• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Umum Tindak Pidana Lingkungan Hidup

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 26-32)

Hukum lingkungan merupakan bidang hukum yang disebut dengan bidang hukum fungsional yaitu sebuah bidang hukum yang mengandung ketentuan-ketentuan hukum administrasi Negara, pidana dan perdata. Para ahli hukum masih berbeda pendapat tentang istilah apa yang cocok untuk digunakan terkait kajian hukum lingkungan yang beraspek pidana, apakah istilah hukum lingkungan kepidanaan,71 atau hukum lingkungan pidana 72 ataukah hukum pidana lingkungan73. Andi Hamzah tidak mempersoalkan istilah tersebut, karena tergantung dari perspektif mana istilah itu digunakan. Jika dari perspektif pidana maka tidak salah menggunakan istilah hukum pidana lingkungan. Sebaliknya jika dari persepktif hukum lingkungan, maa yang digunakan adalah istilah hukum lingkungan kepidanaan.74 Namun demikian, terlepas dari perbedaan pendapat istilah tersebut, Peneliti menggunakan istilah hukum pidana lingkungan karena yang dikaji adalah masalah lingkungan hidup ditinjau dari perspektif hukum pidana sehingga lebih menitikberatkan pada kajian hukum pidananya.

Menurut para akademisi, perkembangan hukum lingkungan modern di Indonesia lahir sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup tanggal 11 Maret 1982 yang biasa disingkat dengan UULH 1982. UULH 1982 pada tanggal 19 september 1997 digantikan oleh Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan

71Takdir Rahmadi, Hukum Lingkungan di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 2011, Hlm. 56

72Sukanda Husin, Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta. 2009, Hlm. 78

73Andi Hamzah, Penegakan Hukum Lingkungan, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hlm.108.

74Muhammad Akib, Hukum Lingkungan Perspektif Global dan Nasional Edisi Revisi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2014, hlm.163.

Lingkungan Hidup atau yang biasa disingkat dengan UUPPLH 1997.

Kemudian UUPPLH 1997 dinyatakan tidak berlaku setelah adanya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai sumber formal utama hukum lingkungan di Indonesia. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 telah secara tegas mengadopsi asas-asas yang terkandung dalam Deklarasi Rio 1992 yaitu asas-asas tanggungjawab Negara, keterpaduan, kehati-hatian, keadilan, pencemar membayar, parsitipatif dan kearifan local.

Pengadopsian ini merupakan bagian dari politik hukum yang penting untuk memperkuat kepentingan perlindungan lingkungan hidup ketika berhadapan dengan kepentingan ekonomi jangka pendek yang mungkin tidak diperhatikan oleh pelaku usaha (korporasi).75

Mengenai istilah tindak pidana lingkungan hidup merupakan gabungan dari istiah tindak pidana dan lingkungan hidup. Istilah tindak pidana adalah istilah yang secara resmi digunakan dalam peraturan perundang-undangan. Dalam tulisan-tulisan para pakar hukum, ada yang menggunakan istilah delik untuk pengertian tindak pidana.76 Kata delik berasal dari bahasa latin delictum.77 Sementara itu ada pula yang menggunakan istilah perbuatan pidana untuk tindak pidana. Moeljatno dan Roeslan Saleh menggunakan istilah perbuatan pidana.78 Perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum yang disertai sanksi yang berupa pidana tertentu bagi pelanggar larangan tersebut.79

Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mendefinisikan istilah lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya,

75Takdir Rahmadi, Perkembangan Hukum Lingkungan di Indonesia, https://www.mahkamahagung.go.id/rbnews.asp?bid=4084, diakses tanggal 8 Januari 2017.

76Sutan Remy Sjahdeini, Op.Cit. hlm.26.

77Leden Marpaung, Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana Cetakan Keenam, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hlm.7.

78Sutan Remy Sjahdeini, Op.Cit. hlm 26.

79Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana Cetakan Kedelapan Edisi Revisi, Rineka Cipta, Jakarta, 2008, hlm.59.

keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang memperngaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusi serta makhluk hidup lain. Istilah tindak pidana lingkungan hidup telah disebutkan didalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Meskiputn tidak ada definisi secara yuridis, namun tindak pidana lingkungan hidup dapat diartikan sebagai perbuatan pidana yang mengacu pada ketentuan perundang-undangan mengenai lingkungan hidup.

Rumusan tindak pidana lingkungan hidup dapat ditelusuri dari ketentuan pidana dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 yaitu dari Pasal 98 hingga Pasal 115. Tindak pidana lingkungan hiduo terbagi atas dua jenis yaitu tindak pidana pidana lingkungan hidup materiil dan formil.

Tindak pidana formil adalah tindak pidana yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga memberikan arti bahwa inti larangan yang dirumuskan adalah melakukan suatu perbuatan tertentu, dan tidak memerlukan timbulnya suatu akibat tertentu sebagai syarat penyelesaian tindak pidana, melainkan hanya melihat pada perbuatannya. Tindak pidana materiil adalah tindak pidana yang merumuskan inti larangan berupa akibat. Oleh karena itu siapa yang menimbulkan akibat yang dilarang itulah yang dipertanggungjawabkan dan dilarang.80 Akibat dari tindak pidana lingkungan hidup yaitu terjadinya pencemaran lingkungan hidup dan kerusakan lingkungan hidup. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 juga telah memberikan definisi mengenai pencemaran lingkungan hidup dan kerusakan lingkungan hidup.81 Tolok ukur yuridis apabila terjadi

80Amir Ilyas, Asas-Asas Hukum Pidana (Memahami Tindak Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana Sebagai Syarat Pemidanaan), Rangkang Education, Yogyakarta, 2012, hlm.29.

81Lihat Pasal 14 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyebutkan, “Pencemaran Lingkungan Hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energy, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan”. Lihat Pasal 1 angka 17 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyebutkan, “kerusakan Lingkungan Hidup adalah

pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup adalah dilampauinya baku mutu lingkungan hidup dan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.82

Didalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009, perumusan tindak pidana lingkungan hidup materiil terdapat dalam Pasal 98, Pasal 99 dan Pasal 112. Sementara perumusan tindak pidana lingkungan hidup formil terdapat dalam Pasal 100 sampai Pasal 111, Pasal 113 sampai pasal 115. Perumusan tindak pidana lingkungan hidup formil maupun materiil memberikan konsekuensi yang berbeda pada saat dilakukan penegakan hukum pidananya. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 telah menentukan terhadap tindak pidana lingkungan hidup formil tertentu berlaku asas ultimum remidium yang mewajibkan penerapan penegakan hukum pidana sebagai upaya terakhir setelah penerapan penegakan hukum administrasi dianggap tidak berhasil.83

Jenis-jenis tindak pidana lingkungan hidup yang termuat dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 adalah sebagai berikut:84

1. Tindak pidana lingkungan pokok materiil yang disengaja;

2. Tindak pidana lingkungan pokok materiil yang karena kelalaian;

3. Tindak pidana lingkungan formil;

4. Tindak pidana limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3);

5. Tindka pidana membuang limbah tanpa izin;

6. Tindak pidana pembakaran lahan;

7. Tindak pidana terhadap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan yang tidak memiliki izin lingkungan;

perubahan langsung dan/ atau tidak langsung terhadap sifat fisik, kimia dan/atau hayati lingkungan hidup sehingga melampaui kriteria baku kerusakan lingkungan hidup”.

82Muhammad Akib, Hukum Lingkungan Perspektif Global dan Nasional, Edisi Revisi, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2014, hlm.167.

83Penjelasan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

84Hadin Muhjad, Hukum Lingkungan Sebuah Pengantar Untuk Konteks Indonesia, Genta Pustaka, Yogyakarta, 2015, hlm.216-221. Pembagian jenis-jenis tindak pidana lingkungan hidup dengan mendasarkan pada ketentuan Pidana Pasal 98 hingga Pasal 115 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

8. Tindak pidana penyusunan Analisi Dampak Lingkungan (AMDAL) tanpa sertifikat kompetensi;

9. Tindak pidana terhadap pejabat yang menerbitkan izin lingkungan tanpa Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) atau Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) dan menerbitkan izin usaha tanpa izin lingkungan;

10. Tindak pidana terhadap pejabat yang melakukan pengawasan tetapi tidak menjalankan tugas;

11. Tindak pidana orang yang memberikan informasi tidak benar dalam rangka pengawasan dan penegakan hukum;

12. Tindak pidana terhadap orang yang tidak melaksanakan paksaan pemerintah;

13. Tindak pidana terhadap orang yang menghalangi pengawas lingkungan dan/atau Penyidil Pegawai Negeri Sipil (PPNS);

14. Tindak pidana korporasi.

Subjek hukum (pelaku) tindak pidana lingkungan hidup tidak hanya orang perorangan, tetapi juga badan usaha (korporasi) baik yang berbadan hokum maupun tidak berbadan hokum sebagiaman disebutkan dalam Pasal 1 angka 32 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009.85 Di dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 telah mengatur mengenai pertanggungjawaban pidana korporasi. Pengaturan mengenai pertanggungjawaban pidana korporasi ada di Pasal 116, Pasal 117 dan Pasal 118 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009.

Pasal 116 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 menyebutkan apabila tindak pidana lingkungan hidup dilakukan oleh, untuk atau atas nama badan usaha, maka penuntutan dan pertanggungjawaban pidananya dapat dijatuhkan kepada badan usaha dan/atau orang yang memberi

85Lihat Pasal 1 angka 32 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyebutkan, “setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum”.

perintah atau orang yang bertindak memimpin kegiatan. Pasal 116 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009, pertanggungjawaban badan usaha (korporasi) timbul dalam dua kondisi, yaitu pertama, tindak pidana lingkungan hidup dilakukan oleh badan usaha atau atas nama badan usaha dan kedua, tindak pidana lingkungan hidup dilakukan oleh orang yang berdasarkan hubungan kerja atau hubungan lain yang bertindak dalam lingkup kerja bdan usaha, karena badan usaha (korporasi) tidak dapat bekerja tanpa digerakkan oleh manusia, maka pelaku fisik tetap manusia, yaitu orang atas nama badan usaha atau orang yang berdasarkan perjanjian kerja, misalnya seorang karyawan (pengurus korporasi) atau hubungan lain seperti perjanjian pemborongan kerja.

Selain itu konsep pertanggungjawaban pidana korporasi juga harus berpedoman pada ketentuan Pasal 118 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 yang menyebutkan terhadap tindak pidana lingkungan hidup yang dilakukan badan usaha maka sanksi pidana dapat dijatuhi kepada badan usaha yang diwakili oleh pengurus yang berwenang mewakili di dalam dan di luar pengadilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan selaku pelaku fungsional. Dari rumusan Pasal 116 dan Pasal 118 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009, diketahui ada tiga pihak yang daoat dilakukan oenuntutan dan pemidanaan yaitu, pertama, badan usaha itu sendiri. Kedua, orang yang memberi perintah atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam tindak pidana. Ketiga, pengurus badan usaha (korporasi).

Dengan demikian, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hiduo mengadopsi system pertanggungjaban pidana korpoorasi (corporate liability).

Sistem pertanggungjawaban pidana berdasarkan pada asas kesalahan, hal ini dilihat dari ketentuan Pasal 98 hingga Pasal 115 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009.86 Meskipun tidak semua rumusan

86Lihat ketentuan Pasal 98 hingga Pasal 115 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang didalamnya menyebutkan, perbuatan tersebut didahului dengan adanya kesengajaan ataupun kelalaian.

pasal secara eksplisit mencantumkan unsur kesalahan berupa kesengajaan atau kelalaian, tetapi pada dasarnya asas kesalahan menjadi pijakan teoritik system pertanggungjawaban pidana dalam perkara tindak pidana lingkungan hidup menurut Undang-Undang NOmor 32 Tahun 2009.87

Pasal 117 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 menyebutkan

“jika tuntutan pidana diajukan kepada pemberi perintah atau pemimpin tindak pidana maka ancaman pidana yang dijatuhkan berupa pidana penjara dan denda diperberat dengan sepertiga. Bagi badan usaha yang melakukan tindak pidana lingkungan hidup dapat dijatuhi sanksi pidana dan tindakan. Pasal 119 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 telah mengatur mengenai jenis pidana tambahan atau tindakan tata tertib yang dapat dikenakan kepada badan usaha (korporasi). Tindakan tata tertib tersebut berupa perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana, penutupan seluruh atau sebagian tempat usaha, perbaikan akibattindak pidana, pewajiban mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak dan/atau penempatan perusahaan di bawah pengampuan paling lama 3 (tiga) bulan.88

3. Tinjauan Umum tentang Tindak Pidana Pembakaran Hutan dan Lahan

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 26-32)

Dokumen terkait