BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka Teori 1. Tinjauan tentang Hukum Pidana
a. Pengertian Pidana
Menurut Prof. Van Hamel, arti pidana atau straf menurut hukum positif dewasa ini adalah suatu penderitaan yang bersifat khusus, yang telah dijatuhkan oleh kekuasaaan yang berwenang untuk menjatuhkan pidana atas nama negara sebagai penanggung jawab dari ketertiban hukum umum bagi seorang pelanggar, yakni semata-mata karena orang tersebut telah melanggar suatu peraturan hukum yang harus ditegakkan oleh negara (PAF Lamintang dan Theo Lamintang, 2012: 33).
Menurut Prof. Simons, pidana atau straf itu adalah suatu penderitaan yang oleh undang-undang pidana telah dikaitkan dengan pelanggaran terhadap suatu norma, yang dengan suatu putusan hakim telah dijatuhkan bagi seseorang yang bersalah (PAF Lamintang dan Theo Lamintang, 2012: 33-34).
Menurut Algra-Janssen merumuskan pidana atau straf sebagai alat yang digunakan oleh penguasa (hakim) untuk memperingatkan mereka yang telah melakukan suatu perbuatan yang tidak dapat dibenarkan (PAF Lamintang dan Theo Lamintang, 2012: 34).
Dari tiga buah rumusan mengenai pidana di atas dapat diketahui, bahwa pidana sebenarnya hanya merupakan suatu penderitaan atau suatu alat
(PAF Lamintang dan Theo Lamintang, 2012: 34).
b. Pengertian Hukum Pidana
Prof Mr. WFC van Hattum telah merumuskan hukum pidana postif sebagai berikut suatu keseluruhan dari asas-asas dan peraturan-peraturan yang diikuti oleh negara atau suatu masyarakat hukum umum lainnya, di mana mereka itu sebagai pemelihara dari ketertiban hukum umum telah melarang dilakukannya tindakan-tindakan yang bersifat melanggar hukum dan telah mengaitkan pelanggaran terhadap peraturan-peraturannya dengan suatu penderitaan yang bersifat khusus berupa hukuman (PAF Lamintang, 1997:2-3).
Prof WPJ Pompe telah membuat suatu rumusan mengenai hukum pidana dengan mengatakan hukum pidana itu sama halnya dengan hukum tata negara, hukum perdata, dan lain-lain bagian dari hukum, biasanya diartikan sebagai suatu keseluruhan dari peraturan-peraturan yang sedikit banyak bersifat umum yang sibastahir dari keadaan-keadaan yang bersifat konkret (PAF Lamintang, 1997: 3).
Pengertian hukum pidana sebagai obyek studi, dapat dikutip pendapat Enschede-Heidjer yang mengatakan bahwa menurut metodenya, maka hukum pidana dapat dibedakan (Andi Hamzah, 2008: 1):
1) Ilmu-ilmu hukum pidana sistematik
a) Hukum pidana hukum pidana materiil b) Hukum acara pidana hukum pidana formil 2) Ilmu hukum pidana berdasarkan pengalaman antara lain
a) Kriminologi b) Kriminalistik
c) Psikiatri forensik dan psikologo forensik d) Sosiologi hukum pidana
Secara sederhana dapat dikemukakan bahwa hukum pidana merupakan hukum yang mengatur tentang perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh undang-undang beserta sanksi pidana yang dapat dijatuhkannya kepada pelaku. Hal demikian menempatkan hukum pidana dalam pengertian hukum pidana materiil (Bambang Waluyo, 2008: 6).
c. Sifat Hukum Pidana
Ditinjau dari sifatnya, hukum pidana merupakan hukum publik, yaitu mengatur hubungan antara individu dengan suatu masyarakat hukum umum, yakni negara atau daerah di dalam negara. Sifatnya sebagai hukum publik nampak jelas dari kenyataan-kenyataan yaitu (PAF Lamintang, 1990: 13-14):
1) Bahwa sifatnya yang dapat dihukum dari seseorang yang telah melakukan suatu tindak pidana itu tetap ada, walaupun tindakannya itu telah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari korbannya;
2) Bahwa penuntutan menurut hukum pidana itu tidak digantungkan pada keinginan dari orang yang telah dirugikan oleh suatu tindak pidana yang telah dilakukan oleh orang lain.
Sifat hukum pidana sebagai hukum publik tidak serta merta melekat begitu saja. Dahulu, hukum pidana lebih bersifat privat (sipil), karena apabila seseorang melakukan suatu kejahatan terhadap orang lain, maka orang atau keluarga ataupun suku bangsa orang yang menjadi korban ini memperkenankan membalas dendam kepada orang yang telah merugikannya tidak dapat dielakkan, bahwa pada saat itu banyak terjadi pembunuhan besar- besaran di antara suku bangsa yang satu dengan yang lain. Belum adanya organisasi kenegaraan seperti yang dikenal sekarang, adalah penyebab hal- hal tersebut sering terjadi (Winarno Budyatmojo, 2008: 12-13).
Lambat laun oleh karena diketahui bahwa hal tersebut sangat merugikan suku-suku bangsa itu sendiri, maka seiring dengan perkembangan terbentuknya organisasi masyarakat berupa negara, kepentingan-kepentingan yang dianggap sebagai kepentingan bersama harus pula diatur oleh negara.
Demikianlah maka hukum pidana yang tadinya berdifat privat (sipil) sekarang menjadi bersifat umum dan menjadi hukum publik (R. Soesilo, 1987: 3-4).
d. Tujuan Hukum Pidana
Pada dasarnya semua hukum bertujuan untuk menciptakan suatu keadaan dalam pergaulan hidup bermasyarakat, baik dalam lingkungan yang kecil maupun dalam lingkungan yang lebih besar, agar di dalamnya terdapat suatu keserasian, suatu ketertiban, suatu kepastian hukum dan lain sebagainya. Pun dengan hukum pidana yang merupakan salah satu bagian dari hukum pidana umumnya, yaitu bahwa semua hukum tersebut memuat sejumlah ketentuan-ketentuan. Ketentuan-ketentuan tersebut dibuat untuk menjamin agar norma-norma yang diakui di dalam hukum itu benar-benar akan ditaati orang (Winarno Budyatmojo, 2008: 13).
Lebih lanjut dikatakan bahwa pada umumnya di dalam membuat uraian tentang tujuan hukum pidana, sebagian ahli tidak mengadakan pemisahan antara tujuan hukum pidana itu sendiri dengan tujuan diadakannya hukuman atau pidana (Bambang Purnomo, 1978: 17).
e. Pengertian Hukum Pidana Khusus
Sudarto mengatakan bahwa hukum pidana khusus diartikan sebagai ketentuan hukum pidana yang mengatur mengenai kekhususan subyeknya dan perbuatannya yang khusus (Sudarto, 1981: 61).
Kanter dan Sianturi mengartikan hukum pidana khusus sebagai ketentuan hukum pidana yang mengatur ketentuan khusus yang menyimpang dari ketentuan umum baik mengenai subyeknya maupun perbuatannya (E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi, 1982: 22).
f. Dasar Hukum Berlakunya Hukum Pidana Khusus
Dasar hukum berlakunya hukum pidana khusus adalah Pasal 103 KUHP yang menyatakan, bahwa ketentuan-ketentuan dalam Bab I sampai Bab VII buku ini juga berlaku bagi perbuatan-perbuatan yang oleh ketentuan perundang-undangan lainnya diancam dengan pidana, kecuali jika oleh undang-undang ditentukan lain. Pasal 103 KUHP ini mengandung dua pengertian. Pertama, semua ketentuan yang ada dalam Buku I KUHP berlaku tehadap perundang-undangan pidana di luar KUHP sepanjang perundang- undangan itu tidak menentukan lain. Kedua, adanya kemungkinan pengaturan hal-hal tertentu dalam perundang-undangan pidana termasuk undang-undang pidana di luar KUHP, karena KUHP tidak mengatur seluruh tindak pidana di dalamnya (Mahrus Ali, 2011: 3).
Dalam hukum pidana khusus asas yang berlaku adalah lex specialis derogat lex generalis, ketentuan hukum pidana khusus mengalahkan atau lebih diutamakan daripada hukum pidana umum, dalam arti jika perbuatan termasuk dalam suatu aturan pidana umum, diatur pula dalam ketentuan pidana khusus, yang khusus itulah yang diberlakukan. Ketika hukum pidana khusus mengandung aspek penting berupa penyimpangan dari ketentuan hukum pidana umum, maka dengan sendirinya hukum pidana khusus adalah hukum atau perundang-undangan pidana yang berada di luar hukum pidana umum (KUHP) (Mahrus Ali, 2011: 1-2).
g. Perundang-undangan Pidana Korupsi Sebagai Hukum Pidana Khusus Alasan memasukkan undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi ke dalam hukum pidana khusus (Mahrus Ali, 2011: 15-17):
Pertama, terkait dengan pengaturan tindak pidana. Undang-undang tindak pidana korupsi dengan tegas memandang bahwa pidana bagi tindak pidana percobaan, pemufakatan jahat, dan pembantuan sama dengan delik selesai. Bila dalam KUHP pidana bagi delik percobaan adalah dikurangi sepertiga dari maksimum ancaman pidana.
Kedua, terkait dengan pertanggungjawaban pidana. Undang-undang tindak pidana korupsi tidak hanya menjadikan manusia sebagai subjek delik, tapi juga korporasi. Sedangkan dalam KUHP korporasi tidak diakui sebagai subjek delik, hanya manusia yang dapat melakukan tindak pidana.
Ketiga, terkait dengan sanksi pidana. Undang-undang tindak pidana korupsi mengatur perumusan ancaman pidana secara kumulatif dan kumulatif-alternatif, serta ancaman pidana minimum khusus. Ketentuan mengenai perumusan ancaman pidana demikian tidak dikenal dalam KUHP, sebab KUHP sendiri hanya mengenai dua sistem perumusan ancaman pidana, yaitu sistem perumusan tunggal dan sistem perumusan alternatif.
Selain itu, KUHP juga tidak mengenai ancaman pidana minimum khusus, yang dikenal hanyalah ancaman pidana minimum umum, maksimum umum, dan maksimum khusus.
Keempat, terkait dengan hukum acara pidana. Undang-undang tindak pidana korupsi mengatur ketentuan beracara yang berbeda atau menyimpang dari ketentuan beracara dalam KUHAP, seperti diakuinya sistem pembalikan beban pembuktian, perampasan aset, pembayaran uang pengganti, dan peradilan in absentia. Pengaturan yang demikian tidak dikenal dalam KUHAP.
2. Tinjauan tentang Penyalahgunaan Jabatan a. Pengertian Pegawai
Pengertian Pegawai menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1991:593), berarti orang yang bekerja pada pemerintah (perusahaan dan sebagainya). Sementara sumber lainnya menjelaskan bahwa istilah pegawai (Wijaya, 2002:15) mengandung pengertian :
1) Menjadi anggota suatu kerjasama (organisasi) dengan maksud memperoleh balas jasa/imbalan kompensasi atas jasa yang telah diberikan;
2) Berada dalam sistem kerja yang sifatnya lugas/pamrih;
3) Berkedudukan sebagai penerima kerja dan berhadapan dengan pihak pemberi kerja;
4) Kedudukan sebagai penerima kerja itu diperoleh setelah melalui proses penerimaan;
5) Dan akan menghadapi masa pemberhentian (pemutusan hubungan kerja antara pemberi kerja dengan penerima kerja).
Menurut ketentuan umum Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Pegawai Negeri adalah meliputi:
1) Pegawai Negeri sebagaimana dimaksud dalam Undang Undang tentang Kepegawaian;
2) Pegawai Negeri sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang Undang Hukum Pidana;
3) Orang yang menerima gaji atau upah dari keuangan negara atau daerah;
4) Orang yang menerima gaji atau upah dari suatu korporasi yang menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah; atau
5) Orang yang menerima gaji atau upah dari korporasi lain yang mempergunakan modal atau fasilitas dari negara atau masyarakat.
b. Pengertian Penyalahgunaan Jabatan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1997:1128), arti penyalahgunaan jabatan
kekuasaan untuk bertindak atau menyalahgunakan kekuasaan yang Menyalahgunakan jabatan, artinya memakai wewenang secara buruk atau salah (Jur Andi Hamzah, 2010: 87).
Penyalahgunaan jabatan yang dimasukkan sebagai bagian inti delik (bestanddeel delict) tindak pidana korupsi dalam Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menyebutkan, setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Selain itu tidak dijelaskan lagi secara lengkap yang dimaksud penyalahgunaan jabatan sehingga menimbulkan implikasi interpretasi yang beragam (Nur Basuki Minarno, 2009: 32).
Seorang pejabat yang mengeluarkan suatu kebijakan tidak dapat diminta pertanggungjawaban pidananya, apabila dalam mengambil atau menetapkan kebijakan tersebut tidak ada suatu kickback yang diakibatkan, baik perbuatan melawan hukum dan penyalahgunaan jabatan menyiratkan sikap batin dan mengiringi perbuatan terebut bertujuan memperkaya atau menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi maupun menimbulkan kerugian terhadap negara, kecuali jika perbuatan tersebut dilakukan karena pejabat pembuat kebijakan ada kehendak berbuat curang, tidak adil, menyembunyikan sesuatu, atau adanya unsur KKN dan mendapat advantage baik secara langsung maupun tidak langsung atas kebijakan yang telah diambilnya (Marwan Effendy, 2012: 123).
c. Unsur Delik Penyalahgunaan Jabatan
Delik penyalahgunaan jabatan dalam tindak pidana korupsi diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dapat diuraikan unsur-unsur deliknya adalah sebagai berikut (Nur Basuki Minarno, 2009: 25-26) :
1) Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi
2) Menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena jabatan kedudukan
3) Yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
Unsur yang khas dari tindak pidana korupsi dibandingkan dengan
atau suatu badan, menyalahgunakan jabatan atau kedudukan dan merugikan keuangan ne
3. Tinjauan tentang Tindak Pidana Korupsi a. Pengertian Tindak Pidana
Pengertian mengenai tindak pidana yang dirumuskan oleh para ahli berbeda-beda antara satu dengan ahli yang lainnya. Sehingga dalam memperoleh pendefinisian mengenai tindak pidana sangat sulit.
merupakan terjemahan dari strafbaar feit dapat diterjemahkan sebagai sebagian dari suatu kenyataan yang dapat dihukum (PAF Lamintang, 1997: 181). Soesilo memakai istilah peristiwa pidana untuk tindak pidana, yaitu suatu perbuatan yang dilarang atau diwajibkan oleh undang-undang yang apabila dilakukan atau dialpakan, maka orang yang melakukan atau mengalpakannya itu diancam dengan hukuman (R.
Soesilo, 1997: 4). Moeljatno memakai istilah perbuatan pidana oleh karena pengertian perbuatan lebih abstrak sehingga lebih luas dari pengertian tindak yang hanya menyatakan konkrit (Sukardi, 2005: 21).
Dari beberapa pengertian yang telah dikemukakan, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pada intinya tindak pidana yaitu suatu perbuatan yang melanggar peraturan dan dapat dihukum (Winarno Budyatmojo, 2008: 8).
b. Pengertian Tindak Pidana Korupsi
Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok). Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka (Adnan Buyung Nasution dkk, 1999: 20).
Rumusan Korupsi secara etimologis berasal dari corruption/corruperre, corruptus (Latin), corruption, corrupts (Inggris), corruption (Prancis), dan corruptie (Belanda) (Andi Hamzah, 1991: 7-10).
Sedangkan di dalam Bahasa Indonesia, korupsi berarti perbuatan buruk (penggelapan uang, sogok) (Puwadarminta, 1976: 524).
Alatas menyatakan bahwa korupsi secara umum adalah apabila seorang pegawai negeri menerima pemberian yang disodorkan oleh seorang swasta dengan maksud mempengaruhinya agar memberikan perhatian istimewa pada kepentingan si pemberi (Syed Husein Alatas, 1983: 11-14).
Lebih lanjut Alatas menyebutkan tiga fenomena yang termasuk dalam korupsi yaitu bribery, extortion dan nepotism. Dengan demikian korupsi merupakan gejala salah pakai dan salah urus dari kekuasaan, demi keuntungan pribadi, salah urus dan kesewenangan terhadap sumber-sumber kekayaan negara dengan menggunakan wewenang/kekuasaan dan kekuatan kekuatan formal (misalnya denagan alasan hukum dan kekuatan senjata) untuk memperkaya diri sendiri. Korupsi terjadi disebabkan adanya penyalahgunaan wewenang dan jabatan/kekuaasaan yang dimiliki oleh pejabat atau pegawai demi kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan pribadi dan atau keluarga, sanak saudara dan teman.
David H Bayley dengan mengutip dari Webster Third New Dictionary (1961) mendefinisikan korupsi sebagai perangsang (seorang pejabat pemerintah) berdasarkan itikad buruk (seperti misalnya suapan) agar ia melakukan pelanggaran kewajibannya (David H Bayley, 1985: 86-90).
Purwadarminta mendefinisikan korupsi sebagai perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok, dan sebagainya (Purwadarminta, 1976).
Robert Klitgaard yang mengupas korupsi dari perspektif administrasi negara, mendefinisikan korupsi sebagai Tingkah laku yang menyimpang dari tugas-tugas resmi sebuah jabatan negara karena keuntungan status atau uang yang menyangkut pribadi (perorangan, keluarga dekat, kelompok sendiri) atau melanggar aturan-aturan pelaksanaan menyangkut tingkah laku pribadi (Robert Klitgaard, 1998: ).
Baharuddin Lopa mengutip pendapat dari David M.Chalmers menguraikan arti istilah korupsi dalam berbagai bidang, yakni yang menyangkut masalah penyuapan, yang berhubungan dengan manipulasi di bidang ekonomi, dan yang menyangkut bidang kepentingan umum (Evi Hartanti, 2012: 9).
Transparency International memberikan definisi korupsi adalah penyalahgunaan otoritas publik untuk kepentingan pribadi atau kelompok (Rizal Malik, 2008: 2).
Pengertian korupsi dalam Kamus Peristilahaan diartikan sebagai penyelewengan atau penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan diri dan merugikan negara dan rakyat (M.D.J.Al Barry, 1996: 208).
Dalam perkembangan terakhir, dari beragam pengertian korupsi terdapat penekanan, bahwa korupsi adalah penyalahgunaan kekuasaan atau kedudukan publik untuk keuntungan pribadi, orang lain atau korporasi (Marwan Effendy, Makalah, 2006).
Sebenarnya, Indonesialah yang pertama mencanangkan suatu peraturan khusus mengenai pemberantasan korupsi di Asia. Penguasa Perang Pusat Kepala Staf Angkatan Darat yang dijabat Jenderal A.H. Nasution menciptakan suatu peraturan untuk memberantas korupsi yang gejalanya sudah tampak pada tahu (Jur Andi Hamzah, 2005: 5).
Di Indonesia secara yuridis pengertian korupsi dapat diidentifikasikan dari rumusan-rumusan perbuatan yang dapat dihukum karena tindak pidana korupsi berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, yakni (Edi Setiadi dan Rena Yulia, 2010: 73) :
1) Siapa yang melakukan ?
Korupsi dapat dilakukan oleh siapapun juga. Dari pengertian tersebut maka yang potensial melakukannya adalah pegawai negeri namun tidak menutup kemungkinan pegawai swasta melakukan perbuatan itu. Mengapa? Karena pegawai negeri lah yang secara langsung berhubungan atau menjalankan birokrasi yang berbelit-belit dan bertingkat-tingkat sehingga memiliki peluang besar untuk melakukan korupsi. Hal ini tidak menutup kemungkinan pegawai swasta melakukan korupsi terutama yang sering melaksanakan proyek pemerintah.
2) Apa yang mereka lakukan ?
Biasanya mereka melakukan penyesuaian-penyesuaian anggaran yang jauh dari kenyataan lapangan, suap-menyuap antar atasan dan bawahan atau antara pelaksana dan pengawas, pemberian hadiah-hadiah atau munculnya praktek-praktek diluar prosedur yang ada. Apa yang mereka lakukan melawan hukum atau aturan yang berlaku serta kepatutan yang ada pada masyarakat. Praktek itu tidak muncul secara tiba-tiba tetapi biasanya terencana atau sistemik.
3) Apa tujuannya ?
Jelas, ada keinginan untuk memperkaya diri sendiri karena merasa pendapatan/gaji yang diterimanya tidak cukup sehingga berbagai cara halal dilakukan. Tidak tertutup kemungkinan maksud untuk memperkaya orang lain terutama orang-orang disekitarnya baik saudara maupun kolega, karena ketika kemudahan itu diperoleh oleh orang- orang disekitarnya maka suatu saat akan ada timbal balik didapatkannya.
Selain itu keinginan untuk memperkaya suatu kelompok atau korporasi juga sangat dimungkinkan. Korporasi itulah yang diajak secara bersama-sama untuk melakukan korupsi. Banyak keuntungan yang bisa diperoleh. Selain tidak kelihatan pelakunya secara perorangan, korporasi bekerja rapi dengan berlindung dibalik kekuasaan, modal yang besar &
kedudukan yang dimilikinya.
4) Bagaimana hal itu dapat mereka lakukan ?
Dengan jabatan dan kedudukan yang ada dengan mudah perbuatan tersebut dilakukan. Dari jabatan level yang paling rendah sampai paling tinggi ada kemungkinan untuk melakukan praktek korupsi.
5) Apa akibat perbuatan tersebut ?
Perbuatan tersebut dapat merugikan keuangan dan perekonomian negara sehingga rakyat yang akan menerima akibatnya. Harga-harga sembako melonjak, masyarakat miskin semakin banyak tetapi beberapa gelintir orang yang kaya mendadak.
c. Sistematika Tindak Pidana Korupsi
Tindak pidana korupsi dengan susunan dan rumusan sebagaimana diatur dan dirumuskan dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sistematikanya adalah sebagai berikut (Leden Marpaung, 2009: 16- 18) :
1) Tindak Pidana Korupsi (dari luar KUHP)
a) Memperkaya diri sendiri/orang lain, dengan melawan hukum.
b) Menyalahgunakan kekuasaan.
c) Tindak pidana korupsi yang diatur secara khusus
(1) Percobaan, pembantuan, pemufakatan tindak pidana korupsi (2) Tindak pidana korupsi bersifat ringan
(3) Gratifikasi
d) Tindak pidana korupsi yang berkenaan dengan peradilan (1) Merintangi peradilan
(2) Memberi keterangan yang tidak benar (3) Perlindungan pelapor tindak pidana korupsi 2) Tindak Pidana Korupsi berasal dari KUHP
a) Pasal 23 UU No 31/1999 (1) Pasal 220 KUHP (2) Pasal 231 KUHP (3) Pasal 421 KUHP (4) Pasal 422 KUHP (5) Pasal 429 KUHP (6) Pasal 430 KUHP b) Pasal 43B UU No 20/2001
(1) Delik suap
(2) Delik penggelapan
(3) Delik kerakusan/pemerasan
(4) Delik berkenaan dengan pemborongan/rekanan d. Jenis Tindak Pidana Korupsi
Menurut buku KPK, tindak pidana korupsi dikelompokkan menjadi 7 macam. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut: (KPK, 2006:19).
1) Perbuatan yang Merugikan Negara
Perbuatan yang merugikan negara, dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
a) Mencari keuntungan dengan cara melawan Hukum dan merugikan negara. Korupsi jenis ini dirumuskan dalam Pasal Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi) :
kan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan yang paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling
dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat di
b) Menyalahgunakan jabatan untuk mencari keuntungan dan merugikan negara. Penjelasan dari jenis korupsi ini hampir sama dengan penjelasan jenis korupsi pada bagian pertama, bedanya hanya terletak pada unsur penyalahgunaan wewenang, kesempatan, atau sarana yang dimiliki karena jabatan atau kedudukan. Korupsi jenis ini telah diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagai berikut ;
orang lain atau korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit 50.000.000,00 (lima puluh juta
2) Suap Menyuap
Suap menyuap yaitu suatu tindakan pemberian uang atau menerima uang atau hadiah yang dilakukan oleh pejabat pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya. Contoh ; menyuap pegawai negei yang karena jabatannya bisa menguntungkan orang yang memberikan suap, menyuap hakim, pengacara, atau advokat.
Korupsi jenis ini telah diatur dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi:
a) Pasal 5 ayat (1) UU PTPK;
b) Pasal 5 ayat (1) huruf b UU PTPK;
c) Pasal 5 ayat (2) UU PTPK;
d) Pasal 13 UU PTPK;
e) Pasal 12 huruf a PTPK;
f) Pasal 12 huruf b UU PTPK;
g) Pasal 11 UU PTPK;
h) Pasal 6 ayat (1) huruf a UU PTPK;
i) Pasal 6 ayat (1) huruf b UU PTPK;
j) Pasal 6 ayat (2) UU PTPK;
k) Pasal 12 huruf c UU PTPK;
l) Pasal 12 huruf d UU PTPK.
3) Penyalahgunaan Jabatan
Dalam hal ini yang dimaksud dengan penyalahgunaan jabatan adalah seorang pejabat pemerintah yang dengan kekuasaan yang dimilikinya melakukan penggelapan laporan keuangan, menghilangkan barang bukti atau membiarkan orang lain menghancurkan barang bukti yang bertujuan untuk menguntungkan diri sendiri dengan jalan merugikan negara hal ini sebagaiamana rumusan Pasal 8 Undang- Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Selain undang-undang tersebut diatas terdapat juga ketentuan pasal lain yang mengatur tentang penyalahgunaan jabatan, antara lain:
a) Pasal 9 UU PTPK;
b) Pasal 10 huruf a UU PTPK;
c) Pasal 10 huruf b UU PTPK;
d) Pasal 10 huruf c UU PTPK.
4) Pemerasan
Berdasarkan definisi dan dasar hukumnya, pemerasan dapat dibagi menjadi 2 yaitu :
a) Pemerasan yang dilakukan oleh pejabat pemerintah kepada orang lain atau kepada masyarakat. Pemerasan ini dapat dibagi lagi menjadi 2 bagian berdasarkan dasar hukum dan definisinya yaitu :
(1) Pemerasan yang dilakukan oleh pejabat pemerintah karena mempunyai kekuasaan dan dengan kekuasaannya itu memaksa orang lain untuk memberi atau melakukan sesuatu yang menguntungkan dirinya. Hal ini sesuai dengan Pasal 12 huruf e Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;
(2) Pemerasan yang dilakukan oleh pegawai negeri kepada seseorang atau masyarakat dengan alasan uang atau pemberian ilegal itu adalah bagian dari peraturan atau haknya padahal kenyataannya tidak demikian. Pasal yang mengatur tentang kasus ini adalah Pasal 12 huruf e Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
b) Pemerasan yang di lakukan oleh pegawai negeri kepada pegawai negeri yang lain. Korupsi jenis ini di atur dalam Pasal 12 Undang- Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
5) Korupsi yang berhubungan dengan Kecurangan
Yang dimaksud dalam tipe korupsi ini yaitu kecurangan yang dilakukan oleh pemborong, pengawas proyek, rekanan TNI / Polri, pengawas rekanan TNI / Polri, yang melakukan kecurangan dalam pengadaan atau pemberian barang yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain atau terhadap keuangan negara atau yang dapat membahayakan keselamatan negara pada saat perang. Selain itu pegawai negeri yang menyerobot tanah negara yang mendatangkan kerugian bagi orang lain juga termasuk dalam jenis korupsi ini.
Adapun ketentuan yang mengatur tentang korupsi ini yaitu : a) Pasal 7 ayat 1 huruf a UU PTPK;
b) Pasal 7 ayat (1) huruf b UU PTPK;
c) Pasal 7 ayat (1) huruf c UU PTPK;
d) Pasal 7 ayat (2) UU PTPK;
e) Pasal 12 huruf h UU PTPK;
6) Korupsi yang berhubungan dengan pengadaan
Pengadaan adalah kegiatan yang bertujuan untuk menghadirkan barang atau jasa yang dibutuhkan oleh suatu instansi atau perusahaan.
Orang atau badan yang ditunjuk untuk pengadaan barang atau jasa ini dipilih setelah melalui proses seleksi yang disebut dengan tender.
Pada dasarnya proses tender ini berjalan dengan bersih dan jujur.
Instansi atau kontraktor yang rapornya paling bagus dan penawaran biayanya paling kompetitif, maka instansi atau kontraktor tersebut yang akan ditunjuk dan menjaga, pihak yang menyeleksi tidak boleh ikut sebagai peserta. Kalau ada instansi yang bertindak sebagai penyeleksi sekaligus sebagai peserta tender maka itu dapat dikategorikan sebagai korupsi.
Hal ini diatur dalam Pasal 12 huruf i Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagai berikut ;
langsung dengan sengaja turut serta dalam pemborongan, pengadaan, atau persewaan yang pada saat dilakukan perbuatan, seluruh atau
7) Korupsi yang berhubungan dengan gratifikasi (Hadiah)
Yang dimaksud dengan korupsi jenis ini adalah pemberian hadiah yang diterima oleh pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara dan tidak dilaporkan kepada KPK dalam jangka waktu 30 hari sejak diterimanya gratifikasi. Gratifikasi dapat berupa uang, barang, diskon, pinjaman tanpa bunga, tiket pesawat, liburan, biaya pengobatan, serta fasilitas-fasilitas lainnya.
Korupsi jenis ini diatur dalam Pasal 12 B dan Pasal 12 C Undang- Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang menentukan :
padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah, tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan
e. Ruang Lingkup Tindak Pidana Korupsi
Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi mengalami perluasan perumusan delik (tindak pidana). Perluasan tersebut pada rumusan dalam penafsiran arti melawan hukum Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menyatakan Tipikor sebagai delik formal, namun pengertian melawan hukum dalam suatu Tipikor sebagai delik formal dan material (Aziz Syamsuddin, 2011: 144-145).
Sebagai delik formal, suatu perbuatan dapat dinyatakan sebagai tindak pidana, jika perbuatan tersebut telah memenuhi rumusan delik dalam Undang-Undang tanpa harus menimbulkan akibat yang merugikan. Jadi meskipun perbuatan itu belum sampai menimbulkan kerugian keuangan negara, pelakunya sudah dapat dihukum. Begitupun halnya dalam hal hasil tipikor telah dikembalikan kepada negara, akan tetapi sifat melawan hukum perbuatan tersebut.
Sementara, pengertian sifat melawan hukum formal dan material menunjuk pada suatu perbuatan tidak hanya bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tetapi juga merupakan perbuatan tercela dan bertentangan dengan perasaan keadilan masyarakat.
f. Jenis Penjatuhan Pidana pada Perkara Tindak Pidana Korupsi
Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jenis penjatuhan pidana yang dapat dilakukan hakim terhadap terdakwa tindak pidana korupsi adalah sebagai berikut (Evi Hartanti, 2012:
12-15) :
1) Terhadap orang melakukan tindak pidana korupsi a) Pidana mati
b) Pidana penjara c) Pidana tambahan
d) Gugatan perdata kepada ahli warisnya
2) Terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh/atas nama suatu korporasi Pidana pokok yang dapat dijatuhkan adalah pidana denda dengan ketentuan maksimum ditambah 1/3 (sepertiga).
Tindakan korupsi dapat dibedakan dalam dua kategori yaitu: (Adnan Buyung Nasution dkk, 1999: 69-70).
1) Bersifat administratif
Korupsi yang dilakukan pegawai pemerintah atau pejabat negara dan tidak ada urusan dengan politik, hanya ingin hidup enak dalam waktu yang cepat.
a) Terpaksa karena kebutuhan mendesak
b) Bukan karena desakan kebutuhan akan tetapi karena keserakahan.
2) Bersifat struktural
Suatu kerja sama atau persengkokolan dalam kerja yang tidak baik, terjadi jika suatu pemegang kekuasaan dengan suatu pelaku bisnis atas dasar saling menguntungkan.
g. Sejarah Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Pemberantasan korupsi di Indonesia dapat dibagi dalam 3 periode, yaitu pada masa Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi (Wikipedia, www.id.wikipedia.org, akses 30 September 2013 pukul 20.35 WIB).
1) Orde Lama
Dasar Hukum: KUHP, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1960 Antara 1951 - 1956 isu korupsi mulai diangkat oleh koran lokal seperti Indonesia Raya yang dipandu Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar.
Pemberitaan dugaan korupsi Ruslan Abdulgani menyebabkan koran tersebut kemudian di bredel. Kasus 14 Agustus 1956 ini adalah peristiwa kegagalan pemberantasan korupsi yang pertama di Indonesia, dimana atas intervensi PM Ali Sastroamidjoyo, Ruslan Abdulgani, sang menteri luar negeri, gagal ditangkap oleh Polisi Militer. Sebelumnya Lie Hok Thay mengaku memberikan satu setengah juta rupiah kepada Ruslan Abdulgani, yang diperoleh dari ongkos cetak kartu suara pemilu. Dalam kasus tersebut mantan Menteri Penerangan kabinet Burhanuddin Harahap (kabinet sebelumnya), Syamsudin Sutan Makmur, dan Direktur Percetakan Negara, Pieter de Queljoe berhasil ditangkap.
Mochtar Lubis dan Rosihan Anwar justru kemudian dipenjara tahun 1961 karena dianggap sebagai lawan politik Sukarno. Nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda dan asing di Indonesia tahun 1958 dipandang sebagai titik awal berkembangnya korupsi di Indonesia.
Upaya Jenderal AH Nasution mencegah kekacauan dengan menempatkan perusahaan-perusahaan hasil nasionalisasi di bawah Penguasa Darurat Militer justru melahirkan korupsi di tubuh TNI. Jenderal Nasution sempat memimpin tim pemberantasan korupsi pada masa ini, namun kurang berhasil.
Pertamina adalah suatu organisasi yang merupakan lahan korupsi paling subur. Kolonel Soeharto, panglima Diponegoro saat itu, yang diduga terlibat dalam kasus korupsi gula, diperiksa oleh Mayjen Suprapto, S Parman, MT Haryono, dan Sutoyo dari Markas Besar Angkatan Darat. Sebagai hasilnya, jabatan panglima Diponegoro diganti oleh Letkol Pranoto, Kepala Staffnya. Proses hukum Suharto saat itu dihentikan oleh Mayjen Gatot Subroto, yang kemudian mengirim Suharto ke Seskoad di Bandung. Kasus ini membuat DI Panjaitan menolak pencalonan Suharto menjadi ketua Senat Seskoad.
2) Orde Baru
Dasar Hukum: Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971
Korupsi orde baru dimulai dari penguasaan tentara atas bisnis-bisnis strategis.
3) Reformasi
Dasar Hukum: Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001
Pemberantasan korupsi di Indonesia saat ini dilakukan oleh beberapa institusi:
a) Tim Tastipikor (Tindak Pidana Korupsi) b) KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) c) Kepolisian
d) Kejaksaan e) BPKP
f) Lembaga non-pemerintah: Media massa Organisasi massa (mis: ICW) h. Ciri-Ciri Tindak Pidana Korupsi
Syed Hussein Alatas yang memberikan ciri-ciri korupsi yaitu (Syed Husein Alatas, 1983: 11-14) :
1) Korupsi senantiasa melibatkan lebih dari dari satu orang. Inilah yang membedakan dengan pencurian atau penggelapan.
2) Korupsi umumnya melibatkan kerahasiaan, ketertutupan terutama motif yang melatarbelakangi dilakukannya perbuatan korupsi itu sendiri.
3) Korupsi melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal balik.
Kewajiban dan keuntungan itu tidaklah selalu berbentuk uang.
4) Usaha untuk berlindung dibalik pembenaran hukum.
5) Mereka yang terlibat korupsi adalah mereka yang memiliki kekuasaan atau wewenang dan mempengaruhi keputusan-keputusan itu.
6) Setiap tindakan korupsi mengandung penipuan, biasanya pada badan publik atau masyarakat umum.
7) Setiap bentuk korupsi melibatkan fungsi ganda yang kontradiktif dari mereka yang melakukan tindakan itu.
8) Korupsi didasarkan atas niat kesengajaan untuk menempatkan kepentingan umum di bawah kepentingan pribadi.
i. Unsur-Unsur Tindak Pidana Korupsi
Unsur-unsur korupsi menurut Kurniawan adalah tindakan melawan hukum, menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan, merugikan negara baik secara langsung maupun tidak langsung, dilakukan oleh pejabat publik/penyelenggara negara maupun masyarakat (Kurniawan dkk 2003: 15).
j. Modus Tindak Pidana Korupsi
Modus korupsi adalah cara-cara bagaimana korupsi itu dilakukan.
Banyak modus-modus dalam korupsi. Di bawah ini hanyalah sekedar contoh bagaimana modus korupsi itu dilakukan (Masyarakat Transparansi Indonesia, www. transparansi.or.id, akses 30 September 2013 pukul 20.15 WIB) :
1) Pemerasan Pajak
Pemeriksa pajak yang memeriksa wajib pajak menemukan kesalahan perhitungan pajak yang mengakibatkan kekurangan pembayaran pajak. Kesalahan-kesalahan tersebut bisa karena kesengajaan wajib pajak dan bisa juga bukan karena kesengajaan.
Kekurangan tersebut dianggap tidak ada dan imbalannya wajib pajak harus membayarkan sebagian kekurangan tersebut masuk ke kantong pemeriksa pajak.
2) Manipulasi Tanah
Berbagai cara dilakukan untuk memanipulasi status kepemilikan tanah termasuk, memanipulasi tanah negara menjadi milik perorangan/badan, merendahkan pembebasan tanah dan meninggikan pertanggungjawaban, membebaskan terlebih dahulu tanah yang akan kena proyek dengan harga murah.
3) Jalur Cepat Pembuatan KTP
Dalam Pembuatan KTP dikenal 'jalur biasa' dan 'jalur cepat'. Jalur biasa adalah jalur prosedural biasa, yang mungkin waktunya lebih lama tapi biayanya lebih murah. Sedangkan 'jalur cepat' adalah proses pembuatanya lebih cepat dan harganya lebih mahal.
4) SIM Jalur Cepat
Dalam proses pembuatan SIM secara resmi, diberlakukan ujian/tes tertulis dan praktek yang dianggap oleh sebagian warga, terutama sopir akan mempersulit pembuatan SIM Untuk mempercepat proses itu mereka membayar lebih besar, asalkan tidak harus mengikuti ujian. Biaya tidak resmi pengurusan SIM biasanya langsung ditetapkan oleh petugas. Biasanya yang terlibat dalam praktek ini adalah warga yang mengurus SIM dan oknum petugas yang menangani kepengurusan SIM.
5) Markup Budget/Anggaran
Biasanya terjadi dalam proyek dengan cara menggelembungkan besarnya dana proyek dengan cara memasukkan pos-pos pembelian yang sifatnya fiktif. Misalnya dalam anggaran dimasukkan pembelian komputer tetapi pada prakteknya tidak ada komputer yang dibeli atau kalau komputer dibeli harganya lebih murah.
6) Proses Tender
Dalam proses tender pengerjaan tender seperti perbaikan jalan atau pembangunan jembatan seringkali terjadi penyelewengan. Pihak yang sebenarnya memenuhi persyaratan tender, terkadang tidak memenangkan tender karena telah dimenangkan oleh pihak yang mampu 'main belakang' dengan membayar lebih mahal, walaupun tidak memenuhi syarat. Dalam hal ini telah terjadi penyogokan kepada pemberi tender oleh peserta tender yang sebenarnya tidak qualified 7) Penyelewengan dalam Penyelesaian Perkara
Korupsi terjadi tidak selalu dalam bentuk uang, tetapi mengubah (menafsirkan secara sepihak) pasal-pasal yang ada untuk meringankan hukuman kepada pihak yang memberi uang kepada penegak hukum.
Praktek ini melibatkan terdakwa/tersangka, penegak hukum dan pengacara.
Beberapa unsur untuk mengidentifikasikan korupsi dalam Undang-Undang Korupsi antara lain melawan hukum, memperkaya diri sendiri atau orang lain, atau korporasi, dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian Negara, bertujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukannya (Adami Chazawi, 2005: 34-35).
k. Sebab-Sebab Tindak Pidana Korupsi
Tindak korupsi bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Perilaku korupsi menyangkut berbagai hal yang sifatnya kompleks. Faktor-faktor penyebabnya bisa dari internal pelaku-pelaku korupsi, tetapi bisa juga bisa berasal dari situasi lingkungan yang kondusif bagi seseorang untuk melakukan korupsi. Korupsi selalu terjadi dalam suatu konteks sosial yang membentuk konsep diri dan definisi situasi seseorang yang ketika terjadi proses soaial akan mendorng berbagai kecenderungan muncul sejalan dengan kebiasaan yang ada baik yang terbuka maupun tertutup. Korupsi cenderung terjadi secara tertutup dan kalaupun terbuka selalu ada upaya untuk menutupinya (Masyarakat Transparansi Indonesia, http://www.transparansi.or.id/tentang/anti-korupsi/, akses 30 September 2013).
Menurut Wang An Shih tokoh besar Cina yang hidup pada abad 11, korupasi terjadi karena buruknya hukum dan buruknya manusia. Yang pertama terkait dengan atribut kelembagaan (institutional attributes) dan yang kedua dengan atribut masyarakat (societal attributes), dan secara lebih rinci Alatas menyebutkan faktor-faktor penyebab terjadinya korupsi adalah (Syed Husein Alatas, 1983: 16) :
1) Ketiadaan atau kelemahan kepemimpinan dalam posisi posisi kunci yangg mampu memberikan ilham dan mempengaruhi tingkah laku yang menjinakan korupsi
2) Kelemahan pengajaran pengajaran agama dan etika 3) Kolonialisme
4) Kurangnya pendidikan 5) Kemiskinan
6) Tiadanya tindak hukum yang keras
7) Kelangkaan lingkungan yang subur untuk perilaku anti korupsi 8) Struktur pemerintahan
9) Perubahan radikal 10) Keadaan masyarakat
Penyebab penyebab tersebut ada yang bersifat kelembagaan, ekonomi, sosial dan individual serta ada yang bersifat mandiri dan yang bersifat kausal, namun demikian hal yang dapat dicatat adalah bahwa menghilangkan penyebab secara parsial akan suit untuk menjamin korupsi akan hilang, paling tidak hanya mengurangi tingkat kemerajalealaannya dalam kehidupan bangsa .
Menurut Dr. Sarlito W. Sarwono, tidak ada jawaban yang persis, tetapi ada dua hal yang jelas, yakni :
1) Dorongan dari dalam diri sendiri (keinginan, hasrat, kehendak, dsb), 2) Rangsangan dari luar (dorongan teman-teman, adanya kesempatan,
kurang kontrol dan sebagainya.
Menurut Dr. Andi Hamzah dalam disertasinya menginventarisasikan beberapa penyebab korupsi, yakni :
1) Kurangnya gaji pegawai negeri dibandingkan dengan kebutuhan yang makin meningkat
2) Latar belakang kebudayaan atau kultur Indonesia yang merupakan sumber atau sebab meluasnya korupsi
3) Manajemen yang kurang baik dan kontrol yang kurang efektif dan efisien, yang memberikan peluang orang untuk korupsi.
4) Modernisasi pengembangbiakan korupsi
Analisa aspek penyebab budaya korupsi diutarakan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dalam bukunya berjudul
"Strategi Pemberantasan Korupsi," antara lain : (Masyarakat Transparansi Indonesia, http://www.transparansi.or.id/tentang/anti-korupsi/, akses 30 September 2013)
1) Aspek Individu Pelaku a) Sifat tamak manusia
Kemungkinan orang melakukan korupsi bukan karena orangnya miskin atau penghasilan tak cukup. Kemungkinan orang tersebut sudah cukup kaya, tetapi masih punya hasrat besar untuk memperkaya diri. Unsur penyebab korupsi pada pelaku semacam itu datang dari dalam diri sendiri, yaitu sifat tamak dan rakus.
b) Moral yang kurang kuat
Seorang yang moralnya tidak kuat cenderung mudah tergoda untuk melakukan korupsi. Godaan itu bisa berasal dari atasan, teman setingkat, bawahanya, atau pihak yang lain yang memberi kesempatan untuk itu.
c) Penghasilan yang kurang mencukupi
Penghasilan seorang pegawai dari suatu pekerjaan selayaknya memenuhi kebutuhan hidup yang wajar. Bila hal itu tidak terjadi maka seseorang akan berusaha memenuhinya dengan berbagai cara. Tetapi bila segala upaya dilakukan ternyata sulit didapatkan, keadaan semacam ini yang akan memberi peluang besar untuk melakukan tindak korupsi, baik itu korupsi waktu, tenaga, pikiran dalam arti semua curahan peluang itu untuk keperluan di luar pekerjaan yang seharusnya.
d) Kebutuhan hidup yang mendesak
Dalam rentang kehidupan ada kemungkinan seseorang mengalami situasi terdesak dalam hal ekonomi. Keterdesakan itu membuka ruang bagi seseorang untuk mengambil jalan pintas diantaranya dengan melakukan korupsi.
e) Gaya hidup yang konsumtif
Kehidupan di kota-kota besar acapkali mendorong gaya hidup seseorang konsumtif. Perilaku konsumtif semacam ini bila tidak diimbangi dengan pendapatan yang memadai akan membuka peluang seseorang untuk melakukan berbagai tindakan untuk memenuhi hajatnya. Salah satu kemungkinan tindakan itu adalah dengan korupsi.
f) Malas atau tidak mau kerja
Sebagian orang ingin mendapatkan hasil dari sebuah pekerjaan tanpa keluar keringat alias malas bekerja. Sifat semacam ini akan potensial melakukan tindakan apapun dengan cara-cara mudah dan cepat, diantaranya korupsi.
g) Ajaran agama yang kurang diterapkan
Indonesia dikenal sebagai bangsa religius yang tentu akan melarang tindak korupsi dalam bentuk apapun. Kenyataan di lapangan menunjukkan bila korupsi masih berjalan subur di tengah masyarakat. Situasi paradok ini menandakan bahwa ajaran agama kurang diterapkan dalam kehidupan.
2) Aspek Organisasi
a) Kurang adanya sikap keteladanan pimpinan
Posisi pemimpin dalam suatu lembaga formal maupun informal mempunyai pengaruh penting bagi bawahannya. Bila pemimpin tidak bisa memberi keteladanan yang baik di hadapan bawahannya, misalnya berbuat korupsi, maka kemungkinan besar bawahnya akan mengambil kesempatan yang sama dengan atasannya.
b) Tidak adanya kultur organisasi yang benar
Kultur organisasi biasanya punya pengaruh kuat terhadap anggotanya. Apabila kultur organisasi tidak dikelola dengan baik, akan menimbulkan berbagai situasi tidak kondusif mewarnai kehidupan organisasi. Pada posisi demikian perbuatan negatif, seperti korupsi memiliki peluang untuk terjadi.
c) Sistim akuntabilitas yang benar di instansi pemerintah yang kurang memadai
Pada institusi pemerintahan umumnya belum merumuskan dengan jelas visi dan misi yang diembannya dan juga belum merumuskan dengan tujuan dan sasaran yang harus dicapai dalam periode tertentu guna mencapai misi tersebut. Akibatnya, terhadap instansi pemerintah sulit dilakukan penilaian apakah instansi tersebut berhasil mencapai sasaranya atau tidak. Akibat lebih lanjut adalah kurangnya perhatian pada efisiensi penggunaan sumber daya yang dimiliki. Keadaan ini memunculkan situasi organisasi yang kondusif untuk praktik korupsi.
d) Kelemahan sistim pengendalian manajemen
Pengendalian manajemen merupakan salah satu syarat bagi tindak pelanggaran korupsi dalam sebuah organisasi. Semakin longgar/lemah pengendalian manajemen sebuah organisasi akan semakin terbuka perbuatan tindak korupsi anggota atau pegawai di dalamnya.
e) Manajemen cenderung menutupi korupsi di dalam organisasi
Pada umumnya jajaran manajemen selalu menutupi tindak korupsi yang dilakukan oleh segelintir oknum dalam organisasi.
Akibat sifat tertutup ini pelanggaran korupsi justru terus berjalan dengan berbagai bentuk.
3) Aspek Tempat Individu dan Organisasi Berada
a) Nilai-nilai di masyarakat kondusif untuk terjadinya korupsi
Korupsi bisa ditimbulkan oleh budaya masyarakat. Misalnya, masyarakat menghargai seseorang karena kekayaannya. Sikap ini seringkali membuat masyarakat tidak kritis pada kondisi, misalnya dari mana kekayaan itu didapatkan.
b) Masyarakat kurang menyadari sebagai korban utama korupsi.
Masyarakat masih kurang menyadari bila yang paling dirugikan dalam korupsi itu masyarakat. Anggapan masyarakat umum yang rugi oleh korupsi itu adalah negara. Padahal bila negara rugi, yang rugi adalah masyarakat juga karena proses anggaran pembangunan bisa berkurang karena dikorupsi.
c) Masyarakat kurang menyadari bila dirinya terlibat korupsi.
Setiap korupsi pasti melibatkan anggota masyarakat. Hal ini kurang disadari oleh masyarakat sendiri. Bahkan seringkali masyarakat sudah terbiasa terlibat kegiatan korupsi sehari-hari dengan cara terbuka namun tidak disadari.
d) Masyarakat kurang menyadari bahwa korupsi akan bisa dicegah dan diberantas bila masyarakat ikut aktif.
Pada umumnya masyarakat berpandangan masalah korupsi itu tanggung jawab pemerintah. Masyarakat kurang menyadari bahwa korupsi itu bisa diberantas hanya bila masyarakat ikut melakukannya.
4) Aspek peraturan perundang-undangan
Korupsi mudah timbul karena adanya kelemahan di dalam peraturan perundang-undangan yang dapat mencakup adanya peraturan yang monopolistik yang hanya menguntungkan kroni penguasa, kualitas peraturan yang kurang memadai, peraturan yang kurang disosialisasikan, sangsi yang terlalu ringan, penerapan sangsi yang tidak konsisten dan pandang bulu, serta lemahnya bidang evaluasi dan revisi peraturan perundang-undangan.
l. Studi Kasus Tindak Pidana Korupsi
Studi kasus korupsi dilakukan dengan pendekatan kualitatif dimana pengambilan data dilakukan melalui beberapa cara sebagai berikut: (Antonius Cahyadi dan Donny Danardono, 2009: 32-33).
1) Review terhadap dokumen terkait seperti pemberitaan media massa, hasil penelitian, dokumentasi actor pendorong, dan dokumen hukum seperti dakwaan, tuntutan, dan vonis pengadilan.
2) Wawancara mendalam terhadap responden dari berbagai kalangan, seperti LSM, koordinator aliansi LSM, wartawan tersangka korupsi atau kuasa hukumnya, kelompok pendukung tersangka serta aparat hukum yang terlibat dalam proses hukum.
3) Focus Group Discussion. Untuk melengkapi temuan-temuan dari review dokumen dan wawancara, maka dilakukan FGD bersama dengan actor pendorong, tersangka, akademisi, dan aparat hukum setempat.
Dalam studi kasus korupsi terapat beberapa pelaku utama: (Antonius Cahyadi dan Donny Danardono, 2009: 33-34).
1) Actor pendorong
Orang atau masyarakat (LSM atau koalisi LSM) yang baik sendiri- sendiri atau bersama-sama melakukan upaya pengungkapan kasus, pelaporan, dan pemantauan terhadap proses penyelesaian kasus.
2) Lembaga penegak hukum
Kepolisian, kejaksaan, pengadilan dibentuk untuk menangani kasus.
3) Pelaku korupsi
Perseorangan atau pemerintahan di daerah yang diduga telah melakukan tindak korupsi.
4) Kelompok pendukung tersangka
Biasanya aktif melakukan tekanan dan pressure baik terhadap actor pendorong maupun terhadap instansi penegak hukum.
Sumber temuan indikasi korupsi (Antonius Cahyadi dan Donny Danardono, 2009: 34-36) :
1) Kajian LSM local
Melakukan kajian, diskusi, review anggaran daerah seperti rancangan APBD, Perda APBD, dan laporan pertanggungjawaban kepala daerah.
2) Laporan masyarakat
Wadah atau sarana bagi masyarakat untuk menyalurkan keresahan dan kecurigaan mereka. Laporan datang dari warga masyarakat yang langsung mengalami kerugian akibat kesalahan pengelolaan keuangan seperti kas daerah, guru honorer yang tidak digaji, dan kepala desa yang resah karena sarana dan prasarana desa tak kunjung diperbaiki.
3) Publikasi kasus
Tindak lanjut atas temuan indikasi korupsi oleh LSM adalah dengan melakukan beberapa kegiatan secara simultan: melakukan investigasi awal, menyusun draft laporan kasus, dan aksi massa.
4) Peran media massa
Terbatasnya akses terhadap dokumen publik berakibat pada lemahnya bukti-bikti yang disampaikan dalam laporan tertulis yang akan diserahkan kepada aparat hukum. Ini adalah alasan yang sering dipakai oleh penegak hukum untuk tidak menindak lanjuti laporan atau setidaknya untuk menunda proses investigasi lebih lanjut. Pada titik inilah peran media massa yang mempublikasi dugaan korupsi menjadi sangat penting.
Aksi dan strategi actor pendorong: (Antonius Cahyadi dan Donny Danardono, 2009: 37-38).
1) Membangun konstituen
Aksi tekanan yang dilancarkan oleh actor pendorong lebih berdampak jika terdapat legitimasi publik yang biasanya dilihat dari tingginya partisipasi masyarakat dalam berbagai bentuk aksi seperti demonstrasi.
2) Membentuk koalisi sementara
Untuk menjaring tokoh-tokoh atau organisasi yang berpengaruh dalam konteks politik lokal.
3) Membangun demand masyarakat
Pemberitaan media massa seputar kasus merupakan saran yang efektif untuk membangun kepedulian public terhadap kasus korupsi yang terjadi di daerah mereka. Mereka tidak hanya peduli namun secara langsung menyuarakan demand agar aparat hukum bekerja gengan adil, transparan, dan cepat.
4) Mengembangkan kerja sama dengan aparat hukum
Strategi untuk bekerja secara kooperatif dengan aparat hukum yang sedang menangani kasus membuka peluang keberhasilan dalam proses hukum.
m. Akibat-Akibat Tindak Pidana Korupsi
Korupsi selalu membawa konsekuensi. Konsekuensi negatif dari korupsi sistemik terhadap proses demokratisasi dan pembangunan berkelanjutan adalah: (Masyarakat Transparansi Indonesia, http://www.transparansi.or.id/tentang/anti-korupsi/, akses 30 September 2013).
1) Korupsi mendelegetimasi proses demokrasi dengan mengurangi kepercayaan publik terhadap proses politik melalui politik uang.
2) Korupsi mendistorsi pengambilan keputusan pada kebijakan publik, membuat tiadanya akuntabilitas publik, dan menafikan the rule of law.
Hukum dan birokrasi hanya melayani kepada kekuasaaan dan pemilik modal.
3) Korupsi meniadakan sistim promosi dan hukuman yang berdasarkan kinerja karena hubungan patron-client dan nepotisme.
4) Korupsi mengakibatkan proyek-proyek pembangunan dan fasilitas umum bermutu rendah dan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat sehingga mengganggu pembangunan yang berkelanjutan.
5) Korupsi mengakibatkan kolapsnya sistem ekonomi karena produk yang tidak kompetitif dan penumpukan beban hutang luar negeri.
Korupsi yang sistimatik menyebabkan (Masyarakat Transparansi Indonesia, http://www.transparansi.or.id/tentang/anti-korupsi/, akses 30 September 2013):
1) Biaya ekonomi tinggi oleh penyimpangan insentif;
2) Biaya politik oleh penjarahan atau penggangsiran terhadap suatu lembaga publik; dan
3) Biaya sosial oleh pembagian kesejahteraan dan pembagian kekuasaan yang tidak semestinya.
Meskipun terdapat beberapa pakar seperti Nathaniel Lef, dan Bayley (meningkatkan investasi, fleksibilitas administrasi, percepatan penyelesaian pekerjaan terkait birokrasi) yang melihat ada dampak positif dari korupsi, namun secara universal korupsi lebih banyak dipandang sebagai perilaku yang berakibat pada kerusakan tatanan sosial ekonomi dan budaya serta mutu kehidupan masyarakat suatu bangsanya menyatakan bahwa akibat-akibat korupsi adalah (Erika Revida, 2003):
1) Pemborosan sumber-sumber, modal yang lari, gangguan terhadap penanaman modal, terbuangnya keahlian, bantuan yang lenyap.
2) ketidakstabilan, revolusi sosial, pengambilan alih kekuasaan oleh militer, menimbulkan ketimpangan sosial budaya.
3) pengurangan kemampuan aparatur pemerintah, pengurangan kapasitas administrasi, hilangnya kewibawaan administrasi.
Selanjutnya Mc Mullan (1961) menyatakan bahwa akibat korupsi adalah ketidak efisienan, ketidakadilan, rakyat tidak mempercayai pemerintah, memboroskan sumber-sumber negara, tidak mendorong perusahaan untuk berusaha terutama perusahaan asing, ketidakstabilan politik, pembatasan dalam kebijaksanaan pemerintah dan tidak represif.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan akibat-akibat korupsi adalah sebagai berikut (Erika Revida, 2003) :
1) Tata ekonomi seperti larinya modal keluar negeri, gangguan terhadap perusahaan, gangguan penanaman modal.
2) Tata sosial budaya seperti revolusi sosial, ketimpangan sosial.
3) Tata politik seperti pengambil alihan kekuasaan, hilangnya bantuan luar negeri, hilangnya kewibawaan pemerintah, ketidakstabilan politik.
4) Tata administrasi seperti tidak efisien, kurangnya kemampuan administrasi, hilangnya keahlian, hilangnya sumber-sumber negara, keterbatasan kebijaksanaan pemerintah, pengambilan tindakan represif.
Secara umum akibat korupsi adalah merugikan negara dan merusak sendi-sendi kebersamaan serta memperlambat tercapainya tujuan nasional seperti dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Dampak Negatif (Wikipedia, www.id.wikipedia.org, akses 30 September 2013 pukul 20.35 WIB).
1) Demokrasi
Korupsi menunjukan tantangan serius terhadap pembangunan. Di dalam dunia politik, korupsi mempersulit demokrasi dan tata pemerintahan yang baik (good governance) dengan cara menghancurkan proses formal.
Korupsi di pemilihan umum dan di badan legislatif mengurangi akuntabilitas dan perwakilan di pembentukan kebijaksanaan; korupsi di sistem pengadilan menghentikan ketertiban hukum; dan korupsi di pemerintahan publik menghasilkan ketidak-seimbangan dalam pelayanan masyarakat. Secara umum, korupsi mengkikis kemampuan institusi dari pemerintah, karena pengabaian prosedur, penyedotan sumber daya, dan pejabat diangkat atau dinaikan jabatan bukan karena prestasi. Pada saat yang bersamaan, korupsi mempersulit legitimasi pemerintahan dan nilai demokrasi seperti kepercayaan dan toleransi.
2) Ekonomi
Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dan mengurangi kualitas pelayanan pemerintahan. Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dengan membuat distorsi dan ketidak efisienan yang tinggi. Dalam sektor privat, korupsi meningkatkan ongkos niaga karena kerugian dari pembayaran ilegal, ongkos manajemen dalam negosiasi dengan pejabat korup, dan risiko pembatalan perjanjian atau karena penyelidikan. Walaupun ada yang menyatakan bahwa korupsi mengurangi ongkos (niaga) dengan mempermudah birokrasi, konsensus yang baru muncul berkesimpulan bahwa ketersediaan sogokan menyebabkan pejabat untuk membuat aturan-aturan baru dan hambatan baru. Dimana korupsi menyebabkan inflasi ongkos niaga, korupsi juga mengacaukan "lapangan perniagaan". Perusahaan yang memiliki koneksi dilindungi dari persaingan dan sebagai hasilnya mempertahankan perusahaan- perusahaan yang tidak efisien.
Korupsi menimbulkan distorsi (kekacauan) di dalam sektor publik dengan mengalihkan investasi publik ke proyek-proyek masyarakat yang mana sogokan dan upah tersedia lebih banyak. Pejabat mungkin menambah kompleksitas proyek masyarakat untuk menyembunyikan praktek korupsi, yang akhirnya menghasilkan lebih banyak kekacauan. Korupsi juga mengurangi pemenuhan syarat-syarat keamanan bangunan, lingkungan hidup, atau aturan-aturan lain. Korupsi juga mengurangi kualitas pelayanan pemerintahan dan infrastruktur; dan menambahkan tekanan-tekanan terhadap anggaran pemerintah.
Para pakar ekonomi memberikan pendapat bahwa salah satu faktor keterbelakangan pembangunan ekonomi di Afrika dan Asia, terutama di Afrika, adalah korupsi yang berbentuk penagihan sewa yang menyebabkan perpindahan penanaman modal (capital investment) ke luar negeri, bukannya diinvestasikan ke dalam negeri (maka adanya ejekan yang sering benar bahwa ada diktator Afrika yang memiliki rekening bank di Swiss). Berbeda sekali dengan diktator Asia, seperti Soeharto yang sering mengambil satu potongan dari semuanya (meminta sogok), namun lebih memberikan kondisi untuk pembangunan, melalui investasi infrastruktur, ketertiban hukum, dan lain-lain.
3) Kesejahteraan umum Negara
Korupsi politis ada dibanyak negara, dan memberikan ancaman besar bagi warga negaranya. Korupsi politis berarti kebijaksanaan pemerintah sering menguntungkan pemberi sogok, bukannya rakyat luas.
Satu contoh lagi adalah bagaimana politikus membuat peraturan yang melindungi perusahaan besar, namun merugikan perusahaan-perusahaan kecil (SME). Politikus-politikus "pro-bisnis" ini hanya mengembalikan pertolongan kepada perusahaan besar yang memberikan sumbangan besar kepada kampanye pemilu mereka.
n. Langkah Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Langkah pemberantasan korupsi (Denny Indrayana, 2008: 197-199):
1) Presiden sebaiknya menegaskan proklamasi anti korupsi.
2) Untuk menjadi baju hukum proklamasi anti korupsi, presiden mengeluarkan Perpu Pemberantasan Korupsi.
3) Di dalam Perpu dapat ditegaskan fokus pemberantasan korupsi kepada dua reformasi: birokrasi dan peradilan.
4) Kosentrasi pada reformasi birokrasi dan reformasi peradilan adalah wujud pemberantasan korupsi secara preventif dan represif.
5) Selain mencari bukti-bukti tak terbantahkan , untuk menjamin ujung putusan adalah kemenangan cepat, pemberantaan harus focus kepada koruptor kakap.
6) Senjata perang melawan korupsi harus diarahkan aparat keamanan dan pertahanan.
7) Memerangi korupsi di episentrum kekuasaannya.
8) Pemberantasan korupsi harus dikuatkan jaringannya ke semua lini, aparat penegak hukum, akademisi, mahasiswa.
9) Membutuhkan kepemimpinan yang kuat.
10) Menumbuhkan budaya kembang zero tolerance to corruption.
Kalau korupsi dibiarkan secara terus menerus tanpa upaya menanggulanginya, maka akan terbiasa dan menjadi subur dan akan menimbulkan sikap mental pejabat yang selalu mencari jalan pintas yang mudah dan menghalalkan segala cara (the end justifies the means). Meskipun berbagai upaya belum tentu dapat menghilangkan korupsi, tapi paling tidak dapat menguranginya. Untuk itu, korupsi perlu ditanggulangi secara tuntas dan bertanggung jawab dan masif dengan pendekatan simultan. Ada beberapa upaya penggulangan korupsi yang ditawarkan para ahli yang masing-masing memandang dari berbagai segi dan pandangan. Caiden memberikan langkah-langkah untuk menanggulangi korupsi sebagai berikut : 1) Membenarkan transaksi yang dahulunya dilarang dengan menentukan
sejumlah pembayaran tertentu.
2) Membuat struktur baru yang mendasarkan bagaimana keputusan dibuat.
3) Melakukan perubahan organisasi yang akan mempermudah masalah pengawasan dan pencegahan kekuasaan yang terpusat, rotasi penugasan, wewenang yang saling tindih organisasi yang sama, birokrasi yang saling bersaing, dan penunjukan instansi pengawas adalah saran-saran yang secara jelas diketemukan untuk mengurangi kesempatan korupsi.
Bagaimana dorongan untuk korupsi dapat dikurangi ? dengan jalan meningkatkan ancaman. Korupsi adalah persoalan nilai. Nampaknya tidak mungkin keseluruhan korupsi dibatasi, tetapi memang harus ditekan seminimum mungkin, agar beban korupsi organisasional maupun korupsi sistemik tidak terlalu besar sekiranya ada sesuatu pembaharuan struktural, barangkali mungkin untuk mengurangi kesempatan dan dorongan untuk korupsi dengan adanya perubahan organisasi.
Cara yang diperkenalkan oleh Caiden di atas membenarkan (legalized) tindakan yang semula dikategorikan kedalam korupsi menjadi tindakan yang legal dengan adanya pungutan resmi. Di lain pihak, celah- celah yang membuka untuk kesempatan korupsi harus segera ditutup, begitu halnya dengan struktur organisasi haruslah membantu kearah pencegahan korupsi, misalnya tanggung jawab pimpinan dalam pelaksanaan pengawasan melekat, dengan tidak lupa meningkatkan ancaman hukuman kepada pelaku- pelakunya. Selanjutnya, Myrdal (dalam Lubis, 1987) memberi saran penanggulangan korupsi yaitu agar pengaturan dan prosedur untuk keputusan-keputusan administratif yang menyangkut orang perorangan dan perusahaan lebih disederhanakan dan dipertegas, pengadakan pengawasan yang lebih keras, kebijaksanaan pribadi dalam menjalankan kekuasaan hendaknya dikurangi sejauh mungkin, gaji pegawai yang rendah harus dinaikkan dan kedudukan sosial ekonominya diperbaiki, lebih terjamin, satuan-satuan pengamanan termasuk polisi harus diperkuat, hukum pidana dan hukum atas pejabat-pejabat yang korupsi dapat lebih cepat diambil.
Orang-orang yang menyogok pejabat-pejabat harus ditindak pula.
Persoalan korupsi beraneka ragam cara melihatnya, oleh karena itu cara pengkajiannya pun bermacam-macam pula. Korupsi tidak cukup ditinjau dari segi deduktif saja, melainkan perlu ditinjau dari segi induktifnya yaitu mulai melihat masalah praktisnya (practical problems), juga harus dilihat apa yang menyebabkan timbulnya korupsi. Kartono menyarankan penanggulangan korupsi sebagai berikut (Kartini Kartono, 1983) :
1) Adanya kesadaran rakyat untuk ikut memikul tanggung jawab guna melakukan partisipasi politik dan kontrol sosial.
2) Menanamkan aspirasi nasional yang positif yaitu kepentingan nasional.
Ppara pemimpin dan pejabat memberikan teladan, memberantas dan menindak korupsi.
3) Adanya sanksi dan kekuatan untuk menindak, memberantas, menghukum tindak korupsi.
4) Reorganisasi dan rasionalisasi dari organisasi pemerintah, melalui penyederhanaan jumlah departemen, beserta jawatan dibawahnya.
5) achievement
ascription
6) Adanya kebutuhan pegawai negeri yang non-politik demi kelancaran administrasi pemerintah.
7) Menciptakan aparatur pemerintah yang jujur
8) Sistem budget dikelola oleh pejabat-pejabat yang mempunyai tanggung jawab etis tinggi, dibarengi sistem kontrol yang efisien.
9) Herregistrasi (pencatatan ulang) terhadap kekayaan perorangan yang mencolok dengan pengenaan pajak yang tinggi.
o. Strategi Penting Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Dimulainya upaya pemberantasan korupsi secara nasional yang serius, memerlukan aktivitas yang dapat dilihat oleh rakyat Indonesia sebagai entry-point atau pintu masuk.
Entry point ini penting untuk menjalankan komitmen para penyelenggara negara belum benar-benar serius untuk memberantas korupsi.
Entry-point tersebut adalah:
1) Adanya Strategi Pemberantasan Korupsi Nasional yang disosialisasikan kepada masyarakat luas.
2) Adanya upaya nyata untuk memperkuat Dewan Perwakilan Rakyat, 3) Adanya upaya nyata untuk memperkuat jajaran Mahkamah Agung dan
Pengadilan di bawahnya
4) Dibentuknya Badan Anti Korupsi 5) Dilakukannya Catch some big fishes.
Realisasi dari entry-point tersebut di atas akan menjadi bendera start (starting-flag) untuk upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Dalam melakukan analisis atas perbuatan-perbuatan korupsi, dapat didasarkan pada berbagai pilihan pendekatan. Dari pendekatan yang dipilih, selanjutnya akan dapat dirumuskan strategi untuk pencegahan dan pemberantasan korupsi yang tepat.
Paling tidak ada tiga strategi untuk pencegahan dan pemberantasan korupsi yakni strategi Preventif, Detektif dan Represif.
1) Strategi Preventif
Strategi ini dibuat dan dilaksanakan dengan diarahkan pada hal- hal yang menjadi penyebab timbulnya korupsi. Setiap penyebab korupsi yang teridentifikasi harus dibuat upaya preventifnya, sehingga dapat meminimalkan penyebab korupsi. Di samping itu, perlu dibuat upaya yang dapat meminimalkan peluang untuk melakukan korupsi. Dengan dasar pemikiran ini, banyak hal yang harus dilakukan sebagai bagian dari strategi peventif dan melibatkan berbagai pihak.
2) Strategi Detektif
Strategi ini dibuat dan dilaksanakan terutama dengan diarahkan agar apabila suatu perbuatan korupsi terlanjur terjadi maka perbuatan tersebut akan dapat diketahui dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dan seakurat-akuratnya, sehingga dapat ditindaklanjuti dengan tepat.
Dengan dasar pemikiran ini, banyak sistem-sistem harus dibenahi sehingga sistem-sistem tersebut akan dapat berfungsi sebagai alarm yang akan cukup cepat memberikan sinyal apabila terjadi suatu perbuatan korupsi.
3) Strategi Represif
Strategi ini dibuat dan dilaksanakan terutama dengan diarahkan untuk memberikan sanksi hukum yang setimpal secara cepat dan tepat kepada pihak-pihak yang terlibat dalam korupsi. Dengan dasar pemikiran ini, proses penanganan korupsi sejak dari tahap penyelidikan, penyidikan dan penuntutan sampai dengan peradilan perlu dikaji untuk dapat disempurnakan di segala aspeknya sehingga proses penanganan tersebut akan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
Berdasarkan pendekatan seperti tersebut di atas, dan berdasarkan analisis-analisis yang dilakukan sebagai dasar perumusan strategi yang dikehendaki, maka Strategi Pemberantasan Korupsi Nasional terdiri dari upaya-upaya sebagai berikut:
1) Upaya-upaya Strategi Preventif :
a) Memperkuat Dewan Perwakilan Rakyat.
b) Memperkuat Mahkamah Agung dan jajaran Pengadilan di Bawahnya.
c) Meneliti sebab-sebab korupsi secara terus-menerus.
d) Pembangunan kode etik di sektor publik.
e) Pembangunan kode etik di sektor parpol, organisasi profesi dan asosiasi bisnis.
f) Kampanye untuk menciptakan nilai (value) anti korupsi secara nasional.
g) Penyempurnaan manajemen SDM dan peningkatan gaji pegawai negeri.
h) Pengharusan pembuatan perencanaan strategi dan laporan akuntabilitas bagi instansi pemerintah.
i) Peningkatan kualitas penerapan sistem pengendalian manajemen.
j) Penyempurnaan manajemen aktiva tetap milik negara.
k) Peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
l) Upaya-upaya preventif lainnya.