commit to user
PELAKSANAAN PENGAWASAN USAHA PERTAMBANGAN RAKYAT DI KECAMATAN DUKUN KABUPATEN MAGELANG OLEH DINAS PEKERJAAN UMUM, ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL KABUPATEN MAGELANG
Penulisan Hukum ( Skripsi )
Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Derajat Sarjana S1 dalam Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Oleh
Anastasia Novena Pangastuti NIM. E 0006068
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2012
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
2
ii
commit to user iii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
4
PERNYATAAN
Nama : ANASTASIA NOVENA PANGASTUTI
NIM : E0006068
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa penulisan hukum (skripsi) berjudul : PELAKSANAAN PENGAWASAN USAHA PERTAMBANGAN RAKYAT DI KECAMATAN DUKUN KABUPATEN MAGELANG OLEH DINAS PEKERJAAN UMUM, ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL KABUPATEN MAGELANG adalah betul - betul karya sendiri. Hal - hal yang bukan karya saya dalam penulisan hukum (skripsi) diberi tanda citasi dan ditunjukkan dalam daftar pustaka. Apabila dikemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan penulisan hukum (skripsi) dan gelar sarjana yang saya peroleh dari penulisan hukum (skripsi ) ini.
Surakarta, 24 Juli 2012 Yang membuat pernyataan
ANASTASIA NOVENA PANGASTUTI NIM. E0006068
iv
commit to user ABSTRAK
ANASTASIA NOVENA PANGASTUTI. E0006068. 2012. PELAKSANAAN PENGAWASAN USAHA PERTAMBANGAN RAKYAT DI KECAMATAN DUKUN KABUPATEN MAGELANG OLEH DINAS PEKERJAAN UMUM, ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL KABUPATEN MAGELANG. Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pengawasan usaha pertambangan rakyat di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang oleh Dinas Pekerjaan Umum, Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Magelang.
Penelitian ini merupakan penelitian hukum ermpiris dan bersifat deskriptif.
Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari subyek penelitian yaitu masyarakat penambang di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang dan Pegawai Dinas Pekerjaan Umum, Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Magelang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dengan narasumber yang terkait dengan penelitian dan studi kepustakaan. Analisis data dilakukan dengan interpretasi terhadap pelaksanaan pengawasan usaha pertambangan rakyat oleh Dinas Pekerjaan Umum, Energi dan Sumber Daya Mineral.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan disimpulkan bahwa kesatu pelaksaanaan pengawasan dilaksanakan terhadap penambang yang tidak berizin, hal ini dikarenakan berbagai faktor diantaranya ketidaktahuan terhadap hukum yang berlaku. Kesimpulan yang kedua pelaksanaan pengawasan usaha pertambangan rakyat ini sesuai dengan Undang- Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu-bara, dan Peraturan Daerah Kabupaten Magelang Nomor 1 Tahun 2008 tentang Usaha Pertambangan.
Kata Kunci: Usaha Pertambangan Rakyat, Pelaksanaan Pengawasan Pertambangan, Kecamatan Dukun
v
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user ABSTRACT
ANASTASIA NOVENA PANGASTUTI. E0006068. 2012.
IMPLEMENTATION OF ARTISANAL MINING EFFORT MONITORING IN THE DUKUN SUB DISTRICT OF MAGELANG DISTRICT BY PUBLIC EMPLOYMENT, ENERGY AND MINERAL RESOURCES DEPARTMENT OF MAGELANG DISTRICT. Law Faculty of Sebelas Maret University.
This study aims to determinant the implementation of artisanal mining effort monitoring in Dukun Sub District Magelang District by the Department of Public Employment, Energy and Mineral Resources of Magelang District.
This study is an empirical legal research and descriptive. The data type used are primary and secondary data. Primary data was obtained directly from the study subject that is miners in Dukun, Magelang and official of Public Employment, Energy and Mineral Resources Department of Magelang District.
Data collection techniques used were interviews with resource persons associated with research and library research. Data analysis was performed with the interpretation to the implementation of artisanal mining efforts monitoring by the Department of Public Employment, Energy and Mineral Resources.
Based on the research results and discussion is concluded that: The first, the implementation of monitoring conducted to the miners who are not licensed, this is due to various factors, including ignorance of the law. The second conclusion, implementation of artisanal mining efforts monitoring accordance with Law No. 4 of 2009 on Mineral and Stone-Coals, and Regulation Magelang District No. 1 of 2008 on Mining Effort.
Keywords: Peoples Mining Effort, Implementation of Mining Monitoring, Dukun Sub District
vi
commit to user
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Kasihilah musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
( Injil Matius 5: 44 )
Belajar dari hari kemarin, hidup untuk hari ini, dan berharap untuk hari esok.
(Ibu)
Naega jeil jal naga, I am the best.
(Penulis)
PERSEMBAHAN
Tuhan Yesus Kristus Juru Selamatku. Terima kasih Tuhan atas segala berkatmu, segala yang indah, yang terbaik dan tepat pada waktunya.
Orangtuaku yang selalu menjaga, menyayangi dan melindungiku dalam setiap tapak hidupku.
Kakak dan adikku yang selalu memberi tawa dalam dukaku.
Nugroho teman yang selalu setia menjaga dan memotivasi ku untuk meraih kehidupan yang lebih baik.
Sahabat- sahabatku tempat berbagi tawa dan duka.
Teman - temanku Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret angkatan 2006 yang menjadi temanku selama kuliah.
vii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user KATA PENGANTAR
Puji Tuhan penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkatnya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan penulisan hukum yang berjudul “PELAKSANAAN PENGAWASAN USAHA PERTAMBANGAN RAKYAT DI KECAMATAN DUKUN KABUPATEN MAGELANG OLEH DINAS PEKERJAAN UMUM, ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL KABUPATEN MAGELANG”. Penulisan hukum atau skripsi merupakan tugas wajib yang harus diselesaikan oleh setiap mahasiswa untuk melengkapi syarat memperoleh derajat sarjana dalam Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Penulis menyadari bahwa terselesaikannya Penulisan Hukum ini tidak terlepas dari bantuan dan dorongan baik moril maupun materiil serta doa dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Prof. Dr. Hartiwiningsih, S.H., M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.
2. Bapak Pius Triwahyudi S.H., Msi, selaku Ketua Bagian Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.
3. Bapak Waluyo, S.H, M. Si, selaku pembimbing Skripsi, yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan nasehat kepada penulis bagi tersusunnya penulisan hukum ini.
4. Ketua PPH, Bapak Lego Karjoko S.H, M.Hum, dan Mas Wawan anggota PPH yang banyak membantu penulis dalam skripsi ini.
5. Ibu Adriana Grahani Firdausi , S.H., M.H selaku Pembimbing Akademik ,yang selalu memberi nasehat dan bantuan selama penulis belajar di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret.
6. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret yang telah mendidik dan memberi ilmu pengetahuan kepada penulis, sehingga dapat dijadikan bekal dalam penulisan skripsi ini.
7. Bapak Dwi Koencoro selaku Kepala Bagian Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral dan Bapak Didik W. N selaku staff seksi mineral, yang telah memberi bantuan kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
viii
commit to user
7. Bapak dan Ibu terkasih yang selalu menjaga, melindungi dan menyayangi, serta memberi dukungan, sehingga dapat menjalani dan menyelesaikan penulisan skripsi dengan baik.
8. Teman yang selalu setia menjaga dan memotivasi penulis, Fransiskus Prihadi Nugroho, dalam meraih cita-cita dan kehidupan yang lebih baik.
9. Saudara- saudaraku mas Damasus Arif, dik Maria Pertiwi, mbak Halimah, mbak Nurul Imami, mbak Novia Atma, mas Ari Bowo, dan Q. Andrianus.
10. Keluarga besar Padmo Warsono dan keluarga besar Giharso Wiyoto.
11. Keluarga Bapak Suradi dan Ibu Prihrum, serta Yustina sebagai keluarga keduaku.
12. Sahabat-sahabatku Bagus Pratama Putra, Stefanus Adrian, Kezia Arci, Mahardika Sani, Novita Listyaningrum, Arki Prasetyo, Noni Untari, Fransiska Maya, Nur Dewi, Puji Alitt, Achmad Bayu, dan Andri Wibowo, dan Chico.
13. Dan semua pihak yang telah membantu penyusunan penulisan hukum ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa penulisan hukum ini masih jauh dari sempurna baik dari segi substansi maupun teknis penulisan. Untuk itu sumbang saran dari berbagai pihak sangat penulis harapkan demi perbaikan dan penyempurnaan penulisan hukum selanjutnya. Demikian semoga penulisan hukum ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, baik untuk penulisan, akademisi, praktisi maupun masyarakat umum.
Surakarta, 24 Juli 2012 Penulis
ANASTASIA NOVENA PANGASTUTI
ix
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ... iv
ABSTRAK ... v
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL ... xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 3
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 4
E. Metode Penelitian ... 5
F. Sistematika Penulisan Hukum……….. 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KERANGKA TEORI ... 11
1. Tinjauan Tentang Pertambangan ... 11
a. Pengertian Pertambangan……… 11
b. Sumber Hukum Pertambangan……… 14
c. Wilayah Pertambangan……… 15
d.Perizinan Usaha Pertambangan……… 16
e. Berakhirnya Izin Usaha Pertambangan………... 17
f. Hak, Kewajiban, dan Larangan Pemegang Izin Usaha Pertambangan. ... 18
x
commit to user
2. Tinjauan Tentang Pertambangan Rakyat ... 20
a. Pengertian Pertambangan Rakyat... 20
b. Izin Pertambangan Rakyat ... 21
c. Wilayah Pertambangan Rakyat ... 23
d. Hak dan Kewajiban Pemegang Izin Pertambangan Rakyat ... 25
3. Tinjauan Tentang Pengawasan Usaha Pertambangan Oleh Pemerintah………... 25
a. Pengertian tentang Pemerintah Daerah ... 25
b. Pengertian tentang Pembinaan Usaha Pertambangan oleh Pemerintah ... 30
c. Pengertian tentang Pengawasan Usaha Pertambangan oleh Pemerintah ... 31
d. Pengertian tentang Pengawasan Usaha Pertambangan Rakyat 32
4. Tinjauan Tentang Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup ... 33
B. KERANGKA PEMIKIRAN ... 35
BAB III HASIL PENELITIAN A. Hasil Penelitian ... 37
1. Gambaran Umum Lokasi Pertambangan Batu dan Pasir ... 37
a. Kondisi Geografis Kabupaten Magelang ... 37
b. Kondisi Geologi dan Potensi Bahan Galian di Kabupten Magelang ... 38
c. Gambaran Umum Lokasi Penelitian di Kecamatan Dukun . 39 d. Gambaran Umum Penambangan Pasir Gunung Merapi ... 41
e. Dampak Penambangan Rakyat Gunung Merapi di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang ... 49
2. Pelaksanaan Pengawasan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Magelang ... 50
a. Jabatan Struktural Pada Dinas Pekerjaan Umum, Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Magelang .... 51 b. Mekanisme Pelaksanaan Pengawasan oleh Dinas
xi
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
12
Pekerjaan Umum, Energi dan Sumber Daya Mineral ... 54 c. Kendala Dalam Pelaksanaan Pengawasan Pertambangan
Pasir dan Batu oleh Dinas Pekerjaan Umum,
Energi dan Sumber Daya Mineral ... 55 B. Pembahasan ... 58
1. Penyelenggaraan Pengawasan Usaha Pertambangan Rakyat oleh Dinas Pekerjaan Umum, Energi Dan
Sumber Daya Mineral Kabupaten Magelang ... 59 2. Peran Pemerintah Kabupaten Magelang dalam Pengawasan
Pertambangan Rakyat ... 62 3. Pembinaan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Energi
dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Magelang ... 66
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ... 67 B. Saran ... 69
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
xii
commit to user
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL
1. Tabel 1. Skematik Kerangka Berpikir ... 35 2. Gambar 1. Wawancana dengan staff DPU, ESDM ... 55 3. Gambar 2. Penambangan Pasir Manual di Sungai Senowo . ... 58
xiii
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user BAB I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia sebagai negara yang memiliki sumber daya alam yang berlimpah berupa bahan tambang baik berupa logam maupun non logam wajib menggunakan kekayaan alam tersebut untuk mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat. Dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia dikatakan bahwa “ Bumi dan air dan kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Hal ini memberikan gambaran bagi kita bahwa kekayaan yang terkandung didalam bumi Indonesia penguasaanya ditangan Negara dan pengunaanya untuk kemakmuran rakyat.
Pengelolaan kegiatan pertambangan merupakan salah satu bentuk tanggungjawab Negara untuk melaksanakan apa yang diamanatkan dalam pasal 33 ayat (3) UUD RI. Oleh karena itu, pemerintah menerbitkan undang-undang pertambangan terbaru yaitu Undang- Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, menggantikan Undang-undang Nomor 11 Tahun 967 tentang Ketentuan- Ketentuan Pokok Pertambangan.
Dalam Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 ini menegaskan bahwa pemerintah daerah baik pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota juga sebagai pelaksana baik dalam pengawasan maupun pembinaan kegiatan pertambangan yang berada dalam kawasannnya. Peran serta pemerintah daerah dalam pembinaan dan pengawasan kegiatan pertambangan ini, agar kegiatan pertambangan ini dapat berdaya guna, berhasil guna, bertanggung jawab, berkelanjutan dan terjaga kelestariannya serta pemanfaatanya dapat digunakan untuk sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat.
Dalam pengelolaan kegiatan pertambangan di Kabupaten Magelang, pemerintah daerah Kabupaten Magelang melalui Peraturan Daerah Kabupaten Magelang Nomor 1 tahun 2008 tentang Izin Usaha Pertambangan yang masih
1
commit to user
berlandaskan pada Undang-undang Nomor 11 tahun 1967 tentang Ketentuan- ketentuan Pokok Pertambangan, mengatur mengenai kegiatan pertambangan yang ada di wilayah Kabupaten Magelang.
Wilayah Kabupaten Magelang yang di bagian tengah merupakan tanah endapan/alluvial yang merupakan lapukan dari batuan induknya, sedangkan di lereng dan kaki gunung Merapi merupakan tanah endapan vulkanis, menghasilkan sumber daya mineral berupa pasir banyak ditemukan di sepanjang Daerah Aliran Sungai di kawasan lereng Gunung Merapi.
Keadaan yang memberikan keuntungan ini dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk melakukan kegiatan pertambangan pasir dan batu. Kegiatan pertambangan pasir di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Merapi maupun di lahan milik warga, tentu saja menjanjikan keuntungan bagi masyarakat sekitar karena kegiatan pertambangan pasir ini dapat dimanfaatkan sebagai mata pencaharian, sebagai sumber bahan bangunan, dan oleh pemerintah kegiatan pertambangan pasir dapat digunakan sebagai sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Walaupun semenjak tahun 2004, kegiatan pertambangan pasir yang dahulunya mengunakan alat berat sudah dilarang, dan berganti menjadi kegiatan pertambangan pasir yang menggunakan alat sederhana, mengandalkan tenaga manusia yang relatif lambat, mengunakan peralatan seadanya dan memanfaatkan sebagian besar material letusan Merapi atau biasa disebut dengan pertambangan pasir rakyat. Namun kegiatan pertambangan pasir yang sudah berlangsung puluhan tahun ini tetap saja memberi dampak bagi kondisi alam di daerah pertambangan yaitu berubahnya kondisi alam pasca kegiatan pertambangan.
Kegiatan pertambangan meninggalkan pemandangan yang buruk berupa perbukitan yang gundul dan tanah yang gersang, kerusakan alam dan penurunan debit air sungai di pedesaan. Kegiatan pertambangan pasir seringkali dilakukan di daerah yang bukan merupakan kawasan pertambangan seperti di daerah jembatan, tanggul penahan lahar, maupun merambah ke kawasan Taman Nasional Gunung Merapi yang merupakan kawasan hutan lindung.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
Perluasan kawasan pertambangan pasir yang dilakukan oleh para penambang ini selain merugikan pemerintah, merusak lingkungan, mengancam kelangsungan hidup satwa liar, juga membahayakan keselamatan para penambang dan masyarakat sekitar DAS di kawasan hilir Gunung Merapi apabila terjadi banjir lahar dingin seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
Oleh karena itu, pemerintah daerah Kabupaten Magelang melalui Dinas Pekerjaan Umum, Energi dan Sumber Daya Mineral melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap kegiatan pertambangan pasir rakyat yang ada di wilayah Kabupaten Magelang yaitu di kecamatan Dukun dan kecamatan Srumbung.
Kegiatan pembinaan dan pengawasan ini sebagai upaya untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup didaerah sekitar pertambangan pasir.
Lingkungan hidup yang diartikan luas, yaitu tidak hanya lingkungan fisik, tetapi juga lingkungan ekonomi, sosial budaya ( Puspa Melati Hasibuan 2006:27).
Kegiatan pengawasan dan pembinaan dilakukan dalam pelaksanaan pertambangan rakyat di lapangan dan proses terakhir yaitu reklamasi lahan bekas tambang.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis bermaksud untuk melakukan penelitian dalam bentuk penulisan hukum dengan judul :
“PELAKSANAAN PENGAWASAN USAHA PERTAMBANGAN RAKYAT DI KECAMATAN DUKUN KABUPATEN MAGELANG OLEH DINAS PEKERJAAN UMUM, ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL KABUPATEN MAGELANG”
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pelaksanaan pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Magelang terhadap usaha pertambangan rakyat di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang?
2. Apakah pelaksanaan pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Magelang terhadap
commit to user
usaha pertambangan rakyat di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Obyektif
a. Untuk mengetahui pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Magelang terhadap usaha pertambangan rakyat di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang.
b. Untuk mengetahui apakah pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Magelang terhadap usaha pertambangan rakyat di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Tujuan Subyektif
a. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis di bidang Hukum Administrasi Negara dalam hal pengawasan usaha pertambangan rakyat di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang oleh Dinas Pekerjaan Umum,Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Magelang.
b. Untuk melengkapi syarat akademis guna memperoleh gelar S1 dalam bidang ilmu hukum di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang ilmu hukum pada umumnya dan bidang Hukum Administrasi Negara pada khususnya.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya referensi dan litelatur kepustakaan terkait dengan kajian mengenai pengawasan pertambangan
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
pasir di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang oleh Dinas Pekerjaan Umum,Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Magelang.
2. Manfaat Praktis
a. Untuk dapat mengembangkan kemampuan berfikir penulis sehingga dapat mengetahui kemempuan penulis dalam menerapkan ilmu hukum yang penulis peroleh.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan serta tambahan ilmu pengetahuan bagi semua pihak yang terkait dan terlibat dalam pengawasan usaha pertambangan pasir.
E. Metode Penelitian
Penelitian hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi, penelitian hukum dilakukan untuk menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai perskripsi dari masalah yang dihadapi ( Peter Mahmud, 2005:35).
1. Jenis Penelitian
Berdasarkan penulisan judul dan rumusan masalah, penelitian ini temasuk dalam jenis penelitian hukum empiris.
Menurut Peter Mahmud Marzuki, penelitian hukum tidak dapat dibedakan antara penelitian hukum normatif dan penelitin hukum empiris yang tunduk pada ilmu sosial, sehingga penelitian hukum diartikan sebagai suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi (Peter Mahmud Marzuki,2005:35).
commit to user 2. Sifat Penelitian
Sifat Penelitian ini adalah deskriptif yaitu berusaha menjelaskan atau mendeskripsikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam pengawasan usaha pertambangan pasir rakyat di Kabupaten Magelang.
Di dalam penulisan hukum ini penulis menghadirkan persoalan- persoalan di dalam hukum, yaitu:
a. Persoalan mengenai tujuan hukum yang ingin dicapai dengan adanya pengawasan dari Kantor Energi dan sumber Daya Mineral Kabupaten Magelang terhadap kegiatan penambangan pasir di Kecamatan Dukun.
b. Persoalan mengenai keadilan di dalam hukum itu sendiri yaitu bagaimana hukum yang mengatur mengenai pertambangan yang mengatur dan berkaitan dengan kegiatan pertambangan pasir di Kabupaten Magelang ini dapat memberikan keadilan bagi pihak-pihak yang terkait.
c. Persoalan mengenai bagaimana aturan yang ada sekarang ini dapat digunakan untuk mengatur ketertiban didalam masyarakat Kecamatan Dukun berkaitan dengan kegiatan penambangan pasir, sehingga kelestarian lingkungan sekitar tetap dapat terjaga.
3. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan undang-undang (statue approach). Pendekatan undang-undang dilakukan dengan menelaah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang akan ditangani (Peter Mahmud 2005:93).
Penelitian ini menggunakan aturan hukum yang ada dan berkaitan dengan kegiatan pertambangan antara lain:
a. Undang -Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
b. Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
c. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
d. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan.
e. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.
f. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2012 Tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.
g. Peraturan Daerah Kabupaten Magelang Nomor 1 tahun 2008 Tentang Usaha Pertambangan.
h. Peraturan Bupati Magelang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Pengusahaan Bahan Galian Akibat Letusan Gunung Merapi Tahun 2010.
i. Keputusan Bupati Magelang Nomor 188.45/ 1/ KEP/ 25/ 2011 Tentang Penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat di Sungai-sungai yang Terkena Banjir Lahar Akibat Erupsi Gunung Merapi di Kabupaten Magelang.
4. Jenis dan Sumber Data Penelitian
Jenis data yang penulis gunakan dalam penulisan hukum ini adalah data primer dan data sekunder.
Sumber data sekunder hukum yang digunakan dalam penelitian hukum ini adalah:
a. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan yang mengikat yang berupa:
1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.
3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
4) Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan.
5) Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.
commit to user
6) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2012 Tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.
7) Peraturan Daerah Kabupaten Magelang Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Usaha Pertambangan.
8) Peraturan Bupati Magelang Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Pengusahaan Bahan Galian Akibat Letusan Gunung Merapi Tahun 2010.
9) Keputusan Bupati Magelang Nomor 188.45/ 1/ KEP/ 25/ 2011 Tentang Penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat di Sungai-sungai yang Terkena Banjir Lahar Akibat Erupsi Gunung Merapi di Kabupaten Magelang.
b. Bahan hukum sekunder memberi penjelasan bagi bahan hukum primer, yang terdiri dari buku-buku, referensi, jurnal-jurnal hukum yang terkait, majalah, internet dan lain-lain.
c. Bahan hukum tersier atau penunjang yaitu bahan-bahan hukum yang menunjang bahan hukum primer dan sekunder yang berupa kamus hukum, ensklopedia, dan lain-lain.
5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah cara yang digunakan untuk memperoleh data dalam suatu penelitian. Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah studi dokumen, dan wawancara.
Beberapa data dalam studi dokumen yang berkaitan dengan usaha pertambangan pasir rakyat di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang yang terkumpul akan dimintakan klarifikasi kepada Dinas Pekerjaan Umum, Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Magelang serta penambang pasir dan batu di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user 6. Teknik Analisis Data
Teknik analis data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian hukum ini adalah silogisme. Penggunaan silogisme dilakukan dengan cara menyusun premis mayor, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan premis minor dan diakhiri dengan penarikan kesimpulan (conclusion). Menurut Philipus M.Hadjon dalam Peter Mahmud Marzuki, yang merupakan premis mayor dalam silogisme adalah aturan hukum, sedangkan yang menjadi premis minor adalah fakta hukum yang ada (Peter Mahmud Marzuki, 2005 : 47).
Penggunaan silogisme bertujuan untuk membuktikan apakah fakta hukum yang merupakan premis minor memenuhi unsur-unsur yang terdapat dalam premis mayor. Sehingga dalam penelitian ini yang menjadi topik adalah aturan hukum yang berkaitan dengan pertambangan pasir, kepatuhan pihak- pihak yang terkait terhadap aturan hukum, peranan lembaga atau intitusi hukum yaitu Dinas Pekerjaan Umum, Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Magelang dalam menegakan peraturan yang ada.
F. Sistematika Penulisan Hukum
Guna memberikan gambaran menyeluruh mengenai sistematika penulisan hukum yang sesuai dengan aturan baru dalam penulisan karya ilmiah, maka penulis menyiapkan suatu sistematika penulisan hukum. Adapun sistematika penulisan hukum terbagi dalam 4 (empat) bab yang saling berkaitan dan berhubungan. Sistematika dalam penulisan hukum ini adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang gambaran singkat mengenai keseluruhan skripsi, yang terdiri dari Latar Belakang Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Metode Penelitian Hukum, Sistematika Penulisan Hukum.
commit to user BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisi mengenai teori dasar dalam skripsi ini meliputi Tinjauan tentang Pertambangan, Tinjauan tentang Pertambangan Rakyat, Tinjauan tentang Pembinaan dan Pengawasan Usaha Pertambangan oleh Pemerintah, Tinjauan tentang Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup.
BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan mengenai Deskripsi tentang lokasi penelitian yaitu di Dinas Pekerjaan Umum,Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Magelang, dan kawasan pertambangan rakyat di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang, Pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Energi dan Sumber Daya Mineral terhadap pertambangan rakyat di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang, dan Keserasian antara pelaksanaan dan peraturan perundang-undangan mengenai Pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Energi dan Sumber Daya Mineral terhadap usaha pertambangan rakyat di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang.
BAB IV PENUTUP
Bab ini meliputi Kesimpulan dan Saran DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori
1. Tinjauan Tentang Pertambangan a. Pengertian pertambangan
Istilah hukum pertambangan merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, yaitu mining law. Penggalian atau pertambangan merupakan usaha untuk menggali berbagai potensi-potensi yang terkandung didalam perut bumi ( Salim, 2005:7)
Di dalam Pasal 1 Undang-undang No 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, yang dimaksud dengan pertambangan adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan serta kegiatan pasca tambang.
Usaha Pertambangan adalah kegiatan dalam rangka pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi tahapan kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta pascatambang.
Pada Tahun 1967 sampai tahun 2009, kegiatan pertambangan berdasarkan atas Undang-undang Nomor 11 tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan, dalam undang-undang ini bahan galian dibagi menjadi tiga golongan yaitu:
1) Golongan bahan galian stategis, dibagi menjadi:
a.) Minyak bumi, bitumen cair, lilin bumi, gas alam;
b) Bitumen padat, aspal;
c) Antrasit, batubara, batubara muda;
11
commit to user
d) Uranium, radium, thorium, dan bahan-bahan galian radioaktif lainya;
e) Nikel, kobal; dan f) Timah
2) Golongan bahan galian vital, dibagi menjadi:
a) besi, mangan, molibden, khrom, wolfram, vanadium,titan:
b) bauksit, tembaga,timbale,seng:
c) emas, platina,perak,air raksa, intan;
d) arsin, antismon,bismuth;
e) yttrium, rtutenium, cerium, dan logam-logam langka lainnya;
f) berillium, korundum,zircon, kristal kwarsa;
g) kriolit, flouspar, barit;
h) yodium, brom, klor, belerang.
3) Golongan yang tidak termasuk golongan stategis dan vital, yaitu bahan galian yang lazim disebut dengan galian C. Bahan galian ini dibagi menjadi:
a) nitrat-nitrat (garam dari asam sendawa, dipakai dalam campuran pupuk; HNO3), pospat-poapat, garam batu, (halite);
b) asbes, talk, mika, grafit magnesit;
c) yarosit, leusit, tawas (alum), oker;
d) batu permata, batu setengah permata;
e) pasir kwarsa, kaolin, feldspar,gips, bentonit;
f) batu apung, tras, absidian, perlit, tanah diatome, tanah serap (fullers earth);
g) marmer, batu tulis;
h) batu kapur, dolomit, kalsit;
i) granit, andesit, basal, trakhit, tanah liat, tanah pasir sepanjang tidak mengandung unsur mineral golongan a maupun b dalam jumlah berarti.
Namun dengan adanya Undang-undang pertambangan terbaru yaitu Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
Mineral dan Batubara, penggolongan mengenai bahan galian seperti diatas sudah tidak ada lagi, saat ini berdasarkan Pasal 34 Undang-undang tersebut, usaha pertambangan dikelompokan atas:
1) Pertambangan mineral, yang terdiri atas:
a) Pertambangan mineral radioaktif yang meliputi radium, thorium, uranium, monasit, dan bahan galian radioaktif lainnya.
b) Pertambangan mineral logam meliputi litium, berilium, magnesium, kalium, kalsium, emas, tembaga, perak, timbal, seng, timah, nikel, mangaan, platina, bismuth, molibdenum, bauksit, air raksa, wolfram, titanium, barit, vanadium, kromit, antimoni, kobalt, tantalum, cadmium, galium, indium, yitrium, magnetit, besi, galena, alumina, niobium, zirkonium, ilmenit, khrom, erbium, ytterbium, dysprosium, thorium, cesium, lanthanum, niobium, neodymium, hafnium, scandium, aluminium, palladium, rhodium, osmium, ruthenium, iridium, selenium, telluride, stronium, germanium, dan zenotin.
c) Pertambangan mineral bukan logam meliputi intan, korundum, grafit, arsen, pasir kuarsa, fluorspar, kriolit, yodium, brom, klor, belerang, fosfat, halit, asbes, talk, mika, magnesit, yarosit, oker, fluorit, ball clay, fire clay, zeolit, kaolin, feldspar, bentonit, gipsum, dolomit, kalsit, rijang, pirofilit, kuarsit, zirkon, wolastonit, tawas, batu kuarsa, perlit, garam batu, clay, dan batu gamping untuk semen.
d) Pertambangan batuan batuan meliputi pumice, tras,toseki, obsidian, marmer, perlit, tanah diatome, tanah serap (fullers earth), slate, granit, granodiorit, andesit, gabro, peridotit, basalt, trakhit, leusit, tanah liat, tanah urug, batu apung, opal, kalsedon, chert, kristal kuarsa, jasper, krisoprase, kayu terkersikan, gamet, giok, agat, diorit, topas, batu gunung quarry besar, kerikil galian dari bukit, kerikil sungai, batu kali, kerikil sungai ayak tanpa pasir, pasir urug, pasir pasang, kerikil berpasir alami (sirtu), bahan timbunan pilihan (tanah), urukan tanah setempat, tanah merah (laterit), batu gamping, onik, pasir laut, dan pasir yang tidak mengandung unsur mineral
commit to user
logam atau unsur mineral bukan logam dalam jumlah yang berarti ditinjau dari segi ekonomi pertambangan.
2) Pertambangan batu-bara meliputi bitumen padat, batuan aspal, batubara, dan gambut.
b. Sumber Hukum Pertambangan
Peraturan perundang-undangan yang menjadi sumber-sumber hukum pertambangan adalah:
1) Indische Mijn Wet (IMW)
Undang-undang ini diundangkan pada tahun 1899 dengan Staatblad 1899, Nomor 214. IMW ini mengatur mengenai pengolongan bahan galian dan pengusahaan pertambangan(Salim,2005:18).
Selain itu, IMW ini mengatur tentang ketentuan kontrak antara pemerintah Hindia Belanda dengan pihak swasta, yang merupakan cikal bakal lahirnya ketentuan kontrak karya yang diberlakukan setelah kemerdekaan (Nandang,2010:33).
2) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok- pokok Agraria (UUPA).
Hubungan UUPA dengan pertambangan erat kaitannya dengan pemanfaatan hak atas tanah untuk kepentingan pembangunan di bidang pertambangan.
3) Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan
Undang-undang pertambangan yang lama masih berlaku dikarenakan ada beberapa daerah yang masih menggunakan Peraturan daerah yang berdasarkan pada Undang-undang ini. Dalam undang- undang ini, terdapat ketentuan mengenai penggolongan bahan galian yang dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
a) Bahan galian golongan A, yaitu bahan galian golongan strategis.
Yang dimaksud stategis adalah strategis bagi pertahanan/keamanan Negara;
b) Bahan galian golongan B, yaitu bahan galian vital, adalah bahan galian yang dapat menjamin hajat hidup orang banyak;
c) Bahan galian golongan C, yaitu bahan galian yang tidak termasuk golongan A dan B.
4) Undang-undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan batu-bara.
Undang-undang pertambangan ini merupakan undang-undang yang terbaru dimana undang-undang ini tidak lagi mengatur mengenai penggolongan bahan galianUndang-undang
5) Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Undang-undang tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup ini erat kaitannya dengan kegiatan pertambangan karena dalam kegiatan pertambangan harus mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan sekitar.
c. Wilayah Pertambangan
Wilayah pertambangan sebagai bagian dari tata ruang nasional merupakan landasan bagi penetapan kegiatan pertambangan. Wilayah Pertambangan ditetapkan oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
Wilayah pertambangan adalah wilayah yang memiliki potensi mineral dan/atau batubara dan tidak terikat dengan batasan administrasi pemerintahan yang merupakan bagian dari tata ruang nasional. Wilayah pertambangan dibagi menjadi tiga,yaitu:
commit to user
1) Wilayah Usaha Pertambangan, adalah bagian wilayah pertambangan yang telah memiliki ketersediaan data, potensi dan/atau informasi geologi.
2) Wilayah Pertambangan Rakyat, adalah bagian dari wilayah pertambangan tempat dilakukan kegiatan usaha pertambangan rakyat.
3) Wilayah Pencadangan Negara adalah bagian dari wilayah pertambangan yang dicadangkan untuk kepentingan strategis nasional.
d. Perizinan Usaha Pertambangan
Usaha pertambangan di kabupaten Magelang berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Magelang Nomor 1 tahun 2008 tentang Usaha Pertambangan (masih berdasar Undang- Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan- Ketentuan Pokok Pertambangan), dikatakan bahwa usaha pertambangan dapat dilakukan oleh orang pribadi, kelompok atau badan, dan setiap usaha pertambangan yang dilakukan tersebut harus memperoleh izin dari bupati.
Izin usaha yang pertambangan yang ada di Kabupaten Magelang meliputi:
1) Kuasa Pertambangan dapat diberikan untuk kegiatan:
a) penyelidikan Umum b) eksplorasi
c) eksploitasi
d) pengolahan dan/ atau pemurnian e) pengangkutan
f) penjualan
2) Surat Izin Pertambangan Daerah, diberikan untuk kegiatan:
a) eksplorasi b) eksploitasi
c) pengolahan dan/atau pemurnian d) pengangkutan
e) penjualan
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
3) Surat Izin Pertambangan Rakyat diberikan meliputi kegiatan penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan/ pemurnian, pengangkutan dan penjualan.
4) Surat Izin Pertambangan Terbatas diberikan untuk penggalian tanah atau yang sejenisnya untuk pengurugan.
Berakhirnya Izin Usaha Pertambangan.
e. Berakhirnya izin usaha pertambangan
Berakhirnya izin usaha pertambangan dapat disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:
1) Berakhirnya jangka waktu izin.
2) Izin dikembalikan oleh pemegangnya.
Pemegang izin usaha pertambangan dapat mengembalikan izinnya kepada Bupati, dengan mengajukan permohonan secara tertulis.
3) Izin dicabut oleh Bupati.
Izin usaha pertambangan dapat dicabut serta dinyatakan tidak berlaku oleh Bupati, walaupun masa berlakunya belum berakhir, apabila:
a) Pemegang izin eksplorasi tidak melaksanakan kegiatan dalam jangka waktu 6 bulan berturut-turut sejak izin diterbitkan.
b) Pemegang izin eksploitasi tidak melaksanakan kegiatan persiapan dalam jangka waktu 6 bulan sejak diterbitkan izin.
c) Pemegang izin eksploitasi tidak melaksanakan kegiatan eksploitasi dalam jangka waktu 1 tahun sejak diterbitkan izin.
d) Izin dipindahtangankan kepada pihak lain tanpa izin bupati.
e) Pemegang izin tidak melanjutkan usahanya.
f) Pemegang izin tidak dapat memenuhi kewajibannnya dan atau tidak melaksanakan ketentuan perundang-undangan.
g) Secara tekhnis deposit dinyatakan habis sesuai dengan rencana tekhnis pertambangan.
h) Terjadi force majeur berupa becana alam.
commit to user
Walaupun izin usaha pertambangan telah berakhir karena alasan diatas, akan tetapi pemegang izin tetap harus menyelesaikan kewajiban- kewajiban yang belum dipenuhi selama berlakunya izin.
4) Dihentikan oleh Bupati
5) Pemegang izin meninggal dunia, untuk izin yang diberikan kepada perorangan.
f. Hak, kewajiban dan Larangan Pemegang Izin Usaha Pertambangan 1) Hak Pemegang Izin Usaha Pertambangan
a) Pemegang Kuasa Pertambangan Umum berhak untuk meningkatkan usahanya ketahap eksplorasi.
b) Pemegang Izin Eksplorasi mendapat hak tunggal untuk memperoleh izin eksploitasi atas bahan galian yang disebutkan dalam izin eksplorasinya. Untuk memperoleh hak tunggal dan prioritas pertama, maka pemegang eksplorasi mengajukan permohonan izin eksploitasi sebelum berakhir jangka waktu izin eksplorasi.
c) Pemegang izin eksplorasi dan/atau izin eksploitasi wajib mengajukan permohonan izin eksplorasi dan/atau izin eksploitasi atau bahan galian lain yang ditemukan, sebelum berakhir jangka waktu izin eksplorasi dan/ atau izin eksploitasi.
d) Jika pemegang izin Eksplorasi dan/atau izin eksplotasi menemukan bahan galian lain yang disebutkan dalam izin, maka pemegang izin yang bersangkutan diberikan prioritas pertama untuk mengajukan permohonan izin eksplorasi dan/atau izin eksploitasi atau bahan galian lain yang ditemukan.
e) Pemegang Kuasa Pertambangan/Surat Izin Pertambangan Daerah Eksplorasi dan/atau Kuasa Pertambangan/Surat Izin Pertambangan Daerah Eksploitasi berhak memiliki bahan galian yang tergali setelah memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
2) Kewajiban Pemegang Izin Usaha Pertambangan
Mengenai kewajiban pemegang izin usaha pertambangan, ada 3 macam kewajiban pemegang izin usaha pertambangan, yaitu:
a) Sebelum melakukan usaha pertambangan, setiap pemegang izin usaha pertambangan kewajiban:
(1) menyusun rencana tekhnis penambangan sesuai dengan izin yang dimohonkan;
(2) menyusun dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL), Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL), Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) atau SPPL;
(3) menyusun rencana reklamasi sesuai dengan kondisi lokasi pertambangan;
(4) membuat pernyataan kesungguhan bagi pemohon izin usaha pertambangan dalam bentuk Kuasa Pertambangan.
b) Setelah melakukan usaha pertambangan, setiap pemegang izin usaha pertambangan berkewajiban:
(1) melaksanakan pematokan batas wilayah pertambangan dan batas penambangan sesuai dengan izin yang diberikan.
(2) melaksanakan usaha pertambangan bahan galian berdasarkan izin yang diberikan serta menaati terhadap ketentuan perauran perundang-undangan yang berlaku.
(3) menyampaikan laporan mengenai hasil penyelidikan umum, eksplorasi dan/atau perkembangan kegiatan yang telah dilakukan, kepada bupati atau pejabat yang ditunjuk secara berkala setiap 3 bulan sekali.
(4) menyampaikan laporan kegiatan eksploitasi/ produksi dan penjualan kepada Bupati atau Pejabat yang ditunjuk setiap 1 bulan sekali paling lambat tanggal 5 bulan berikutnya, yang dilengkapi buku catatan produksi.
commit to user
(5) melaksanakan program pengembangan masyarakat dan pengembangan wilayah kecuali bagi pemegang Surat Izin Pertambangan Terbatas.
(6) mematuhi dan melaksanakan ketentuan tekhnis yang tercantum dalam izin yang diberikan.
(7) memelihara keselamatan dan kesehatan kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(8) melaksanakan pemeliharaan lingkungan dengan mematuhi petunjuk sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
(9) melaksanakan dan melaporkan ketentuan-ketentuan dokumen AMDAL, UKL-UPL atau SPPL yang ditetapkan.
(10) melaporkan kepada Bupati atau Pejabat yang ditunjuk apabila menemukan barang berharga saat melaksanakan kegiatan pertambangan.
(11) melaksanakan pembayaran pajak dan pungutan lainnya.
(12) membayar Retribusi Ijin Usaha Pertambangan.
(13) membayar Pajak Produksi.
c) sesudah melakukan usaha pertambangan, setiap pemegang izin usaha pertambangan berkewajiban untuk melaksanakan reklamasi lahan bekas tambang sesuai dengan reklamasi yang ditetapkan.
3) Larangan Pemegang Izin Usaha Pertambangan
Menurut Pasal 14 Peraturan Daerah Kabupaten Magelang Nomor 1 Tahun 2008 tentang Usaha Pertambangan, Izin usaha pertambangan yang diberikan tidak dapat dipindah tangankan atau dikerjasamakan dengan pihak lain kecuali atas izin Bupati.
2. Tinjauan tentang Pertambangan Rakyat a. Pengertian Pertambangan Rakyat
Menurut Peraturan Daerah Kabupaten Magelang Nomor 1 Tahun 2008 tentang Usaha Pertambangan dalam Pasal 1 angka (8) menyebutkan bahwa usaha pertambangan adalah usaha dibidang pertambangan terdiri dari
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
usaha penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan bahan galian golongan A,B dan/
atau C serta tanah urug, dalam hal ini Peraturan Daerah di Kabupaten Magelang masih berdasarkan pada Undang-undang Nomor 11 tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan.
Pertambangan rakyat adalah kegiatan pertambangan yang diberikan kepada rakyat setempat untuk melaksanakan kegiatan pertambangan secara kecil- kecilan dan dengan luas wilayah yang sangat terbatas yang diusahakan secara sederhana dan tradisional.
Kegiatan pertambangan rakyat sebagaimana diatur dalam pasal 66 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu-bara dikelompokkan sebagai berikut:
1) pertambangan mineral logam;
2) pertambangan mineral bukan logam;
3) pertambangan batuan;
4) pertambangan batu-bara.
b. Izin Pertambangan Rakyat
Izin Pertambangan Rakyat adalah izin yang diberikan kepada rakyat setempat untuk melaksanakan usaha pertambangan secara kecil-kecilan dan dengan luas wilayah sangat terbatas yang diusahakan secara sederhana atau tradisional ( Pasal 1 angka 13 Peraturan Daerah Kabupaten Magelang Nomor 1 Tahun 2008 tentang Usaha Pertambangan).
Bupati/walikota memberikan Izin Pertambangan Rakyat terutama kepada penduduk setempat, baik perseorangan maupun kelompok masyarakat dan/atau koperasi. Bupati/walikota dapat melimpahkan kewenangan pelaksanaan pemberian Izin Pertambangan Rakyat kepada camat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Untuk memperoleh Izin Pertambangan Rakyat tersebut, pemohon wajib menyampaikan surat permohonan kepada bupati/walikota ( Pasal 1 ayat (1),
commit to user
(2), dan (3) Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara).
Izin Pertambangan Rakyat diberikan oleh bupati/walikota berdasarkan permohonan yang diajukan oleh penduduk setempat, baik orang perseorangan maupun kelompok masyarakat dan/atau koperasi. Izin Pertambangan Rakyat diberikan setelah ditetapkan Wilayah Pertambangan Rakyat oleh bupati/walikota. Dalam 1 Wilayah Pertambangan Rakyat dapat diberikan 1 atau beberapa Izin Pertambangan Rakyat.
Setiap usaha pertambangan rakyat pada Wilayah Pertambangan Rakyat dapat dilaksanakan apabila telah mendapatkan Izin Pertambangan Rakyat. Maka dari itu untuk mendapatkan Izin Pertambangan Rakyat, pemohon harus memenuhi:
1) persyaratan administratif;
a) orang perseorangan, paling sedikit meliputi:
(1) surat permohonan;
(2) kartu tanda penduduk;
(3) komoditas tambang yang dimohon; dan
(4) surat keterangan dari kelurahan/desa setempat.
b) kelompok masyarakat, paling sedikit meliputi:
(1) surat permohonan;
(2) komoditas tambang yang dimohon; dan
(3) surat keterangan dari kelurahan/desa setempat.
c) koperasi setempat, paling sedikit meliputi:
(1) surat permohonan;
(2) nomor pokok wajib pajak;
(3) akte pendirian koperasi yang telah disahkan oleh pejabat yang berwenang;
(4) komoditas tambang yang dimohon; dan
(5) surat keterangan dari kelurahan/desa setempat.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
2) Persyaratan teknis berupa surat pernyataan yang memuat paling sedikit mengenai:
a) sumuran pada Izin Pertambangan Rakyat paling dalam 25 meter;
b) menggunakan pompa mekanik, penggelundungan atau permesinan dengan jumlah tenaga maksimal 25 horse power untuk 1 Izin Pertambangan Rakyat; dan
c) tidak menggunakan alat berat dan bahan peledak.
3) Persyaratan financial berupa laporan keuangan 1 tahun terakhir dan hanya dipersyaratkan bagi koperasi setempat.
Masa berlaku untuk Surat Izin Pertambangan Rakyat berlaku untuk paling lama 1 tahun dan dapat diperpanjang lagi. Permohonan perpanjangan izin ini diajukan secara tertulis kepada Bupati selambat- lambatnya 3 bulan sebelum berakhirnya izin. (Pasal 10 ayat (1) huruf f dan ayat (2) Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2008).
c. Wilayah Pertambangan Rakyat
Kegiatan pertambangan rakyat dilaksanakan dalam suatu Wilayah Pertambangan Rakyat yang ditetapkan oleh Bupati/ walikota setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten/kota.
Kriteria untuk menetapkan Wilayah Pertambangan Rakyat adalah sebagai berikut:
1) mempunyai cadangan mineral sekunder yang terdapat disungai dan/atau di antara tepi dan tepi sungai;
2) mempunyai cadangan primer logam atau batubara dengan kedalaman maksimal 25 (dua puluh lima) meter;
3) endapan teras, dataran banjir, dan endapan sungai purba;
4) luas maksimal wilayah pertambangan rakyat adalah 25 hektare;
5) menyebutkan jenis komoditas yang akan ditambang; dan/atau
6) merupakan wilayah atau tempat kegiatan tambang rakyat yang sudah dikerjakan sekurang-kurangnya 15 tahun.
commit to user
7) tidak tumpang tindih dengan Wilayah Usaha Pertambangan (WUP) dan Wilayah Pencadangan Negara (WPN); dan
8) merupakan kawasan peruntukan pertarnbangan sesuai dengan rencana tata ruang.
Bupati/walikota menyusun rencana penetapan suatu wilayah di dalam Wilayah Pertambangan menjadi Wilayah Pertambangan Rakyat berdasarkan peta potensi mineral dan/atau batubara serta peta potensi/cadangan mineral dan/atau batubara.
Wilayah di dalarn Wilayah Pertambangan yang memenuhi kriteria ditetapkan menjadi Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) oleh bupati/walikota setempat setelah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kabupaten/kota. Koordinasi dimaksudkan untuk mendapatkan pertimbangan berkaitan dengan data dan informasi yang dimiliki pemerintah provinsi yang bersangkutan. Konsultasi dengan DPRD Kabupaten/ kota untuk memperoleh pertimbangan. Penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat disarnpaikan secara tertulis oleh bupati/walikota kepada Menteri dan gubernur. Konsultasi dengan DPRD.
Luas maksimal satu wilayah pertambangan rakyat berdasarkan Pasal 11 ayat (3) Peraturan Daerah Kabupaten Nomor 1 Tahun 2008 adalah 1 hektar.
Menurut Pasal 68 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009, diatur bahwa luas wilayah untuk 1 Izin Pertambangan Rakyat yang dapat diberikan kepada:
1) perseorangan paling banyak 1 (satu) hektare;
2) kelompok masyarakat paling banyak 5 (lima) hektare;dan/atau 3) koperasi paling banyak 10 (sepuluh) hektare.
Dalam menetapkan WPR, bupati/walikota berkewajiban melakukan pengumuman mengenai rencana WPR kepada masyarakat secara terbuka.
Kemudian wilayah atau tempat kegiatan tambang rakyat yang sudah
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
dikerjakan tetapi belum ditetapkan sebagai WPR diprioritaskan untuk ditetapkan sebagai WPR.
d. Hak dan Kewajiban Pemegang Izin Pertambangan Rakyat
1) Berdasarkan Pasal 69 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009, pemegang Izin Pertambangan Rakyat memiliki hak, yaitu:
a) mendapat pembinaan dan pengawasan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja, lingkungan, teknis pertambangan, dan manajemen dari Pemerintah dan/atau pemerintah daerah; dan
b) mendapat bantuan modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2) Berdasarkan Pasal 70 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009, Pemegang Izin Pertambangan Rakyat wajib:
a) melakukan kegiatan penambangan paling lambat 3 bulan setelah Izin Pertambangan Rakyat diterbitkan;
b) mematuhi peraturan perundang-undangan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan, pengelolaan lingkungan, dan memenuhi standar yang berlaku;
c) mengelola lingkungan hidup bersama pemerintah daerah;
d) membayar iuran tetap dan iuran produksi; dan
e) menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan rakyat secara berkala kepada pemberi Izin Pertambangan Rakyat.
3. Tinjauan tentang Pengawasan Usaha Pertambangan oleh Pemerintah a. Pengertian tentang Pemerintah Daerah
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia pada dasarnya menentukan bahwa negara Indonesia adalah negara kesatuan, hal ini terdapat dalam ketentuan pasal 1 ayat (1) UUD RI 1945 yang berbunyi “ Negara Indonesia ialah Negara kesatuan yang berbentuk Republik”.
Bentuk Negara kesatuan ini, membawa konsekuensi bahwa Indonesia tidak mempunyai daerah di dalam lingkunganya yang bersifat staat juga,
commit to user
Pemerintah (pusat) adalah satu-satunya pemegang kekuasaan pemerintahan (Titik,2010:114).
Namun melalui Pasal 18 ayat (1) UUD RI 1945 dikatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang (otonomi daerah).
Otonomi daerah, menurut pasal 1 angka 5 Undang-Undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Otonomi dalam konteks hubungan hierarki dikaitkan dengan pembagian kekuasaan secara vertikal, diartikan sebagai penyerahan kepada atau membiarkan setiap pemerintahan yang lebih rendah mengatur dan mengurus urusan pemerintahan tertentu secara penuh baik mengenai asas- asas maupun cara menjalankannya(wewenang mengatur dan mengurus asas dan cara menjalankannya) (Titik,2010:129).
Hakikat pengertian otonomi daerah secara singkat dirumuskan oleh Philipus M. Hadjon,bahwa hakikat otonomi daerah berasal dari unsur kebebasan (bukan kemerdekaan: independence, onafhankelijkheid) otonomi merupakan subsistem dari Negara kesatuan (Titik,2010:129).
Konsekuensi dari dipilihnya asas otonomi daerah dalam pelaksanaan pemerintahan di Indonesia, maka kemudian muncul pemerintahan daerah.
Menurut Pasal 1 ayat (2) Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang dimaksud pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
Pemerintahan daerah ini dilaksanakan oleh pemerintah daerah yaitu gubernur, bupati, atau walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
Penyelenggaraan pemerintahan daerah yang berdasarkan asas otonomi daerah dan tugas pembantuan adalah bahwa pelaksanaan urusan pemerintahan oleh daerah dapat diselenggarakan secara langsung oleh pemerintahan daerah itu sendiri dan dapat pula penugasan oleh pemerintah provinsi ke pemerintah kabupaten/kota dan desa atau penugasan dari pemerintah kabupaten/kota ke desa. Wewenang otonomi adalah urusan yang tidak diserahkan oleh pemerintah pusat sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 ayat (3) Undang-undang Nomor 32 tahun 2004, yang meliputi bidang politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter, fiskal nasional, dan agama.
Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, pemerintah pusat melaksanakan desentralisasi kewenangan.
Desentralisasi pada dasarnya terjadi setelah sentralisasi melalui asas dekonsentrasi tidak dapat melaksanakan tugas pemerintahan secara baik dalam arti pemerintahan gagal dalam mewujudkan pemerintahan yang demokratis. Oleh karena itu,urusan pemerintah yang merupakan wewenang pemerintah pusat sebagian harus diserahkan kepada organ lain yang ada di daerah (pemerintah daerah) untuk diurus sebagai rumah tangganya (Titik,2010:122).
Philipus M. Hadjon, mengemukakan:
Desentralisasi mengandung makna bahwa wewenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan tidak semata-mata dilakukan oleh Pemerintah Pusat, melainkan dilakukan juga oleh satuan-satuan pemerintahan yang lebih rendah, baik dalam bentuk satuan territorial maupun fungsional. Satuan-satuan pemerintahan yang lebih rendah diserahi dan dibiarkan mengatur dan mengurus sendiri sebagian urusan pemerintahan (Titik, 2010:122).
Menurut Pasal 1 angka 7 Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004, desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan
commit to user
dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada desentralisasi pembagian kewenangan antara pusat dan daerah tidak ditentukan oleh sifat urusan, lebih ditujukan pada manfaat, apakah suatu urusan lebih bermanfaat jika diurus oleh pusat atau diserahkan pada daerah.
Selanjutnya dalam pemerintahan daerah wewenang pemerintahan yang diserahkan kepada pemerintahan daerah terdapat dalam Pasal 13 dan 14 Undang-Undang Nomer 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Wewenang pemerintahan daerah ini terbagi menjadi 2, yaitu wewenang pemerintahan daerah yang bersifat wajib, dan wewenang pemerintahan daerah yang bersifat pilihan.
Dalam Pasal 13 Undang-undang ini, wewenang pemerintahan daerah provinsi yang bersifat wajib meliputi:
1) perencanaan dan pengendalian pembangunan;
2) perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang;
3) penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat;
4) penyediaan sarana dan prasarana umum;
5) penanganan bidang kesehatan;
6) penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial;
7) penanggulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota;
8) pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota;
9) fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil, dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota;
10) pengendalian lingkungan hidup;
11) pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota;
12) pelayanan kependudukan, dan catatan sipil;
13) pelayanan administrasi umum pemerintahan;
14) pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota;
15) penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota ; dan
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
16) urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang- undangan.
Sedangkan untuk wewenang pemerintahan provinsi yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan.
Berdasarkan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Pemerintahan Daerah dalam melaksanakan otonomi daerah, mempunyai hak, yang meliputi:
1) mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya;
2) memilih pimpinan daerah;
3) mengelola aparatur daerah;
4) mengelola kekayaan daerah;
5) memungut pajak daerah dan retribusi daerah;
6) mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang berada di daerah;
7) mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah; dan
8) mendapatkan hak lainnya yang diatur dalam Peraturan perundangundangan.
Selain mempunyai hak, dalam pelaksanaan otonomi, pemerintah daerah mempunyai kewajiban yaitu:
1) melindungi masyarakat, menjaga persatuan, kesatuan dan kerukunan nasional, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
2) meningkatkan kualitas kehidupan, masyarakat;
3) mengembangkan kehidupan demokrasi;
4) mewujudkan keadilan dan pemerataan;
5) meningkatkan pelayanan dasar pendidikan;
6) menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan;
7) menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak;
8) mengembangkan sistem jaminan sosial;
9) menyusun perencanaan dan tata ruang daerah;
commit to user
10)mengembangkan sumber daya produktif di daerah;
11)melestarikan lingkungan hidup;
12)mengelola administrasi kependudukan;
13)melestarikan nilai sosial budaya;
14)membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya; dan
15)kewajiban lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Hak dan kewajiban daerah diwujudkan dalam bentuk rencana kerja pemerintahan daerah dan dijabarkan dalam bentuk pendapatan, belanja,. dan pembiayaan daerah yang dikelola dalam sistem pengelolaan keuangan daerah. Pengelolaan keuangan daerah dilakukan secara efisien, efektif, transparan, akuntabel, tertib, adil, patut, dan taat pada peraturan perundang- undangan.
b. Pengertian tentang Pembinaan Usaha Pertambangan oleh Pemerintah
Menteri melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya. Pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah ini meliputi:
1) pemberian pedoman dan standar pelaksanaan pengelolaan usaha pertambangan;
2) pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi;
3) pendidikan dan pelatihan; dan
4) perencanaan, penelitian, pengembangan, pemantauan, dan evaluasi pelaksanaan penyelenggaraan usaha pertambangan di bidang mineral dan batubara.
Dalam pelaksanaan pembinaan ini Menteri dapat melimpahkan kepada gubernur untuk melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan kewenangan pengelolaan di bidang usaha pertambangan sebagaimana dimaksud diatas yang dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota.
Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
bertanggung jawab melakukan pembinaan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan yang dilakukan oleh pemegang Izin Usaha Pertambangan, Izin Pertambangan Rakyat, atau Izin Usaha Pertambangan Khusus.
c. Pengertian mengenai Pengawasan Usaha Pertambangan oleh Pemerintah Menteri melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.
Menteri dapat melimpahkan kepada gubernur untuk melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan kewenangan pengelolaan di bidang usaha pertambangan yang dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota.
Menteri, gubernur, dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan pengawasan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan yang dilakukan oleh pemegang Izin Usaha Pertambangan, Izin Pertambangan Rakyat, atau Izin Usaha Pertambangan Khusus. Pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah meliputi:
1) teknis pertambangan;
2) pemasaran;
3) keuangan;
4) pengolahan data mineral dan batubara;
5) konservasi sumber daya mineral dan batubara;
6) keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan;
7) keselamatan operasi pertambangan;
8) pengelolaan lingkungan hidup, reklamasi, dan pascatambang;
9) pemanfaatan barang, jasa, teknologi, dan kemampuan rekayasa dan rancang bangun dalam negeri;
10) pengembangan tenaga kerja teknis pertambangan;
11) pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat;
12) penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan;
13) kegiatan-kegiatan lain di bidang kegiatan usaha pertambangan yang menyangkut kepentingan umum;
commit to user
14) pengelolaan Izin Usaha Pertambangan atau Izin Usaha Pertambangan Khusus; dan
15) jumlah, jenis, dan mutu hasil usaha pertambangan.
Pengawasan sebagaimana dimaksud angka 1, 5, 6, 7, 8, dan 9 dilakukan oleh inspektur tambang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan. Dalam hal pemerintah daerah provinsi atau pemerintah daerah kabupaten/kota belum mempunyai inspektur tambang, Menteri menugaskan inspektur tambang yang sudah diangkat untuk melaksanaan pembinaan dan pengawasan.
Pelaksanaan usaha pertambangan di wilayah masing-masing wajib dilaporkan oleh Gubernur dan bupati/walikota sekurang-kurangnya sekali dalam 6 bulan kepada Menteri. Pemerintah dalam hal ini dapat memberi teguran kepada pemerintah daerah apabila dalam pelaksanaan kewenangannya tidak sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang- undangan yang berlaku.
d. Pengertian tentang Pengawasan Usaha Pertambangan Rakyat
Menurut Pasal 73 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, Bupati/walikota melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap usaha pertambangan rakyat.
Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan pembinaan di bidang pengusahaan, teknologi pertambangan, serta permodalan dan pemasaran dalam usaha meningkatkan kemampuan usaha pertambangan rakyat.
Pemerintah kabupaten/kota bertanggung jawab terhadap pengamanan teknis pada usaha pertambangan rakyat yang meliputi:
a) keselamatan dan kesehatan kerja;
b) pengelolaan lingkungan hidup; dan c) pascatambang.
Untuk melaksanakan pengamanan teknis pada usaha pertambangan rakyat, pemerintah kabupaten/kota wajib mengangkat pejabat fungsional inspektur tambang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.