ELABORASI TEMA
ELABORASI TEMA 3.1. Pengertian Arsitektur Perilaku
5) TIPE MANDIRI
Pada masing-masing kamar terdapat 2 lemari yang terpisah, tiap ruang tidur terdapat 1 kamar mandi di dalam untuk memudahkan lansia buang air di malam hari.
Ruang interaksi yang disediakan cukup besar, sedangkan ruang tidurnya tidak terlalu besar karena 60% kegiatan sehari-hari mereka dilakukan di luar ruangan.
Dimensi ruang tidur relative besar, disediakan ‘space’ khusus untuk melekatkan alat-alat bantu seperti : kursi roda, kaca mata, tongkat, di dekat tempat tidur.
Ruang untuk sirkulasi relative besar, minimal 1.60 meter (untuk berpapasan 2 kursi roda)
Perabotan seperti meja, lemari, kaca dirancang tidak terlalu tinggi, dapat dijangkau sambil duduk dengan kursi roda.
Tidak ada ruang menyudut dan pintu yang bersebelahan langsung
Zona ruang tidur dipisahkan dari zona ruangan lainnya karena ruang tidur membutuhkan ketenangan ekstra, karena sehari-hari lansia beraktifitas di dalam ruangan / kamar (60% di kamar)
Penerangan di kamar dimaksimalkan, tetapi untuk penerangan alami dirancang bukaan yang tidak langsung menghadap matahari untuk menghindari silau, namun bukaan/jendela yang menghadap utara dan selatan cukup besar, agar kamar tidak lembab, sedangkan bukaan yang menghadap barat bukaan diminimalkan untuk menghadapi matahari sore yang silau dan kurang baik bagi kesehatan.
Perbedaan ketinggian lantai diminimalkan agar mudah dilalui kursi roda dan meminimalkan kecelakaan ( terjatuh )
Disetiap unit hunian terdiri dari 6 kamar yang dihuni oleh 2 orang, terdapat 1 ruang tidur perawat untuk 2 orang perawat dilengkapi 1 kamar mandi, perawat ini berganti sift 1X24 jam, perawat bertugas membersihkan ruangan dan membantu penghuni melaksanakan kegiatan tertentu yang tidak dapat dilakukannya sendiri.
Dari ruang tidur ke kamar mandi terdapat pegangan tangan atau ‘handrail’ di sepanjang dinding penghubungnya, hal ini akan sangat membantu lansia, demikian pula pada setiap sisi dinding di dalam kamar mandi tersebut.
Kamar Mandi :
Bahan lantai : keramik yang tidak licin
Kloset duduk ( digunakan juga saat mandi oleh lansia )
Tinggi kloset 60 cm dari lantai
Tinggi bak mandi 80 cm, 45 cm dari lantai diisi semen, 35 cm air. Keran yang digunakan adalah keran putar
Disediakan jalan-jalan terpendek antar unit hunian dengan unit hunian lainnya ataupun unit hunian dengan fasilitas yang ada.
Peletakan massa Tipe Anggrek dan Tipe Mawar berada di pusat kegiatan yaitu di dekat Fountain, Musholla, Ruang makan, Dapur Umum dan Ruang Bersama.
Untuk segi pengawasan agar lansia mudah mencari jalan pulang ke unit huniannya maka peletakan massanya dibuat cluster, sebagai penanda Tipe Mawar adalah adanya sarang burung yang besar, sedangkan Tipe Anggrek adalah adanya menara air yang tinggi.
Jalan-jalan primer dan skunder menggunakan penutup ( atap ) sebagai selasar untuk melindungi pejalan kaki dari hujan ataupun panas. Jalan primer menggunakan bahan fiber sedangkan jalan skunder menggunakan pergola yang ditanami pohon anggur, sehingga selain dapat dijadikan sebagai penghubung antar unit, sebagai tempat duduk-duduk tanpa terkena panas langsung, pergola yang memberi kesan alami ini juga dapat menghasilkan buah anggur untuk dijual.
Ruang makan dipisahkan dengan ruang TV, hal ini untuk menghindari terjadinya tersedak jika para lansia makan sambil menonton TV.
Kelompok Tipe Semi Mandiri (Tipe Melati) didekatkan dengan pos-pos pengawas agar mudah dikontrol.
Jalan penghubung antar bangunan fungsi public dengan unit hunian ( jalan Primer ) berdimensi 3m, hal ini dikarenakan lansia menyukai untuk waktu tertentu, material yang digunakan adalah material conblock yang kasar dan terdapat celah untuk ditumbuhi tanaman yang dapat menyerap air hujan, sehingga jalan tersebut tidak licin, sedangkan untuk jalan skunder dipilih material batu kali pecah. Letak hunian relatif dekat letak fasilitas kesehatan dan kebugaran.
TIPE NON MANDIRI
7) Jumlah penghuni non-mandiri kurang lebih 10% dari total jumlah penghuni, karena itu unit yang disediakan hanya sebanyak 1 unit, ruang tidur sebanyak 4 kamar yang masing-masing dihuni 2 orang.
8) Dimensi kamar dan kamar mandi relative lebih besar karena diperlukan ‘space’ untuk perawat.
9) Ruang makan dan ruang interaksi dibuat dengan ketinggian 1m lebih rendah dari ruangan lainnya dan dibuat ramp, di ruangan tersebut disediakan kursi panjang. 10)View disetiap ruang tidur dioptimalkan untuk mengurangi rasa bosan penghuni
yang 80% waktunya dihabiskan di dalam ruang/kamar untuk menghadap ke taman. 4.4.2. Analisa Jumlah Penghuni
Tidak semua lansia dapat masuk ke dalam elderly house ini mengingat keterbatasan bangunan elderly house yang akan di bangun. Elderly House ini bukan hanya menampung orang-orang yang berusia lanjut tetapi memberikan pelayanan yang sangat baik bagi para lansia , adapun jumlah lansia yang di perkirakan dalam elderly house ini dihitung dengan cara :
GOLONGAN UMUR
LAKI-LAKI PEREMPUAN JUMLAH
JIWA PERSEN (%) JIWA PERSEN (%) JIWA PERSEN (%)
[1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] 0 - 4 89.206 8,62 92.853 8,86 182.059 8,74 5 - 9 96.559 9,33 91.885 8,76 188.444 9,05 10 - 14 98.519 9,52 100.590 9,59 199.109 9,56 16 - 19 111.263 10,75 105.426 10,06 216.689 10,40 20 - 24 116.164 11,23 121.385 11,58 237.549 11,40 25 - 29 99.499 9,62 102.041 9,73 201.540 9,67 30 - 34 83.325 8,05 75.926 7,24 159.251 7,64 35 - 39 75.482 7,30 83.180 7,93 158.662 7,62 40 - 44 70.091 6,77 75.926 7,24 146.017 7,01 45 - 49 57.837 5,59 53.680 5,12 111.517 5,35 50 - 54 47.054 4,55 47.393 4,52 94.447 4,53 55 - 59 30.879 2,98 31.434 3,00 62.313 2,99 60 - 64 26.468 2,56 22.246 2,12 48.714 2,34 65 + 32.350 3,13 44.495 4,24 76.845 3,69 Jumlah 1.034.696 100,00 1.048.460 100,00 2.083.156 100 Sumber : BPS Kota Medan
Keterangan : Angka sementara penduduk pertengahan tahun 2007 • LANSIA WANITA (65 +)
• Tahun 2007 = 44.495 Jiwa
ASUMSI TIAP TAHUNNYA LANSIA MENGALAMI KENAIKAN 1% • Tahun 2008 = 44.495 Jiwa + (44.495 x 1%) = 44.939,9 Jiwa
• Tahun 2009 = 44.939,9 Jiwa + (44.939,9 x 1%) = 45.388,3 Jiwa • Tahun 2010= 45.388,3 Jiwa + (45.388,3 x 1%) = 45.841 Jiwa
Golonan menengah ke atas adalah 21 % dari jumlah PENDUDUK LANSIA Tahun 2010.
• 45.841 x 21 % = 9626.61 Jiwa
Asumsi yang masuk ke ERDERLY HOUSE = 0.5 % dari lansia gol.menengah keatas • 0.5 % x 9626.61 Jiwa = 47 orang
• LANSIA Pria (65 +) • Tahun 2007 = 32.350 Jiwa
ASUMSI TIAP TAHUNNYA LANSIA MENGALAMI KENAIKAN 1% • Tahun 2008 = 32.350 Jiwa + (32.350 x 1%) = 32.673,5 Jiwa
• Tahun 2009 = 32.673,5 Jiwa + (32.673,5 x 1%) =33.000,2 Jiwa • Tahun 2010 = 33.000,2 Jiwa + (33.000,2 x 1%) = 33.330 Jiwa
• LANSIA PRIA PADA TAHUN 2010 = 33.330 JIWA
Golonan menengah ke atas adalah 21 % dari jumlah PENDUDUK LANSIA Tahun 2010.
21 % x 33.330 =6.999 Jiwa
• Asumsi yang masuk ke ERDERLY HOUSE = 0.5 % 0.5% x 6.999 Jiwa = 35 orang
Total Lansia Pria dan Wanita tahun 2010 yang masuk ke E. House : 35 orang lansia pria + 47 orang lansia wanita = 82 orang
Dalam kasus ini saya tidak bisa menampung semua dan kapasitas Ederly House ini diasumsikan diperuntukkan untuk : 60 orang
% untuk Lansia Pria = 100% 42% 82 35 = x 60 26 100 42 = = x Pria
% untuk Lansia Wanita 100% 57% 82 47 = = x 60 34 100 57 = = x Wanita
Kesimpulan : Jumlah elderly pada Elderly House ini adalah 60 orang dengan rincian
elderly wanita 34 orang dan elderly pria 26 orang. Total Elderly = 60 orang dengan rincian
Tipe Mandiri : 20 Orang Tipe Semi Mandiri : 30 Orang Tipe Non Mandiri : 10 Orang