BAB II LANDASAN TEORI
C. Tinjauan Wilayah Surakarta
1. Potensi Geografis
Kota Surakarta terletak dalam wilayah Daerah Tingkat I Jawa Tengah. Posisi kota Surakarta dalam koordinat buki adalah antara garis bujur 1100 45‟ 15 “ BT sampai 110045‟ 35 “ BT dan antara garis lintang 7026‟ 00 “ LS sampai 7056‟ 00 “ LS.
Gb. 2. Peta Surakarta (Sumber:www.surakarta.go.id)
commit to user
Kota Surakarta merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 92 m di atas laut. Kondisi topografinya relatif datar dengan kemiringan rata-rata 0-3%. Di bagian utara agak bergelombang dengan kemiringan kurang dari 5%. Dan dilihat dari segi topografi Kota Surakarta relatif datar, tapi pada bagian utara sedikit bergelombang. Elevasi Surakarta rata-rata 92 m di atas permukaan laut dengan kemiringan 0-3%
Kota Surakarta merupakan bagian dari 35 Dati II di Propinsi Jawa Tengah, persisnya, terletak di bagian Selatan. Areal wilayah ini merupakan daerah penghubung antara Propinsi Jawa Timur, DI Yogyakarta, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.
Wilayah administrative Surakarta seluas 4.044 Ha terbagi dalam 5 kecamatan dan 51 kelurahan. Daerah-daerah yang berbatasan dengan wilayah Kota Surakarta :
a. Sebelah Utara : Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Boyolali b.Sebelah Timur : Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo c. Sebelah Selatan : Kabupaten Sukoharjo
d.Sebelah Barat : Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo e.
2. Potensi Iklim dan cuaca
Surakarta terletak di daerah yang mempunyai iklim tropis lembab. Dalam satu tahun mengalami 2 cuaca, yaitu hujan dan kemarau. Temperature berkisar antara 21.90 C hingga 32.50 C dengan kelembaban 71%. Rata-rata tekanan udara adalah 1010.9 MBS. Rata-rata kecepatan angin adalah 4 knot dengan arah angina 2400. dan curah hujan yang cukup tinggi sekitar 2200 mm/ tahun.
3. Potensi Penduduk
Kodya Dati II Surakarta mempunyai jumlah penduduk sebesar 490.214 jiwa (2000) menjadi 497.532 (2003) 497.532 jiwa, terdiri dari 242.591 laki-laki dan 254.643 wanita dengan Sex ratio-nya 95.27%, yang berarti setiap 100 orang wanita terdapat 95 orang laki-laki. Terbagi atas 5 kecamatan dan 51 kelurahan
commit to user
dengan kepadatan penduduk rata-rata 11.291 jiwa/ km2 dan perkembangan penduduk kota Surakarta sekitar 0.48 %, Meningkatnya jumlah penduduk ini disebabkan oleh urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi.
4. Potensi Ekonomi
Kota Surakarta menempati posisi letak yang sangat strategis, dengan jalur transportasi darat, sebagai penghubung ibukota Dati II maupun propinsi yang lain. Jalur selatan menghubungkan Jakarta, Yogyakarta, Surakarta, dan Surabaya. Jalur utara menghubungkan Jakarta, Semarang, Surakarta, dan Surabaya. Jalur Kereta Api (KA) yang melewati Kota Surakarta merupakan penghubung kota besar di Pulau Jawa. Belum lagi, posisi ini ditunjang dengan pengembangan Bandara Adi Sumarmo yang ditingkatkan dari penerbangan domestik menjadi penerbangan internasional.
Tidak aneh, bila Kota Surakarta semakin hari bertambah padat dari berbagai aktivitas manusia. Perekonomian Kota Surakarta didominasi oleh sektor perdagangan, jasa dan industri. Sedangkan sektor perbankan mengalami pertumbuhan yang pesat sejalan dengan perkembangan sektor perdagangan. 5. Potensi Pendidikan
Terdapat berbagai fasilitas pendidikan di Surakarta, dari TK, SD, SLTP, SMA, dan juga universitas.Berikut merupakan data penduduk Surakarta sesuai dengan tingkat pendidikannya.
Tabel III.1 Penduduk Usia 10 Tahun ke atas Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Kota Surakarta pada Tahun 2003
Tabel 1. Jumlah Pengunjung pada Museum di Surakarta Tahun 2000-2004 Keterangan Jenis Kelamin Jumlah
Total
Laki-laki
Perempua n
commit to user Tidak/ belum sekolah 3.458 10.772 14.230 Tidak tamat SD 15.053 21.367 36.420 SD/ MI/ sederajat 40.871 54.499 95.370 SLTP/ MTS/ sederajat 41.284 41.485 82.769 SMA/ MA 56.747 60.003 116.750 SM Kejuruan 14.643 11.594 26.237 D I/ II 1.221 2.444 3.665 D III 8.339 6.914 15.253 D IV/ S 1 15.060 9.156 24.216 S2/ S3 610 408 1.018 Jumlah 197.286 218.642 415.928
(Sumber: BPS Kota Surakarta, Kota Surakarta dalam Angka 2003)
6. Potensi seni dan Budaya
Kesenian merupakan segi lain dari corak kehidupan masyarakat kota Solo, hal ini salah satunya dipengaruhi oleh keberadaan Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran. Bagi masyarakat Solo kesenian merupakan ungkapan kreativitas dari kebudayaan yang mempunyai unsur keindahan yang menonjol, sehingga menyajikan citra realitas yang lebih kaya, lebih hidup, dan lebih berwarna - warni. Hasilnya terlihat dalam berbagai bentuk baik spatial art ( arsitektur, lukisan, gambar, patung dan kerajinan ), literature dan karya seni yang berlangsung dalam waktu ( sastra, musik, teater, tari, dan film ). Kesenian yang tumbuh subur dalam masyarakat Solo menonjol sebagai unsur pusat kebudayaan, terutama yang berasal dari budaya etnik, yaitu seni budaya Jawa.
commit to user
a. Wayang : wayang merupakan unsur seni budaya yang sentral. Wayang yang dipagelarkan oleh dalang dibantu oleh pengrawit dan pesinden, adalah hiburan dalam pola rekreasi masyarakat, mengandung makna simbolik dari sisi penting proses kehidupan dan ritual. Persepsi budaya Jawa sangat mempengaruhi, mengingat babad ageng di keraton berisi genealogi para raja yang beranggapan wiracarita itu adalah nenek moyang mereka. Karena itu wayang dianggap representating the cosmos ( Onghokham,1996 ).
Pada gilirannya seni wayang memberi inspirasi seni lain seperti wayang wong, seni tari, seni sastra, seni kerawitan, seni tatah dan sungging, serta kerajinan lain seperti senjata, seni lukis kaca, dll. Sebaliknya berbagai perkembangan dalam gagasan, teknologi dan kesenian lain juga memberi andil terhadap perkembangan pagelaran wayang itu sendiri.
b. Batik : merupakan warisan dari seni lukis yang berkembang dan mengalami penghalusan pada jaman Kartosuro. Batik pada dasarnya merupakan seratan di atas kain mori dengan unsur - unsur ornamen dalam suatu pola yang diproses dengan pencelupan rintang.
Gb.4 .Proses Pembuatan Batik Tulis
(Sumber : pamflet Dinas Pariwisata Surakarta)
kulit a Surakarta)
commit to user
c. Keris : keris yang disebut curiga atau wangkingan, merupakan senjata tikam kuno yang menonjol dibandingkan senjata lainnya. Keris merupakan hasil kerajinan seni yang dibuat oleh empu keris, dengan menyatukan seni pamor dan seni pahat dalam ukir - ukiran, dengan cara penempaan bahan logam campuran yang akan menentukan kekuatan, mutu, dan keindahannya.
d. Lain - lain : di Solo masih banyak kegiatan lainnya yang mendukung khasanah kesenian kota, seperti seni pentas wayang orang Sriwedari, kethoprak, teater bahasa Jawa, seni tari Jawa, serta karawitan dan tembang - tembang gendhing Jawa, ataupun seni tatah dan sungging pembuatan wayang dari kulit dan pembuatan barang - barang seni lainnya. Sedang yang juga mampu dimanfaatkan adalah kesenian modern yang juga tumbuh di masyarakat, seperti seni lukis, teater, keroncong, musik , band, termasuk pengembangan seni eksperimen seperti yang tumbuh di kampus dan padepokan seni.
1) Wayang Orang Sriwedari
Merupakan satu bentuk seni pertunjukan daerah yang menyajikan cerita wayang berdasarkan cerita Mahabharata dan Ramayana.
2) Kerajinan Tatah dan Sungging
Gb 5. Pementasan Wayang Orang Sriwedari Sumber : pamflet Dinas Pariwisata Surakarta
commit to user
Potensi kesenian Surakarta telah lama dan sampai sekarang tetap menunjukkan potensinya dalam skala nasional bahkan internasional. Ditunjang pula dengan adanya potensi seniman, organisasi / kelompok seni, serta institusi seni baik formal ( SMKI, STSI, Seni Rupa UNS, Sastra Jawa UNS ) maupun non formal ( pelatihan tari Jawa klasik antara lain di Pura Mangkunegaran, Keraton Kasunanan Surakarta, Taman Budaya Surakarta )
Tabel 2 Jumlah Organisasi Kesenian SurakartaTahun 2003
Macam Kesenian Banyaknya Organisasi Tari 38 Musik 190 Vokal 23 Teater 61 Seni Rupa 5 Jumlah 317
(Sumber: BPS Kota Surakarta, Kota Surakarta dalam Angka 2003)
Seni pertunjukan yang tumbuh dan berkembang di kota Surakarta terdiri dari ( Edi Sedyawati, Performing Arts, 1998, hal 60 ) :
a. Tari Tradisi
Seni tari yang berkembang di Surakarta pada dasarnya bersumber dari Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran, yang berbentuk tarian klasik, antara lain: 1) Tari putri : bedhaya, golek, serimpi, gambyong, dsb
2) Tari putra : wireng, jathilan, dsb b. Tari Rakyat
Tari rakyat adalah segala macam tarian yang dicipta, dihayati oleh rakyat sebagai ekspresi jiwa yang menggambarkan berbagai perasaan, segi - segi
Gb. 6. Kerajinan Tatah dan Sungging (Sumber : pamflet Dinas Pariwisata
commit to user
kehidupan yang diungkapkan dalam gerak ritmik. Berdasarkan ciri - ciri khas daerah, tarian rakyat Surakarta dikelompokkan sebagai berikut :
1) Kelompok tari kuda kepang, meliputi barongan, encling, reog 2) Kelompok tari tayub, meliputi tayub dan ledhek
3) Kelompok drama tari, meliputi topeng, angguk, dan srandhul 4) Kelompok tari slawatan, meliputi slawatan, emprok dan rodad 5) Kelompok selain di atas, yaitu ndolalak dan jelantur
c. Seni Suara 1. Seni Vokal
Pada dasarnya ada dua macam ciri seni vokal di Surakarta, yaitu : a. Berciri lokal
Lagu rakyat adalah segala jenis lagu, baik vokal maupun instrumental yang diciptakan, dimainkan, dinyanyikan, serta dipelihara oleh rakyat sebagai pernyataan rasa aman, suka duka, haru, sanjungan, pujian, yang bersumber pada hidup serta kehidupan rakyat sehari - hari, meliputi :
a. Lagu dolanan : dinyanyikan oleh anak - anak, dengan atau tanpa iringan gamelan dan atau tanpa gerakan.
b. Lagu macapat: disebut macapat karena cara menyanyikannya diputus - putus tiap 4 suku kata
c. Lagu tengahan: dalam bahasa Jawa disebut juga sekar tengahan atau sekar dagelan
d. Lagu ageng : lagu ini disebut juga sekar Kawi
e. Lagu gendhing: lagu ini dinyanyikan dengan iringan orkes atau diperagakan khusus instrumental.
f.Berciri nasional, meliputi : keroncong, kulintang, band, dan sebagainya 2. Seni Instrumentalia
a. Berciri lokal, dengan alat musik terban, calung, kothekan, dan sebagainya b. Berciri nasional, seperti musik keroncong, gambus, kulintang, musik
orkes, band, dan sebagainya. 3. Seni Drama
commit to user
a. Yang diperankan oleh manusia : wayang orang, langendriyan, sendratari, kethoprak, teater, dan sebagainya
b. Yang diperankan oleh boneka : wayang kulit, wayang beber, wayang gedog, dan sebagainya
7. Potensi Sejarah Surakarta
Surakarta memiliki sejarah yang menarik untuk diungkapkan. Awal sejarah penuh konflik kekuasaan sampai periodisasi sejarah pembangunan kota solo. Hal tersebut sangat menarik untuk ditampilkan dalam museum.
Berikut uraian singkat sejarah perkembangan Kota solo : 1. Awal sejarah kota penuh konflik kekuasaan
Dalam sejarah berdirinya Kota Surakarta Hadiningrat, terlebih dulu perlu diungkapkan adanya peristiwa yang disebut “Geger Pecinan”. Peristiwa “Geger Pecinan” itulah yang antara lain menyebabkan kepindahan ibu kota Kerajaan Mataram Kartasura beserta Kratonnya ke Desa Sala. Pemberontakan Orang Cina itu semula terjadi di Batavia (sekarang :Jakarta), kemudian menjalar ke tempat lain di jawa. Orang-orang Cina yang dapat meloloskan diri bergabung dengan kawan-kawan mereka di Jepara, Juwono, Demak, Rembang, Tegal, semarang, dan Surabaya. Kemudian pemberontakan ini menjalar ke Kartasura, dimana orang-orang cina merencanakan pemberontakan terhadap pengaruh dan kekuasaan kompeni.
Mengetahui rencana pemberontakan orang-orang cina di Kartasura tersebut, Mas Garendi (yang kemudian disebut mangkurat Amral atau Sunan kuning) memperalat dan mempengaruhi mereka untuk menggempur Kartasura. Maksud tersebut ternyata berhasil, sehingga pada tahun 1743 M dengan dukungan masyarakat cina beliau naik tahta sebagai raja.
Pada saat Kraton Kartasura diserbu oleh pemberontak Cina yang dipimpin oleh Mas Garendi itu, Sri Paduka paku Buwono II melarikan diri ke Ponorogo, diikuti oleh puteranya KGPAA mangkunegoro. Akibat adanya huru-hara yang disebabkan oleh “Geger Pecinan”tersebut, Kerajaan Mataram menderita
commit to user
kerusakan berat. Oleh sebab itu sri Paduka Paku Buwono II merencanakan kepindahan kraton dari ibu kota Kartasura ke tempat lain.
Tentang kepindahan ini, pujangga jawa, Yosodipuro I dalam tulisannya “babad Gijanti” menulis sebagai berikut : “ sigra jengker saking kartawi, ngalih Kedhaton mring dusun sala, kebut wsawadyabalane, busekan saparaja agung, pinengetan angkate nguni anuju ari Buda, henjang wancinipun, wimbaning lek kaping sapta wlas, Sura heje Kembuting budya kapyarsa ing nata kang sangkala” 9artinya : segera pindahlah kraton dari kartasura ke dusun Sala, bergerak bersama dengan balatentara dan pembesar Negara, saatnya kebetulan jatuh pada hari raya Budya, di pagi hari rabu tanggal 17 sura tahun Je 1670). Pindahnya kraton ke Solo pada tanggal 17 bulan Sura tahun Je 1670 dengan candrasengkala “kembuling puja kapriyarseng nata” (atau tanggal 17 Februari 1746) itu dengan sendirinya memerosotkan Kartasura dari sebuah pusat pemerintahan menjadi kota Kawedanan yang kurang berarti.
Dalam perkembangan selanjutnya, daerah Kerajaan Surakarta Hadiningrat mengalami pembagian menjadi dua, akibat perang saudara yang dilatar belakangi politik devide et empera dari VOC. Dalam perjanjian Giyanti yang dibuat oleh kompeni tanggal 13 Februari 1755, Kerajaan Mataram yang sudah menciut itu dibagi dua. Sebelah timur tetap bernama Surakarta Hadiningrat dengan Sala sebagai ibukotanya. Sebelah barat disebut Ngayogyakarta Hadiningrat dengan raja pertama Sri Sultan Hamengku Buwono I yang berkedudukan di ibukota Yogya. Kedua daerah tesebut masing-masing kemudian terpecah lagi, sehingga timbullah empat kerajaan yang oleh Belanda dinamakan Vostenlanden, yakni Kasunanan, Mangkunegaran (pecahan dari Surakarta Hadiningrat) dan Kesultanan, Pakualam (pecahan dari Ngayogyakarta Hadiningrat).
a. Periodisasi Sejarah pembangunan Kota Sala
Ditinjau dari segi pembangunannya, Surakarta mengalami beberapa periode, mulai dari masa pemerintahan colonial Belanda, masa penjajahanjepang dan masa kemerdekaan atau periode pemerintahan Republik Indonesia. Secara ringkas periode ini tersebut akan dikemukakan di bawah ini :
commit to user
Dibawah kekuasaan colonial Belanda, sala merupakan daerah swapraja yang terbagi 2 bagian yaitu swapraja Kasunanan (dibawah Pakubuwono) dan swapraja mangkunegaran (di bawah mangkunegara). Seorang gubernur pemerintahan hindia Belanda ditugasi untuk mengawasi dan menguasai kedua daerah kerajaan tersebut.
Pada tanggal 5 Maret 1942 balatentara Jepang memasuki Kota Salad an orang-orang belanda melarikan diri. Tanpa adanya perlawanan yang berarti, pertahanan Belanda di daerah solo runtuh.
Pada tanggal 1 september 1945 sri Paduka mengeluarkan amanat yang menyatakan bahwa kerajaan-kerajaan Kasunanan dan mangkunegaran merupakan daerad istimewa Negara Republik Indonesia, dengan hubungan yang bersifat langsung dengan pemerintah R.I.
Tetapi karena buruknya system pemerinyahan daerah istimewa, timbul pergolakan-pergolakan yang dilakukan warga. Untuk mengatasi keadaan, dikeluarkan peraturan oleh pemerintah pusat RI pada tanggal 15 juli 1946, yang menyatakan bahwa kedua pemerintahan daerah istimewa kasunanan dan mangkunegaran telah berakhir.
Dalam dictum yang lain disebutkan bahwa di dalam karesidenan sala Dibentuk sebuah daerah baru dengan nama “Kota Surakarta” yang dikepalai oleh seoarang walikota. Ilahirlah di daerah Surakarta sutu pemerintahan daerah yang demokratis dengan nama “Kota Surakarta”.
2) Periode pemerintahan Kota Surakarta
Periode pemerintahan Kota surakarta dimulai dan saat terbentuknya kota Surakarta dan berakhir sampai dengan ditetapkannya UU No. 16 tahun 1947 tentang pembentukan Harninie kota Surakarta, yang mulai berlaku pada tanggal 5 Juni 1947.
3) Periode Haminte Kota Surakarta
Pada permulaan haminate Kota Surakarta mengambil alih dinas-dinas Kasunanan dan mangkunegaran yang berada di wilayahnya. Berpedoman pada Stadsgemeente Ordonantie, maka walikota disamping sebagai alat pemerintahan
commit to user
pusat juga merupakan alat Pemerintahan daerah. Sehingga sering terjadi perangkapan jabatan yang tidak demokratis.
4) Periode Kota Besar Surakarta
Pada pertengahan 1949 di Solo dibentuk Pemerintahan illegal yang kemudian disyahkan oleh Pemerintah Pusat. Pemerintah illegal tersebut dikuasi oleh pelajar, mahasiswa dan pemuda-pemuda pada umumnya. Hampir bersamaan dengan itu pula pemerintahan kasunanan dan mangkunegaran dengan bantuan dan perlindungan tentara pendudukan belanda juga menyusun pemerintahan, akan tetapi dalam praktiknya tidak dapat berjalan karena kurang mendapat sambutan dari masyarakat.
5) Periode Kotapraja surakarta
Perubahan ini tidak sekedar perubahan dalam hal nama saja, melainkan juga membawa perubahan-perubahan dalam bentuk, susunan kekuasaan, tugas, dan kewajiban pemerintah daerah Kotapraja Surakarta.
6) Periode Kotamdya Surakarta
Dimulai 1 September 19665, dengan meletusnya pemberontakan PKI tahun 1965, karena daerah surakarta secara rahasia dijadikan salah satu basisnya, maka Pemerintah Kotamadya Surakarta lumpuh selama beberapa waktu. Terutama karena walikota Kepala daerah Oetomo ramelan termasuk salah satu tokoh PKI. 7) Periode era pembangunan
Dimulai dengan berawalnya pemerintahan ordebaru masa Presiden soeharto, dengan program pembangunan yang menyeluruh dan bertahap Indonesia melalui program PELITA (Pembangunan Lima Tahun). Pada masa Kota sala memasuki masa pembangunan dengan stabilitas ekonomi-politik yang baik, serta mengalami puncak kejayaannya 9masa walikota hartomo) dimana Kota Sala Memperoleh predikat kota adipura Kencana, yaitu kota yang mampu menata lingkungan perkotaannya dengan baik, serta sekaligus sebagai kota ke dua terbersih Indonesia dengan slogan BERSERI (Bersih Sehat rapi Indah)- nya setelah kota padan, Sumatera Barat.
commit to user
Seiring dengan suhu politik nasional yang panas, kota Solo mengalami gejolak social dan politik yang dialami warganya. Dengan dalih isu politik, dan kesenjangan social, kota Solo dibumi hanguskan oleh sekelompok orang yang mengaku bagian dari “warga” sala. Puncaknya saat kerusuhan 27 Mei 1998. Belum genap kepedihan yang dirasa hilang, disusul dengan usaha anarkis rabu kelabu (1998) yang dengan isu politik juga, Balikota dibakar oleh massa yang mengatasnamakan “warga” kota Sala. Ukiras sejarah kepedihan terus berlanjut, dengan terbakarnya bangunan lama kebanggaan warga Solo. Yaitu Pasar gedhe yang dilumat habis oleh api pada tanggal 28 april 2000. Kesemrawutan dan ketidakteraturan kondisi kota semakin nyata sampai sekarang. Era reformasi yang disalah artikan sebagai era “kebebasan” membuat tatanan yang telah dirintis sejak dahulu semakin hilang.
Dan diakhir 2001 ini telah terlihat usaha bangun kembali keterpurukan kota, dengan dimulainya banyakanya upaya pembangunan di Kota Sala, meski masih terlihat lamban dan belum sempurna.
8. Potensi Pariwisata
Obyek wisata di Kota Surakarta menurut laporan Kegiatan Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya kota Surakarta sampai dengan tahun 2004 yang selama ini menjadi obyek kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara adalah: a. Obyek wisata budaya :
Dikembangkan dengan dominasi kawasan dengan sentra budaya. Objek wisata yang ada antara lain:
1) Keraton Kasunanan 2) Pura mangkunegaran b. Obyek wisata buatan
Dikembangkan sebagai pelengkap identitas kota Solo sebagai daya tarik penunjang, diantaranya adalah:
1) Taman jurug
commit to user
3) Museum Radyapustaka 4) Museum Dullah 5) Pasar Antik Triwindu 6) Taman Budaya Sriwedari
Berdasarkan Solo, the heart of Javanese Art and Culture Central Java ( 2001 ) event budaya yang diselenggarakan di kota Surakarta adalah :
a. Festival Kraton Nusantara
1. Bengawan Solo Fair yang diadakan di karaton Kasunanan, Pura Mangkunegaran, dan Graha Wisata Niaga
2. Sekaten yang diadakan di Alun – alun Utara Keraton Kasunanan
Banyaknya obyek wisata diimplementasikan dengan potensi kunjungan wisata yang ada di Surakata. Menurut Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Surakarta, jumlah wisatawan yang berkunjung ke obyek-obyek wisata di Surakarta pada tahun 2001 wisatawan sebesar 730.475, tahun 2002 sebesar 744.654 wisatawan, pada tahun 2003 sebesar 796.754 orang dan pada tahun 2004 sebesar 1.149.784 yang mencakup wisatawan domestik maupun mancanegara dengan kenaikan rata-rata pengunjung per tahun sebesar 4 %.
Seiring dengan perkembangan Kota Surakarta sebagai tujuan wisata budaya, di kota Surakarta sudah tersedia fasilitas - fasilitas pendukung sektor pariwisata seperti tempat penginapan dari hotel kelas melati hingga hotel berbintang empat, tempat menjual berbagai makanan khas Jawa, Indonesia, Barat maupun Cina, tempat penjualan benda - benda seni yang tersebar di beberapa lokasi, sarana transportasi yang mendukung (bandara internasional, stasiun, terminal, dan angkutan jarak dekat lainnya), fasilitas - fasilitas umum yang mendukung seperti sarana komunikasi, kantor imigrasi, bank, tempat penukaran uang, serta tempat - tempat hiburan dan olahraga
2. Kondisi Permuseuman di Surakarta a. Museum di Surakarta
Sebagai usaha pelestarian budaya dan aset di Surakarta, terdapat fasilitas untuk mengakomodir aktifitas tersebut, salah satunya dengan keberadaan empat museum di Surakarta, yaitu :
commit to user
Tabel 3 Museum di Surakarta
No Nama Museum Jenis Koleksi
1. Museum Radya Pustaka Etnografika
2. Museum Kraton“SuakaBudaya” kraton Kasunanan 3. Museum Pura Mangkunegaran Kraton Mangkunegaran
4. Museum Pers Media Massa Nasional
(Sumber: observasi pribadi)
Dari jenis koleksi, museum yang terdapat di Surakarta merupakan museum khusus yang mengungkap tentang budaya Solo secara terpisah berdasarkan keberadaan dari masing-masing museum. Sedangkan tentang Surakarta secara menyeluruh belum terakomodir dengan optimal, mencakup potensi dan sejarah Kota sala.
1. Tinjauan Museum terhadap Musem Radya Pustaka
Museum Radya Pustaka yang semula bernama “Paheman Radya Pustaka” didirika pada tanggal 28 oktober 1890 di masa pemerintahan Sunan Pakubuwono IX, oleh patih dalem Keraton Hadiningrat, KRA. Sosrodiningrat IV. Radya Pustaka mempunyai arti perpustakaan keraton atau perpustakaan negara.
Paheman radya Pustaka awalnya bersal di “Ndalem Kepatihan”, namun sejak tanggal 1 Januari 1913 dipindahkan ke Gedung Kadipolo sampai sekarang.
Gb.7. Museum Radya Pustaka (Sumber : www.radyapustaka.com)
commit to user
Semula Paheman Radya Pustaka ini memperdalam tentang studi Budaya Jawa, dengan mempelajari kepustakaan, sastra, sejarah pewayangan, pedalangan, dan lainnya. Untuk studi budaya tersebut telah banyak mengumpulkan bahan-bahan studi seperti halnya kepustakaan, benda-benda koleksi (artefak, arca-arca), gambar-gambar (lukisan), wayang dan lainnya.
Perkumpulan Paheman radya Pustaka pada tahun 1951 dijadikan yayasan dengan nama “Yayasan Paheman Radya Pustaka Surakarta”.
1. Koleksi
Koleksi yang dipamerkan dikelompokkan berdasarkan ruangannya, yaitu : a. Diawali pada halaman luar depan terdapat tugu dengan bagian atas ada
patun g R. Ng. warsito, di depan kanopi ini ditempatkan koleksi-koleksi berupa benda-benda peninggalan purbakala masa prasejarah seperti batu lumping, menhir, batu lumping, menhir, batu lesung, dan lainnya.
b. Teras depan ditata koleksi arca-arca batu peninggalan purbakala, baik dari agama hindu maupun Budha
c. Masuk ruang pertama terdapat koleksi wayang peninggalan Pakubuwono IV, disebut juga dengan Ruangan Wayang, ruangan berikutnya sebelah kiri disebut sebagai “Ruang keramik” karena berisikan koleksi-koleksi keramik dan porselin serta gelas, yang merupakan peninggalan dari Pakubuwono IV d. Diantara ruangan-ruangan terdapat ruang penghubung yang dipajangkan
koleksi meja-meja marmer, kursi-kursi dan beberapa merlam lela.. Selain itu terdapat vitrine yang berisi senjata tradisional seperti keris, pedang,, dan tombak.
e. Ruang sisi kanan disebuut sebagai “Ruang Senjata Tradisional”, disini berisikan koleksi keris hadiah atau sumbnagan dari beberapa warga luar Kota Surakarta maupun dari Surakarta sendiri. Dalam ruang ini dipajang