• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

B. Tinjauan Umum mengenai Putusnya Perkawinan

Sesuai dengan prinsipnya, perkawinan itu untuk selamnya dan dilakukan dalam rangka teriptanya keluarga bahagia. Itulah sebabnya Rasulullah SAW mengingatkan :

قلاَّطلا ِهّللا َدْنِع ِلَلاَْلْا ُضَغْ بَا

“Sesungguhnya yang halal yang sangat tidak disukai Allah adalah perceraian.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majjah)

Walaupun perceraian itu pada prinsipnya tidak dikehendaki bahkan dibenci, dalam kehidupan rumah tangga hal itu merupakan jalan yang terakhir. Perceraian dibolehkan karena dinamika rumah tangga itu kadang-kadang menjurus ke arah yang bertentangan dengan tujuan rumah tangga yang sakinah. Ini kalau dipaksakan juga niscaya akan mengakibatkan madarat yang banyak pada rumah tangga dari pada manfaatnya. Disinilah tujuan

16

perceraian dalam Islam, hanya untuk kemaslahatan dan kebaikan semua pihak. (Hasan, 2008:319-320)

Perceraian atau firqah menurut syara’ adalah berakhirnya akad nikah

karena salah satu sebab dari berbagai sebab yang mengharuskan perkawinan itu berakhir. (Majid, 2005:305).

Imam Malik, Syafi’I dan Ahmad berpendapat bahwa suami isteri dapat

diceraikan dengan keputusan Hakim, misalnya karena suami tidak memberi nafkah, apabila isteri dan suami tersbut tidak mempunyai kekakyaan yang jelas ( Alhamdani, 1989:221)

Perceraian adalah perbuatan tercela dan dibenci Allah, Suami isteri boleh melakukannya apabila perkawinan mereka sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Namun demikian, perceraian harus mempunyai alasan-alasan seperti yang diatur dalam undang-undnag, bahwa antara suami dan isteri tdak akan dapat hidup rukun lagi sebagai suami isteri.

1. Putusnya perkawinan menurut Hukum Islam

Perceraian dalam istilah ahli Fiqih disebut “talak” atau “furqah”.

Talak berarti membuka ikatan membatalkan perjanjian, sedangkan

“furqah” berarti bercerai (lawan dari berkumpul). Lalu kedua kata itu

dipakai oleh para ahli Fiqih sebagai satu istilah, yang berarti perceraian antara suami-isteri.

Perkataan talak dalam istilah ahli Fiqih mempunyai dua arti, yakni arti yang umum dan arti yang khusus. Talak dalam arti umum berarti segala macam bentuk perceraian baik yang dijatuhkan oleh suami, yang

17

ditetapkan oleh hakim, maupun perceraian yang jatuh dengan sendirinya atau perceraian karena meninggalnya salah seorang dari suami atau isteri. Talak dalam arti khusus berarti perceraian yang dijatuhkan oleh pihak suami.

Karena salah satu bentuk dari perceraian antara suami-isteri itu ada yang disebabkan karena talak maka untuk selanjutnya istilah talak yang dimaksud di sini ialah talak dalam arti yang khusus.

Meskipun Islam menyukai terjadinya perceraian dari suatu perkawinan. Dan perceraian pun tidak boleh dilaksanakan setiap saat yang dikehendaki. Perceraian walaupun diperbolehkan tetapi agama Islam tetap memandang bahwa perceraian adalah sesuatu yang bertentangan dengan asas – asas Hukum Islam.

Yang menjadi sebab putusnya perkawinan ialah: a. Talak b. Khulu’ c. Syiqaq d. Fasakh e. Ta’lik talak f. Ila’ g. Zhihar h. Li’aan i. Kematian

18 j. Murtad

(http://ardychandra.wordpress.com/2008/09/06/putusnya-perkawinan-berdasarkan-hukum-islam/)

2. Putusnya Perkawinan menurut UU No. 1 Tahun 1974

Perceraian menurut adat merupakan peristiwa luar biasa, merupakan problem sosial dan yuridis yang penting di beberapa daerah. Pada dasarnya tiap keluarga, kerabat serta persekutuan menghendaki sesuatu perkawinan yang sudah dilakukan itu dipertahankan untuk selamnya. (Surojo, 1990:143)

Dalam kenyataanya, tujuan perkawinan itu kadang tidak tercapai secara utuh. Tercapainya itu baru mengenai pembentukan keluarga atau pembentukan rumah tangga, karena dapat diukur secara kuantitatif. Sedangkan predikat bahagia dan kekal belum, bahkan tidak tercapai sama sekali. Akan tetapi, hubungan lahir itu ada kemungkinan tidak dapat kekal. Pada suatu waktu dapat terjadi putusnya hubungan, baik sengaja maupun tidak sengaja dilakukan karena suatu sebab yang mengganggu berlanjutnya hubungan itu. Dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Perkawinan dapat putus, karena:

a. Kematian b. Perceraian

c. Atas keputusan pengadilan.

Undang-undang Nomor 1. Tahun 1974 Tentang perkawinan tidak hanya mengatur tentang perkawinan tetapi mengatur pula masalah

19

perceraian, begitu pula peraturan organiknya seperti Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. Peraturan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi golongan penduduk yang beragama Islam, tetapi juga bagi golongan yang bukan beragama Islam. Dan khusus bagi umat Islam pada tahun 1991 telah dikeluarkan Inpres Nomor 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam, yang isinya di samping penambahan norma hukum baru dan merupakan penegasan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan sebelumnya.

Dalam pasal 65 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 Jo Pasal 39 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 ditegaskan bahwa: “Perceraian

hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan setelah Pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah

pihak”. Selanjutnya di dalam angka 7 Penjelasan umum Undang-Undang

Nomor 7 Tahun 1989 ditegaskan bahwa: “Undang-Undang Perkawinan bertujuan antara lain melindungi kaum wanita pada umumnya dan pihak

isteri pada khususnya….”.

Hukum perkawinan di Indonesia mengatur bahwa perceraian itu harus dilakukan di depan sidang pengadilan, dan tidak diakui perceraian yang dilakukan di luar pengadilan. Dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama dijelaskan bahwa Undang-Undang Perkawinan bertujuan antara lain untuk melindungi kaum wanita pada umumnya dan pihak isteri pada khususnya. Disamping itu

20

secara yuridis undang-undang tersebut bertujuan adalah untuk mendapatkan suatu kepastian hukum.

Suatu perceraian yang dilakukan diluar pengadilan, sama halnya dengan suatu perkawinan yang dilakukan dengan tidak mencatatkannya. Ia tidak diakui oleh hukum, oleh karenanya, tidak dilindungi hukum. Lebih tegas lagi dapat dikatakan bahwa perceraian yang dilakukan diluar pengadilan tidak mempunyai kekuatan hukum (no legal force). Oleh karena itu, hukum menganggapnya tidak pernah ada (never existed). Suatu perceraian yang dilakukan diluar pengadilan akan menimbulkan kesukaran bagi si istri atau bahkan bagi si suami. Hal itu karena hampir dapat dipastikan bahwa dalam setiap talak yang dijatuhkan oleh suami terhadap isterinya diluar pengadilan, suami tidak pernah memperhitungkan hak-hak isteri sebagai akibat dari perceraian tersebut, semisal nafkah iddah, nafkah

madiyah, mut’ah dan pembagian harta bersama. Selain dari itu, tidak ada

suatu penilaian tentang apakah talak yang dijatuhkan oleh suami itu benar-benar didasarkan kepada suatu alasan yang dibenar-benarkan oleh agama, yang intinya adalah karena suatu kesalahan dari pihak isteri.

Dokumen terkait