• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Studi-studi Terdahulu Tentang Kajian Ruang Terbuka Hijau Batasan RTH pada kawasan perkotaan menjadi persoalan yang perlu

disikapi secara arif dengan lahirnya Permendagri No.69 Tahun 2007 tentang Kerja Sama Pembangunan Perkotaan. Pendefinisian kawasan perkotaan dalam Permendagri tersebut adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat pemukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

Batasan dalam peraturan tersebut secara tegas memarjinalisasi lahan pertanian RTH bahkan kecenderungan untuk dihilangkan pada wilayah kawasan perkotaan. Subtansi kajian tentang RTH dimaknai sebagai hamparan lahan RTH termasuk lahan pertanian di kawasan perkotaan sebagai penyangga ekosistem

kawasan perkotaan atau dikenal dengan urban green open space (UGOS). Hasil penelitian terdahulu membahas persoalan dampak yang disebabkan perubahan penggunaan lahan khususnya ketersediaan RTH.

William dan Joan (1995) tentang taman kota : green spaces atau green walls menyatakan taman sebagai fitur lansekap kota memiliki banyak fungsi yaitu sebagai penyedia rekreasi pasif dan aktif, manfaat lingkungan, dan habitat satwa liar. Penelitian ini mengeksplorasi konsep bahwa taman kota juga dapat berfungsi sebagai lansekap batas memisahkan lingkungan dari karakteristik sosial-ekonomi yang berbeda. Empat taman di lingkungan Boston's Roxbury dan North Dorchester sebagai lokasi penelitian untuk mengevaluasi hipotesis bahwa taman yang terletak di antara lingkungan yang berbeda sosioekonomi berfungsi sebagai lanskap batas.

Aji (2000) pada penelitiannya mengenai pengelolaan ruang terbuka hijau menyebutkan bahwa pengelolaan RTH pada dasarnya ditopang oleh tiga pilar utama, yaitu instrumen produk rencana tata ruang yang mengakomodasi keberadaan RTH; instrumen peraturan perundangan yang mendukung keberadaan RTH; dan praktek pengelolaan RTH yang dikembangkan

Penurunan kualitas lingkungan hidup kota disebabkan oleh berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH) kota yang berperan besar dalam menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup. Pemerintah telah menetapkan kawasan lindung untuk konservasi sumberdaya alam, namun permasalahan yang ada adalah bagaimana kesiapan peraturan perundangundangan dalam pengelolaan RTH binaan serta peranserta masyarakat dalam mewujudkan RTH bagi konservasi sumberdaya alam di kawasan perkotaan. Peraturan yang memungkinkan terwujudnya RTH yang

berlanjut belum cukup memadai, terutama jika dikaitkan dengan penataan ruang wilayah kota. Namun permasalahannya terletak pada pembuatan dan pelaksanaan peraturan tersebut, karena masih kurang tegasnya pemerintah dalam menanggulangi dan menyelamatkan RTH yang ada di perkotaan. Berbagai program yang direncanakan oleh lembaga yang berwenang berpotensi untuk mewujudkan RTH binaan tersebut terutama pemilihan tananam langka lokal sebagai tanaman penghijauan. Selain itu, yang turut menyukseskan RTH binaan adalah kesatuan visi dan misi serta peningkatan koordinasi diantara lembagalembaga terkait. Rendahnya penegakan peraturan oleh pemerintah dan masyarakat menyebabkan banyaknya kasus alih fungsi RTH sementara proses refungsionalisasinya tidak mudah, misalnya karena alih fungsi itu terjadi secara legal dan menyangkut kepentingan umum (Kumar, 2002).

Penelitian tentang perencanaan komprehensif ruang hijau berdasarkan prinsip ekologi lansekap di kota Nanjing, Cina oleh Jim and Sophia (2003) merupakan studi kasus izin perencanaan untuk jaringan terpadu ruang hijau di kota kuno Nanjing di Cina, dengan tujuan fleksibilitas untuk ekspansi perkotaan di masa depan, akuisisi lapangan hijau, fungsi rekreasi, habitat satwa liar dan manfaat lingkungan, meliputi green wedges, greenways dan green extensions yang menggabungkan daerah hijau perkotaan pada tiga skala lansekap. Pada skala kota metropolis, melalui analisis normatif dan substantif bentuk perkotaan dan ekspansi perkotaan, dan penilaian dataran tinggi pinggiran kota, lima green wedges dibatasi untuk menghasilkan bentuk bintang perkotaan (a star urban form). The green wedges link pedesaan yang luas untuk pusat kota, dan menentukan jari-jari ruang memanjang di antara ekspansi perkotaan untuk

menghindari konflik dengan bidang hijau. Pada skala kota, tiga jalur hijau utama, termasuk city-wall circular greenway, Inner-Qinhuai River greenway, and canopy-road greenway, yang dirancang sebagai kerangka untuk mengarahkan lokasi ruang hijau baru, konfigurasi dan kontinuitas, dan untuk menghubungkan taman yang ada RTH ini dilengkapi dengan sistem jejak yang komprehensif untuk mendorong gerakan jalan kaki dan bersepeda yang lebih disukai masyarakat dan pemerintah. Pada skala lingkungan, sebuah organisasi ruang hijau, terdiri dari ruang terbuka publik perumahan, trotoar teduh dan strip riparian, sesuai dengan geometri jaringan. Sebagai badan penghubung yang baik, daerah ini memberikan kesempatan bagi warga untuk memiliki kontak sehari-hari dengan alam. Secara keseluruhan, the three-tiered green space system menyediakan modus alternatif bagi pengembangan perkotaan dengan didominasi transportasi konvensional, untuk mengantarkan peningkatan substansial dalam kualitas lanskap lingkungan dan untuk menambah gagasan kota yang berkelanjutan

Brian dan Daniel (2004) dengan judul penelitian analisis pemodelan dinamis spasial dan transformasi tata guna lahan perkotaan dengan pendekatan simulasi untuk menilai biaya the urban sprawl membahas tentang dasar-dasar teoritis dan aplikasi praktis dari suatu submodel analisis dampak ekonomi yang dikembangkan dalam the Land Use Evolution and Impact Assessment Modeling (LEAM) lingkungan. Kerangka konseptual LEAM adalah suatu aplikasi model untuk penilaian biaya urban sprawl di Kane County, Illinois. Pendekatan spasial resolusi tinggi memungkinkan ketajaman kesimpulan tingkat makro dari prilaku tingkat mikro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemodelan spasial dinamis secara tegas memiliki variasi konseptual yang menguntungkan atas

pendekatanpendekatan model dinamika perkotaan ditinjau dari teori dan sudut pandang praktis.

Nurisjah (2005) dalam penelitiannya mengungkapkan kapasitas fisik dan kualitas lingkungan yang dibutuhkan untuk mewujudkan konsep sistem kota yang berkelanjutan menentukan ketersediaan bentuk, fungsi, serta pola distribusi dan konfigurasi RTH yang sesuai dengan dan mendukung kondisi fisik kota tersebut.

Radnawati (2005) melakukan evaluasi RTH kota secara spasial sebagai kawasan konservasi air dengan melalui pendekatan model konservasi air dan revegetasi yang menunjang kawasan konservasi air. Pada penelitian tersebut dilakukan beberapa tahapan diantaranya adalah tahap menganalisis hubungan antara penggunaan lahan dan kawasan konservasi air permukaan menggunakan model aplikasi konservasi air. Terakhir, hasil analisis tersebut digunakan untuk memberikan arahan revegetasi dan membuat zonasi kawasan kota yang dapat meningkatkan kemampuan kawasan sebagai daerah resapan air.

Hedwig et al. (2007) dalam penelitiannya tentang integrasi dari multiskala model spasial dinamis dari proses sosial-ekonomi dan fisik untuk manajemen DAS didasarkan pada kesulitan campur tangan perencana, pembuat kebijakan dan teknisi dalam sistem manusia-alam yang kompleks. PSS (Policy Support Systems) MedAction mencakup proses sosial-ekonomi dan fisik yang secara kuat digabungkan. Hal ini diimplementasikan dengan kerangka aplikasi geonomica dan dimaksudkan untuk mendukung perencanaan dan pengambilan kebijakan di bidang degradasi tanah, penggurunan, pengelolaan air dan pertanian yang berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan beberapa wawasan dalam model individu, pencapaian model integrasi, serta penggunaan aktual dari

PSS MedAction. Hasil penelitian ini juga berpendapat bahwa aspek teknis dan ilmiah sistem pendukung kebijakan (PSS) bukan satu-satunya elemen yang menentukan dalam praktek penggunaannya.

Penelitian analisis spasial nilai kenyamanan dari ruang terbuka hijau oleh Cho et al. (2008) bertujuan untuk menentukan variasi spasial dalam nilai kenyamanan bagi kuantitas dan kualitas ruang terbuka hijau di industri perumahan. Variabel yang berhubungan dengan ukuran, kedekatan, konfigurasi spasial, dan komposisi jenis ruang terbuka adalah faktor dari dalam pada model global dan lokal dalam kerangka hedonic price. Bukti empiris menunjukkan bahwa kenyamanan dari variasi fitur ruang terbuka berdasarkan pada tingkat urbanisasi. Bermacam-macam landskap dengan hutan di beberapa tempat, hutan alam, hutan buatan lebih dihargai di daerah pedesaan. Sebaliknya, hutan gugur dan hutan campuran , kawasan hutan, hutan buatan yang sering dipangkas lebih dihargai di daerah perkotaan. Nilai kenyamanan dari berbagai variasi spasial berbeda antar daerah metropolitan, kebutuhan pengelolaan penggunaan lahan untuk lokasi spesifik sesuai karakteristik lokal.

Penelitian Craig (2008) tentang menilai ruang hijau perkotaan dengan alternatif hipotetis dan status quo menggunakan pendekatan untuk menentukan apakah ruang hijau dapat dinilai berdasarkan constituent characteristics dan jika demikian, karakteristik apa yang disukai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa preferensi bervariasi tergantung apakah ruang hijau yang dimaksud adalah sebuah taman kecil atau taman kota yang lebih besar. Alternatif dasar tujuan taman termasuk dalam analisis ini, hasilnya pengaruh collinearity dan ketersediaan ruang

hijau yang sebenarnya relevan dalam tujuan. Pendekatan A mixed logit digunakan untuk menunjukkan efek dari nilai-nilai yang mendasari preferensi.

Tulisan Seth et al. (2008) tentang penilaian manfaat hutan kota dengan pendekatan hedonic tata ruang adalah mengukur manfaat dari hutan kota dengan memeriksa dampaknya pada harga perumahan. Sebuah sistem informasi geografis digunakan untuk mengembangkan ukuran dari hutan kota, the Normalised Difference Vegetation Index, dari citra satelit dan untuk membangun variabel lain dari berbagai sumber serta memperhitungkan spasial model harga hedonik perumahan untuk daerah Indianapolis/County Marion. Hasil model menunjukkan bahwa vegetasi hijau di sekitar properti memiliki efek positif yang signifikan pada harga perumahan. Temuan ini menunjukkan bahwa pemilik properti yang memiliki ruang terbuka hijau, setidaknya sebagian, mereka mau membayar lebih untuk hidup di lingkungan yang lebih hijau dengan vegetasi yang lebih padat. Temuan ini juga menunjukkan bahwa tindakan masyarakat untuk mempertahankan dan meningkatkan hutan kota dapat dibenarkan.

Suwarli (2011), dalam penelitiannya mengungkapkan isu marjinalisasi ruang terbuka hijau (RTH) yang dikonversi secara tidak proporsional menjadi ruang terbangun (RTB) merupakan indikasi rendahnya komitmen politik penganggaran tata ruang. Terbatasnya ketersediaan jasa RTH di perkotaan merupakan isu lingkungan karena memiliki aspek-aspek the commons di dalamnya. Pemerintah bertanggungjawab melindungi Common-Pool Resources (CPRs) dari tindakan overuse. Solusi yang ditawarkan untuk menangani pengelolaan CPRs khususnya ketersediaan RTH publik kota, diantaranya adalah pengadaan lahan dan subsidi oleh pemerintah.

Indung (2012), hasil dari penelitian ini adalah bahwa perubahan tutupan lahan kota yang cenderung didominasi permukaan kedap air, dan menurunkan tutupan lahan bervegetasi (RTH) berpengaruh nyata terhadap penurunan kapasitas tanah menahan air limpasan yang berpotensi meningkatkan kejadian banjir, selain itu berkurangnya tutupan lahan dengan vegetasi/pohon (RTH) kota telah menurunkan kapasitas ekosistem kota dalam mengatasi semakin memburuknya. Kualitas udara kota karena polutan dan pesatnya laju peningkatan emisi CO2

sebagai salah satu gas rumah kaca penyebab global warming. Masyarakat merupakan pihak obyek penderita yang menanggung semua akibat dari memburuknya Kualitas ekosistem kota, namun fenomena alih fungsi lahan alami ke kawasan terbangun terus terjadi dan sulit untuk diatasi.

Dokumen terkait