PENGARUH CURRENT RATIO (CR), DEBT TO EQUITY RATIO
(DER), RETURN ON INVESTMENT (ROI) TERHADAP
DEVIDEND PER SHARE (DPS)
(Sektor Industri Barang Konsumsi yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia)
SKRIPSI
Oleh:
Taifur 201010160311066
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PENGARUH CURRENT RATIO (CR), DEBT TO EQUITY RATIO
(DER), RETURN ON INVESTMENT (ROI) TERHADAP
DEVIDEND PER SHARE (DPS)
(Sektor Industri Barang Konsumsi yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia)
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai
Derajad Sarjana Ekonomi
Oleh:
Taifur 201010160311066
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
Skripsi ini kupersembahkan:
Untuk kedua orang tuaku tercinta
ayahanda H. Maswan dan Ibunda Hj.
Wiqayatul Mukarramah dalam suka dan
duka.
Adek jagoanku yang keren Alex Maulana
dan my fiance Rahela yang selalu
menjadi semangatku untuk masa depan.
Seluruh keluarga besarku keturunan H.
Saleh dan Hj. Salehah yang menjadi
tempat berbagi dalam suka dan duka.
Dan almamater kebanggaanku kampus
putih
(Universitas
Muhammadiyah
MOTTO
6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. 7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. 8. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. QS. Al-Insyiroh
Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. QS. Ar-Ra’ad
“Always be yourself and never be anyone else even if they look better than you.”
“To get a success, your courage must be greater than your fear.”
“Intelligence is not the determinant of success, but hard work is the real determinant of your success.”
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT dan sholawat bagi nabi besar Muhammad SAW. Berkat rahmat, taufik dan hidayah Allah SWT dan suri tauladan rasul-Nya Muhammad SAW, penulis akhirnya dapat menyelesaikan
skripsi yang berjudul “PENGARUH CURRENT RATIO (CR), DEBT TO EQUITY RATIO (DER), RETURN ON INVESTMENT (ROI) TERHADAP DEVIDEND PER SHARE (Sektor Industri Barang Konsumsi yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012)”. Walaupun mengalami berbagai hambatan dan cobaan dalam melaksanakan penelitian dan penulisan skripsi ini, namun berkat dorongan, arahan, bimbingan serta bantuan dari berbagai pihak maka hambatan-hambatan tersebut dapat terlewatkan. Bersama iringan rasa syukur yang tiada terkira kepada Sang Pencipta, maka pada kesempatan yang baik ini, penulis ingin menyampaikan rasa hormat, penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Dr. H. Muhadjir Effendy, MAP. Selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Malang.
2. Dr. H. Nazaruddin Malik, M.Si. Selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang.
3. Dr. Marsudi, M.M Selaku Ketua Jurusan Manajemen.
4. Drs. M. Jihadi M.Si. Selaku Dosen Wali Manajemen Kelas B.
5. Prof. Dr. Bambang Widagdo M.M Selaku Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberikan motivasi dalam bentuk koreksi, masukan dan arahan dengan kesabarannya dalam membimbing penulis.
7. Bapak Ibu Dosen dan seluruh Staf Universitas Muhammadiyah Malang yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan dan fasilitas selama penulis menempuh masa studi di Universitas Muhammadiyah Malang. 8. Kedua orang tuaku tercinta ayahanda H. Maswan dan ibunda Hj.
Wiqayatul Mukarramah yang telah memberikan doa restu, kasih sayang, semangat, motivasi dukungan baik moral maupun spiritual serta kesabaran yang melimpah kepada saya selama ini.
9. Adikku Alex Maulana serta my fiance Rahela yang saya sayangi.
10.Keluaraga besar Alm. H. Saleh dan Almh. Hj. Salehah yang telah memberikan semangat, motivasi dukungan dalam suka maupun duka kepada saya selama ini.
11.Sahabat-sahabatku, Abdul Muin, Martono, Herman, Khairil Anwar,
Ma’ruf Dj, Edi Prawito, Joni M, Resky RR, Untung, Nurjanna W, Novita A, Erik N, Ach Sodikin, M Kasiragi, M Zaini, Fergi P, Taufik H, Mariana L, Nurmutia, Indah F terimakasih atas persahabatan yang indah dan dukungan selama ada di kampus UMM.
12.Seluruh teman teman manajemen angkatan 2010, teman-teman kontrakan dan team bachelor yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang sudah menemani saya saat suka maupun duka selama ada di kota Malang. 13.Semua pihak yang telah membantu saya yang tidak dapat disebutkan satu
persatu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak lepas dari kekurangan dan keterbatasan. Namun, penulis berharap semoga skripsi ini dapat ikut memberikan sumbangan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan dapat berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
Malang,
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTACK ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
I. PENDAHULUAN ... A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 8
C. Batasan Masalah... 8
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 9
II.TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS ... A. Tinjauan Penelitian Terdahulu ... 10
B. Tinjauan Teori ... 11
C. Kerangka Pikir Penelitian ... 19
D. Hipotesis ... 20
III. METODE PENELITIAN ... A. Jenis dan Sifat Penelitian ... 22
B. Data dan Sumber Data ... 22
C. Populasi dan Sampel ... 23
D. Definisi Operasional Variabel ... 24
E. Metode Pengumpulan Data ... 25
F. Teknik Analisis Data ... 25
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...
A. Gambaran Umum Objek Penelitian ... 33 B. Analisis Data ... 35 C. Pembahasan ... 52
V. KESIMPULAN DAN SARAN ...
A. Kesimpulan ... 53 B. Saran ... 54
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1: Nilai Durbin-Watson ... 29
Tabel 4.1: Perusahaan Sektor Industri Barang Konsumsi ... 34
Tabel 4.2: Descriptive Statistic ... 35
Tabel 4.3: Coefficients ... 39
Tabel 4.4: Durbin-Watson ... 41
Tabel 4.5: Model Summary ... 41
Tabel 4.6: Model Summary ... 42
Tabel 4.7: Coefficcients ... 43
Tabel 4.8: ANOVA ... 45
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1: Kerangka Pikir ... 19
Gambar 3.1: Kurva Distribusi F ... 30
Gambar 3.1: Kurva Distribusi t ... 32
Gambar 4.1: Histogram ... 37
Gambar 4.2: Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual ... 38
Gambar 4.3: Scatteplot ... 40
Gambar 4.4: Kurva Distribusi t ... 48
Gambar 4.5: Kurva Distribusi t ... 49
DAFTAR LAMPIRAN
1. Laporan KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia) dalam pembagian dividen 2008-2012
2. ICMD 2008-2012
3. Hasil Perhitungan Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Investment (ROI), dan Devidend Per Share (DPS) Perusahaan Sektor Industri Barang Konsumsi Tahun 2008-2012
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati, Sri, Dwi, Ari, 2010, Manajemen Keuangan Lanjut; Edisi Pertama, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Darsono, Azhari. 2005. Pedoman Praktis Memahami Laporan Keuangan. Yogyakarta: ANDI
Efni, 2009, Pengaruh Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Rentabilitas Ekonomi (RE), dan Return On Equity (ROE) Terhadap Dividend Per Share (DPS) pada Perusahaaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI; Riau.
Ghozali, Imam, 2011, Aplikasi Analisis Multivariat dengan Program IBM SPSS 19, Semarang, Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Gitosudarmo, Indriyo, 2002, Manajemen Keuangan, Edisi Empat, BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta
Husnan, Suad dan Enny Pujiastuti. 2002. Dasar-dasar Manajemen, Edisi Ketiga. Yogyakarta : UPP-AMP YKPN
Irawati, Susan, 2006, Manajemen Keuangan, Cetakan Kesatu, Bandung, Pustaka KSEP ITB. 2006. Mengenal Investasi Dalam Pasar Modal. Bandung : ITB
Sundjaja, Ridwan S. dan Inge Berlian. 2003. Manajemen Keuangan: Edisi Keempat, Buku 1, Literata Lintas Media, Jakarta.
Rindasari, 2011, Pengaruh Tingkat Profitabilitas, Likuiditas dan Leverage Terhadap Deviden Payout Ratio Pada Perusahaan Jasa yang Tercatat Di BEI
Riyanto, Bambang, 2010, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan; Edisi 4, BPFE-Yogyakarta, Yogyakrta
Sanusi, Anwar, 2011, Metodologi Penelitian Bisnis, Jakarta, Salemba Empat.
Sartono, Agus, 2001, “Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi”, Edisi Empat, BPFE; Yogyakarta
Setiawati. 2012. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Dividend Per Share pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Supranto, J, 2009. Statistik “Teori dan Aplikasi”; Edisi Ketujuh, Jilid Dua, Erlangga, Jakarta.
Sutrisno. 2001. Manajemen Keuangan “Teori, Konsep, dan Aplikasi”; Edisi Pertama, Yogyakarta, Ekonisia.
Sutrisno. 2003. Manajemen Keuangan “Teori, Konsep, dan Aplikasi”; Yogyakarta, Ekonisia
Warsono, 2003, Manajemen Keuangan Perusahaan Perusahaan; Edisi 3, UMM press, Malang
Widodo, Farkhan ST. 2003. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Dividend Per Share “Studi Empiris di Bursa Efek Jakarta”; Semarang.
http://www.idx.co.id/idid/beranda/perusahaantercatat/laporankeuangandantahunan .aspx, diakses pada tanggal 03 April 2014
http://www.ksei.co.id/support/data_user_guide, diakses pada tanggal 05 April 2014
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dana yang dimiliki setiap orang pada dasarnya dapat ditanamkan ke dalam berbagai investasi, seperti investasi pada proyek, investasi pada perdagangan valuta asing, obligasi maupun investasi saham. Investasi pada
saham merupakan suatu alternatif investasi yang cukup menarik karena seorang investor dapat berspekulasi dan berharap bahwa saham yang
dimilikinya saat itu akan mendatangkan keuntungan.
Investor bisa berharap keuntungan akan diperoleh dari dividen perusahaan atau dari capital gain. Capital gain dapat diperoleh jika harga
saham pada saat ini lebih kecil jika dibandingkan dengan harga saham pada saat pembelian, sedangkan dividen pada prinsipnya adalah keuntungan
perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham. Dividen memiliki resiko yang lebih rendah dari pada capital gain.
Dividen diterima menurut dasar periode berjalan sementara prospek realisasi keuntungan modal diperoleh di masa depan, artinya untuk memperoleh capital gain harus berani untuk berspekulasi bahwa harga saham
yang akan datang lebih besar dari pada harga saham pada waktu pembelian sehingga dividen dianggap lebih baik dari pada capital gain, sesuai dengan
2
Tujuan pembagian dividen juga untuk menunjukkan likuiditas perusahaan, untuk memenuhi kebutuhan para pemegang saham akan
pendapatan riil, serta sebagai alat komunikasi antara manajer dan pemegang saham. Kebijakan dividen bagi perusahaan sangat penting karena menyangkut
besar kecilnya keuntungan yang dibagikan perusahaan, setiap perubahan dalam kebijakan pembayaran dividen akan memiliki dua dampak yang berlawanan, apabila keuntungan perusahaan dibagikan sebagai dividen semua
maka keputusan cadangan akan terabaikan, sebaliknya bila laba akan ditahan semua maka kepentingan pemegang saham akan uang kas juga terabaikan.
Manajer keuangan harus mengambil kebijakan dividen yang optimal untuk menjaga kedua kepentingan tersebut, dengan demikian pembagian dividen memang sangat penting bagi suatu perusahaan untuk dapat menarik
investornya yang nantinya dapat membantu perusahaan dalam menjalankan usahanya, dalam menentukan pembagian dividen perusahaan perlu
mempertimbangkan berbagai faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen itu sendiri, bisa berasal dari faktor internal maupun faktor eksternal
perusahaan.
Faktor internal maupun faktor eksternal perlu diperhatikan karena ada kemungkinan pengurangan pembayaran dividen bisa ditafsirkan bahwa
prospek perusahaan memburuk. Faktor eksternalnya antara lain peraturan pemerintah, inflasi dan stabilitas sosial politik, sedangkan faktor internal
3
perusahasan serta perputaran penjualan, disini penulis hanya menelaah faktor internal saja.
Likuiditas perusahaan merupakan kemampuan finansial dari suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial pada saat ditagih.
Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban keuangannya pada saat ditagih berarti perusahaan tersebut dalam keadaan likuid, sebaliknya jika perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban finansialnya pada saat ditagih
maka perusahaan itu dalam keadaan tidak likuid. Likuid bagi perusahaan merupakan masalah yang sangat penting karena mewakili kepentingan
perusahaan dalam berhubungan dengan pihak lain, baik pihak intern ataupun pihak ekstern.
Rasio likuiditas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Current
Ratio. Current Ratio merupakan rasio perbandingan antara aktiva lancar
dengan utang lancar dimana jika suatu perusahaan current ratio-nya lebih
dari satu artinya perusahaan itu likuid dan semakin tinggi current ratio maka semakin besar kemampuan perusahaan dalam membayar kewajibannya.
Tingginya current ratio berarti semakin tinggi pula kemampuan perusahaan dalam membayar dividen.
Studi empirik juga menjadi resigep (perbedaan) dalam penelitian
4
tidak terdistribusi normal, sedangkan penelitian yang dilakukan Rindasari (2011) menghasilkan current ratio berpengaruh terhadap dividen.
Perusahaan akan memperoleh hutang baru untuk membiayai perluasan usahanya, sebelumnya harus sudah direncanakan terlebih dahulu kebutuhan
dana untuk membayar kembali hutang tersebut. Hutang dapat dilunasi pada saat jatuh tempo dengan mengganti hutang tersebut dengan hutang baru. Alternatif lain adalah perusahaan harus menyediakan dana sendiri yang
berasal dari keuntungan untuk melunasi hutang tersebut.
Rasio yang dapat menjamin keseluruhan hutangnya dengan bagian
dari modal sendiri adalah Debt to Equity Ratio (DER). DER menunjukkan bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk keseluruhan hutangnya. Perusahaan akan memprioritaskan keuntungan yang
diperolehnya untuk membayar hutang, sedangkan sisanya akan dibagikan sebagai devidend Per Share, hal ini yang menyebabkan Debt to Equity Ratio
berpengaruh dalam pembagian dividen.
Penelitian yang dilakukan Efni (2009) menyebutkan bahwa Debt to Equity Ratio tidak memiliki pengaruh terhadap dividen dengan mengatakan
jumlah hutang yang dibayarkan relatif kecil sehingga tidak mempengaruhi kebijakan dividen, sedangkan yang dilakukan oleh Rindasari (2011)
menghasilkan penelitian bahwa DER memiliki pengaruh terhadap DPS dengan asumsi DER menunjukkan bagian dari modal sendiri yang dijadikan
5
Politik dividen yang stabil banyak dijalankan oleh perusahaan artinya jumlah Devidend Per Share yang dibagikan setiap tahunnya relatif tetap sama
untuk jangka waktu tertentu, meskipun pendapatan per share saham pertahunnya berfluktuasi. Dividen yang stabil ini dipertahankan untuk
beberapa tahun kemudian, bila ternyata pendapatan perusahaan meningkat dan kenaikan pendapatan tersebut nampak dan relatif permanen, barulah besarnya Devidend Per Share dinaikkan.
Perusahaan yang menjalankan operasinya dalam menghasilkan tingkat keuntungan dengan aktiva yang tersedia atau hasil atas investasi, semakin
tinggi keuntungan maka semakin baik. Keuntungan yang dinyatakan atas hasil investasi disebut Return On Investment (ROI), sedangkan dividen akan dibayarkan bila perusahaan memperoleh keuntungan, maka Return On
Invesment tentu saja akan mempengaruhi besarnya dividen, bukti empirik
yang dilakukan oleh Widodo (2003) bahwa ROI memiliki pengaruh negatif
terhadap DPS.
Perkembangan industri barang konsumsi (consumer goods)
menempati urutan tinggi dalam daftar saham pilihan sepanjang 2014. Return on Equity (profitabilitas) diyakini rat-rata di atas 20 persen didukung daya
beli masyarakat yang kian meningkat dan bertambahnya perputaran uang
yang biasa terjadi di tahun Pemilihan Umum (Pemilu). Head of Equity Research PT Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto mengatakan
6
Harga Saham Gabungan (IHSG) setidaknya hingga semester I 2014.(Radarbanjarmasin co.id)
Kenaikan harga jual produk barang konsumsi memang sudah terjadi akibat penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) terhadap Rupiah,
meski begitu masyarakat tetap memiliki kepercayaan diri tinggi karena didukung tingkat daya beli, sebaliknya perusahaan yang bergerak di industri barang konsumsi sudah memelajari kondisi pada 2013 ketika nilai tukar
Rupiah tiba-tiba melemah, terutama beberapa perusahaan unggulan saat ini di sektor itu, sudah siap menghadapi situasi dan tinggal merealisasikan strategi
yang sudah ditetapkan berdasarkan pelajaran pada 2013.
"Emiten sektor konsumsi sudah belajar dari 2013 untuk bertahan dari fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap dolar. Strategi pemasaran menentukan
untuk meningkatkan kinerja fundamental emiten konsumsi. Industri barang konsumsi pada tahun lalu mengalami pertumbuhan sekitar 6 persen sampai 8
persen, namun rata-rata pertumbuhan perusahaan dari industri ini jauh di atas angka industri, sebaliknya pada tahun ini nilai tukar Rupiah berupaya
menemukan keseimbangan baru dan ditambah daya beli masyarakat serta likuiditas meningkat, potensi pertumbuhan lebih tinggi dari tahun lalu semakin terbuka.
Perusahaan yang bergerak di sektor industri barang konsumsi ada beberapa saham yang memberikan profit tinggi dan mayoritas masuk kategori
7
harga tertinggi di level 13.050 per saham. Return on Equity (ROE) ICBP diperkirakan tumbuh 20,4 persen sepanjang 2014, tetapi pada penutupan
perdagangan akhir pekan kemarin saham ICBP berada di harga 10.925, selain ICBP, saham PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) ditargetkan ke level
1.400 per saham dengan ROE diperkirakan sebesar 26 persen.
Produsen Sari Roti ini pada akhir pekan kemarin harga sahamnya 1.075, demikian juga saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dengan target
1.350 atau menawarkan ROE 22,6 persen, tetapi pada akhir pekan kemarin saham KLBF ditutup di harga 1.390, sementara saham PT Mandom Indonesia
Tbk (TCID) ditarget tembus 13.600 dengan ROE sebesar 14 persen. Saham ini ditutup di level 11.500, adapun untuk saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Helmi menyarankan investor untuk memertahankannya (hold).
Induk ICBP ini harga sahamnya ditarget naik ke level 7.050 dengan ROE sebesar 13,1 persen. Harga saham INDF ditutup di 6.675 pada akhir pekan
kemarin.
Rekomendasi yang sama dengan INDF berlaku untuk saham PT
Unilever Tbk (UNVR). Perusahaan raksasa di sektor barang konsumsi ini harga sahamnya dikenakan target pada level 28.300 dengan ROE 122 persen. Harga saham pada akhir pekan kemarin pada posisi level 27.650, secara
valuasi berdasarkan perhitungan price to earning ratio (PER), saham UNVR dinilai paling mahal sebesar 34,4 kali, sebaliknya saham TCID paling murah
8
Equity Ratio (DER), Return On Investment (ROI) Terhadap Devidend Per Share (DPS) Pada Perusahaan Sektor Industri Barang Konsumsi Yang
Tercatat Di Bursa Efek Indonesia”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Investment (ROI) berpengaruh terhadap Devidend Per Share (DPS)?
2. Variabel manakah yang paling berpengaruh antara Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Investment (ROI) terhadap Devidend Per Share (DPS)?
C. Batasan Masalah
Berfungsi untuk membatasi obyek masalah yang diteliti sehingga tidak meluas dan memudahkan dalam menganalisis, adapun batasan
masalahnya:
1. Perusahaan sektor industri barang konsumsi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012.
2. Perusahaan yang mempunyai data ICMD lengkap selama periode penelitian yaitu tahun 2008-2012.
9
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui pengaruh Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Investment (ROI) terhadap Devidend Per Share
(DPS) pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
b. Untuk mengetahui variabel yang paling berpengaruh antara Current
Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Investment (ROI)
terhadap Devidend Per Share (DPS) pada perusahaan sektor industri
barang konsumsi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.
2. Kegunaan Penelitian
a. Bagi para investor dan calon investor dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk membeli atau
menjual saham sehubungan dengan harapan atas devidend per share yang akan dibagikan
b. Bagi perusahaan hendaknya penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan dividen agar dapat memaksimalkan nilai perusahaan sehingga dapat menarik para
investor atau calon investor untuk menanamkan modalnya pada waktu yang akan datang.
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Setiawati (2012) melakukan penelitian empiris mengenai pengaruh Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Eanring Per Share (EPS),
terhadap Dividend Per Share (DPS) periode 2006-2010 pada perusahaan
Manufaktur terdaftar di BEI. Hasil penelitian ini secara simultan semua variabel bebas berperngaruh terhadap DPS, untuk variabel bebas yang paling
berpengaruh adalah variabel EPS dikatakan suatu perusahaan yang menjalankan operasinya tentu mampu menghasilkan tingkat keuntungan bersih atau earning. Earning yang dinyatakan dalam tiap lembarnya disebut
Earning Per Share (EPS).
Widodo (2003) melakukan penelitian ”Analisis Faktor-Faktor yang
Berpengaruh Terhadap Dividend Per Share (Studi Empiris di Bursa Efek
Jakarta)” periode 1999-2000 dengan variabel independen Current Ratio (CR),
Cash Ratio, Debt Total Assets, Earning Per Share (EPS), Cash Flow, Return
On Investment (ROI) dan variabel dependen Dividend Per Share (DPS). Hasil
penelitian ini secara bersama-sama semua variabel tersebut tidak berpengaruh
11
B. Tinjauan Teori
1. Kebijakan Dividen
Ambarwati (2010:63) Kebijakan dividen adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam keputusan pendanaan perusahaan. Pengambilan
keputusan pendistribusian keuntungan selalu merupakan isu penting, apakah akan dibagikan dalam bentuk dividen atau tetap ditahan untuk diinvestasikan kembali dan mengharapkan mendapatkan capital gain di
masa mendatang.
Manajemen mempunyai dua alternatif perlakuan terhadap
penghasilan bersih perusahaan: dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau diinvestasikan kembali sebagai laba ditahan ( retained earning ), pada umumnya keuntungan bersih dibagi dalam bentuk dividen
dan diinvestasikan kembali, artinya manajemen harus membuat keputusan berapa besar bagian yang harus dibagikan dalm bentuk dividen.
Sartono (2001:281) menyatakan bahwa kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada
pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan dalam bentuk laba ditahan guna pembiayaan investasi di masa datang, sedangkan pengertian kebijakan dividen menurut Husnan dkk (2002:333) menyatakan bahwa
kebijakan dividen adalah kebijakan yang menyangkut tentang masalah penggunaan laba yang menjadi hak para pemegang saham, pada dasarnya
laba tersebut bisa dibagi sebagai dividen atau ditahan untuk diinvestasikan
12
Warsono (2003:272) kebijakan dividen mempunyai arti yang penting bagi perusahaan karena empat alasan berikut:
a. Kebijakan keuangan ini berpengaruh pada sikap para investor. Pemotongan dividen dapat dipandang negatif oleh para investor, karena
pemotongan seperti itu sering dikaitkan dengan kesulitan keuangan yang dihadapi perusahaan
b. Kebijakan keuangan ini berdampak pada program pendanaan dan
anggaran modal perusahaan
c. Kebijakan keuangan ini dapat mempengaruhi arus kas perusahaan.
Perusahaan dengan likuiditas buruk dapat dipaksa untuk membatasi pembayaran dividennya
d. Kebijakn keuangan ini menurunkan nilai ekuitas pemegang saham biasa
karena besarnya dividen ditentukan oleh besarnya laba ditahan. 2. Kebijakan Pemberian Dividen
Bentuk pemberian dividen tunai yang diberikan oleh perusahaan kepada pemegang saham. Bentuk kebijakan dividen tersebut (Sutrisno,
2001:305) adalah:
a. Kebijakan Pemberian Dividen Stabil, artinya dividen akan diberikan secara tetap per lembarnya untuk jangka waktu tertentu walaupun laba
yang diperoleh berfluktuasi. Dividen stabil ini dipertahankan untuk beberapa tahun, dan kemudian bila laba yang diperoleh meningkat dan
13
b. Kebijakan Dividen Meningkat, dengan kebijakan ini perusahaan akan membayarkan dividen kepada pemegang saham dengan jumlah yang
selalu meningkat dengan pertumbuhan yang stabil.
c. Kebijakan Dividen dengan Ratio yang Konstan, kebijakan ini
memberikan dividen yang besarnya meliputi besarnya laba yang diperoleh perusahaan semakin besar laba yang diperoleh semakin besar dividen yang dibayarkan, demikian pula sebaliknya bila laba kecil
dividen yang dibayarkan kecil. Dasar yang digunakan sering disebut devidend payout ratio.
d. Kebijakan Pemberian Dividen Reguler yang Rendah Ditambah Ekstra Kebijakan pemberian dividen dengan cara ini, perusahaan menentukan jumlah pembayaran dividen per lembar yang dibagikan kecil, kemudian
ditambahkan dengan ekstra dividen bila keuntungannya mencapai jumlah tertentu.
Gitosudarmo (2002:230) menyebutkan bahwa kebijakan pembayaran dividen pada garis besarnya adalah:
a. Kebijakan Pembayaran Dividen yang Stabil
Kebijakan ini besarnya divden yang dibayarkan selalu stabil dalam jumlah yang tetap, stabil yang semakin naik dan stabil yang
14
b. Kebijakan Pembayaran Dividen yang Berfluaktuasi
Kebijakan ini besarnya divden yang dibayarkan mendasarkan
pada tingkat keuntungan pada setiap akhir periode, apabila tingkat keuntungan tinggi maka besarnya dividen yang dibayarkan relative
tinggi dan sebaliknya bila tingkat keuntungan rendah maka besarnya dividen yang dibayarkan juga rendah atau dapat dikatakan besarnya selalu proporsional dengan tingkat keuntungan.
c. Kombinasi antara Kebijakan Stabil dan Berfluktuasi
Kebijakan ini besarnya dividen yang paling dibayarkan sebagian
ada yang bersifat stabil atau tetap, tetapi sebagianyang lain bersifat proporsional dengan tingkat keuntungan yang dicapai, apabila perusahaan tidak mendapatkan laba para pemegang saham masih
mendapatkan dividen tetap dan apabila didapatkan keuntungan dari hasil operasinya didapatkan dari keuntungan. Bagian dividen yang
bersifat proporsional besarnya tidak sama dengan dividen yang menggunakan kebijakan fluktuatif.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen
Sutrisno (2001:304) faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen diantaranya:
a. Posisi solvabilitas perusahaan, jika perusahaan dalam kondisi solvabilitasnya kurang menguntungkan, biasanya perusahaan tidak
15
b. Posisi likuiditas perusahaan, cash dividen merupakan arus kas keluar bagi perusahaan, oleh karena itu bila perusahaan membayarkan dividen
berarti harus bisa menyediakan uang kas yang cukup banyak dan ini akan menurunkan tingkat likuiditas perusahaan, bagi perusahaan yang
kondisi likuiditasnya kurang baik, biasanya dividen yang dibagikan kecil sebab sebagian besar laba digunakan untuk menambah likuiditas, namun perusahaan yang sudah mapan dengan likuiditas yang baik
cenderung memberikan dividen lebih besar.
c. Kebutuhan untuk melunasi utang, semakin banyak utang yang harus
dibayar semakin besar dana yang harus disediakan sehingga akan mengurangi jumlah dividen yang akan dibayarkan kepada pemegang saham, disamping itu dengan jatuh temponya utang, berarti dana utang
tersebut harus diganti. Alternatif mengganti dana utang bisa dengan mencari uatng baru, bisa juga dengan sumber intern dengan
memperbesar laba ditahan, hal ini tentunya akan memperkecil dividen yang dibagikan.
d. Rencana perluasan perusahaan yang berkembang ditandai dengan semakin pesatnya pertumbuhan perusahaan, hal ini bisa dilihat dari perluasan yang dilakukan perusahaan, semakin pesat pertumbuhan
perusahaan, semakin pesat perluasan yang dilakukan. Konsekuensinya semakin besar kebutuhan dana untuk membiayai perluasan tersebut.
16
satunya juga bisa diperoleh oleh internal resources berupa memperbesar laba yang ditahan, dengan demikian semakin pesat perluasan yang
dilakukan perusahaan semakin kecil dividen yang dibagikan.
e. Kesempatan investasi, semakin terbuka kesempatan investasi semakin
kecil dividen yang dibayarkan sebab dananya digunakan untuk memperoleh kesempatan investasi, namun bila kesempatan investasi kurang baik, maka dananya lebih banyak digunakan untuk membayar
dividen.
f. Stabilitas pendapatan bagi perusahaan yang pendapatannya stabil,
dividen yang akan dibayarkan kepada pemegang saham lebih besar dibanding dengan perusahaan yang pendapatannya tidak stabil. Perusahaan yang pendapatannya stabil tidak perlu menyediakan kas
lebih banyak, sedangkan perusahaan yang pendapatannya tidak stabil harus menyediakan uang kas yang cukup besar untuk berjaga-jaga.
g. Pengawasan terhadap perusahaan, kadang-kadang pemilik tidak mau kehilangan kendali terhadap perusahaan, apabila perusahaan mencari
sumber dana dari modal sendiri, kemungkinan akan masuk investor baru dan ini tentunya akan mengurangi kekuasaan pemilik lama dalam mengendalikan perusahaan, jika dibelanjai dari utang resikonya cukup
17
4. Dividen Per Lembar Saham (Devidend Per Share)
Dividen per lembar saham (DPS) menurut Irawati (2006:64)
menyatakan bahwa dividen per lembar saham (DPS) adalah besarnya pembagian dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham setelah
dibandingkan dengan rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar. KSEP ITB (2006:31) meyebutkan bahwa devidend per share adalah total semua dividen yang dibagikan dibandingkan dengan rata-rata tertimbang
saham yang beredar”.
Dividen merupakan bagian dari laba yang diberikan kepada para
pemegang saham biasa dalam bentuk kas/tunai.Tunai merupakan dividen yang dibayarkan dalam bentuk uang tunai, sedangkan dividen saham (stock devidend) merupakan dividen yang dibayarkan dalam bentuk saham
dengan proporsi tertentu (Sutrisno, 2001:309).
5. Hubungan Current Ratio (CR) dan Devidend Per Share
Sutrisno (2003:304) likuiditas merupakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi
sementara keuntungan yang besar belum menunjukkan kemampuan untuk membayar, karena tidak menunjukkan jumlah yang benar-benar tersedia dalam jangka pendek, karena dividen merupakan cash outflow, maka
dividen tergantung pada kemampuan membayar (current ratio) dari perusahaan tersebut. Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa semakin tinggi current ratio maka semakin tinggi perusahaan membagikan
18
6. Hubungan Debt to Equity Ratio (DER) dan Devidend Per Share
Darsono (2005:54), “Debt to Equity Ratio adalah rasio yang
menunjukan persentase penyedian dana oleh pemegang saham terhadap
pemberi pinjaman”, semakin besar debt to equity ratio maka semakin
besar modal pinjaman sehingga akan menyebabkan semakin besar pula beban hutang (biaya bunga) yang harus ditanggung perusahaan, semakin besarnya beban hutang perusahaan maka jumlah laba yang dibagikan
sebagai cash dividend akan berkurang, dengan demikian debt to equity ratio yang tinggi berdampak pada semakin kecilnya kemampuan
perusahaan untuk membagikan cash dividend atau sebaliknya, dengan kata lain hubungan debt to equity ratio dengan cash dividend adalah negatif..
Kemampuan perusahaan dalam membayar utang yang didanai
modal sendiri dapat diukur dengan menggunakan debt to equity ratio. DER dapat mengukur resiko struktur modal perusahaan dimana dalam hal ini
berkaitan antara dana yang diperoleh dari kreditor (debt) dan investor (equity)”. Berdasarkan uraian yang dikemukakan diatas diketahui bahwa
semakin tinggi DER dimungkinkan perusahaan akan menurunkan jumlah DPS yang dibagikan kepada pemegang saham.
7. Hubungan Return On Investment (ROI) dan Devidend Per Share
Sundjaja dkk (2003:145) pada umumnya manajemen perusahaan akan menghasilkan laba dengan aktiva yang tersedia atau hasil atas
19
diperlukan karena berkenaan dengan kemampuan dalam pengembalian investasi, maka ROI berpengaruh karena semakin tinggi tingkat
pengembalian yang dihasilkan maka semakin tinggi pula DPS yang diberikan..
C. Kerangka Pikir
Kerangka pemikiran adalah suatu tinjauan mengenai apa yang diteliti
yang dituangkan dalam sebuah bagan yang menjadi alur pemikiran penelitian. Kerangka pikir dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1: Kerangka Pikir Penelitian
Berdasarkan model pada gambar 2.1 tersebut menunjukkan bahwa
variabel independen terdiri dari Current Ratio (CR) ( ), Debt to Equity Ratio
(DER) ( ), Return On Investment (ROI) ( ), serta variabel dependen yaitu Devidend Per Share (DPS) (Y).
Debt to Equity Ratio (DER)
Current Ratio (CR)
Return On Invetsment (ROI)
20
D. Hipotesis
1. Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Investment
(ROI) berpengaruh terhadap Devidend Per Share (DPS) pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.