Oleh: Surifah
2. TINJAUAN TEORITIS DAN PERU MUSAN HIPOTESIS
2.1. Pengukuran Kinerja
Kinerja merupakan salah satu fak- tor penting yang menunjukkan efektifi- tas dan efisiensi suatu organisasi dalam rangka mencapai tujuannya. Menurut Ali- minsyah dan Pandji (2003) kinerja ada- lah suatu istilah umum yang digunakan untuk sebagian atau seluruh tindakan atau aktivitas dari suatu organisasi pada suatu periode, sering dengan referensi pada sejumlah standar seperti biaya-bi- aya masa lalu atau yang diproyeksikan, suatu standar efisiensi, pertanggungja- waban atau akuntabilitas manajemen, dan semacamnya.
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI, 2004) Kinerja perusahaan dapat diukur dengan menganalisa dan meng- evaluasi laporan keuangan. Informasi posisi keuangan dan kinerja keuangan di masa lalu seringkali digunakan se- bagai dasar untuk memprediksi posisi keuangan dan kinerja di masa depan dan hal-hal lain yang langsung menarik perhatian pemakai seperti pembayaran dividen, upah, pergerakan harga sekuri- tas dan kemampuan perusahaan untuk
memenuhi komitmennya ketika jatuh tempo.
Rasio-rasio keuangan yang sering digunakan dalam penelitian-pene- litian mengenai perbankan adalah rasio CAMEL, yaitu capital, assets, manage- ment, earnings dan liquidity. Penelitian ini menggunakan rasio keuangan yang terdapat dalam direktori perbankan In- donesia.
2.2 Review Penelitian Terdahulu Dan Perumusan Hipotesis
Penelitian mengenai kinerja per- bankan sebelum dan setelah krisis ekonomi (surifah, 2002) menunjukkan bahawa rata-rata rasio Capital, Assets, Management dan Liquidity berbeda secara signifikan antara sebelum dan setelah krisis ekonomi dan kebanyakan rasio menunjukkan bahwa setelah krisis ekonomi justru lebih tinggi dibanding- kan sebelum krisis. Namun pada aspek Earning atau kemampuan perusahaan memperoleh laba tidak berbeda secara signifikan, dan setelah krisis mengalami penurunan earning. Hal ini menunjuk- kan bahwa pada perbankkan yang se- hat, artinya tidak dilikuidasi dan tetap menjalankan operasinya dengan selalu memperoleh laba, pengaruh krisis eko- nomi tersebut malah baik jika dilihat dari aspek capital, kualitas aktiva produktif, aspek management, dan aspek liquid- ity, hal ini bisa jadi karena bank tersebut dapat bertahan menghadapi krisis se-
hingga mendapat limpahan kepercay- aan dari nasabah bank lainnya yang ber- masalah. Namun karena perekonomian juga belum membaik, spread negatif berkepanjangan, berfluktuasinya tingkat bunga bank, dan sector riil juga banyak mengalami kemacetan, maka meskipun aspek lainnya lebih baik setelah krisis, tetap saja aspek earning atau profitabili- tas tidak meningkat, sehingga tidak ber- beda secara signifikan antara sebelum dan setelah krisis ekonomi.
Febriyani dan Zulfadin (2003), meneliti tentang analisis kinerja bank de- visa dan non devisa dengan tahun pen- gamatan 2000 dan 200. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2000 tidak terdapat perbedaan kinerja yang signifikan antara bak devisa dan non devisa jika dilihat dari ROA, ROE dan LDR. Hal ini kemungkinan terjadi karena bank devisa tidak secara maksimal me- manfaatkan peluang memperoleh laba dari transaksi dengan mempergunakan mata uang asing. Faktor lainnya adalah besarnya kredit macet yang dimiliki oleh bank devisa akibat melambung- nya tingkat suku bunga bank. Hasil uji statistic untuk tahun 200 juga menun- jukkan tidak adanya perbedaan kinerja antara bank devisa dengan bank non devisa jika dilihat dari ROA dan ROE. Sedangkan untuk indikator LDR hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kinerja yang bcukup signifi- kan antara bank devisa dan non devisa. Hal ini disebabkan oleh membaiknya
kondisi perekonomian Indonesia, yang diikuti penurunan tingkat suku bunga perbankan sehingga berdampak positif untuk sektor perbankan.
Lestari dan Sugiarto (2007) meneliti tentang kinerja bank devisa dan non de- visa dan factor-faktor yang mempenga- ruhinya. Penelitian menggunakan tahun pengamatan 2002 sampai tahun 2006. Tahun pengamatan ini melanjutkan ta- hun pengamatan yang dilakukan oleh Febriyani dan Zulfadin (2003). Metode analisis yang digunakan adalah uji beda untuk menganalisis perbedaan rasio keuangan (ROA, ROE dan LDR), dan analisis regresi untuk menguji pengaruh ekonomi makro (Inflasi, nilai tukar rupiah terhadap dollar US, dan suku bunga SBI terhadap rasio keuangan). Hasil peneli- tian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kinerja yang signifikan antara bank devisa dan bank non devisa pada rasio ROA dan ROE, sedangkan pada LDR bank devisa lebih baik dari bank non devisa. Indikator ekonomi makro tidak berpengaruh signifikan terhadap rasio keuanga.
Penelitian sebelumnya (Febriyani dan Zulfadin, 2003) menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifi- kan pada rasio ROA, ROE dan LDR, se- dangkan penelitian Lestari dan Sugiarto (2007), menunjukkan bahwa pada rasio LDR terdapat perbedaan yang signifikan antara bank devisa dan non devisa. Ter- dapatnya perbedaan hasil penelitian an-
tara kedua peneliti sebelumnya menarik untuk dicermati dan dilakukan penelitian lanjutan. Selain itu apabila dilihat dasi segi permodalan maupun sumberdaya yang digunakan bank devisa lebih besar dari pada bank non devisa, mestinya bank devisa akan mampu memperoleh kinerja yang lebih baik, namun peneliti sebelumnya menunjukkan bahwa untuk LDR bank non devisa malah lebih baik, hal ini juga menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut, dengan meng- gunakan alat ukur rasio keuangan yang lebih luas, kemungkinan akan menin- gkatkan validitas hasil penelitian. oleh karena itu penelitian ini akan mengkon- firmasi penelitian sebelumnya dengan menggunakan periode pengamatan ta- hun 2007 dan 2008 dan dengan meng- gunakan variabel penelitian yang lebih banyak yaitu 6 rasio keuangan, dimana sebelumnya hanya 3 rasio keuangan.
Berdasar uraian di atas, hipotesis penelitian ini dapat dinyatakan sebagai berikut: “Tidak terdapat perbedaan kinerja bank devisa dan bank non de- visa di Indonesia”
3.METODE PENELITIAN