KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, sholawat serta salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah SAW,
sebagai teladan setiap insan, keluarga, para sahabat dan umatnya yang setia
memperjuangkan kebenaran dan menegakkan agama Islam hingga akhir zaman,
Amin.
Dalam rangka penulisan skripsi ini, muncul berbagai hambatan namun syukur
Al-hamdulillah berkat taufiq dan hidayahnya serta bimbingan, dorongan dan bantuan
semua pihak, akhirnya penulisan skripsi ini dapat terselesaikan.
Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih, kepada:
1. Bpk Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan
2. Bpk Drs. Akhmad Sodiq M.Ag, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam
beserta Stafnya yang telah banyak membantu penulis saat menjalani kuliah dan
ketika menulis skripsi ini.
3. Ibu Dra. Eri Rosatria M.Ag, selaku Dosen pembimbing skripsi, yang telah banyak
meluangkan waktu dan mencurahkan pikiran untuk membimbing penulis dalam
penulisan skripsi ini.
4. Bpk Drs. Mastuhu MA, selaku Dosen seminar proposal skripsi, yang telah banyak
5. Lembaga pendidkan SMPN 02, Bpk Drs. Zaenal arifin, para dewan guru serta
siswa/I SMPN 02, yang telah bersedia membantu penulis dalam memberikan
data, baik secara tertulis maupun secara lisan.
6. Para bapak dan ibu dosen, yang telah mendidik dan emberikan ilmu pengetahuan
dan pengalaman kepada penulis dengan penuh kesabaran.
7. Pimpinan Pondok Pesantren Al-marfuiyah, bpk Drs. Ujang Marfu serta ibu Dra.
Neneng kusmiyati, serta dewan guru yang telah mendidik penulis.
8. Ayah dan bunda tercinta, Agus Maulana dan Daya, yang telah bersusah payah
membesarkan serta mendidik penulis dari buaian hingga sekarang.
9. Kakek dan nenekku yang tercinta, H. Dasim dan Hj. Dasah dan adikku, mardani
yang telah memberikan dorongan, baik moril maupun materil.
10.Anakku yang tersayang, yang telah memberikan motivasi, kekuatan serta
kesabaran kepada ibu dalam penulisan skripsi ini.
11.Teman-temanku yang tercinta, Musyarofah, ikah kartikah, sugih raharjo, yayah
khoiriyah, nurseha, Hj Subhana, uum humairoh dan iis wulandari, yang telah
memberikan semangat dan bantuan baik secara moril maupun materil. Kepada
Allah jualah penulis serahkan segalanya, serta panjatkan do'a, semoga amal
kebajikan mereka mendapat balasan dari Allah, Amin.
Akhirnya penulis berharap, semoga kehadiran skripsi yang sederhana ini,
dapat bermanfaat bagi penulis, serta pembaca, Amin. Jazakumullah Khairan Katsiro.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI... iii
DAFT ARTABEL... v
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Alasan Memilih Judul ... 10
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 11
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 13
E. Sistematika Penyusunan... 14
BAB II LANDASAN TEORI A. Pendidikan Agama Islam ... 16
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam ... 16
2. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam ... 22
3. Kurikulum Pendidikan Agama Islam... 24
4. Tujuan Pendidikan Agama Islam ... 30
B. Kepribadian ... 32
1. Pengertian Kepribadian... 32
2. Aspek-aspekKepribadian ... 38
3. Struktur Kepribadian... 38
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Obyek Penelitian ... 43
B. Waktu dan Tempat Penelitian ... 43
C. Populasi dan Sampel ... 43
D. Metode Penelitian ... 44
E. Tekhnik Pengumpulan Data... 44
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum SMPN 02 Bekasi ... 52
1. Sej arah singkat Berdirinya SMPN 02 Bekasi ... 52
2. Letak Geografis SMPN 02 Bekasi ... 53
3. Prasarana SMPN 02 Bekasi ... 53
B. Deskripsi Data... 54
C. Analisis dan Interpretasi... 54
1. Analisis Data ... 54
2. Interpretasi Data ... 83
a. Interpretasi dengan Cara Sederhana... 83
b. Interpretasi dengan Menggunakan Tabel Nilai r Product Moment ... 83
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 86
B. Saran... 88
DAFTAR TABEL
1. Kisi-kisi item pernyataan angket penelitian... 46
2. Kriteriapenilaian... 51
3. Guru memberikan tugas setelah menyampaikan materi ... 54
4. Struktur kurikulum SMP ... 55
5. Kurikulum PAI yang diterapfcan sesuai dengan kebutuhan siswa ... 56
6. Metode yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi, memudahkan siswa dalam menerima pelajaran ... 56
7. Materi pendidikan agama sangat membebani terhadap aktivitas siswa.... 57
8. Guru menggunakan media pengajaran dalam proses pengajarannya. ... 57
9. Guru memberikan kesempatan untuk bertanya... 58
10.Siswa merasakan suasana KBM yang kondusif... 59
11.Guru memberikan bimbingan belajar... 59
12.Jenis kegiatan belajar mengajar ... 60
13.Guru tidak melaksanakan monitoring dan penilaian terhadap proses dan hasil belajar ... 60
14.Guru memiliki strategi pengajaran yang handal, sehingga mempermudah siswa dalam menerima materi pelajaran ... 61
15.Dengan belajar sungguh-sungguh siswa akan mendapatkan prestasi yang Baik ... 62
17.Guru memberikan bantuan terhadap siswa yang mengalami kesulitan
dalam belajar... 63
18.Dalam proses KBM tercipta suasana yang menyenangkan, sehingga membangkitkan motivasi belajar siswa ... 64
19.Validitas isi tes membingungkan siswa dalam proses ujian berlangsung. 65 20.Siswa mengikuti peraturan yang diterapkari disekolah pendidikan agama di SMPN 02... 65
21.Siswa memaafkan teman yang melakukan kesalahan... 66
22.Kegiatan ekstra kurikuler siswa/I SMPN 02... 66
23.Bila bertemu dengan guru siswa mengucapkan salam... 67
24.Siswa berbohong kepada guru ... 67
25.Siswa berdo'a hendak memulai pelajaran ... 68
26.Siswa mengerjakan tugas pelajaran ... 68
27.Siswa mendapatkan hukuman bila terlambat... 69
28.Siswa menyontek saat ujian ... 69
29.Guru membiarkan siswa tertidur... 70
30.Siswa keluar tanpa seijin guru ... 70
31.Siswa melaksanakan shalat dzuhur secara berjama'ah... 71
32.Siswa yang bersikap kurang ajar akan diberi hukuman ... 71
33.Siswa memberikan selamat terhadap teman yang sukses ... 72
34.Guru memberikan bimbingan belajar... 72
36.Siswa memperhatian dengan baik pada saat guru menyampaikan materi 74
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan agama merupakan unsur penting dalam pembentukan dan
pembinaan kepribadian seseorang, pendidikan agama berlangsung dalam
keluarga, sekolah dan masyarakat. Pendidikan agama yang berlangsung dengan
baik dalam semua lembaga pendidikan formal (sekolah) maupun informal
(keluarga) dan non formal (masyarakat) akan merupakan unsur penting dalam
pembinaan kepribadian seseorang, karena pengalaman keagamaan yang dilalui
tersebut akan menjadi unsur penting dalam kepribadiannya. kepribadian yang
terjalin didalam nilai-nilai agama akan membuahkan akhlak yang baik.
Pendidikan adalah proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan
dan nilai-nilai pada anak didik melalui pertumbuhan dan pengembangan potensi
fitrahnya guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam segala
aspek.
Belakangan ini banyak ditemukan orang-orang yang akhlaknya tidak baik,
sopan santun kepada orang tuanya kurang, bahkan ada ditemukan orang-oramg
terpelajar yang melanggar ketentuan-ketentuan hukum, adat, sopan santun
masyarakat dan ajaran agama
Hal tersebut mungkin disebabkan oleh orientasi sekolah, keluarga dan
agama termasuk akhlak. oleh karena itu nilai-nilai akhlak tidak tercermin dalam
sikap, perilaku dan corak hidup pada umumnya.
Dalam hal ini, orientasi sekolah barangkali tidak berlebihan jika dikatakan
bahwa pendidikan agama diberikan disekolah lebih mementingkan pengetahuan
agama yang harus dimiliki oleh peserta didik dan kurang memperhatikan
nilai-nilai agama yang terkandung didalamnya, padahal pendidikan agama bertujuan
agar peserta didik menghayati dan melaksanakan nilai-nilai agama dalam
kehidupannya sehari-hari, itulah barangkali yang menyebabkan banyaknya anak,
remaja dan orang dewasa berperilaku yang bertentangan dengan agama.
Seharusnya nilai-nilai agama masuk dan terjalin kedalam kepribadiannya
mulai dari awal pembentukan kepribadian dalam keluarga bahkan sejak dalam
kandungan, seandainya anak belum memperoleh nilai-nilai dalam dalam keluarga
maka sekolah yang membantunya dengan cara yang tepat.
Jika dicermati secara kritis, kata demi kata, kalimat demi kalimat, alinea
demi alinea yang terdapat pada pembukaan UUD 1945, bangsa Indonesia sangat
menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, bahkan spirit keagamaanlah yang
mendorong bangsa Indonesia berjuang sampai akhirnya menyatakan
kemerdekaan padatanggal 17 Agustus 1945.
Berdasarkan hal itu secara yuridis tepatlah jika dikatakan bahwa nagara RI
adalah negara agama yang berdasarkan pancasila atau disebut negara pancasila
Konsekuensi logisnya, dalam kaitannya dengan kepentingan nasional
cukup beralasan jika pendidikan agama mendapat tempat yang penting dalam
kurikulum pendidikan nasional, sehingga wajib diikuti oleh seluruh peserta didik
mulai dari jenjang pendidikan yang paling rendah sampai perguruan tinggi. (Lihat
GBHN: 78;83;88;93;98;99 bab agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang
Maha Esa).
Atas pertimbangan itu tujuan pendidikan agama tentunya
menumbuhkembangkan nilai-nilai keagamaan sebagai landasan berpijak bangsa
dan menjadikannya pembangkit semangat dalam mempertahankan eksistensi
kemerdekaan Indonesia dan mengisinya, sehingga tujuan pendidikan nasional
dapat tercapai. Mengingat telah terjadinya degradasi kewibawaan pendidikan
agama terutama dilembaga-lembaga pendidikan formal, maka dalam konteks
yang menyangkut konsep dasar, tujuan dan materi, proses pembelajaran dan
evaluasi pendidikan Agama.
Meskipun sekolah merupakan sarana transfortasi kebudayaan suatu
masyarakat namun, eksistensinya tidak seluas eksistensi kebudayaan umum,
eksistensi hanya subculture dari totalitas kebudayaan manusia kondisi ini
menjadikan sekolah sebagai lembaga paling besar peranannya dalam proses
dinamika budaya manusia hal ini setidaknya disebabkan tiga faktor, yaitu:
1) Sekolah merupakan tempat berkumpulnya peserta didik, yang berasal dari
berfungsi untuk mengakumulasi berbagai bentuk latar belakang kebudayaan
peserta didik, dalam suatu sistem kebudayaan.
2) Eksistensi sekolah merupakan miniatur untuk melihat sejauh mana maju
mundurnya peradaban suatu negara.
3) Sekolah juga merupakan tempat dimana peserta didik menerima berbagai
macam bentuk keterampilan yang secara pragmatis dapat dipergunakan dalam
kehidupannya. Dilain pihak, sekolah juga merupakan tempat penumbuhan
nilai moralitas religius, dengan nilai tersebut, diharapkan agar mampu menjadi
alat kontrol dalam setiap aktivitas yang dilakukannya.1
Melihat dari wacana diatas, terlihat bahwa eksistensi sekolah merupakan
sarana paling vital dalam proses kemunculan kepribadian manusia seutuhnya.
Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang dialogis, adaftik, dan kondusif lagi
optimalisasi pencapaian tugas dan fungsinya, baik secara makro maupun mikro.
Pendidikan Agama dimaksudkan untuk memberikan bagi para siswa agar
dapat berperilaku sesuai dengan nilai-nilai keagamaan dalam hal ini khususnya
Islam.
Dalam hal ini, pendidikan agama di SMPN 02 Bekasi pun bertujuan agar
dapat mencetak siswa/i memiliki kepribadian yang baik, walaupun disekolah ini
orientasi pendidikannya adalah pendidikan umum, namun seorang guru berupaya
semaksimal mungkin, agar pendidikan agama dapat terlaksana dengan efektif dan
efesien, agar tujuan pendidikan agama disekolah dapat terlaksana secara optimal,
ilmu namun juga mampu mentransfer kultur yang sesuai dengan ajaran agama
Islam1
Kritik-kritik yang cenderung menimpakan segala tanggung jawab atas
terjadinya penyimpangan perilaku siswa seperti tawuran dan keterlibatan narkoba,
selama ini hanya pada program pelajaran agama adalah tidak adil, sebab
pembentukan perilaku akhlakul karimah adalah tanggung jawab semua pendidik
bangsa ini termasuk para pemimpin negara.
Pendidikan agama berkarakteristik sarat nilai sebagaimana sifat pendidik
mempunyai muatan nilai yang bersifat kognitif, afektif dan psikomotorik.
Pendidikan Agama mengharapkan diperolehnya sejumlah pengetahuan,
terbentuknya sikap dan wujud dan terwujudnya perilaku sebagai insan kamil bagi
para pesertanya.
Muatan pendidikan agama adalah segala hal tentang bagaimana hubungan
manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, manusia dengan alam, benda,
tumbuhan dan hewan. Pendidikan Agama Islam bersumber pada Al-Qur'an,
Hadits dan Sunah Nabi.
Sebagaimana pendidikan tentang nilai, akan sangat efektif apabila
dipelajari melalui contoh keteladanan, sangatlah penting bagi semua yang terlibat
dalam pendidikan ini, menunjukan perilaku yang patut dicontoh.
1
Sudah seharusnyalah seorang guru, apapun pelajaran yang diajarkannya
harus memiliki sikap positif terhadap agama, kepribadian, serta akhlaknya
hendaklah dijadikan contoh oleh peserta didik, dalam pembentukan pembinaan
kepribadian peserta didik, terutama guru agama menjadi cermin bagi agama yang
diajarkannya.
Dengan demikian seorang guru agama harus mengatahui ciri-ciri
perkembangan jiwa anak (menguasai ilmu jiwa anak atau ilmu jiwa
perkembangan ), agar dia dapat melaksanakan pendidikan agama dengan cara
yang sesuai dan serasi dengan perkembangan jiwa anak yang sedang
dihadapinya.2
Berbagai perilaku akan terbentuk secara bertahap, melalui
pembiasaan-pembiasaan, peniruan, analisis kritis dan pengubah-pengubah (modifikasi).
Motivasi berperilaku bisa juga disebabkan oleh penguasaan atas perilaku
prasyarat karena ada kepuasan menguasai kecakapan tertentu, Penguasaan
kecakapan menimbulkan rasa berhasil dan mendorong untuk memperkuat
perilaku tersebut. Umpan balik dan penguatan lebih-lebih pada tahap awal, sangat
penting.
Pendidikan nilai yang mengatur perilaku manusia dalam hubungan dengan
tiga pihak tadi (Al- khalik, manusia dan alam) melingkupi penghayatan
mendalam yang menyentuh pengalaman batiniah yang sukar dirasakan yang sukar
2
diraba dan diamati, sampai tindakan nyata senyata-nyatanya terhadap orang lain,
benda dan makhluk lainnya.3
Sesungguhnya tujuan akhir dari semua pendidikan yang sehat dan berguna
adalah yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan
meningkatkan harkat kemanusiaannya dalam waktu yang sama dapat
menyelamatkan manusia dari keburukan serta bahaya-bahaya yang mengancam
nafsu amarah atau kebejatan akhlak dan kerusakan masyarakat yang
melingkupinya. Pendidikan dilihat dari segi operasionalnya mempunyai dua
aspek yaitu:
a. Pendidikan berarti menumbuhkan dan membina.
b. Pendidikan berarti menjaga dan memperbaiki.4
Menangkal terhadap penyakit moral, memperkuat penanaman keutamaan
akhlak dalam diri remaja dan dalam masyarakat kita merupakan senjata yang
paling ampuh untuk memerangi segala penyakit moral. Untuk itu memperkokoh
kejujuran dan kesabaran hati, sikap memenuhi janji dan keadilan, kasih sayang,
menahan hawa nafsu, tolong menolong, persaudaraan, persatuan,
bersungguh-sungguh serta sikap tengah (tawadu), rendah hati, kebersihan hati serta ksatria
akan dapat menimbulkan dalam diri manusia daya pencegah terhadap segala
kerendahan nafsu, kitab suci Al-Qur'an memberikan petunjuk dengan
3
Didaktika Islamika, Reorientasi Pendidikan Agama, edisi khusus. H:35-37
4
ayatnya yang mendorong kita agar mengambil segala perbuatan yang baik dan
menjauhi segala bentuk perbuatan yang rendah (hina).
Dengan penggambaran proses internalisasi norma-norma seperti itu,
pendidikan agama akan memberikan dampak kepada perilaku anak apabila terjadi
konsistensi antara apa yang diucapkan dan apa yang diperbuat oleh mereka.
Disamping itu dampak dari pendidikan agama akan menunjukkan
efektifitasnya apabila terjadi kesinambungan yang harmonis antara rumah -
sekolah dan lingkungan ketiga. Sebaiknya apabila pendidikan di rumah tidak
sesuai dengan norma-norma yang diberikan di sekolah dan lebih-lebih
bertentangan dengan kenyataan yang ada di lingkungan ketiga, maka bukan saja
keraguan yang akan timbul tetapi anak-anak akan kehilangan pegangan kemudian
dia akan larut kepada perilaku reaktif yang terjadi secara situasional.
Tekanan-tekanan akan datang dari luar dirinya terutama dari kawan-kawan atau dari
orang-orang yang dia temui didalam pergaulannya, termasuk tatanan layanan sosial
yang tampak membuai, tetapi pada hakikatnya merupakan malapetaka (contoh
varia, film dan majalah porno serta budaya kekerasan).
Pendidikan agama yang baik menyajikan pembisaan-pembiasaan,
pengetahuan, penghayatan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dan dalam
bentuk-bentuk perilaku yang baik (akhlaqul karimah). Didalam perjalanannya tentu saja
dampa ini terlihat pada awalnya sebagai kebisaan-kebisaan, kemudian lama
akan menyakini bahwa segala perilakunya itu adalah cerminan keimanannya
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dengan itu pula ia memiliki keimanan, sebagaimana yang telah digariskan
dalam rukun iman, tetapi juga berperilaku terhadap sesamanya dengan cara-cara
yang terpuji sebagaimana dicontohkan oleh nabi-nabi yang diketahui penuturan
dan bacaannya.
Dalam menjalankan syari'at agama, ia juga akan berpedoman kepada
aturan-aturan yang diajarkan kepadanya, baik melalui percontohan maupun
melalui ajaran-ajaran serta cara-cara lain yang berhubungan dengan media atau
teknologi sesuai denganjamannya.
Pada tataran yang lebih tinggi pendidikan agama bukan saja pedoman
perilaku anak didik pada keadaan-keadaan yang normal, tetapi ia akan menjadi
benteng terhadap gelombang-gelombang kehidupan dan ujian-ujian kehidupan
berupa berbagai godaan yang bertentangan dengan perilaku akhlaqul karimah
tersebut.
Negara kita bukan negara sekuler. Pendidikan agama telah disepakati
sebagai sesuatu yang harus dijadikan sebagai salah satu pelayanan kepada warga
negara Indonesia yang sangat pluralistik.
Berbeda dengan negara-negara yang sekuler seperti di Turki maupun di
Korea Selatan misalnya, bahwa negara justru tidak membolehkan sekolah
memberikan pendidikan agama karena dianggap memasuki wilayah pribadi dan
Semangat keagamaan merupakan pendorong bangsa Indonesia menjadi
bangsa yang merdeka dan berdaulat, karena itu nilai-nilai keagamaan dijunjung
tinggi.
Pendidikan agama wajib diberikan dari berbagai tingkat pendidikan.
pendidikan agama wajib diberikan dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat
perguruan tinggi.
B. Alasan Memilih Judul
Adapun judul yang penulis pilih dalam skripsi ini, adalah "PERANAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH UMUM DALAM UPAYA PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN SISWA".
Ada beberapa alasan yang menjadi motivasi penulisan masalah dalam
judul ini, diantaranya sebagai berikut:
1. Pendidikan agama merupakan suatu usaha dalam membina kehidupan
beragama dan bernegara. Sebagaimana Firman Allah SWT:
ﺔﱠﺎآ
اوﺮ ْ
نﻮ ْﺆ ْا
نﺎآ
ﺎ و
ﺔ ﺋﺎﻃ
ْ ﻬْ
ﺔ ْﺮ
ﱢ آ
ْ
ﺮ
ﺎ ْﻮ
نورﺬْﺤ
ْ ﻬﱠﻌ
ْ ﻬْ إ
اﻮﻌﺟر
اذإ
ْ ﻬ ْﻮ
اورﺬْ و
ﱢﺪ ا
اﻮﻬﱠ ﺘ
.
2. Pendidikan dalam kehidupan manusia memiliki peranan yang sangat penting,
yakni dapat membentuk kepribadian serta sebagai kekuatan yang dapat
menentukan prestasi dan produktivitas seseorang, sehingga dapat memahami
dan menginterpretasikan lingkungan yang dihadapinya, serta mencapai suatu
peradaban yang tinggi.
3. Di dalam menghadapi era globalisasi ini, pendidikan memiliki tugas yang
tidak ringan, disamping mempersiapkan peserta didik untuk meningkatan ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK), diharapkan juga mampu meningkatkan
keimanan dan ketaqwaan (1MTAQ) kepada Allah SWT. Hal ini untuk
mengantisipasi dampak negatif dari perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta budaya asing yang sangat berpengaruh terhadap kebudayaan
an peradaban umat manusia, sebab pengaruh budaya asing yang bersifat
negatif akan membawa gnerasi muda kearah dekadensi moral. Ini akibat
kurangnya nilai-nilaipendidikan agama dalam diri siswa.
4. Bertolak dari masalah diatas, penulis igin mengetahui bagaimanakah
Pendidikan Agama Islam yang di perankan oleh SMPN 02 dalam membina
dan membimbing siswa, agar memiliki kepribadian yang baik, sebagaimana
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah Penelitian
Pendidikan Agama dianggap belum mencapai sasaran, ketika hanya pada
tataran kognitif, belum sampai kepada tataran afektif dan psikomotorik. Dalam
sistem pendidikan nasional bahwa pendidikan agama dinyatakan sebagai
kurikulum wajib. Ini merupakan peluang bagi setiap sekolah, untuk dapat
meningkatkan mutu pendidikan agama di Indonesia dan untuk menghindari
kekhawatiran akan semakin merosotnya nilai-nilai moral bangsa Indonesia ini.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis merasa perlu untuk membatasi dan
merumuskan terlebih dahulu masalah-masalah yang hendak di bahas, agar arah
dan sasaran yang hendak dicapai lebih jelas dan terarah.
Berkaitan dengan masalah ini penulis membatasi kepada:
1. Pendidikan agama dibahas disini dibatasi pada pendidikan agama dalam
pendidikan formal, pada pengamalan ajaran agama Islam dari sumber
utamanya kitab suci Al-qur'an dan Al-hadits, melalui kegiatan bimbingan
dan pengajaran, latihan serta penggunaan pengamalan, yang meliputi:
Akidah' akhlak, fiqh, Al-qur'an dan sejarah.
2. Pembentukan kepribadian yang dimaksud dalam pendidikan agama Islam
ini adalah sebagai upaya untuk dapat membentuk dan membina setiap
pribadi muslim yang berakhlakul karimah serta sebagai pengarah dan
petunjuk dalam mendidik peserta didik agar memiliki kepribadian
Dari beberapa permasalahan tersebut diatas dapat dirumuskan menjadi
pokok-pokok permasalahan yang lebih kongkrit dalam bentuk
pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pelaksanaan pendidikan agama Islam di SMPN 02 ?
2. Bagaimanakah kepribadian siswa SMPN 02 ?
3. Apakah ada hubungannya pendidikan agama dengan kepribadian siswa ?
4. Bagaimanakah peran serta sekolah dalam memberikan pendidikan agama
Islam terhadap siswanya ?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan pemasalahan umum yang telah dirumuskan maka
kegiatan penelitian yang penulis lakukan bertujuan:
1. Untuk mendapatkan gambaran mengenai peranan Pendidikan Agama Islam di
SMPN 02 dalam upaya pembentukan kepribadian sisa.
2. Untuk mendapatkan gambaran mengenai upaya yang dilakukan SMPN 02
dalam rangka pembentukan kepribadian
Sedangkan manfaat penelitian ini dapat dinyatakan sebagai berikut:
1. Untuk menambah khazanah keilmuan, khususnya tentang pendidikan agama
Islam
2. Sebagai sumbangan pikiran dalam bentuk tulisan yang bersifat ilmiah guna
E. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini, terdiri dari lima bab yang stiap babnya terdiri dari
beberapa sub bab, dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan, bab ini berisi tentang, latar belakang masalah, Alasan
memilih judul, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan
manfaat penelitian serta sistematika penulisan.
BAB II Landasan teori, bab ini berisi tentang, Pendidikan Agama Islam,
pengertian pendidikan, ruang lingkup pedidikan agama Islam,
kurikulum pendidikan agama Islam dan tujuan pendidikan agama
Islam. Kepribadian, pengertian kepribadian, aspek-aspek kepibadian,
struktur kepribadian, tipologi kepribadian dan faktor-faktor yang
menentukan kepribadian.
BAB III Metodologi Penelitian, bab ini berisi tentang, obyek penelitian, waktu
dan tempat penelitian, populasi dan sampel, metode penelitian,
tekhnik pngumpulan data dan tekhnik analisis data.
BAB IV Hasil Penelitian, bab ini berisi tentang, gambaran umum SMPN 02,
sejarah singkat berdirinya SMPN 02, letak geografis SMPN 02,
prasarana SMPN 02. PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DISEKOLAH
UMUM DALAM UPAYA PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN
SISWA, bab ini berisi tentang, sistem pendidikan agama Islam di
SMPN 02, kurikulum pendidikan agama Islam di SMPN 02, strategi
pembelajaran pendidikan agama Islam di SMPN 02, saran pendidikan
agama Islam di SMPN 02, Sistem evaluasipendidikan agama Islam di
SMPN 02 dan upaya yang dilakukan SMPN 02 dalam upaya
pembentukan kepribadian siswa SMPN 02.
BAB II LANDASAN TEORI
A. Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Secara harfiah, Pendidikan berasal dari kata educare, yang artinya
"mengeluarkan suatu kemampuan". Jadi educare adalah membimbing untuk
mengeluarkan kemampun yang tersimpan dalam diri anak untuk tercapainya
kedewasaan. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan Education artinya
pendidikan yang dikaitkan dengan pendidikan sekolah karena sekolah
merupakan tempat dimana anak dididik melalui pendidikan secara formal5
Secara terminologis, Drs. Ngalim Purwanto menjelaskan bahwa,
pendidikan adalah segala usaha orang dewasa pada pergaulannya dengan
anak-anak dalam memimpin perkembangan jasmaniah dan rohaniahnya
kearah kedewasaan.6
Pendidikan dalam bahasa arab disebut "tarbiyah", berasal dari kata
kerja Rabba yang berarti mendidik, bertambah, tumbuh, memelihara,
merawat, berkembang, mengatur dan menjaga kelestarian atau eksistensinya
sebagaimana dalam ayat ke24 dari surat Al-Isra,(17) dan ayat 18 surat
5
Dwi Nugroho, ED, Mengenal Manusia dan Pendidikan, (Yogyakarta : Liberty, 1998), cet. 1 hal.1.
6
Syura (26). Tarbiyah juga berarti proses persiapan dan pengasuhan manusia
pada fase-fase awal kehidupannya yakni pada tahap perkembangan masa bayi
dan kanak-kanak7
Pendidikan juga identik dengan kata "Ta'lim" dari kata kerja "Allama”
yang berarti pengajaran memberi tahu atau transfer of knowledge karena
memang proses ini ada dalam pendidikan.8 Kata lain yang mengandung arti
pendidikan adalah "at-ta'dib" dari kata kerja ad-daba yang berarti pembinaan,
mendidik dan memelihara.9 Maka dalam konteks yang luas, al-tarbiyah terdiri
atas 4 unsur pendekatan, yaitu:
a. Memelihara dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa.
b. Mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan.
c. Mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan dan
d. Melaksanakan pendidikan secara bertahap.10
Sedangkan secara istilah pendidikan dalam Islam menurut Ahmad
Tafsir, adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang
agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran agama Islam.11
7
Zuhzirini, Abdul Gafir, Slamet AS, Yusuf, Metode Khusus Pendidikan Agama,
(Malang: Biro Ilmiah Tarbiyah, IAIN Sunan Ampel, 1981) Get ke-7, h.25
8 Lihat tafsir Al-Qurthubi, Qs Al-Baqoroh (2) ayat 31 dan an-Naml 916) ayat 16. 9
Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara), 1996 cet. 3, hal. 25-27 & samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: pendekatan Historis ,Teoritis dan Praktis, (Jakarta:Ciputat Pres, 2002), cet 2, hal. 32.
10 Abdurrahman An-Nahlawi, prinsip-prinsip dan Metode, h. 25-32.
Sedangkan menurut Zakiah Daradjat, pendidikan Islam berarti
pembentukan pribadi muslim. Al-Syaibani mengemukakan pendidikan Islam
adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan
pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya.12
Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam
dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati
hingga mengimani, bertaqwa dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran
agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-qur'an dan hadits, melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman.13
Berdasarkan pengertian umum Pendidikan Agama Islam tersebut,
Dirjen Pembinaan Kelembagaan agama Islam,Departemen Agama RI,
Merumuskan pengertian Pendidikan Agama Islam ( PAI ) diartikan sebagai
usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami,
menghayati dan mengamalkan Agama Islam melalui kegiatan, bimbingan,
pengajaran dan latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati
agama lain dalam hubungan antar umat beragama dalam masyarakat untuk
mewujudkan persatuan nasional.14
Sesuai dengan penjelasan pasal 39 ayat (2) UUSPN Tahun 1989,
Pendidikan Agama Islam dimaksudkan sebagai usaha untuk memperkuat
12
Omar Muhammad Al-Touny al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang,1979), cet. l,h. 11.
13 Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan pengembangan, Departemen Pendidikan Nasional, KBK Mata Pelajaran PAI SMU, (Jakarta: 2001, hal. 8.
iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama
yang diamalkan oleh peserta didik yang bersangkutan dengan memperhatikan
tuntunan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar
umat beragama dalam masyarakat.
Dalam menghadapi era globalisasi pendidikan memiliki tugas yang
tidak ringan, disamping mempersiapkan peserta didik untuk meningkatkan
ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) diharapkan juga mampu
meningkatkan keimanan dan ketaqwaan (IMTAQ) terhadap Tuhan Yang
Maha Esa. Peningkatan keimanan dan ketaqwaan dilakukan untuk
mengantisipasi dampak negatif dari perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Oleh karena itu sebagaima ketentuan dalam UU No. 2 tahun 1989
tentang sistem pendidikan Nasional, dalam rangka memperkuat keimanan dan
ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, pendidikaan Agama dinyatakan
sebagai kurikulum wajib pada semua jalur, jenis dan jenjang pendidikan.
Proses pembelajaran pendidikan agama yang belum berjalan secara
efektif, dikarenakan rendahnya kemampuan guru agama dibidang metodologi
dan terbatasnya jumlah jam belajar serta fasilitas yang kurang memadai dan
sistem evaluasi pendidikan agama Islam yang masih menekankan pada aspek
kognitif, yang seharusnya secara utuh meliputi pula aspek afektif dan
psikomotorik.
Para ahli ternyata berbeda pendapat mengenai pengertian pendidikan
pengajaran adalah program dari pendidikan, pendidikan lebih luas dari pada
pengajaran. Pendidikan meliputi pengajaran.
Kata pendidikan adalah "didik" atau "mendidik" yang secara harfiah
artinya memelihara dan memberi latihan. Sedangkan "pendidikan" adalah
tahapan-tahapan kegiatan mengubah sikap dan prilaku seseorang atau
sekelompok orang melalui upaya program-program dan pelatihan.
Sementara itu, Poerbakawatja dan Harahap (1981), Poerwanto (1985)
dan Winkel (1991), masing-masing mengartikan pendidikan dengan ungkapan
yang maksudnya relatif sama bahwa pendidikan adalah usaha yang di sengaja
dalam bentuk perbuatan, bantuan dan pimpinan orang dewasa kepada
anak-anak agar mencapai kedewasaan. Tekanan mereka dalam hal ini adalah bahwa
pendidikan itu harus di lakukan oleh orang dewasa, sedangkan yang dididik
harus orang yang belum dewasa (anak-anak). Jadi, istilah pendidikan
mempunyai arti : Menanamkan tabiat yang baik agar anak-anak mempunyai
sifat yang dan berpribadi utama. Dalam mendidik, yang lebih penting adalah
segi pembentukan pribadi anak.15
Dengan demikian jelaslah bahwa kalau mendidik itu mengenai
masalah perasaan, antara akal dan perasaan memang mempunyai hubungan
yang sangat erat.
15
Dalam bahasa inggris mengajar di sebut instruction atau teaching.
Akar kata instruction adalah to instruc, artinya to direct to do something, to
tech to do something, to furnish with information, yakni memberikan
pengarahan agar melakukan sesuatu, mengajar agar melakukan sesuatu,
memberikan informasi. Sedangkan menurut Reber (1988) intruction
(pengajaran) berarti pendidikan atau proses perbuatan mengajarkan
pengetahuan.
Dengan demikian istilah mengajar mempunyai arti : memberikan
pengetahuan kepada anak, agar mereka dapat mengetahui peristiwa-peristiwa,
hukum-hukum ataupun proses dari pada sesuatu ilmu pengetahuan. Jadi yang
dipentingkan adalah segi ilmiahnya.
Selanjutnya para ahli pendidikan Islam mengemukakan pendidikan,
sebagai berikut:
1) Muhammad Jamaludin Al-Qosimi mendefinisikan attarbiyah atau
pendidikan dengan “hiya tablighusy sya'i illa kamalihi, syaian fa syaian”
yaitu proses penyampaian sesuatu sampai pada batas kesempurnaan yang
dilakukan secara tahap demi tahap.
2) Ismail Haqi Al-Barusawi memberikan arti attarbiyah dengan proses
pemberian nafsu dengan berbagai kenikmatan, pemeliharaan hati nurani
dengan berbagai kasih sayang, bimbingaan jiwa dengan hhukum-hukum
syari'ah serta pengarahan hati dengan etika kehidupaan dan penerangan
3) Abdul Fatah Jalal dalam buunya "Min Ushuli Tarbawiyyah Fiil Islam"
menyatakan bahwa attarbiyah adalah proses pesiapan dan pemeliharaan
anak didik pada masa kanak-kanak didalam keluarga. Pengertian tersebut
diambil dari maksud surat Al-Isra ayat 24 dan surat Asy-syu'ara ayat 18
4) Musthofha Al-Maraghi memberikan arti attarbiyyah dengan dua bagian,
yaitu tarbiyyah kholiqiyah, pembinaan dan pengembangan jasad, jiwa dan
akal dengan berbagai petunjuk. Dan tarbiyyah diniyyah tahdzibiyyah,
pembinaan jiwa dengan wahyu untuk kesempurnaan akal dan jiwa.
5) Musthafa Al-Gholayani berpendapat bahwa attarbiyah adalah penanaman
etika yang mulia pada jiwa anak yang sedang tumbuh dengaan cara
memberi petunjuk dan nasehat, sehinga ia memiliki potensi-potensi.16
Pendidikan Islam merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan
antara satu dengan lain, karena pada dasarnya pendidikan Islam merupakan
transformasi nilai - nilai Islam sebagai substansi dan implikasi dari segala
aspek kehidupan.
2. Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam
Abu Ahmadi, dalam bukunya "Didaktik dan Metodik" mengatakan,
bahwa ruang lingkup pendidikan Islam pada dasarnya mengacu pada lima hal
dibawah ini:
16
1. Perencanaan
Perencanaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan sebelum
melakukan ativitas. Dimasa tahun 1975 secara umum digunakan Lesson
Plan yang mengambil bentuk saluran pelajaran atau sering dikenal dengan
sebutan satpel. Hampir semua sekolah menggunakannya tapi ada juga
Lesson Plan yang dibuat dalam bentuk modul. Oleh karena itu perlu
adanya modal dasar untuk membuat Lesson Plan dalam model apapun.
Hal ini diperluka sebagai bukti bahwa guru memiliki kemampuan teoritis
dan kompeten dibidangnya.
2. Bahan Pembelajaran
Bahan disebut juga sebagai materi, yaitu sesuatu yang diberikan
kepada siswa saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Melalui proses
belajar mengajar siswa diantarkan kepada tujuan pembelajaran. Bahan
pengajaran dapat dibedakan menjadi beberapa kategori, yakni : fakta,
konsep, prinsip dan keterampilan. Semuanya dimmuskan sedemikian rupa
dalam bahasa yang jelas dan diproyeksikan untuk mencapai tujuan
pembelajaran atau instruksional dengan menetapkan bahan pembelajaran.
3. Strategi Pembelajaran
Strategi yang berarti rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk
mencapai sasaran khusus adalah tindakan guru dalam melaksanakan
rencana pembelajaran. Artinya, usaha guru dalam menggunakan beberapa
Dengan kata lain Strategi mengajar adalah taktik yang digunakan dalam
melaksanakan atau praktek mengajar di kelas. Nilai guna yang didapatkan
bagi guru adalah agar tercapainya tujuan melalui kegiatan terprogram.
4. Media Pembelajaran
Media disebut juga dengan alat yaitu sarana yang dapat membantu
proses belajar mengajar atau menetapkan alat penilaian yang paling tepat
untuk menilai sasaran atau anak didik tersebut. Dalam hal ini evaluasi
terdiri dari dua bagian meliputi :
a. Tes : tes lisan, tulisan dan tindakan
b. Non tes : observasi, wawancara, studi kasus skala penilaian, checklist,
inventory
5. Evaluasi
Evaluasi atau penilaian pada dasarnya adalah memberikan
pertimbangan atau nilai berdasarkan kriteria tertentu. Hasil yang diperoleh
dalam penilaian dinyatakan dalam bentuk hasil belajar. Oleh karena itu
tindakan atau kegiatan tersebut dinamakan penilaian hsil belajar.
Sedangkan menurut Drs. Yunus Namsa yang merupakan ruang
lingkup pendidikan atau pengajaran agama Islam meliputi keserasian,
keselarasan, dan kesetimbangan antara lain :
1) Hubungan manusia dengan Allah SWT
2) Hubungan manusia dengan sesama manusia
4) Hubungan manusia dengan mahluk lain di lingkungannya17
Ruang lingkup pengajaran agama yang dipaparkan pada pembahasan
diatas pada dasarnya adalah sama, tetapi pendapat Abu Ahmadi mengacu pada
segi didaktik dan metodik, sedangkan menurut Yunus Namsa dilihat dari segi
keselarasan keseimbangan, dan keserasian hubungan manusia.
3. Kurikulum Pendidikan Agama Islam
Sebelum menjelaskan pengertian kurikulum pendidikan Islam, ada
baiknya dijelaskan terlebih dahulu pengertian kurikulum secara umum, yaitu :
"Kurukulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial,
olah raga dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya
didalam dan diluar sekolah dengan maksud menolongnya untuk berkembang
menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai
dengan tujuan pendidikan”.
Menurut M. Arifin kurikulum adalah segala mata pelajaran yang
dipelajari dan juga semua pengalaman yang harus di peroleh serta semua
kegiatan yang dilakukan oleh anak didik.
Dengan demikian kurikulum harus di desain berdasarkan pada
pemenuhan kebutuhan manusia didik dan isinya terdiri dari pengalaman yang
17
sudah teruji kebenarannya. Pengalaman yang educatif, eksperimental dan
adanya rencana dan susunan yang teratur.
Adapun pengertian kurikulum agama adalah semua pengetahuan,
aktifitas dan juga pengalaman-pengalaman yang dengan sengaja dan secara
sistematis diberikan oleh pendidik kepada anak didik dalam rangka mencapai
tujuan pendidikan agama.
Sesuai dengan pengertian tersebut, maka kurikulum pendidikan
Agama adalah termasu salah satu komponen pendidikan Agama yakni berupa
alat untuk mencapai tujuan pendidikan Agama.Untuk mencapai tujuan
pendidikan, maka dengan sendirinya dibutuhkan terdapatnya kurikulum yang
sesuai.
Dalam konteks kurikulum pendidikan agama islam, kurikulum
idealnya tidak disusun secara sentralistik, karena walaupun agama itu berlaku
universal tapi problem kehidupan keagamaan menjadi lokal-sektoral. Dari
segi dasar pemahaman keagamaan grade-nya sangat bervariasi. Daerah-daerah
tertentu yang lebih religius, seperti aceh misalnya, kurikulum pendidikan
agama jangan disamakan dengan masyarakat islam di papua yang memang
sangat tertinggal dan tidak kondusif bagi pengembangan wawasan keislaman.
Oleh sebab itu departemen agama hanya memberi semacam
rambu-rambu yang harus ada di dalam kurikulum pendidikan agama islam, tidak
dibuat sangat memungkinkan untuk guru dapat melakukan improvisasi
terhadap kurikulum tersebut.
a. Komponen Kurikulum
Kurikulum mempunyai empat komponen, yaitu tujuan, isi, pola
belajar-mengajar dan evaluasi.
1) Komponen tujuan mengarahkan atau menunjukan sesuatu yang hendak
dituju atau dicapai dalam proses belajar-mengajar.
2) Komponen isi menunjukan materi proses belajar-mengajar tersebut. Isi
kurikulum harus relevan dengan tujuan yang dibuat.
3) Komponen proses belajarmengajar, dalam proses belajar sebaiknya
anak tidak dibiarkan sendiri, karena PMB itu merupakan gabungan
kegiatan anak belajar dan guru mengejar yang tidak terpisahkan.
Selain itu juga PMB termasu didalamnya sarana (media) serta metode
pembelajaran.
4) Komponen evaluasi yaitu kegia tan kurikulum berupa penilaian untuk
mengetahui prosentase keberhasilan tujuan PMB yang sudah di
rumuskan. Penilain dalam Pendidikan Islam mempunyai kriteria
sendiri selain dari pencapaian kognitif, juga mengandung kriteria
b. Ciri-ciri Kurikulum Pendidikan Islam
Kurikulum pendidikan Islam mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1) Kurikulum PAI harus menonjolkan agama dan akhlak yang
diambil dari Al-Qur'an dan Hadits.
2) Kurikulum PAI harus memperhatikan pengembangan yang
berkesinambungan antara aspek pribadi siswa, jasmani, akal dan
rohani.
3) Kurikulum PAI harus memperhatikan unsur arti yang sangat luas.
4) Kurikulum PAI harus mempertimabngkan perbedaan-perbedaan
kebudayaan yang sering terdapat di tengah masyarakat. Tingkat
pluralitas dalam berbagai aspek kehidupan harus direspons dengan
kurikulum pendidikan Agama Islam yang menghormati dan
menghargai perbedaan antar etnik agama, suku, warna kulit,
bahasa, nation dan sebagainya.
5) Kurikulum PAI harus memperhatikan keseimbangan antara pribadi
dan masyarakat, dunia dan masyarakat, jasmani, akal dan rohani.18
c. Prinsip-prinsip Kurikulum Pendidikan Agama Islam
Dalam penyusunan kurikulum Pendidikan Agama Islam harus
memenuhi beberapa prinsip sebagai berikut:
1) Harus ada mata pelajaran yang ditujukan mendidik rohani (hati),
rohani yang dimaksud adalah aspek manusia selain jasmani dan akal.
18
Untuk mendidik rohani mata pelajaran yang tepat adalah mata
pelajaran ketuhanan (Akhlaq).
2) Harus memuat tuntunan cara hidup, yang dimaksud adalah bagaimana
cara berhubungan yang baik dengan Allah, sesama manusia dan
lingkungan sekitar. Mata pelajaran yang dapat memenuhi tuntutan ini
adalah ilmu fiqih dan ilmu akhlak.
3) Mata pelajaran harus memenuhi rasa ingin tahu yang ada pada peserta
didik.
4) Mated pelajaran yang terdapat dalam kurikulum itu harus fungsional
dan mempunyai konsekuensi praktis pragmatis.
5) Mata pelajaran yang dibarikan berguna dalam mempelajari ilmu lain.
Adapun materi pokok dalam Pendidikan Agama Islam, sebagai
berikut:
a. Aqidah adalah bersifat keyakinan batin, mengajarkan keesaan Allah. b. Syari'ah adalah berhubungan dengan amal lahir guna mengatur
hubungan antara manusia dengan Tuhan, dan mengatur pergaulan hidup dan kehidupan manusia.
c. Akhlak adalah suatu bentuk amalan yang bersifat pelengkap
penyempurna bagi kedua amal diatas yang mengajarkan tentang tatacara pergaulan hidup manusia.19
Tiga inti ajaran pokok ini kemudian dijabarkan dalam bentuk rukun
iman, rukun Islam dan akhlak, Dari ketiganya lahirlah beberapa keilmuan
agama, yaitu : ilmu tauhid, ilmu fiqh, dan ilmu akhlak. Ketiga kelompok
ilmu agama ini kemudian dilengkapi dengan pembahasan dasar hukum
19
islam, yaitu Al-Qur'an dan Al-Hadits, serta ditambah lagi dengan sejarah
islam (Tarikh).
Pada tingkat SMP secara psikologis, peserta didik mengalami
perkembangan kejiwaan dan intelektualitas yang berbeda dibandingkan
peserta didik pada sekolah dasar. Kondisi kejiwaannya yang memasuki
jiwa remaja dan intelektualitasnya yang menuju kematangan harus di
formulasi standar pendidikan agama Islam yang sesuai dengan kejiwaan
dan intelektualitasnya.
Oleh karena itu pengajaran agama di SMP dapat dibagi menjadi:
1. Keimanan
2. Ibadah/Fiqh
3. Akhlak
4. Sejarah Islam
5. Al-Qur'an
6. Mu'amalah20
7. Syari'ah
8. Tarikh21
20 DEPAG RI, Kendali Mutu Pendidikan Agama Mam, (Jakarta,2001), hal.9 21
4. Tujuan Pcndidikan agama Islam
Pendidikan Islam merupakan proses bimbingan dan membina fitrah
peserta didik secara maksimal dan bermuara pada terciptanya pribadi peserta
didik sebagai muslim sempurna (insan kamil) yang meliputi kognitif, afektif
dan psikomotorik.
Tujuan Pendidikan Agama Islam, menurut beberapa pendapat para
ahli, antara lain:
1. Dr. Zakiah Daradjat, dkk, membagi tujuan pendidikan Islam ini dalam 4 (empat) bagian. Yaitu tujuan umum, tujuan akhir, tujuan sementara dan tujuan operasional. Sebagai tujuan umum pendidikan meliputi sikap. Tingkah laku, penampilan, kebiasaan dan pandangan. Tujuan sementara dari pendidikan Islam beliau berpendapat bahwa proses pendidikan itu yang dianggap sebagai tujuan akhirnya adalah insan kamil yang mati dan akan menghadap Tuhan-nya. sedangkan yang menjadi tujuan sementara yang dimaksud oleh Zakiah Daradjat ialah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal, tujuan operasional ialah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu.22 2. Pendapat Ibnu Khaldun, yang disadur leh Prof. Dr. Ramayulis membagi
tujuan pendidikan Islam ini dalam dua tujuan, yaitu tujuan keagamaan dan tujuan ilmiah. Tujuan keagamaan maksudnya ialah beramal untuk akhirat, sehingga ia menemui Tuhan-nya dan telah menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan kepadanya. Sedangkan tujuan ilmiah yang bersifa keduniaan, yaitu aapa yang diungkapkan oleh pendidikan modern dengan tuuan kemanfaatan atau persiapan untuk hidup.23
3. Al-Abrasyi masih yang disssadur oleh Prof. Dr. Ramayulis, memiliki penddpat yang Ibih komplit, yaitu bahwa pendidikan islam memiliki 5 (lima) tujuan pokok, antara lain:
a) Sebagai pembentukan akhlak mulia
b) Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat
c) Persiapan untuk mencari rizki dan pemeliharaan segi-segi
pemanfaatan. Keterpaduan antara agama dan ilmu akan dapat membawa manusia kepada kesempurnaan
22
Zakiyah Darajat, h. 18 23
d) Menumbuhkan roh ilmiah para pelajar dan memenuhi keinginan untuk mengetahui serta memiliki kesanggupan untuk mengkaji ilmu sekedar sebagai ilmu
e) Mempersiapkan para pelajar untuk suatu profesi tertentu sehingga ia mudah mencari rezeki.24
Demikian beberapa pendapat rumusan tujuan pendidikan Islam, makna
dan fungsinya dalam upaya pembentukan kepribadian, perpaduan iman dan
amal soleh, yaitu keyakinan adanya kebenaran mutlak yang menjadi
satu-satunyaa tujuan hidup dan sentral pengabdian diri dan perbuatan yang sejalan
dengan harkat dan martabat kemanusiaan.
Dalam proses pendidikan ini tujuan akhir merupakan kristalisasi
nilai-nilai yang ingin diwujudkan dalam pribadi anak didik. Oleh karena itu tujuan
akhir harus komprehensif, mencakup semua aspek, serta terintegrasi dalam
pola kepribadian yang ideal dan utuh. Tujuan akhir mengandung nilai-nilai
Islami dalam segala aspeknya, yaitu aspek normatif, aspek fungsional dan
aspek operasionalnya. Hal tersebut menyebabkan pencapaian pendidikan tidak
mudah, bahkan sangat komplek dan mengandung resiko sangat mental
spiritual, lebih-lebih lagi menyangkut internalisasi nilai-nilai Islami yang
didalamnya terdapat iman, islam dan takwa, serta ilmu pengetahuan menjadi
alat vitalnya.
Pendidikan Islam merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan
antara satu dengan lain, karena pada dasarnya pendidikan Islam merupakan
transformasi nilai-nilai Islam sebagai substansi dan implikasi dari segala
aspek kehidupan.
Tujuan pendidikan agama adalah agar para siswa memiliki akhlak
yang tinggi, beriman yang ditunjukan oleh perilaku-perilaku yang terpuji
dalam interaksinya dengan manusia dan lingkungannya. Pemdidikan agama
membantu anak didik menjadi insan kamil yaitu ia mempunyai kualitas
hubungan yang amat baik, bik kepada Allah SWT, terhadap manusia dan
terhadap lingkungannya yang lain.
Tujuan pendidikan pada tingkat SMP sebagaimana dirumuskan dalam
buku "Kendali mutu pendidikan agama Islam", adalah:
a. Beriman kepada Allah SWT, rukun Islam dan rukun Iman
b. Dapat membaca dan menulis serta memahami ayat suci al-Qur'an serta
mengetahui hukum membacanya
c. Beribadah dengan baik sesuai dengan tuntunan syariat Islam baik ibadah
wajib maupun sunah
d. Dapat mentauladani sifat, sikap, dan kepribadian Rasulullah SAW.
e. Mempraktikan hukum mu'amalah Islam dalam kehidupan sehari-hari.25
Tujuan akhir dari semua pendidikan yang sehat dan berguna adalah
yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang baik dan meningkatkan
harkat kemanusiaannya dan dalam waktu yang sama dapat menyelamatkan
manusia dari keburukan serta bahaya-bahaya yang mengancam nafsu amarah
oleh kebejatan akhlak dan kerusakan masyarakat yang melingkupinya.
B. KEPRIBADIAN
1. Pengertian Kepribadian
Kepribadian berasal dari kata "pribadi" yang berarti "sendiri"
atau "perorangan"26 menurut kamus umum Bahasa Indonesia, kepribadian
berarti, "keadaaan manusia sebagai perseorangan, keseluruhan sifat-sifat
merupakan watak orang.27
Menurut etimologi kepribadian atau personality berasal dari bahasa
Latin "Personare" yang berarti mengeluarkan suara. Pada mulanya istilah
personal berasal dari topeng yang dipakai oleh pemain sandiwara, dimana
pemain sandiwara itu diproyeksikan, kemudian kata personal itu berubah arti
menjadi pemain sandiwara atau orangnya. Namun kini kata kepribadian atau
personality menurut para ahli psikologi dipakai untuk menunjukan sesuatu
yang nyata dan dapat dipercaya tentang individu, untuk menggambarkan
bagaimana dan apa sebenarnya individu.28
Sedangkan pengertian kepribadian secara terminologi terdapat
beberapa definisi, yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya:
26
S. Wojowasito, Kamus Bahasa Indonesia, (Bandung: Shinta Dharma), Get. X, h. 227. 27
W. J. S. Poerwadaminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), h. 768.
28
1. Menurut Poedjawijatna, bahwa kepribadian adalah, dasar keseluruhan dan
kesatuan tindakan manusia yang berbudi dan berkehendak.29
2. Muhammad Ja'far mengemukakan, bahwa kepribadian adalah suatu sistem
sempurna dari sejumlah sifat khusus yang berkenaan dengan cita-cita
kemasyarakatan akliyah dan jasmaniyah baik yang bersifat fitrah maupun
yang menempatkan pengalaman aktifitasnya secara timbal balik sejalan
dengan norma-norma masyarakat lingkungan hidup seseorang.30
3. Menurut Agus sujanto dalam bukunya psikologi pendidikan mengutip
pendapat yang telah dikemukakn oleh G. W. Allport bahwa kepribadian
adalah "suatu organisasi psiko-fisik yang dinamis, seseorang yang
menyebabkan ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.31
4. Menurut Ahmad D. Marimba memberikan batasan bahwa kepribadian
adalah lebih luas artiya, meliputi kualitas keseluruhan seseorang, kualitas
itu akan tampak dalam cara-cara berpikir, mengeluarkan pendapat, sikap,
minat falsafah hidup serta kepercayaannya.
Kepribadian muslim merupakan tujuan akhir dari setiap usaha
pendidikan Islam dan hasil dari suatu proses sepanjang hidup. Oleh karena itu
banyak faktor yang ikut ambil bagian dalam pembentukan kepribadian
manusia tersebut. Dengan demikian apakah kepribadian manusia tersebut.
29
Poedjawijatna, Etika Filsafat Tingkah laku, (Jakarta: Bina Aksara, 1986), Cet. V, h. 54 30
M. Ja'far, Membina Pribadi Muslim, (Jakarta: kalam Mulia, 1994), Cet.l, h. 42 31
Dengan demikian apakah kepribadian seseorang itu baik atau buruk,
kuat atau lemah, beradab atau biadab sepenuhnya ditentukan oleh
faktor-faktor yang mempengaruhi dalam perjalanan hidup seseorang tersebut. Dalam
hal ini pendidikan sangat besar peranannya dalam pembentukan kepribadian
manusia itu sendiri.32
Dalam pengertian secara sederhana, filsafat diartikan sebagai
kepribadian jati diri dan pandangan hidup seseorang, masyarakat atau bangsa.
Kondisi ini dibentuk oleh tradisi kehidupan masyarakat ataupun oleh usaha
yang terprogram, tetapi sederhana apapun pembentukan itu tak lepas dari
peran pendidikan. Pendidikan pada prinsipnya menurut Prof. DR. Hasan
Laggulung, dapat dilihat dari dua sudut pandang individu dan dari sudut
pandang masyarakat (Hasan Langgulung, 1986: 38).
Dilihat dari sudut pandang individu, pendidikan merupakan usaha
untuk membimbing dan menghubungkan potensi individu. Adapun dari sudut
pandang kemasyarakatan, pendidikan merupakan usaha pewarisan nilai-nilai
budaya tersebut tetap terpelihara.
Dalam konteks ini dapat dilihat hubungan antara pendidikan dengan
tradisi budaya serta kepribadian suatu masyarakat, betapapun sederhananya
masyarakat tersebut.33
Secara definitif kepribadian itu dapat dirumuskan sebagai berikut:
32
Dra. Zuhairini. dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), h. 186. 33
a. Kepribadian manusia ialah suatu perwujudan keseluruhan segi
manusianya yang baik, lahir batin dan antar hubungannya dengan
kehidupan sosial dan individunya.34
b. Kepribadian adalah dinamis dari sistem-sistem Psikofisik dalam individu
yang turut menentukan cara-caranya yang unik (khas) dalam
menyesuaikan diri dengan lingkungannya.35
Dari definisi di atas nampak jelas bahwa kepribadian itu adalah hasil dari suatu proses
kehidupan yang dijalani seseorang. Oleh karena itu proses yang dialami seseorang itu
berbeda-beda.
2. Aspek-aspek Kepribadian
Kepribadian merupakan keterpaduan antara aspek-aspekn kepribadian,
yaitu aspek-aspek psikis seperti aku, kecerdasan, bakat, sikap, motif, minat,
kemampuan, moral dan aspek jasmani seperti postur tubuh, tinggi dan berat
badan, indra dan lain-lain. Diantara aspek-aspek tersebut aku dan diri (self)
seringkali ditempatkan sebagai pusat dan kepribadian, sebagaimana terdapat
dalam gambar tersebut:
34
Tim Dosen IKIP Malang, Pengantar Dasar-dasar Kependidikan, (IKIP Malang, 1981), h. 110.
35
Gambar, Aspek-aspek Kepribadian
Menurut Drs. Jalaluddin, bahwa kepribadian itu dapat dilihat dari
empat aspek muatannya, yaitu:
a. Aspek personalia, yaitu kepribadian yang dapat dilihat dari pola tingkah
laku lahir batin yang dimiliki seseorang.
b. Aspek individualitas, yaitu karakteristik adalah sifat-sifat khas yang
dimiki seseorang (membedakan yang satu dengan yang lain)
c. Aspek mentalitas, yaitu sebagai perbedaan yang berkaitan dengan cara
berpikir (sebagai gambaran pola pikir seseorang)
d. Aspek Identitas, yaitu kecenderungan seseorang untuk mempertahankan
sikap dirinya dari pengaruh luar (karakteristikyang mengantarkan
seseorang).
Bakat
Kemampuan
Motivasi Kecerdasan
Indra
Sikap Tinggi-berat
Badan
Postur Tubuh
Berdasarkan keempat aspek ini, terlihat bagaiman hubungan
antara pendidikan dan pembentukan kepribadian yang lebih lanjut
berhubungan dengan filsafat pendidikan yang bersumber dari nilai-nilai
budaya sebagai pandangan hidup suatu bangsa.36
Secara garis besar, aspek-aspek kepribadian itu dapat digolongkan
pada tiga hal, yaitu:
1. Aspek-aspek kejasmanian yang meliputi tingkah laku atau sikap
2. Aspek-aspek kejiwaan yang meliputi sikap, minat dan cara-cara berpikir
3. Aspek-aspek kerohanian yang meliputi falsafah hidup atau kepercayaan.37
Jadi kesimpulannya kepribadian muslim yaitu kepribadian yang
menunjukan tingkah laku luar, kegiatan-kegiatan jiwa dan falsafah hidup serta
kepercayaan seorang muslim.
3. Struktur Kepribadian
Dalam struktur kepribadian terdapat bagian-bagian yang saling
berhubungan dan saling mengatur serta menyesuaikan dan berintegrasi.
Kepribadian menurut Yusak Burhanudin, meliputi:
a. Nafsu, merupakan merupakan keinginan untuk dapat mempertahankan diri dan menjaga kelangsungan hidup seseorang.
b. integrasi dan intelek, integrasi adalah kempuan seseorang untuk menyelesaikan persoalan secara efektif dan efisien
36
Dr. Jalaludin dan Drs Abdullah IDI. M.Ed, Filsafat Pendidikan, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997) h. 160
37
berdasarkan pengalamannya. Adapun intelek adalah kemampuan seseorang yang diperoleh dari hasil belajar.
c. Temperamen, yaitu meliputi cara menerima dan melaksanakan
pengalaman emosional; keterampilan dan kecekatan dalam melakukan tugas-tugas sehari-hari yang menjadi dasar perasaan seseorang dan dorongan dalam melakukan aktivitas.
d. Psikomotorik, merupakan luapan jiwa dan pikiran seseorang.
e. Watak, merupakan gabungan seluruh tingkah laku yang membentuk dasar kepribadian seseorang.38
4. Tipologi Kepribadian
Kepribadian merupakan satu kesatuan yang menyeluruh dan
kompleks. Setiap orang memiliki kepribadian tersendiri. Dalam hal ini para
ahli mengelompokan kepribadian atau tipologi kepribadian.
Dalam bukunya Nana Syaodih memaparkan, ada empat tipe
kepribadian, yaitu:
a. Choleric (choler adalah empedu kuning) yang memiliki temperamen cepat
marah, mudah tersinggung, tidak sabar dan sebagainya.
b. Melancholic (melas dan choler adalah empedu hitam). Yang memiliki
temperamen pemurung, penduka, mudah sedih, pesimis, dan putus asa.
c. Phlegmatic (phlegma adalah lendir) yang memiliki sifat-sifat periang,
aktif, dinamis, dan cekatan.
Tipologi ini didasarkan atas teori yang lahir dari pemikiran filosofis
dan bukan penelitian empiris.
38
Menurut Kretchmer ada tiga tipe kepribadian yang digolongkan
berdasarkan bentuk tubuh, yaitu:
1) Asthenicus atau leptosome, yaitu orang-orang yang berperawakan tinggi
kurus, memiliki sifat-sifat kritis, memiliki kemampuan berpikir abstrak,
suka melamun dan sensitif.
2) Pycknicus, seorang yang berperawakan pendek gemuk, memiliki
sifat-sifat periang, suka humor, populer, hubungan sosial luas, banyak kawan
dan suka main.
3) Athleticus, seorang yang bertubuh tinggi besar, memiliki sifat pemberani,
agresif, mudah menyesuaikan diri dan berpendirian teguh.39
Sejalan dengan tipologi kretchmer adalah tipologi dari sheldon (1940),
berdasarkan penelitianempiris terhadap unsur-unsur jaringan tubuh dalam
embrio, sheldon menyimpulkan adanya tiga tipe khas manusia berdasarkan
bentuk tubuh, yaitu:
a) Endomorphic, berbadan pendek gemuk dengan ciri-ciri kepribadiannya
viscerotonia, yaitu: senang makan, hidup mudah, tak banyak yang
dipikirkan, rasa kasihsayang, senang bergaul, toleran dan rileks.
b) Mesomorphic, berbadan tinggi kurus dengan ciri kepribadian somatonia,
yaitu senang akan kekuatan jasmaniah, aktif, agresif dan energik.
39
c) Ectomorphic, berbadan tinggi kurus dengan ciri kepribadian cerebrotonia,
yaitu: suka berpikir, melamun, senang menyendiri, pesimis dan mudah
terharu.
Tipologi lain dikembangkan oleh spranger, seorang filsuf Jerman,
ia menhgelompokkan individu atas dasar kecendrungannya akan nilai-nilai
dalam kehidupan. Menurutnya ada enam tipe kepribadian, yaitu:
1) Theoritic (manusia teoritis), tipe ini memiliki dorongan yang besar untuk meneliti, mencari kebenaran, rasa ingin tahu, pandangan yang objektif tentan dirinya dan dunia luar.
2) Economic, Perilakunya selalu diwarnai oleh dorongan-dorongan ekonomi, segala sesuatu dilihat dari manfaat atau kegunaannya terutama untuk dirinya.
3) Aesthetic (nilai-nilai keindahan), yang memiliki sifat senang akan keindahan, bentuk-bentuk simetris, harmonis, segala sesuatu dipandang dari sudut keindahan.
4) Sociatic (nilai-nilai sosial), yang memiliki sifat menyenangi orang lain, simpatik, baik, dan meninjau persoalan dari hubungan antara manusia. 5) Politic, yang memiliki dorongan untuk menguasai orang lain dan menjadi
manusia terpenting dalam kelompoknya.
6) Religious, yang mengutamakan nilai-nilai spritual hubungan dengan Tuhan, perilakunya didasari oleh nilai-nilai keagamaan, keimana, yang teguh, penyerahan diri kepada Tuhan.40
Sebagaimana telah kita fahami bahwa didalam perkembangan
kepribadian seseorang yang dapat dilihat dari keseluruhan perilakunya, maka
pada anak didik perlu dibentuk secara intensif adalah pada lingkungan rumah,
kemudian berkembang pada lingkungan yang lebih besar yaitu dengan
tetangganya. Pada saat ia memasuki dunia sekolah maka ia akan beradaptasi
dan berinteraksi dengan lingkungan sekolah. Didalam interaksi-interaksi
40
tersebut sebenarnya terjadi proses-proses peniruan atau imitasi terhadap
orang-orang sekitarnya terutama orang yang sangat penting dalam
kehidupannya (significant others). Disamping peniruan yang dilakukan
terhadap perilaku orang-orang disekitarnya ia juga melakukan
percobaan-percobaan yang dikembangkannya sendiri dan dari perilaku mencoba-coba
tersebut ia memperoleh penguatan ataupun penghambat dari lingkungannya
sesuai dengan ukuran-ukuran norma yang hidup dalam masyarakat tersebut.
Pendidikan agama dalam hal ini memberikan acuan mengenai sesuatu yang
dianggap baik atau tidak baik sehingga perilaku tersebut terbentuk. Setelah
anak-anak lebih besar pengetahuan tentang baik atau buruk itu juga diperoleh
dari hasil bacaan, dari hasil pengamatan terhadap perilaku orang-orang lain
baik diamati secara langsung maupun lewat bacaan atau tontonan yang lain.
Masa-masa pembentukan dilalui oleh anak didik terutama pada
tahapan pendidikan dasar dengan fondasi yang diperoleh dari rumah maka
pada saat ia memasuki pendidikan di luar sekolah. Sebagai penggalan pertama
dari pendidikan dasar maka kebutuhan kepada orang tua yang semula menjadi
acuan utama pada masa-masa balita sampai sebelum sekolah akan beralih atau
dilengkapi dengan acuan-acuan yang diberikan oleh gurunya dibanding
kepada orang tuanya didalam hal-hal tertentu.
Pada saat ia memasuki penggalan kedua dari pendidikan dasar, yaitu
Sekolah Menengah Pertama dan pada awal Sekolah Menengah Umum akan
agama yang selama ini ia terima sehingga menjadi anak yang manis, mulai
dipertanyakan, mulai disoal sebelum ia mengakui bahwa norma itu bersesuai
dengan hati nuraninya. Ini adalah perkembangan yang sangat normal bahwa
sebelum menjadi dewasa, seorang anak didik akan tetap mempersoalkan, baru
kemudian mengakui.
Oleh karena itu pendidikan agama akan memerlukan format yang
berbeda dengan penyajian pada masa pendidikan awal dengan
masa-masa pendidikan ketiga anak itu menginjak masa-masa remaja dan ambang dewasa.
Pada masa-masa awal maka pembiasaan menjadi sangat dominan. Demikian
juga peniruan dan sistem hukuman dan ganjaran. Sedangkan pada masa-masa
dimana sikap kritis mulai tumbuh maka pembahasan diperlukan dengan
pemberian penalaran. Tapi ada satu hal yang mengikat para pendidik untuk
selalu menerapkannya baik pada tatanan sistem pendidikan dasar, dimana
anak-anak tersebut sampai pada ambang kedewasaan, yaitu bahwa para
pendidik harus mempraktekan nilai-nilai keagamaan yang diyakininya.
Dengan kata lain ia harus berperilaku secara konsisten atau menjadi satunya
kata dan perbuatan alias taat azas. Setiap perilaku yang berstandar ganda yang
ditujukan pendidik akan menghasilkan kebingungan kepada anak-anak dan
pada saatnya anak akan menunjukkan perilaku menolak terhadap apa yang
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Obyek Penelitian
Obyek bagi penelitian yang penulis lakukan dalam penyusunan skripsi ini
adalah SMPN 02 Bekasi Timur, yang terletak di Jl. Chairil Anwar No. 37
Kelurahan Margahayu Kecamatan Bekasi Timur, Kabupaten Bekasi 17122
Propinsi Jawa Barat Telp. (021) 8803079
B. Waktudan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di SMPN 02 Bekasi Timur, waktu penelitian di
laksanakan dari tanggal 2 Februari s/d 28 Mei 2005
C. Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian41. Populasi dalam penelitian
ini adalah siswa-siswi SMPN 02, yang berjumlah 280 siswa.
Sedangkan sampel adalah sebagian dari populasi yang memiliki
karakteristik yang sama, sehingga betul-betul mewakili populas.42 Teknik yang
digunakan dalam pengambilan sampel adalah proposional stratified random
sampling yaitu suatu teknik yang tidak sama. Sedangkan besar anggota sampel
41
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), cet.ke- 10, h. 115 42
yang diambil adalah 25% darji jumlah populasi yang ada. Sampel yang diambil
sebanyak 70 siswa.
D. Metode Penelitian
Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah
metode deskriptif yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengadakan
penelitian langsung terhadap objek yang akan dituju untuk memperoleh dan
mengumpulkan data-data yang diperlukan.
Dalam melakukan penelitian lapangan ini penulis langsung ke SMPN 02
Bekasi Timur dan menemui serta mengadakan wawancara dengan orang-orang
yang penulis anggap mengetahui tentang masalah yang hendak dibahas. Selain itu
penulis juga menyebarkan angket kepada sebagian siswa yang penulis jadikan
sampel dalam penelitian ini.
E. Teknik Pengumpulan Data
Dalam melakukan penelitian lapangan ini, penulis menggunakan beberapa
teknik untuk mengumpulkan data yang sesuai dengan permasalahan yang sedang
diteliti. Adapun teknik pengumpulan data tersebut adalah:
1. Observasi, yaitu pengamatn dan pencatatan secara sistematis terhadap
fenomena-fenomena yang diselidiki.43 Observasi merupakan metode yang
43
secara langsung mengamati perilaku subyek penelitiannya,44 dan metode yang
pertama-tama digunakan untuk mendapatkan data-data yang berkaitan dengan
penelitian. Dalam melakukan penelitian ilmiah ini penulis melakukan
observasi langsung dengan cara datang ke SMPN 02 yang berada di Jl. Chairil
Anwar No. 37 Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, Kabupaten
Bekasi serta melakukan pengamatan terhadap SMPN 02.
2. Wawancara, yaitu suatu dialog yang dilakukan untuk memperoleh informasi
dari orang yang diwawancara.45 Dalam melakukan penelitian ilmiah ini
penulis melakukan wawancara secara langsung dengan berbagai pihak yang
penulis anggap terkait serta mengetahui untuk memperjelas data yang
diperoleh dari angket.
3. Angket yaitu suatu alat penelitian yang dilakukan dengan cara menyebarkan
daftar pertanyaan untuk memperoleh keterangan dari sejumlah responden.46
Daftar pertanyaan ini disusun secara tertulis mengenai seuatu hal yang
berkaitan dengan indikator masalah pendidikan, angket yang digunakan
adalah angket tertutup yang berarti berupa bentuk pertanyaan setiap
responden hanya tinggal menulis jawaban yang telah disediakan dalam angket
tersebut. Dalam melakukan penelitian ini penulis menyebarkan angket kepada
sebagian siswa yang penulis jadikan sampel dalam penelitian ini. Angket ini
44
Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi, (Jakarta: Lembaga PT. Fakultas Ekonomi UI, 2000), Edisi ke-2, h. 249
45
Suharsimi Arikunto, Op.cit., h. 115 46
berisi 30 item, yang terdiri dari 15 item untuk variabel X-nya dan 15 item lagi
untuk variabel Y-nya. Untuk lebih jelasnya dari ke-30 item pernyataan
[image:55.612.137.576.163.696.2]tersebut dapat dilihat pada kisi-kisi penyusunan angket pada tabel berikut:
Tabel 1
Kisi-kisi Item Pernyataan Angket Penelitian
No Variabel Dimensi
Variabel Indikator Jumlah Item Nomor Item 1 Pelaksanaan PAI (Variabel X) Aktivitas guru mengajar
- Menggunakan berbagai
metode dalam proses
mengajarnya
- Menggunakan media
pengajaran dalam proses
mengajarnya
- Memberikan tugas
setelah menyampaikan
materi
- Tidak melaksanakan
monitoring da