TINJAUAN PUSTAKA
B. Tinjauan Teori
1. Kebijakan Dividen
Ambarwati (2010:63) Kebijakan dividen adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam keputusan pendanaan perusahaan. Pengambilan keputusan pendistribusian keuntungan selalu merupakan isu penting, apakah akan dibagikan dalam bentuk dividen atau tetap ditahan untuk diinvestasikan kembali dan mengharapkan mendapatkan capital gain di masa mendatang.
Manajemen mempunyai dua alternatif perlakuan terhadap penghasilan bersih perusahaan: dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau diinvestasikan kembali sebagai laba ditahan ( retained earning ), pada umumnya keuntungan bersih dibagi dalam bentuk dividen dan diinvestasikan kembali, artinya manajemen harus membuat keputusan berapa besar bagian yang harus dibagikan dalm bentuk dividen.
Sartono (2001:281) menyatakan bahwa kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi di masa datang, sedangkan pengertian kebijakan dividen menurut Husnan dkk (2002:333) menyatakan bahwa kebijakan dividen adalah kebijakan yang menyangkut tentang masalah penggunaan laba yang menjadi hak para pemegang saham, pada dasarnya laba tersebut bisa dibagi sebagai dividen atau ditahan untuk diinvestasikan
12
Warsono (2003:272) kebijakan dividen mempunyai arti yang penting bagi perusahaan karena empat alasan berikut:
a. Kebijakan keuangan ini berpengaruh pada sikap para investor. Pemotongan dividen dapat dipandang negatif oleh para investor, karena pemotongan seperti itu sering dikaitkan dengan kesulitan keuangan yang dihadapi perusahaan
b. Kebijakan keuangan ini berdampak pada program pendanaan dan anggaran modal perusahaan
c. Kebijakan keuangan ini dapat mempengaruhi arus kas perusahaan. Perusahaan dengan likuiditas buruk dapat dipaksa untuk membatasi pembayaran dividennya
d. Kebijakn keuangan ini menurunkan nilai ekuitas pemegang saham biasa karena besarnya dividen ditentukan oleh besarnya laba ditahan.
2. Kebijakan Pemberian Dividen
Bentuk pemberian dividen tunai yang diberikan oleh perusahaan kepada pemegang saham. Bentuk kebijakan dividen tersebut (Sutrisno, 2001:305) adalah:
a. Kebijakan Pemberian Dividen Stabil, artinya dividen akan diberikan secara tetap per lembarnya untuk jangka waktu tertentu walaupun laba yang diperoleh berfluktuasi. Dividen stabil ini dipertahankan untuk beberapa tahun, dan kemudian bila laba yang diperoleh meningkat dan peningkatannya mantap dan stabil, maka dividen juga akan ditingkatkan untuk selanjutnya dipertahankan selama beberapa tahun.
13
b. Kebijakan Dividen Meningkat, dengan kebijakan ini perusahaan akan membayarkan dividen kepada pemegang saham dengan jumlah yang selalu meningkat dengan pertumbuhan yang stabil.
c. Kebijakan Dividen dengan Ratio yang Konstan, kebijakan ini memberikan dividen yang besarnya meliputi besarnya laba yang diperoleh perusahaan semakin besar laba yang diperoleh semakin besar dividen yang dibayarkan, demikian pula sebaliknya bila laba kecil dividen yang dibayarkan kecil. Dasar yang digunakan sering disebut devidend payout ratio.
d. Kebijakan Pemberian Dividen Reguler yang Rendah Ditambah Ekstra Kebijakan pemberian dividen dengan cara ini, perusahaan menentukan jumlah pembayaran dividen per lembar yang dibagikan kecil, kemudian ditambahkan dengan ekstra dividen bila keuntungannya mencapai jumlah tertentu.
Gitosudarmo (2002:230) menyebutkan bahwa kebijakan pembayaran dividen pada garis besarnya adalah:
a. Kebijakan Pembayaran Dividen yang Stabil
Kebijakan ini besarnya divden yang dibayarkan selalu stabil dalam jumlah yang tetap, stabil yang semakin naik dan stabil yang semakin menurun, jadi besarnya dividen yang dibayarkan dalam jumlah yang selalu stabil walaupun terjadi fluktuasi dalam net income.
14
b. Kebijakan Pembayaran Dividen yang Berfluaktuasi
Kebijakan ini besarnya divden yang dibayarkan mendasarkan pada tingkat keuntungan pada setiap akhir periode, apabila tingkat keuntungan tinggi maka besarnya dividen yang dibayarkan relative tinggi dan sebaliknya bila tingkat keuntungan rendah maka besarnya dividen yang dibayarkan juga rendah atau dapat dikatakan besarnya selalu proporsional dengan tingkat keuntungan.
c. Kombinasi antara Kebijakan Stabil dan Berfluktuasi
Kebijakan ini besarnya dividen yang paling dibayarkan sebagian ada yang bersifat stabil atau tetap, tetapi sebagianyang lain bersifat proporsional dengan tingkat keuntungan yang dicapai, apabila perusahaan tidak mendapatkan laba para pemegang saham masih mendapatkan dividen tetap dan apabila didapatkan keuntungan dari hasil operasinya didapatkan dari keuntungan. Bagian dividen yang bersifat proporsional besarnya tidak sama dengan dividen yang menggunakan kebijakan fluktuatif.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen
Sutrisno (2001:304) faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen diantaranya:
a. Posisi solvabilitas perusahaan, jika perusahaan dalam kondisi solvabilitasnya kurang menguntungkan, biasanya perusahaan tidak membagikan laba, hal ini disebabkan laba yang diperoleh lebih banyak digunakan untuk memperbaiki posisi struktur modalnya.
15
b. Posisi likuiditas perusahaan, cash dividen merupakan arus kas keluar bagi perusahaan, oleh karena itu bila perusahaan membayarkan dividen berarti harus bisa menyediakan uang kas yang cukup banyak dan ini akan menurunkan tingkat likuiditas perusahaan, bagi perusahaan yang kondisi likuiditasnya kurang baik, biasanya dividen yang dibagikan kecil sebab sebagian besar laba digunakan untuk menambah likuiditas, namun perusahaan yang sudah mapan dengan likuiditas yang baik cenderung memberikan dividen lebih besar.
c. Kebutuhan untuk melunasi utang, semakin banyak utang yang harus dibayar semakin besar dana yang harus disediakan sehingga akan mengurangi jumlah dividen yang akan dibayarkan kepada pemegang saham, disamping itu dengan jatuh temponya utang, berarti dana utang tersebut harus diganti. Alternatif mengganti dana utang bisa dengan mencari uatng baru, bisa juga dengan sumber intern dengan memperbesar laba ditahan, hal ini tentunya akan memperkecil dividen yang dibagikan.
d. Rencana perluasan perusahaan yang berkembang ditandai dengan semakin pesatnya pertumbuhan perusahaan, hal ini bisa dilihat dari perluasan yang dilakukan perusahaan, semakin pesat pertumbuhan perusahaan, semakin pesat perluasan yang dilakukan. Konsekuensinya semakin besar kebutuhan dana untuk membiayai perluasan tersebut. Kebutuhan dana dalam rangka ekspansi tersebut bisa dipenuhi baik dari utang, menambah modal sendiri yang berasal dari pemilik, dan salah
16
satunya juga bisa diperoleh oleh internal resources berupa memperbesar laba yang ditahan, dengan demikian semakin pesat perluasan yang dilakukan perusahaan semakin kecil dividen yang dibagikan.
e. Kesempatan investasi, semakin terbuka kesempatan investasi semakin kecil dividen yang dibayarkan sebab dananya digunakan untuk memperoleh kesempatan investasi, namun bila kesempatan investasi kurang baik, maka dananya lebih banyak digunakan untuk membayar dividen.
f. Stabilitas pendapatan bagi perusahaan yang pendapatannya stabil, dividen yang akan dibayarkan kepada pemegang saham lebih besar dibanding dengan perusahaan yang pendapatannya tidak stabil. Perusahaan yang pendapatannya stabil tidak perlu menyediakan kas lebih banyak, sedangkan perusahaan yang pendapatannya tidak stabil harus menyediakan uang kas yang cukup besar untuk berjaga-jaga. g. Pengawasan terhadap perusahaan, kadang-kadang pemilik tidak mau
kehilangan kendali terhadap perusahaan, apabila perusahaan mencari sumber dana dari modal sendiri, kemungkinan akan masuk investor baru dan ini tentunya akan mengurangi kekuasaan pemilik lama dalam mengendalikan perusahaan, jika dibelanjai dari utang resikonya cukup besar, oleh karena itu perusahaan cenderung tidak membagi dividennya agar pengendalian tetap berada ditangannya.
17
4. Dividen Per Lembar Saham (Devidend Per Share)
Dividen per lembar saham (DPS) menurut Irawati (2006:64) menyatakan bahwa dividen per lembar saham (DPS) adalah besarnya pembagian dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham setelah dibandingkan dengan rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar. KSEP ITB (2006:31) meyebutkan bahwa devidend per share adalah total semua dividen yang dibagikan dibandingkan dengan rata-rata tertimbang
saham yang beredar”.
Dividen merupakan bagian dari laba yang diberikan kepada para pemegang saham biasa dalam bentuk kas/tunai.Tunai merupakan dividen yang dibayarkan dalam bentuk uang tunai, sedangkan dividen saham (stock devidend) merupakan dividen yang dibayarkan dalam bentuk saham dengan proporsi tertentu (Sutrisno, 2001:309).
5. Hubungan Current Ratio (CR) dan Devidend Per Share
Sutrisno (2003:304) likuiditas merupakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi sementara keuntungan yang besar belum menunjukkan kemampuan untuk membayar, karena tidak menunjukkan jumlah yang benar-benar tersedia dalam jangka pendek, karena dividen merupakan cash outflow, maka dividen tergantung pada kemampuan membayar (current ratio) dari perusahaan tersebut. Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa semakin tinggi current ratio maka semakin tinggi perusahaan membagikan devidend per share kepada para pemegang saham.
18
6. Hubungan Debt to Equity Ratio (DER) dan Devidend Per Share
Darsono (2005:54), “Debt to Equity Ratio adalah rasio yang menunjukan persentase penyedian dana oleh pemegang saham terhadap
pemberi pinjaman”, semakin besar debt to equity ratio maka semakin besar modal pinjaman sehingga akan menyebabkan semakin besar pula beban hutang (biaya bunga) yang harus ditanggung perusahaan, semakin besarnya beban hutang perusahaan maka jumlah laba yang dibagikan sebagai cash dividend akan berkurang, dengan demikian debt to equity ratio yang tinggi berdampak pada semakin kecilnya kemampuan perusahaan untuk membagikan cash dividend atau sebaliknya, dengan kata lain hubungan debt to equity ratio dengan cash dividend adalah negatif..
Kemampuan perusahaan dalam membayar utang yang didanai modal sendiri dapat diukur dengan menggunakan debt to equity ratio. DER dapat mengukur resiko struktur modal perusahaan dimana dalam hal ini berkaitan antara dana yang diperoleh dari kreditor (debt) dan investor (equity)”. Berdasarkan uraian yang dikemukakan diatas diketahui bahwa
semakin tinggi DER dimungkinkan perusahaan akan menurunkan jumlah DPS yang dibagikan kepada pemegang saham.
7. Hubungan Return On Investment (ROI) dan Devidend Per Share
Sundjaja dkk (2003:145) pada umumnya manajemen perusahaan akan menghasilkan laba dengan aktiva yang tersedia atau hasil atas investasi, semakin tinggi laba yang dihasilkan maka akan semakin baik. Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atas pengembalian
19
diperlukan karena berkenaan dengan kemampuan dalam pengembalian investasi, maka ROI berpengaruh karena semakin tinggi tingkat pengembalian yang dihasilkan maka semakin tinggi pula DPS yang diberikan..