Pembinaan Guru Dalam Proses Pembelajaran Teknologi Informasi
Pembinaan profesional adalah usaha memberikan bantuan kepada guru untuk memperluas pengetahuan, peningkatan keterampilan mengajar dan menumbuhkan sikap profesional sehingga guru menjadi lebih ahli mengelola proses belajar mengajar bidang IT. Oleh karena itu, kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan harus berusaha mengembangkan potensi yang dimiliki oleh guru secara intensif dan kontinus, agar pembinaan tersebut dapat berhasil sesuai dengan yang diharapkan.
Identifikasi Tujuan Umum Pembelajaran IT
Kegiatan awal dalam membuat desain pembelajaran adalah analisis terhadap kebutuhan yang harus dipecahkan melalui pengajaran IT. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menganalisis kebutuhan, yaitu dengan membandingkan keadaan saat ini dengan keadaan yang diharapkan. Informasi tentang analisis kebutuhan ini dapat diperoleh dan siswa yang sudah mengikuti pelajaran tersebut yang dijaring dengan menggunakan tanya jawab langsung dengan
siswa yang bersangkutan.
Pengembangan Profesional Guru Dalam Pembelajaran IT
Dalam rangka peningkatan mutu
pembelajaran IT yang dilakukan guru di sekolah memerlukan adanya upaya-upaya pengembangan profesional guru dalam berbagai bidang, terutama yang terkait langsung dengan proses pembelajaran IT. Walaupun untuk menyeimbangkan kemampuan
semua guru dalam pengelolaan pembelajaran memang tidak mungkin terjadi. Hal ini, disebabkan kemampuan setiap individu tidak ada yang sama. Oleh kerena itu, perlu adanya peningkatan kemampuan profesional guru yang dilakukan secara intensif dan kontinu.
Peranan Kepala Sekolah Dalam Pembinaan Guru Di Bidang IT
Peranan manusia dalam suatu organisasi sangatlah menentukan, dimana apabila manusia di dalam suatu organisasi baik, dinamis, dan bersatu, maka organisasi tersebut akan hidup dan berkembang dengan baik pula. Sebaliknya, organisasi tidak berkembang dan akan mati jika individu-individu di dalamnya tidak dinamis dan saling curiga. Oleh karena itu, peranan kepala sekolah dalam organisasi teknologi informasi perlu dipupuk ke arah yang positif.
Bidang Pendidikan Menggunakan IT
Faktor utama dalam distance learning yang selama ini dianggap masalah adalah tidak adanya interaksi antara siswa dan gurunya. Namun demikian, dengan media internet sangat dimungkinkan untuk melakukan interaksi antara guru dan siswa baik dalam bentuk real time (waktu nyata) atau tidak. Dalam bentuk real time dapat dilakukan misalnya dalam suatu chatroom, interaksi langsung dengan real audio atau realvideo, dan online meeting. Yang tidak real time bisa dilakukan dengan mailing list, discussion group, newsgroup, dan buletin board. Dengan cara di atas interaksi guru dan siswa di kelas mungkin akan tergantikan walaupun tidak 100%. Bentuk-bentuk materi, ujian, kuis dan cara pendidikan lainnya dapat juga diimplementasikan ke dalam web, seperti materi guru dibuat dalam bentuk presentasi di web dan dapat di download oleh siswa.
Pengertian Aplikasi Web
Dalam rekayasa perangkat lunak, suatu aplikasi web (bahasa Inggris: web application atau sering disingkat webapp) adalah suatu aplikasi yang diakses menggunakan penjelajah web (web browser) melalui suatu jaringan seperti Internet atau Intranet. Web juga merupakan suatu aplikasi perangkat lunak komputer yang dikodekan dalam bahasa yang didukung penjelajah web (seperti HTML, JavaScript, AJAX, Java, PHP, ASPX, dll) dan bergantung pada penjelajah tersebut untuk menampilkan aplikasi.
Aplikasi web menjadi populer karena kemudahan tersedianya aplikasi klien untuk mengaksesnya, penjelajah web, yang kadang disebut sebagai suatu thin client (klien tipis). Kemampuan untuk memperbarui dan memelihara aplikasi web tanpa harus mendistribusikan dan menginstalasi perangkat lunak pada kemungkinan ribuan komputer klien merupakan alasan kunci popularitasnya.Aplikasi web yang umum misalnya
webmail, toko ritel daring, lelang daring, wiki, papan diskusi, weblog, serta MMORPG.
Pengertian Jejaring Sosial
Jejaring sosial adalah suatu struktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul (yang umumnya adalah individu atau organisasi) yang dijalin dengan satu atau lebih tipe relasi spesifik seperti nilai, visi, ide, teman, keturunan, dll.Analisis jaringan jejaring sosial memandang hubungan sosial sebagai simpul dan ikatan.Simpul adalah aktor individu di dalam jaringan, sedangkan ikatan adalah hubungan antar aktor tersebut.Bisa terdapat banyak jenis ikatan antar simpul. Penelitian dalam berbagai bidang akademik telah menunjukkan bahwa jaringan jejaring sosial beroperasi pada banyak tingkatan, mulai dari keluarga hingga negara, dan memegang peranan penting dalam menentukan cara memecahkan masalah, menjalankan organisasi, serta derajat keberhasilan seorang individu dalam mencapai tujuannya. Adapun diagram jejaring social dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut :
Gambar 2.1 Diagram Jaringan Social Network
Sumber
Dalam bentuk yang paling sederhana, suatu jaringan jejaring sosial adalah peta semua ikatan yang relevan antar simpul yang dikaji.Jaringan tersebut dapat pula digunakan untuk menentukan modal sosial aktor individu. Konsep ini sering digambarkan dalam diagram jaringan sosial yang mewujudkan simpul sebagai titik dan ikatan sebagai garis penghubungnya.
METODE PENELITIAN (JENIS PENELITIAN, SUBYEK PENELITIAN)
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hal ini, didasarkan kepada rumusan masalah penelitian yang menuntut peneliti melakukan eksplorasi dalam memahami dan menjelaskan masalah yang diteliti melalui hubungan yang intensif dengan sumber data, sedangkan untuk menjawab permasalahan penelitian secara teoretis digunakan studi kepustakaan, dengan tujuan agar proses penganalisaan dan penafsiran terhadap fokus penelitian akan lebih akurat. Lebih jauh dapat dijelaskan, bahwa dalam penelitian ini, peneliti berfungsi sebagai instrumen penelitian dan peneliti mengkonsentrasikan perhatian dalam memahami perilaku, sikap, pendapat, persepsi, dan
sebagainya berdasarkan pandangan subjek yang diteliti tersebut.
Lokasi Dan Objek Penelitian
Penelitian ini memusatkan perhatian pada upaya-apaya peningkatan mutu pembelajaran teknologi informasi oleh kepala sekolah, dengan mengambil lokasi pada SD Negeri dalam wilayah Kepala Dinas Pendidikan Aceh. Akan tetapi mengingat luasnya lokasi penelitian, maka penelitian ini mengambil lokasi pada Sekolah Dasar inti dalam wilayah Kepala Dinas Pendidikan Aceh. Alasan lainnya adalah karena SD Inti merupakan sekolah yang diharapkan dapat memberi imbas kepada SD lainnya dalam upaya peningkatan mutu pembelajaran teknologi informasi. Adapun yang akan dijadikan subjek dalam penelitian ini adalah : 23 (Dua Puluh Tiga) orang kepala sekolah dan 46 (Empat Puluh Enan) guru pada SD inti dalam wilayah Dinas Pendidikan Aceh, karena ada 23 kabupaten / kota.
Gambar. 3.1 Peta Yang Menjadi Lokasi Peneliti
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi.wawancara dan studi dokumentasi. Ketiga tehnik tersebut digunakan dapat saling melengkapi dalam upaya perolehan data dan informasi yang dibutuhkan.Sedangkan sumber data yang dipelukan diklasifikasikan menjadi data primer dan data sekunder. Data primer bersumber dari wawancara dan observasi dengan kepala sekolah dan guru-guru pada SD Negeri dalam wilayah Kepala Dinas. Data primer ini didukung oleh informasi dan berbagai pihak yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam pelaksanaan kegiatan peningkatan mutu pembelajaran teknologi informasi. Adapun data sekunder yang diambil dari dokumen kepala sekolah. Untuk lebih jelasnya mengenai teknik pengumpulan data, berikut ini diuraikan secara lebih rinci. 1. Observasi, 2. Wawancara, 3. Studi Dokumentasi
PELAKSANAAN PENGUMPULAN DATA
Pelaksanaan pengumpulan data dan informasi di lapangan dapat dilakukan melalui: 1. Tahap Orientasi, 2. Tahap Eksplorasi Pengumpulan data yang peneliti lakukan adalah sebagai benikut: a) Melakukan wawancara dengan kepala sekolah dan guru-guru sebagaimana yang telah ditentukan sebelumnya. b) Selain wawancara, peneliti juga melakukan pengamatan secara langsung untuk melihat dokumen-dokumen kepala sekolah yang ada
hubungannya dengan upaya-upaya peningkatan mutu pembelajaran teknologi informasi oleh kepala sekolah dan kendala-kendala yang dihadapi kepala sekolah dalam peningkatan mutu pembelajaran teknologi informasi serta tanggapan guru terhadap upaya-upaya peningkatan mutu pembelajaran teknologi informasi oleh kepala sekolah. Selanjutnya agar pengumpulan data itu dapat berjalan lancar, maka peneliti menggunakan pedoman wawancara dan observasi dan tape recorder.
ANALISIS DATA
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk menyusun data agar dapat ditafsirkan. Langkah-langkah adalah seperti berikut ini :
1. Menganalisis setiap informasi atau data yang diperoleh baik melalui observasi, wawancara maupun studi dokumentasi.
2. Dalam setiap kegiatan analisis dilakukan
interpretasi data untuk menemukan makna yang terkandung di dalamnya.
3. Membuat kategorisasi data, agar data
mentah yang terkumpul dapat ditransformasikan dengan sistematis, kemudian peneliti menjelaskan hubungan satu sama lainnya sehingga tidak kehilangan konteksnya.
4. Mengecek dan membandingkan kebenaran
informasi atau data yang diperoleh melalui responden.
5. Melakukan diskusi dengan kepala sekolah
dan gum-guru yang dijadikan responden dalam penelitian ini.
IMPLEMENTASI KEGIATAN
Bagian ini menjelaskan hasil penelitian dan pembahasan yang disajikan dalam bentuk deskripsi data yang dihimpun di lapangan.Data dan informasi tersebut diperoleh melalui studi dokumentasi, wawancara dan observasi tentang upaya-upaya peningkatan mutu pembelajaran oleh kepala SD Negeri dalam wilayah Dinas Pendidikan Kab.Bireuen/Pemkot Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam. Untuk memperoleh gambaran lebih jauh mengenai permasalahan yang diteliti secara komprehensif dan transparan akan diungkapkan pada bagian laporan berikut ini.
Peningkatan Mutu Pembelajaran IT Pada SD Negeri Dalam Wilayah Dinas Pendidikan Kab. Bireuen
Perencanaan program peningkatan mutu pembelajaran Teknologi Informasi oleh Kepala SD Negeri dalam wilayah Dinas Pendidikan Di Aceh menetapkan ukuran dan aspek yang akan dicapai. Dengan kriteria ketercapaian adalah apabila setiap rencana yang telah disusun dapat dilaksanakan secara efektif. Adapun aspek yang dimaksud adalah: kurikulum, perangkat pembelajaran, manajemen
kelas, penyusunan soal dan analisis soal, program perbaikan dan pengayaan, bimbingan dan konseling, musyawarah guru mata pelajaran IT, pendidikan dan pelatihan terhadap IT, supervisi, reward dan punishment.
Hasil penelitian menunjukkan perencanaan program peningkatan mutu pembelajaran IT pada SD Negeri dalam wilayah Dinas Pendidikan Aceh dilaksanakan oleh kepala sekolah pada awal tahun pelajaran, melalui rapat interen sesuai arah kurikulum. Perencanaan peningkatanmutu pembelajaran IT yang dilaksanakan dalam kaitan membantu guru-guru dalam mengembangkan kemampuan dan kreativitas proses belajar mengajar. Hal ini, diprogramkan oleh kepala sekolah secara terpadu dalam program kerja kepala sekolah dan dilaksanakan untuk mewujudkan tujuan yang diharapkan, baik dalam jangka pendek, menengah, dan dalam jangka panjang.
Perencanaan program peningkatan mutu pembelajaran IT dilaksanakan melalui berbagai kegiatan pembinaan dan pengembangan kemampuan profesional guru yang mengacu pada peningkatan mutu pembelajaran IT dengan berpedoman pada petunjuk pelaksanaan pembinaan sekolah menengah dan sistem pembinaan profesional yang diterbitkan oleh Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.
Merujuk pada petunjuk pelaksanaan pengembangan profesional guru tersebut, kepala- kepala sekolah bergabung membentuk gugus sekolah.Melalui forum kelompok kerja kepala sekolah (KKKS), kepala sekolah menyusun rencana pembinaan untuk satu tahun berjalan.Program tersebut berdasarkan atas kepentingan untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah- sekolah yang tergabung dalam gugus. Dengan terbentuknya gugus sekolah, kepala-kepala sekolah dapat menyusun, melaksankan, dan mengevaluasi serta menindaklanjuti kegiatan-kegiatan di sekolah dalam upaya peningkatan mutu pembelajaran IT
Suatu kegiatan yang akan dilaksanakannya memerlukan program yang matang. Demikian juga, dalam upaya-upaya pembinaan pengembangan profesional guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan pembelajaran IT harus dilaksanakan secara terprogram dan berkelanjutan.Dengan adanya program tujuan yang ingin dicapai lebih jelas dan pelaksanaan kegiatan lebih terarah. Tujuan dari pembinaan pengembangan professional tersebut adalah untuk memberikan bantuan pelayanan terhadap guru dalam usaha meningkatkan pengetahuannya, kemampuan dalam mengajar, dan menumbuhkan sikap profesional sehingga para guru/kepala menjadi lebih ahli mengelola proses pembelajaran terhadap IT.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kepala-kepala SD Negeri dalam wilayah Dinas Pendidikan Kab.Bireuen / Pemkot Lhokseumawe / Pemkab Aceh Utara sangat
mendukung terhadap upaya-upaya peningkatan mutu pembelajaran dengan menggunakan IT yang dilaksanakan oleh kepala sekolah. Kegiatan- kegiatan tersebut dapat menumbuhkan semangat kerja guru dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Melalui kinerja guru yang baik, pada akhinya dapat meningkatkan mutu pendidikan sebagaimana yang diharapkan.
KESIMPULAN
1. Kepala sekolah membuat program
perencanaan peningkatan mutu pembelajaran IT dengan baik. Program tersebut terdiri atas aspek-aspek kurikulum, perangkat pembelajaran, manajemen kelas, penyusunan soal dan analisis soal, program perbaikan dan pengayaan, pemanfaatan sumber belajar, pendidikan dan pelatihan, reward dan punishment.
2. Pelaksanaan program peningkatan mutu
pembelajaran IT yang dilaksanakan oleh kepala sekolah melalui aspek-aspek sebagai berikut: (a) Kurikulum, dalam upaya peningkatan mutu pembelajaran IT pada SD Negeri, kepala sekolah melakukan melalui pembekalan dan pemahaman kurikulum kepada guru-guru yang dilaksanakan pada awal semester atau pada awal tahun pelajaran. Sebanyak 5 dari 6 SD Negeri yang diteliti di tiap Kab. upaya peningkatan mutu pembelajaran IT melalui pemahaman kurikulum dilaksanakan secara baik.
3. Kepala SD Negeri dalam wilayah Dinas
Pendidikan Aceh sangat mendukung terhadap upaya-upaya peningkatan mutu pembelajaran yang dilaksanakan oleh kepala sekolah. Kegiatan-kegiatan tersebut dapat menumbuhkan semangat kerja guru dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Melalui kinerja guru yang baik, pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pendidikan sebagaimana yang diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA ACUAN
Ahmad, Djauzak, (1996). Pendoman Pembinaan Profesional Guru Sekolah Menengah. Yakarta. Depdiknas (2001), Manajemen Sekolah, Jakarta :
Dirjen Dikdasmen.
Depdiknas (2000), Pengelolaan Pembelajaran Yang Efektif (Materi Diklat Calon Kepala Sekolah) Jakarta : Dirjen Dikdasmen.
Gaffar, Fakry. (1995). Perencanaan Pendidikan : Teori-teori dan Metodelogi. Jakarta : Depdikbud
Jalal, Fasli dan Supriadi, Dedi. (2001), Reformasi Pendidikan Dalam Kontesks Otonomi Daerah, Yogyakarta : Adicipta Karya Nusa.
Lazaruth, Soewaji. (1987). Kepala Sekolah Dan Tanggung Jawabnya. Yogjakarta :
Nasution, S (1996), Metodelogi Penelitian Naturalistik-Kualitatif, Bandung : Tarsito. Simamora, Henry. (1995). Manajemen Sumber Daya
Manusia. Yogjakarta: STIE. YPKN.
Didit, Y.P, (2008) Perancangan dan Pengembangan Aplikasi Web Virtual Plaza, Tugas Akhir, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Jurusan Teknik Informatika, Surabaya ITS.
R.Kresno Aji, (2007) “Kejahatan Internet, Trik Aplikasi & tip Penanggulangannya”, Elexmedia
Komputindo.
Undang-Undang Republik Indonesia. Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Otonomi Khusus Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (UUPA). Taufiq., Modul TIK Bagi Guru Sekolah Dasar SKGJ
Universitas Almuslim Bireuen 2013
Taufiq., Hasil Penelitian Peningkatan Guru Dalam Jabatan LPPM Universitas Almuslim 2014