• Tidak ada hasil yang ditemukan

TITIK CUT-OFF (PEMBATAS) ALTMAN

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 35-40)

Nilai Zi Keterangan

Jika Zi > 2,60 Tidak bangkrut (non- bankrupt) Jika Zi diantara 1,10 – 2,60 Daerah rawan (grey area) Jika Zi < 1,10 Bangkrut (bangkrupt)

Sumber : White, Sondhi, Fried, 2003, “The Analysis and Use of Financial Statement”, 3rded.

2.4.6 Pemakai Informasi Kebangkrutan

Menurut Mamduh (2003:261), informasi kebangkrutan bisa bermanfaat bagi beberapa pihak seperti berikut ini:

1) Pemberi pinjaman (seperti pihak bank). Informasi kebangkrutan bisa bermanfaat untuk mengambil keputusan siapa yang akan diberi pinjaman, dan kemudian bermanfaat untuk kebijakan memonitor pinjaman yang ada.

2) Investor. Investor saham atau obligasi yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan tentunya akan sangat berkepentingan melihat adanya kemungkinan bangkrut atau tidaknya perusahaan yang menjual surat berharga tersebut. Investor yang menganut strategi aktif akan mengembangkan model prediksi kebangkrutan untuk melihat tanda-tanda kebangkrutan seawal mungkin dan kemudian mengantisipasi kemungkinan tersebut.

3) Pihak pemerintah. Pada beberapa sektor usaha, lembaga pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk mengawasi jalannya usaha tersebut (misal sektor perbankan). Juga pemerintah mempunyai badan-badan usaha (BUMN) yang harus selalu diawasi. Lembaga pemerintah mempunyai kepentingan untuk melihat tanda-tanda kebangkrutan lebih awal supaya tindakan-tindakan yang perlu bisa dilakukan lebih awal.

4) Akuntan. Akuntan mempunyai kepentingan terhadap informasi kelangsungan suatu usaha karena akuntan akan menilai kemampuan going concern suatu perusahaan.

5) Manajemen. Kebangkrutan berarti munculnya biaya-biaya yang berkaitan dengan kebangkrutan dan biaya ini cukup besar. Suatu penelitian menunjukkan biaya kebangkrutan bisa mencapai 11-17% dari nilai perusahaan. Contoh biaya kebangkrutan yang langsung adalah biaya akuntan dan biaya penasihat hukum. Sedangkan contoh biaya kebangkrutan yang tidak langsung adalah hilangnya kesempatan penjualan dan keuntungan karena beberapa hal seperti pembatasan yang mungkin diberlakukan oleh pengadilan.

Apabila manajemen bisa mendeteksi kebangkrutan ini lebih awal, maka tindakan-tindakan penghematan bisa dilakukan, misal dengan melakukan merger atau restrukturisasi keuangan sehingga biaya kebangkrutan bisa dihindari.

2.4.7 Analisis Bankruptcy Model Altman Z-Score

Model Altman Z-Score dianggap telah mampu mewakili dari sekian banyak teori mengenai prediksi kebangkrutan pada banyak literatur. Model ini telah mampu memprediksi kesulitan keuangan (financial distress) suatu perusahaan satu hingga dua tahun sebelum perusahaan mengalami kebangkrutan dengan tingkat akurasi perkiraan antara 72% hingga 95%, sesuai dengan jangka waktu prediksi.

Model Altman Z-Score melalui variabel-variabelnya harus mampu menjadi titik peringatan awal bagi perusahaan yang mulai menampakkan tanda kesulitan keuangan, agar manajemen perusahaan memiliki lebih banyak waktu

untuk memperbaiki kinerjanya agar terhindar dari kebangkrutan. Model prediksi kebangkrutan ini mempertimbangkan empat rasio keuangan sehingga mampu mewakili aspek-aspek likuiditas, profitabilitas, solvabilitas, serta aktivitas yang diperkirakan paling tepat bagi perusahaan-perusahaan non manufaktur. Rasio-rasio ini dipilih oleh Altman berdasarkan tingkat kepopulerannya pada literatur dan potensialitas hubungannya dengan studi yang dikembangkan. Ada tiga jenis fungsi diskriminan Z untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan yaitu:

1. Original Z-Score (for public manufacturer)

Fungsi diskriminan Z original dikembangkan pada tahun 1968. fungsi ini dikembangkan untuk perusahaan-perusahaan manufaktur publik.

Z = 1,2X1 + 1,4X2 + 3,3X3 + 0,6X4 + 0,999X5

2. Model A Z-Score (for private manufacturer)

Pada tahun 1983, Altman mengembangkan dua model lagi yang biasa disebut model A Z-Score dan B Z-Score. Model A Z-Score dikembangkan untuk perusahaan private manufacture. Variabel X4 pada fungsi ini menggunakan nilai buku stockholders equity karena tidak memiliki market value of equity. Weight factor yang digunakan juga berbeda dengan model original.

Z = 0,717X1 + 0,84X2 + 3,107X3 + 0,420X4 + 0,998X5

3. Model B Z-Score (for non manufacturing firm)

Altman memgembangkan model ini untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan-perusahaan private non manufacturing seperti usaha-usaha kecil, retail sales atau whole sales, dan sektor jasa. Model ini tidak menghitung X5

(sales/total asset) karena selalu berubah-ubah secara signifikan dalam industri.

Z = 6,56X1 + 3,26X2 + 6,72X3 + 1,05X4

Angka-angka persentase di depan variabel (X1, X2, X3, X4, X5) adalah angka-angka hasil penelitian yang dilakukan oleh Altman. Dari hasil penelitiannya diketahui bahwa peluang sebuah perusahaan akan mengalami kebangkrutan atau tidak di masa depan, secara bersama-sama untuk original

Z-Score 1,2% dipengaruhi oleh rasio working capital to total asset, 1,4%

dipengaruhi oleh rasio retained earning to total asset, 3,3% dipengaruhi oleh rasio earning before interest and taxes to total asset, 0,6% dipengaruhi oleh rasio market value to total asset dan 0,99% sangat dipengaruhi oleh rasio sales to total asset. Untuk model A Z-Score 0,7% dipengaruhi oleh rasio working capital to total asset, 0,8% dipengaruhi oleh rasio retained earning to total asset, 3,1%

dipengaruhi oleh rasio earning before interest and taxes to total asset, 0,4%

dipengaruhi oleh rasio market value to total asset dan 0,99% sangat dipengaruhi oleh rasio sales to total asset. Untuk model B Z-Score 6,5% dipengaruhi oleh rasio working capital to total asset, 3,26% dipengaruhi oleh rasio retained earning to total asset, 1,05% dipengaruhi oleh rasio earning before interest and taxes to total asset.

Altman menjelaskan tiga jenis Z-Score yang dikembangkannya yaitu:

Original Z-Score (for public manufacturer) Z-Score diatas 3.0 – tidak bangkrut.

Z-Score kurang dari 1.8 – diprediksikan akan mengalami kebangkrutan.

Z-Score diantara 1.8 - 3.0 berada di grey area.

Ketepatan dalam memprediksikan kebangkrutannya adalah sebesar 95% untuk prediksi satu tahun dan 70% dalam prediksi dua tahun.

Model A Z-Score (for private manufacturer)

Z-Score diatas 2.90 mengindikasikan perusahaan tidak akan mengalami kebangkrutan. Ketepatan dalam memprediksikan kebangkrutannya sama dengan model original Z-Score.

Model B Z-Score (for private general firm)

Z-Score dibawah 1.10 perusahaan diprediksikan akan mengalami kebangkrutan. Z-Score diatas 2.60 perusahaan diprediksikan tidak akan mengalami kebangkrutan. ketepatan dalam meramalkan kebangkrutannya sama dengan model original Z-Score dan model B Z-Score yaitu 95% untuk prediksi kebangkrutan satu tahun dan 70% untuk prediksi kebangkrutan dua tahun.

Model-model tersebut merupakan model statistik rasio yang sangat banyak digunakan untuk memprediksi kebangkrutan. Model ini telah dibuktikan sebagai alat yang paling nyata untuk peramalan kebangkrutan dalam berbagai konteks dan pasar walaupun tingkat akurasi perkiraan model ini menurun untuk memprediksi keadaan perusahaan dalam satu tahun ke masa yang akan datang (tingkat ketepatan 70%) tetapi masih dapat memberikan gambaran sebagai sinyal-sinyal bagi manajemen guna melakukan suatu antisipasi perbaikan.

Akan tetapi perlu pula dipertimbangkan bahwa model Altman dibuat pada tahun 1968 dengan menggunakan data di Amerika Serikat. Hasil penelitian akan lebih dapat dipercaya apabila model peramalan kebangkrutan yang dibuat dengan menggunakan data dari perusahaan di Indonesia.

2.4.8 Hubungan Kinerja Manajerial dengan Prediksi Kebangkrutan

Manajemen dalam suatu perusahaan merupakan bagian yang penting dalam suatu perusahaan karena mereka merupakan salah satu bagian yang menentukan berhasil tidaknya suatu perusahaan. Seperti telah disebutkan oleh beberapa ahli, bahwa manajemen yang baik mempunyai hubungan terhadap kelangsungan hidup suatu perusahaan (Sukanto;1991). Meramalkan kelangsungan hidup perusahaan merupakan aspek yang sangat penting. Pentingnya meramalkan kelangsu ngan hidup perusahaan juga karena menurut faktanya, tidak satupun pihak dalam perusahaan yang menginginkan kebangkrutan atau keharusan untuk menutup usahanya pada suatu saat.

Oleh karena itu, manajemen yang efektif tentu tidak akan membiarkan dan berbuat sesuatu baru pada saat perusahaan mengalami kesulitan likuiditas atau bahkan pada saat perusahaan terancam solvabilitasnya. Karena dalam tahap demikian, tindakan-tindakan untuk menyelamatkan perusahaan dari ancaman kebangkrutan semakin terbatas. Ada berbagai alat untuk mendeteksi dan meramalkan akan kemungkinan kesulitan keuangan, kegagalan dan kebangkrutan perusahaan dan menentukan beberapa penyebabnya.

Analisis rasio keuangan salah satunya digunakan untuk model prediksi.

Salah satu prediksi perusahaan di masa yang akan datang adalah kebangkrutan.

Salah satu alat prediksi kebangkrutan yang dapat digunakan adalah Altman Bankrupcty Prediction Model. Menurut Sofyan (2002;350) menyebutkan bahwa Altman bankrupcty prediction Model merupakan model analisis untuk meramalkan kebangkrutan suatu perusahaan yang dibuat oleh Altman.

Sejumlah studi telah dilakukan untuk mengetahui kegunaan analisis rasio keuangan dalam memprediksi kegagalan perusahaan. Salah satu studi tentang prediksi ini adalah multiple discriminant analysis yang dilakukan oleh Edward I.

Altman. Dalam penelitiannya Altman menggunakan lima jenis rasio yaitu:

Working Capital to Total Asset, Retained Earning to Total Asset, Earning before Interest and Taxes to Total Asset, Market Value to Total Liabilities dan Total Sales to Total Asset. Dengan menggunakan model analisis tersebut, dapat diketahui kapan perusahaan akan mengalami kebangkrutan.

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 35-40)

Dokumen terkait