• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Pendidikan Agama Islam

4. Tipologi Kepribadian

Kepribadian merupakan satu kesatuan yang menyeluruh dan kompleks. Setiap orang memiliki kepribadian tersendiri. Dalam hal ini para ahli mengelompokan kepribadian atau tipologi kepribadian.

Dalam bukunya Nana Syaodih memaparkan, ada empat tipe kepribadian, yaitu:

a. Choleric (choler adalah empedu kuning) yang memiliki temperamen cepat marah, mudah tersinggung, tidak sabar dan sebagainya.

b. Melancholic (melas dan choler adalah empedu hitam). Yang memiliki temperamen pemurung, penduka, mudah sedih, pesimis, dan putus asa. c. Phlegmatic (phlegma adalah lendir) yang memiliki sifat-sifat periang,

aktif, dinamis, dan cekatan.

Tipologi ini didasarkan atas teori yang lahir dari pemikiran filosofis dan bukan penelitian empiris.

38

Menurut Kretchmer ada tiga tipe kepribadian yang digolongkan berdasarkan bentuk tubuh, yaitu:

1) Asthenicus atau leptosome, yaitu orang-orang yang berperawakan tinggi kurus, memiliki sifat-sifat kritis, memiliki kemampuan berpikir abstrak, suka melamun dan sensitif.

2) Pycknicus, seorang yang berperawakan pendek gemuk, memiliki sifat-sifat periang, suka humor, populer, hubungan sosial luas, banyak kawan dan suka main.

3) Athleticus, seorang yang bertubuh tinggi besar, memiliki sifat pemberani, agresif, mudah menyesuaikan diri dan berpendirian teguh.39

Sejalan dengan tipologi kretchmer adalah tipologi dari sheldon (1940), berdasarkan penelitianempiris terhadap unsur-unsur jaringan tubuh dalam embrio, sheldon menyimpulkan adanya tiga tipe khas manusia berdasarkan bentuk tubuh, yaitu:

a) Endomorphic, berbadan pendek gemuk dengan ciri-ciri kepribadiannya viscerotonia, yaitu: senang makan, hidup mudah, tak banyak yang dipikirkan, rasa kasihsayang, senang bergaul, toleran dan rileks.

b) Mesomorphic, berbadan tinggi kurus dengan ciri kepribadian somatonia, yaitu senang akan kekuatan jasmaniah, aktif, agresif dan energik.

39

c) Ectomorphic, berbadan tinggi kurus dengan ciri kepribadian cerebrotonia, yaitu: suka berpikir, melamun, senang menyendiri, pesimis dan mudah terharu.

Tipologi lain dikembangkan oleh spranger, seorang filsuf Jerman, ia menhgelompokkan individu atas dasar kecendrungannya akan nilai-nilai dalam kehidupan. Menurutnya ada enam tipe kepribadian, yaitu:

1) Theoritic (manusia teoritis), tipe ini memiliki dorongan yang besar untuk meneliti, mencari kebenaran, rasa ingin tahu, pandangan yang objektif tentan dirinya dan dunia luar.

2) Economic, Perilakunya selalu diwarnai oleh dorongan-dorongan ekonomi, segala sesuatu dilihat dari manfaat atau kegunaannya terutama untuk dirinya.

3) Aesthetic (nilai-nilai keindahan), yang memiliki sifat senang akan keindahan, bentuk-bentuk simetris, harmonis, segala sesuatu dipandang dari sudut keindahan.

4) Sociatic (nilai-nilai sosial), yang memiliki sifat menyenangi orang lain, simpatik, baik, dan meninjau persoalan dari hubungan antara manusia. 5) Politic, yang memiliki dorongan untuk menguasai orang lain dan menjadi

manusia terpenting dalam kelompoknya.

6) Religious, yang mengutamakan nilai-nilai spritual hubungan dengan Tuhan, perilakunya didasari oleh nilai-nilai keagamaan, keimana, yang teguh, penyerahan diri kepada Tuhan.40

Sebagaimana telah kita fahami bahwa didalam perkembangan kepribadian seseorang yang dapat dilihat dari keseluruhan perilakunya, maka pada anak didik perlu dibentuk secara intensif adalah pada lingkungan rumah, kemudian berkembang pada lingkungan yang lebih besar yaitu dengan tetangganya. Pada saat ia memasuki dunia sekolah maka ia akan beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekolah. Didalam interaksi-interaksi

40

tersebut sebenarnya terjadi proses-proses peniruan atau imitasi terhadap orang-orang sekitarnya terutama orang yang sangat penting dalam kehidupannya (significant others). Disamping peniruan yang dilakukan terhadap perilaku orang-orang disekitarnya ia juga melakukan percobaan-percobaan yang dikembangkannya sendiri dan dari perilaku mencoba-coba tersebut ia memperoleh penguatan ataupun penghambat dari lingkungannya sesuai dengan ukuran-ukuran norma yang hidup dalam masyarakat tersebut. Pendidikan agama dalam hal ini memberikan acuan mengenai sesuatu yang dianggap baik atau tidak baik sehingga perilaku tersebut terbentuk. Setelah anak-anak lebih besar pengetahuan tentang baik atau buruk itu juga diperoleh dari hasil bacaan, dari hasil pengamatan terhadap perilaku orang-orang lain baik diamati secara langsung maupun lewat bacaan atau tontonan yang lain.

Masa-masa pembentukan dilalui oleh anak didik terutama pada tahapan pendidikan dasar dengan fondasi yang diperoleh dari rumah maka pada saat ia memasuki pendidikan di luar sekolah. Sebagai penggalan pertama dari pendidikan dasar maka kebutuhan kepada orang tua yang semula menjadi acuan utama pada masa-masa balita sampai sebelum sekolah akan beralih atau dilengkapi dengan acuan-acuan yang diberikan oleh gurunya dibanding kepada orang tuanya didalam hal-hal tertentu.

Pada saat ia memasuki penggalan kedua dari pendidikan dasar, yaitu Sekolah Menengah Pertama dan pada awal Sekolah Menengah Umum akan terjadi suatu masa kritis dimana norma-norma termasuk tentu saja norma

agama yang selama ini ia terima sehingga menjadi anak yang manis, mulai dipertanyakan, mulai disoal sebelum ia mengakui bahwa norma itu bersesuai dengan hati nuraninya. Ini adalah perkembangan yang sangat normal bahwa sebelum menjadi dewasa, seorang anak didik akan tetap mempersoalkan, baru kemudian mengakui.

Oleh karena itu pendidikan agama akan memerlukan format yang berbeda dengan penyajian pada masa pendidikan awal dengan masa-masa pendidikan ketiga anak itu menginjak masa-masa remaja dan ambang dewasa. Pada masa-masa awal maka pembiasaan menjadi sangat dominan. Demikian juga peniruan dan sistem hukuman dan ganjaran. Sedangkan pada masa-masa dimana sikap kritis mulai tumbuh maka pembahasan diperlukan dengan pemberian penalaran. Tapi ada satu hal yang mengikat para pendidik untuk selalu menerapkannya baik pada tatanan sistem pendidikan dasar, dimana anak-anak tersebut sampai pada ambang kedewasaan, yaitu bahwa para pendidik harus mempraktekan nilai-nilai keagamaan yang diyakininya. Dengan kata lain ia harus berperilaku secara konsisten atau menjadi satunya kata dan perbuatan alias taat azas. Setiap perilaku yang berstandar ganda yang ditujukan pendidik akan menghasilkan kebingungan kepada anak-anak dan pada saatnya anak akan menunjukkan perilaku menolak terhadap apa yang disampaikan kepada para pendidikannya.

BAB III

Dokumen terkait