HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4. Tipe dan Karakteristik Spora FMA
Spora FMA yang diperoleh dari lapangan dan trapping memiliki tipe dan karakteristik yang berbeda. Perbedaannya dilihat berdasarkan morfologi, yaitu bentuk, warna, tekstur permukaan dan dinding, serta ada tidaknya struktur yang menempel pada spora. Dalam penelitian ini, spora FMA yang diperoleh dari lapangan hanya 1 genus, yaitu Glomus (18 tipe). Spora FMA hasil trapping diperoleh 2 genus, yaitu Glomus (35 tipe) dan Acaulospora (3 tipe). Adapun variasi tipe dan karakteristik spora FMA dari lapangan dan trapping disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Tipe dan karakteristik spora FMA dari lapangan dan trapping Tipe Spora Karakteristik
Morfologi Reaksi dengan Melzer’s Lapangan Trapping Glomus sp. 1 -
Spora bulat, berwarna coklat kekuningan, permukaannya halus, berdinding tebal, dan mempunyai hyphal attachments.
Tidak bereaksi
Glomus sp. 2
Spora bulat, berwarna coklat,
permukaannya halus, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal
attachments.
Tidak bereaksi
Glomus sp. 3
-
Spora bulat, berwarna coklat kehijauan, permukaannya halus, berdinding sangat tebal, dan tidak mempunyai hyphal attachments.
Tidak bereaksi
Glomus sp. 4
Spora bulat, berwarna coklat kemerahan, permukaannya kasar, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal
attachments.
Tidak bereaksi
- Glomus sp. 5
Spora bulat, berwarna coklat kekuningan, permukaannya kasar, berdinding tipis, dan tidak mempunyai
hyphal attachments.
Tidak bereaksi
Glomus sp. 6
Spora bulat, berwarna coklat,
permukaannya relatif halus, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal attachments.
Tidak bereaksi
Glomus sp. 7
Spora bulat, berwarna coklat kemerahan, permukaannya relatif halus, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal attachments.
Tidak bereaksi
Glomus sp. 8
Spora bulat, berwarna coklat kekuningan, permukaannya kasar, berdinding tebal, dan tidak mempunyai
hyphal attachments.
Lanjutan
Glomus sp. 9
Spora bulat, berwarna coklat
kekuningan, permukaannya relatif halus, berdinding tipis, dan tidak mempunyai
hyphal attachments.
Tidak bereaksi
Glomus sp. 10
Spora bulat, berwarna coklat
kekuningan, permukaannya relatif halus, berdinding tebal, dan tidak mempunyai
hyphal attachments.
Tidak bereaksi
Glomus sp. 11
Spora bulat, berwarna coklat kekuningan, permukaannya halus, berdinding sangat tebal, dan tidak mempunyai hyphal attachments.
Tidak bereaksi
Glomus sp. 12
-
Spora bulat, berwarna coklat,
permukaannya relatif halus, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal attachments.
Tidak bereaksi
Glomus sp. 13
-
Spora bulat, berwarna coklat kemerahan, permukaannya relatif kasar, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal attachments.
Tidak bereaksi
Glomus sp. 14
Spora bulat, berwarna coklat
kekuningan, permukaannya relatif halus, berdinding tipis, dan tidak mempunyai
hyphal attachments.
Tidak bereaksi
Glomus sp. 15
-
Spora bulat lonjong, berwarna coklat kekuningan, permukaannya halus, berdinding tebal, dan tidak mempunyai
hyphal attachments.
Tidak bereaksi
Glomus sp. 16
-
Spora bulat, berwarna coklat kehijauan, permukaannya sangat halus, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal attachments.
Lanjutan
Glomus sp. 17
-
Spora bulat, berwarna coklat kehijauan, permukaannya relatif halus, berdinding sangat tebal, dan mempunyai hyphal attachments.
Tidak bereaksi
Glomus sp. 18
-
Spora bulat, berwarna coklat,
permukaannya halus, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal
attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 19
Spora bulat, berwarna coklat kehitaman, permukaannya halus, berdinding tebal, dantidak mempunyai hyphal
attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 20
Spora bulat, berwarna coklat kehijauan, permukaannya kasar, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal
attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 21
Spora bulat, berwarna coklat,
permukaannya halus, berdinding tipis, dan tidak mempunyai hyphal
attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 22
Spora bulat, berwarna coklat kemerahan, permukaannya relatif halus, berdinding tipis, dan tidak mempunyai hyphal attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 23
Spora bulat, berwarna coklat kehitaman, permukaannya relatif halus, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 24
Spora bulat, berwarna coklat,
permukaannya halus, berdinding tebal, tidak mempunyai hyphal attachments, dan mempunyai tonjolan.
Lanjutan
-
Glomus sp. 25
Spora bulat lonjong, berwarna coklat, permukaannya halus, berdinding tipis, dan tidak mempunyai hyphal
attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 26
Spora bulat lonjong, berwarna coklat, permukaannya halus, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal
attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 27
Spora bulat, berwarna coklat kemerahan, permukaannya relatif halus, berdinding tipis, dan tidak mempunyai hyphal attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 28
Spora bulat, berwarna coklat
kekuningan, permukaannya relatif halus, berdinding tipis, dan tidak mempunyai
hyphal attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 29
Spora bulat, berwarna coklat kekuningan, permukaannya halus, berdinding sangat tebal, dan tidak mempunyai hyphal attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 30
Spora bulat, berwarna coklat kemerahan, permukaannya relatif halus, berdinding sangat tebal, dan tidak mempunyai
hyphal attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 31
Spora bulat, berwarna coklat kehijauan, permukaannya halus, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal
attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 32
Spora bulat, berwarna coklat kehijauan, permukaannya relatif halus, berdinding tebal, dan mempunyai hyphal
attachments.
Lanjutan
-
Glomus sp. 33
Spora bulat, berwarna coklat kehitaman, permukaannya halus, berdinding tipis, dan tidak mempunyai hyphal
attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 34
Spora bulat, berwarna coklat,
permukaannya halus, berdinding tipis, dan tidak mempunyai hyphal
attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 35
Spora bulat, berwarna coklat pekat, permukaannya relatif kasar, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 36
Spora bulat, berwarna coklat kekuningan, permukaannya kasar, berdinding sangat tebal, dan mempunyai
hyphal attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 37
Spora bulat, berwarna coklat kehitaman, permukaannya kasar, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal
attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 38
Spora bulat, berwarna coklat kekuningan, permukaannya kasar, berdinding tebal (mengkilat), dan tidak mempunyai hyphal attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 39
Spora bulat, berwarna coklat kehijauan, permukaannya relatif halus, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 40
Spora bulat, berwarna orange,
permukaannya kasar, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal
attachments.
Lanjutan
-
Glomus sp. 41
Spora bulat, berwarna coklat,
permukaannya relatif kasar, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 42
Spora bulat, berwarna coklat susu, permukaannya halus, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal
attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 43
Spora bulat, berwarna coklat kehijauan, permukaannya halus, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal
attachments.
Tidak bereaksi
-
Glomus sp. 44
Spora bulat, berwarna coklat kehijauan, permukaannya relatif kasar, berdinding tebal, dan tidak mempunyai hyphal attachments.
Tidak bereaksi
-
Acaulospora sp. 1
Spora bulat, berwarna coklat, permukaannya relatif halus, dan berdinding tebal (warna kontras).
Bereaksi
-
Acaulospora sp.2
Spora bulat, berwarna kuning, dan berdinding tebal. Permukaannya relatif kasar dan membentuk ornamen seperti kulit jeruk
Bereaksi
-
Acaulospora sp. 3
Spora bulat, berwarna coklat kemerahan, permukaannya relatif halus, dan
berdinding tebal (warna kontras).
Tipe spora yang diperoleh dari hasil trapping lebih beragam dibandingkan lapangan. Hal ini diduga adanya pengaruh faktor jumlah spora yang sebelumnya memang lebih sedikit ditemukan dari lapangan dibandingkan trapping. Jumlah spora yang lebih banyak pada saat isolasi akan memungkinkan kita untuk mendapatkan tipe maupun genus baru pada saat identifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa banyak tipe baru dari Glomus yang muncul setelah dilakukan trapping, bahkan ada satu genus baru yang ditemukan, yaitu Acaulospora.
Secara keseluruhan, jumlah tipe spora FMA yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah 47 tipe spora (44 tipe Glomus dan 3 tipe Acaulospora). Banyaknya tipe
Glomus yang diperoleh menunjukkan bahwa Glomus mempunyai tingkat penyebaran yang lebih tinggi dibandingkan Acaulospora (Tabel 4). Hasil serupa yang menunjukkan bahwa tipe Glomus lebih sering ditemukan daripada tipe lainnya pada areal tanaman karet juga dilaporkan oleh Jayaratne (1982) dan Souza et al. (2010) yang masing-masing memperoleh 6 tipe Glomus, 2 tipe Acaulospora, 3 tipe
Gigaspora, 3tipe Sclerocystis, 3 Complexipes moniliformis dan 4 tipe Glomus, 1 tipe
Acaulospora.Tipe Glomus tampaknya sering ditemukan di areal tanaman karet. Deka
et al. (1998) memperoleh tipe Glomus dan Gigaspora. Ikram dan Mahmud (1984) dalam Deka et al. (1998) memperoleh Glomus, Acaulospora, dan Sclerocystis. Selain itu, keanekaragaman tipe spora yang didominasi oleh Glomus juga diperoleh dari penelitian lain (Karepesina, 2007; Muzakkir, 2010; Hartoyo et al., 2011; Songachan dan Kayang, 2011; Puspitasari et al., 2012; Iritie et al., 2013; dan Nurhandayani et al., 2013). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tingginya tingkat penyebaran
Glomus disebabkan oleh kemampuannya yang lebih adaptif di berbagai kondisi lingkungan dibandingkan genus lain.
Tabel 4. Kehadiran tipe spora FMA di lapangan dan trapping
No. Tipe Spora Lapangan Trapping
Afd. 1 Afd. 2 Afd. 4 Afd. 1 Afd. 2 Afd. 4
1. Glomus sp. 1 + - - - - - 2. Glomus sp. 2 + - + + + - 3. Glomus sp. 3 + - - - - - 4. Glomus sp. 4 + + - + + + 5. Glomus sp. 5 + - - - - - 6. Glomus sp. 6 + - - - + - 7. Glomus sp. 7 + - - + + + 8. Glomus sp. 8 + + + + + - 9. Glomus sp. 9 + + - - + - 10. Glomus sp. 10 - + - - - + 11. Glomus sp. 11 - + - + - + 12. Glomus sp. 12 - + + - - - 13. Glomus sp. 13 - + - - - - 14. Glomus sp. 14 - + - - - + 15. Glomus sp. 15 - + - - - - 16. Glomus sp. 16 - - + - - - 17. Glomus sp. 17 - - + - - - 18. Glomus sp. 18 - - + - - - 19. Glomus sp. 19 - - - + - - 20. Glomus sp. 20 - - - + - - 21. Glomus sp. 21 - - - + - - 22. Glomus sp. 22 - - - + + - 23. Glomus sp. 23 - - - + + + 24. Glomus sp. 24 - - - + - - 25. Glomus sp. 25 - - - + - - 26. Glomus sp. 26 - - - + + - 27. Glomus sp. 27 - - - + + + 28. Glomus sp. 28 - - - + + + 29. Glomus sp. 29 - - - + - - 30. Glomus sp. 30 - - - + - - 31. Glomus sp. 31 - - - - + + 32. Glomus sp. 32 - - - - + - 33. Glomus sp. 33 - - - - + - 34. Glomus sp. 34 - - - - + - 35. Glomus sp. 35 - - - - + - 36. Glomus sp. 36 - - - + 37. Glomus sp. 37 - - - + 38. Glomus sp. 38 - - - + 39. Glomus sp. 39 - - - + 40. Glomus sp. 40 - - - + 41. Glomus sp. 41 - - - + 42. Glomus sp. 42 - - - + 43. Glomus sp. 43 - - - + 44. Glomus sp. 44 - - - + 45. Acaulospora sp. 1 - - - + - - 46. Acaulospora sp. 2 - - - + 47. Acaulospora sp. 3 - - - +
Selain faktor adaptasi, waktu sporulasi (pembentukan spora) juga mempengaruhi adanya perbedaan jumlah tipe spora dari tiap genus. Hal ini dapat dikaitkan dengan waktu pengambilan sampel yang hanya satu kali sehingga tipe-tipe spora dari genus yang berbeda belum tentu terwakili secara keseluruhan. Corryanti (2011) menyatakan bahwa sebaran tipe FMA yang ditemukan terkait pada periode masa dengan kuantitas minimum atau maksimum spora yang dihasilkan. Oleh karena itu, keanekaragaman tipe spora dari genus yang berbeda akan lebih tinggi jika dilakukan lebih dari satu kali pengamatan. Hal ini telah dilaporkan oleh Delvian (2003) yang menunjukkan adanya variasi tipe spora pada suatu petak ukur selama lima kali pengamatan dengan interval waktu 3 bulan.
Faktor lain yang juga mempengaruhi tipe spora FMA adalah tanaman inang. Hal ini dapat dikaitkan dengan sifat FMA yang obligat, yaitu sangat tergantung pada tanaman inang. Tahap FMA yang lebih tergantung pada tanaman inang adalah pada saat pertumbuhan dan perkembangannya setelah berkecambah. Hal ini disebabkan karbon yang diperoleh FMA dari tanaman inang digunakan sebagai kebutuhan energi untuk dapat bertahan hidup. Hal ini memungkinkan untuk menghasilkan tipe spora yang lebih banyak. Delvian (2003) menyatakan bahwa kondisi terbaik bagi pertumbuhan dan perkembangan inang akan memberikan pertumbuhan dan perkembangan terbaik juga bagi FMA.
BAB V