• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN UMUM TENTANG PENYIDIKAN 1. Pengertian Penyidikan

Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana pasal 1 ayat 2 penyidikan merupakan serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam Undang-Undang untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang terjadi dan untuk menemukan tersangkanya. Sedangkan penyelidikan yakni serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002, pasal 1 ayat 13 yang dimaksud dengan penyidikan yaitu serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang untuk mencari dan mengumpulkan bukti yang mana dengan bukti tersebut akan membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.

Tujuan dari penyidikan yakni untuk mencari dan menemukan alat bukti serta untuk menemukan siapa pelaku dari tindak pidana tersebut. Untuk mencapai maksud tersebut, maka penyidik akan menghimpun

keterangan-keterangan dengan fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa tertentu”. Selanjutnya yang dimaksud dengan menghimpun keterangan menurut Gerson Bawengan adalah :28

a. Fakta tentang terjadinya suatu kejahatan; b. Identitas daripada sikorban;

c. Tempat yang pasti dimana kejahatan dilakukan; d. Waktu terjadinya kejahatan;

e. Motif, tujuan serta niat; f. Identitas Pelaku Kejahatan.

Bagian hukum acara pidana yang menyangkut penyidikan yakni:29 a. Ketentuan tentang alat-alat penyidik

b. Ketentuan tentang diketahuinya terjadinya delik c. Pemeriksaan di tempat kejadian

d. Pemanggilan tersangka atau terdakwa e. Penahanan sementara

f. Penggeledahan

g. Pemeriksaan atau introgasi

h. Berita acara (penggeledahan, introgasi dan pemeriksaan di tempat) i. Penyitaan

j. Penyampingan perkara

k. Pelimpahan perkara kepada penuntut umum dan pengembaliannya kepada penyidik untuk disempurnakan.

Sistem yang digunakan oleh Kepolisian Republik Indonesia yakni sistem untuk mengusahakan dan mengungkapkan pokok-pokok masalah sebagai berikut:30

a. Siapa korban, pelaku, saksi dan lain-lain. b. Apa yang terjadi, tindak pidana apa.

28 GW. Bawengan.1989.Penyidikan Perkara Pidana dan Teknik Interogasi.Cetakan Ketiga (disesuaikan dengan KUHAP).Jakarta:PT. Pradya Paramita, hal 11

29

Andi Hamzah.Op.Cit, hal 120

30

c. Di mana telah terjadi.

d. Dengan alat apa yang digunakan. e. Mengapa, apa motifnya, alasannya. f. Bagaimana caranya.

g. Waktu kejadian

2. Tugas Dan Wewenang Penyidik Menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia

Tugas yang dimiliki oleh kepolisian Republik Indonesia menurut pasal 13 Undang-Undang No.2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia adalah :

a. Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat b. Menegakan hukum; dan

c. Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Berdasarkan pasal 14 Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia disebutkan bahwa memiliki tugas yakni:

a. Melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan; b. Menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan,

ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di jalan;

c. Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran hukum masyarakat serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan;

d. Turut serta dalam pembinaan hukum nasional;

e. Memelihara ketertiban dan menjamin kemanan umum;

f. Melakukan koordinasi, pengawasan dan pembinaan teknis terhadap kepolisian khusus, penyidik pegawai negeri sipil;

g. Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya;

h. Menyelenggarakan identifikasi kepolisian, kedokteran kepolisian, laboratorium forensik dan psikologi kepolisian untuk kepentingan tugas kepolisian;

i. Melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat dan lingkungan hidup dari gangguan ketertiban dan/atau bencana termasuk memberikan bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia;

j. Melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum ditangani oleh instansi dan/atau pihak yang berwenang;

k. Memberikan pelayanan terhadap masyarakat sesuai dengan kepentingannya dalam lingkup tugas kepolisian; serta

l. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Selain itu berdasarkan pasal 15 (1) Undang-Undang No. 2 Tahun 2002, Kepolisian Republik Indonesia secara umum berwenang:

a. Menerima laporan dan atau pengaduan;

b. Membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat mengganggu ketertiban umum;

c. Mencegah dan menanggulangi tumbuhnya penyakit masyarakat; d. Mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpecahan atau

mengancam persatuan dan kesatuan bangsa;

e. Mengeluarkan peraturan kepolisian dalam lingkup kewenangan administratif kepolisian;

f. Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari tindakan kepolisian dalam rangka pencegahan;

g. Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian;

h. Mengambil sidik jari dan identitas lainnya serta memotret seseorang;

i. Mencari keterangan dan barang bukti;

j. Menyelenggarakan Pusat Informasi Kriminal Nasional;

k. Mengeluarkan surat ijin dan atau surat keterangan yang diperlukan dalam rangka pelayanan masyarakat;

l. Memberikan bantuan keamanan dalam sidang dan pelaksanaan putusan pengadilan, kegiatan instansi lain, serta kegiatan masyarakat;

m. Menerima dan menyimpan barang temuan utuk sementara waktu. Selain itu sesuai dengan pasal 16 Undang-Undang No. 2 Tahun 2002, dalam rangka menyelenggarakan tugas di bidang proses pidana, Kepolisian Republik Indonesia berwenang untuk:

a. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan;

b. Melarang setiap orang meninggalkan atau memasuki tempat kejadian perkara untuk kepentingan penyidikan;

c. Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka penyidikan;

d. Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri;

e. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat;

f. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

g. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara;

h. Mengadakan penghentian penyidikan;

i. Menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum;

j. Mengajukan permintaan langsung kepada pejabat imigrasi yang berwenang di tempat pemeriksaan imigrasi dalam keadaan mendesak atau mendadak untuk menangkap orang yang disangka melakukan tindak pidana;

k. Memberi petunjuk dan bantuan penyidikan kepada penyidik Pegawai Negeri Sipil untuk diserahkan kepada penuntut umum; l. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung

jawab

3. Tugas dan Wewenang Penyidik Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Undang-Undang Hukum Acara Pidana

Menurut pasal 6 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang disebut sebagai penyidik yaitu :

a. Pejabat polisi Negara Republik Indonesia.

b. Pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang.

Selain itu, penyidik memiliki wewenang berdasarkan pasal 7 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yakni :

a. Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana,

b. Melakukan tindakan pertama pada saat di tempat kejadian,

c. Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka,

d. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan,

e. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat, f. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang,

g. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi,

h. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dalam pemeriksaan perkara,

i. Mengadakan penghentian penyidikan,

j. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab

4. Penyidikan dalam Perkara Narkotika

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009, penyidik yang berwenang menangani perkara narkotika yaitu penyidik Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) dan penyidik Pegawai Negeri Sipil (PNS) tertentu yakni pegawai negeri sipil Departemen Kesehatan dan Badan Narkotika Nasional (BNN).

Tugas Badan Narkotika Nasional (BNN) menurut pasal 70 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 yakni

a. Menyusun dan melaksanakan kebijakan nasional mengenai pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika.

b. Mencegah dan memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika.

c. Berkoordinasi dengan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika.

d. Meningkatkan kemampuan lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial pecandu Narkotika, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat.

e. Memberdayakan masyarakat dalam pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika.

f. Memantau, mengarahkan, dan meningkatkan kegiatan masyarakat dalam pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika. g. Melakukan kerja sama bilateral dan multilateral, baik regional

maupun internasional, guna mencegah dan memberantas peredaran gelap Narkotika.

i. Melaksanakan administrasi penyelidikan dan penyidikan terhadap perkara penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika.

j. Membuat laporan tahunan mengenai pelaksanaan tugas dan wewenang.

Dalam rangka melakukan penyidikan, menurut pasal 75 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009, penyidik Badan Narkotika Nasional berwenang:

a. Melakukan penyelidikan atas kebenaran laporan serta keterangan tentang adanya penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika. b. Memeriksa orang atau korporasi yang diduga melakukan

penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika.

c. Memanggil orang untuk didengar keterangannya sebagai saksi. d. Menyuruh berhenti orang yang diduga melakukan penyalahgunaan

dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika serta memeriksa tanda pengenal diri tersangka.

e. Memeriksa, menggeledah, dan menyita barang bukti tindak pidana dalam penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika.

f. Memeriksa surat dan/atau dokumen lain tentang penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika.

g. Menangkap dan menahan orang yang diduga melakukan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika.

h. Melakukan interdiksi terhadap peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika di seluruh wilayah juridiksi nasional.

i. Melakukan penyadapan yang terkait dengan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika setelah terdapat bukti awal yang cukup.

j. Melakukan teknik penyidikan pembelian terselubung dan penyerahan di bawah pengawasan.

k. Memusnahkan Narkotika dan Prekursor Narkotika.

l. Melakukan tes urine, tes darah, tes rambut, tes asam dioksiribonukleat (DNA), dan/atau tes bagian tubuh lainnya.

m. Mengambil sidik jari dan memotret tersangka.

n. Melakukan pemindaian terhadap orang, barang, binatang, dan tanaman.

o. Membuka dan memeriksa setiap barang kiriman melalui pos dan alat-alat perhubungan lainnya yang diduga mempunyai hubungan dengan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika.

p. Melakukan penyegelan terhadap Narkotika dan Prekursor Narkotika yang disita.

q. Melakukan uji laboratorium terhadap sampel dan barang bukti Narkotika.

r. Meminta bantuan tenaga ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan tugas penyidikan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika.

s. Menghentikan penyidikan apabila tidak cukup bukti adanya dugaan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika

Wewenang yang diberikan kepada penyidik POLRI dan penyidik Pegawai Negeri Sipil pada dasarnya sama dalam rangka penyidikan perkara pidana narkotika. Adapun yang berbeda secara mendasar adalah tiadanya wewenang untuk melakukan penangkapan dan penahanan terhadap tersangka tindak pidana di bidang narkotika, sehingga penyidik Pegawai Negeri Sipil mengalami kesulitan dalam melakukan penyidikan.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode Pendekatan

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian empiris yaitu pendekatan penelitian secara yuridis sosiologis, yaitu mengkaji masalah yang diteliti dari segi ilmu hukum dan dengan melihat serta mengkaitkan dengan kenyataan yang ada di dalam implementasinya yang bertujuan untuk mendeskripsikan suatu kegiatan atau peristiwa dalam praktek sehari-hari.31

Masalah yang ada di Polres Kediri Kota, dikaitkan dengan teori-teori hukum kemudian melihat bagaimana kenyataan atau prakteknya di dalam masyarakat, sehingga nantinya akan dapat memperoleh suatu kesimpulan.

B. Lokasi Penelitian

1. Lokasi penelitian di Wilayah Hukum Kantor Polres Kediri Kota beralamat di Jalan Brawijaya No. 25 Kota Kediri. Alasan penulis memilih lokasi tersebut sebagai lokasi penelitian karena Polres Kediri Kota adalah salah satu Polres yang banyak menangani masalah mengenai tindak pidana khususnya mengenai Tindak Pidana Narkotika dan di Kediri juga terdapat Rumah Sakit Polri yakni Rumah Sakit Bhayangkara, di mana rumah sakit tersebut digunakan untuk melakukan test urine guna

31

Ronny haitijo Soemitro, 1998, Metodolgi Penelitian Hukum dan Juemetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, h.65

untuk menentukan pelaku sebagai pengedar atau pelaku sebagai pengguna.

2. Berdasarkan survey awal yang dilakukan oleh peneliti dapat diperoleh data Tindak Pidana narkoba di Polres Kediri Kota selama 3 bulan terakhir ini sebanyak 25 kasus.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi yaitu seluruh obyek seluruh unit yang akan diteliti.32 Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh polisi di Polres Kediri Kota yakni 1.400 anggota polisi di Polres Kediri Kota dan seluruh petugas Rumah Sakit Bhayangkara Kediri.

2. Sampling adalah suatu cara pengumpulan data yang sifatnya tidak menyeluruh, artinya tidak mencakup seluruh obyek penyelidikan akan tetapi hanya sebagian dari populasi saja.33 Yang menjadi sampel dalam penelitian ini yakni Kabag, Kasat Reserse, Kanit Narkoba di Polres Kediri Kota, dokter Rumah Sakit Bhayangkara Kediri,.

3. Respondennya yakni Kaurbinops , Kanit Idik I, salah satu dokter Rumah Sakit Bhayangkara Kediri yang bertugas untuk melakukan test urine dan salah satu petugas di Laboratorium Forensik Jatim.

32

Ibid, hal.44

33

Supranto, 1981, Metode Riset (Aplikasinya dalam Pemasaran), Fakultas Ekonomi UII, Jakarta, h. 38

D. Jenis dan Sumber Data a. Data Primer

Diambil langsung dari hasil wawancara semi terstruktur dan observasi terhadap penyidik tentang siapa saja pelakunya, jumlah datanya. Dalam penelitian ini, datanya langsung diperoleh dari respondennya yakni Kaurbinops, Kanit I, dokter RS. Bhayangkara Kediri dan petugas Laboratorium Forensik Jatim yakni dengan cara melakukan wawancara semi terstruktur, dokumentasi dan observasi.

b. Data Sekunder

Data yang diperoleh peneliti melalui dokumen-dokumen yang berupa buku literature, perundang-undangan, majalah, artikel-artikel dari surat kabar dan berkas-berkas serta dokumen-dokumen yang diperoleh di Polres Kediri Kota

E. Teknik Memperoleh Data

Dalam teknik pengumpulan data dipergunakan cara sebagai berikut:

1. Interview (wawancara), yaitu merupakan proses Tanya Jawab secara lisan dimana 2 orang atau lebih berhadapan secara fisik.34 Bentuk wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur, yaitu dengan mempersiapkan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan sebagai pedoman tetapi masih dimungkinkan ada variasi-variasi pertanyaan yang disesuaikan dengan situasi ketika wawancara,

34

Ronny Hanitijo Soemitro, 1983, Metodologi Penelitian Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta, hal. 71

sehingga penelitian tidak terlampaui terikat pada aturan-aturan yang ketat.35 Pertanyaan tersebut diberikan kepada Kaurbinops, Kanit I Polres Kediri Kota, dokter RS. Bhayangkara Kediri, dan petugas yang ada di Laboratorium Forensik Jatim.

2. Dokumentasi, yaitu pengumpulan data yang ditujukan kesubyek penelitian. Dibagi dalam dokumen primer, yaitu ditulis pelaku sendiri-sendiri dan dokumen sekunder, yaitu bila peristiwa disampaikan pada orang lain.36 Dokumen yang diperoleh yakni data tentang struktur organisasi Polres Kediri Kota, Struktur Organisasi Satuan Reserse Narkoba, data kasus tentang narkotika tahun 2009-2011, data yang pelaku yang melakukan pemeriksaan test urin, cara-cara melakukan test urine, jumlah Barang bukti yang dikirim ke Laboratorium Forensik Jatim.

3. Observasi, yaitu pengumpulan data dengan cara mengamati secara langsung dari suatu kegiatan yang sedang dilakukan.

F. Teknik Analisa Data

Tujuan analisa data untuk memperoleh jawaban dari permasalahan yang diketengahkan. Dalam pengelolaan data, penulis menggunakan teknik metode kualitatif deskriptif analisis artinya mengumpulkan data,

35

Marzuki, Op. Cit, hal. 96

36

Sukandarrumidi, 2004, Metodologi Penelitian (Petunjuk Untuk Pemula), UGM Press, Yogyakarta, h. 100

mengkualifikasikan kemudian menghubungkan teori yang berhubungan dengan masalah dan akhirnya menarik kesimpulan untuk menentukan hasil.37

G. Definisi Operasional 1. Peranan Kriminalistik

Lebih mengarah pada peranan ilmu-ilmu dalam lingkup kriminalistik yang membantu untuk mengungkap ada tidaknya tindak pidana tertentu, dalam hal ini yaitu tindak pidana narkotika yang terkait dengan pelaku sebagai pengguna, pengedar, pembuat dan juga barang bukti tersebut narkotika atau bukan, sehingga lebih mengarah pada ilmu kedokteran forensik, toxicologi forensik dan psikiatri forensik.

2. Mengungkap

Merupakan tindakan penyidik di dalam membuktikan suatu kasus, yang merupakan suatu tindak pidana atau bukan.

3. Tindak Pidana

adalah perbuatan manusia yang menyalahi norma-norma dasar masyarakat secara kongkret.

4. Narkotika

Narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.

37

J.Lexy Moleong, 1996, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung, hal. 138

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum tentang Tindak Pidana Narkotika di Polres Kediri Kota

Polres Kediri Kota terletak di Jalan Brawijaya No. 25 Kediri, di mana berbatasan langsung dengan:

Utara : Kec. Grogol, Kertosono

Timur : Kec. Gampengrejo, Kec. Wates, Pare Selatan : Kandat, TulungAgung

Barat : Kec. Semen

Visi yang dimiliki oleh Polres Kediri Kota yakni terwujudnya pelayanan keamanan, ketertiban masyarakat (kamtibmas) prima dan tegaknya hukum serta terjalin sinergi polisional yang proaktif di wilayah hukum Polres Kediri. Sedangkan Misinya yaitu berdasarkan pernyataan visi yang dicita-citakan

tersebut selanjutnya diuraikan dalam misi Polres Kediri yang mencerminkan koridor tugas-tugas sebagai berikut:

a. Terwujudnya Pelayanan Kamtibmas Prima, meliputi:

1. Meningkatkan kemampuan personil Polres Kediri untuk melayani masyarakat.

2. Memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan sikap dan penampilan yang simpatik dan humanis baik perorangan maupun kesatuan Polres Kediri.

3. Memberikan perhatian kepada masyarakat yang memerlukan pelayanan Polres Kediri.

4. Melakukan tindakan segera terhadap masyarakat yang memerlukan kehadiran maupun pelayanan Polres Kediri.

5. Memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, transparan dan akuntabel sebagai wujud pertanggungjawaban kinerja Polres Kediri.

b. Terwujudnya Penegakan Hukum, meliputi:

1. Melaksanakan penyidikan secara profesional dan proposional untuk menjamin kepastian hukum.

2. Memberikan perlakuan yang sama kepada masyarakat terhadap hukum untuk menjamin rasa keadilan.

3. Melaksanakan proses penyidikan secara cepat dan murah sebagai upaya penegakan hukum di Polres Kediri.

4. Melakukan tindakan segera terhadap masyarakat yang memerlukan kehadiran maupun pelayanan Polres Kediri.

5. Memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional, transparan dan akuntabel sebagai wujud pertanggungjawaban kinerja Polres Kediri.

c. Terwujudnya Sinergi Polisional yang Proaktif, meliputi:

1. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam menjaga keamanan di lingkungannya.

2. Meningkatkan peran petugas keamanan sebagai mitra dan salah satu sumber informasi di Polres Kediri

Secara garis besar, struktur organisasi Polres Kediri Kota di bagi ke dalam 4 (empat) unsur. Berikut merupakan bagan struktur organisasi Polres Kediri Kota:

Meninjau dari struktur organisasi Polres Kediri Kota, maka pelaksanaan tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:

a. Kapolres (Kepala Kepolisian Resort atau Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP)), merupakan pimpinan Polres yang berada di bawah dan tanggung jawab kepada Kapolda, bertugas untuk:

1) Memimpin, membina, mengawasi, dan mengendalikan satuan organisasi di lingkungan Polres dan unsur pelaksana kewilayahan dalam jajarannya: dan

2) Memberikan saran pertimbangan kepada Kapolda yang terkait dengan pelaksanaan tugasnya.

b. Wakapolres (Wakil Kepala Kepolisian Resort atau Komisaris Polisi (Kompol)), merupakan unsur pimpinan Polres yang berada di bawah dan tanggung jawab kepada Kapolres, bertugas untuk:

1) Membantu Kapolres dalam melaksanakan tugasnya dengan mengawas, mengendalikan, mengkoordinir pelaksanaan tugas seluruh satuan organisasi Polres.

2) Dalam batas dan kewenangannya memimpin Polres dalam hal Kapolres berhalangan.

3) Memberikan saran pertimbangan kepada Kapolres dalam hal pengambilan keputusan berkaitan dengan tugas pokok Polres.

c. Siwas (Seksi Pengawas), merupakan unsur pengawas dan pembantu pimpinan yang berada di bawah Kapolres. (Siwas) bertugas dalam melaksanakan monitoring dan pengawasan umum baik serutin maupun

insidentil terhadap pelaksanaan kebijakan pimpinan Polri di bidang pembinaan dan operasional yang dilakukan oleh semua unit kerja, mulai proses perencanaan, pelaksanaan, dan pencapaian kinerja serta memberikan saran tindak terhadap penyimpangan yang ditemukan. d. Sipropam (Seksi Profesi Pengamanan), merupakan unsur pengawas dan

pembantu pimpinan yang berada di bawah Kapolres. (Sipropam) bertugas melaksanakan pembinaan dan pemeliharaan disiplin, pengamanan internal, penyelenggaraan pelayanan pengaduan masyarakat yang diduga dilakukan oleh anggota Polri dan/atau PNS Polri, melaksanakan sidang disiplin dan/atau Kode Etik Profesi Polri serta rehabilitasi personel. e. Sikeu (Seksi Keuangan), merupakan unsur pengawas dan pembantu

pimpinan yang berada dibawah Kapolres. (Siekeu) bertugas menyelenggarakan pelayanan fungsi keuangan yang meliputi pembiayaan, pengendalian, pembukuan dan akuntansi, pelaporan serta pertanggung jawaban keuangan.

f. Sium (Seksi Umum), merupakan unsur pengawas dan pembantu pimpinan yang berada dibawah Kapolres. Menyalenggarakan terjaminnya pelayanan administrasi umum dan ketatausahaan yang mencakup fungsi kesekretariatan, kearsipan, dan administrasi umum lainnya serta pelayanan markas di lingkungan Polres.

g. Bagops (Bagian Operasional), merupakan unsur pengawas dan pembantu pimpinan yang berada di bawah Kapolres. (Bagops) bertugas merencanakan, mengendalikan dan menyelenggarakan administrasi

operasional kepolisian, termasuk latihan pra operasi, melaksanakan koordinasi baik dalam rangka keterpaduan fungsi maupun dengan instansi dan lembaga terkait dalam rangka pelaksanaan pengamanan kegiatan masyarakat, serta melaksanakan fungsi hubungan masyarakat termasuk pengelolaan informasi dan dokumentasi (PID).

1) Subbag Binops (Sub Bagian Pembinaan Operasi) yang bertugas menyusun perencanaan operasi dan pelatihan praoperasi serta menyelenggarakan administrasi operasi; dan melaksanakan koordinasi antar fungsi dan instansi/lembaga terkait dalam rangka pelaksanaan pengamanan kegiatan masyarakat dan/atau pemerintah. 2) Subbag Dalops (Sub Bagian Pengendalian Operasi) yang bertugas

melaksanakan pengendalian operasi dan pengamanan kepolisian; mengumpulkan, mengolah dan menyajikan data dan laporan operasi kepolisian serta kegiatan pengamanan; dan mengendalikan pelaksanaan pengamanan markas di lingkungan Polres.

3) Subbag Humas (Sub Bagian Hubungan Masyarakat) yang bertugas mengumpulkan dan mengolah data, serta menyajikan informasi dan dokumentasi kegiatan kepolisian yang berkaitan dengan penyampaian berita di lingkungan Polres; dan meliputi, memantau, memproduksi, dan mendokumentasikan informasi yang berkaitan dengan tugas Polres.

h. BagRen (Bagian Perencanaan) merupakan unsur pengawas dan pembantu pimpinan yang berada di bawah Kapolres. (Bagren) bertugas menyusun

rencana kerja dan anggaran, pengendalian program dan anggaran serta analisa dan evaluasi atas pelaksanaannya, termasuk rencana program pengembangan satuan kewilayahan.

1) Subbag Progar (Sub Bagian Program Anggaran) yang bertugas membantu menyusun rencana jangka pendek Polres antara lain Renstra, Rancangan Renja dan Renja; dan membantu menyusun rencana kebutuhan anggaran Polres dalam bentuk RKA-KL, DIPA, Penyusunan penetapan kinerja, KAK atau TOR dan RAB.

2) Subbag Dalgar (Sub Bagian Pengendalian Anggaran) yang bertugas membantu dalam membuat administrasi otorisasi anggaran tingkat Polres; dan menyusun LRA dan membuat laporan akuntabilitas kinerja Satker dalam bentuk LAKIP meliputi analisis target pencapaian kinerja, program dan anggaran.

i. Bag Sumda (Bagian Sumber Daya Manusia) merupakan unsur pengawas dan pembantu pimpinan yang berada di bawah kapolres. (Bagsumda) bertugas menyelenggarakan pembinaan dan administrasi personel, pelatihan fungsi dan pelayanan kesehatan, pembinaan dan administrasi logistik serta pelayanan bantuan dan penerapan hukum.

Dokumen terkait