanani masa pemindaan selasa kurang lebih tiga tahun, Syaukani mengalami sakit permanen yang mengakibatkan Syaukani tidak dapat melakukan pemindanan lebih lanjut, karena apabila Syaukani masih di dalam tahanan akan menyusahkan pihak sipir dan biaya perawatan kesehatannya itu menjadi tanggunngan negara.
Oleh karena itu, kuasa hukum syaukani melakukan upaya grasi kepada Presiden, dan setelah melalui pertimbangan Mahkamah Agung dengan alasan apabila Syaukani masih saja ditahan di Lembaga Permasyarakatan maka akan membebani negara karena biaya perawatan tentu ditanggung oleh negara dan juga berdasarkan alasan kemanusiaan, sosial, kemasyarakatan dan efisiensi maka mahkamah agung memberikan pertimbangan grasi itu kepada Presiden, maka Presiden mengabulkan upaya grasi syaukanui tersebut, dengan keluarnya Kepres Nomor 7 / G / 2010, dan setelah itu Syaukanipun bebas dari masa tahanannya.
commit to user B. PEMBAHASAN
1. Analisis Pemenuhan Hak Terpidana Mantan Bupati Kutai Kartanegara Syaukani Hasan Rais Untuk Mengajukan Grasi Terhadap Keputusan Hakim Yang Sudah Berkekuatan Hukum Tetap (inkracht van gewijsde) ditinjau dari Undang-undang Grasi Nomor22 Tahun 2002.
Pada subbab pembahasan ini peneliti akan memaparkan bagaimana pemenuhan hak terpidana mantan bupati Kutai Kartanegara Syaukani Hasan Rais ini telah berkesesuaian dengan Undang-undangNomor 22 Tahun 2002 Tentang Grasi. Untuk mengetahui pemberian grasi kepada Syaukani Hasan Rais sesuai dengan Undang-undangNomor 22 Tahun 2002 Tentang Grasi maka peneliti terlebih dahulu mengkaji tentangketentuan dari Undang-undangNomor 22 Tahun 2002 Tentang Grasi dan juga kasus posisi dari Syaukani Hasan Rais.
Gambar skematik 3
Analisa Pemenuhan Hak Terpidana
Berdasarkan gambar skematik diatas dapat dijabarkan bahwa kasus yang menimpa Syaukani itu adalah bahwa Syaukani melakukan tindak
Kasus Syaukani Hasan Rais
Undang-undang Nomor 22 Tahun 2002 Tentang
Grasi
Kesimpulan Tentang pemenuhan hak dari
terpidana Syaukani Hasan Rais