• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERENCANAAN MACRO OUTDOOR BASE TRANSCEIVER

3.5 Tipe Propagasi

Model propagasi yang akan digunakan yaitu model propagasi SUI (Stanford University Interm) model propagasi ini merupakan model yang direkomendasikan untuk standar IEEE 802.16a, model ini sangat cocok diterapkan di Indonesia yang mempunyai tipe demografi urban dan sub urban dengan tinggi base station antara 10-80 m dan jarak sel 0,1 – 10 km.

Model ini dibagi menjadi tiga kategori:

1. Kategori A-Hilly/moderate to heavy tree density(urban)

Tipe ini berasosiasi dengan pathloss terbesar yaitu perbukitan dengan densitas pepohonan tinggi.

2. Kategori B-Hilly/light tree density or flat/moderato to heavy tree density/intermediate(suburban)

Tipe ini merupakan asosiasi pathloss pertengahan yaitu dengan terrain dan densitas pepohonan antara A dan C.

3. Kategori C-flat/light tree density (rural)

Tipe ini berasosiasi dengan pathloss terkecil yaitu terrain rata dengan pepohonan jarang.

Persamaan model propagasi SUI adalah [17]:

(3.1)

A = Free Space loss di d0

(3.2)

λ = Panjang gelombang d= 100 m (jarak referensi) γ = path loss exponent

(3.3)

a,b,c = konstanta yang menunjukkan kategori terrain hb= tinggi base station

d = jarak antara base station dan subscriber station (m) Xf= Faktor koreksi frekuensi

f dalam MHz (3.4)

= Faktor koreksi tinggi antena penerima

(terrain a dan b) (3.5)

(terrain c) (3.6)

hCPE = tinggi antena penerima

s = peubah acak yang terdistribusi secara lognormal sebagai representasi shadowing oleh pohon atau bangunan yang harganya antara 8,2 dB untuk

parameter A, 9,4 dB untuk parameter B, dan 10,6dB untuk parameter C tergantung tipe terrain.

Nilai a, b, c adalah daerah yang akan dilayani berdasarkan tipe pepohonan/bangunan yang ada di daerah tersebut. Adapun nilai a, b, c dapat dilihat dalam Tabel 3.2 [17].

Tabel 3.2 ModelParameter

Model Parameter Tipe A (Heavy Multipath) Tipe B (Intermediate Multipath) Tipe C (few multipath) a 4.6 4 3.6 b 0.0075 0.0065 0.005 c 12.6 17.1 20

 

BAB IV

ANALISIS PERBANDINGAN BTS MICROWAVE DENGAN

BTS FIBER OPTIC

4.1 Perhitungan Pathloss dengan Variasi Parameter Tinggi BS

Pada sub bab ini, Perhitungan Pathloss dilakukan dengan memvariasikan tinggi Base Station, sedangkan parameter yang lain konstan. Tinggi Base Station adalah antara antara 10 meter sampai 80 meter.

Frekuensi ditetapkan sebesar 900MHz, sedangkan untuk parameter jarak antara BTS dengan terminal yang digunakan, ditetapkan sebesar 2500 meter. Dengan menjumlahkan nilai S yaitu peubah acak yang terdistribusi secara lognormal sebagai representasi shadowing oleh pohon atau bangunan yang harganya antara 8,2 dB-10,6 dB tergantung tipe terrain. Nilai peubah acak (S) nilai nya bervariasi mengikuti parameter yang ada.

Berikut penjabaran bagimana cara mencari nilai Pathloss untuk parameter A dengan ketinggian 30 m.

Pertama-tama dicari nilai λ yaitu λ = c / f

dimasukkan nilai c = 3 x 108 m/s f = 900Mhz

λ = = 0.33333

= 71.5222

nilai γ dapat dihitung dengan menggunakan rumus (3.3)

γ =   = 4.615 

selanjutnya nilai Xf dapat dihitung dengan rumus (3.4)

Xf = = -1.94707

Nilai XhCPE dapat dicari dengan rumus (3.5)

XhCPE = -10.8 = -3.25112

Nilai pathloss dapat dicari dengan persamaan (3.1)

x 5.785 x log -1.94707 -3.25112+10.6 = 143.9553 dB 

Penjabaran Pathloss untuk parameter B dengan ketinggian 30m Pertama-tama kita cari nilai λ yaitu

λ = c / f

dimasukkan nilai c = 3 x 108 m/s f = 900Mhz

λ = = 0.33333

selanjutnya dicari nilai A dengan persamaan (3.2) = 71.5222

nilai γ dapat dihitung dengan menggunakan rumus (3.3)

γ =   =  4.1675 

selanjutnya nilai Xf dapat dihitung dengan rumus (3.4)

Xf = = -1.94707

Nilai XhCPE dapat dicari dengan rumus (3.5)

XhCPE = -10.8 = -3.25112

Nilai pathloss dapat dicari dengan persamaan (3.1)

x 5.645 x log -1.94707 -3.25112+9.4= 138.0839 dB  

Penjabaran Pathloss untuk parameter C dengan ketinggian 30m Pertama-tama cari nilai λ yaitu

λ = c / f

dimasukkan nilai c = 3 x 108 m/s f = 900Mhz

λ = = 0.33333

selanjutnya dicari nilai A dengan persamaan (3.2) = 71.5222

nilai γ dapat dihitung dengan menggunakan rumus (3.3) γ =   =  3.9 

selanjutnya nilai Xf dapat dihitung dengan rumus (3.4)

Xf = = -1.94707

Nilai XhCPE dapat dicari dengan rumus (3.6)

XhCPE = -20 = -6.0206

Nilai pathloss dapat dicari dengan persamaan (3.1)

x 5.55 x log -1.94707 -6.0206+8.2= 131.7031dB 

Untuk perhitungan ketinggian 40-80 meter dilakukan pengulangan terhadap rumus dengan mengubah tinggi antena BTS maka didapatkanlah tabel hasil perhitungan

pathloss untuk parameter A, parameter B, dan parameter C seperti dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Hasil Hasil Perhitungan Pathloss dengan Variasi Parameter Tinggi BTS Microwave Tinggi BTS (m)  PLA (dB)  PLB (dB)  PLC (dB)  30  143.9553 138.0839 131.7031  40  141.439  135.1832 128.6742  50  139.5098 133.0793 126.5773  60  137.8742 131.3738 124.9464  70  136.4064 129.896  123.5817  80  135.0434 128.5604 122.3835 

Jika hasil perhitungan Pathloss pada ketiga tipe Terrain tersebut di plot ke dalam grafik dengan menggunakan excel, maka akan didapatkan grafik seperti Gambar 4.1. Dari grafik pada Gambar 4.1 dapat terlihat bahwa tinggi Base Station dan Pathloss berbanding terbalik secara eksponensial. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi Base Station yang digunakan maka Pathloss akan semakin

Gambar 4.1 Hasil Perhitungan Pathloss dengan Variasi Parameter Tinggi BTS Microwave

Dari hasil perbandingan Tinggi BS dan Pathloss antara Terrain tipe A, tipe B, dan tipe C, maka dapat disimpulkan bahwa Pathloss untuk Terrain tipe A lebih besar daripada Pathloss untuk tipe B, dan Pathloss untuk Terrain tipe B lebih besar daripada Pathloss untuk tipe C. Sehingga kinerja model propagasi SUI yang terbaik berada pada terrain tipe C dibanding pada tipe B dan tipe A.

Sedangkan apabila diteliti pada antena BTS Fiber Optik yang punya ketinggian 10m sampai 30m dan dengan jarak jangkauan 500m maka akan didapatkan hasil yang berbeda dengan nilai peubah acak pada sesuai dengan parameter yang disediakan.

Berikut penjabaran bagimana cara mencari nilai Pathloss untuk parameter A dengan ketinggian 10 m pada BTS FO yang pastinya berbeda.

Pertama-tama dicari nilai λ yaitu λ = c / f

dimasukkan nilai c = 3 x 108 m/s f = 900Mhz

λ = = 0.33333

selanjutnya dicari nilai A dengan persamaan (3.2) = 71.5222

nilai γ dapat dihitung dengan menggunakan rumus (3.3)

γ = = 5.785

selanjutnya nilai Xf dapat dihitung dengan rumus (3.4)

Xf = = -1.94707

Nilai XhCPE dapat dicari dengan rumus (3.5)

XhCPE = -10.8 = -3.25112

Nilai pathloss dapat dicari dengan persamaan (3.1)

x 5.785 x log -1.94707 -3.25112+10.6 = 117.3594421 dB

Penjabaran Pathloss untuk parameter B dengan ketinggian 10m Pertama-tama dicari nilai λ yaitu

λ = c / f

λ = = 0.33333

selanjutnya dicari nilai A dengan persamaan (3.2) = 71.5222

nilai γ dapat dihitung dengan menggunakan rumus (3.3)

γ = = 5.645

selanjutnya nilai Xf dapat dihitung dengan rumus (3.4)

Xf = = -1.94707

Nilai XhCPE dapat dicari dengan rumus (3.5)

XhCPE = -10.8 = -3.25112

Nilai pathloss dapat dicari dengan persamaan (3.1)

x 5.645 x log -1.94707 -3.25112+9.4= 115.1808841 dB

Penjabaran Pathloss untuk parameter C dengan ketinggian 10m Pertama-tama dicari nilai λ yaitu

λ = c / f

dimasukkan nilai c = 3 x 108 m/s f = 900Mhz

λ = = 0.33333

= 71.5222

nilai γ dapat dihitung dengan menggunakan rumus (3.3)

γ = = 5.55

selanjutnya nilai Xf dapat dihitung dengan rumus (3.4)

Xf = = -1.94707

Nilai XhCPE dapat dicari dengan rumus (3.6)

XhCPE = -20 = -6.0206

Nilai pathloss dapat dicari dengan persamaan (3.1)

x 5.55 x log -1.94707 -6.0206+8.2= 110.5474dB

Untuk perhitungan ketinggian 20-30 meter dilakukan pengulangan terhadap rumus dengan mengubah tinggi antena BTS maka didapatkanlah tabel hasil perhitungan

pathloss untuk parameter A, parameter B, dan parameter C seperti dapat dilihat pada Tabel 4.2 .

Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Pathloss dengan Variasi Parameter Tinggi BTS FO

Tinggi BTS (m)  PLA (dB)  PLB (dB) PLC (dB) 

10  117.3594  115.1809  110.5474 

20  112.4317  108.7504  103.2082 

30  110.4396  106.304  100.5288 

Jika hasil perhitungan Pathloss pada ketiga tipe Terrain tersebut di plot, maka akan didapatkan grafik seperti pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2 Grafik Hasil Perhitungan Pathloss dengan Variasi Parameter Tinggi BTS FO

Dari grafik pada Gambar 4.2 dapat terlihat bahwa frekuensi dan Pathloss berbanding terbalik secara eksponensial. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin tinggi antena yang digunakan maka Pathloss akan semakin rendah. Hal ini mengakibatkan kinerjanya akan meningkat.

Dari hasil perbandingan Tinggi BS dan Pathloss antara Terrain tipe A, tipe B, dan tipe C, maka dapat disimpulkan bahwa Pathloss untuk Terrain tipe A lebih besar daripada Pathloss untuk tipe B, dan Pathloss untuk Terrain tipe B lebih besar daripada Pathloss untuk tipe C. Sehingga kinerja model propagasi SUI yang terbaik berada pada terrain tipe C dibanding pada tipe B dan tipe A.

Dari kedua hasil perhitungan diatas bisa ditabel dan dilukiskan sehingga didapatkan hasil seperti pada Tabel 4.3 dan Gambar 4.3.

Jarak (m)  Pat hlo ss  (dB ) 

Tabel 4.3 Hasil Perhitungan Pathloss dengan Variasi Parameter Tinggi BTS Microwave dan BTS FO Tinggi BTS  (m)  PLA (dB)  MW  PLB (dB) MW  PLC (dB) MW  PLA (dB) FO  PLB (dB) FO  PLC (dB)  FO  30  143.9553  138.0839  131.7031  117.3594  115.1809  110.5474  40  141.439  135.1832  128.6742  112.4317  108.7504  103.2082  50  139.5098  133.0793  126.5773  110.4396  106.304  100.5288  60  137.8742  131.3738  124.9464  70  136.4064  129.896  123.5817  80  135.0434  128.5604  122.3835 

Gambar 4.3 Hasil Perhitungan Pathloss dengan Variasi Parameter Tinggi BTS Microwave dan BTS FO

Dari Tabel 4.3 dan Gambar 4.3 dapat ditarik disimpulkan BTS FO punya Pathloss yang lebih kecil dari BTS Microwave.

Dokumen terkait