11 BAB II
LANDASAN TEORI A. Landasan Teori
1. a. Tinjauan Umum Pertanggungjawaban Pidana
Moeljatno, Guru besar Hukum Pidana Universitas Gadjah Mada dalam pidato Dies Natalis ke -6 Universitas Gadjah Mada tanggal 19 Desember 1955 mengatakan:11
Antara perbuatan pidana dan pertanggungjawaban dalam hukum pidana ada hubungan yang erat, seperti halnya dengan perbuatan dan orang yang melakukan perbuatan. Perbuatan pidana baru mempunyai arti kalau disampingnya adalah pertanggungjawaban, sebaliknya tidak mungkin ada pertanggungjawaban kalau tidak ada perbuatan pidana.
Kesalahan adalah unsur, bahkan syarat mutlak bagia adanya pertanggungjawaban pidana yang merupakan pengenaan pidana. Sebab bagi masyarakat Indonesia berlaku asas tiada pidana jika tak ada kesalahan; atau dalam bahasa Belanda dikeal dengan asas geen straf zonder schuld; atau dalam bahasa jermannya keinestrafe ohne schuld;
atau dalam bahasa latinnya actus non facit reum nisi mens guilty unless his mind is guilty. Adapun buktinya asas ini berlaku pada masyarakat Indonesia ialah andaikata sekalipun dia tidak mempunya kesalahan, niscaya hal itu akan kita rasakan sebagai hal yang tidak adil dan tidak semestinya.
Masalah pertanggungjawaban pidana berkaitan erat dengan unsur kesalahan. Membicarakan unsur kesalahan dalam hukum pidana ini berarti mengenai jantungnya, demikian seperti dikatakan Idema.12 Asas kesalahan adalah fundamental dalam hukum pidana. Demikian fundamentalnya sehingga meresap dan menggema dalam hampir semua ajaran dan penting dalam hukum pidana.13
Dalam hubungan kesalahan dengan pertanggungjawaban, van Bemmelen dan van Hattum berpendapat bahwa “pengertian yang paling luas mengenai kesalahan meliputi semua unsur yang mana seseorang
11Moeljatno, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban dalam Hukum Pidana (Pidato diucapkan pada Upacara Peringatan Dies Natalis ke-^ Universitas Gadjah Mada pada tanggal 19 Desember 1955), Bina Aksara, Jakarta, 1983, hlm.25.
12Teguh Prasetyo, Kriminalisasi Dalam Hukum Pidana, Nusa Media, Bandung, 2011,hlm.54.
13Ibid.hlm.55
dipertanggungjawabkan menurut hukum pidana terhadap perbuatan melawan hukum, mencakup semua hal yang bersifat psikis secara kompleks berupa perbuatan pidana dan pelakunya”.14
Demikian pula van Hamel berpendapat bahwa “kesalahan dalam suatu delik merupakan pengertian psikologis hubungan antara keadaan psikis pelaku dan terwujudnya unsur delik karena perbuatannya dan kesalahan dalam pengertian hukum adalah pertanggungjawaban dalam hukum”.15
Bertolak dari apa yang dikemukan van bemmelen, van Hattum dan van Hamel mengenai hubungan antara kesalahan dan pertanggungjawabanpidana, kemudian Eddy O.S. Hiariej memberikan dua kesimpulan sebagai berikut:16
Pertama, dapatlah dikatakan bahwa kesalahan dalam pengertian yang luas identic denganpertanggungjawaban. Kedua, kesalahan tidak hanya dapat dilihat dari pengertian psikologisnamun juga dilihat dari pengertian hukum yang kemudian dikenal dengan kesalahan dalam pengertian normatif.
Bahwa kesalahan dalam pengertian psikologis adalah hubungan batin anntara pelaku dengan perbuatan yang dilakukannya. Jika perbuatan tersebut dikehendaki,maka perbuatan dengan sengaja. Sebaliknya, jika perbuatan yang dilakukan tidak dikehendaki olehnya, maka perbuatan tersebut terjadi karena suatu kealpaan. Pengertian kesalahan secara psikologis, dilihat dari sikap batin subjektif pelaku. Tegasnya, pengertian kesalahan secara normatif merupakan penilaian dari luar dengan menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat normative untuk kemudian menentukan apakah perbuatan tersebut dapat dicelaka kepada pelaku dan apakah perbuatan tersebut dapat dihindari ataukah tidak oleh pelaku.
Kesalahan dalam arti sempit adalah bentuk-bentuk kesalahan (kesengajaan atau kealpaan) sementara kesalahan dalam arti luas adalah pertanggungjawaban.
Menurut Vos, dalam dalam hukum pidana pengertian kesalahan dapat dibedakan ke dalam tiga ciri atau unsur-unsur, sebagai berikut:17
14Eddy O.S. Hiariej, Prinsip-Prinsip Hukum Pidana, Cahaya Atma Pustaka, Yogyakarta. 2014, Hlm. 124.
15Ibid.hlm.126
16Ibid, hlm.125
17Eddy O.S. Hiariej, Ibid, hlm. 127. Lihat pula Bambang Poernomo, 1992, Asas-Asas Hukum Pidana, Ghalia Indonesia, Jakarta, hlm. 137.
1) Kemampuan bertanggungjawab dari orang yang melakukan perbuatan atau dapat dipertanggungjawabkan pelaku;
2) Hubungan psikis pelaku dengan perbuatannya yang biasanya dalam bentuk sengaja atau alpa; dan
3) Tidak ada dasar-dasar yang menghapuskan pertanggungjawaban pelaku atas perbuatannya.
Bertolak dari pendapatnya Vos Kemudian Eddy O.S. Hiariej menjelaskan dengan demikian dapat dikatakan bahwa elemen-elemen dari kesalahan meliputi, sebagai berikut:18
Pertama, kemampuan bertanggungjawab. Kedua, hubungan psikis pelaku dengan perbuatan yang dilakukan. Hubungan psikis ini melahirkan dua bentuk kesalahan yaitu kesengajaan dan kealpaan.
Dapatlah dikatakan bahwa pengertian kesalahan dapat juga merujuk pada bentuk kesalahan berupa kesengajaan dan kealpaan. Sedangkan, kesalahan dalam arti sempit adalah kealpaan yang merupakan salah satu bentuk dari kesalahan itu sendiri. Ketiga, tidak ada alasan penghapus pertanggungjawaban pidana berupa alasan pembenar yang menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan dan sifat pemaaf yang menghapuskan sifat dapat dicelanya pelaku.
Bagi korporasi sebagai subjek hukum pidana dapat menimbulkan masalah berkaitan dengan kemampuan bertanggung jawab yang berhubungan dengan ajaran kesalahan. Perdebatan berkaitan dengan bisa atau tidaknya suatu korporasi dimintakan pertanggungjawaban pidana, sebenarnya bermula dari pertanyaan yang menunjuk pada asas tiada pidana tanpa kesalahan, yaitu mengenai actus non facit reum nisi mens sit rea. Hal ini berarti hanya
“sesuatu” yang memiliki kalbu yang bisa dibebani pertanggungjawaban pidana.
Manusi memiliki kalbu, maka manusia dapat dipertanggungjawabkan secara pidana. Sedangkan korporasi tidak memiliki kalbu, maka menjadi perdebatan apakah dengan demikian korporasi dapat dibebani pertanggungjawaban pidana.19
18Eddy O.S. Hiariej, Ibid.hlm.128
19Hasbullah F. Sjawie, Direksi Perseroan terbatas serta Pertanggungjawaban Pidana Korporasi. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2013, hlm.270.
Menurut teori fiksi (fictie theorie) Von Savigny, badan hukum korporasi) dianggap sebagai hal yang abstrak, tidak nyata, karena tidak mempunyai kekuasaan untuk menyatakan kehendak, hanya manusia yang memiliki kehendak. Pendapat tersebut kemudia mulai luntur, tindakan badan hukum dianggap seolah-olah tindakan manusia. Jika manusia dalam tindakannya mempunyai tanggung jawab, maka badan hukum juga bertanggungjawan atas tindakan yang dilakukannya. Oleh karena itulah lahir yang dinamakan teori organ (organ theorie) yang dikembangkan oleh Von Gierke. Menurut teori ini, badan hukum bukanlah hal yang fiktif, melainkan sebagai kenyataan yang tidak berbeda dengan manusia. Jika manusia mempunyai alat (organ), seperti otak untuk berfikir, tangan untuk berbuat ataupun mulut untuk berkata menyatakan kehendak, maka badan hukum pun mempunyai alat (organ), seperti rapat anggota, pengurus serta pengawas yang bertindak untuk kepentingan dan atas nama badan hukum, artinya badan hukum (korporasi dapat diwakili oleh organnya.20
Kemampuan bertanggungjawab suatu korporasi sebagai subyek hukum pidana atas terjadinya tindak pidana diberikan kepada pengurus atau wakil korporasi, karena yang mampu bertanggungjawab, berkaitan dengan kejiwaan (kesalahan) hanya manusia. Sesuai dengan pendapat van Bemmelen bahwa kemampuan bertanggung jawab pidana adalah elemen. Kemampuan bertanggung jawab dan unsur kesalahan dialihkan dari korporasi kepada pengurusnya atau kepegawaiannya yang bertindak dalam hubungan hukum dengan badan hukum.21 Menurut Mardjono Reksodiputro, dengan diterimanya korporasi sebagai subyek hukum pidana maka terjadi perluasan pengertian untuk pelaku tindak pidana yang dapat dibebankan pertanggungjawaban pidana. Hal tersebut berakibat pada bagaimana mengkonstruksikan kesalahan
20Abdulkadir Muhammad, Hukum Perusahaan Indonesia, Citra Aditya Bakti, Jakarta, 2010, hlm. 103.
21A.Z. Abidin, Bunga Rampai Hukum Pidana, Pradnya Paramita, Jakarta, 1983, hlm.62-63.
dari korporasi, karena untuk dapat dibebankan pertanggungjawaban pidana harus ada kesalahan (schuld).22
Asas tiada pidana tanpa kesalahan dianut oleh hukum pidana Indonesia.
Pada saat diterapkan, tentunya dalam menentukan actus reuskorporasi lebih mudah. Actus Reus dapat ditentukan yaitu apabila telah memenuhi unsur-unsur dalam suatu pasal. Masalahnya bagi korporasi adalah dalam menentukan mens rea yaitu kemampuan bertanggungjawab dalam melakukan tindak pidana dan dapat dipersalahkannya.23 Untuk mengetahui mens rea pada korporasi berkaitan dengan bagaimana membuktikan kesalahan (schuld) korporasi di persidangan yang berakhir pada saat dimintakan pertanggungnjawaban pidana atau tidak. Hal ini karena kesalahan bukan merupakan unsur tindak pidana tetapi meruopakan unsur pertanggungjawaban pidana.
Menurut Sutan Reny Sjahdeini sebagaimana dikutip oleh Hasbullah F Sjawie, baik yang menentang korporasi dapat dimintakan pembebanan pertanggungjawaban ataupun yang setuju dengan pembebanan pertanggungjawaban, pada intinya adalah:24
Mereka yang menentang korporasi dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana, mendasari pemikirannya pada ketiadaan korporasi memiliki kalbu (Mens Rea) sendiri dan oleh karena itu tidak mungkin menunjukkan suatu nilai moral yang dipersyaratkan untuk dapat dipersalahkan secara pidana. Menurut mereka, adalah betul-betul bersifat semu apabila memperlakukan korporasi seolah memiliki kalbu untuk dipersalahkan secara pidana. Disamping itu mustahil dapat memenjarakan korporasi dengan tujuan pencegahan, penghukuman dan rehabilitasi yang menjadi tujuan dari sanksi pidana.
Sedangkan pihak yang setuju atas pengenaan pertanggungjawaban pidana korporasi berpendirian bahwa korporasi bukanlah suatu fiksi.
Korporasi benar-benar ada dan eksis di tengah-tengah masyarakat dan mempunyai potensi untuk menimbulkan kerugian bagi pihak lain dalam masyarakat seperti halnya natural person. Karenanya, dengan membebani pertanggungjawaban pidana bagi korporasi atas tindak pidana yang dibuatnya adalah sejalan dengan asas hukum bahwa siapa
22Mardjono Reksodiputro, Pembaharuan Hukum Pidana Kriminologi, UI, Jakarta, 1995, hlm.
101-102.
23Etty Uju R. Koesoemahatmadja, Hukum korporasi (Penegakan Hukum terhadap pelaku Economic Crimes dan Perlindungan Abuse of Power, Ghalia Indonesia, Bogor, 2011, hlm.65.
24Hasbullah F. Sjawie, Ibid, hlm.271.
pun mempunyai kedudukan yang sama di hadapan hukum (principle of equality before the law).
Menurut Loebby Loqman, dalam tindak pidana khusus apabila telah melanggar suatu peraturan perundang-undangan maka hukum pidana merupakan suatu konsekuensi yang telah diberikan undang-undang atas pelanggarannya tersebut.25 Pembuatan peraturan perundang-undangan yang khusus ditujukan untuk menangani kejahatan/ tindak pidana khusus yang belum ada di Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Salah satunya adalah dibuatnya peraturan perundang-undangan mengenai Lingkungan Hidup yang didalamnya memuat pengaturan tentang pertanggungjawaban pidana korporasi bagi pelaku tindak pidana lingkungan hidup.
Salah satu permasalahan krusial adalah keadilan aparat penegak hukum untuk membuktikan pertanggungjawaban pidana korporasi agar memenuhi unsur delik pidana yang dilanggar korporasi tersebut.26 Lu Sudirman dan Feronica sebagaimana dikutip Eddy O.S. Hiariej menyebutkan kendala-kendala dalam penentuan pertanggungjawaban pidana korporasi antara lain:27
Pertama, penentuan ada tidaknya tindak pidana oleh korporasi tidaklah dapat dilihat dari sudut pandang biasa seperti tindak pidana umumnya, karena tindak pidana (corporate crime) seringkali merupakan bagian dari white collar crime. Kedua, penentuan subjek hukum yang dipertanggungjawabkan secara pidana berkaitan dengan kesalahan korporasi. Ketiga, penentuan kesalahan (schuld, mens rea) korporasi tidak mudah, karena terdapat hubungan yang begitu kompleks dalam tindak pidana terorganisasi (organizational crime) diantara dewan direksi, eksekutif fan manager pada satu sisi dan perusahaan induk (Parent Corporation), divisi-divisi perusahaan (corporate division) dan cabang-cabang perusahaan (subsidiaries).
Jan Remmelink sebagaimana dikutip Eddy O.S. Hiariej mengatakan bahwa kesalahan (schuld, mens rea) fungsionaris pimpinan dan pegawai korporasi diatribusika kepada korporasi sesuai dengan struktur organisasi
25Loebby Loqman, Beberapa Hal Tentang Hukum Pidana di Bidang Perekonomian, Jakarta, 1992, hlm. 6-9.
26Lu Sudriman Dan Feronica, Pembuktian Pertanggungjawaban Pidana Lingkungan dan Korupsi Korporasi Di Indonesia dan Singapura, Mimbar Hukum, Volume 23, Nomor 2, Juni 2011, hlm.292-293.
27Eddy O.S. Hiariej, Op.Cit, hlm.161.
internal korporasi.28 Pendapat ini dapat dikatakan senada dengan ajaran keperlakuan fungsional (functioneel daderschap) yang dikemukakan oleh Rolling, pertanggungjawaban pidana diperluas kepada yang memberikan perintah perintah atau pimpinan dalam suatu badan hukum yang secara fisik bukanlah sebagai pelaku tindak pidana (fysieke daderschap). Ajaran ini memberi ruang yang lebih luas bagi penerapan asas geen straf zoder schuld, karena kesalahan individu pimpinan atau pengurus korporasi yang memberi perintah pada suatu korporasi atau menjalankan perintah (pelaku fisik) diatribusikan sebagai kesalahan korporasi tersebut.29 Ajaran ini menurut Wolter adalah karya interpretasi hakim yang mana hakim menginterpretasikan perbuatan pengurus dan/atau korporasi itu sedemikian rupa memenuhi persyaratan dari masyarakat.30
Sutan Remy Sjahdeini menjelaskan bahwa orang-orang yang dapat dianggap sebagai kalbu dan tubuh suatu korporasi ini tergantung pada fakta masing-masing kasus. Sepanjang seseorang yang bertanggung jawab dalam melaksanakan kebijakan korporasi dapat bertindak untuk dan atas nama korporasi, yang mana hal tersebut dapat diketahui dari anggaran dasar korporasi dan surat-surat keputusan pengurus yang berisi pengangkatan pejabat-pejabat atau para manager untuk mengisi jabatan tertentu.31
Sebagaimana diartikan oleh Pound, pertanggungjawaban pidana adalah sebagai suatu kewajiban untuk membayar pembalasan yang akan diterima pelaku dari seseorang yang telah dirugikan, menurutnya juga bahwa pertanggungjawaban yang dilakukan tersebut tidak hanya menyangkut masalah hukum semata akan tetapi menyangkut pula masalah nilai-nilai moral ataupun kesusilaan yang ada dalam suatu masyarakat32. Berbicara mengenai
28Ibid, hlm.162
29Yusuf Shofie, Pelaku Usaha, Konsumen dan Tindak Pidana Korporasi, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2002, hlm.17
30H. Setiono, Kejahatan Korporasi (Analisis Viktimologis Dan Pertanggungjawaban Korporasi Dalam Hukum Pidana Indonesia), Averroes Press, Malang, 2002, hlm.133-134.
31Sutan Remy Sjahdeini, Op.Cit, hlm.100
32Roscoe Pound, Introduction to the phlisophy of law” dalamRomliAtmasasmita, PerbandinganHukumPidana. CetakanKedua, MandarMaju, Bandung, 2000, hlm.65.
pertanggungjawaban pidana, berarti berbicara mengenai orang yang melakukan perbuatan pidana. Hukum pidana memisahkan antara karakteristik perbuatan yang dijadikan tindak pidana dan karakteristik orang yang melakukan33.
Van Hamel tidak memberikan definisi pertanggungjawaban pidana, melainkan memberi pengertianmengenai pertanggungjawaban. Secara lengkap van Hamel menyatakan:
“Pertanggungjawaban adalah suatu keadaan normal psikis dan kemahiran yang membawa tiga macam kemampuan, yaitu: 1) mampu untuk dapat mengerti makna serta akibat sungguh-sungguh dari perbuatan-perbuatan sendiri ;2) mampu untuk menginsyafi bahwa perbuatan-perbuatan itu bertentangan dengan ketertiban masyarakat; 3) mampu untuk menentukan kehendak berbuat”.
Simons mengartikan pertanggungjawaban pidana sebagai suatu keadaan psikis, sehingga penerapan suatu ketentuan pidana dari sudut pandang umum dan pribadi dianggap patut34. Menurutnya, dasar adanya tanggung jawab dalam hukum pidana adalah keadaan psikis tertentu pada orang yang melakukan perbuatan pidana dan adanya hubungan antara keadaan tersebut dengan perbuatan yang dilakukan yang sedemikian rupa sehingga orang itu dapat dicela karena melakukan perbuatan tadi35. Jadi, mampu bertanggungjawab menurut Simons adalah mampu menginsafi sifat melawan hukumnya perbuatan dan sesuai dengan keinsafan itu menentukan kehendaknya36.
Berbeda dengan van Hamel dan Simons, Vos tidak memberikan definisi pertanggungjawaban maupun definisi pertanggungjawaban pidana, melainkan menghubungkan antara perbuatan dan pertanggungjawaban serta sifat dapat dicela. Menurut Vos, perbuatan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada pelaku adalah kelakuan yang dapat dicela kepadanya. Celaan di sini tidak perlu suatu celaan secara etis; tetapi cukup celaan secara hukum. Juga secara etis
33Eddy O.S. Hiariej, Prinsip-Prinsip Hukum Pidana, Cahaya Atma Pustaka, Yogyakarta., 2014, hlm. 119.
34Eddy O.S. Hiariej, Op. Cit., hlm. 194.
35Ibid., hlm. 187-188.
36Sutrisna, I GustiBagus, “PerananKeterangan Ahli dalamPerkaraPidana (Tinjauan terhadap pasal 44 KUHP),” dalam Andi Hamzah (ed.), Bunga Rampai Hukum Pidana dan Acara Pidana, Ghalia, Indonesia, Jakarta, hlm. 79. Lihat pula dalamMoeljatno, Op. Cit., 1986, hlm. 56.
kelakuan-kelakuan yang dapat dipidana, menurut norma hukum adalah sebagai pemaksa bagi etika pribadi kita37.
Pertanggungjawaban pidana dalam bahasa asing disebut sebagai
“toereken-baarheid”, “criminal reponsibilty,” “criminal liability,”
pertanggungjawaban pidana di sini dimaksudkan untuk menentukan apakah seseorang tersebut dapat dipertanggungjawabkan atasnya pidana atau tidak terhadap tindakan yang dilakukannya itu38. Adapun mengenai dapat dimintainya pertanggungjawaban pidana kepada subjek hukum, maka subjek hukum tersebut tidak boleh memenuhi ketentuan Bab III Pasal 44 KUHP, yang pada dasarnya diambil dari beberapa pandangan para sarjana.
Moeljatno, yang memisahkan secara tegas antara perbuatan pidana dengan pertanggungjawaban pidana, menitikberatkan pertanggungjawaban pidana itu bergantung pada sikap batin dari pelaku perbuatan pidana tersebut.
Jadi, apakah yang melanggar perbuatan yang dilarang itu benar-benar dipidana seperti yang sudah diancamkan, ini tergantung kepada keadaan batinnya dan hubungan batinnya dengan perbuatannya tersebut, yaitu unsur kesalahan.
Moeljatno mempersamakan perbuatan pidana ini dengan criminal act, yang mana juga dipisahkan dengan criminal liability yang mempersyaratkan untuk mempidana seseorang, selain harus ada criminal act dari orang tersebut, juga harus mempunyai kesalahan (guilt) pada perbuatannya, yang dalam bahasa latin disebut dengan actus non facit reum, nisi mens sit res, yang lalu diterjemahkan dalam Bahasa Inggris dengan an act does not make a person guilty, unless the mind is guilty. Bahwa untuk pertanggungjawaban pidana tidak cukup hanya dengan dilakukannya perbuatan pidana saja, akan tetapi juga harus ada kesalahan, atau sikap batin yang dapat dicela, yang dalam asas hukum dikenal dengan geen straf zonder schuld (Belanda) atau ohne schuld keine strafe (Jerman)39.
b. Pertanggungjawaban Pidana Korporasi
37Eddy O.S. Hiariej,, Op. Cit., hlm. 84.
38S.R Sianturi, Asas-asasHukumPidana Indonesia danPenerapannya, Cet IV, Alumni Ahaem- Peteheam, Jakarta, 1996, hlm. 245.
39Moeljatno, Azas-azas Hukum Pidana, Bina Aksara, Jakarta, 1985, hlm. 57.
Bertitik tolak pada prinsip asas tiada pidana tanpa kesalahan, maka telah ada beberapa isi perumusan perundang-undangan pidana khusus yang mengakui korporasi sebagai subyek tindak pidana, tetapi yang dapat dipertanggungjawabkan secara pidana adalah pengurus berdasarkan kuasa dari korporasi. Perkembangan berikutnya secara teoritis menurut doktrin bahwa korporasi dapat dipertanggungjawabkan secara pidana, yaitu:40
a. Dapat dikenakan kepada korporasi (badan hukum ) itu sendiri, b. Dapat dikenakan kepada mereka yang memebri perintah atau yang
bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan tindak pidana (pengurus),
c. Dikenakan baik terhadap korporasi maupun mereka yang memberi perintah atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan melakukan tindak pidana tertentu (pengurus) atau kedua-duanya yaitu badan hukum dan pengurus.
Mardjono Reksodiputro mencermati perkembangan cara-cara perumusan pertanggungjawaban pidana korporasi yang berkaitan dengan kedudukan korporasi sebagai pembuat dan pertanggungjawaban korporasi dalam hukum pidana, yaitu:41
a. Pengurus sebagai pembuat dan penguruslah yang harus bertanggungjawab,
b. Korporasi sebagai pembuat dan pengurus yang bertanggungjawab;
c. Korporasi sebagai pembuat dan korporasi juga sebagai yang harus bertanggungjawab.
Menurut Sutan Remy Sjahdeini, mengenai kedudukan korporasi sebagai pembuat tindak pidana dan sifat pertanggungjawaban pidana dari korporasi terdapat empat kemungkinan, yaitu:42
a. Pengurus korporasi sebagai pelaku tindak pidana sehingga oleh karenanya penguruslah yang harus memikul pertanggungjawaban pidana;
b. Korporasi sebagai pembuat tindak pidana, tetapi pengurus yang harus memikul pertanggungjawaban pidana;
40Etty Utju R. Koesoemahatmadja, Hukum korporasi (Penegakan Hukum terhadap pelaku Economic Crimes dan Perlindungan Abuse of Power, Ghalia Indonesia, Bogor, 2011, hlm. 66
41Hamzah Hatrik, Asas Pertanggungjawban Korporasi Dalam Hukum Pidana Indonesia (Strict Liability dan Vicarious liability), Rajawali Pres, Jakarta, 1996, hlm.30.
42Hasbullah F. Sjawie, Ibid, hlm.272
c. Korporasi sebagai pelaku tindak pidana dan korporasi itu sendiri yang harus memikul pertanggungjawaban pidana;
d. Pengurus dan korporasi keduanya sebagai pelaku tindak pidana dan keduanya pula yang harus memikul pertanggungjawaban pidana.
Pertanggungjawaban pidana sebagai sesuatu yang tidak dapat dilepaskan dari kebijakan legislatif. Dinamika pengakuan korporasi sebagai subyek hukum dan pertanggungjawaban pidananya juga sejalan dengan perkembangan peraturan perundang-undangan mengenai lingkungan hidup.
Berawal dari Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Lingkungan Hidup sebagai undang-undang lingkungan hidup yang pertama masih menggunakan istilah “barang siapa” sebagai subjek tindak pidana.
“barang siapa” ini menunjuk kepada orang (naturlijk person) sebagai subyek hukum. Undang-undang Nomor 4 tahun 1982 yang belum mengenal korporasi sebagai subyek hukum tindak pidana lingkungan hidup, kemudian diganti dengan Undang-undang nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Subyek hukum korporasi dalam perundang-undangan mengenai lingkungan hidup, pertama kali diakui dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Meskipun rumusan tindak pidana lingkungan hidup masih menggunakan istilah “barang siapa”, namun di Pasal 45 telah mengakui subyek hukum korporasi, dengan menggunakan istilah “badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan dan organisasi lain.” Bertolak dari hal tersebut, maka pertanggungjawaban pidana korporasi untuk tindak pidana lingkungan hidup pertama kali diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997.
Pertanggungjawaban pidana terhadap para pelaku tindak pidana lingkungan hidup di dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 mendasarkan pada asas kesalahan atas prinsip liability based on fault (pertanggungjawban berdasarkan kesalahan). Hal tersebut diketahui, setelah peneliti mencermati ketentuan tindak pidana lingkungan hidup yang ada di Pasal 41, Pasal 42, Pasal 43, dan Pasal 44 di Undang-Undang Nomor 23 Tahun
1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Tidak ada suatu rumusan tindak pidana dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 yang mengecualikan sistem pertanggungjawaban pidana berdasarkan asas kesalahan dan dalam setiap rumusan tindak pidananya mencantumkan unsur kesengajaan atau kelalaian (kealpaan).43 Sehingga dapat dikatakan bahwa asas kesalahan tetap menjadi pijakan teoritik sistem pertanggungjawaban pidana korporasi.
Pertanggungjawaban pidana korporasi diatur di Pasal 46 Undang- Undang Nomor 23 Tahun 1997, dimana pertanggungjawaban pidana korporasi dapat dikenakan kepada tiga pihak, yaitu, pertama, badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan dan organisasi lain. Kedua, mereka yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan tersebut (pengurus korporasi). Ketiga, pertanggungjawaban pidana dapat dikenakan kepada kedua-duanya yaitu korporasi dan pengurus.
Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 telah diganti dengan Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Di dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 penyebutan korporasi mengalami perkembangan dengan menggunakan istilah
“badan usaha” dan badan usaha yang dimaksuud meliputi badan usaha yang berbadan hukum maupun tidak berbadan hukum. Pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku korporasi yang melakukan tindak pidana lingkungan hidup juga mendasarkan pada asas kesalahan atau prinsip liability based on fault (pertanggungjawaban berdasarkan kesalahan).
Disisi lain, Pasal 1 angka 21 Undang Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (UUP3H) berbunyi:44
43Teguh Sulistia dan Aris Zurnetti, Ibid, hlm.183. dicantumkan ada unsur kesalahan dengan menggunakan kata “sengaja” atau “kealpaan” (kelalaian) dalam Pasal 41, Pasal 42, Pasal 43, dan Pasal 44 di Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
44http://blogmhariyanto.blogspot.co.id/2017/03/pertanggungjawaban-pidana-korporasi_13.html (Diakses tanggal 8 Januari 2017, Pkl.16.50)
“Setiap orang adalah orang perseorangan dan/atau korporasi yang melakukan perbuatan perusakan hutan secara terorganisasi di wilayah hukum Indonesia dan/atau berakibat hukum di wilayah hukum Indonesia”.
Pasal 1 angka 22 UUP3H menyebutkan:
“Korporasi adalah kumpulan orang dan/atau kekayaan yang teroganisasi, baik berupa badan hukum maupun bukan badan hukum”.
Secara umum korporasi mempunyai unsur-unsur antara lain:
1. kumpulan orang dan atau kekayaan;
2. terorganasir;
3. badan hukum;
4. non badan hukum.
Dalam rumusan delik tindak pidana UUP3H subyek hukum pidana berupa korporasi disebut dengan tegas dalam rumusan delik dalam Pasal 82 ayat (3),Pasal 83 ayat (4), Pasal 84 ayat (4), Pasal 85 ayat (2), Pasal 86 ayat (2), Pasal 87 ayat (4), Pasal 88 ayat (2), Pasal 89 ayat (2), Pasal 90 ayat (2) Pasal 91 ayat (2) Pasal 92 ayat (2), Pasal 93 ayat 3), Pasal 94 ayat (2), Pasal 95 ayat (3), Pasal 96 ayat (2), Pasal 97 ayat (3), Pasal 98 ayat (3), Pasal 99 ayat (3), Pasal 100 ayat (2), Pasal 101 ayat (3), Pasal 102 ayat (2), dan Pasal 103 ayat (2) UUPPLH.
Undang undang No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan juga mengakui bahwa selain orang (person) terdapat subyek hukum lain dalam tindak pidana kehutanan, hal ini tercermin dalam bunyi Pasal 78 ayat (14) bahwa:
“Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) apabila dilakukan oleh dan atau atas nama badan hukum atau badan usaha, tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, dikenakan pidana sesuai dengan ancaman pidana masing -masing ditambah dengan 1/3 (sepertiga) dari pidana yang dijatuhkan.”
Untuk mengetahui apakah sistem pertanggungjawaban pidana dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 berdasarkan asas kesalahan, kemudian peneliti mencermati ketentuan tindak pidana lingkungan hidup yang ada di Pasal 98 hingga Pasal 115 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009. Setelah
mencermatinya, diketahui bahwa tidak ada satu rumusan tindak pidana dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 yang mengecualikan sistem pertanggungjawaban pidana berdasarkan asas kesalahan. Sehingga dapat dikatakan bahwa asas kesalahan tetap menjadi pijakan teoritik sistem pertanggungjawaban pidana korporasi.
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup juga telah mengatur mengenai pertanggungjawaban pidana korporasi. Sistem pertanggungjawban pidana menurut Pasal 116 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 ada tiga sistem, yaitu:45
1) Badan usaha melakukan tindak pidana, badan usaha yang bertanggungjawab;
2) Badan usaha yang melakukan tindak pidana, orang yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau orang yang bertindak sebagai pemimpin kegiatan dalam tindak pidana yang bertanggungjawab, dan
3) Badan usaha yang melakukan tindak pidana, badan usaha dan orang yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana atau orang- orang yang bertindak memimpin kegiatan dalam tindak pidana dapat dimintai pertanggungjawaban pidana.
Rumusan tentang pertanggungjawaban pidana korporasi dapat dilihat dari ketentuan Pasal 116 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 bahwa tanggung jawab pidana badan usaha dapat diberikan kepada badan usaha itu sendiri maupun para pengurus badan usaha (corporate executive officer).46
Apabila tindak pidana lingkungan hidup dilakukan oleh orang, yang berdasarkan hubungan kerja atau berdasarkan hubungan lain yang bertindak dalam lingkup kerja badan usaha, maka sanksi pidana dijatuhkan kepada
45Mahrus Ali dan Ayu Izza Elvany, Hukum Pidana Lingkungan-Sistem Pemidanaan Berbasis Konservasi Lingkungan Hidup, UII Press, Yogyakarta., 2014, hlm.78.
46Muhammad Akib, Hukum Lingkunan Perspektif Global dan Nasional, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2014, hlm. 176. Lihat pula Pasal 116 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyebutkan “untuk pertanggungjawaban pidana apabila tindak pidana lingkungan hidup dilakukan oleh, untuk atau atas nama korporasi (badan usaha) maka pertanggungjawabannya dapat dijatuhkan kepada: a) badan usaha, b). Orang yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau orang yang bertindak sebagai pemimpin kegiatan dalam tindak pidana tersebut.”
pemberi perintah atau pemimpin dalam tindak pidana tersebut tanpa memperhatikan tindak pidana tersebut dilakukan secara sendiri atau bersama, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 116 ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009.47
Berkaitan dengan pendapat diatas, untuk mengetahui pertanggungjawaban pidana korporasi dalam perkara tindak pidana lingkungan hidup maka memerlukan bantuan teori/doktrin tentang pertanggungjawaban pidana korporasi untuk mengkonstruksikan kesalahan korporasi. Adapun doktrin/teori tentang pertanggungjawaban pidana korporasi yang dapat dipergunakan yaitu:
1. Doctrine of Strict liability
Pengertian strict liabilitydidalam Black’s Law Dictionary adalah:48
Liability that does not depend on actual negligence or intent to harm, but that based on the breach of an absolute duty to make something safe.
Strict liability most often applies either to ultrahazardous activities or in products liability cases. Also term absolute liability; liability without fault.
(Pertanggungjawaban mutlak (adalah) pertanggungjawaban yang tidak tergantung pada kelalaian nyata atau maksud yang disengaja melukai atau mengakibatkan kerugian, namun pertanggungjawaban itu didasarkan pada pelanggaran suatu kewajiban mutlak untuk segala sesuatunya menjadi aman. Pertanggungjawaban mutlak sering ditetapkan baik dalam aktivitas- aktivitas yang sangat berbahaya atau dalam kasus pertanggungjawaban produksi).
Menurut teori atau doktrin strict liability, seseorang dapat dipertanggungjawabkan untuk tindak pidana tertentu walaupun pada diri orang itu tidak ada kesalahan (mens rea). Secara singkat strict liabilitydiartikan sebagai liability without fault (pertanggungjawaban pidana tanpa kesalahan), strict liabilitysebagai prinsip tanggung jawab keharusan untuk membuktikan adanya kesalahan. Sutan Remy Sjahdeini mengatakan, strict liability disebut pula dengan istilah absolute liability
47Lihat ketentuan Pasal 116 ayat (2) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
48Bryan A. Garner (Editor in Chief), 2004, Black’s Law Dictionary, Eight Edition, West Publishing Co, St. Paul, USA, hlm.926.
yaitu prinsip tanggung jawab mutlak (no fault liability or liability without fault).49Untuk pertanggungjawaban pidana bagi pelakunya, kesalahan tidak dipermasalahkan, maka strict liability disebut juga absolute liability.
Kemudian istilah dalam bahasa Indonesia untuk absolute liability adalah pertanggungjawaban mutlak. Sutan Remy Sjahdeini menggunakan istilah pertanggungjawaban mutlak.
Menurut teori atau doktin strict liability, pertanggungjawaban dapat dibebankan pelaku (korporasi) sekalipun tidak memiliki mens rea.
Ini berarti kesalahan pelaku (kesengajaan atau kealpaan) tidak perlu dibuktikan. Cukuplah apabila apabila dapat dibuktikan bahwa pelaku tindak pidana telah melakukan actus reus, yaitu melakukan perbuatan yang dilarang oleh ketentuan pidana atau tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh ketentuan pidana atau tidak melakukan perbuatan yang diwajibkan oleh ketentuan pidana.50
Barda Nawawi Arief menyatakan bahwa seiring dipersoalkan, apakah strict liabilityitu sama dengan absolute liability. Ada dua pendapat yang berkembang. Pendapat pertama, menyatakan bahwa strict liabilitymerupakan absolute liability. Alasan atau dasar pemikirannya adalah bahwa dalam perkara strict liabilityseorang yang telah melakukan perbuatan terlarang (actus reus) sebagaimana dirumuskan undnag-undang sudah dapat dipidana tanpa mempersoalkan apalah si pelaku mempunyai kesalahan (mens rea) atau tidak. Jadi seorang yang sudah melakukan tindak pidana menurut rumusan undang-undang harus/mutlak dipidana.
Pendapat kedua, bahwa strict liabilitybukan absolute liability. Artinya orang yang telah melakukan perbuatan terlarang menurut undang-undang tidak harus atau belum tentu dipidana. Pendapat kedua ini dikemukakan antara lain oleh J.C. Smith dan Brian Hogan.51 Barda Nawawi Arief telah
49Sutan Remy Sjahdeini, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi, Grafiti Pers, Jakarta, 2006, hlm.78.
50Ibid.hlm.79
51Dwidja Priyatno, Kebijakan Sistem Legislasi Tentang Sistem Pertanggungjawaban Pidana Korporasi di Indonesia, Utomo, Bandung, 2004, hlm.108.
menjelaskan terkait kedua pendapat yang dikemukakan J.C. Smith dan Brian Hogan dengan alasan:52
1) Suatu tindak pidana dapat dibuktikan sebagai satu-satunya unsur untuk actus reusyang bersangkutan. Unsur utama atau unsur satu- satunya itu biasanya merupakan salah satu ciri utama, tetapi sama sekali tidak berarti bahwa mens rea itu tidak di syaratkan sebagai unsur pokok yang tetap untuk tindak pidana itu. Misalnya, A dituduh melakukan tindka pidana “menjual dagung yang tidak layak untuk dimakan karena membahayakan kesehatan atau jiwa orang lain.” Tindak pidana ini menurut Hukum Inggris termasuk tindak pidana yang dapat dipertanggungjawabkan secara strict liability. Dalam hal itu tidak perlu dibuktikan bahwa A mengetahui daging itu tidak layak dikonsumsi, tetapi harus dibuktikan bahwa sekurang-kurangnya A menghendaki (sengaja) untuk menjual daging itu. Jadi jelas dalam hal itu strict liabilitytidak bersifat absolut.
2) Dalam kasus-kasus strict liabilitymemang tidak dapat diajukan alasan pembelaan untuk “kenyataan khusus” (particular fact) yang menyatakan terlarang menurut undang-undang. Misalnya dengan mengajukan “reasonable mistake”. Kita tetap dapat mengajukan alasan pembelaan untuk keadaan-keadaan lainnya. Comtoh lain, missal dalam kasus mengendarai kendaraan yang membahayakan (melampaui batas maksimum) dapat diajukan alasan pembelaan bahwa dalam kendaraan itu ia berada dalam keadaan automatism.
Misalnya A mabuk-mabukan di rumahnya sendiri, akan tetapi dalam keadaan pingsan, A diangkat oleh kawan-kawannya dan diletakkan di jalan raya. Dalam hal itu memang ada strict liability, yaitu berada di jalan raya dalam keadaan mabuk, tetapi A dapat mengajukan pembelaan berdasarkan adanya compulsion. Jadi dalam hal itu strict liabilitybukanlah absolute liability.
Andi Hamzah mengutip pendapat L.B Curzon dalam bukunya Law Criminal menjelaskan bahwa untuk menentukan suatu perbuatan dapat diterapkan strict liability, perlu diperhatikan hal-hal berikut:53
a. Perlunya ditaati suatu peraturan mengenai kesejahteraan masyarakat;
b. Pembuktian kesalahan (mens rea) sangat sulit untuk pelanggaran- pelanggaran yang berhubungan dengan kesejahteraan sosial itu;
52Ibid, hlm.109. Lihat pula Widyo Pramono, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Hak Cipta, Alumni, Bandung, 2012, hlm.91-92.
53Andi Hamzah, Penegakan Hukum Lingkungan, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hlm.91.
diambil dari L.B Curzon dalam bukunya Criminal Law, penjelasan penggunaan doktrin strict liability untuk kasus pencemaran lingkungan.
c. Tingginya kadar bahaya sosial akan memberikan penginterpretasian strict liability.
Sutan Remy Sjahdeini berpendapat bahwa salah satu pemecahan praktis bagi masalah pembebanan pertanggungjawaban atas tindka pidana yang dilakukan oleh seseorang yang bekerja di lingkungan suatu korporasi kepada korporasi adalah dengan menerapkan doctrine of strict liability.54 Berbeda pandangan dengan Sutan Remy Sjahdeini tersebut, menurut Barda Nawawi Arief penerapan teori atau doktin strict liabilityperlu dibatasi. Sebagaimana dikutip oleh Widyo Pramono, Barda Nawawi Arief menjelaskan secara lengkap bahwa:55
Karena strict liability ini menyimpang dari asas kesalahan maka para ahli hukum pidana membatasi penerapannya hanya pada delik-delik tertentu saja. Kebanyakan strict liability terdapat pada delik-delik yang diatur dalam undang-undang (statutory offences atau regulatory offences56 atau mala prohibita) yang umumnya merupakan delik-delik kesejahteraan umum (public welfare offences). Termasuk regulatory offences misalnya penjualan makanan dan minuman atau obat-obatan yang mebahayakan, pencegahan terhadap polusi, penggunaan gambar dagang yang menyesuaikan dan pelanggaran lalu lintas.
Bertolak dari asas kesalahan, menurut Barda Nawawi Arief, pertanggungjawaban pidana dalam tindak pidana lingkungan hidup ini tidak akan dimungkinkan adanya pertanggungjawaban mutlak (strict liabilityatau absolute liability). Didalam sistem hukum pidana Indonesia tidak dikenal pertanggungjawaban mutlak, berdasarkan beban pembuktian yang ada pada terdakwa. Pihak jaksa penuntut umum berkewajian untuk membuktikan kesalahan terdakwa. Pertanggungjawaban mutlak dapat dikenakan dalam hal pertanggungjawaban perdata berupa ganti rugi dan biaya pemulihan lingkungan.57
54Sutan Remy Sjahdeini, Ibid.hlm. 45
55Widyo Pramono, Op.Cit, hlm.96. Lihat pula Barda Nawawi Arief, Perbandingan Hukum Pidana, Cetakan Pertama, Rajawali, Jakarta, 1990, hlm.29
56Regulatory Offences adalah sebutan untuk Tindak Pidana ringan.
57Barda Nawawi Arief, Tindak Pidana Lingkungan Hidup dan Masalah Pertanggungjawaban Pidananya menurut Hukum Positif di Indonesia dalam Bunga Rampai Hukum Pidana, Alumni, Bandung, 1992, hlm.194.
Prinsip tanggungjawab mutlak (strict liability) telah diadopsi dalam penyelesaian sengeketa lingkungan hidup menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 yaitu untuk kasus yang menimbulkan ancaman serius terhadap lingkungan hidup. Korporasi yang menggunakan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), menghasilkan atau mengelola B3 bertanggung jawab mutlak atas kerugian yang terjadi tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan. Prinsip tanggungjawab mutlak ini hanya berlaku untuk gugatan perdata perihal ganti kerugian atas dampak pencemaran atau kerusakan lingkungan hiduo yang timbul sebagaimana disebutkan dalam Pasal 88 Undang-Undang 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.58 Dalam hal pertanggungjawaban pidana untuk tindak pidana lingkungan hidup yang terjadi, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup tidak mengadopsi teori atau doktrin pertanggungjawaban mutlak dan masih mendasarkan kepada asas tiada pidana tanpa kesalahan.
Barda Nawawi Arief, memberikan kriteria atau batas-batas yang harus diperhatikan apabila kita akan menerapkan asas strict liabilityyang merupakan penyimpangan dari asas kesalahan, sebagai berikut:59
a) Sejauh mana akibat-akibat yang ditimbulkan oleh perkembangan delik- delik baru itu mengancam kepentingan umum yang sangat luas dan eksistensi pergaulan hidup sebagai totalitas.
b) Sejauh mana nilai-nilai keadilan berdasarkan Pancasila membenarkan asas ketiadaan kesalahan sama sekali.
2. Doctrin of Vicarious liability
58Pasal 88 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyebutkan “Setiap orang yang tindakannya, usahanya dan/atau kegiatannya menggunakan B3, menghasilkan dan/atau mengelolalimbah B3 dan/atau menimbulkan ancaman serius, terhadap lingkungan hidup bertanggungjawab mutlak atas kerugian yang terjadi tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan”.
59Widyo Pramono, Ibid.hlm. 108
Teori atau doktrin ini diambil dari hukum perdata yang diterapkan dalam hukum pidana. Vicarious liabilityberlaku dalam hukum perdata tentang perbuatan melawan hukum (the law of torts) berdasarkan doctrine of respondeat superior. Doctrine of respondear superior menyebutkan, dimana ada hubungan antara master dan servant atau antara principal dan agent, berlaku maxim yang berbunyi qui facit per alium facit per se.
Menurut maxim tersebut, seseorang yang berbuat melalui orang lain dianggap dia sendiri yang melakukan perbuatan itu. Contohnya adalah seorang principal (pemberi kuasa) sepanjang perbuatan yang dilakukan dalam lingkup kewenangannya (tidak keluar dari batas kewenangannya).
Oleh karena itu, ajaran vicarious liabilityjuga disebut sebagai ajaran respondeat superior.60
Pada prinsipnya dalam teori atau dokrin vicarious liability, terdapat pengalihan pertanggungjawaban kepada orang lain (pimpinan). Apabila teori ini diterapkan pada korporasi, berarti korporasi dimungkinkan harus bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukan oleh para pegawai atau pengurus, kuasanya atau mendatarisnya atau siapapun yang mempunyai hubungan kerja dengan korporasi.61 Teori ini dianggap menyimpang dari doktrin mens rea karena teori ini berpendirian bahwa kesalahan manusia secara otomatis begitu saja diatributkan kepada pihak lain yang tidak melakukan kesalahan apapun.62
3. Doctrin of Identification
Teori ini pada prinsipnya mengatakan bahwa setiap subyek hukum dapat dimintakan pertanggungjawaban pidana bila terlebih dahulu daoat dibuktikan adanya suatu kesalahan atau yang dikenal dengan istilah mens rea (guilty mind) dengan mengidentifikasi suatu kesalahan yang dilakukan
60Sutan Remy Sjahdeini, Op.Cit, hlm.84.
61Ibid.hlm. 85
62Ibid, hlm.86.
oleh korporasi melalui cara mengaitkan perbuatan mens re para individu yang mewakili korporasi selaku directing mind atau alter ego.63
Menurut Sutan Remy Sjahdeini, untuk dapat membebankan pertanggungjawaban pidana kepada suatu korporasi, siapa yang melakukan tindak pidana tersebut harus mampu diidentifikasikan oleh penuntut umum. Apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh mereka yang merupakan “directing mind” dari korporasi tersbut, maka pertanggungjawaban tindak pidana itu baru dapat dibebankan kepada korporasi. Di dalam pertimbangan hukumnya, Denning L.J. berpendapat sebagai berikut:64
Suatu perusahaan dalam banyak hal dapat dipersamakan dengan tubuh manusia. Perusahaan memiliki tangan-tangan untuk memegang perlengkapan dan untuk bertindak sesuai dengan pengarahan yang diberikan oleh pusat saraf itu. Sebagian dari orang-orang didalam perusahaan itu semata-mata hanya sebagai pegawai dan berfungsi tidak lebih sebagai tangan-tangan yang melaksanakan pekerjaan dan tidak dapat dikatakan bahwa mereka itu mewakili pikiran dan kehdendak dari perusahaan itu. Sementara itu, orang-orang yang lain adalah para direktur dan manajer mewakili pikiran dan kehendak yang mampu mengarahkan perusahaan itu dan berwenang mengendalikan apa yang dilakukan oleh perusahaan itu.
4. Doctrin of Delegation
Doctrin of Delegation merupakan salah satu dasar pembenar untuk dapat membebankan pertanggungjawaban pidana yang dilakukan oleh pegawai kepada korporasi. Alasan untuk dapat membebankan pertanggungjawaban pidana kepada korporasi adalah adanya pendelegasian wewenang dari seseorang kepada orang lain untuk
63Rufinus Hatmaulana Hutauruk, Penanggulangan Kejahatan Korporasi Melalui Pendekatan Restoratif Suatu Terobosan Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2013, hlm.48.
64Sutan Remy Sjahdeini, Op.Cit, hlm 100. Teori ini dipakai Denning L.J dalam kasus H.L Bolton Engineering Co.Ltd v T..J Graham & Sons Ltd di Inggris Tahun 1957. Hlm. 87
melaksanakan kewenangan yang dimilikinya.65 Sutan Remy Sjahdeini mengutip pendapatnya Lord Parker CJ yang menjelaskan:66
Sekalipun peraturan perundang-undangan dengan tegas menyebutkan harus ada unsur mens rea bagi dapat dibebankannya tanggung jawab pidana terhadap pelakunya, seperti dengan digunakannya kata-kata
‘knowingly” atau “permitting” atau “suffering” atau dengan kata lain sekalipun, keharusan adanya pengetahuan (knowledge) dalam kalbu pelakunya merupakan unsur yang inheren bagi dapat dipertanggungjawabkannya tindak pidana itu. Namun demikian, seseorang tidak dapat lepas dari tanggung jawab dengan alasan bahwa yang bersangkutan memberikan pendelegasian tanggung jawabnya kepada orang lain dan sekalipun yang bersangkutan tidak mengetahui apa yang telah dilakukan oleh bawahannya itu.
Dengan kata lain, seorang yang telah mendelegasikan wewenang kepada bawahannya atau kuasanya untuk bertindak untuk dan atas namanya tetap harus bertanggungjawab atas perbuatan yang dilakukan oleh penerima delegasi apabila penerima delegasi melakukan tindak pidana, sekalipun dia tidak mengetahui (tidak memiliki pengetahuan mengenai) apa yang telah dilakukan oleh bawahannya itu. Kebijakan hukum telah menentukan bahwa suatu pendelegasian tidak dapat menjadi alasan pemaaf bagi seorang pemberi kerja untuk tidak memikul pertanggungjawaban pidana.
Menurut doktrin ini untuk membebankan tanggungjawab kepada korporasi atas perbuatan yang dilakukan oleh pegawai, pengurus didasarkan pendelegasian tersebut, maka perbuatan yang dilakukan oleh pegawai dialihkan atau diatributkan kepada korporasi.
5. Doctrin of Aggregation
Teori identifikasi dianggap tidak cukup untuk dapat digunakan mengatasi realitas pengambilan keputusan dalam banyak perusahaan modern sehingga lahir Doctrin of Aggregation.67Teori ini memungkinkan
65Ibid, hlm.97.
66Ibid, hlm.99.
67Ibid, hlm.170. Doctrine of Aggregation adalah asli Amerika. Teori ini ditolak di Inggris dalam dua kasus, salah satunya kasus H.M Coroner for east kent, ex parte spooner and others (1989) 88 Cr. App.R 10 (Queen’s Beanch Divisional Court). Dalam perkara tersebut, pemohon meminta agar dilakukan judicial Review terhadap putusan yang diberikan oleh coroner (petugas resmi yang tugasnya melakukan penyelidikan terhadap terjadinya penganiayaan atau terhadap kematian seorang berdasarkan surat resmi yang dikeluarkan oleh pihak yang berwajib yang disebut inquest. Dalam Judicial Review dinyatakan bahwa sebuah perusahaan tidak dapat dituntut karena telah melakukan tindak pidana manslaughter (pembunuhan yang tidak direncanakan sebelumnya)
aggregasi atau kombinasi kesalahan dari sejumlah orang, diatributkan pada korporasi sehingga korporasi dibebani pertanggungjawaban pidana. Semua perbuatan dan kesalahan dari sekelompok orang yang berhubungan signifikan dengan korporasi dianggap dilakukan oleh satu orang saja.
Dalam menjelaskan teori atau Doctrin of Aggregation, Sutan Remy Sjahdeini mengutip pendapat Clarkson dan Keating sebagai berikut:68
Apabila dalam teori identifikasi cukuplah untuk dapat menemukan pertanggungjawaban hanya satu orang saja yang perbuatannya dapat diatributkan kepada perusahaan, maka dalam teori agregasi diharuskan untuk dapat menemukan beberapa orang yang agregasi dari perbuatan- perbuatan mereka secara keseluruhan diatibutkan sebagai perbuatan perusahaan. Teori ini mengabaikan realitas bahwa esesi riil dari suatu perbuatan yang salah (wrongdoing) mungkin saja bukan berupa penyatuan dari apa yang telah dilakukan oleh masing-masing orang, tetapi berupa fakta bahwa perusahaan tidak memiliki struktur organisasi (organicationak structure) atau tidak memiliki (policy) untuk dapat mencegah seseorang dalam perusahaan itu untuk melakukan perbuatan yang secara kumulatif merupakan suatu tindak pidana.
6. Ajaran Gabungan.
Sutan Remy Sjahdeini, mengemukakan mengenai ajaran gabungan, sebagai berikut:69
Korporasi tidak dapat melakukan perbuatan sendiri, tetapi selalu harus melalui manusia yang memiliki kewenangan untuk melakukan perbuatan atau nama korporasi. Mengingat hal yang demikian itu, maka harus terlebih dahulu dipastikan adanya manusia yang menjadi pelaku sesungguhnya (pelaku materiil) dari tindak pidana tersebut, yang atas dilakukannya tindak pidana itu, korporasi harus bertanggungjawab.
Setelah dapat dipastikan bahwa terdapat manusia yang menjadi pelaku suatu tindak pidana, kemudian dikaji apakah atas dilakukannya tindak pidana itu dipenuhi unsur-unsur atau syarat-syarat dapat membebankan pertanggungjawbannya kepada korporasi.
Pendapat Sutan Remy Sjahdeini, untuk unsur-unsur atau syarat- syarat dapat membebankan pertanggungjawabannya kepada korporasi, sebagai berikut:70
dan bahwa perbuatan-perbuatan (acts) atau diamnya (tidak berbuat atau omission) dari personel perusahaan tidak dapat diagregasikan (dikombinasikan) agar perusahaan harus bertanggungjawab.
68Ibid, hlm.110.
69Ibid, hlm.118
a. Tindak pidana tersebut (baik dalam bentuk commission maupun omission) dilakukan atau diperintahkan oleh personel korporasi yang di dalam struktur organisasi korporasi memiliki posisi sebagai directing mind dari korporasi.
Dengan kata lain, pertanggungjawaban pidana dapat dibebankan kepada korporasi hanya apabila tindak pidana (berupa commission atau omission) tersebut dilakukan atau tidak dilakukan oleh directing mind, atau diperintahkan directing mind korporasiagar dilakukan atau tidak dilakukan oleh orang lain. Unsur ini merupakan adopsi dari teori identifikasi.
Directing Mind dari korporasi adalah personel yang memiliki posisi sebagai penentu kebijakan korporasi.
b. Tindak pidana tersebut dilakukan dalam rangka maksud dan tujuan korporasi. Artinya hanya apabila kegiatam tersebut merupakan kegiatan yang intra vires, yaitu sesuai dengan maksud dan tujuan korporasi sebagaimana ditentukan dalam anggaran dasarnya, maka baru perbuatan pengurus itu dapat dibebankan pertanggungjawabannya kepada korporasi.
Dengan kata lain, apabila tinfk pidan ayang dilakukan atau diperintahkan agar dilakukan oleh orang lain merupakan perbuatan yang ultra vires, yaitu tidak sesuai dengan maksud dan tujuan korporasi sebagaimana ditentukan di dalam anggaran dasarnya maka korporasi yang bersangkutan tidak dapat dibebani pertanggungjawaban pidana. Perbuatan yang ultra vires merupakan perbuatan yang harus dipikul sendiri pertanggungjawabannya oleh personel korporasi yang melakukan perbuatan.
c. Tindak pidana dilakukan oleh pelaku atau atas perintah pemberi perintah dalam rangka tugasnya dalam korporasi.
d. Tindak pidana tersebut dilakukan dengan maksud memberikan manfaat bagi korporasi. Manfaat tersebut dapat berupa memberikan keuntungan finansial maupun non finansial dan dapat menghindarkan dari kerugian bagi korporasi.
Apabila tindak pidana itu tidak berkaitan dengan tugas pelaku atau tugas pemberi perintah di dalam korporasi maka personel tersebut tidak berwenang melakukan perbuatan yang mengikat korporasi maka korporasi tidak diharuskan memikul pertanggungjawaban pidana.
e. Pelaku atau pemberi perintah tidak memiliki alasan pembenar atau alasan pemaaf untuk dibebaskan dari pertanggungjawaban pidana.
f. Bagi tindak pidana yang mengharuskan adanya unsur perbuatan (actus reus) dan unsur kesalahan (mens rea). Kedua unsur tersebut (actus reus dan mens rea) tidak harus terdapat pada satu orang saja. Merupakan penerapan ajaran agregasi. Orang yang melakukan actus reustidak perlu harus memiliki sendiri mens rea yang menjadi dasar bagi tujuan dilakukannya actus reus, asalkan dalam hal orang itu melakukan actus
70Ibid, hlm.119-112
reus adalah menjalankan perintah atau suruhan orang lain yang memiliki mens rea.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka ketentuan Undang-Undang yang mengatur mengenai pertanggungjawaban pidana korporasi yang melakukan Tindak Pidana Lingkungan Hidup yang berkaitan dengan pembakaran hutan dan lahan, antara lain:
a. Pasal 78 ayat (14) Undang undang No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan bahwa:
“Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) apabila dilakukan oleh dan atau atas nama badan hukum atau badan usaha, tuntutan dan sanksi pidananya dijatuhkan terhadap pengurusnya, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, dikenakan pidana sesuai dengan ancaman pidana masing -masing ditambah dengan 1/3 (sepertiga) dari pidana yang dijatuhkan.”
b. Pasal 109 ayat (1) UU P3H, dengan ketentuan bahwa:
Dalam hal perbuatan pembalakan, pemanenan, pemungutan, penguasaan, pengangkutan, dan peredaran kayu hasil tebangan liar dilakukan oleh atau atas nama suatu korporasi, tuntutan dan/atau penjatuhan pidana dilakukan terhadap korporasi dan/atau pengurusnya.
c. Pasal 116 ayat (1) UU PPLH berbunyi:
Apabila tindak pidana lingkungan hidup dilakukan oleh, untuk, atau atas nama badan usaha, tuntutan pidana dan sanksi pidana dijatuhkan kepada: a. badan usaha; dan/atau b. orang yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau orang yang bertindak sebagai pemimpin kegiatan dalam tindak pidana tersebut.
Pada Undang-Undang Kehutanan, pembentuk undang undang walaupun telah mengakui bahwa korporasi atau badan usaha merupakan subyek hukum yang dapat melakukan tindak pidana namun pertanggungjawaban pidananya digantikan ke pengurusnya berbeda halnya dengan ketentuan Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dan Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup bahwa disamping telah mengakui korporasi atau badan usaha merupakan subyek hukum yang dapat melakukan tindak pidana
kehutanan atau lingkungan hidup, terhadap korporasi juga dapat dijatuhi pidana.
2. Tinjauan Umum Tindak Pidana Lingkungan Hidup
Hukum lingkungan merupakan bidang hukum yang disebut dengan bidang hukum fungsional yaitu sebuah bidang hukum yang mengandung ketentuan-ketentuan hukum administrasi Negara, pidana dan perdata. Para ahli hukum masih berbeda pendapat tentang istilah apa yang cocok untuk digunakan terkait kajian hukum lingkungan yang beraspek pidana, apakah istilah hukum lingkungan kepidanaan,71 atau hukum lingkungan pidana 72 ataukah hukum pidana lingkungan73. Andi Hamzah tidak mempersoalkan istilah tersebut, karena tergantung dari perspektif mana istilah itu digunakan. Jika dari perspektif pidana maka tidak salah menggunakan istilah hukum pidana lingkungan. Sebaliknya jika dari persepktif hukum lingkungan, maa yang digunakan adalah istilah hukum lingkungan kepidanaan.74 Namun demikian, terlepas dari perbedaan pendapat istilah tersebut, Peneliti menggunakan istilah hukum pidana lingkungan karena yang dikaji adalah masalah lingkungan hidup ditinjau dari perspektif hukum pidana sehingga lebih menitikberatkan pada kajian hukum pidananya.
Menurut para akademisi, perkembangan hukum lingkungan modern di Indonesia lahir sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup tanggal 11 Maret 1982 yang biasa disingkat dengan UULH 1982. UULH 1982 pada tanggal 19 september 1997 digantikan oleh Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
71Takdir Rahmadi, Hukum Lingkungan di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. 2011, Hlm. 56
72Sukanda Husin, Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta. 2009, Hlm. 78
73Andi Hamzah, Penegakan Hukum Lingkungan, Sinar Grafika, Jakarta, 2005, hlm.108.
74Muhammad Akib, Hukum Lingkungan Perspektif Global dan Nasional Edisi Revisi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2014, hlm.163.
Lingkungan Hidup atau yang biasa disingkat dengan UUPPLH 1997.
Kemudian UUPPLH 1997 dinyatakan tidak berlaku setelah adanya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai sumber formal utama hukum lingkungan di Indonesia. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 telah secara tegas mengadopsi asas-asas yang terkandung dalam Deklarasi Rio 1992 yaitu asas-asas tanggungjawab Negara, keterpaduan, kehati-hatian, keadilan, pencemar membayar, parsitipatif dan kearifan local.
Pengadopsian ini merupakan bagian dari politik hukum yang penting untuk memperkuat kepentingan perlindungan lingkungan hidup ketika berhadapan dengan kepentingan ekonomi jangka pendek yang mungkin tidak diperhatikan oleh pelaku usaha (korporasi).75
Mengenai istilah tindak pidana lingkungan hidup merupakan gabungan dari istiah tindak pidana dan lingkungan hidup. Istilah tindak pidana adalah istilah yang secara resmi digunakan dalam peraturan perundang-undangan. Dalam tulisan-tulisan para pakar hukum, ada yang menggunakan istilah delik untuk pengertian tindak pidana.76 Kata delik berasal dari bahasa latin delictum.77 Sementara itu ada pula yang menggunakan istilah perbuatan pidana untuk tindak pidana. Moeljatno dan Roeslan Saleh menggunakan istilah perbuatan pidana.78 Perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum yang disertai sanksi yang berupa pidana tertentu bagi pelanggar larangan tersebut.79
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mendefinisikan istilah lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya,
75Takdir Rahmadi, Perkembangan Hukum Lingkungan di Indonesia, https://www.mahkamahagung.go.id/rbnews.asp?bid=4084, diakses tanggal 8 Januari 2017.
76Sutan Remy Sjahdeini, Op.Cit. hlm.26.
77Leden Marpaung, Asas-Teori-Praktik Hukum Pidana Cetakan Keenam, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hlm.7.
78Sutan Remy Sjahdeini, Op.Cit. hlm 26.
79Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana Cetakan Kedelapan Edisi Revisi, Rineka Cipta, Jakarta, 2008, hlm.59.
keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang memperngaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusi serta makhluk hidup lain. Istilah tindak pidana lingkungan hidup telah disebutkan didalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Meskiputn tidak ada definisi secara yuridis, namun tindak pidana lingkungan hidup dapat diartikan sebagai perbuatan pidana yang mengacu pada ketentuan perundang-undangan mengenai lingkungan hidup.
Rumusan tindak pidana lingkungan hidup dapat ditelusuri dari ketentuan pidana dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 yaitu dari Pasal 98 hingga Pasal 115. Tindak pidana lingkungan hiduo terbagi atas dua jenis yaitu tindak pidana pidana lingkungan hidup materiil dan formil.
Tindak pidana formil adalah tindak pidana yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga memberikan arti bahwa inti larangan yang dirumuskan adalah melakukan suatu perbuatan tertentu, dan tidak memerlukan timbulnya suatu akibat tertentu sebagai syarat penyelesaian tindak pidana, melainkan hanya melihat pada perbuatannya. Tindak pidana materiil adalah tindak pidana yang merumuskan inti larangan berupa akibat. Oleh karena itu siapa yang menimbulkan akibat yang dilarang itulah yang dipertanggungjawabkan dan dilarang.80 Akibat dari tindak pidana lingkungan hidup yaitu terjadinya pencemaran lingkungan hidup dan kerusakan lingkungan hidup. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 juga telah memberikan definisi mengenai pencemaran lingkungan hidup dan kerusakan lingkungan hidup.81 Tolok ukur yuridis apabila terjadi
80Amir Ilyas, Asas-Asas Hukum Pidana (Memahami Tindak Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana Sebagai Syarat Pemidanaan), Rangkang Education, Yogyakarta, 2012, hlm.29.
81Lihat Pasal 14 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyebutkan, “Pencemaran Lingkungan Hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energy, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan”. Lihat Pasal 1 angka 17 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyebutkan, “kerusakan Lingkungan Hidup adalah