• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan pendidikan agama islam di sekolah umum dalam upaya pembentukan kepribadian siswa : studi kasus di SMPN 02 Bekasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peranan pendidikan agama islam di sekolah umum dalam upaya pembentukan kepribadian siswa : studi kasus di SMPN 02 Bekasi"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha

Penyayang, sholawat serta salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah SAW,

sebagai teladan setiap insan, keluarga, para sahabat dan umatnya yang setia

memperjuangkan kebenaran dan menegakkan agama Islam hingga akhir zaman,

Amin.

Dalam rangka penulisan skripsi ini, muncul berbagai hambatan namun syukur

Al-hamdulillah berkat taufiq dan hidayahnya serta bimbingan, dorongan dan bantuan

semua pihak, akhirnya penulisan skripsi ini dapat terselesaikan.

Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih, kepada:

1. Bpk Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan

2. Bpk Drs. Akhmad Sodiq M.Ag, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

beserta Stafnya yang telah banyak membantu penulis saat menjalani kuliah dan

ketika menulis skripsi ini.

3. Ibu Dra. Eri Rosatria M.Ag, selaku Dosen pembimbing skripsi, yang telah banyak

meluangkan waktu dan mencurahkan pikiran untuk membimbing penulis dalam

penulisan skripsi ini.

4. Bpk Drs. Mastuhu MA, selaku Dosen seminar proposal skripsi, yang telah banyak

(2)

5. Lembaga pendidkan SMPN 02, Bpk Drs. Zaenal arifin, para dewan guru serta

siswa/I SMPN 02, yang telah bersedia membantu penulis dalam memberikan

data, baik secara tertulis maupun secara lisan.

6. Para bapak dan ibu dosen, yang telah mendidik dan emberikan ilmu pengetahuan

dan pengalaman kepada penulis dengan penuh kesabaran.

7. Pimpinan Pondok Pesantren Al-marfuiyah, bpk Drs. Ujang Marfu serta ibu Dra.

Neneng kusmiyati, serta dewan guru yang telah mendidik penulis.

8. Ayah dan bunda tercinta, Agus Maulana dan Daya, yang telah bersusah payah

membesarkan serta mendidik penulis dari buaian hingga sekarang.

9. Kakek dan nenekku yang tercinta, H. Dasim dan Hj. Dasah dan adikku, mardani

yang telah memberikan dorongan, baik moril maupun materil.

10.Anakku yang tersayang, yang telah memberikan motivasi, kekuatan serta

kesabaran kepada ibu dalam penulisan skripsi ini.

11.Teman-temanku yang tercinta, Musyarofah, ikah kartikah, sugih raharjo, yayah

khoiriyah, nurseha, Hj Subhana, uum humairoh dan iis wulandari, yang telah

memberikan semangat dan bantuan baik secara moril maupun materil. Kepada

Allah jualah penulis serahkan segalanya, serta panjatkan do'a, semoga amal

kebajikan mereka mendapat balasan dari Allah, Amin.

Akhirnya penulis berharap, semoga kehadiran skripsi yang sederhana ini,

dapat bermanfaat bagi penulis, serta pembaca, Amin. Jazakumullah Khairan Katsiro.

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI... iii

DAFT ARTABEL... v

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Alasan Memilih Judul ... 10

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 11

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 13

E. Sistematika Penyusunan... 14

BAB II LANDASAN TEORI A. Pendidikan Agama Islam ... 16

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam ... 16

2. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam ... 22

3. Kurikulum Pendidikan Agama Islam... 24

4. Tujuan Pendidikan Agama Islam ... 30

B. Kepribadian ... 32

1. Pengertian Kepribadian... 32

2. Aspek-aspekKepribadian ... 38

3. Struktur Kepribadian... 38

(4)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Obyek Penelitian ... 43

B. Waktu dan Tempat Penelitian ... 43

C. Populasi dan Sampel ... 43

D. Metode Penelitian ... 44

E. Tekhnik Pengumpulan Data... 44

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum SMPN 02 Bekasi ... 52

1. Sej arah singkat Berdirinya SMPN 02 Bekasi ... 52

2. Letak Geografis SMPN 02 Bekasi ... 53

3. Prasarana SMPN 02 Bekasi ... 53

B. Deskripsi Data... 54

C. Analisis dan Interpretasi... 54

1. Analisis Data ... 54

2. Interpretasi Data ... 83

a. Interpretasi dengan Cara Sederhana... 83

b. Interpretasi dengan Menggunakan Tabel Nilai r Product Moment ... 83

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 86

B. Saran... 88

(5)

DAFTAR TABEL

1. Kisi-kisi item pernyataan angket penelitian... 46

2. Kriteriapenilaian... 51

3. Guru memberikan tugas setelah menyampaikan materi ... 54

4. Struktur kurikulum SMP ... 55

5. Kurikulum PAI yang diterapfcan sesuai dengan kebutuhan siswa ... 56

6. Metode yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi, memudahkan siswa dalam menerima pelajaran ... 56

7. Materi pendidikan agama sangat membebani terhadap aktivitas siswa.... 57

8. Guru menggunakan media pengajaran dalam proses pengajarannya. ... 57

9. Guru memberikan kesempatan untuk bertanya... 58

10.Siswa merasakan suasana KBM yang kondusif... 59

11.Guru memberikan bimbingan belajar... 59

12.Jenis kegiatan belajar mengajar ... 60

13.Guru tidak melaksanakan monitoring dan penilaian terhadap proses dan hasil belajar ... 60

14.Guru memiliki strategi pengajaran yang handal, sehingga mempermudah siswa dalam menerima materi pelajaran ... 61

15.Dengan belajar sungguh-sungguh siswa akan mendapatkan prestasi yang Baik ... 62

(6)

17.Guru memberikan bantuan terhadap siswa yang mengalami kesulitan

dalam belajar... 63

18.Dalam proses KBM tercipta suasana yang menyenangkan, sehingga membangkitkan motivasi belajar siswa ... 64

19.Validitas isi tes membingungkan siswa dalam proses ujian berlangsung. 65 20.Siswa mengikuti peraturan yang diterapkari disekolah pendidikan agama di SMPN 02... 65

21.Siswa memaafkan teman yang melakukan kesalahan... 66

22.Kegiatan ekstra kurikuler siswa/I SMPN 02... 66

23.Bila bertemu dengan guru siswa mengucapkan salam... 67

24.Siswa berbohong kepada guru ... 67

25.Siswa berdo'a hendak memulai pelajaran ... 68

26.Siswa mengerjakan tugas pelajaran ... 68

27.Siswa mendapatkan hukuman bila terlambat... 69

28.Siswa menyontek saat ujian ... 69

29.Guru membiarkan siswa tertidur... 70

30.Siswa keluar tanpa seijin guru ... 70

31.Siswa melaksanakan shalat dzuhur secara berjama'ah... 71

32.Siswa yang bersikap kurang ajar akan diberi hukuman ... 71

33.Siswa memberikan selamat terhadap teman yang sukses ... 72

34.Guru memberikan bimbingan belajar... 72

(7)

36.Siswa memperhatian dengan baik pada saat guru menyampaikan materi 74

(8)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan agama merupakan unsur penting dalam pembentukan dan

pembinaan kepribadian seseorang, pendidikan agama berlangsung dalam

keluarga, sekolah dan masyarakat. Pendidikan agama yang berlangsung dengan

baik dalam semua lembaga pendidikan formal (sekolah) maupun informal

(keluarga) dan non formal (masyarakat) akan merupakan unsur penting dalam

pembinaan kepribadian seseorang, karena pengalaman keagamaan yang dilalui

tersebut akan menjadi unsur penting dalam kepribadiannya. kepribadian yang

terjalin didalam nilai-nilai agama akan membuahkan akhlak yang baik.

Pendidikan adalah proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan

dan nilai-nilai pada anak didik melalui pertumbuhan dan pengembangan potensi

fitrahnya guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam segala

aspek.

Belakangan ini banyak ditemukan orang-orang yang akhlaknya tidak baik,

sopan santun kepada orang tuanya kurang, bahkan ada ditemukan orang-oramg

terpelajar yang melanggar ketentuan-ketentuan hukum, adat, sopan santun

masyarakat dan ajaran agama

Hal tersebut mungkin disebabkan oleh orientasi sekolah, keluarga dan

(9)

agama termasuk akhlak. oleh karena itu nilai-nilai akhlak tidak tercermin dalam

sikap, perilaku dan corak hidup pada umumnya.

Dalam hal ini, orientasi sekolah barangkali tidak berlebihan jika dikatakan

bahwa pendidikan agama diberikan disekolah lebih mementingkan pengetahuan

agama yang harus dimiliki oleh peserta didik dan kurang memperhatikan

nilai-nilai agama yang terkandung didalamnya, padahal pendidikan agama bertujuan

agar peserta didik menghayati dan melaksanakan nilai-nilai agama dalam

kehidupannya sehari-hari, itulah barangkali yang menyebabkan banyaknya anak,

remaja dan orang dewasa berperilaku yang bertentangan dengan agama.

Seharusnya nilai-nilai agama masuk dan terjalin kedalam kepribadiannya

mulai dari awal pembentukan kepribadian dalam keluarga bahkan sejak dalam

kandungan, seandainya anak belum memperoleh nilai-nilai dalam dalam keluarga

maka sekolah yang membantunya dengan cara yang tepat.

Jika dicermati secara kritis, kata demi kata, kalimat demi kalimat, alinea

demi alinea yang terdapat pada pembukaan UUD 1945, bangsa Indonesia sangat

menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, bahkan spirit keagamaanlah yang

mendorong bangsa Indonesia berjuang sampai akhirnya menyatakan

kemerdekaan padatanggal 17 Agustus 1945.

Berdasarkan hal itu secara yuridis tepatlah jika dikatakan bahwa nagara RI

adalah negara agama yang berdasarkan pancasila atau disebut negara pancasila

(10)

Konsekuensi logisnya, dalam kaitannya dengan kepentingan nasional

cukup beralasan jika pendidikan agama mendapat tempat yang penting dalam

kurikulum pendidikan nasional, sehingga wajib diikuti oleh seluruh peserta didik

mulai dari jenjang pendidikan yang paling rendah sampai perguruan tinggi. (Lihat

GBHN: 78;83;88;93;98;99 bab agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang

Maha Esa).

Atas pertimbangan itu tujuan pendidikan agama tentunya

menumbuhkembangkan nilai-nilai keagamaan sebagai landasan berpijak bangsa

dan menjadikannya pembangkit semangat dalam mempertahankan eksistensi

kemerdekaan Indonesia dan mengisinya, sehingga tujuan pendidikan nasional

dapat tercapai. Mengingat telah terjadinya degradasi kewibawaan pendidikan

agama terutama dilembaga-lembaga pendidikan formal, maka dalam konteks

yang menyangkut konsep dasar, tujuan dan materi, proses pembelajaran dan

evaluasi pendidikan Agama.

Meskipun sekolah merupakan sarana transfortasi kebudayaan suatu

masyarakat namun, eksistensinya tidak seluas eksistensi kebudayaan umum,

eksistensi hanya subculture dari totalitas kebudayaan manusia kondisi ini

menjadikan sekolah sebagai lembaga paling besar peranannya dalam proses

dinamika budaya manusia hal ini setidaknya disebabkan tiga faktor, yaitu:

1) Sekolah merupakan tempat berkumpulnya peserta didik, yang berasal dari

(11)

berfungsi untuk mengakumulasi berbagai bentuk latar belakang kebudayaan

peserta didik, dalam suatu sistem kebudayaan.

2) Eksistensi sekolah merupakan miniatur untuk melihat sejauh mana maju

mundurnya peradaban suatu negara.

3) Sekolah juga merupakan tempat dimana peserta didik menerima berbagai

macam bentuk keterampilan yang secara pragmatis dapat dipergunakan dalam

kehidupannya. Dilain pihak, sekolah juga merupakan tempat penumbuhan

nilai moralitas religius, dengan nilai tersebut, diharapkan agar mampu menjadi

alat kontrol dalam setiap aktivitas yang dilakukannya.1

Melihat dari wacana diatas, terlihat bahwa eksistensi sekolah merupakan

sarana paling vital dalam proses kemunculan kepribadian manusia seutuhnya.

Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang dialogis, adaftik, dan kondusif lagi

optimalisasi pencapaian tugas dan fungsinya, baik secara makro maupun mikro.

Pendidikan Agama dimaksudkan untuk memberikan bagi para siswa agar

dapat berperilaku sesuai dengan nilai-nilai keagamaan dalam hal ini khususnya

Islam.

Dalam hal ini, pendidikan agama di SMPN 02 Bekasi pun bertujuan agar

dapat mencetak siswa/i memiliki kepribadian yang baik, walaupun disekolah ini

orientasi pendidikannya adalah pendidikan umum, namun seorang guru berupaya

semaksimal mungkin, agar pendidikan agama dapat terlaksana dengan efektif dan

efesien, agar tujuan pendidikan agama disekolah dapat terlaksana secara optimal,

(12)

ilmu namun juga mampu mentransfer kultur yang sesuai dengan ajaran agama

Islam1

Kritik-kritik yang cenderung menimpakan segala tanggung jawab atas

terjadinya penyimpangan perilaku siswa seperti tawuran dan keterlibatan narkoba,

selama ini hanya pada program pelajaran agama adalah tidak adil, sebab

pembentukan perilaku akhlakul karimah adalah tanggung jawab semua pendidik

bangsa ini termasuk para pemimpin negara.

Pendidikan agama berkarakteristik sarat nilai sebagaimana sifat pendidik

mempunyai muatan nilai yang bersifat kognitif, afektif dan psikomotorik.

Pendidikan Agama mengharapkan diperolehnya sejumlah pengetahuan,

terbentuknya sikap dan wujud dan terwujudnya perilaku sebagai insan kamil bagi

para pesertanya.

Muatan pendidikan agama adalah segala hal tentang bagaimana hubungan

manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, manusia dengan alam, benda,

tumbuhan dan hewan. Pendidikan Agama Islam bersumber pada Al-Qur'an,

Hadits dan Sunah Nabi.

Sebagaimana pendidikan tentang nilai, akan sangat efektif apabila

dipelajari melalui contoh keteladanan, sangatlah penting bagi semua yang terlibat

dalam pendidikan ini, menunjukan perilaku yang patut dicontoh.

1

(13)

Sudah seharusnyalah seorang guru, apapun pelajaran yang diajarkannya

harus memiliki sikap positif terhadap agama, kepribadian, serta akhlaknya

hendaklah dijadikan contoh oleh peserta didik, dalam pembentukan pembinaan

kepribadian peserta didik, terutama guru agama menjadi cermin bagi agama yang

diajarkannya.

Dengan demikian seorang guru agama harus mengatahui ciri-ciri

perkembangan jiwa anak (menguasai ilmu jiwa anak atau ilmu jiwa

perkembangan ), agar dia dapat melaksanakan pendidikan agama dengan cara

yang sesuai dan serasi dengan perkembangan jiwa anak yang sedang

dihadapinya.2

Berbagai perilaku akan terbentuk secara bertahap, melalui

pembiasaan-pembiasaan, peniruan, analisis kritis dan pengubah-pengubah (modifikasi).

Motivasi berperilaku bisa juga disebabkan oleh penguasaan atas perilaku

prasyarat karena ada kepuasan menguasai kecakapan tertentu, Penguasaan

kecakapan menimbulkan rasa berhasil dan mendorong untuk memperkuat

perilaku tersebut. Umpan balik dan penguatan lebih-lebih pada tahap awal, sangat

penting.

Pendidikan nilai yang mengatur perilaku manusia dalam hubungan dengan

tiga pihak tadi (Al- khalik, manusia dan alam) melingkupi penghayatan

mendalam yang menyentuh pengalaman batiniah yang sukar dirasakan yang sukar

2

(14)

diraba dan diamati, sampai tindakan nyata senyata-nyatanya terhadap orang lain,

benda dan makhluk lainnya.3

Sesungguhnya tujuan akhir dari semua pendidikan yang sehat dan berguna

adalah yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan

meningkatkan harkat kemanusiaannya dalam waktu yang sama dapat

menyelamatkan manusia dari keburukan serta bahaya-bahaya yang mengancam

nafsu amarah atau kebejatan akhlak dan kerusakan masyarakat yang

melingkupinya. Pendidikan dilihat dari segi operasionalnya mempunyai dua

aspek yaitu:

a. Pendidikan berarti menumbuhkan dan membina.

b. Pendidikan berarti menjaga dan memperbaiki.4

Menangkal terhadap penyakit moral, memperkuat penanaman keutamaan

akhlak dalam diri remaja dan dalam masyarakat kita merupakan senjata yang

paling ampuh untuk memerangi segala penyakit moral. Untuk itu memperkokoh

kejujuran dan kesabaran hati, sikap memenuhi janji dan keadilan, kasih sayang,

menahan hawa nafsu, tolong menolong, persaudaraan, persatuan,

bersungguh-sungguh serta sikap tengah (tawadu), rendah hati, kebersihan hati serta ksatria

akan dapat menimbulkan dalam diri manusia daya pencegah terhadap segala

kerendahan nafsu, kitab suci Al-Qur'an memberikan petunjuk dengan

3

Didaktika Islamika, Reorientasi Pendidikan Agama, edisi khusus. H:35-37

4

(15)

ayatnya yang mendorong kita agar mengambil segala perbuatan yang baik dan

menjauhi segala bentuk perbuatan yang rendah (hina).

Dengan penggambaran proses internalisasi norma-norma seperti itu,

pendidikan agama akan memberikan dampak kepada perilaku anak apabila terjadi

konsistensi antara apa yang diucapkan dan apa yang diperbuat oleh mereka.

Disamping itu dampak dari pendidikan agama akan menunjukkan

efektifitasnya apabila terjadi kesinambungan yang harmonis antara rumah -

sekolah dan lingkungan ketiga. Sebaiknya apabila pendidikan di rumah tidak

sesuai dengan norma-norma yang diberikan di sekolah dan lebih-lebih

bertentangan dengan kenyataan yang ada di lingkungan ketiga, maka bukan saja

keraguan yang akan timbul tetapi anak-anak akan kehilangan pegangan kemudian

dia akan larut kepada perilaku reaktif yang terjadi secara situasional.

Tekanan-tekanan akan datang dari luar dirinya terutama dari kawan-kawan atau dari

orang-orang yang dia temui didalam pergaulannya, termasuk tatanan layanan sosial

yang tampak membuai, tetapi pada hakikatnya merupakan malapetaka (contoh

varia, film dan majalah porno serta budaya kekerasan).

Pendidikan agama yang baik menyajikan pembisaan-pembiasaan,

pengetahuan, penghayatan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dan dalam

bentuk-bentuk perilaku yang baik (akhlaqul karimah). Didalam perjalanannya tentu saja

dampa ini terlihat pada awalnya sebagai kebisaan-kebisaan, kemudian lama

(16)

akan menyakini bahwa segala perilakunya itu adalah cerminan keimanannya

kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan itu pula ia memiliki keimanan, sebagaimana yang telah digariskan

dalam rukun iman, tetapi juga berperilaku terhadap sesamanya dengan cara-cara

yang terpuji sebagaimana dicontohkan oleh nabi-nabi yang diketahui penuturan

dan bacaannya.

Dalam menjalankan syari'at agama, ia juga akan berpedoman kepada

aturan-aturan yang diajarkan kepadanya, baik melalui percontohan maupun

melalui ajaran-ajaran serta cara-cara lain yang berhubungan dengan media atau

teknologi sesuai denganjamannya.

Pada tataran yang lebih tinggi pendidikan agama bukan saja pedoman

perilaku anak didik pada keadaan-keadaan yang normal, tetapi ia akan menjadi

benteng terhadap gelombang-gelombang kehidupan dan ujian-ujian kehidupan

berupa berbagai godaan yang bertentangan dengan perilaku akhlaqul karimah

tersebut.

Negara kita bukan negara sekuler. Pendidikan agama telah disepakati

sebagai sesuatu yang harus dijadikan sebagai salah satu pelayanan kepada warga

negara Indonesia yang sangat pluralistik.

Berbeda dengan negara-negara yang sekuler seperti di Turki maupun di

Korea Selatan misalnya, bahwa negara justru tidak membolehkan sekolah

memberikan pendidikan agama karena dianggap memasuki wilayah pribadi dan

(17)

Semangat keagamaan merupakan pendorong bangsa Indonesia menjadi

bangsa yang merdeka dan berdaulat, karena itu nilai-nilai keagamaan dijunjung

tinggi.

Pendidikan agama wajib diberikan dari berbagai tingkat pendidikan.

pendidikan agama wajib diberikan dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat

perguruan tinggi.

B. Alasan Memilih Judul

Adapun judul yang penulis pilih dalam skripsi ini, adalah "PERANAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH UMUM DALAM UPAYA PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN SISWA".

Ada beberapa alasan yang menjadi motivasi penulisan masalah dalam

judul ini, diantaranya sebagai berikut:

1. Pendidikan agama merupakan suatu usaha dalam membina kehidupan

beragama dan bernegara. Sebagaimana Firman Allah SWT:

ﺔﱠﺎآ

اوﺮ ْ

نﻮ ْﺆ ْا

نﺎآ

ﺎ و

ﺔ ﺋﺎﻃ

ْ ﻬْ

ﺔ ْﺮ

ﱢ آ

ْ

ﺎ ْﻮ

نورﺬْﺤ

ْ ﻬﱠﻌ

ْ ﻬْ إ

اﻮﻌﺟر

اذإ

ْ ﻬ ْﻮ

اورﺬْ و

ﱢﺪ ا

اﻮﻬﱠ ﺘ

.

(18)

2. Pendidikan dalam kehidupan manusia memiliki peranan yang sangat penting,

yakni dapat membentuk kepribadian serta sebagai kekuatan yang dapat

menentukan prestasi dan produktivitas seseorang, sehingga dapat memahami

dan menginterpretasikan lingkungan yang dihadapinya, serta mencapai suatu

peradaban yang tinggi.

3. Di dalam menghadapi era globalisasi ini, pendidikan memiliki tugas yang

tidak ringan, disamping mempersiapkan peserta didik untuk meningkatan ilmu

pengetahuan dan teknologi (IPTEK), diharapkan juga mampu meningkatkan

keimanan dan ketaqwaan (1MTAQ) kepada Allah SWT. Hal ini untuk

mengantisipasi dampak negatif dari perkembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi serta budaya asing yang sangat berpengaruh terhadap kebudayaan

an peradaban umat manusia, sebab pengaruh budaya asing yang bersifat

negatif akan membawa gnerasi muda kearah dekadensi moral. Ini akibat

kurangnya nilai-nilaipendidikan agama dalam diri siswa.

4. Bertolak dari masalah diatas, penulis igin mengetahui bagaimanakah

Pendidikan Agama Islam yang di perankan oleh SMPN 02 dalam membina

dan membimbing siswa, agar memiliki kepribadian yang baik, sebagaimana

(19)

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah Penelitian

Pendidikan Agama dianggap belum mencapai sasaran, ketika hanya pada

tataran kognitif, belum sampai kepada tataran afektif dan psikomotorik. Dalam

sistem pendidikan nasional bahwa pendidikan agama dinyatakan sebagai

kurikulum wajib. Ini merupakan peluang bagi setiap sekolah, untuk dapat

meningkatkan mutu pendidikan agama di Indonesia dan untuk menghindari

kekhawatiran akan semakin merosotnya nilai-nilai moral bangsa Indonesia ini.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis merasa perlu untuk membatasi dan

merumuskan terlebih dahulu masalah-masalah yang hendak di bahas, agar arah

dan sasaran yang hendak dicapai lebih jelas dan terarah.

Berkaitan dengan masalah ini penulis membatasi kepada:

1. Pendidikan agama dibahas disini dibatasi pada pendidikan agama dalam

pendidikan formal, pada pengamalan ajaran agama Islam dari sumber

utamanya kitab suci Al-qur'an dan Al-hadits, melalui kegiatan bimbingan

dan pengajaran, latihan serta penggunaan pengamalan, yang meliputi:

Akidah' akhlak, fiqh, Al-qur'an dan sejarah.

2. Pembentukan kepribadian yang dimaksud dalam pendidikan agama Islam

ini adalah sebagai upaya untuk dapat membentuk dan membina setiap

pribadi muslim yang berakhlakul karimah serta sebagai pengarah dan

petunjuk dalam mendidik peserta didik agar memiliki kepribadian

(20)

Dari beberapa permasalahan tersebut diatas dapat dirumuskan menjadi

pokok-pokok permasalahan yang lebih kongkrit dalam bentuk

pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah pelaksanaan pendidikan agama Islam di SMPN 02 ?

2. Bagaimanakah kepribadian siswa SMPN 02 ?

3. Apakah ada hubungannya pendidikan agama dengan kepribadian siswa ?

4. Bagaimanakah peran serta sekolah dalam memberikan pendidikan agama

Islam terhadap siswanya ?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Berdasarkan pemasalahan umum yang telah dirumuskan maka

kegiatan penelitian yang penulis lakukan bertujuan:

1. Untuk mendapatkan gambaran mengenai peranan Pendidikan Agama Islam di

SMPN 02 dalam upaya pembentukan kepribadian sisa.

2. Untuk mendapatkan gambaran mengenai upaya yang dilakukan SMPN 02

dalam rangka pembentukan kepribadian

Sedangkan manfaat penelitian ini dapat dinyatakan sebagai berikut:

1. Untuk menambah khazanah keilmuan, khususnya tentang pendidikan agama

Islam

2. Sebagai sumbangan pikiran dalam bentuk tulisan yang bersifat ilmiah guna

(21)

E. Sistematika Penulisan

Penulisan skripsi ini, terdiri dari lima bab yang stiap babnya terdiri dari

beberapa sub bab, dengan sistematika sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan, bab ini berisi tentang, latar belakang masalah, Alasan

memilih judul, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan

manfaat penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II Landasan teori, bab ini berisi tentang, Pendidikan Agama Islam,

pengertian pendidikan, ruang lingkup pedidikan agama Islam,

kurikulum pendidikan agama Islam dan tujuan pendidikan agama

Islam. Kepribadian, pengertian kepribadian, aspek-aspek kepibadian,

struktur kepribadian, tipologi kepribadian dan faktor-faktor yang

menentukan kepribadian.

BAB III Metodologi Penelitian, bab ini berisi tentang, obyek penelitian, waktu

dan tempat penelitian, populasi dan sampel, metode penelitian,

tekhnik pngumpulan data dan tekhnik analisis data.

BAB IV Hasil Penelitian, bab ini berisi tentang, gambaran umum SMPN 02,

sejarah singkat berdirinya SMPN 02, letak geografis SMPN 02,

prasarana SMPN 02. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DISEKOLAH

UMUM DALAM UPAYA PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN

SISWA, bab ini berisi tentang, sistem pendidikan agama Islam di

SMPN 02, kurikulum pendidikan agama Islam di SMPN 02, strategi

(22)

pembelajaran pendidikan agama Islam di SMPN 02, saran pendidikan

agama Islam di SMPN 02, Sistem evaluasipendidikan agama Islam di

SMPN 02 dan upaya yang dilakukan SMPN 02 dalam upaya

pembentukan kepribadian siswa SMPN 02.

(23)

BAB II LANDASAN TEORI

A. Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Secara harfiah, Pendidikan berasal dari kata educare, yang artinya

"mengeluarkan suatu kemampuan". Jadi educare adalah membimbing untuk

mengeluarkan kemampun yang tersimpan dalam diri anak untuk tercapainya

kedewasaan. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan Education artinya

pendidikan yang dikaitkan dengan pendidikan sekolah karena sekolah

merupakan tempat dimana anak dididik melalui pendidikan secara formal5

Secara terminologis, Drs. Ngalim Purwanto menjelaskan bahwa,

pendidikan adalah segala usaha orang dewasa pada pergaulannya dengan

anak-anak dalam memimpin perkembangan jasmaniah dan rohaniahnya

kearah kedewasaan.6

Pendidikan dalam bahasa arab disebut "tarbiyah", berasal dari kata

kerja Rabba yang berarti mendidik, bertambah, tumbuh, memelihara,

merawat, berkembang, mengatur dan menjaga kelestarian atau eksistensinya

sebagaimana dalam ayat ke24 dari surat Al-Isra,(17) dan ayat 18 surat

5

Dwi Nugroho, ED, Mengenal Manusia dan Pendidikan, (Yogyakarta : Liberty, 1998), cet. 1 hal.1.

6

(24)

Syura (26). Tarbiyah juga berarti proses persiapan dan pengasuhan manusia

pada fase-fase awal kehidupannya yakni pada tahap perkembangan masa bayi

dan kanak-kanak7

Pendidikan juga identik dengan kata "Ta'lim" dari kata kerja "Allama”

yang berarti pengajaran memberi tahu atau transfer of knowledge karena

memang proses ini ada dalam pendidikan.8 Kata lain yang mengandung arti

pendidikan adalah "at-ta'dib" dari kata kerja ad-daba yang berarti pembinaan,

mendidik dan memelihara.9 Maka dalam konteks yang luas, al-tarbiyah terdiri

atas 4 unsur pendekatan, yaitu:

a. Memelihara dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa.

b. Mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan.

c. Mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan dan

d. Melaksanakan pendidikan secara bertahap.10

Sedangkan secara istilah pendidikan dalam Islam menurut Ahmad

Tafsir, adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang

agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran agama Islam.11

7

Zuhzirini, Abdul Gafir, Slamet AS, Yusuf, Metode Khusus Pendidikan Agama,

(Malang: Biro Ilmiah Tarbiyah, IAIN Sunan Ampel, 1981) Get ke-7, h.25

8 Lihat tafsir Al-Qurthubi, Qs Al-Baqoroh (2) ayat 31 dan an-Naml 916) ayat 16. 9

Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara), 1996 cet. 3, hal. 25-27 & samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: pendekatan Historis ,Teoritis dan Praktis, (Jakarta:Ciputat Pres, 2002), cet 2, hal. 32.

10 Abdurrahman An-Nahlawi, prinsip-prinsip dan Metode, h. 25-32.

(25)

Sedangkan menurut Zakiah Daradjat, pendidikan Islam berarti

pembentukan pribadi muslim. Al-Syaibani mengemukakan pendidikan Islam

adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan

pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya.12

Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam

dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati

hingga mengimani, bertaqwa dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran

agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-qur'an dan hadits, melalui

kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman.13

Berdasarkan pengertian umum Pendidikan Agama Islam tersebut,

Dirjen Pembinaan Kelembagaan agama Islam,Departemen Agama RI,

Merumuskan pengertian Pendidikan Agama Islam ( PAI ) diartikan sebagai

usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami,

menghayati dan mengamalkan Agama Islam melalui kegiatan, bimbingan,

pengajaran dan latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati

agama lain dalam hubungan antar umat beragama dalam masyarakat untuk

mewujudkan persatuan nasional.14

Sesuai dengan penjelasan pasal 39 ayat (2) UUSPN Tahun 1989,

Pendidikan Agama Islam dimaksudkan sebagai usaha untuk memperkuat

12

Omar Muhammad Al-Touny al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang,1979), cet. l,h. 11.

13 Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan pengembangan, Departemen Pendidikan Nasional, KBK Mata Pelajaran PAI SMU, (Jakarta: 2001, hal. 8.

(26)

iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama

yang diamalkan oleh peserta didik yang bersangkutan dengan memperhatikan

tuntunan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar

umat beragama dalam masyarakat.

Dalam menghadapi era globalisasi pendidikan memiliki tugas yang

tidak ringan, disamping mempersiapkan peserta didik untuk meningkatkan

ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) diharapkan juga mampu

meningkatkan keimanan dan ketaqwaan (IMTAQ) terhadap Tuhan Yang

Maha Esa. Peningkatan keimanan dan ketaqwaan dilakukan untuk

mengantisipasi dampak negatif dari perkembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi. Oleh karena itu sebagaima ketentuan dalam UU No. 2 tahun 1989

tentang sistem pendidikan Nasional, dalam rangka memperkuat keimanan dan

ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pendidikaan Agama dinyatakan

sebagai kurikulum wajib pada semua jalur, jenis dan jenjang pendidikan.

Proses pembelajaran pendidikan agama yang belum berjalan secara

efektif, dikarenakan rendahnya kemampuan guru agama dibidang metodologi

dan terbatasnya jumlah jam belajar serta fasilitas yang kurang memadai dan

sistem evaluasi pendidikan agama Islam yang masih menekankan pada aspek

kognitif, yang seharusnya secara utuh meliputi pula aspek afektif dan

psikomotorik.

Para ahli ternyata berbeda pendapat mengenai pengertian pendidikan

(27)

pengajaran adalah program dari pendidikan, pendidikan lebih luas dari pada

pengajaran. Pendidikan meliputi pengajaran.

Kata pendidikan adalah "didik" atau "mendidik" yang secara harfiah

artinya memelihara dan memberi latihan. Sedangkan "pendidikan" adalah

tahapan-tahapan kegiatan mengubah sikap dan prilaku seseorang atau

sekelompok orang melalui upaya program-program dan pelatihan.

Sementara itu, Poerbakawatja dan Harahap (1981), Poerwanto (1985)

dan Winkel (1991), masing-masing mengartikan pendidikan dengan ungkapan

yang maksudnya relatif sama bahwa pendidikan adalah usaha yang di sengaja

dalam bentuk perbuatan, bantuan dan pimpinan orang dewasa kepada

anak-anak agar mencapai kedewasaan. Tekanan mereka dalam hal ini adalah bahwa

pendidikan itu harus di lakukan oleh orang dewasa, sedangkan yang dididik

harus orang yang belum dewasa (anak-anak). Jadi, istilah pendidikan

mempunyai arti : Menanamkan tabiat yang baik agar anak-anak mempunyai

sifat yang dan berpribadi utama. Dalam mendidik, yang lebih penting adalah

segi pembentukan pribadi anak.15

Dengan demikian jelaslah bahwa kalau mendidik itu mengenai

masalah perasaan, antara akal dan perasaan memang mempunyai hubungan

yang sangat erat.

15

(28)

Dalam bahasa inggris mengajar di sebut instruction atau teaching.

Akar kata instruction adalah to instruc, artinya to direct to do something, to

tech to do something, to furnish with information, yakni memberikan

pengarahan agar melakukan sesuatu, mengajar agar melakukan sesuatu,

memberikan informasi. Sedangkan menurut Reber (1988) intruction

(pengajaran) berarti pendidikan atau proses perbuatan mengajarkan

pengetahuan.

Dengan demikian istilah mengajar mempunyai arti : memberikan

pengetahuan kepada anak, agar mereka dapat mengetahui peristiwa-peristiwa,

hukum-hukum ataupun proses dari pada sesuatu ilmu pengetahuan. Jadi yang

dipentingkan adalah segi ilmiahnya.

Selanjutnya para ahli pendidikan Islam mengemukakan pendidikan,

sebagai berikut:

1) Muhammad Jamaludin Al-Qosimi mendefinisikan attarbiyah atau

pendidikan dengan “hiya tablighusy sya'i illa kamalihi, syaian fa syaian”

yaitu proses penyampaian sesuatu sampai pada batas kesempurnaan yang

dilakukan secara tahap demi tahap.

2) Ismail Haqi Al-Barusawi memberikan arti attarbiyah dengan proses

pemberian nafsu dengan berbagai kenikmatan, pemeliharaan hati nurani

dengan berbagai kasih sayang, bimbingaan jiwa dengan hhukum-hukum

syari'ah serta pengarahan hati dengan etika kehidupaan dan penerangan

(29)

3) Abdul Fatah Jalal dalam buunya "Min Ushuli Tarbawiyyah Fiil Islam"

menyatakan bahwa attarbiyah adalah proses pesiapan dan pemeliharaan

anak didik pada masa kanak-kanak didalam keluarga. Pengertian tersebut

diambil dari maksud surat Al-Isra ayat 24 dan surat Asy-syu'ara ayat 18

4) Musthofha Al-Maraghi memberikan arti attarbiyyah dengan dua bagian,

yaitu tarbiyyah kholiqiyah, pembinaan dan pengembangan jasad, jiwa dan

akal dengan berbagai petunjuk. Dan tarbiyyah diniyyah tahdzibiyyah,

pembinaan jiwa dengan wahyu untuk kesempurnaan akal dan jiwa.

5) Musthafa Al-Gholayani berpendapat bahwa attarbiyah adalah penanaman

etika yang mulia pada jiwa anak yang sedang tumbuh dengaan cara

memberi petunjuk dan nasehat, sehinga ia memiliki potensi-potensi.16

Pendidikan Islam merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan

antara satu dengan lain, karena pada dasarnya pendidikan Islam merupakan

transformasi nilai - nilai Islam sebagai substansi dan implikasi dari segala

aspek kehidupan.

2. Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam

Abu Ahmadi, dalam bukunya "Didaktik dan Metodik" mengatakan,

bahwa ruang lingkup pendidikan Islam pada dasarnya mengacu pada lima hal

dibawah ini:

16

(30)

1. Perencanaan

Perencanaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan sebelum

melakukan ativitas. Dimasa tahun 1975 secara umum digunakan Lesson

Plan yang mengambil bentuk saluran pelajaran atau sering dikenal dengan

sebutan satpel. Hampir semua sekolah menggunakannya tapi ada juga

Lesson Plan yang dibuat dalam bentuk modul. Oleh karena itu perlu

adanya modal dasar untuk membuat Lesson Plan dalam model apapun.

Hal ini diperluka sebagai bukti bahwa guru memiliki kemampuan teoritis

dan kompeten dibidangnya.

2. Bahan Pembelajaran

Bahan disebut juga sebagai materi, yaitu sesuatu yang diberikan

kepada siswa saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Melalui proses

belajar mengajar siswa diantarkan kepada tujuan pembelajaran. Bahan

pengajaran dapat dibedakan menjadi beberapa kategori, yakni : fakta,

konsep, prinsip dan keterampilan. Semuanya dimmuskan sedemikian rupa

dalam bahasa yang jelas dan diproyeksikan untuk mencapai tujuan

pembelajaran atau instruksional dengan menetapkan bahan pembelajaran.

3. Strategi Pembelajaran

Strategi yang berarti rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk

mencapai sasaran khusus adalah tindakan guru dalam melaksanakan

rencana pembelajaran. Artinya, usaha guru dalam menggunakan beberapa

(31)

Dengan kata lain Strategi mengajar adalah taktik yang digunakan dalam

melaksanakan atau praktek mengajar di kelas. Nilai guna yang didapatkan

bagi guru adalah agar tercapainya tujuan melalui kegiatan terprogram.

4. Media Pembelajaran

Media disebut juga dengan alat yaitu sarana yang dapat membantu

proses belajar mengajar atau menetapkan alat penilaian yang paling tepat

untuk menilai sasaran atau anak didik tersebut. Dalam hal ini evaluasi

terdiri dari dua bagian meliputi :

a. Tes : tes lisan, tulisan dan tindakan

b. Non tes : observasi, wawancara, studi kasus skala penilaian, checklist,

inventory

5. Evaluasi

Evaluasi atau penilaian pada dasarnya adalah memberikan

pertimbangan atau nilai berdasarkan kriteria tertentu. Hasil yang diperoleh

dalam penilaian dinyatakan dalam bentuk hasil belajar. Oleh karena itu

tindakan atau kegiatan tersebut dinamakan penilaian hsil belajar.

Sedangkan menurut Drs. Yunus Namsa yang merupakan ruang

lingkup pendidikan atau pengajaran agama Islam meliputi keserasian,

keselarasan, dan kesetimbangan antara lain :

1) Hubungan manusia dengan Allah SWT

2) Hubungan manusia dengan sesama manusia

(32)

4) Hubungan manusia dengan mahluk lain di lingkungannya17

Ruang lingkup pengajaran agama yang dipaparkan pada pembahasan

diatas pada dasarnya adalah sama, tetapi pendapat Abu Ahmadi mengacu pada

segi didaktik dan metodik, sedangkan menurut Yunus Namsa dilihat dari segi

keselarasan keseimbangan, dan keserasian hubungan manusia.

3. Kurikulum Pendidikan Agama Islam

Sebelum menjelaskan pengertian kurikulum pendidikan Islam, ada

baiknya dijelaskan terlebih dahulu pengertian kurikulum secara umum, yaitu :

"Kurukulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial,

olah raga dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya

didalam dan diluar sekolah dengan maksud menolongnya untuk berkembang

menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai

dengan tujuan pendidikan”.

Menurut M. Arifin kurikulum adalah segala mata pelajaran yang

dipelajari dan juga semua pengalaman yang harus di peroleh serta semua

kegiatan yang dilakukan oleh anak didik.

Dengan demikian kurikulum harus di desain berdasarkan pada

pemenuhan kebutuhan manusia didik dan isinya terdiri dari pengalaman yang

17

(33)

sudah teruji kebenarannya. Pengalaman yang educatif, eksperimental dan

adanya rencana dan susunan yang teratur.

Adapun pengertian kurikulum agama adalah semua pengetahuan,

aktifitas dan juga pengalaman-pengalaman yang dengan sengaja dan secara

sistematis diberikan oleh pendidik kepada anak didik dalam rangka mencapai

tujuan pendidikan agama.

Sesuai dengan pengertian tersebut, maka kurikulum pendidikan

Agama adalah termasu salah satu komponen pendidikan Agama yakni berupa

alat untuk mencapai tujuan pendidikan Agama.Untuk mencapai tujuan

pendidikan, maka dengan sendirinya dibutuhkan terdapatnya kurikulum yang

sesuai.

Dalam konteks kurikulum pendidikan agama islam, kurikulum

idealnya tidak disusun secara sentralistik, karena walaupun agama itu berlaku

universal tapi problem kehidupan keagamaan menjadi lokal-sektoral. Dari

segi dasar pemahaman keagamaan grade-nya sangat bervariasi. Daerah-daerah

tertentu yang lebih religius, seperti aceh misalnya, kurikulum pendidikan

agama jangan disamakan dengan masyarakat islam di papua yang memang

sangat tertinggal dan tidak kondusif bagi pengembangan wawasan keislaman.

Oleh sebab itu departemen agama hanya memberi semacam

rambu-rambu yang harus ada di dalam kurikulum pendidikan agama islam, tidak

(34)

dibuat sangat memungkinkan untuk guru dapat melakukan improvisasi

terhadap kurikulum tersebut.

a. Komponen Kurikulum

Kurikulum mempunyai empat komponen, yaitu tujuan, isi, pola

belajar-mengajar dan evaluasi.

1) Komponen tujuan mengarahkan atau menunjukan sesuatu yang hendak

dituju atau dicapai dalam proses belajar-mengajar.

2) Komponen isi menunjukan materi proses belajar-mengajar tersebut. Isi

kurikulum harus relevan dengan tujuan yang dibuat.

3) Komponen proses belajarmengajar, dalam proses belajar sebaiknya

anak tidak dibiarkan sendiri, karena PMB itu merupakan gabungan

kegiatan anak belajar dan guru mengejar yang tidak terpisahkan.

Selain itu juga PMB termasu didalamnya sarana (media) serta metode

pembelajaran.

4) Komponen evaluasi yaitu kegia tan kurikulum berupa penilaian untuk

mengetahui prosentase keberhasilan tujuan PMB yang sudah di

rumuskan. Penilain dalam Pendidikan Islam mempunyai kriteria

sendiri selain dari pencapaian kognitif, juga mengandung kriteria

(35)

b. Ciri-ciri Kurikulum Pendidikan Islam

Kurikulum pendidikan Islam mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1) Kurikulum PAI harus menonjolkan agama dan akhlak yang

diambil dari Al-Qur'an dan Hadits.

2) Kurikulum PAI harus memperhatikan pengembangan yang

berkesinambungan antara aspek pribadi siswa, jasmani, akal dan

rohani.

3) Kurikulum PAI harus memperhatikan unsur arti yang sangat luas.

4) Kurikulum PAI harus mempertimabngkan perbedaan-perbedaan

kebudayaan yang sering terdapat di tengah masyarakat. Tingkat

pluralitas dalam berbagai aspek kehidupan harus direspons dengan

kurikulum pendidikan Agama Islam yang menghormati dan

menghargai perbedaan antar etnik agama, suku, warna kulit,

bahasa, nation dan sebagainya.

5) Kurikulum PAI harus memperhatikan keseimbangan antara pribadi

dan masyarakat, dunia dan masyarakat, jasmani, akal dan rohani.18

c. Prinsip-prinsip Kurikulum Pendidikan Agama Islam

Dalam penyusunan kurikulum Pendidikan Agama Islam harus

memenuhi beberapa prinsip sebagai berikut:

1) Harus ada mata pelajaran yang ditujukan mendidik rohani (hati),

rohani yang dimaksud adalah aspek manusia selain jasmani dan akal.

18

(36)

Untuk mendidik rohani mata pelajaran yang tepat adalah mata

pelajaran ketuhanan (Akhlaq).

2) Harus memuat tuntunan cara hidup, yang dimaksud adalah bagaimana

cara berhubungan yang baik dengan Allah, sesama manusia dan

lingkungan sekitar. Mata pelajaran yang dapat memenuhi tuntutan ini

adalah ilmu fiqih dan ilmu akhlak.

3) Mata pelajaran harus memenuhi rasa ingin tahu yang ada pada peserta

didik.

4) Mated pelajaran yang terdapat dalam kurikulum itu harus fungsional

dan mempunyai konsekuensi praktis pragmatis.

5) Mata pelajaran yang dibarikan berguna dalam mempelajari ilmu lain.

Adapun materi pokok dalam Pendidikan Agama Islam, sebagai

berikut:

a. Aqidah adalah bersifat keyakinan batin, mengajarkan keesaan Allah. b. Syari'ah adalah berhubungan dengan amal lahir guna mengatur

hubungan antara manusia dengan Tuhan, dan mengatur pergaulan hidup dan kehidupan manusia.

c. Akhlak adalah suatu bentuk amalan yang bersifat pelengkap

penyempurna bagi kedua amal diatas yang mengajarkan tentang tatacara pergaulan hidup manusia.19

Tiga inti ajaran pokok ini kemudian dijabarkan dalam bentuk rukun

iman, rukun Islam dan akhlak, Dari ketiganya lahirlah beberapa keilmuan

agama, yaitu : ilmu tauhid, ilmu fiqh, dan ilmu akhlak. Ketiga kelompok

ilmu agama ini kemudian dilengkapi dengan pembahasan dasar hukum

19

(37)

islam, yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadits, serta ditambah lagi dengan sejarah

islam (Tarikh).

Pada tingkat SMP secara psikologis, peserta didik mengalami

perkembangan kejiwaan dan intelektualitas yang berbeda dibandingkan

peserta didik pada sekolah dasar. Kondisi kejiwaannya yang memasuki

jiwa remaja dan intelektualitasnya yang menuju kematangan harus di

formulasi standar pendidikan agama Islam yang sesuai dengan kejiwaan

dan intelektualitasnya.

Oleh karena itu pengajaran agama di SMP dapat dibagi menjadi:

1. Keimanan

2. Ibadah/Fiqh

3. Akhlak

4. Sejarah Islam

5. Al-Qur'an

6. Mu'amalah20

7. Syari'ah

8. Tarikh21

20 DEPAG RI, Kendali Mutu Pendidikan Agama Mam, (Jakarta,2001), hal.9 21

(38)

4. Tujuan Pcndidikan agama Islam

Pendidikan Islam merupakan proses bimbingan dan membina fitrah

peserta didik secara maksimal dan bermuara pada terciptanya pribadi peserta

didik sebagai muslim sempurna (insan kamil) yang meliputi kognitif, afektif

dan psikomotorik.

Tujuan Pendidikan Agama Islam, menurut beberapa pendapat para

ahli, antara lain:

1. Dr. Zakiah Daradjat, dkk, membagi tujuan pendidikan Islam ini dalam 4 (empat) bagian. Yaitu tujuan umum, tujuan akhir, tujuan sementara dan tujuan operasional. Sebagai tujuan umum pendidikan meliputi sikap. Tingkah laku, penampilan, kebiasaan dan pandangan. Tujuan sementara dari pendidikan Islam beliau berpendapat bahwa proses pendidikan itu yang dianggap sebagai tujuan akhirnya adalah insan kamil yang mati dan akan menghadap Tuhan-nya. sedangkan yang menjadi tujuan sementara yang dimaksud oleh Zakiah Daradjat ialah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal, tujuan operasional ialah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu.22 2. Pendapat Ibnu Khaldun, yang disadur leh Prof. Dr. Ramayulis membagi

tujuan pendidikan Islam ini dalam dua tujuan, yaitu tujuan keagamaan dan tujuan ilmiah. Tujuan keagamaan maksudnya ialah beramal untuk akhirat, sehingga ia menemui Tuhan-nya dan telah menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan kepadanya. Sedangkan tujuan ilmiah yang bersifa keduniaan, yaitu aapa yang diungkapkan oleh pendidikan modern dengan tuuan kemanfaatan atau persiapan untuk hidup.23

3. Al-Abrasyi masih yang disssadur oleh Prof. Dr. Ramayulis, memiliki penddpat yang Ibih komplit, yaitu bahwa pendidikan islam memiliki 5 (lima) tujuan pokok, antara lain:

a) Sebagai pembentukan akhlak mulia

b) Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat

c) Persiapan untuk mencari rizki dan pemeliharaan segi-segi

pemanfaatan. Keterpaduan antara agama dan ilmu akan dapat membawa manusia kepada kesempurnaan

22

Zakiyah Darajat, h. 18 23

(39)

d) Menumbuhkan roh ilmiah para pelajar dan memenuhi keinginan untuk mengetahui serta memiliki kesanggupan untuk mengkaji ilmu sekedar sebagai ilmu

e) Mempersiapkan para pelajar untuk suatu profesi tertentu sehingga ia mudah mencari rezeki.24

Demikian beberapa pendapat rumusan tujuan pendidikan Islam, makna

dan fungsinya dalam upaya pembentukan kepribadian, perpaduan iman dan

amal soleh, yaitu keyakinan adanya kebenaran mutlak yang menjadi

satu-satunyaa tujuan hidup dan sentral pengabdian diri dan perbuatan yang sejalan

dengan harkat dan martabat kemanusiaan.

Dalam proses pendidikan ini tujuan akhir merupakan kristalisasi

nilai-nilai yang ingin diwujudkan dalam pribadi anak didik. Oleh karena itu tujuan

akhir harus komprehensif, mencakup semua aspek, serta terintegrasi dalam

pola kepribadian yang ideal dan utuh. Tujuan akhir mengandung nilai-nilai

Islami dalam segala aspeknya, yaitu aspek normatif, aspek fungsional dan

aspek operasionalnya. Hal tersebut menyebabkan pencapaian pendidikan tidak

mudah, bahkan sangat komplek dan mengandung resiko sangat mental

spiritual, lebih-lebih lagi menyangkut internalisasi nilai-nilai Islami yang

didalamnya terdapat iman, islam dan takwa, serta ilmu pengetahuan menjadi

alat vitalnya.

Pendidikan Islam merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan

antara satu dengan lain, karena pada dasarnya pendidikan Islam merupakan

(40)

transformasi nilai-nilai Islam sebagai substansi dan implikasi dari segala

aspek kehidupan.

Tujuan pendidikan agama adalah agar para siswa memiliki akhlak

yang tinggi, beriman yang ditunjukan oleh perilaku-perilaku yang terpuji

dalam interaksinya dengan manusia dan lingkungannya. Pemdidikan agama

membantu anak didik menjadi insan kamil yaitu ia mempunyai kualitas

hubungan yang amat baik, bik kepada Allah SWT, terhadap manusia dan

terhadap lingkungannya yang lain.

Tujuan pendidikan pada tingkat SMP sebagaimana dirumuskan dalam

buku "Kendali mutu pendidikan agama Islam", adalah:

a. Beriman kepada Allah SWT, rukun Islam dan rukun Iman

b. Dapat membaca dan menulis serta memahami ayat suci al-Qur'an serta

mengetahui hukum membacanya

c. Beribadah dengan baik sesuai dengan tuntunan syariat Islam baik ibadah

wajib maupun sunah

d. Dapat mentauladani sifat, sikap, dan kepribadian Rasulullah SAW.

e. Mempraktikan hukum mu'amalah Islam dalam kehidupan sehari-hari.25

Tujuan akhir dari semua pendidikan yang sehat dan berguna adalah

yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan meningkatkan

harkat kemanusiaannya dan dalam waktu yang sama dapat menyelamatkan

(41)

manusia dari keburukan serta bahaya-bahaya yang mengancam nafsu amarah

oleh kebejatan akhlak dan kerusakan masyarakat yang melingkupinya.

B. KEPRIBADIAN

1. Pengertian Kepribadian

Kepribadian berasal dari kata "pribadi" yang berarti "sendiri"

atau "perorangan"26 menurut kamus umum Bahasa Indonesia, kepribadian

berarti, "keadaaan manusia sebagai perseorangan, keseluruhan sifat-sifat

merupakan watak orang.27

Menurut etimologi kepribadian atau personality berasal dari bahasa

Latin "Personare" yang berarti mengeluarkan suara. Pada mulanya istilah

personal berasal dari topeng yang dipakai oleh pemain sandiwara, dimana

pemain sandiwara itu diproyeksikan, kemudian kata personal itu berubah arti

menjadi pemain sandiwara atau orangnya. Namun kini kata kepribadian atau

personality menurut para ahli psikologi dipakai untuk menunjukan sesuatu

yang nyata dan dapat dipercaya tentang individu, untuk menggambarkan

bagaimana dan apa sebenarnya individu.28

Sedangkan pengertian kepribadian secara terminologi terdapat

beberapa definisi, yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya:

26

S. Wojowasito, Kamus Bahasa Indonesia, (Bandung: Shinta Dharma), Get. X, h. 227. 27

W. J. S. Poerwadaminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), h. 768.

28

(42)

1. Menurut Poedjawijatna, bahwa kepribadian adalah, dasar keseluruhan dan

kesatuan tindakan manusia yang berbudi dan berkehendak.29

2. Muhammad Ja'far mengemukakan, bahwa kepribadian adalah suatu sistem

sempurna dari sejumlah sifat khusus yang berkenaan dengan cita-cita

kemasyarakatan akliyah dan jasmaniyah baik yang bersifat fitrah maupun

yang menempatkan pengalaman aktifitasnya secara timbal balik sejalan

dengan norma-norma masyarakat lingkungan hidup seseorang.30

3. Menurut Agus sujanto dalam bukunya psikologi pendidikan mengutip

pendapat yang telah dikemukakn oleh G. W. Allport bahwa kepribadian

adalah "suatu organisasi psiko-fisik yang dinamis, seseorang yang

menyebabkan ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.31

4. Menurut Ahmad D. Marimba memberikan batasan bahwa kepribadian

adalah lebih luas artiya, meliputi kualitas keseluruhan seseorang, kualitas

itu akan tampak dalam cara-cara berpikir, mengeluarkan pendapat, sikap,

minat falsafah hidup serta kepercayaannya.

Kepribadian muslim merupakan tujuan akhir dari setiap usaha

pendidikan Islam dan hasil dari suatu proses sepanjang hidup. Oleh karena itu

banyak faktor yang ikut ambil bagian dalam pembentukan kepribadian

manusia tersebut. Dengan demikian apakah kepribadian manusia tersebut.

29

Poedjawijatna, Etika Filsafat Tingkah laku, (Jakarta: Bina Aksara, 1986), Cet. V, h. 54 30

M. Ja'far, Membina Pribadi Muslim, (Jakarta: kalam Mulia, 1994), Cet.l, h. 42 31

(43)

Dengan demikian apakah kepribadian seseorang itu baik atau buruk,

kuat atau lemah, beradab atau biadab sepenuhnya ditentukan oleh

faktor-faktor yang mempengaruhi dalam perjalanan hidup seseorang tersebut. Dalam

hal ini pendidikan sangat besar peranannya dalam pembentukan kepribadian

manusia itu sendiri.32

Dalam pengertian secara sederhana, filsafat diartikan sebagai

kepribadian jati diri dan pandangan hidup seseorang, masyarakat atau bangsa.

Kondisi ini dibentuk oleh tradisi kehidupan masyarakat ataupun oleh usaha

yang terprogram, tetapi sederhana apapun pembentukan itu tak lepas dari

peran pendidikan. Pendidikan pada prinsipnya menurut Prof. DR. Hasan

Laggulung, dapat dilihat dari dua sudut pandang individu dan dari sudut

pandang masyarakat (Hasan Langgulung, 1986: 38).

Dilihat dari sudut pandang individu, pendidikan merupakan usaha

untuk membimbing dan menghubungkan potensi individu. Adapun dari sudut

pandang kemasyarakatan, pendidikan merupakan usaha pewarisan nilai-nilai

budaya tersebut tetap terpelihara.

Dalam konteks ini dapat dilihat hubungan antara pendidikan dengan

tradisi budaya serta kepribadian suatu masyarakat, betapapun sederhananya

masyarakat tersebut.33

Secara definitif kepribadian itu dapat dirumuskan sebagai berikut:

32

Dra. Zuhairini. dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), h. 186. 33

(44)

a. Kepribadian manusia ialah suatu perwujudan keseluruhan segi

manusianya yang baik, lahir batin dan antar hubungannya dengan

kehidupan sosial dan individunya.34

b. Kepribadian adalah dinamis dari sistem-sistem Psikofisik dalam individu

yang turut menentukan cara-caranya yang unik (khas) dalam

menyesuaikan diri dengan lingkungannya.35

Dari definisi di atas nampak jelas bahwa kepribadian itu adalah hasil dari suatu proses

kehidupan yang dijalani seseorang. Oleh karena itu proses yang dialami seseorang itu

berbeda-beda.

2. Aspek-aspek Kepribadian

Kepribadian merupakan keterpaduan antara aspek-aspekn kepribadian,

yaitu aspek-aspek psikis seperti aku, kecerdasan, bakat, sikap, motif, minat,

kemampuan, moral dan aspek jasmani seperti postur tubuh, tinggi dan berat

badan, indra dan lain-lain. Diantara aspek-aspek tersebut aku dan diri (self)

seringkali ditempatkan sebagai pusat dan kepribadian, sebagaimana terdapat

dalam gambar tersebut:

34

Tim Dosen IKIP Malang, Pengantar Dasar-dasar Kependidikan, (IKIP Malang, 1981), h. 110.

35

(45)
[image:45.612.124.530.116.522.2]

Gambar, Aspek-aspek Kepribadian

Menurut Drs. Jalaluddin, bahwa kepribadian itu dapat dilihat dari

empat aspek muatannya, yaitu:

a. Aspek personalia, yaitu kepribadian yang dapat dilihat dari pola tingkah

laku lahir batin yang dimiliki seseorang.

b. Aspek individualitas, yaitu karakteristik adalah sifat-sifat khas yang

dimiki seseorang (membedakan yang satu dengan yang lain)

c. Aspek mentalitas, yaitu sebagai perbedaan yang berkaitan dengan cara

berpikir (sebagai gambaran pola pikir seseorang)

d. Aspek Identitas, yaitu kecenderungan seseorang untuk mempertahankan

sikap dirinya dari pengaruh luar (karakteristikyang mengantarkan

seseorang).

Bakat

Kemampuan

Motivasi Kecerdasan

Indra

Sikap Tinggi-berat

Badan

Postur Tubuh

(46)

Berdasarkan keempat aspek ini, terlihat bagaiman hubungan

antara pendidikan dan pembentukan kepribadian yang lebih lanjut

berhubungan dengan filsafat pendidikan yang bersumber dari nilai-nilai

budaya sebagai pandangan hidup suatu bangsa.36

Secara garis besar, aspek-aspek kepribadian itu dapat digolongkan

pada tiga hal, yaitu:

1. Aspek-aspek kejasmanian yang meliputi tingkah laku atau sikap

2. Aspek-aspek kejiwaan yang meliputi sikap, minat dan cara-cara berpikir

3. Aspek-aspek kerohanian yang meliputi falsafah hidup atau kepercayaan.37

Jadi kesimpulannya kepribadian muslim yaitu kepribadian yang

menunjukan tingkah laku luar, kegiatan-kegiatan jiwa dan falsafah hidup serta

kepercayaan seorang muslim.

3. Struktur Kepribadian

Dalam struktur kepribadian terdapat bagian-bagian yang saling

berhubungan dan saling mengatur serta menyesuaikan dan berintegrasi.

Kepribadian menurut Yusak Burhanudin, meliputi:

a. Nafsu, merupakan merupakan keinginan untuk dapat mempertahankan diri dan menjaga kelangsungan hidup seseorang.

b. integrasi dan intelek, integrasi adalah kempuan seseorang untuk menyelesaikan persoalan secara efektif dan efisien

36

Dr. Jalaludin dan Drs Abdullah IDI. M.Ed, Filsafat Pendidikan, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997) h. 160

37

(47)

berdasarkan pengalamannya. Adapun intelek adalah kemampuan seseorang yang diperoleh dari hasil belajar.

c. Temperamen, yaitu meliputi cara menerima dan melaksanakan

pengalaman emosional; keterampilan dan kecekatan dalam melakukan tugas-tugas sehari-hari yang menjadi dasar perasaan seseorang dan dorongan dalam melakukan aktivitas.

d. Psikomotorik, merupakan luapan jiwa dan pikiran seseorang.

e. Watak, merupakan gabungan seluruh tingkah laku yang membentuk dasar kepribadian seseorang.38

4. Tipologi Kepribadian

Kepribadian merupakan satu kesatuan yang menyeluruh dan

kompleks. Setiap orang memiliki kepribadian tersendiri. Dalam hal ini para

ahli mengelompokan kepribadian atau tipologi kepribadian.

Dalam bukunya Nana Syaodih memaparkan, ada empat tipe

kepribadian, yaitu:

a. Choleric (choler adalah empedu kuning) yang memiliki temperamen cepat

marah, mudah tersinggung, tidak sabar dan sebagainya.

b. Melancholic (melas dan choler adalah empedu hitam). Yang memiliki

temperamen pemurung, penduka, mudah sedih, pesimis, dan putus asa.

c. Phlegmatic (phlegma adalah lendir) yang memiliki sifat-sifat periang,

aktif, dinamis, dan cekatan.

Tipologi ini didasarkan atas teori yang lahir dari pemikiran filosofis

dan bukan penelitian empiris.

38

(48)

Menurut Kretchmer ada tiga tipe kepribadian yang digolongkan

berdasarkan bentuk tubuh, yaitu:

1) Asthenicus atau leptosome, yaitu orang-orang yang berperawakan tinggi

kurus, memiliki sifat-sifat kritis, memiliki kemampuan berpikir abstrak,

suka melamun dan sensitif.

2) Pycknicus, seorang yang berperawakan pendek gemuk, memiliki

sifat-sifat periang, suka humor, populer, hubungan sosial luas, banyak kawan

dan suka main.

3) Athleticus, seorang yang bertubuh tinggi besar, memiliki sifat pemberani,

agresif, mudah menyesuaikan diri dan berpendirian teguh.39

Sejalan dengan tipologi kretchmer adalah tipologi dari sheldon (1940),

berdasarkan penelitianempiris terhadap unsur-unsur jaringan tubuh dalam

embrio, sheldon menyimpulkan adanya tiga tipe khas manusia berdasarkan

bentuk tubuh, yaitu:

a) Endomorphic, berbadan pendek gemuk dengan ciri-ciri kepribadiannya

viscerotonia, yaitu: senang makan, hidup mudah, tak banyak yang

dipikirkan, rasa kasihsayang, senang bergaul, toleran dan rileks.

b) Mesomorphic, berbadan tinggi kurus dengan ciri kepribadian somatonia,

yaitu senang akan kekuatan jasmaniah, aktif, agresif dan energik.

39

(49)

c) Ectomorphic, berbadan tinggi kurus dengan ciri kepribadian cerebrotonia,

yaitu: suka berpikir, melamun, senang menyendiri, pesimis dan mudah

terharu.

Tipologi lain dikembangkan oleh spranger, seorang filsuf Jerman,

ia menhgelompokkan individu atas dasar kecendrungannya akan nilai-nilai

dalam kehidupan. Menurutnya ada enam tipe kepribadian, yaitu:

1) Theoritic (manusia teoritis), tipe ini memiliki dorongan yang besar untuk meneliti, mencari kebenaran, rasa ingin tahu, pandangan yang objektif tentan dirinya dan dunia luar.

2) Economic, Perilakunya selalu diwarnai oleh dorongan-dorongan ekonomi, segala sesuatu dilihat dari manfaat atau kegunaannya terutama untuk dirinya.

3) Aesthetic (nilai-nilai keindahan), yang memiliki sifat senang akan keindahan, bentuk-bentuk simetris, harmonis, segala sesuatu dipandang dari sudut keindahan.

4) Sociatic (nilai-nilai sosial), yang memiliki sifat menyenangi orang lain, simpatik, baik, dan meninjau persoalan dari hubungan antara manusia. 5) Politic, yang memiliki dorongan untuk menguasai orang lain dan menjadi

manusia terpenting dalam kelompoknya.

6) Religious, yang mengutamakan nilai-nilai spritual hubungan dengan Tuhan, perilakunya didasari oleh nilai-nilai keagamaan, keimana, yang teguh, penyerahan diri kepada Tuhan.40

Sebagaimana telah kita fahami bahwa didalam perkembangan

kepribadian seseorang yang dapat dilihat dari keseluruhan perilakunya, maka

pada anak didik perlu dibentuk secara intensif adalah pada lingkungan rumah,

kemudian berkembang pada lingkungan yang lebih besar yaitu dengan

tetangganya. Pada saat ia memasuki dunia sekolah maka ia akan beradaptasi

dan berinteraksi dengan lingkungan sekolah. Didalam interaksi-interaksi

40

(50)

tersebut sebenarnya terjadi proses-proses peniruan atau imitasi terhadap

orang-orang sekitarnya terutama orang yang sangat penting dalam

kehidupannya (significant others). Disamping peniruan yang dilakukan

terhadap perilaku orang-orang disekitarnya ia juga melakukan

percobaan-percobaan yang dikembangkannya sendiri dan dari perilaku mencoba-coba

tersebut ia memperoleh penguatan ataupun penghambat dari lingkungannya

sesuai dengan ukuran-ukuran norma yang hidup dalam masyarakat tersebut.

Pendidikan agama dalam hal ini memberikan acuan mengenai sesuatu yang

dianggap baik atau tidak baik sehingga perilaku tersebut terbentuk. Setelah

anak-anak lebih besar pengetahuan tentang baik atau buruk itu juga diperoleh

dari hasil bacaan, dari hasil pengamatan terhadap perilaku orang-orang lain

baik diamati secara langsung maupun lewat bacaan atau tontonan yang lain.

Masa-masa pembentukan dilalui oleh anak didik terutama pada

tahapan pendidikan dasar dengan fondasi yang diperoleh dari rumah maka

pada saat ia memasuki pendidikan di luar sekolah. Sebagai penggalan pertama

dari pendidikan dasar maka kebutuhan kepada orang tua yang semula menjadi

acuan utama pada masa-masa balita sampai sebelum sekolah akan beralih atau

dilengkapi dengan acuan-acuan yang diberikan oleh gurunya dibanding

kepada orang tuanya didalam hal-hal tertentu.

Pada saat ia memasuki penggalan kedua dari pendidikan dasar, yaitu

Sekolah Menengah Pertama dan pada awal Sekolah Menengah Umum akan

(51)

agama yang selama ini ia terima sehingga menjadi anak yang manis, mulai

dipertanyakan, mulai disoal sebelum ia mengakui bahwa norma itu bersesuai

dengan hati nuraninya. Ini adalah perkembangan yang sangat normal bahwa

sebelum menjadi dewasa, seorang anak didik akan tetap mempersoalkan, baru

kemudian mengakui.

Oleh karena itu pendidikan agama akan memerlukan format yang

berbeda dengan penyajian pada masa pendidikan awal dengan

masa-masa pendidikan ketiga anak itu menginjak masa-masa remaja dan ambang dewasa.

Pada masa-masa awal maka pembiasaan menjadi sangat dominan. Demikian

juga peniruan dan sistem hukuman dan ganjaran. Sedangkan pada masa-masa

dimana sikap kritis mulai tumbuh maka pembahasan diperlukan dengan

pemberian penalaran. Tapi ada satu hal yang mengikat para pendidik untuk

selalu menerapkannya baik pada tatanan sistem pendidikan dasar, dimana

anak-anak tersebut sampai pada ambang kedewasaan, yaitu bahwa para

pendidik harus mempraktekan nilai-nilai keagamaan yang diyakininya.

Dengan kata lain ia harus berperilaku secara konsisten atau menjadi satunya

kata dan perbuatan alias taat azas. Setiap perilaku yang berstandar ganda yang

ditujukan pendidik akan menghasilkan kebingungan kepada anak-anak dan

pada saatnya anak akan menunjukkan perilaku menolak terhadap apa yang

(52)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Obyek Penelitian

Obyek bagi penelitian yang penulis lakukan dalam penyusunan skripsi ini

adalah SMPN 02 Bekasi Timur, yang terletak di Jl. Chairil Anwar No. 37

Kelurahan Margahayu Kecamatan Bekasi Timur, Kabupaten Bekasi 17122

Propinsi Jawa Barat Telp. (021) 8803079

B. Waktudan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di SMPN 02 Bekasi Timur, waktu penelitian di

laksanakan dari tanggal 2 Februari s/d 28 Mei 2005

C. Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian41. Populasi dalam penelitian

ini adalah siswa-siswi SMPN 02, yang berjumlah 280 siswa.

Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang memiliki

karakteristik yang sama, sehingga betul-betul mewakili populas.42 Teknik yang

digunakan dalam pengambilan sampel adalah proposional stratified random

sampling yaitu suatu teknik yang tidak sama. Sedangkan besar anggota sampel

41

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), cet.ke- 10, h. 115 42

(53)

yang diambil adalah 25% darji jumlah populasi yang ada. Sampel yang diambil

sebanyak 70 siswa.

D. Metode Penelitian

Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah

metode deskriptif yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan

penelitian langsung terhadap objek yang akan dituju untuk memperoleh dan

mengumpulkan data-data yang diperlukan.

Dalam melakukan penelitian lapangan ini penulis langsung ke SMPN 02

Bekasi Timur dan menemui serta mengadakan wawancara dengan orang-orang

yang penulis anggap mengetahui tentang masalah yang hendak dibahas. Selain itu

penulis juga menyebarkan angket kepada sebagian siswa yang penulis jadikan

sampel dalam penelitian ini.

E. Teknik Pengumpulan Data

Dalam melakukan penelitian lapangan ini, penulis menggunakan beberapa

teknik untuk mengumpulkan data yang sesuai dengan permasalahan yang sedang

diteliti. Adapun teknik pengumpulan data tersebut adalah:

1. Observasi, yaitu pengamatn dan pencatatan secara sistematis terhadap

fenomena-fenomena yang diselidiki.43 Observasi merupakan metode yang

43

(54)

secara langsung mengamati perilaku subyek penelitiannya,44 dan metode yang

pertama-tama digunakan untuk mendapatkan data-data yang berkaitan dengan

penelitian. Dalam melakukan penelitian ilmiah ini penulis melakukan

observasi langsung dengan cara datang ke SMPN 02 yang berada di Jl. Chairil

Anwar No. 37 Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kabupaten

Bekasi serta melakukan pengamatan terhadap SMPN 02.

2. Wawancara, yaitu suatu dialog yang dilakukan untuk memperoleh informasi

dari orang yang diwawancara.45 Dalam melakukan penelitian ilmiah ini

penulis melakukan wawancara secara langsung dengan berbagai pihak yang

penulis anggap terkait serta mengetahui untuk memperjelas data yang

diperoleh dari angket.

3. Angket yaitu suatu alat penelitian yang dilakukan dengan cara menyebarkan

daftar pertanyaan untuk memperoleh keterangan dari sejumlah responden.46

Daftar pertanyaan ini disusun secara tertulis mengenai seuatu hal yang

berkaitan dengan indikator masalah pendidikan, angket yang digunakan

adalah angket tertutup yang berarti berupa bentuk pertanyaan setiap

responden hanya tinggal menulis jawaban yang telah disediakan dalam angket

tersebut. Dalam melakukan penelitian ini penulis menyebarkan angket kepada

sebagian siswa yang penulis jadikan sampel dalam penelitian ini. Angket ini

44

Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi, (Jakarta: Lembaga PT. Fakultas Ekonomi UI, 2000), Edisi ke-2, h. 249

45

Suharsimi Arikunto, Op.cit., h. 115 46

(55)

berisi 30 item, yang terdiri dari 15 item untuk variabel X-nya dan 15 item lagi

untuk variabel Y-nya. Untuk lebih jelasnya dari ke-30 item pernyataan

[image:55.612.137.576.163.696.2]

tersebut dapat dilihat pada kisi-kisi penyusunan angket pada tabel berikut:

Tabel 1

Kisi-kisi Item Pernyataan Angket Penelitian

No Variabel Dimensi

Variabel Indikator Jumlah Item Nomor Item 1 Pelaksanaan PAI (Variabel X) Aktivitas guru mengajar

- Menggunakan berbagai

metode dalam proses

mengajarnya

- Menggunakan media

pengajaran dalam proses

mengajarnya

- Memberikan tugas

setelah menyampaikan

materi

- Tidak melaksanakan

monitoring da

Gambar

Gambar, Aspek-aspek Kepribadian
Tabel 1 Kisi-kisi Item Pernyataan Angket Penelitian
Kriteria PenilaianTabel 2
Guru memberikan tugas setelah menyampaikan materiTabel 3
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil perbandingan perubahan nilai warna basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas dan nilon termoplastis sebelum dan setelah perendaman dengan larutan coklat selama

 Lukis daerah penyelesaian dari kendala dalam suatu masalah program lineara.  Tentukan koordinat titik sudut – titik sudut

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah apakah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dengan media video dapat meningkatkan pembelajaran IPS

Tema yang diharapkan pada Kawasan Wisata Sejarah Tembakau Deli ini adalah arsitektur kontekstual harmoni dengan mengambil langgam Art Deco pada bangunannya

Adapun Yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses yang melatarbelakangi tindak kenakalan yang dilakukan oleh remaja, terutama remaja

lalu dibilangin temen, bisa mbak nanti malah kita Cuma istilahnya mengulang pelajaran yang tadi di sekolah, masih bisa masih bisa ngikutin dan juga masihbisa nambah-nambah

Adopsi kurikulum dan sistem penilaian dari sistem pendidikan nasional yang dilakukan oleh Sekolah Islam Terpadu semakin mempertegas bahwa lembaga pendidikan yang sedang

5 John Afifi, op., cit.. Pada umunya pendidik lebih suka menggunakan metode ceramah dikombinasikan dengan metode tanya jawab. Metode ceramah banyak dipilih karena mudah