• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Aktivitas Harian

5.4.4 Tipe postur gantung

Tipe postur gantung memiliki persentase sebesar 14,60% - 22,96% dari seluruh tipe postur yang dilakukan owa jawa selama aktivitas harian. Tipe postur menggantung sering kali terlihat dilakukan owa jawa ketika aktivitas makan, istirahat dan sosial. Pada saat aktivitas makan, owa jawa diduga melakukan aktivitas postur menggantung agar memudahkan owa jawa dalam mengambil pakan baik dalam posisi yang terdekat maupun tersulit. Selain itu, postur menggantung dilakukan sebagai penyesuaian terhadap keberadaan pakan di ujung tajuk yang hanya terdapat ranting-ranting pohon. Owa jawa melakukan postur menggantung dengan kondisi tungkai depan baik satu maupun keduanya berpegangan pada ranting atau cabang pohon dengan tungkai belakang tanpa pijakan. Kondisi postur menggantung akan mempermudah owa jawa menggerakan tungkai belakang dalam menggapai daun-daun dekat sumber pakan sehingga memudahkan tungkai depan menjangkau pakan tersebut. Postur menggantung mudah dilakukan owa jawa karena kondisi tungkai depan yang lebih panjang. Alokasi waktu harian untuk lokomotor dan postur kedua kelompok studi owa jawa dapat dilihat pada Tabel 6.

Gambar 13 Persentase postur per aktivitas owa jawa.

0% 20% 40% 60% 80% 100% Makan Istirahat Sosial Makan Istirahat Sosial Makan Istirahat Sosial Makan Istirahat Sosial Jan tan B etin a Jan tan B etin a Kelo m p o k A Kelo m p o k B Duduk Berdiri Berbaring gantung

Tabel 6 Alokasi waktu harian untuk lokomotor dan postur kedua kelompok studi owa jawa di Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Tipe Aktivitas

Kelompok A Kelompok B

Jantan dewasa Betina Dewasa Jantan dewasa Betina Dewasa Anak % Durasi (jam) % Durasi (jam) % Durasi (jam) % Durasi (jam) % Durasi (jam) Lokomotor Bipedalism 17,7 0,3 28,8 1,2 16,6 0,8 18,2 0,7 21,4 1,3 Melompat 15,0 0,3 15,0 0,6 14,2 0,7 17,4 0,7 19,4 1,2 Memanjat 2,7 0,1 10,1 0,4 7,4 0,4 3,9 0,2 0,9 0,1 Berayun 64,6 1,3 46,1 1,8 61,8 3,1 60,6 2,4 58,4 3,5 Total 100 2 100 4 100 5 100 4 100 6 Postur Duduk 84,1 10,9 72,8 8,7 79,3 13,1 75,2 12,8 61,8 4,9 Berdiri 0,5 0,1 0,9 0,1 0,3 0,1 1,6 0,3 1,0 0,1 Berbaring 0,8 0,1 4,4 0,5 1,1 0,2 0,3 0,1 2,8 0,2 gantung 14,6 1,9 21,9 2,6 19,3 3,2 23,0 3,9 34,5 2,8 Total 100 13 100 12 100 16.5 100 17 100 8

Frekuensi dan durasi dari setiap tipe lokomotor dan postur yang dilakukan kedua kelompok studi owa jawa memiliki hubungan yang berbanding lurus. Tipe lokomotor dan postur dengan frekuensi besar maka durasi atau lamanya waktu setiap tipe lokomotor dan postur yang dilakukan owa jawa juga besar. Tipe lokomotor yang memiliki frekuensi dan durasi terbesar pada kelompok A secara berturut-turut yaitu tipe lokomotor berayun dan postur duduk sebesar 46,07 – 64,60% dan 72,78 – 84,12% serta 1,29 – 1,84 jam dan 8,73 – 10,90 jam. Sedangkan pada kelompok B frekuensi dan durasi terbedar secara berturut-turut yaitu tipe aktivitas beristirahat sebesar 58,38 – 61,82 % dan 75,17 – 79,33% serta 2,42 – 3,50 jam dan 4,94 – 13,10 jam.

5. 5 Deskripsi Lokomotor dan Postur Setiap Aktivitas Harian 5. 5.1 Aktivitas berpindah

Aktivitas berpindah (traveling) merupakan aktivitas berpindah dari satu pohon ke pohon lain dengan tujuan untuk mencari sumber pakan, cover dan

shelter serta menghindari bahaya dari predator. Aktivitas berpindah memiliki

perentase sebesar 14% dari seluruh aktivitas utama yang dilakukan owa jawa. Lokomotor yang dilakukan owa jawa selama aktivitas traveling dari frekuensi terbesar berturut-turut yaitu brakhiasi (49,71% - 67%), melompat (16,23% - 21,62%), Berjalan secara bipedal (13,09% - 22,54%) , dan memanjat (0% - 8,67%) (Gambar 11).

Pada saat aktivitas traveling, tipe lokomotor brakhiasi merupakan tipe lokomotor dominan yang dilakukan Owa jawa sedangkan tipe lokomotor melompat (leaping) dilakukan untuk menyebrangi jarak antar pohon yang lebih lebar. Canon dan Leighton (1994) menyatakan bahwa kelompok Owa (Hylobatidae) dominan melakukan tipe lokomotor brakhiasi pada setiap aktivitas bergeraknya dengan dukungan cabang dan ranting dan melakukan tipe lokomotor melompat ketika tajuk yang akan diseberangi berada cukup jauh.

Pada saat melakukan aktivitas bergerak, owa jawa sering kali mengkombinasikan tipe-tipe lokomotor. Contohnya, owa jawa menggunakan kombinasi tipe lokomotor bipedal yang biasanya dilakukan pada cabang dan ranting pohon yang besar dan datar untuk mengawali aktivitas bergeraknya yang kemudian dilanjutkan dengan melompat untuk menjangkau cabang pohon yang ditujunya karena jarak yang cukup lebar dan diakhiri dengan berayun hingga sampai pada posisi yang dituju. Kombinasi tipe lokomotor tersebut bervariasi dalam setiap aktivitas berpindah.

Variasi kombinasi tipe lokomotor tersebut seperti :  Melompat → berayun

 Duduk (ancang-ancang) → melompat

 Berayun → berayun (tajuk pohon berdekatan satu sama lain)  Berayun → melompat → berayun (tipe terbang)

 Berayun → melompat → berayun → bipedal  Bipedal → melompat → berayun .

Kombinasi tipe dan kelajuan lokomotor yang dilakukan owa jawa dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari individu owa itu sendiri seperti kesehatan owa jawa. Sedangkan faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar seperti jarak antar pohon, ketersediaan pakan, cuaca, suhu, kondisi arsitektur pohon dan profil pohon serta gangguan baik dari kelompok owa jawa lain maupun dari predator.

5. 5.2 Aktivitas makan

Menurut Kappeler (1984), pakan owa jawa terdiri dari buah, daun, kuncup bunga, serangga dan madu. Owa jawa termasuk suku Hylobatidae yang merupakan primata frugivora dengan kompisi pakan utama adalah buah-buahan masak yang juga diselingi dengan memakan daun, bunga, serangga dan madu. Owa jawa mendapatkan asupan air mineral dari buah masak yang dimakan dan dari air yang terdapat di atas daun serta lubang-lubang batang pohon dengan menyusupkan telapak tangan kemudian meminum air yang berada di telapak tangan. Aktivitas makan memiliki proporsi persentase sebesar 34% dari seluruh aktivitas harian utama yang dilakukan owa jawa.

Pada dasarnya satwa akan memilih makanan yang banyak mengandung nutrisi. Satwa biasanya tidak akan memilih makanan yang mengandung bahan penyusun yang relatif sukar dicerna dan mengandung komponen sekunder seperti tannin dan felonik yang bersifat mengikat nutrisi dan mengandung racun yang berbahaya (Dunbar 1988 diacu dalam Nurcahyo 1999). Persentase makan daun lebih kecil dibandingkan makan buah kemungkinan karena owa jawa mengalami kesulitan untuk mencerna kandungan serat daun, seperti yang dinyatakan oleh (Gittin & Raemackers 1980) diacu dalam (Nurcahyo 1999) bahwa untuk mengekstrasi daun tua dibutuhkan banyak energi yang diperlukan adanya fermentase oleh organisme simbiosis di dalam usus untuk memecah serat menjadi karbohidrat. Terkait dengan pola makan satwa frugivorous, Fleagle (1988) menyatakan bahwa sebagai satwa frugivorous, kelompok Hylobates mempunyai sistem pencernaan monogastrik, sehingga tidak mampu mencerna sumber pakan dengan kandungan serat yang tinggi.

Cara makan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu makan sambil melakukan pergerakan dan makan tanpa melakukan aktivitas lainnya (stationer). Kedua cara makan tersebut dilakukan secara bergantian dan kadang – kadang diselingi oleh aktivitas lainnya. Cara makan dengan melakukan pergerakan dimaksudkan bahwa terkadang owa melakukan aktivitas lain selama aktivitas makan seperti aktivitas bermain antara individu dewasa dengan bayi (infant), istirahat sejenak bahkan aktivitas bersuara. Sedangkan, cara makan tanpa melakukan aktivitas lainnya dimaksudkan bahwa owa selama aktivitas makan hanya pada posisi duduk, berdiri dan bergelantungan tanpa melakukan aktivitas lain kecuali bergerak untuk kembali mengambil pakan.

Pergerakan (lokomotor) yang dilakukan owa jawa selama aktivitas makan yaitu berjalan secara bipedal dan quadropedal, melompat, memanjat, dan brakhiasi. Lokomotor yang dilakukan owa jawa selama aktivitas makan dari frekuensi terbesar berturut-turut yaitu brakhiasi (46,67% - 60%), berjalan secara bipedal (22,22% - 30%), memanjat (10% - 16,22%) dan melompat (0 – 7,94%) (Gambar 11).

Tipe lokomotor brakhiasi memiliki frekuensi terbesar dari tipe lokomotor lainnya karena tipe lokomotor ini selain karena ukuran tungkai depan nya yang panjang juga untuk memudahkan owa jawa bergerak melalui ranting-ranting pohon untuk mencapai pakan yang sulit dicapai. Tipe lokomotor berjalan secara bipedal dilakukan owa jawa apabila sumber pakan mudah dicapai hanya dengan berjalan diatas cabang pohon yang cenderung datar dan horizontal. Selain itu, tipe lokomotor berjalan secara bipedal juga dilakukan setelah owa jawa mendapat pakannya kemudian memilih posisi duduk untuk memakan pakan tersebut. Tipe lokomotor memanjat secara vertical baik ke atas maupun ke bawah dilakukan owa jawa ketika pakan yang akan dicapai berada pada posisi diatas tajuk atau pada batang pohon utama (buah dan daun liana), sedangkan tipe lokomotor melompat dilakukan ketika pakan yang akan dicapai berada jauh di bawah posisi awal sehingga memudahkan dan mempercepat owa menggapai pakan tersebut. Selain itu, tipe lokomotor melompat dilakukan ketika pakan yang akan dicapai berada pada pohon pakan disekitar pohon dimana posisi awal owa berada. Sehingga tipe

lokomotor yang dilakukan owa jawa selama aktivitas makan dipengaruhi oleh kondisi dan keberadaan pakan pada pohon pakan.

Postur makan owa jawa yaitu duduk, berdiri dan bergelantungan. owa menggunakan kedua tangannya untuk mengambil makanan. Secara owa memeriksa makanannya terlebih dahulu dengan cara mencium - cium dan mencicipi makanannya sebelum dimasukkan kedalam mulut. Apabila buah yang diambil belum matang maka owa akan memakan sebagian dan kemudian membuang buah tersebut. Frekuensi tipe postur yang dilakukan owa jawa selama aktivitas makan dari yang terbesar sampai yang terkecil secara berturut-turut yaitu duduk sebesar 47,37% - 70,14% , bergelantungan 28% - 50,88% dan berdiri sebesar 0,53% - 3,40% (Gambar 13) .

Postur duduk merupakan tipe postur dengan frekuensi terbesar selama melakukan aktivitas makan. Persentase duduk yang besar mungkin dilakukan untuk memberi kesempatan lambung memfermentasikan makanan dalam pencernaan (Bismark 1986 diacu dalam Nurcahyo 1999).

(a) (b)

Gambar 14 Postur aktivitas makan (a) menggantung, (b) duduk. 5. 5.3 Aktivitas istirahat

Aktivitas istirahat merupakan aktivitas diam dalam selang waktu tertentu tidak melakukan aktivitas apapun (istirahat). Menurut Iskandar (2007), masa istirahat biasanya dilakukan karena beberapa alasan, yaitu untuk memberi kesempatan terjadinya proses fisiologis mencerna pakan yang dikonsumsi, dan kondisi cuaca yang tidak menguntungkan, seperti saat panas matahari pada siang

hari atau saat turun hujan. Aktivitas Istirahat memiliki proporsi persentase sebesar 48 % yang merupakan persentase terbesar dari seluruh aktivitas harian utama yang dilakukan owa jawa. Menurut Leighton (1987), aktivitas istirahat owa jawa di alam dilakukan diantara waktu periode aktifnya dengan proporsi waktu untuk istirahat sekitar 20 – 51%.

Aktivitas istirahat owa jawa dibagi kedalam dua kategori yaitu istirahat panjang atau tidur dan istirahat pendek dengan indikasi bahwa owa jawa tidak melakukan aktivitas lain selama 10 menit atau lebih dan kembali melanjutkan aktivitas setelahnya (Sutrisno 2001). Istirahat pendek dilakukan owa jawa pada siang hari yaitu antara pukul 11.00 – 12.30 WIB dan sore hari ketika akan menuju pohon tidur pada pukul 16.00 – 17.00 WIB dengan durasi waktu istirahat antara 10 menit sampai dengan 1 jam. Istirahat pendek dapat dilakukan dengan posisi tubuh (postur) duduk, berbaring dan menggantung. Proporsi persentase postur owa jawa pada saat aktivitas istirahat dari yang terbesar secara berturu-turut yaitu sebagai berikut duduk (88,06% - 95,23%) , menggantung (4,20% - 8,11%) dan berbaring (0,00% - 3,60%) (Gambar 13).

Posisi duduk owa jawa pada saat aktivitas istirahat merupakan postur terbesar yang sering terlihat selama waktu pengamatan. Pada posisi duduk biasanya owa jawa melakukan autogrooming dengan menggaruk-garuk beberapa bagian tubuhnya seperti rambut wajah, tungkai depan dan belakang serta perut. Postur duduk owa jawa biasanya teramati dengan bagian punggung bersandar pada batang atau cabang pohon dengan tungkai depan memegang ranting didepannya sedangkan kondisi tungkai belakang ditekuk tajam. Betina dewasa dalam masa menyusui biasanya melakukan aktivitas istirahat duduk dengan bayi berada dalam pangkuannya. Posisi tersebut memungkinkan betina dewasa menyusui bayi tersebut.

Pergerakan yang dilakukan owa jawa pada saat aktivitas istirahat dengan batasan owa jawa melakukan pergerakan pada selang owa jawa tidak melakukan aktivitas apapun yang biasanya owa jawa berpindah dari satu titik posisi ke titik posisi lain kemudian melanjutkan aktivitas istirahat (diam) dalam satu pohon. Tipe pergerakan yang dilakukan owa jawa pada saat aktivitas istirahat yaitu tipe pergerakan brakhiasi, berjalan secara bipedal,memanjat dan melompat. Proporsi

persentase lokomotor owa jawa pada saat aktivitas istirahat dari yang terbesar secara berturut-turut yaitu sebagai berikut brakhiasi (32,65% - 59,46%) , berjalan secara bipedal (17,65% - 46,94%), memanjat (5,41% - 17,65%) dan melompat (0,00% - 14,71%) (Gambar 11).

Aktivitas istirahat panjang (tidur) pada dua group studi penelitian berbeda baik dalam pola waktu aktivitas maupun durasi waktu. Kelompok A biasanya melakukan aktivitas istirahat panjang pada pukul 16.00 – 17.00 WIB sedangkan kelompok B pada pukul 17.00 – 18.00 WIB. Durasi waktu aktivitas istirahat panjang (tidur) kelompok A lebih panjang daripada kelompok B.

Pada saat melakukan aktivitas istirahat baik tipe istirahat pendek maupun tipe istirahat panjang (tidur) sebagian besar dilakukan pada kanopi tengah dengan kondisi tajuk tertutup. Pada saat istirahat pendek hal tersebut diduga agar owa jawa dapat terlindung dari sengatan matahari dan air hujan sedangkan pada istirahat panjang (tidur) agar owa jawa dapat terhindar dari angin kencang dan bahaya predator.

(a) (b)

Gambar 15 Postur aktivitas istirahat (a) duduk jantan dewasa, (b) duduk anakan.

5. 5.4 Aktivitas sosial

Menurut Soeratmo (1979), hubungan sosial secara umum dapat dikategorikan menjadi dua yaitu hubungan sosial satwa dalam spesies yang sama (intraspesific relationship) dan hubungan sosial satwa dalam spesies yang berbeda (interspesific relationship). Kedua jenis hubungan sosial tersebut dapat terjadi pada kelompok satwa karena terdapat bentuk-bentuk komunikasi antar anggota kelompok. Kemampuan berkomunikasi pada satwa dipengaruhi oleh tanda dapat

dikirim tiap individu dan kemudian individu lain menangkap atau menerima tanda tersebut.

Aktivitas sosial memiliki proporsi persentase sebesar 3,64% dari seluruh aktivitas harian utama yang dilakukan owa jawa. Aktivitas sosial yang berhasil diamati pada dua kelompok studi owa jawa yaitu aktivitas bermain, berkutu-kutuan, berkelahi, kopulasi dan bersuara. Aktivitas berkutu-kutuan (grooming) merupakan tipe aktivitas sosial yang sering terlimat selama waktu pengamatan. Terdapat beberapa aktivitas sosial owa jawa yang dilakukan untuk memperkuat interaksi baik antar individu maupun kelompok yaitu sebagai berikut :

1. Bermain (playing)

Aktivitas bermain biasanya dilakukan oleh individu muda (anakan dan bayi). Tipe perilaku sosial bermain biasanya berupa pergerakan bergulat antar dua individu, saling kejar-kejaran, dewasa memegang tungkai belakang anakan dan berayun dari satu cabang pohon ke cabang pohon lain. Persentase perilaku sosial bermain yang dilakukan kelompok owa jawa yaitu sebesar 0,54% .

2. Berkelahi (agonistic)

Perilaku agonistik merupakan perilaku sosial antar kelompok dengan tujuan umum untuk memperebutkan wilayah teritori dan sumber pakan yang ada yang biasanya terjadi pada wilayah overlap teritori antar kelompok. Perilaku ini biasanya berlangsung dengan durasi yang cukup lama. Persentase perilaku sosial agonistik yang dilakukan kelompok owa jawa yaitu sebesar 0,98% .

3. Berkutu-kutuan (grooming)

Menelisik (grooming) adalah kegiatan mencari dan mengambil kotoran atau parasit dari permukaan kulit dan rambut. Menelisik memiliki fungsi ganda yaitu fungsi kesehatan dan fungsi sosial. Bagi primata, menelisik merupakan bentuk komunikasi yaitu komunikasi dengan sentuhan (Napier dan Napier 1985). Menelisik yang termasuk ke dalam aktivitas sosial yaitu tipe menelisik berpasangan (allogrooming). Pada allogrooming terdapat peran sebagai pelaku dan penerima selisik, peran tersebut dapat berubah setiap saat dan dapat ditukar. Betina biasanya lebih sering menelisik anaknya karena hubungan kekerabatan yang kuat antara ibu dan anak. Ikatan sosial yang kuat antara betina meningkatkan frekuensi menelisik (Cooper dan Bernstein diacu dalam Nugraha 2006).

Berdasarkan hasil pengamatan, aktivitas sosial menelisik dilakukan dengan postur duduk dan berbaring. Frekuensi postur duduk lebih dominan dan sering dilakukan pelaku dan penerima selisik. Aktivitas ini memiliki persentase sebesar 1,76%.

Gambar 16 Postur allogrooming jantan dan betina dewasa.

4. Bersuara (calling)

Aktivitas bersuara pada owa jawa merupakan salah satu cara berkomunikasi yang berfungsi untuk menyatakan lokasi keberadaan satu kelompok kepada kelompok lain dengan jarak yang berdekatan agar menjauh, hal ini berkaitan dengan usaha menghindari konflik atau kontak langsung antar kelompok. Selain itu, aktivitas bersuara merupakan tanda kepemilikan suatu sumber pakan yang tersedia.

Pada kelompok studi, total suara yang diperoleh adalah sebanyak 3 suara selama satu bulan pengamatan dengan persentase sebesar 0,2% dari seluruh total aktivitas harian owa jawa. Selama waktu pengamatan, kelompok studi owa jawa jarang mengeluarkan suara meskipun pada saat perilaku agonistik dengan kelompok lain. Frekuensi bersuara kelompok B adalah sebanyak 2 kali selama waktu pengamatan sedangkan kelompok A adalah sebanyak satu kali selama pengamatan. Postur owa jawa ketika melakukan aktivitas bersuara cenderung dalam sikap tubuh duduk.

Kondisi ini berbeda dengan hasil penelitian Oktaviani (2007) yang menyatakan bahwa dalam satu hari pengamatan owa jawa kelompok A lebih sering mengeluarkan suara dibandingkan dengan kelompok B dengan frekuensi bersuara tertinggi dalam satu hari bisa mencapai 3 – 4 kali. Hal tersebut diduga bahwa selain jumlah komposisi kelompok studi yang berbeda juga karena kondisi

habitat yang sudah berubah. Chivers (1980) dalam Oktaviani (2007) menyatakan bahwa adanya gangguan dari faktor luar seperti pembalakan akan berdampak terhadap intensitas perilaku bersuara owa jawa yang akan semakin jarang dilakukan. Persentase perilaku sosial bersuara yang dilakukan kelompok Owa Jawa yaitu sebesar 0,27% .

5. Kawin (mating)

Perilaku seksual (mating behavior) pada kelompok studi hanya ditemukan pada kelompok B dengan frekuensi sebanyak 2 kali selama waktu sebulan pengamatan. Persentase perilaku kawin yaitu sebesar 0,025% dari seluruh aktivitas harian. Perilaku ini biasanya diawali dengan betina dewasa bergerak kedepan jantan dewasa kemudian duduk memunggungi jantan dewasa dengan kedua tungkai depan menempel pada ranting dan mencondongkan bokongnya ke belakang. Kemudian, jantan dewasa bergerak menghadap punggung betina dewasa dan terjadilah kopulasi. Durasi perilaku kawin tidak lama hanya berkisar selama 5 – 10 detik. Persentase perilaku sosial kawin yang dilakukan kelompok owa jawa yaitu sebesar 0,09% .

5. 6 Karakteristik dan Profil Pohon Pendukung Lokomotor dan Postur Owa jawa merupakan primata Hylobatidae yang hidup arboreal dengan pergerakan unik yaitu berayun dari satu pohon ke pohon lainnya (Chivers 1984, Leighton 1987). Oleh sebab itu, kehidupan owa jawa sangat tergantung dengan keberadaan pohon-pohon yang membentuk habitatnya terutama dalam pendukung lokomotor dan postur.

Posisi H. moloch dalam strata tajuk pohon terbagi menjadi lima yaitu strata A, B, C, D dan E. Secara umum, strata tajuk yang digunakan oleh kelompok

H. moloch adalah strata A, B, dan C. Urutan strata tajuk yang banyak digunakan H. moloch untuk beraktivitas adalah strata B, A dan C. Urutan penggunaan strata

tajuk pada saat aktivitas makan kelompok B menempati strata A dan B sedangkan kelompok A menempati strata tajuk A, B, dan C. Kelompok A terutama individu jantan dewasa sering kali terlihat melakukan aktivitas makan pada bimbin suku Palmae yang memiliki strata tajuk C. Urutan strata tajuk yang digunakan owa jawa untuk aktivitas lokomosi adalah strata tajuk B, A dan C. Berdasarkan hasil pengamatan, dalam keadaan normal (tidak terganggu) owa jawa bergerak secara

perlahan dalam strata tajuk C sampai A. Kelompok A dan B cenderung menggunakan strata tajuk B dalam pergerakan nya.

Jenis-jenis pohon yang terdapat dalam plot sampling diantaranya puspa (Schima wallichii), pasang (Quercus sp), Rasamala (Altingia excels), Suren (Toona sureni) dan lainnya (Tabel 7). Terdapat empat belas famili yang teridentifikasi yaitu Cornaceae, Cunoniaceae, Euphorbiaceae, Fagaceae, Hamamelidaceae, Lauraceae, Melastomaceae, Meliaceae, Moraceae, Myrtaceae, Rosaceae, Sapindaceae, Theaceae dan Tiliaceae (Gambar 17). Jumlah individu dengan spesies yang termasuk kedalam famili Fagaceae dan Theaceae yaitu sebanyak delapan individu merupakan famili yang sering ditemukan dalam plot pengamatan kedua kelompok studi.

Gambar 17 Komposisi famili pohon pedukung lokomotor dan postur.

Berdasarkan analisis profil vegetasi bahwa jenis vegetasi yang mendominasi pada habitat owa jawa di Citalahab adalah puspa (Schima wallichii) . Oleh karena itu sebagai jenis dominan mempunyai peran yang besar dalam komunitas hutan habitat owa jawa Citalahab. Pohon-pohon yang digunakan owa jawa untuk perilaku lokomotor dan postur diklasifikasikan menjadi 14 famili dengan 8 famili dominan.

Owa jawa baik kelompok A maupun kelompok B melakukan lokomotor dan postur hampir di seluruh pohon yang terdapat dalam wilayah jelajah

masing-0 2 4 6 8 10 C o rn ac ea ae C u n o n iace ae E u p h o rb iace ae Fag ac ea e Ham am elid ac ea e L au rac ea e Me las to m at ac ea e Me liace ae Mo rac ea e My rtace ae R o sac ea e Sap in d ac ea e T h ea ce ae T iliacea e J um la h Famili Jumlah pohon

masing kelompok. Lokomotor mengGambarkan pergerakan (moving) sedangkan postur mengGambarkan posisional (stay) sehingga pohon – pohon yang digunakan untuk kedua aktivitas tersebut dapat dibedakan. lokomotor baik dalam satu pohon maupun dari satu pohon ke pohon lainnya membutuhkan kerapatan tajuk dan percabangan antar pohon yang rapat sehingga seluruh pohon yang terdapat dalam wilayah jelajah sangat penting untuk mendukung seluruh pergerakan owa jawa. Sedangkan owa jawa cenderung berdiam dengan tipe postur pada satu pohon tertentu tergantung aktivitas yang biasanya dilakukan pada pohon pakan (sumber pakan dan tempat makan), pohon istirahat (pendek dan panjang) selama aktivitas harian.

Tabel 7 Jenis-jenis pohon pendukung lokomotor dan postur dalam plot contoh

No Nama Lokal Nama Ilmiah Family L P ∑ Ket

1 Jeret Mastixia trichotoma Cornaceaae √ - 2 J

2 Kopi dengkung (pa) Nyssa javanica Cornaceaae √ √ 1 S

3 Kimerak Weinmannia blumei Cunoniaceae √ - 1 J

4 Burunungul (pa) Bridelia glauca Euphorbiaceae √ √ 2 S

5 Kihuut Glochidion molle Euphorbiaceae √ - 1 CS

6 Marabangkong Macaranga tanarius Euphorbiaceae √ - 1 HS

7 Kihiur (pa) Castanopsis javanica Fagaceae √ √ 2 S

8 Pasang Quercus sp Fagaceae √ √ 2 CS

9 Pasang Batarua Lithocarpus indutus Fagaceae √ √ 2 CS

10 Pasang Kalapa Lithocarpus Fagaceae √ √ 1 CS

11 Pasang Kayang Quercus pseudo-molucca Fagaceae √ - 1 S 12 Rasamala (T) Altingia excelsa Hamamelidaceae √ √ 4 S

13 Huru Tales Phoeba grandis Lauraceae √ - 1 J

14 Ipis Kulit (pa) Pternandra azurea Melastomataceae √ √ 3 S 15 Kikawat Memecylon garcinioides Melastomataceae √ - 1 CS

16 Kihaji (pa) Dysoxylum parasiticum Meliaceae √ √ 3 CS

17 Beunying (pa) Ficus fistulosa Moraceae √ √ 2 S

18 Kisigung Ficus recurva Moraceae √ √ 1 S

19 Suren (pa) Toona sureni Moraceae √ √ 2 CS

20 Kopo (pa) Eugenia opaca Myrtaceae √ √ 1 CS

21 Kawoyan (pa) Prunus arborea Rosaceae √ √ 1 S

22 Kibayawak Guioa diplopetala Sapindaceae √ - 1 J

23 Puspa (pa) Schima wallichii Theaceae √ √ 8 CS

24 Kiterong (pa) Schoutenia kunstleri Tiliaceae √ √ 3 S

Ket: (√) pohon lokomotor dan postur, (P) Postur, (L) Lokomotor, (∑) jumlah pohon, (Pa) pohon pakan, (T) Pohon tidur, (SS) Sangat sering, (S) Sering, (CS) Cukup sering, (J)

Dominansi berdasarkan penutupan atau luasan suatu pohon atau tumbuhan dapat diamati dari analisis profil pohon. Profil vegetasi juga dapat digunakan untuk memperkirakan perubahan komposisi jenis pohon pada suatu wilayah pada saat yang akan datang. Proyeksi pohon pendukung lokomotor dan postur Owa Jawa secara vertikal serta horizontal dapat dilihat (Gambar 18).

Keterangan : 1. Quercus Sp 2. Lithocarpus 3. Eugenia opaca 4. Bridelia glauca 5. Sterculia rubiginosa 6. Dysoxylum parasiticum 7. Mastixia trichotoma 8. Phoeba grandis 9. Syzygium gracile 10. Pygeum latifolium 11. Toona sureni 12. Quercus pseudo-molucca 13. Schoutenia kunstleri

Tabel 8 Tabel penutupan tajuk pada plot sampel

Dokumen terkait