• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teoritis .1Teori Keagenan

Teori agensi merupakan konsep yang menjelaskan hubungan kontraktual antaraprincipalsdanagents. Pihakprincipalsadalah pihak yang memberikan mandat kepada pihak lain, yaituagent, untuk melakukan semua kegiatan atas namaprincipalsdalam kapasitasnya sebagai pengambil keputusan (Jensen dan Smith, 1984).

Tujuan dari teori agensi adalahpertama, untuk meningkatkan kemampuan individu (baik prinsipal maupun agen) dalam mengevaluasi lingkungan dimana keputusan harus diambil (The belief revision role). Kedua, untuk mengevaluasi hasil dari keputusan yang telah diambil guna mempermudah pengalokasian hasil antara prinsipal dan agen sesuai dengan kontrak kerja (Theperformance evaluation role). Secara garis besar teori agensi dikelompokkan menjadi dua (Eisenhardt,1989: 547), yaitu positive

agency researchdanprincipal agent research.Positve agent research

memfokuskan pada identifikasi situasi dimana agen dan prinsipal mempunyai tujuan yang bertentangan dan mekanisme pengendalian yang terbatas hanya menjaga perilakuself servingagen.Secara ekslusif, kelompok ini hanya memperhatikan konflik tujuan antara pemilik (stockholder) dengan manajer.Sementara ituprincipal agent research memfokuskan pada kontrak

optimal antara perilaku dan hasilnya, secara garis besar penekanan pada hubunganprincipaldanagent. Principal - agent research mengungkapkan bahwa hubunganagent –principaldapat diaplikasikan secara lebih luas, misalnya untuk menggambarkan hubungan pekerja dan pemberi kerja, lawyerdengan kliennya,auditordenganauditee, pemerintah dengan rakyatnya yang diwakili oleh DPR. Agency theorytidak dapat dilepaskan dari kedua belah pihak diatas, baik prinsipal maupun agen merupakan pelaku utama dan keduanya mempunyaibargaining positionmasing - masing dalam menempatkan posisi, peran dan kedudukannya. Prinsipal sebagai pemilik modal memiliki akses pada informasi internal perusahaan sedangkan agen sebagai pelaku dalam praktek operasional perusahaan mempunyai informasi tentang operasi dan kinerja perusahaan secara riil dan menyeluruh

2.1.2Keuangan Daerah

Menurut Mamesah (1995 : 45), keuangan daerah dapat diartikan sebagai “semua hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang, demikian pula segala sesuatu baik berupa uang maupun barang yang dapat dijadikan kekayaan daerah sepanjang belum dimiliki/dikuasai oleh negara atau daerah yang lebih tinggi serta pihak–pihak lain sesuai ketentuan/peraturan peundangan yang berlaku”.

Keuangan daerah dalam arti sempit yakni terbatas pada hal – hal yang berkaitan dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).Oleh

2.1.3 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan suatu rencana keuangan tahunan daerah yang memuat tentang rencana penerimaaan, rencana pengeluaran serta rencana pembiayaan daerah selama satu tahun anggaran.

Menurut Bastian (2006: 189), APBD merupakan pengejawantahan rencana kerja Pemda dalam bentuk satuan uang untuk kurun waktu satu tahunan dan berorientasi pada tujuan kesejahteraan publik. Menurut Saragih (2003: 122), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah dasar dari pengelolaan keuangan daerah dalam tahun anggaran tertentu, umumnya satu tahun. Menurut Mamesah (1995: 20), APBD dapat didefinisikan sebagai:

Rencana operasional keuangan Pemerintah Daerah, dimana di satu pihak menggambarkan perkiraan pengeluaran setinggi – tingginya guna membiayai kegiatan – kegiatan dan proyek – proyek daerah dalam satu tahun anggaran tertentu, dan pihak lain menggambarkan perkiraan penerimaan dan sumber – sumber penerimaan daerah guna menutupi pengeluaran yang dimaksud.

Menurut Halim dan Nasir (2006 : 44), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah adalah rencana keuangan tahunan Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Daerah, dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

Pada era Orde Lama, definisi APBD yang dikemukakan oleh Wajong (1962: 81) adalah:

Rencana pekerjaan keuangan (financial workplan) yang dibuat untuk jangka waktu tertentu, dalam waktu mana badan legislatif (DPRD) memberikan kredit kepada badan eksekutif (kepala daerah) untuk melakukan pembiayaan guna kebutuhan rumah tangga daerah sesuai dengan rancangan yang menjadi dasar (grondslag) penetapam anggaran,

dan yang menunjukkan semua penghasilan untuk menutup pengeluaran tadi.

Unsur – unsur APBD menurut Halim (2004: 15-16) adalah sebagai berikut:

1)Rencana kegiatan suatu daerah, beserta urainnya secara rinci

2)Adanya sumber penerimaan yan merupakan target minimal untuk menutupi biaya – biaya sehubungan dengan aktivitas tersebut, dan adanya biaya – biaya yang merupakan batas maksimal pengeluaran – pengeluaran yang akan dilaksanakan

3)Jenis kegiatan dan proyek yang dituangkan dalam bentuk angka 4)Periode anggaran yang biasanya 1 (satu) tahun

2.1.4Pendapatan Asli Daerah

Pendapatan asli daerah adalah pendapatan yang diperoleh dari sumber– sumber pendapatan daerah dan dikelola sendiri oleh pemerintah daerah. Pendapatan asli daerah merupakan tulang punggung pembiayaan daerah, oleh karenanya kemampuan melaksanakan ekonomi diukur dari besarnya kontribusi yang diberikan oleh Pendapatan Asli Daerah terhadap APBD, semakin besar kontribusi yang dapat diberikan oleh Pendapatan Asli Daerah terhadap APBD berarti semakin kecil ketergantungan Pemerintah Daerah terhadap bantuan Pemerintah Pusat.

Menurut Undang – Undang No. 33 Tahun 2004 pasal 1, “Pendapatan Asli Daerah adalah penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber – sumber di dalam daerahnya sendiri yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku”.

dalam membiayai pembangunan dan usaha – usaha daerah untuk memperkecil ketergantungan dana dari pemerintah pusat.Menurut Undang – Undang No. 33 Tahu 2004 pasal 6, “sumber – sumber Pendapatan Asli Daerah terdiri dari: a. Pajak Daerah, b. retribusi daerah, c. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan,d. Lain – lain Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sah”.

Menurut Mardiasmo (2007: 132),Pendapatan Asli Daerah adalah penerimaan daerah dari sector pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, hasil pengelolaan kekaaan daerah yang dpisahkan, dan lain – lain Pendapatan Asli Daerah yang sah.

Menurut Halim (2004: 67),Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah. Pendapatan Asli Daerah dipisahkan menjadi empat jenis pendapatan, yaitu: pajak daerah, retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan, lain – lain PAD yang sah.

2.1.5Rasio Efektivitas Pendapatan Asli Daerah

Menurut Halim (2007 : 234),Rasio efektivitas menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan Pendapatan Asli Daerah yang direncanalan dibandingkan dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil daerah, dengan rumus:

�����������= �����������������������

���������������������������������

����������������������

× 100%

Kemampuan daerah dalam menjalankan tugasnya dikategorikan efektif apabila rasio yang dicapai mencapai minimal sebesar 1 (satu) atau 100 persen.Namun demikian semakin tinggi rasio efektivitas, menggambarkan kemampuan daerah yang semakin baik karena semua rencana benar–benar terlaksana dalam itu berarti bahwa kinerjanya terbukti.

Menurut Mahsun (2006: 191), Efektivitas (hasil guna adalah suatu keberhasilan suatu organisasi dalam usaha mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.Efektivitas juga menggambarkan tingkat kinerja pemerintah daerah dalam merealisasikan anggaran yang tersusun dalam APBD agar mencapai target yang diharapkan atau bahkan melebihi target yang ada. Sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Pemerintah No. 8, 2006, “Kinerja adalah hasil keluaran/hasil dari kegiatan/program yang hendak atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas terukur”.

2.1.6Dana Alokasi Umum

Berdasarkan Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005, Dana Alokasi Umum, selanjutnya disebut DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan

dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

Dana Alokasi Umum (DAU) adalah dana yang bersumber dari penerimaan anggaran pendapatan dan belanja negara yang dialokasikan kepada daerah dalam bentuk block grant yang pemanfaatanya diserahkan sepenuhnya kepada daerah. Variable ini diukur melalui besarnya target DAU yang diperoleh daerah kabupaten/kota pada setiap tahun anggaran.

Menurut Halim (2004: 160), “Dana Alokasi Umum (DAU) adalah dana yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. DAU mempunyai bagian – bagian. Bagian – bagian tersebut akan dijelaskan pada bagian berikut.

1. Dana Alokasi Umum untuk Daerah Provinsi. 2. Dana Alokasi Umum untuk daerah Kabupaten/Kota

DAU ditetapkan minimal 25% dari penerimaan dalam negeri.10% untuk DAU Daerah Provinsi, 90% untuk daerah Kabupaten/Kota.

�����������=�����ℎ���������ℎ��������×����������ℎ������������������������ �����������ℎ�����ℎ��������

������/���� =�����ℎ���������ℎ�����������× ����������ℎ��������������������������� �����������ℎ�����ℎ�����������

Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan block grant yang diberikan kepada semua kabupaten dan kota untuk tujuan mengisi kesenjangan antar kapasitas dan kebutuhan fiskalnya, dan didistribusikan dengan formula

berdasarkan prinsip tertentu yang secara umum mengindikasikan bahwa daerah miskin dan terbelakang harus menerima lebih banyak daripada daerah yang kaya. Dengan kata lain, tujuan penting Dana Alokasi Umum (DAU) adalah dalam kerangka pemerataan kemampuan penyediaan pelayanan publik antar pemerintah daerah di Indonesia(Kuncoro, 2004 : 30).

Mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan (Mardiasmo, 2007: 157) tujuan Dana Alokasi Umum (DAU) terutama adalah untuk horizontal equity dan sufficiency. Tujuan

horizontalequity merupakan kepentingan pemerintah pusat dalam rangka melakukan distribusi pendapatan secara adil dan merata agar tidak terjadi kesenjangan antar daerah.Sementara itu, yang menjadi kepentingan daerah adalah kecukupan (sufficiency), terutama adalah menutup fiscal gap.

2.1.7Dana Alokasi Khusus

Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional, khususnya dalam upaya pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat.

Menurut Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, “Dana Alokasi Khusus selanjutnya disebut DAK, dana yang bersumber dari

untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional”.

Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 yang telah direvisi menjadi UU Nomor 33 Tahun 2004 menggariskan bahwa kebutuhan khusus yang dapat dibiayai dengan Dana Alokasi Khusus antara lain kebutuhan yang tidak dapat diperkirakan secara umum dengan menggunakan rumus Dana Alokasi Umum dan atau kebutuhan yang merupakan komitmen atau prioritas nasional.

2.1.8Dana Bagi Hasil (DBH)

Menurut Syarifin danJubaedah (2005: 108), Dana bagi hasil adalah dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka presentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana bagi hasil ini bersumber dari pajak dan kekayaan daerah.

Dana bagi hasil merupakan komponen dana perimbangan yang memiliki peranan penting dalam menyelengarakan otonomi daerah karena penerimaannya didasarkan atas potensi daerah penghasil sumber pendapatan daerah yang cukup potensial dan merupakan salah satu modal dasar pemerintah daerah dalam mendapatkan dana pembangunan dan memenuhi belanja daerah yang bukan berasal dari pendapatan asli daerah selain dana alokasi umum dan dana alokasi khusus.

Oleh karena itu, jika pemerintah daerah menginginkan transfer bagi hasil yang tinggi maka pemerintah daerah harus dapat mengoptimalkan

potensi pajak dan sumber daya alam yang dimiliki oleh masing – masing daerahnya, sehingga kontribusi yang diberikan dana bagi hasil terhadap pendapatan daerah dapat meningkat.

2.1.9Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah

Menurut Halim (2004 : 20), ruang lingkup keuangan daerah terdiri dari keuangan daerah yang dikelola langsung dan kekayaan daerah yang dipisahkan. Keuangan daerah yang dikelola langsung adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan barang–barang inventaris milik daerah.Keuangan daerah yang dipisahkan meliputi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Beberapa rasio yang dapat dikembangkan berdasarkan data keuangan yang bersumber dar APBD menurut Halim (2007: 128) adalah dengan Rasio Kemandirian (otonomi fiskal).Kemandirian keuangan daerah (otonomi fiskal) menunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintah, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah.

Menurut Halim (2007: 232) kemandirian keuangan daerah ditunjukkan oleh besar kecilnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dibandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal dari sumber lain, misalnya bantuan pemerintah pusat ataupun dari pinjaman.

Kemandirian keuangan daerah menggambarkan ketergantungan daerah menggambarkan ketergantungan daerah terhadap sumber dana eksternal. Semakin tinggi tingkat kemandirian mengandung arti bahwa tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak eksternal (terutama pemerintah pusat dan provinsi) semakin rendah dan demikian pula sebaliknya.Rasio kemandirian juga menggambarkan tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah.Semakin tinggi rasio kemandirian, semakin tinggi partisipasi masyarkat dalam membayar pajak dan retribusi daerah yang merupakan komponen PAD. Semakin tinggi kesadaran masyarakat untuk membayar pajak dan retribusi daerah akan menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang semakin tinggi.

2.1.10Review Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1

Tinjauan Penelitian Terdahulu

Nama dan tahun

Variabel Penelitian Hasil Penelitian

Muliana (2009) 1. Variabel dependen: Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah 2. Variabel Independen:

Rasio PAD, DAU, DAK

1. Secara parsial bahwa rasio efektivitas PAD

berpengaruh secara signifikan positif terhadap tingkat Kemandirian Keaungan Daerah, sedangkan DAU, DAK berpengaruh signifikan negatif terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah .

2. Secara simultan, bahwa Rasio efektivitas

PAD, DAU dan DAK berpengaruh secara signifikan positif terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah

Ersyad (2011)

1. Varibel Dependen: Tingkt

Kemandirian Keuangan Daerah

2. Variabel Independen :

PAD, DAU, dan DAK

1. Pendapatan Asli Daerah berpengaruh

secara signifikan positif terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah

2. DAK dan DAU berpengaruh secara

signifikan negative terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah

Lanjutan Tabel 2.1

Julitawati. et al(2012)

1. Variabel dependen: Kinerja

Keuangan Pemerintah Daerah

2. Variabel Independen: PAD

dan Dana Perimbangan

1. PAD dan Dana Perimbangan berpengaruh

signifikan positif secara simultan terhadap kinerja keuangan pemerintah

2. PAD dan Dana Perimbangan berpengaruh

signifikan positif secara parsial masing – masing terhadap kinerja keuangan pemerintah. Marizka (2013) 1. Variable dependen: Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah

2. Variabel independen: PAD,

Dana Bagi Hasil, DAU, DAK, dan DBH

1. Secara simultan, bahwa Rasio efektivitas

PAD, DAU, DAK, dan DBH berpengaruh secara signifikan positif terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah.

2. Secara parsial PAD berpengaruh signifikan

positif terhadap kemandirian keuangan daerah, DAU berpengaruh negative dan tidak signifikan terhadap kemandirian keuangan daerah, DAK berpengaru signifikan negetif terhadap kemandirian keuangan daerah, DBH berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kemandirian keuangan daerah Siagian (2014) 1. Variabel dependen: Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah 2. Variabel Independen:

Rasio PAD, DAU, DAK, dan DBH

1. Secara simultan, bahwa Rasio PAD, DAU,

DAK, dan DBH berpengaruh positif dan signifikan terhadap variable dependen yaitu tingkat kemandirian keuangan daerah.

2. Secara parsial, Rasio PAD secara parsial

berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah, sedangkan DAU dan DAK secara parsial masing – masing berpengaruh signifikan terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah, sedangkan DBH secara parsial berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kemandirian keuangan daerah.

Dokumen terkait